"..."
"Jadi kita sudahi saja 4 tahun kita?" Perempuan itu menggigit bibir bahwanya, tanpa sengaja. Pertanyaan yang baru saja dilontarkannya sungguh terasa sakit di telinganya sendiri. Lelaki di depannya hanya diam.
"Jawab, Bi, jawab. Jangan diam saja." Lelaki yang dimaksud, yang berdiri dengan serba salah , menelan ludahnya, bulat-bulat, besar-besar, hingga tenggorokan yang tadi tercekat dan kering, terasa perih.
"Iya, Fa. Maaf. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Dengar, Fa." Tegas lelaki itu. "Orang tuamu ingin kamu segera menikah. Rama, datang padamu dan memintamu menjadi istrinya. Orang tuamu menyukainya. Kalian bisa menikah. Apalagi?"
Fa mendengus, hatinya sakit.
"Aku ingin yang ada di tempat Rama berdiri adalah kamu, Bian, kamu." Bian menarik napasnya, berat.
"A-aku tidak bisa, Fa. Bagaimana bisa jika harus sekarang. Aku tidak bisa jika harus menikah secepat yang orang tuamu minta. Aku tidak bisa membiarkan kamu menunggu sesuatu yang bahkan aku belum tahu kepastiannya ketika bahkan Rama menawarkan kepastian itu."
"...."
"Aku tidak bisa, Fa."
"Aku lebih tidak bisa, Bi. Please, pertimbangkan lagi dan..."
"Cukup, Fa. Aku benar-benar tidak bisa. Maaf, Fa." Fa menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya menghapus semua derai yang membuat pipi tembamnya basah, membuat hidung mungilnya merah, bengkak. Ia mengangguk sekali.
"Oke, aku mengerti. Aku paham karena memang sejak awal hanya aku yang ada di medan pertempuran ini, berjuang sendiri. Kamu tidak. Kamu hanya diam di garis batas perlawanan and doing nothing. Kamu hanya takut kamu terluka. Lalu bagaimana dengan aku? Kamu akan membiarkan aku terluka sendiri?
"Justru itu bagian tersakitnya, Fa." Ia setengah membentak, sembari mengguncangkan pundak perempuan di depannnya, yang lambat laun bergetar menahan agar tidak menangis. "Itu bagian tersulit karena justru aku akan terus memandangi kamu tersakiti berada di medan itu sendiri tanpa bisa tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Aku tidak bisa barang sedikutpun menyusulmu, berjuang bersamamu. AKu juga tidak bisa mengajakmu mundur dan menungguku sampai aku benar-benar bisa berada di sisimu, membelamu, berjuang bersama kamu."
Keduanya diam. Sama-sama merasakan betapa memang keduanya tidak bisa, keduanya harus pergi, memilih jalan yang berbeda. Saat kemudian mereka berpisah, menjauh, luka pada masing-masing hati itu makin lebar, menganga. Bian, dalam katupan kedua bibirnya, mengutuk dirinya berkali. Ia tahu ini salah, membiarkan Fa, orang tercintanya pergi. Namun, ia pun tidak bisa tetap membiarkan Fa menunggu, "Perempuan butuh kepastian, Le." begitu kata ibunya suatu kali.
Saat kemudian bayangan Fa menghilang, ia tahu, bayangan itu takkan pernah dilihatnya lagi. Ia telah melepasnya pergi.
Maaf, Fa.
karena hidup itu indah, maka keindahan itu akan lebih indah jika dirangkaikan dengan keindahan lain dari dunia lain: dunia di atas kertas. selamat membaca :)
Rabu, 22 Januari 2014
Jumat, 17 Januari 2014
Elegi di Pagi Hari
Ah, pagi hujan. Sepagian ini
aku masih bergumul dalam dua lapis selimut berwarna biru laut. Ini
selimut... sial, mengapa aku masih memakainya. Oke, aku bilang ini
selimut couple kami, aku dan dia.
“Couple-an kok selimut.” Ingin aku lempar dengan panci ketika Rere, teman satu rumahku, berkomentar demikian.
Oke, ini hari Sabtu dan seharusnya aku lebih sibuk dengan mimpi keempat ku, terserah tentang apa. Mengapa keempat? Karena mimpi ketiga sudah aku jalani sebelum terbangun untuk shalat subuh untuk kemudian tidur lagi menyambut mimpi macam apa saja setelah mataku benar-benar telelap. Pekerjaan semacam editor memang jarang-jarang bisa menganggur seenak udelnya seperti sekarang. Tapi, itu seharusnya. Masih bisa ingat kan menagapa kata seharusnya di awal tadi aku miringkan? Itu memang karena semua yang aku ceritkan tentang mimpi keempat adalah seharusnya. Dan karena memang seharusnya, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Aku masih terjaga sejak subuh jam 4 pagi tadi. Aku tidak bisa tidur lagi.
Memilih novel karya Cristian Simamora berjudul All You Can Eat di saat genting seperti ini sungguh salahh besar.
Tema yang dibahas di dalamnya adalah mantan tak tau diri yang terang-terangan bercokol di otak para tokohnya. Mungkin, jika aku mengakui apa yang tengah bercokol juga di otakku sekarang, aku bisa menjadi salah satu tokoh tambahan di dalam novel itu. Shit. Mau sampai kapan, Em, menye-menye begitu?
Dan, here I am, mengurung diri di kamar, bergumul di dalam dua lapis selimut couple, menyumpal telinga dengan earphone yang menjuntai dari I-Pod berwarna merah muda. Lalu, memegang satu novel tebal yang aku bilang sial tadi sembari menatap hujan dari jendela yang sengaja aku buka gordennya. Sangat serasi dengan seting novel dalam naskah-naskah yang aku sunting setiap harinya. Aku sengaja melalukannya. Paling tidak aku bisa lah melupakannya, sebentar saja berada pada dimensi ruang yang berbeda, dengan menikmati me-time. Pengalihan dengan semua yang aku lakukan pagi ini sepertinya tidak cukup jika aku tidak mematikan alat komunikasi. Maka, semua akses seperti ponsel dan tablet galaxy 2 pemberian ayah pun sengaja aku nonaktifkan.
Pretending not to love you was the hardest thing I’ve ever done (Pretty Little liar, 2010 TV Series).
Ini kutipan yang baru saja aku baca pada halaman 395. Siaal! Bukannya teralihkan dari isu permantanan aku justru semakin tenggelam di dalamnya. Maka, tanpa lagi menunda, aku pun melepaskan novel tebal itu dan setengah melemparnya ke ujung tempat tidur. Helaan napas panjang itu menandakan bahwa ada sedikit lega. Aku ingin pengalihan bukan penguatan atas apa yang aku rasakan. Mimpi semalam, ah, sungguh tidak ada keingin lagi untuk mengingatnya. Tapi, entah siapa yang pertama kali menjadikan mimpi sebagai bagian dari bunga tidur jika yang dimimpikan adalah hal yang bahkan jauh dari keindahan. Bunga itu indah, dan mimpi berisi mantan kekasih yang ingin setengah mati dilupakan bukan suatu keindahan.
Kamu, ya, kamu, datang semalam tanpa permisi lebih dulu. Kamu datang dalam mimpiku dengan serta merta mengajakku berkenalan dengan orang tuamu. Sialnya lagi, aku hanya bersedia dengan segala macam tetek bengek kebahagiaan menggantung di pelupuk mata yang berbinar. Namanya juga mimpi, aku bisa melihat diriku sendiri di dalamnya sekaligus merakan apa yang dirasakan tokoh yang aku lihat. Oh, mimpi yang oh-so-absurd ini berlanjut ketika kamu kemudian menyebutkan bahwa lelaki yang duduk di kemudi mobil berwarna metalik itu adalah ayahmu. Ayah yang kamu banggakan dan selalu kamu sebut sebagai seseorang yang ingin sekali kamu tiru caranya melindungi istrinya. Lalu, ketika kemudian mataku beralih pada wanita di jok belakang, tepat di belakang ayahmu, wanita itu tersenyu, ramah sekali. Bahkan aku mampu menjadi pengagumnya di pandangan pertama. Itu ibumu, katamu. Ibu yang selama ini kamu panggil dengan ‘mama’ pada suatu ketika kita bersama dan beliau menelpon, menanyakan apakah kamu tidak lupa mengantarkan surat titipan untuk wali kelas adikmu yang tengah sakit.
Lalu, ketika aku jabat tangannya, tangan itu lembut sekali, tangan yang sering kamu bilang pandai mengolah masakan menjadi materpiecenya. Dan satu koemntar yang aku terima kemudian di sela jabat tangan singkat itu sungguh membuat hatiku bengkak.
“Ema, ya? Lebih cantik ya dari yang sering Pandu ceritakan pada mama.”
Aku hanya tersenyum. Dan seperti yang aku lihat, senyumku saat itu, semalam, sungguh senyum bahagia. Seerpti itukah raut wajahku ketika aku ada di sekitarmu, Ndu? Seperti itukah raut mukaku tiap kamu dengan sengaja datang mengetuk pintu apartemenku dan mengucap Aku kangen kamu di detik pertama aku membukakan pintu? Seperti itukah juga raut muka yang aku punya sebelum kamu bilang Kita sudahi saja ya semuanya? Lalu, seperti itukah raut muka yang rela kamu tinggalkan untuk pergi selamanya bersama gadis piliha orang tuamu. Orang tua yang baru saja kamu perkenalkan dalam mimpi semalam. Mereka memilih gadis terbaiknya untukmu, gadis yang tidak banyak mengikutseratakan orang tua dalam hubungan kalian, gadis yang tidak banyak protes ketika kamu mencetuskan sebuah isu untuk diperbincangkan dengan serius, layaknya para politikus berdebat di layar kaca televisi. Lalu, satu lagi, gadis itu adalah gadis yang usianya jauh di bawahmu, bukan gadis yang seurusia dengan mu atau lebih tua dari mu. Kamu masih ingatkan, kamu pernah bilang, ayahmu tidak setuju jika kamu menikah dengan wanita yang lebih tua dari mu, barang 3 bulan, seperti aku? Maka, selamat ya adalah kalimat terakhir yang aku ucapkan untukmu di hari pertunangan kalian hari itu.
Kamu tahu, Ndu, gambaran orang tua yang sungguh ramah, dengan suara berat ayahmu yang penuh wibawa, dan tangan halus mamamu yang kamu bilang pandai memasak itu hilang. Sama sekali. Bukan aku membenci mereka. Bahkan mereka berhak membuangku jauh di ujung kutub jika memang perlu karena mereka adalah orang tuamu yang ingin hal terbaik untuk hidup anak laki-laki satu-satunya. Tapi, Pandu, biasakah kamu pergi dengan membawa semua memori yang aku punya. Atau, paling tidak, bisakah kamu lempar aku ke masa lalu agar ketika siang gerimis itu aku mengatakan tidak saja atas ajakan kamu untuk kita berjanji menjadikan aku dan kamu menjadi kita?
Tanpa sadar, mataku terpejam. Bukan tidur. Aku menahan agar aku tidak terisak lagi. Oke, itu hanya usaha karena bagaimanapun aku berusaha, mataku tetap basah. Aku tetap terisak di tempat tidurku, berselimut couple yang entah kapan akan aku singkapkan untuk tidak lagi aku gunakan. Alih-alih membuangnya ke ujung tempat tidur, aku justru merapatkan selimut itu penuh hingga ke dahu, menyisakan kepalaku yang tampak tenggelam di antara bantal bersepreai coklat muda dengan motif batik pemberian Eyang Lebaran lalu.
Ting tong!
Aku tersentak, kaget. Bel sialan! Aku merutuk. Pukul 06.13 tertera pada jam digital di atas nakas. Siapa yang sepagi ini datang? Oh please, ini hari sabtu dan biasakan aku memperlakukannya sebagai hari sabtu dan bukan hari senin-selasa-rabu-kamis-jumat??
Mataku sembab ketika aku menghadap kaca. Sungguh pemandangan terkacau yang aku lihat. Rambutku yang masih tersanggul berantakan, piyama krem selutut yang tampak kusut, dan kerutan pada wajah bekas lipatan bantal dan seprainya sukses membuat wajahku lebih mirip zombie yang berkeliaran di serial The Walking Dead yang aku tonton setiap senin malam. Maka, aku raih kacamata nonminus dari laci nakas, sekadar menutupi lingkar hitam di bagian bawah mataku.
Ting tong!
Hhh, aku mendengus. Ingin sekali aku melempar apa saja yang ada di sekelilingku ke arah bel sialan itu. Juga ke pemencet bel yang kurang ajar pagi-pagi begini menyantroni seorang single menyedihkan seperti aku. Memangnya, tidak ada hari lain sampai sabtu-sabtu begini menggedor, oke, memencet bel berkali, di pagi buta pun?—karena menurutku pagi yang pantas diguanakan untuk bertamu adalah pukul 10.
Ting tong!
Shit!
“Iya, iya, bisa sabar nggak sih? Kelakuan banget ya.....”
Clek! Aku membuka pintu “.....pagi-pagi gini mencetin bel rum......”
“.......”
Aku terpengarah saat pintu benar-benar terbuka.
“Pagi, Mbak Ema.”
Aku menelan ludah. Menelannya besar-besar. Kalau pun bisa, menelan seluruh omelanku tadi, berharap tidak pernah ada yang mendengar dan bahkan tersakiti karenanya. Aku tersenyum getir.
“Pagi.” Aku membalas sapaannya. Klasik. “Ada apa Mas?” Tanyaku saat kesadaranku benar-benar sudah meraja, menyadari bahwa yang tengah ku hadapi adalah asisten bosku, Mas Arya, yang ketika aku sapa ia tampak menahan senyum. Mungkin ini baru pertama kalinya ia melihat diriku versi zombie begini.
“Maaf sekali mengganggu hari sabtumu. Tadi saya telpon dan sms tidak ada yang terjawab. Jadi saya ke sini.” Tanpa sengaja aku menggigit bibir bawah. Tentu saja tak terjawab karena semua sarana komunikasi aku matikan.
“Maaf, Mas, belum sempat saya hidupkan lagi sejak semalam.” Bohongku padanya.
Wajah tirusnya masih tersenyum ketika menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Kemudian, tangannya tampak terulur, menyodorkan sebuah amplop coklat.
“Bos minta saya mengantarkan naskah ini. Penulisnya minta rilis sebelum valentine dan....” Ia menyodorkan amplot coklat lainnya. “Ini titipan dari bos yang kedua. Katanya sebagai ganti hari sabtu yang seharusnya mbak nikmati sebagai hari libur.”
Aku tersenyum lagi, tapi mungkin lebih getir dari sebelumnya. Sialan banget. Model-model bos nyogok gini yang nggak bisa aku tolak. Arrgh!
“Jadi, harus kapan saya kumpulkan naskahnya, Mas?”
Dia tampak melihat buku agenda yang sengaja ia pegang, tidakia simpan di dalam tas. “Kira-kira, dua minggu lagi, bisa?” Aku menganga tanpa sadar mendengar tenggat waktu yang diberikan. Mataku beralih seketika ke amplop coklat nan tebal luar biasa di tangaku.
“Ini penting dan ketika nanti rencana pembuatan film dari naskah itu diterima, kemungkinan Mbak dipromosikan sebagai kandidat ketua editor, kata bos, lebih besar.
Bagus! Terus saja menjual janji manis.
“Oke, aku usahakan ya. Dan sampaikan pada bos, saya memilih mengerjakan ini di rumah.” Kataku, pasrah.
“Baik, Mbak.” Sahutnya, sembari membereskan buku agenda di tangannya, memasukukkannya ke dalam tas yang ia bawa di tangan kiri.
“Kalau begitu, saya mohon pamit. Semoga lancar ya, Mbak.”
“Iya, Mas, terima kasih.”
Setelah Mas Arya pulang dan pintu tertutup, aku mencelos, melorot di sofa sembari menatap nanar amplop coklat di pangkuanku berisi naskah novel kejar tayang. Lalu beralih ke amplop satunya, yang ternyata setelah ku buka, berisi tiket liburan ke bali bulan Februari nanti lengkap dengan voucher gratis belanja gila di Joger. Saya harap bonus ini bisa menjadi ganti lemburmu selama dua minggu ke depan, Ema. Tulisan itu terselip di tumpukan paling atas dari tiket dan sejumlah voucher yang kusebutkan tadi. Aku menghela napas, pasrah.
Sabtu? Me-time? Good Bye! Melow drama ala telenovela, good bye juga. Aku harus berubah sedemikian rupa menjadi wonder woman yang bisa dengan sigap mengganti suasana hati seketika dari menyedihkan-penuh-luka dengan penuh-bahagia-ceria-sepanjang-masa. Sulit? Pasti. Dan aku harus berjuang dengan segala macam tenaga yang aku bisa. Kecuali, aku akan menjadi satu-satunya manusia berdosa di kantor karena sudah mengabaikan tugas gara-gara mimpi dan mantan sialan, lalu menyebabkan tiket liburan yang menggiurkan itu dibatalkan secara tidak hormat.
Pagi masih hujan ketika aku kembali dari kamar mandi, mencuci muka. Aku memlih duduk di sofa ruang tengah, di depan televisi yang aku biarkan mati. I-Pod warna merah jambu tadi, kembali aku sumpalkan earphone nya ke telinga. Cukup itu saja dan aku tidak butuh selimut couple dua lapis itu. Aku butuh pengalihan dan mungkin rasa dingin beserta setumpuk naskah tebal ini adalah pengalihan terbaik yang aku dapatkan.
Mery, nama itu sungguh mencekam jika dikaitakan dengan tokoh hantu Amerika yang gemar muncul di depan cermin kamar mandi setelah dipanggil namanya sebanyak tiga kali.
Kalimat awalan itu yang kemudian menyapa lensa mataku, menenggelamkan otakku, menjadi pengalihan dari elegi pagi yang belum sepenuhnya pergi.
-end-
“Couple-an kok selimut.” Ingin aku lempar dengan panci ketika Rere, teman satu rumahku, berkomentar demikian.
Oke, ini hari Sabtu dan seharusnya aku lebih sibuk dengan mimpi keempat ku, terserah tentang apa. Mengapa keempat? Karena mimpi ketiga sudah aku jalani sebelum terbangun untuk shalat subuh untuk kemudian tidur lagi menyambut mimpi macam apa saja setelah mataku benar-benar telelap. Pekerjaan semacam editor memang jarang-jarang bisa menganggur seenak udelnya seperti sekarang. Tapi, itu seharusnya. Masih bisa ingat kan menagapa kata seharusnya di awal tadi aku miringkan? Itu memang karena semua yang aku ceritkan tentang mimpi keempat adalah seharusnya. Dan karena memang seharusnya, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Aku masih terjaga sejak subuh jam 4 pagi tadi. Aku tidak bisa tidur lagi.
Memilih novel karya Cristian Simamora berjudul All You Can Eat di saat genting seperti ini sungguh salahh besar.
Tema yang dibahas di dalamnya adalah mantan tak tau diri yang terang-terangan bercokol di otak para tokohnya. Mungkin, jika aku mengakui apa yang tengah bercokol juga di otakku sekarang, aku bisa menjadi salah satu tokoh tambahan di dalam novel itu. Shit. Mau sampai kapan, Em, menye-menye begitu?
Dan, here I am, mengurung diri di kamar, bergumul di dalam dua lapis selimut couple, menyumpal telinga dengan earphone yang menjuntai dari I-Pod berwarna merah muda. Lalu, memegang satu novel tebal yang aku bilang sial tadi sembari menatap hujan dari jendela yang sengaja aku buka gordennya. Sangat serasi dengan seting novel dalam naskah-naskah yang aku sunting setiap harinya. Aku sengaja melalukannya. Paling tidak aku bisa lah melupakannya, sebentar saja berada pada dimensi ruang yang berbeda, dengan menikmati me-time. Pengalihan dengan semua yang aku lakukan pagi ini sepertinya tidak cukup jika aku tidak mematikan alat komunikasi. Maka, semua akses seperti ponsel dan tablet galaxy 2 pemberian ayah pun sengaja aku nonaktifkan.
Pretending not to love you was the hardest thing I’ve ever done (Pretty Little liar, 2010 TV Series).
Ini kutipan yang baru saja aku baca pada halaman 395. Siaal! Bukannya teralihkan dari isu permantanan aku justru semakin tenggelam di dalamnya. Maka, tanpa lagi menunda, aku pun melepaskan novel tebal itu dan setengah melemparnya ke ujung tempat tidur. Helaan napas panjang itu menandakan bahwa ada sedikit lega. Aku ingin pengalihan bukan penguatan atas apa yang aku rasakan. Mimpi semalam, ah, sungguh tidak ada keingin lagi untuk mengingatnya. Tapi, entah siapa yang pertama kali menjadikan mimpi sebagai bagian dari bunga tidur jika yang dimimpikan adalah hal yang bahkan jauh dari keindahan. Bunga itu indah, dan mimpi berisi mantan kekasih yang ingin setengah mati dilupakan bukan suatu keindahan.
Kamu, ya, kamu, datang semalam tanpa permisi lebih dulu. Kamu datang dalam mimpiku dengan serta merta mengajakku berkenalan dengan orang tuamu. Sialnya lagi, aku hanya bersedia dengan segala macam tetek bengek kebahagiaan menggantung di pelupuk mata yang berbinar. Namanya juga mimpi, aku bisa melihat diriku sendiri di dalamnya sekaligus merakan apa yang dirasakan tokoh yang aku lihat. Oh, mimpi yang oh-so-absurd ini berlanjut ketika kamu kemudian menyebutkan bahwa lelaki yang duduk di kemudi mobil berwarna metalik itu adalah ayahmu. Ayah yang kamu banggakan dan selalu kamu sebut sebagai seseorang yang ingin sekali kamu tiru caranya melindungi istrinya. Lalu, ketika kemudian mataku beralih pada wanita di jok belakang, tepat di belakang ayahmu, wanita itu tersenyu, ramah sekali. Bahkan aku mampu menjadi pengagumnya di pandangan pertama. Itu ibumu, katamu. Ibu yang selama ini kamu panggil dengan ‘mama’ pada suatu ketika kita bersama dan beliau menelpon, menanyakan apakah kamu tidak lupa mengantarkan surat titipan untuk wali kelas adikmu yang tengah sakit.
Lalu, ketika aku jabat tangannya, tangan itu lembut sekali, tangan yang sering kamu bilang pandai mengolah masakan menjadi materpiecenya. Dan satu koemntar yang aku terima kemudian di sela jabat tangan singkat itu sungguh membuat hatiku bengkak.
“Ema, ya? Lebih cantik ya dari yang sering Pandu ceritakan pada mama.”
Aku hanya tersenyum. Dan seperti yang aku lihat, senyumku saat itu, semalam, sungguh senyum bahagia. Seerpti itukah raut wajahku ketika aku ada di sekitarmu, Ndu? Seperti itukah raut mukaku tiap kamu dengan sengaja datang mengetuk pintu apartemenku dan mengucap Aku kangen kamu di detik pertama aku membukakan pintu? Seperti itukah juga raut muka yang aku punya sebelum kamu bilang Kita sudahi saja ya semuanya? Lalu, seperti itukah raut muka yang rela kamu tinggalkan untuk pergi selamanya bersama gadis piliha orang tuamu. Orang tua yang baru saja kamu perkenalkan dalam mimpi semalam. Mereka memilih gadis terbaiknya untukmu, gadis yang tidak banyak mengikutseratakan orang tua dalam hubungan kalian, gadis yang tidak banyak protes ketika kamu mencetuskan sebuah isu untuk diperbincangkan dengan serius, layaknya para politikus berdebat di layar kaca televisi. Lalu, satu lagi, gadis itu adalah gadis yang usianya jauh di bawahmu, bukan gadis yang seurusia dengan mu atau lebih tua dari mu. Kamu masih ingatkan, kamu pernah bilang, ayahmu tidak setuju jika kamu menikah dengan wanita yang lebih tua dari mu, barang 3 bulan, seperti aku? Maka, selamat ya adalah kalimat terakhir yang aku ucapkan untukmu di hari pertunangan kalian hari itu.
Kamu tahu, Ndu, gambaran orang tua yang sungguh ramah, dengan suara berat ayahmu yang penuh wibawa, dan tangan halus mamamu yang kamu bilang pandai memasak itu hilang. Sama sekali. Bukan aku membenci mereka. Bahkan mereka berhak membuangku jauh di ujung kutub jika memang perlu karena mereka adalah orang tuamu yang ingin hal terbaik untuk hidup anak laki-laki satu-satunya. Tapi, Pandu, biasakah kamu pergi dengan membawa semua memori yang aku punya. Atau, paling tidak, bisakah kamu lempar aku ke masa lalu agar ketika siang gerimis itu aku mengatakan tidak saja atas ajakan kamu untuk kita berjanji menjadikan aku dan kamu menjadi kita?
Tanpa sadar, mataku terpejam. Bukan tidur. Aku menahan agar aku tidak terisak lagi. Oke, itu hanya usaha karena bagaimanapun aku berusaha, mataku tetap basah. Aku tetap terisak di tempat tidurku, berselimut couple yang entah kapan akan aku singkapkan untuk tidak lagi aku gunakan. Alih-alih membuangnya ke ujung tempat tidur, aku justru merapatkan selimut itu penuh hingga ke dahu, menyisakan kepalaku yang tampak tenggelam di antara bantal bersepreai coklat muda dengan motif batik pemberian Eyang Lebaran lalu.
Ting tong!
Aku tersentak, kaget. Bel sialan! Aku merutuk. Pukul 06.13 tertera pada jam digital di atas nakas. Siapa yang sepagi ini datang? Oh please, ini hari sabtu dan biasakan aku memperlakukannya sebagai hari sabtu dan bukan hari senin-selasa-rabu-kamis-jumat??
Mataku sembab ketika aku menghadap kaca. Sungguh pemandangan terkacau yang aku lihat. Rambutku yang masih tersanggul berantakan, piyama krem selutut yang tampak kusut, dan kerutan pada wajah bekas lipatan bantal dan seprainya sukses membuat wajahku lebih mirip zombie yang berkeliaran di serial The Walking Dead yang aku tonton setiap senin malam. Maka, aku raih kacamata nonminus dari laci nakas, sekadar menutupi lingkar hitam di bagian bawah mataku.
Ting tong!
Hhh, aku mendengus. Ingin sekali aku melempar apa saja yang ada di sekelilingku ke arah bel sialan itu. Juga ke pemencet bel yang kurang ajar pagi-pagi begini menyantroni seorang single menyedihkan seperti aku. Memangnya, tidak ada hari lain sampai sabtu-sabtu begini menggedor, oke, memencet bel berkali, di pagi buta pun?—karena menurutku pagi yang pantas diguanakan untuk bertamu adalah pukul 10.
Ting tong!
Shit!
“Iya, iya, bisa sabar nggak sih? Kelakuan banget ya.....”
Clek! Aku membuka pintu “.....pagi-pagi gini mencetin bel rum......”
“.......”
Aku terpengarah saat pintu benar-benar terbuka.
“Pagi, Mbak Ema.”
Aku menelan ludah. Menelannya besar-besar. Kalau pun bisa, menelan seluruh omelanku tadi, berharap tidak pernah ada yang mendengar dan bahkan tersakiti karenanya. Aku tersenyum getir.
“Pagi.” Aku membalas sapaannya. Klasik. “Ada apa Mas?” Tanyaku saat kesadaranku benar-benar sudah meraja, menyadari bahwa yang tengah ku hadapi adalah asisten bosku, Mas Arya, yang ketika aku sapa ia tampak menahan senyum. Mungkin ini baru pertama kalinya ia melihat diriku versi zombie begini.
“Maaf sekali mengganggu hari sabtumu. Tadi saya telpon dan sms tidak ada yang terjawab. Jadi saya ke sini.” Tanpa sengaja aku menggigit bibir bawah. Tentu saja tak terjawab karena semua sarana komunikasi aku matikan.
“Maaf, Mas, belum sempat saya hidupkan lagi sejak semalam.” Bohongku padanya.
Wajah tirusnya masih tersenyum ketika menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Kemudian, tangannya tampak terulur, menyodorkan sebuah amplop coklat.
“Bos minta saya mengantarkan naskah ini. Penulisnya minta rilis sebelum valentine dan....” Ia menyodorkan amplot coklat lainnya. “Ini titipan dari bos yang kedua. Katanya sebagai ganti hari sabtu yang seharusnya mbak nikmati sebagai hari libur.”
Aku tersenyum lagi, tapi mungkin lebih getir dari sebelumnya. Sialan banget. Model-model bos nyogok gini yang nggak bisa aku tolak. Arrgh!
“Jadi, harus kapan saya kumpulkan naskahnya, Mas?”
Dia tampak melihat buku agenda yang sengaja ia pegang, tidakia simpan di dalam tas. “Kira-kira, dua minggu lagi, bisa?” Aku menganga tanpa sadar mendengar tenggat waktu yang diberikan. Mataku beralih seketika ke amplop coklat nan tebal luar biasa di tangaku.
“Ini penting dan ketika nanti rencana pembuatan film dari naskah itu diterima, kemungkinan Mbak dipromosikan sebagai kandidat ketua editor, kata bos, lebih besar.
Bagus! Terus saja menjual janji manis.
“Oke, aku usahakan ya. Dan sampaikan pada bos, saya memilih mengerjakan ini di rumah.” Kataku, pasrah.
“Baik, Mbak.” Sahutnya, sembari membereskan buku agenda di tangannya, memasukukkannya ke dalam tas yang ia bawa di tangan kiri.
“Kalau begitu, saya mohon pamit. Semoga lancar ya, Mbak.”
“Iya, Mas, terima kasih.”
Setelah Mas Arya pulang dan pintu tertutup, aku mencelos, melorot di sofa sembari menatap nanar amplop coklat di pangkuanku berisi naskah novel kejar tayang. Lalu beralih ke amplop satunya, yang ternyata setelah ku buka, berisi tiket liburan ke bali bulan Februari nanti lengkap dengan voucher gratis belanja gila di Joger. Saya harap bonus ini bisa menjadi ganti lemburmu selama dua minggu ke depan, Ema. Tulisan itu terselip di tumpukan paling atas dari tiket dan sejumlah voucher yang kusebutkan tadi. Aku menghela napas, pasrah.
Sabtu? Me-time? Good Bye! Melow drama ala telenovela, good bye juga. Aku harus berubah sedemikian rupa menjadi wonder woman yang bisa dengan sigap mengganti suasana hati seketika dari menyedihkan-penuh-luka dengan penuh-bahagia-ceria-sepanjang-masa. Sulit? Pasti. Dan aku harus berjuang dengan segala macam tenaga yang aku bisa. Kecuali, aku akan menjadi satu-satunya manusia berdosa di kantor karena sudah mengabaikan tugas gara-gara mimpi dan mantan sialan, lalu menyebabkan tiket liburan yang menggiurkan itu dibatalkan secara tidak hormat.
Pagi masih hujan ketika aku kembali dari kamar mandi, mencuci muka. Aku memlih duduk di sofa ruang tengah, di depan televisi yang aku biarkan mati. I-Pod warna merah jambu tadi, kembali aku sumpalkan earphone nya ke telinga. Cukup itu saja dan aku tidak butuh selimut couple dua lapis itu. Aku butuh pengalihan dan mungkin rasa dingin beserta setumpuk naskah tebal ini adalah pengalihan terbaik yang aku dapatkan.
Mery, nama itu sungguh mencekam jika dikaitakan dengan tokoh hantu Amerika yang gemar muncul di depan cermin kamar mandi setelah dipanggil namanya sebanyak tiga kali.
Kalimat awalan itu yang kemudian menyapa lensa mataku, menenggelamkan otakku, menjadi pengalihan dari elegi pagi yang belum sepenuhnya pergi.
-end-
Sabtu, 14 Desember 2013
jangan main-main dengan cinta
"jangan main-main dengan cinta, kalau ledakannya salah
arah, kamu akan terluka." katanya tanpa berpaling dari gitar di tangannya.
dia Haris, sahabatku sejak kami bahkan belum bisa membedakan bunyi l dan r.
kami tumbuh bersama layaknya saudara. ohya, ujaran tadi ia lontarkan saat aku
dengan semangatnya menceritakan lelaki bernama Bian, lelaki yang aku kenal dari
sebuah komunitas pembaca novel asing. Nama John Green, Nicholas Spark, juga Dan
Brown kerap menjadi jembatan percakapan yang terjadi. dan malam itu, Bian baru saja
mengajakku ke tempatnya biasa menghabiskan waktu bersama karib-karibnya.
"Ah, kau tidak tahu saja bagaimana caranya ia
mempelakukanku di depan teman-temannya tadi.” seperti biasa, Haris hanya
menoleh sejenak dan tidak memberikan komentar lagi, kebiasaan yang sudah aku
hafal sejak dulu: tidak banyak bicara.
dan malam itu, satu minggu kemudian, Haris yang memang tidak
banyak bicara, hanya diam mendapatiku menangis di ambang pintu kamarnya: Bian
berbohong dan aku terluka. ledakan cintanya membuatku tersakiti. Haris yang
tengah sibuk dengan gitarnya tampak terkejut melihatku. yang kemudian ia
lakukan hanya melepaskan gitarnya, mendatangiku di pintu kamarnya, dan meraih
tubuhku yang sudah lelah menangis ke dalam pelukannya.
“Sssh.” hanya desis itu yang aku dengar setelahnya. dan menit
selanjutnya, luka terbakar karena ledakan cinta Bian berangsur sembuh.
Senin, 09 Desember 2013
Terminal
sampai kapanpun, terminal akan tetap menjadi tempat singgah, hanya tempat singgah. yang kemudian datang hanya bersedia berbagi oksigen dengan sesama di sana dalam jangka waktu yang dapat dihitung dengan jari: 1, 2, 3 jam. selebihnya, mereka akan melakukannya di tempat lain, di tujuan yang lebih pasti dari sekadar bertatap muka sejenak untuk saing menyapa 'mau pulang kemana?' mereka tidak berniat tinggal, tapi hanya berniat mengukir kenangan sepenggal.
kalau pun memang ada yang sampai tertidur di sana, lelap yang terasa akan dikibas sekuat tenaga saat kemudian terjaga, agar segera pergi. kalau pun sampai akhirnya aksi berbagi okesigen tadi menjadi lebih lama, lebih dari 3 jam, bahkan mungkin sehari semalam, gerutu itu saling bersahut karena jengah tidak betah.
'kapan kita berangkat??' dan tanya itulah yang terselip di antaranya, paling tidak.
begitulah aku bagimu: tempatmu pulang sementara untuk kembali pergi. kamu adalah pejalan dan aku adalah terminal, tempatmu melepaskan lelah, sejenak, untuk kemudian berlalu tanpa berpikir lagi untuk menyempatkan bilang 'aku akan kembali.' hitungan jari 1, 2, 3 jam pun berlaku untuk ini karena kamu akan berkali melihat arloji pemberianku itu sampai kemudian kalimat 'aku pamit pulang' terucap dengan sangat rapih dari bibirmu. kamu jengah, tidak betah berada di sekitarku.
maka, ketika kemudian pada suatu malam nanti kamu datang mengetuk pintu depan rumahku, aku harus siap melepasmu lagi, harus siap membiarkan gelas berisi minuman favoritmu itu kembali tergantung di antara perkakas becah belah yang lain. juga, sampai jika malam berikutnya aku hanya menemukan sisa wangi parfum maskulinmu di antara sofa yang cekung karena kau duduki, atau bahkan aku menemukan kesepian jemu tanpa adanya suara pencet bel dari tanganmu, aku harus sudah bisa memastikan bahwa saat itulah kamu mengucapkan selamat tinggal.
kalau pun memang ada yang sampai tertidur di sana, lelap yang terasa akan dikibas sekuat tenaga saat kemudian terjaga, agar segera pergi. kalau pun sampai akhirnya aksi berbagi okesigen tadi menjadi lebih lama, lebih dari 3 jam, bahkan mungkin sehari semalam, gerutu itu saling bersahut karena jengah tidak betah.
'kapan kita berangkat??' dan tanya itulah yang terselip di antaranya, paling tidak.
begitulah aku bagimu: tempatmu pulang sementara untuk kembali pergi. kamu adalah pejalan dan aku adalah terminal, tempatmu melepaskan lelah, sejenak, untuk kemudian berlalu tanpa berpikir lagi untuk menyempatkan bilang 'aku akan kembali.' hitungan jari 1, 2, 3 jam pun berlaku untuk ini karena kamu akan berkali melihat arloji pemberianku itu sampai kemudian kalimat 'aku pamit pulang' terucap dengan sangat rapih dari bibirmu. kamu jengah, tidak betah berada di sekitarku.
maka, ketika kemudian pada suatu malam nanti kamu datang mengetuk pintu depan rumahku, aku harus siap melepasmu lagi, harus siap membiarkan gelas berisi minuman favoritmu itu kembali tergantung di antara perkakas becah belah yang lain. juga, sampai jika malam berikutnya aku hanya menemukan sisa wangi parfum maskulinmu di antara sofa yang cekung karena kau duduki, atau bahkan aku menemukan kesepian jemu tanpa adanya suara pencet bel dari tanganmu, aku harus sudah bisa memastikan bahwa saat itulah kamu mengucapkan selamat tinggal.
Senin, 02 Desember 2013
Renungan Hujan
Ini bukan tentang bagaimana menanggapi rintik gerimis yang menderas
yang kemudian membasahi kemeja atau pun sepatumu. Ini hanya tentang
bagaimana memaknai hujan sebagai awal dari langkah yang kau pilih,
memaknai tiap helai kucuran yang jatuh hingga beriak itu bekeliling di
antara jemari kakimu. Mungkin kau memang pernah terjatuh, hingga lututmu
berdarah karenanya. Atau mungkin, kau tengah menderita karena cinta,
hingga seutas tali itu menjadi semacam surga terakhir yang akan kau
datangi.
Kali ini, biar saja hujan itu datang menyapamu, membasuh mukamu, membasuh hatimu; untuk kemudian menghilangkan peluh juga keluh di ujung harimu. biarkan ia mengalir semau derasnya, semau rintiknya. Kemudian kau akan paham, betapa ia hadir membawa kehidupan. Mengembalikan ranting pada batang yang ditinggalkannya. menumbuhkan rerumputan yang seakan tak ingin lagi hidup di detik selanjutnya, membangunkan lagi asa yang mungkin mati karena kering yang mendera.
Biarkan hujan yang menyapanya, biarkan hujan yang menyingkirkan air matamu dan menggantinya dengan senyum secerah mentari setelah ia reda. Pada akhirnya, setiap doa toh terkabul atau tergantikan dengan yang lebih baik. Tuhan selalu ada untukmu, bukan? Satu hal yang perlu kau tahu, kau tidak sendiri. Bahkan tiap orang di luar sana mungkin memiliki lara yang lebih mencekik dibanding yang kau punya.
Untuk kali ini, diam sajalah di balik jendela besar dengan titiktitik air itu. Nikmati sejenak aroma tanah yang kemudian kau temui. Lalu bernafaslah layaknya kau manusia satu-satunya di dunia yang diberi kebebasan menghirup udara sebanyak yang kau mau. Tersenyumlah layaknya kau manusia paling bahagia di bumi tanpa perih dan luka.
Ketika kemudian hujan itu melambat menjadi rintik gerimis kembali untuk kemudian pergi, akan kau lihat sisa-sisa air di depan beranda rumahmu. Rasakan udara yang kau temukan: menyejukkan, menenangkan. tidak ada lagi debu, tidak ada lagi kelabu.
Kali ini, biar saja hujan itu datang menyapamu, membasuh mukamu, membasuh hatimu; untuk kemudian menghilangkan peluh juga keluh di ujung harimu. biarkan ia mengalir semau derasnya, semau rintiknya. Kemudian kau akan paham, betapa ia hadir membawa kehidupan. Mengembalikan ranting pada batang yang ditinggalkannya. menumbuhkan rerumputan yang seakan tak ingin lagi hidup di detik selanjutnya, membangunkan lagi asa yang mungkin mati karena kering yang mendera.
Biarkan hujan yang menyapanya, biarkan hujan yang menyingkirkan air matamu dan menggantinya dengan senyum secerah mentari setelah ia reda. Pada akhirnya, setiap doa toh terkabul atau tergantikan dengan yang lebih baik. Tuhan selalu ada untukmu, bukan? Satu hal yang perlu kau tahu, kau tidak sendiri. Bahkan tiap orang di luar sana mungkin memiliki lara yang lebih mencekik dibanding yang kau punya.
Untuk kali ini, diam sajalah di balik jendela besar dengan titiktitik air itu. Nikmati sejenak aroma tanah yang kemudian kau temui. Lalu bernafaslah layaknya kau manusia satu-satunya di dunia yang diberi kebebasan menghirup udara sebanyak yang kau mau. Tersenyumlah layaknya kau manusia paling bahagia di bumi tanpa perih dan luka.
Ketika kemudian hujan itu melambat menjadi rintik gerimis kembali untuk kemudian pergi, akan kau lihat sisa-sisa air di depan beranda rumahmu. Rasakan udara yang kau temukan: menyejukkan, menenangkan. tidak ada lagi debu, tidak ada lagi kelabu.
Rabu, 27 November 2013
KIRANA
Mereka berbeda,tidak hanya
karena keduanya terdiri dari laki-laki dan perempuan. mereka juga
berbeda dari segi sifat, kebiasaan, dan kesukaan. Kirana, seorang gadis
yang sangat menyukai keramaian, menyukai derasnya hujan, menyukai apa
saja yang berbau kesusastraan. Lain lagi dengan Damar. Ia adalah lelaki
yang lebih menyukai sepi, lebih menyukai panasnya matahari, lebih
menyukai segalanya yang berbasis seni.
Jika Kirana memilih keluar rumah saat kembang api menyala memenuhi langit, maka Damar memilih menutup telinganya dengan lagu jazz kegemarannya dan menyelesaikan sehelai kanvas di hadapannya. Jika kemudian Damar memilih keluar rumah saat ayam bahkan memilih mengerami telur-telurnya karena panas yang terik, maka Kirana memilih diam di balik jendela dan menunggu rintik deras itu tiba. Sudah ku bilang mereka berbeda. Tapi, tanpa mereka sadari, ada satu hal yang mereka sama-sama lakukan. Hal yang sama-sama mereka jalani setiap hari kerja yang mereka lalui, yaitu berangkat dan pulang dengan melewati jalan yang sama, depan taman kota.
Kirana adalah seorang editor naskah fiksi sebuah penerbit di ibu kota. Setiap harinya, ia akan berangkat pukul delapan pagi dan pulang pukul 5 sore. Jika memang ada naskah fiksi yang harus dikerjakannya esktra, ia akan mengulur waktu pulangnya hingga pukul tujuh. Tidak lebih karena itu adalah kontraknya pada dirinya sendiri.
Adapun Damar adalah seorang pelukis bayaran sebuah galeri lukis dan seorang gitaris di sebuah kafe. Setiap hari, ia akan bangun pukul lima pagi untuk kemudian melukis hingga pukul 4 sore. Barulah setelah ia mandi sore, ia akan bersiap kembali untuk melanjutkan hobi berduitnya yang lain: bermain gitar di kafe dan berangkat pukul setengah tujuh malam. Jika memang ada lukisannya yang selesai dan siap diantar ke galeri, ia akan berangkat lebih awal: pukul setengah 6 menjelang magrib.
Dengan kondisi normal, tentu keduanya memiliki dimensi waktu yang berbeda: Kirana keluar rumah ketika Damar memilih berdiam di kamarnya dengan belepotan cat di tangannya, sedangkan Damar keluar rumah ketika Kirana bahkan sudah tidak lagi ingin mengingat pekerjannya. Jarak pertemuan mereka yang berselang 90 menit tidak mengijinkan keduanya bertemu, meski jalan yang dilewati selalu sama, selalu seirama.
***
Hari itu, hari Kamis, tepat tanggal 1 Agustu 2012. Hampir semua orang sibuk karena memang giat bekerja, atau paling tidak pura-pura sibuk karena hari itu honor mereka cair tanpa lagi ditunda. Tentu saja, alasan kedua itu dilakukan untuk mencari muka di depan bos utama. Tapi, jangan berharap kamu akan menemukan alasan kedua tadi pada dua makhluk belum saling kenal ini: Kirana dan Damar. Keduanya bekerja dengan masing-masing hati dan perasaannya. Keduanya bekerja karena memang mereka suka. Keduanya bekerja karena baginya itu pangilan jiwa. Kirana sibuk di depan meja kantornya dengan naskah suntingan, sedangkan Damar sibuk di depan meja kamarnya dengan kanvas dan kertas not lagunya.
Sebagai seorang editor, waktu sibuk bagi Kirana adalah ketika ia harus pulang di atas pukul 5 sore, melembur semua suntingan karena esok pagi mejanya akan kembali penuh dengan tumpukan kertas naskah baru. Lain lagi dengan Damar. Sebagai seorang seniman dan gitaris kafe ibu kota, waktu sibuknya adalah ketika ia harus berangkat sebelum pukul 7 malam, mendatangi galeri langganan penyuka lukisannya karena tepat pukul 7 kemudian dia sudah harus duduk di depan para penikmat petikan jemarinya, bermain gitar.
Tidak banyak yang tahu bagaimana Tuhan mempertemukan siapa dengan siapa dan memisahkan siapa dari siapa. Yang pasti hari itu, hari Kamis, tanggal 1 Agustus 2012, tepat pukul enam sore, dua makhluk yang sama-sama benar-benar sibuk itu bertemu. Dua makhluk yang memiliki sifat, kebiasaan, dan kesukaan juga memiliki dimensi waktu yang berbeda. Mereka bertemu, tanpa disengaja dengan cara yang tidak diduga. Jalan di depan taman kota itulah yang mempertemukan mereka, mempertemukan keduanya. Sepele memang karena bukan hal besar yang membuat mata mereka saling melihat ke masing-masing arah: Kirana melihat Damar, Damar melihat Kirana. Tidak di mata, tapi di kaki, untuk kemudian merambat beralih ke punggung.
Pandangan pada kaki itu terjadi ketika –entah bagaimana—keduanya berada pada garis langkah yang sama. Sama-sama saling menghadap, sama-sama hendak melangkah pada waktu yang tidak dapat dipastikan gerakannya. Tidak ada yang berani memandang wajah karena justru masing-masing mata memandang lurus ke bawah, ke sepatu berhak tinggi milik Kirana dan sepatu Capsule Wear hitam milik Damar. Pergulatan antar mata dan sepatu yang singkat ini di akhiri dengan langkah pelan Damar ke samping kanan, mengalah dengan membiarkan Kirana berjalan terlebih dulu. Ada tarikan tipis di masing-masing ujung bibir mereka ketika akhirnya garis langkah mereka kembali berbeda, membuat cetakan suara sepatu yang lebih berirama. Sesaat setelah saling menjauh, Damar justru berhenti, menoleh ke belakang beberapa saat untuk melihat punggung yang semakin suram ditelan kelokan jalan. Lalu, ketika angka 18.48 di arlojinya seakan meneriakinya untuk segera beranjak dari sana, ia pun mulai bergerak, membiarkan sepatunya kembali menciptakan bunyi berirama dengan bunyi tak terdengar di balik kelokan tadi.
Tanpa Damar tahu, sepeninggalnya dari tempat berdirinya tadi, Kirana justru kembali keluar dari kelokan yang menelannya: melongok sebentar apa yang baru saja ditinggalkannya. Lalu tanpa disadarinya, tarikan tipis yang semula menghiasi ujung bibirnya kembali merekah, lebih lebar, bersamaan dengan hilangnya punggung bersepatu Capsule Wear di pintu kafe sebelah utara taman kota.
***
Seminggu setelahnya perbedaan yang semula memisahkan mereka lambat laun menjadi semacam alur yang justru mempertemukan keduanya. Pulang terlambat bagi Kirana dan berangkat terlalu awal bagi Damar menjadi hal yang menyenangkan, mendebarkan. Meski sesekali keduanya hanya sempat saling berkedip tanpa manja, keduanya tahu, keduanya menyukainya. Tentu kali ini, pandangan keduanya tidak sebatas pada sepatu dan punggung, tetapi juga wajah, muka, raut, mimik, ekspresi.
Hingga pada pertemuan ke-8, Damar tidak lagi berhenti di kakinya saat Kirana sudah ditelan kelokan di depannya. Kali ini, ia berhenti saat Kirana berada tepat di belakangnya.
“Bisa duduk-duduk sebentar?” tanyanya sembari berbalik, membuat Kirana melakukan gerakan yang sama. Tidak ada yang Kirana lakukan selain mengangguk perlahan, entah karena malu atau sebagai ganti ungkapannya bahwa itu sudah menunggu saat-saat demikian cukup lama. Sore itu keduanya resmi berkenalan, mengucap masing-masing nama lewat jabatan tangan yang mendadak saling menghangatkan. Tentu tidak sebatas pada genggaman, tetapi juga pada masing-masing hati yang bersangkutan.
***
Ada yang berkata bahwa cinta timbul karena biasa, ada juga yang percaya bahwa cinta bisa langsung datang di saat pertama muka bertemu muka. Untuk kedua makhluk berbeda itu, dua hal tadi menjadi alasan adanya cinta di antara mereka: cinta pada pandang pertama dan pada detik selanjutnya karena terbiasa. Manis ya? Bahkan aku pun ikut terhanyut ketika kemudian melihat bagaimana Damar tersenyum tiap kali Kirana dengan ceria menggambarkan persaannya tentang hari yang baru saja ia lalui. Juga ketika melihat bagaimana Damar mengacak rambut Kirana perlahan karena gemas dengan tingkah kekanakan yang terkadang sulit disembunyikan dari usia yang mulai beranjak 23 tahun pada bulan berikutnya.
“Bagaimana dengan besok? Aku dapat ijin libur manggung satu hari.” ujar Damar pada percakapan yang sudah berlangsung selama 15 menit itu. Sekilas informasi saja, ini pertemuan mereka yang ke-15 pada usia perkenalan satu bulan. Mereka bertemu setelah Kirana pulang kerja dan sebelum Damar tampil di panggungnya di depan taman kota. Juga beberapa pertemuan yang terjadi ketika sabtu malam tiba, saat keduanya diliburkan sebagai pegawai negara. Dan esok, pertemuan dengan dimensi berbeda itu akan berlanjut menjadi yang ke-16 dalam usia pertemuan yang menjadi satu bulan lebih satu hari.
“Baiklah.” Kirana setuju. “Kita berangkat setelah aku pulang kerja ya?” Kali ini Damar mengangguk mantap.
“Aku akan bawa bantal kecil kalo begitu.” ujar Kirana lagi pada percakapan yang hampir berakhir. Damar tampak mengerutkan keningnya. “Kenapa?” tanyanya.
“Aku tidak begitu suka melihat adegan horor. Jadi bantal kecil itu akan aku gunakan untuk aku peluk ketika aku merasa takut.” Damar justru terkikik, membuat Kirana yang gantian mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa?”
“Kalau memang takut, kenapa kamu setujui ajakanku menonton film yang kamu bahkan tidak suka melihatnya dengan telanjang mata?” Kirana tanpak berfikir mendengar pertanyaan itu sembari menahan senyum. Juga menahan agar ungkapan kan ada kamu tidak loncat begitu saja tanpa ijinnya dari kedua bibirnya.
“Dan kalau kamu perlu untuk berlindung, kenapa tidak aku saja yang kamu peluk jadi kamu tidak akan kerepotan menenteng bantal kecilmu itu kemana-mana.” ujaran itu terucap sebelum Kirana sempat menyahut pertanyaan yang memang tidak ia temukan jawaban yang benar-benar tepat. Mulutnya resmi terkunci sekarang. Bukan hanya karena merasa terpojok, tapi juga karena terlalu tidak bisa menahan sensasi romantis yang Damar tunjukkan. Hanya cubitan kecil pada pundak Damar itu yang pada akhirnya menjadi jawabannya untuk keseluruhan pertanyaan Damar.
***
Ada yang berbeda. Ini sangat jelas karena bahkan tiap helai daun yang terjatuh di antara rerumputan di taman itu, juga tiap embun yang pernah meleleh di atasnya pun tahu perubahan yang tengah terjadi. Ini bukan tentang perubahan cuaca yang belakangan semakin dingin. Ini tentang perbuahan dimensi waktu yang entah sejak kapan menjadi sama. Kirana mendadak menjadi rajin mengerjakan tugas lembur suntingannya hingga pukul setengah tujuh. Demikian pula dengan Damar yang mendadak rajin bangun pagi agar lukisannya dapat selesai di setiap harinya, agar ia bisa berangkat lebih awal dari biasanya, agar sunggingan senyum di ujung bibirnya semakin lebar dari seharusnya, agar ....
Tok tok tok!
Suara ketukan itu terdengar tiba-tiba. Tepat pada pintu rumah Damar. Seperti juga sudah diduga, Damar agak terkejut dibuatnya. Ada yang datang, entah siapa Damar tidak bisa menebak. Jika dilihat dari dandannya, orang itu tampak ‘penting’. Rapih sekali dan sangat tampak memiliki hasrat untuk segera bertemu dengan tuan rumah. Dibandingkan para tetangganya, Damar memang termasuk orang yang jarang menerima tamu. Atau memang bisa dibilang, jarang ada yang berminat menjadi tamunya.
Tidak ingin terganggu terlalu lama dengan ketukan berikutnya, bergegaslah ia keluar kamar, meninggalkan calon mahakaryanya menuju pintu.
“Apa kabar?” pertanyaan itu yang diterimanya sesaat setelah pintu terbuka dan ia tercengang menatap pengetuk tadi yang ternyata seorang wanita, wanita yang aku kenal, wanita yang juga Damar kenal.
“Baik, Lani.” sahutnya sedikit terbata. “Mari masuk.” Lanjutnya.
***
Jleger!
Petir yang terdengar dari kantor Kirana. Tangan Kirana yang awalnya gencar menari di atas tuts keyboard komputer di depannya, kini perlahan berhenti dan turun bertumpu di sisinya. Seperti yang pernah aku bilang, ia selalu suka hujan deras dan kini ia sangat menyukai hujan itu karena ia akan pulang terlambat. Artinya, akan ada kesempatan untuk beralasan pada rekan kerjanya bahwa ia melakukan semua kerjaan-esok-harinya itu bukan tanpa sebab. Hujan turun deras di luar sana. Dan juga akan ada kesempatanya untuk beralasan pada dirinya bahwa ketika nanti ia memulangkan diri dari kantor lebih dari pukul 5 sore dan bertemu dengan Damar di jalan yang sama, ia tidak perlu mengakui bahwa itu disengaja.
Sunggingan yang sudah ia hafal itu merekah, tampak oleh matanya sendiri ketika ia melirik pelan ke arah kaca cermin kecil di sisi kiri mejanya. Di sebelah kanannya, sudah ada satu kantong plastik berisi dua bungkus snack kentang keju dan dua botol air mineral.
“Beli di bioskop biasanya mahal.” ujaranya pada Damar semalam itu melintas sejenak di kepala Kirana. Dia sudah siap menonton film horor malam nanti. Termasuk siap untuk ‘siap-siap’ meninggalkan bantal kecilnya dan menggantinya dengan ‘bantal’ yang lebih hidup.
***
Seperti yang sudah diminta, pukul setengah tujuh tepat. Hujan sudah berhenti dan kini Kirana sudah rapih di depan taman kota. Tidak ada yang tahu mungkin bahwa dia baru saja pulang dari kantor dan berkutat dengan tumpukan naskah suntingan yang cukup bisa membuat rambut lurusnya menjadi keriting. Tadi, sebelum beranjak melangkah keluar kantor dia sempat dandan sampai maksimal. Pakai mandi segala tentunya. Hari itu spesial dan ia tidak ingin terlewatkan dengan bau badannya yang tidak sedap dan pakaian kerjanya yang sudah kusut. Dia pun sudah mengganti pakaiannya dengan kaos putih lengan pendek bertuliskan Am I Cute? dan celana jeans panjang berwarna hitam. Bantal kecilnya sudah pasti ia tinggalkan, tidak jadi diajaknya serta. Ia hanya tersenyum dengan bersemu ketika mengingat kata-kata Damar semalam sebelumnya: tentang film horor, bantal kecil, dan dirinya.
Ehemm!
Ia berdehem, bersamaan dengan tubuhnya yang ia dudukkan di bangku coklat depan taman yang agak basah, tempat biasa ia duduk bersama Damar. Sejenak, ia melongok bekalnya di tangan kiri. Masih utuh. Masih belum tersentuh meski sebenarnya Kirana sudah tidak sabar membuka salah satu snack kentang keju kesukaannya.
Ini sudah lima menit berlalu. Bisiknya dalam hati.
Ia menegok ke arah kanan, ke arah Damar biasanya datang. Tapi tidak ada siapa-siapa kecuali sejumlah mobil yang kemudian lewat di depannya. Wush! Menghembuskan angin semilir yang cukup mampu membuatnya mendekap badannya sendiri. Agak dingin malam itu. Andai bisa aku ke sana, melangkah mendekatinya, akan aku pinjamkan jamper abu-abuku yang tadi siang baru aku samber dari almari, baru selesai dibinatu seminggu yang lalu. Tapi, aku terlalu pengecut. Maka, tetaplah aku di sini, di tempatku menatapnya hingga mungkin membusuk di sana tanpa siapapun mengetahuinya.
Sudah sepuluh menit ku rasa dan kedatangan Damar belum juga bisa disebutkan. Kirana masih tampak tetap ceria meski sedikit semburat kecewa itu sudah siap merayapi raut wajahnya. Ia jadi sering menilik arloji kecil di pergelangan kirinya. Pastinya bukan untuk memastikan jarum pada arlojinya itu masih berputar dengan benar atau tidak. Ia memastikan bahwa ia masih pantas di sana untuk menunggu di tempat duduknya. Masih pantas untuk menjawab bahwa ia tetap sabar meski kemudian durasi penantiannya semakin lama dan lama.
Hhh..
Ia menghela nafas berat pada menit kesepuluh berikutnya. Ponsel yang seharusnya bisa dihubungi mendadak hanya mengantarkan suara lembut operator yang memintanya untuk mencoba lagi.
Mungkin Damar lupa. Batinnya, membuat tubuhnya sedikit lunglai.
Atau mungkin dia sakit?? Pikiran itu melintas setelahnya, begitu saja. Ia terkesiap. Bagaimana kalau Damar benar-benar sakit sampai tidak mampu memberikan kabar padanya? Bagaimana kalau Damar saat ini tengah pingsan di atas lantai kamar mandi dan basah kuyup karena ia lupa mematikan keran?
Bayangan buruk itu terus bertambah di benaknya. Membuatnya tidak lagi peduli dengan permintaan Damar untuk menunggunya di depan taman kota saja sampai Damar datang. Maka, beranjaklah Kirana dari duduknya, menyusul Damarnya. Juga untuk memastikan bahwa bayangan buruk tadi hanya tingkah konyol otaknya yang sedang gundah.
Andai saja bisa, ingin rasanya memintanya tetap di kursinya, tetap duduk dan menunggu. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin ia menemukan kejadian setelahnya yang justru bisa saja membuatnya terluka. Jadi, mungkin akan lebih baik jika ia bertahan untuk menunggu sampai akhirnya aku berani mendatanginya dan menyapanya, hingga pohon rindang ini tidak lagi menjadi saksi bisu bagaimana besarnya perasaannku padanya.
***
Jarak antara taman kota dan rumah Damar memang tidak jauh. Hanya 200 meter dan Kirana sudah hafal jalur mana saja yang harus ia lalui. Sudah dua kali ia berkunjung ke sana sebelumnya atas undangan dan ajakan Damar: undangan ketika Damar mendapatkan honor tambahan dan merayakannya dengan bakar sate bersama, ajakan ketika udara taman terlalu dingin dan pilihan menonton DVD menjadi yang lebik menarik bagi keduanya.
Kelokan terakhir itu mengantarkan kedua bola matanya pada pintu rumah berwarna biru laut milik Damar, tepat ketika gerimis yang sedikit demi sedikit turun menderas. Debar jantung Kirana semakin menjadi. Lampu ruang tamu rumah Damar tampak terang dari luar dan ia meyakikan diri, Damar ada di dalamnya dalam keadaan baik-baik saja.
Langkahnya sudah sampai pada teras rumah ketika matanya justru beralih dari pintu ke sepatu wanita di ujung keset, berjajar sepasang dengan rapih dengan sepatu hitam yang biasa Damar gunakan: satu menghadap ke arah pintu, satu lagi menghadap keluar. Sementara degup jantungnya mengencang, ia buang satu persatu pikiran jahatnya tentang Damar. Pikiran yang bisa memb
Prang!
Suara itu membuatnya terpengarah.
“Damar?!” Serunya seketika sembari menghambur begitu saja ke depan pintu dan mendorongnya terbuka. Sepersekian detik, kakinya justru terhenti di ambang pintu yang baru didorongnya. Sepersekian detik selanjutnya tangan kanannya pada gagang pintu terkulai di sisi kanan tubuhnya, lemas tanpa lagi bisa berbuat apa-apa.
“Ki, kirana?” ucapan terbata itu yang kemudian didengarnya. Damar yang mengucapnya sembari melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang perempuan di depannya, perempuan pengetuk pintu rumahnya beberapa menit lalu, perempuan pemilik sepatu di depan pintu yang berjajar sepasang dengan rapih di sisi sepatu hitam Damar. Nafas keduanya yang memburu tampak masih bersisa. Tidak perlu juga aku jelaskan apa yang baru saja dilakukan keduanya di atas meja tamu rumah itu. Tidak perlu juga aku paparkan bagaimana bisa vas bunga berwarna merah itu jatuh dari tempatnya ke lantai jika melihat posisi perempuan tadi yang setengah terlentang di sana. Yang jelas, keduanya melakukan itu dengan suka sama suka.
Kirana tidak juga menyahut. Ia hanya menelan ludah yang medadak sepahit empedu sebelum akhirnya tersenyum getir dan segera berlalu. Tidak lagi menghiraukan apa yang seharusnya dilakukannya: bertanya mengapa Damar tidak datang seperti yang dijanjikan di malam sebelumnya. Bekal yang ia bawa entah ia jatuhkan di mana, ia pun tidak peduli. Yang ada di benaknya adalah bahwa ia harus pergi dari sana, secepatnya. Kalau bisa, sesegerap mungkin hingga Damar seakan tidak pernah melihatnya sempat membuka pintu dan menatapnya nanar. Meski aku bukan Kirana, aku bisa turut merasakan betapa inginnya ia menghilangkan satu hari itu di daftar kenangannya, meloncat langsung ke hari berikutnya tanpa tahu yang terjadi sebelumnya.
Gerimis yang tadi sudah turun kini telah menjadi hujan, cukup deras. Dan tanpa diminta lagi, Kirana sudah berlari, lari sekuat yang ia bisa. Tubuhnya yang mulai basah kuyup terasa berguncang, menahan gemuruh yang ia punya di dalam dadanya. Itu pertama kalinya ia membenci hujan. Membenci tiap deras dan percikannya. Membeci tiap guyuran yang kemudian tanpa ampun membuat tubuhnya menggigil. Segala macam dandannya luntur, habis, tidak tersisa. Tergantikan dengan lelehan air matanya yang sudah bercampur menjadi satu dengan lelehan air hujan.
Dan aku? masih saja menjadi pengecut kacangan dengan tetap berada di bawah guyuran hujan tanpa bisa melangkah lebih jauh mengejar Kirana. Seketika, rasa benciku pada diri sendiri semakin menjadi. Bukan hanya karena aku tidak juga memiliki keberanian untuk mendekati Kirana, tapi juga karena telah membuang waktu untuk sekadar membuat rasa sakit yang Kirana punya sedikit berkurang, paling tidak itu anggapanku.
***
Sejak kejadian suatu sore itu, Kirana tidak lagi pulang terlambat. Ia selalu pulang tepat waktu. Jika memang ada naskah yang harus dikerjakannya dalam waktu ekstra ia akan membawanya pulang, sengaja ia kerjakan di rumah agar tepat pukul 5 ia sudah keluar dari kantornya. Meski demikian, sesekali ia akan duduk-duduk di bangku depan taman kota, tempat dimana ia pernah duduk di sana dengan sunggingan penuh makna di bibirnya.
Setelah kejadian itu, Damar sering kali menghubungi Kirana, mencoba memperbaiki semua hal yang dirusaknya di antara keduanya. Tapi, Kirana sepertinya bergeming. Ia terlanjur marah dan terluka. Andai saja Damon, salah satu tokoh Vampir pada serial tv Vampire Diaries yang gemar ditontonnya adalah nyata, ia akan memintanya menghapuskan nama Damar dari memori otaknya. Kirana terlalu kecewa.
Kabar terakhir yang ia dapatkan dari Damar datang ketika arlojinya menunjukkan angka 23.00. Ketika itu ia memang belum tidur, masih berkutat dengan setumpuk naskah yang esok harinya harus ia setorkan. Sebuah telepon dari rumah sakit yang mengabarkannya.
“Saudara Damar mengalami kecelakaan dan nomor Anda ada pada daftar panggilan cepat.”
Ujaran itu yang kemudian membuatnya tidak lagi di tempatnya, berlari secepatnya keluar rumah dan mencari taksi untuk menuju rumah sakit penelpon tadi. Rasa sesal itu yang pertama kali merayapi tubuhnya. Menyesali bahwa ia sama sekali tidak memberikan waktu untuk Damar menjelaskan semua yang terjadi. Mungkin itu yang membuatnya menangis sejadinya di depan jasad Damar. Meraung dan mengucapkan kata maaf sebanyak yang ia bisa, seakan Damar bisa mendengarnya dan kemudian mengabulkannya.
Hari itu, tanpa Kirana tahu, Damar berniat ke rumah Kirana, memberanikan diri karena memang ia tidak lagi ingin menunda kata maafnya. Kejadian sore itu memang kesalahannya. Ia tidak bisa menahan godaan Lani, mantan pacarnya semasa kuliah yang baru saja kembali dari studi di luar kota. Hal yang tidak Kirana tahu lainnya adalah bahwa saat ia bercinta dengan Lani, wajah Kiranalah yang ada di benaknya. Ia benar-benar menyayang Kirana sepenuh hatinya.
Dan siang ini, kami ada di seting yang sama. Aku tidak lagi di bawah pohon, di tepi taman kota, bersembunyi bersama ketakutan dan kepengecutan kelas kacangan yang aku punya. Aku di sini, di bawah pohon kamboja pada sebuah suasana pemakanan yang baru saja usai. Dan ia baru saja datang saat semua orang sudah mulai pergi. Kirana, dia memilih diam di sana, di dekat sebuah nisan.
Damara Yudha. Tertulis demikian dengan jelas, berjejer secara vertikal dengan sebuah tanggal: 12-12-13.
Aku mendekatinya, perlahan untuk kemudian menyapa, “Hai, sendirian?”
Kau tahu, raut mukanya datar ketika kemudian menoleh padaku yang berusaha mempersembahkan senyuman termanis tanpa label berlebihan. Jika dilihat dari raut wajahnya, dia merasa seperti berfikir, memikirkan apakah dia pernah melihat satu raut muka di depannya ini. Raut muka berjambang tipis dengan dagu berbelah tanpa ada lesung di pipinya. Ya itulah gambaran ku. Gambaran yang setidaknya aku harap ada di benaknya juga. kau ingin tau bagaimana ekspresinya? Sangat mirip dengan ekspresi model gadis di sebuah kereta pada video klip Just a Kiss milik Lady Antebelum yang baru saja bertemu dengan lelaki yang ditemuinya di dalam mimpi. Masih penasaran? Mungkin bisa bukan laptop atau gatget yang dimiliki dan buka situs youtube. Cari di situ dan saya yakin anda akan menemukan ekspresi yang saya maksud.
ang ku sebutkan tadi.
“Perkenalkan, aku Bian, Fabian.” uluran tangaku langsung disambutnya hangat. “Kirana.” jawabnya kemudian.
“Ada yang meninggal?” Aku mengangguk.
“Ya, adik perempuanku.” Sahutku, sembari melihat nisan di depanku: LANISA, 12-12-13. Nisan yang bersanding dengan nisan yang ia datangi.
Keningnya sempat mengernyit, sesaat. Senyuman tipis tapi manis itu yang kemudian menyusul. Mungkin di benaknya ada ujaran yang ingin diungkapkannya. Mungkin juga kemudian, ia memilih diam saja dan tidak mengomentari perihal Lani yang ternyata adik perempuanku. Perihal bahwa Lani adalah perempuan yang membuatya berlari di tengah gerimis yang menderas. Ia tidak ingin merusak khikmat yang ada menjadi ternoda.
Ketika kemudian kami mulai sama-sama diam memanjat doa dengan masing-masing bibir dan hati kami, hingga kami mulai melangkahkan kaki masing-masing meninggalkan pekuburan ini, aku tidak banyak berharap. Aku tidak peduli apakah perkenalan ini akan berlajut. Aku juga tidak peduli jika kemudian itu benar berlanjut dan kalian akan mengutukku karena perkenalan ini terjadi di tengah orang mati. Yang jelas sekarang adalah bahwa kepengecutan kelas kacangan yang pernah aku maki-maki sendiri sudah luntur. Aku sudah bisa menyebutkan namaku. Persoalan bisa atau tidaknya aku menyebutkan bagaimana besarnya perasaannku, itu lain lagi. Bukankah yang beginilah yang menarik, sehingga kalian bisa menebaknya sesuka hati?
Jika Kirana memilih keluar rumah saat kembang api menyala memenuhi langit, maka Damar memilih menutup telinganya dengan lagu jazz kegemarannya dan menyelesaikan sehelai kanvas di hadapannya. Jika kemudian Damar memilih keluar rumah saat ayam bahkan memilih mengerami telur-telurnya karena panas yang terik, maka Kirana memilih diam di balik jendela dan menunggu rintik deras itu tiba. Sudah ku bilang mereka berbeda. Tapi, tanpa mereka sadari, ada satu hal yang mereka sama-sama lakukan. Hal yang sama-sama mereka jalani setiap hari kerja yang mereka lalui, yaitu berangkat dan pulang dengan melewati jalan yang sama, depan taman kota.
Kirana adalah seorang editor naskah fiksi sebuah penerbit di ibu kota. Setiap harinya, ia akan berangkat pukul delapan pagi dan pulang pukul 5 sore. Jika memang ada naskah fiksi yang harus dikerjakannya esktra, ia akan mengulur waktu pulangnya hingga pukul tujuh. Tidak lebih karena itu adalah kontraknya pada dirinya sendiri.
Adapun Damar adalah seorang pelukis bayaran sebuah galeri lukis dan seorang gitaris di sebuah kafe. Setiap hari, ia akan bangun pukul lima pagi untuk kemudian melukis hingga pukul 4 sore. Barulah setelah ia mandi sore, ia akan bersiap kembali untuk melanjutkan hobi berduitnya yang lain: bermain gitar di kafe dan berangkat pukul setengah tujuh malam. Jika memang ada lukisannya yang selesai dan siap diantar ke galeri, ia akan berangkat lebih awal: pukul setengah 6 menjelang magrib.
Dengan kondisi normal, tentu keduanya memiliki dimensi waktu yang berbeda: Kirana keluar rumah ketika Damar memilih berdiam di kamarnya dengan belepotan cat di tangannya, sedangkan Damar keluar rumah ketika Kirana bahkan sudah tidak lagi ingin mengingat pekerjannya. Jarak pertemuan mereka yang berselang 90 menit tidak mengijinkan keduanya bertemu, meski jalan yang dilewati selalu sama, selalu seirama.
***
Hari itu, hari Kamis, tepat tanggal 1 Agustu 2012. Hampir semua orang sibuk karena memang giat bekerja, atau paling tidak pura-pura sibuk karena hari itu honor mereka cair tanpa lagi ditunda. Tentu saja, alasan kedua itu dilakukan untuk mencari muka di depan bos utama. Tapi, jangan berharap kamu akan menemukan alasan kedua tadi pada dua makhluk belum saling kenal ini: Kirana dan Damar. Keduanya bekerja dengan masing-masing hati dan perasaannya. Keduanya bekerja karena memang mereka suka. Keduanya bekerja karena baginya itu pangilan jiwa. Kirana sibuk di depan meja kantornya dengan naskah suntingan, sedangkan Damar sibuk di depan meja kamarnya dengan kanvas dan kertas not lagunya.
Sebagai seorang editor, waktu sibuk bagi Kirana adalah ketika ia harus pulang di atas pukul 5 sore, melembur semua suntingan karena esok pagi mejanya akan kembali penuh dengan tumpukan kertas naskah baru. Lain lagi dengan Damar. Sebagai seorang seniman dan gitaris kafe ibu kota, waktu sibuknya adalah ketika ia harus berangkat sebelum pukul 7 malam, mendatangi galeri langganan penyuka lukisannya karena tepat pukul 7 kemudian dia sudah harus duduk di depan para penikmat petikan jemarinya, bermain gitar.
Tidak banyak yang tahu bagaimana Tuhan mempertemukan siapa dengan siapa dan memisahkan siapa dari siapa. Yang pasti hari itu, hari Kamis, tanggal 1 Agustus 2012, tepat pukul enam sore, dua makhluk yang sama-sama benar-benar sibuk itu bertemu. Dua makhluk yang memiliki sifat, kebiasaan, dan kesukaan juga memiliki dimensi waktu yang berbeda. Mereka bertemu, tanpa disengaja dengan cara yang tidak diduga. Jalan di depan taman kota itulah yang mempertemukan mereka, mempertemukan keduanya. Sepele memang karena bukan hal besar yang membuat mata mereka saling melihat ke masing-masing arah: Kirana melihat Damar, Damar melihat Kirana. Tidak di mata, tapi di kaki, untuk kemudian merambat beralih ke punggung.
Pandangan pada kaki itu terjadi ketika –entah bagaimana—keduanya berada pada garis langkah yang sama. Sama-sama saling menghadap, sama-sama hendak melangkah pada waktu yang tidak dapat dipastikan gerakannya. Tidak ada yang berani memandang wajah karena justru masing-masing mata memandang lurus ke bawah, ke sepatu berhak tinggi milik Kirana dan sepatu Capsule Wear hitam milik Damar. Pergulatan antar mata dan sepatu yang singkat ini di akhiri dengan langkah pelan Damar ke samping kanan, mengalah dengan membiarkan Kirana berjalan terlebih dulu. Ada tarikan tipis di masing-masing ujung bibir mereka ketika akhirnya garis langkah mereka kembali berbeda, membuat cetakan suara sepatu yang lebih berirama. Sesaat setelah saling menjauh, Damar justru berhenti, menoleh ke belakang beberapa saat untuk melihat punggung yang semakin suram ditelan kelokan jalan. Lalu, ketika angka 18.48 di arlojinya seakan meneriakinya untuk segera beranjak dari sana, ia pun mulai bergerak, membiarkan sepatunya kembali menciptakan bunyi berirama dengan bunyi tak terdengar di balik kelokan tadi.
Tanpa Damar tahu, sepeninggalnya dari tempat berdirinya tadi, Kirana justru kembali keluar dari kelokan yang menelannya: melongok sebentar apa yang baru saja ditinggalkannya. Lalu tanpa disadarinya, tarikan tipis yang semula menghiasi ujung bibirnya kembali merekah, lebih lebar, bersamaan dengan hilangnya punggung bersepatu Capsule Wear di pintu kafe sebelah utara taman kota.
***
Seminggu setelahnya perbedaan yang semula memisahkan mereka lambat laun menjadi semacam alur yang justru mempertemukan keduanya. Pulang terlambat bagi Kirana dan berangkat terlalu awal bagi Damar menjadi hal yang menyenangkan, mendebarkan. Meski sesekali keduanya hanya sempat saling berkedip tanpa manja, keduanya tahu, keduanya menyukainya. Tentu kali ini, pandangan keduanya tidak sebatas pada sepatu dan punggung, tetapi juga wajah, muka, raut, mimik, ekspresi.
Hingga pada pertemuan ke-8, Damar tidak lagi berhenti di kakinya saat Kirana sudah ditelan kelokan di depannya. Kali ini, ia berhenti saat Kirana berada tepat di belakangnya.
“Bisa duduk-duduk sebentar?” tanyanya sembari berbalik, membuat Kirana melakukan gerakan yang sama. Tidak ada yang Kirana lakukan selain mengangguk perlahan, entah karena malu atau sebagai ganti ungkapannya bahwa itu sudah menunggu saat-saat demikian cukup lama. Sore itu keduanya resmi berkenalan, mengucap masing-masing nama lewat jabatan tangan yang mendadak saling menghangatkan. Tentu tidak sebatas pada genggaman, tetapi juga pada masing-masing hati yang bersangkutan.
***
Ada yang berkata bahwa cinta timbul karena biasa, ada juga yang percaya bahwa cinta bisa langsung datang di saat pertama muka bertemu muka. Untuk kedua makhluk berbeda itu, dua hal tadi menjadi alasan adanya cinta di antara mereka: cinta pada pandang pertama dan pada detik selanjutnya karena terbiasa. Manis ya? Bahkan aku pun ikut terhanyut ketika kemudian melihat bagaimana Damar tersenyum tiap kali Kirana dengan ceria menggambarkan persaannya tentang hari yang baru saja ia lalui. Juga ketika melihat bagaimana Damar mengacak rambut Kirana perlahan karena gemas dengan tingkah kekanakan yang terkadang sulit disembunyikan dari usia yang mulai beranjak 23 tahun pada bulan berikutnya.
“Bagaimana dengan besok? Aku dapat ijin libur manggung satu hari.” ujar Damar pada percakapan yang sudah berlangsung selama 15 menit itu. Sekilas informasi saja, ini pertemuan mereka yang ke-15 pada usia perkenalan satu bulan. Mereka bertemu setelah Kirana pulang kerja dan sebelum Damar tampil di panggungnya di depan taman kota. Juga beberapa pertemuan yang terjadi ketika sabtu malam tiba, saat keduanya diliburkan sebagai pegawai negara. Dan esok, pertemuan dengan dimensi berbeda itu akan berlanjut menjadi yang ke-16 dalam usia pertemuan yang menjadi satu bulan lebih satu hari.
“Baiklah.” Kirana setuju. “Kita berangkat setelah aku pulang kerja ya?” Kali ini Damar mengangguk mantap.
“Aku akan bawa bantal kecil kalo begitu.” ujar Kirana lagi pada percakapan yang hampir berakhir. Damar tampak mengerutkan keningnya. “Kenapa?” tanyanya.
“Aku tidak begitu suka melihat adegan horor. Jadi bantal kecil itu akan aku gunakan untuk aku peluk ketika aku merasa takut.” Damar justru terkikik, membuat Kirana yang gantian mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa?”
“Kalau memang takut, kenapa kamu setujui ajakanku menonton film yang kamu bahkan tidak suka melihatnya dengan telanjang mata?” Kirana tanpak berfikir mendengar pertanyaan itu sembari menahan senyum. Juga menahan agar ungkapan kan ada kamu tidak loncat begitu saja tanpa ijinnya dari kedua bibirnya.
“Dan kalau kamu perlu untuk berlindung, kenapa tidak aku saja yang kamu peluk jadi kamu tidak akan kerepotan menenteng bantal kecilmu itu kemana-mana.” ujaran itu terucap sebelum Kirana sempat menyahut pertanyaan yang memang tidak ia temukan jawaban yang benar-benar tepat. Mulutnya resmi terkunci sekarang. Bukan hanya karena merasa terpojok, tapi juga karena terlalu tidak bisa menahan sensasi romantis yang Damar tunjukkan. Hanya cubitan kecil pada pundak Damar itu yang pada akhirnya menjadi jawabannya untuk keseluruhan pertanyaan Damar.
***
Ada yang berbeda. Ini sangat jelas karena bahkan tiap helai daun yang terjatuh di antara rerumputan di taman itu, juga tiap embun yang pernah meleleh di atasnya pun tahu perubahan yang tengah terjadi. Ini bukan tentang perubahan cuaca yang belakangan semakin dingin. Ini tentang perbuahan dimensi waktu yang entah sejak kapan menjadi sama. Kirana mendadak menjadi rajin mengerjakan tugas lembur suntingannya hingga pukul setengah tujuh. Demikian pula dengan Damar yang mendadak rajin bangun pagi agar lukisannya dapat selesai di setiap harinya, agar ia bisa berangkat lebih awal dari biasanya, agar sunggingan senyum di ujung bibirnya semakin lebar dari seharusnya, agar ....
Tok tok tok!
Suara ketukan itu terdengar tiba-tiba. Tepat pada pintu rumah Damar. Seperti juga sudah diduga, Damar agak terkejut dibuatnya. Ada yang datang, entah siapa Damar tidak bisa menebak. Jika dilihat dari dandannya, orang itu tampak ‘penting’. Rapih sekali dan sangat tampak memiliki hasrat untuk segera bertemu dengan tuan rumah. Dibandingkan para tetangganya, Damar memang termasuk orang yang jarang menerima tamu. Atau memang bisa dibilang, jarang ada yang berminat menjadi tamunya.
Tidak ingin terganggu terlalu lama dengan ketukan berikutnya, bergegaslah ia keluar kamar, meninggalkan calon mahakaryanya menuju pintu.
“Apa kabar?” pertanyaan itu yang diterimanya sesaat setelah pintu terbuka dan ia tercengang menatap pengetuk tadi yang ternyata seorang wanita, wanita yang aku kenal, wanita yang juga Damar kenal.
“Baik, Lani.” sahutnya sedikit terbata. “Mari masuk.” Lanjutnya.
***
Jleger!
Petir yang terdengar dari kantor Kirana. Tangan Kirana yang awalnya gencar menari di atas tuts keyboard komputer di depannya, kini perlahan berhenti dan turun bertumpu di sisinya. Seperti yang pernah aku bilang, ia selalu suka hujan deras dan kini ia sangat menyukai hujan itu karena ia akan pulang terlambat. Artinya, akan ada kesempatan untuk beralasan pada rekan kerjanya bahwa ia melakukan semua kerjaan-esok-harinya itu bukan tanpa sebab. Hujan turun deras di luar sana. Dan juga akan ada kesempatanya untuk beralasan pada dirinya bahwa ketika nanti ia memulangkan diri dari kantor lebih dari pukul 5 sore dan bertemu dengan Damar di jalan yang sama, ia tidak perlu mengakui bahwa itu disengaja.
Sunggingan yang sudah ia hafal itu merekah, tampak oleh matanya sendiri ketika ia melirik pelan ke arah kaca cermin kecil di sisi kiri mejanya. Di sebelah kanannya, sudah ada satu kantong plastik berisi dua bungkus snack kentang keju dan dua botol air mineral.
“Beli di bioskop biasanya mahal.” ujaranya pada Damar semalam itu melintas sejenak di kepala Kirana. Dia sudah siap menonton film horor malam nanti. Termasuk siap untuk ‘siap-siap’ meninggalkan bantal kecilnya dan menggantinya dengan ‘bantal’ yang lebih hidup.
***
Seperti yang sudah diminta, pukul setengah tujuh tepat. Hujan sudah berhenti dan kini Kirana sudah rapih di depan taman kota. Tidak ada yang tahu mungkin bahwa dia baru saja pulang dari kantor dan berkutat dengan tumpukan naskah suntingan yang cukup bisa membuat rambut lurusnya menjadi keriting. Tadi, sebelum beranjak melangkah keluar kantor dia sempat dandan sampai maksimal. Pakai mandi segala tentunya. Hari itu spesial dan ia tidak ingin terlewatkan dengan bau badannya yang tidak sedap dan pakaian kerjanya yang sudah kusut. Dia pun sudah mengganti pakaiannya dengan kaos putih lengan pendek bertuliskan Am I Cute? dan celana jeans panjang berwarna hitam. Bantal kecilnya sudah pasti ia tinggalkan, tidak jadi diajaknya serta. Ia hanya tersenyum dengan bersemu ketika mengingat kata-kata Damar semalam sebelumnya: tentang film horor, bantal kecil, dan dirinya.
Ehemm!
Ia berdehem, bersamaan dengan tubuhnya yang ia dudukkan di bangku coklat depan taman yang agak basah, tempat biasa ia duduk bersama Damar. Sejenak, ia melongok bekalnya di tangan kiri. Masih utuh. Masih belum tersentuh meski sebenarnya Kirana sudah tidak sabar membuka salah satu snack kentang keju kesukaannya.
Ini sudah lima menit berlalu. Bisiknya dalam hati.
Ia menegok ke arah kanan, ke arah Damar biasanya datang. Tapi tidak ada siapa-siapa kecuali sejumlah mobil yang kemudian lewat di depannya. Wush! Menghembuskan angin semilir yang cukup mampu membuatnya mendekap badannya sendiri. Agak dingin malam itu. Andai bisa aku ke sana, melangkah mendekatinya, akan aku pinjamkan jamper abu-abuku yang tadi siang baru aku samber dari almari, baru selesai dibinatu seminggu yang lalu. Tapi, aku terlalu pengecut. Maka, tetaplah aku di sini, di tempatku menatapnya hingga mungkin membusuk di sana tanpa siapapun mengetahuinya.
Sudah sepuluh menit ku rasa dan kedatangan Damar belum juga bisa disebutkan. Kirana masih tampak tetap ceria meski sedikit semburat kecewa itu sudah siap merayapi raut wajahnya. Ia jadi sering menilik arloji kecil di pergelangan kirinya. Pastinya bukan untuk memastikan jarum pada arlojinya itu masih berputar dengan benar atau tidak. Ia memastikan bahwa ia masih pantas di sana untuk menunggu di tempat duduknya. Masih pantas untuk menjawab bahwa ia tetap sabar meski kemudian durasi penantiannya semakin lama dan lama.
Hhh..
Ia menghela nafas berat pada menit kesepuluh berikutnya. Ponsel yang seharusnya bisa dihubungi mendadak hanya mengantarkan suara lembut operator yang memintanya untuk mencoba lagi.
Mungkin Damar lupa. Batinnya, membuat tubuhnya sedikit lunglai.
Atau mungkin dia sakit?? Pikiran itu melintas setelahnya, begitu saja. Ia terkesiap. Bagaimana kalau Damar benar-benar sakit sampai tidak mampu memberikan kabar padanya? Bagaimana kalau Damar saat ini tengah pingsan di atas lantai kamar mandi dan basah kuyup karena ia lupa mematikan keran?
Bayangan buruk itu terus bertambah di benaknya. Membuatnya tidak lagi peduli dengan permintaan Damar untuk menunggunya di depan taman kota saja sampai Damar datang. Maka, beranjaklah Kirana dari duduknya, menyusul Damarnya. Juga untuk memastikan bahwa bayangan buruk tadi hanya tingkah konyol otaknya yang sedang gundah.
Andai saja bisa, ingin rasanya memintanya tetap di kursinya, tetap duduk dan menunggu. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin ia menemukan kejadian setelahnya yang justru bisa saja membuatnya terluka. Jadi, mungkin akan lebih baik jika ia bertahan untuk menunggu sampai akhirnya aku berani mendatanginya dan menyapanya, hingga pohon rindang ini tidak lagi menjadi saksi bisu bagaimana besarnya perasaannku padanya.
***
Jarak antara taman kota dan rumah Damar memang tidak jauh. Hanya 200 meter dan Kirana sudah hafal jalur mana saja yang harus ia lalui. Sudah dua kali ia berkunjung ke sana sebelumnya atas undangan dan ajakan Damar: undangan ketika Damar mendapatkan honor tambahan dan merayakannya dengan bakar sate bersama, ajakan ketika udara taman terlalu dingin dan pilihan menonton DVD menjadi yang lebik menarik bagi keduanya.
Kelokan terakhir itu mengantarkan kedua bola matanya pada pintu rumah berwarna biru laut milik Damar, tepat ketika gerimis yang sedikit demi sedikit turun menderas. Debar jantung Kirana semakin menjadi. Lampu ruang tamu rumah Damar tampak terang dari luar dan ia meyakikan diri, Damar ada di dalamnya dalam keadaan baik-baik saja.
Langkahnya sudah sampai pada teras rumah ketika matanya justru beralih dari pintu ke sepatu wanita di ujung keset, berjajar sepasang dengan rapih dengan sepatu hitam yang biasa Damar gunakan: satu menghadap ke arah pintu, satu lagi menghadap keluar. Sementara degup jantungnya mengencang, ia buang satu persatu pikiran jahatnya tentang Damar. Pikiran yang bisa memb
Prang!
Suara itu membuatnya terpengarah.
“Damar?!” Serunya seketika sembari menghambur begitu saja ke depan pintu dan mendorongnya terbuka. Sepersekian detik, kakinya justru terhenti di ambang pintu yang baru didorongnya. Sepersekian detik selanjutnya tangan kanannya pada gagang pintu terkulai di sisi kanan tubuhnya, lemas tanpa lagi bisa berbuat apa-apa.
“Ki, kirana?” ucapan terbata itu yang kemudian didengarnya. Damar yang mengucapnya sembari melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang perempuan di depannya, perempuan pengetuk pintu rumahnya beberapa menit lalu, perempuan pemilik sepatu di depan pintu yang berjajar sepasang dengan rapih di sisi sepatu hitam Damar. Nafas keduanya yang memburu tampak masih bersisa. Tidak perlu juga aku jelaskan apa yang baru saja dilakukan keduanya di atas meja tamu rumah itu. Tidak perlu juga aku paparkan bagaimana bisa vas bunga berwarna merah itu jatuh dari tempatnya ke lantai jika melihat posisi perempuan tadi yang setengah terlentang di sana. Yang jelas, keduanya melakukan itu dengan suka sama suka.
Kirana tidak juga menyahut. Ia hanya menelan ludah yang medadak sepahit empedu sebelum akhirnya tersenyum getir dan segera berlalu. Tidak lagi menghiraukan apa yang seharusnya dilakukannya: bertanya mengapa Damar tidak datang seperti yang dijanjikan di malam sebelumnya. Bekal yang ia bawa entah ia jatuhkan di mana, ia pun tidak peduli. Yang ada di benaknya adalah bahwa ia harus pergi dari sana, secepatnya. Kalau bisa, sesegerap mungkin hingga Damar seakan tidak pernah melihatnya sempat membuka pintu dan menatapnya nanar. Meski aku bukan Kirana, aku bisa turut merasakan betapa inginnya ia menghilangkan satu hari itu di daftar kenangannya, meloncat langsung ke hari berikutnya tanpa tahu yang terjadi sebelumnya.
Gerimis yang tadi sudah turun kini telah menjadi hujan, cukup deras. Dan tanpa diminta lagi, Kirana sudah berlari, lari sekuat yang ia bisa. Tubuhnya yang mulai basah kuyup terasa berguncang, menahan gemuruh yang ia punya di dalam dadanya. Itu pertama kalinya ia membenci hujan. Membenci tiap deras dan percikannya. Membeci tiap guyuran yang kemudian tanpa ampun membuat tubuhnya menggigil. Segala macam dandannya luntur, habis, tidak tersisa. Tergantikan dengan lelehan air matanya yang sudah bercampur menjadi satu dengan lelehan air hujan.
Dan aku? masih saja menjadi pengecut kacangan dengan tetap berada di bawah guyuran hujan tanpa bisa melangkah lebih jauh mengejar Kirana. Seketika, rasa benciku pada diri sendiri semakin menjadi. Bukan hanya karena aku tidak juga memiliki keberanian untuk mendekati Kirana, tapi juga karena telah membuang waktu untuk sekadar membuat rasa sakit yang Kirana punya sedikit berkurang, paling tidak itu anggapanku.
***
Sejak kejadian suatu sore itu, Kirana tidak lagi pulang terlambat. Ia selalu pulang tepat waktu. Jika memang ada naskah yang harus dikerjakannya dalam waktu ekstra ia akan membawanya pulang, sengaja ia kerjakan di rumah agar tepat pukul 5 ia sudah keluar dari kantornya. Meski demikian, sesekali ia akan duduk-duduk di bangku depan taman kota, tempat dimana ia pernah duduk di sana dengan sunggingan penuh makna di bibirnya.
Setelah kejadian itu, Damar sering kali menghubungi Kirana, mencoba memperbaiki semua hal yang dirusaknya di antara keduanya. Tapi, Kirana sepertinya bergeming. Ia terlanjur marah dan terluka. Andai saja Damon, salah satu tokoh Vampir pada serial tv Vampire Diaries yang gemar ditontonnya adalah nyata, ia akan memintanya menghapuskan nama Damar dari memori otaknya. Kirana terlalu kecewa.
Kabar terakhir yang ia dapatkan dari Damar datang ketika arlojinya menunjukkan angka 23.00. Ketika itu ia memang belum tidur, masih berkutat dengan setumpuk naskah yang esok harinya harus ia setorkan. Sebuah telepon dari rumah sakit yang mengabarkannya.
“Saudara Damar mengalami kecelakaan dan nomor Anda ada pada daftar panggilan cepat.”
Ujaran itu yang kemudian membuatnya tidak lagi di tempatnya, berlari secepatnya keluar rumah dan mencari taksi untuk menuju rumah sakit penelpon tadi. Rasa sesal itu yang pertama kali merayapi tubuhnya. Menyesali bahwa ia sama sekali tidak memberikan waktu untuk Damar menjelaskan semua yang terjadi. Mungkin itu yang membuatnya menangis sejadinya di depan jasad Damar. Meraung dan mengucapkan kata maaf sebanyak yang ia bisa, seakan Damar bisa mendengarnya dan kemudian mengabulkannya.
Hari itu, tanpa Kirana tahu, Damar berniat ke rumah Kirana, memberanikan diri karena memang ia tidak lagi ingin menunda kata maafnya. Kejadian sore itu memang kesalahannya. Ia tidak bisa menahan godaan Lani, mantan pacarnya semasa kuliah yang baru saja kembali dari studi di luar kota. Hal yang tidak Kirana tahu lainnya adalah bahwa saat ia bercinta dengan Lani, wajah Kiranalah yang ada di benaknya. Ia benar-benar menyayang Kirana sepenuh hatinya.
Dan siang ini, kami ada di seting yang sama. Aku tidak lagi di bawah pohon, di tepi taman kota, bersembunyi bersama ketakutan dan kepengecutan kelas kacangan yang aku punya. Aku di sini, di bawah pohon kamboja pada sebuah suasana pemakanan yang baru saja usai. Dan ia baru saja datang saat semua orang sudah mulai pergi. Kirana, dia memilih diam di sana, di dekat sebuah nisan.
Damara Yudha. Tertulis demikian dengan jelas, berjejer secara vertikal dengan sebuah tanggal: 12-12-13.
Aku mendekatinya, perlahan untuk kemudian menyapa, “Hai, sendirian?”
Kau tahu, raut mukanya datar ketika kemudian menoleh padaku yang berusaha mempersembahkan senyuman termanis tanpa label berlebihan. Jika dilihat dari raut wajahnya, dia merasa seperti berfikir, memikirkan apakah dia pernah melihat satu raut muka di depannya ini. Raut muka berjambang tipis dengan dagu berbelah tanpa ada lesung di pipinya. Ya itulah gambaran ku. Gambaran yang setidaknya aku harap ada di benaknya juga. kau ingin tau bagaimana ekspresinya? Sangat mirip dengan ekspresi model gadis di sebuah kereta pada video klip Just a Kiss milik Lady Antebelum yang baru saja bertemu dengan lelaki yang ditemuinya di dalam mimpi. Masih penasaran? Mungkin bisa bukan laptop atau gatget yang dimiliki dan buka situs youtube. Cari di situ dan saya yakin anda akan menemukan ekspresi yang saya maksud.
ang ku sebutkan tadi.
“Perkenalkan, aku Bian, Fabian.” uluran tangaku langsung disambutnya hangat. “Kirana.” jawabnya kemudian.
“Ada yang meninggal?” Aku mengangguk.
“Ya, adik perempuanku.” Sahutku, sembari melihat nisan di depanku: LANISA, 12-12-13. Nisan yang bersanding dengan nisan yang ia datangi.
Keningnya sempat mengernyit, sesaat. Senyuman tipis tapi manis itu yang kemudian menyusul. Mungkin di benaknya ada ujaran yang ingin diungkapkannya. Mungkin juga kemudian, ia memilih diam saja dan tidak mengomentari perihal Lani yang ternyata adik perempuanku. Perihal bahwa Lani adalah perempuan yang membuatya berlari di tengah gerimis yang menderas. Ia tidak ingin merusak khikmat yang ada menjadi ternoda.
Ketika kemudian kami mulai sama-sama diam memanjat doa dengan masing-masing bibir dan hati kami, hingga kami mulai melangkahkan kaki masing-masing meninggalkan pekuburan ini, aku tidak banyak berharap. Aku tidak peduli apakah perkenalan ini akan berlajut. Aku juga tidak peduli jika kemudian itu benar berlanjut dan kalian akan mengutukku karena perkenalan ini terjadi di tengah orang mati. Yang jelas sekarang adalah bahwa kepengecutan kelas kacangan yang pernah aku maki-maki sendiri sudah luntur. Aku sudah bisa menyebutkan namaku. Persoalan bisa atau tidaknya aku menyebutkan bagaimana besarnya perasaannku, itu lain lagi. Bukankah yang beginilah yang menarik, sehingga kalian bisa menebaknya sesuka hati?
Minggu, 20 Oktober 2013
potret (tak) berbingkai
Aku selalu menyukai perjalanan dengan kendaraan umum yang aku lewati. Ini bukan berarti bahwa aku adalah seorang traveler, bukan. Aku hanya sebagian dari banyak warga 'penikmat' kemacetan Jakarta.
"Ya ampun Ra, ngapain harus merutuki kemacetan jika kamu bahkan masih saja menikmati uang atas keringat yang berjuta kali mentes di tanah Jakarta?" begitu kata Dina, salah satu desainer grafis di penerbitan tempat aku bekerja sebagai editor.
Aku tertawa mendengarnya dan dengan cepat membenarkannya tanpa jeda setelah kedua bibirnya mengatup. Bahkan jika harus memutuskan untuk pergi dari Jakarta, aku tidak tahu berapa kerutan lagi yang akan bertambah pada wajahku saking lamanya keputusan itu akan muncul.
Kegemaranku pada perjalanan dengan kendaraan umum bukan dari bagaimana aku bisa bebas dari antrean panjang pembelian BBM di pom, bagaimana aku bisa bebas dari pencarian tempat parkir yang selalu padat, atau bagaimana bingungnya aku dengan jadwal servis kendaraan pribadi yang bisa saja mengulur waktu kejar deadline yang super ketat untuk pengerjaan beribu naskah di meja yang tiap harinya pasti bertambah. Kegemaranku pada perjalanan murni karena aku menikmatinya; bahwa aku bisa menikmati dunia lain di antara hiruk pikuk jalanan lewat kaca bening di sisi kanan atau kiri tempat aku menunggu untuk diantarkan pergi dan pulang. Itu mengapa aku selalu memilih posisi tepat di tepi jendela: entah duduk, entah berdiri dalam desakan penumpang lain. Dari sana, aku bisa melihat segala hal, bermacam hal. Asap yang mengepul, debu yang sanggup menimbulkan berpuluh jerawat dan masalah kulit lainnya, pincingan orang-orang berseragam dan bersepatu yang tidak tahan dengan deru motor para ABG labil yang sengaja dikeraskan, derap kaki kecil dari anak-anak penjaja koran harian, usapan peluh pada leher dan dahi para tukang parkir, semuanya. Potret tak berbingkai, begitu ayahku menyebutnya. Kegemaran itu aku peroleh dari ayah. Ayah yang mengajarkannya hingga menjadi satu warisan tak terlihat yang beliau tinggalkan sejak 2 tahun beliau pergi ke haribaan Tuhan.
Dari pemandangan itu, aku bisa melihat betapa hidup yang lama dari tiap orang bisa dirangkum sejenak dalam satu bingkai besar kaca kendaraan: entah kaca mobil travel dalam perjalanan jauh dari ibu kota ke kampung halaman, atau sekadar perjalanan dari rumah ke kantor yang dilalui dengan taksi, busway, atau angkutan kota. Betapa tiap kerutan pada kening kakek penjual kerak telur yang aku lihat bisa menceritakan hal yang berbeda jika dilihat pada bingkai yang berbeda: pagi, siang, sore, malam. Betapa asap dan debu jalanan bisa menjadi satu harmoni yang menunjukkan bahwa kota Jakarta ini masih bernafas seperti biasa dan menawarkan banyak pilihan warna yang bisa saja lebih indah dari permuakaannya.
Dan sore itu, saat aku menemukannya di sana, di satu bangku angkutan kota: duduk di tepi jendela, tengah tertidur dengan memegangi tas hitamnya. Sejauh mata memandang, ada kamera DLSR menggantung di leher yang tampak berkeringat. Rambut cepaknya yang agak berantakan dan kausnya yang sudah agak kusut memunculkan dugaan bahwa ia sudah berada di luar seharian. Deru mesin mobil sama sekali tidak mengusiknya. Aku mengitarkan pendangan ke kursi lain, tapi hanya ada satu kursi itu yang tersisa dan bagian tepi jendela sudah didudukinya. Tanpa lagi banyak berfikir, aku putuskan untuk duduk di kursi seadanya. Toh aku masih bisa tetap melihat keluar.
Sore yang mulai berubah menjadi malam ini menyajikan banyaknya wajah-wajah lelah sepulang kerja, lampu-lampu toko yang mulai berpendar dinyalakan, juga sebagian badan jalanan yang mulai ramai oleh pasangan muda berkendaraa berdua. Ah, malam minggu dan aku masih saja sibuk dengan segala macam tetek bengek pernaskahan yang belum juga berkurang jumlahnya sejak pertama kali aku bekerja. Dan sekarang, di saat pasangan-pasangan tadi sibuk berkencan, aku masih sibuk berkendara di angkutan umum yang masih berjalan malas menuju tujuan rumah masing-masing penumpang. Yang menjadikannya agak berbeda adalah bahwa sekarang di sampingku tengah duduk laki-laki yang, jika diperhatikan, tidak kalah tampan dengan vokalis band asal Inggris, Lawson. Mukanya lonjong, tulang dagunya tegas, hidung kecilnya yang mancung, dan tampak bekas-bekas jambang yang rapih tercukur.
Jadi, daritadi ngadep jendela cuma biar bisa punya alasan untuk bisa sekalian ngadep ke cowok di samping, Ra??
Begitu suara kurang aja di dalam otakku bicara, membuatku terkesiap. Kadang-kadang, suara-suara ini minta di-mute supaya hidupku sedikit lebih tenang. Gak bisa banget liat orang senang.
Udah, biasa aja kali ngeliatinnya. Suara lain nimbrung ketika aku mulai menyadari bahwa alisnya yang tipis tampak menonjol pada tulang matanya dan, hey, rambutnya ternyata agak ikal jika dilihat dari dekat seperti ini.
Sialan. Aku merutuk atas kekonyolan yang aku lakukan. Bagaimana kalau dia ternyata menyadari aku sedang melihat, atau lebih tepatnya, menelanjangi wajanhya sedari tadi? Bagaimana kalau kemudian dia membuka matanya dan bilang Betah banget ya ngeliatinnya, Mbak? Dan bagaimana kalau tiba-tiba dia ....
Astaga!
Sentakku dalam hati tiba-tiba ketika wajah yang semula --sempat-- aku pandangi itu sebelah pipinya kini sudah menempel di pundakku. Pundak kurus yang sering kali menimbulkan ejeken "Pundak kok tulang doang" dari adik laki-lakiku. Laki-laki Lawson ini bahkan sama sekali tidak merasa terganggu dengan benjolan tulang yang bisa saja membuat tulang pipinya nyeri berlama-lama menempel di sana.
Ya Tuhan, aku harus gimana??
Ciiiiit! Rem mendadak itu yang kemudian mendecit dan....
Duk!
"Aduh!" serunya, seruku. Kamu berseru bersama. Dahi kami berbenturan gara-gara rem mendadak tadi.
"Motor gak tau diri. Udah bosan idup kali ye." Si supir merutuk.
"Eh maaf, ya." Ujarnya, membuatku berpaling dari supir ke arahnya. Aku tersenyum, mengangguk. Dia pun ikut tersenyum.
"Maaf juga, tadi..." lanjutnya tak selesai sambil mengelus perlahan kepala sebelah kanannya. Aku tertawa kecil dan langsung paham maksudnya.
"Iya, gakpapa kok." Kalau bisa sih lebih lama, Mas. Batinku sesaat yang buru-buru aku lempar jauh-jauh.
"Pulang kerja?" tanyanya.
Aku mengangguk lagi. "Lembur sih, tepatnya."
"Oh, dimana?"
"Jalan Palmerah Selatan."
Dia spontan melihat nametag yang menggantung di saku kiri atas kemeja putihku. "Penerbit ya?"
"Yup!"
Aku melirik kamera DLSR yang sejak pertama kali tadi tampak menarik bagi mataku.
"Fotografer?" tanyaku balik.
"Yup!" jawabnya menyamai jawabanku. Aku tersenyum lagi. "Ini bukan sekedang pekerjaan buatku, tapi juga hobi." Jawabnya sembari menimang kemerannya. Ada beberapa jeda waktu yang membuat kami berdua terdiam. Andai saja ini adalah sebuah video yang tengah diputar, aku akan menggerakkan kursor untuk kemudian meng-klik beberapa detik ke depan agar kesenyapan ini tidak pernah terasa.
"Emm, Mas, boleh tukeran duduk ga? Jadi Masnya ke sini, biar saya yang duduk di dekat jendela." kataku memecah kesenyapan. Dengan wajahnya yang masih setengah mengantuk, dia tampak bingung mendengar permintaan --yang menurutku-- konyol. Tapi dengan sigap, dia pun segera berdiri, keluar dari deretan dua kursi, dan membiarkan aku duduk di tempatnya semula, di sebelah kirinya.
"Makasih, Mas," ujarku setelah kami berdua duduk kembali.
"Fajri." Aku menoleh, mendapati tangannya mengulur ke arahku. Aku menyambutnya.
"Oh, Aira." Dia mangangguk sekali.
"Mabuk?" ujaran itu membuatku menoleh padanya yang tengah memandang ke arah ku. Ya Tuhan, boleh kan bagian ini di-skip saja? Aku tidak sanggup merasakan sensasi geli di perutku saat menyadari matanya yang bulat tengah menatapku dengan teduh.
"Ya?" Aduh, kenapa 'ya' sih??! Aku merutuki diri. Memalukan. Saat-saat seperti ini yang tidak pernah bisa aku kendalikan, bahwa otakku dan telingaku seakan putus hubungan.
"Kamu mabuk sampai minta pindah duduk?" Ulangnya. Aku menggeleng cepat.
"Nggak. Cuma lebih suka aja duduk di sebelah sini." Jawabku singkat.
Keningnya berkerut, "Kenapa?"
"Suka aja. Aku bisa lihat berbagai gambar, potret kehidupan yang berganti seiring dengan berputarnya roda kendaraan. Semua orang punya cerita, tapi sejenak cerita itu bisa terpatri di satu bingkai tidak terlihat pada kaca jendela ini." Dia terdiam sejenak.
"Tapi menurutku, potret tadi harus diabadaikan, biar gak hilang. Kalau pelukis, dengan lukisannya, kalau fotografer, dengan kameranya. Seperti ini." Katanya sembari sedikit mengangkat kamera.
"Tapi menurut aku, kita tidak akan kehilangan itu semua kok, Jri." Fajri melebarkan matanya, menunggu aku menjelaskan lebih panjang.
"Ya maksud aku, setiap hari kita bisa lihat lagi potret yang serupa, bahkan mungkin lebih berwarna, dari yang kemarin, atau hari-hari sebelumnya. Potret itu lebih hidup dibandingkan foto-foto hasil jepretan kamera yang kemudian terbingkai kaku di atas meja atau dinding." Fajri justru tersenyum (lagi) mendengarnya.
"Kamu tahu, aku tidak pernah pasang bingkai di setiap foto yang aku punya?"
Gantian keningku yang berkerut dan bertanya, "Kenapa? Bukannya lebih rapih?"
Ia agak memiringkan tubuhnya ke kiri, membuat jarak di antara kami semakin dekat. Tuhan!
"Untuk berada pada satu foto saja, gambar itu sudah terbatas, Ra. Coba kalau aku lepas gitu aja, kemudianaku gantungkan, aku membiarkannya 'hidup' dengan caranya sendiri tanpa harus dibatasi lagi dengan bingkai yang keras di tepi-tepinya. Apalagi sampai dikasih kaca segala." Paparnya panjang.
"Kan bisa luntur gambarnya, Jri, kena panas?"
"Justru itu, Ra, bagusnya. Foto buatku lebih punya makna ketika ia sudah mulai menguning, menua. Itu menunjukkan bahwa foto juga seperti manusia, yang pantas lapuk karena usia. Sesuatu yang abadi cenderung membosankan bukan"
"Tapi tadi kamu bilang, foto itu untuk mengabadikan apa yang kita punya. Kalau lapuk berarti bukan abadi, kan?" Bantahku layaknya anak gadis pada ayahnya yang tengah mendongeng sebelum tidur.
"Itu yang aku bilang dengan 'hidup', Ra. Bukankah segala yang abadi, pasti ada batasnya untuk ukuran manusia? Semua masa yang kita bilang abadi tidak bisa disandingkan dengan 'abadi' yang Tuhan punya, kan?"
Aku terdiam, menikmati detik demi detik dimana aku sendiri bisa memasuki jalan pemikirannya. Luas dan dalam. Dan setengah jam sisa perjalanan sore menjelang malam itu, kemacetan yang pada awalnya hanya aku nikmati dengan pasrah, menjadi satu hal yang aku nikmati dengan warnya yang berbeda. Ini bukan lagi karena potret tak berbingkai yang biasa aku lihat melalui kaca jendela. Potret tak berbingkai di hadapanku ini lebih hidup. Lebih nyata, lebih dari sekadar harmoni di tengah kemacetan. Ini seperti udara, potret yang sanggup membuat aku lupa bahwa aku lelah dan butuh menyumpal kedua telinga dengan earphone agar terhindar dari segala macam berisik penumpang lain.
"Neng, tolong kaca jendelanya ditutup aja. Biar saya nyalakan ACnya?" Aku terkesiap, seakan terbangun dari dimensi dunia lain, lalu dengan segera mengangguk perlahan dan menuruti permintaan supir di sebelah kananku. Sebentar lagi mobil travel ini akan mengantarku pulang ke kampung halaman. Aku tersenyum sendiri ketika menyadari di samping kananku hanya ada supir dan tidak ada yang lain: seorang bapak paruh baya dengan kumis tebal yang sangat ramah.
"Sabuk pengamannya jangan lupa dipakai, ya, Neng. Polisi kalau liburan gini agak-agak senewen." Aku kembali mengangguk, kali ini sembari tersenyum, lalu menuruti lagi permintaannya dengan patuh.
Ah, Fajri, bekas-bekas keberadaan kamu masih menyisa.
"Kalau kamu mau, kapan-kapan aku ajak deh ke lokasi baisa aku hunting foto." ujarnya waktu itu. Dan aku dengan girangnya mengiyakan tanpa jeda. Pertemuan itu kemudian berakhir dengan dia yang terlebih dulu beranjak dari kursinya.
Aku tersenyum lagi saat aku pandangi satu potret yang sengaja aku bawa: setengah badannya yang aku ambil saat ia tengah memegangi kamera kecilnya, duduk di atas batu pantai, tempat yang dia sebut sebagai 'lokasi hunting foto' di angkutan umum waktu itu, satu tahun delapan bulan lalu.
"Biarkan begitu saja dan gantung di kamar kamu, ya." Dia menyarankan waktu itu.
Bersamaan dengan roda mobil yang mulai menggilas jalan tol, potret itu kemudian aku dekap dengan pandangan terus berkelana mencari potret lain yang bisa aku abadikan lewat kaca jendela mobil di sisi kiriku. Mungkin tidak dengan kamera kali ini, tapi cukup dengan mata yang aku punya. Bukan karena enggan mengeluarkan kamera kecil hadiah dari Fajri di dalam tasku. Aku hanya tidak ingin potret yang katanya 'abadi' itu pada akhirnya akan menguning, dan pudar, kemudian mati. Aku ingin potret yang aku punya itu tetap hidup dan tidak hilang di kemudian hari, seperti kamu, yang pergi dengan cara yang bahkan masih belum bisa aku terima, Fajri.
Itulah mengapa potret setengah badan Fajri tadi sengaja aku simpan dalam satu bingkai kayu berkaca. Aku tidak menuruti sarannya kali ini. Aku memang tidak membiarkan potret itu bebas seperti yang Fajri bilang, aku memang menjadikannya terkungkung pada satu batas keras yang tidak membiarkannya hidup dengan caranya sendiri. Aku hanya ingin potret itu tetap di sana, tidak pergi. Sudah cukup dia saja dan potret itu jangan: jangan menguning, memudar, dan akhirnya hilang tak berbekas. Aku ingin terus mendekapnya untuk bisa mematrinya di dalam otakku agar gambaran potret pernikahannya itu bisa pergi dari sana: dia dan perempuan pilhannya.
Sejenak kemudian saat senja sudah hilang dan digantikan malam, dekapan pada potret itu semakin erat.
Aku bersyukur lampu mobil ini padam, karena jika tidak sang supir akan bingung dengan lelehan air mata yang menderas dari mataku.
Jadi suami yang baik ya, Fajri. Semoga kalian bahagia.
I had a picture of you in my mind
never knew it could be so wrong
Why'd it take me so long just to find
the friend that was there all along
Lagu Picture of you milik Boyzone itu kembali terdengar di telingaku dari earphone yang hampir bosan menggantung di telingaku, mengantarkan aku pulang, dengan sejuta potret tak berbingkai yang akan terus aku kenang.
_end_
"Ya ampun Ra, ngapain harus merutuki kemacetan jika kamu bahkan masih saja menikmati uang atas keringat yang berjuta kali mentes di tanah Jakarta?" begitu kata Dina, salah satu desainer grafis di penerbitan tempat aku bekerja sebagai editor.
Aku tertawa mendengarnya dan dengan cepat membenarkannya tanpa jeda setelah kedua bibirnya mengatup. Bahkan jika harus memutuskan untuk pergi dari Jakarta, aku tidak tahu berapa kerutan lagi yang akan bertambah pada wajahku saking lamanya keputusan itu akan muncul.
Kegemaranku pada perjalanan dengan kendaraan umum bukan dari bagaimana aku bisa bebas dari antrean panjang pembelian BBM di pom, bagaimana aku bisa bebas dari pencarian tempat parkir yang selalu padat, atau bagaimana bingungnya aku dengan jadwal servis kendaraan pribadi yang bisa saja mengulur waktu kejar deadline yang super ketat untuk pengerjaan beribu naskah di meja yang tiap harinya pasti bertambah. Kegemaranku pada perjalanan murni karena aku menikmatinya; bahwa aku bisa menikmati dunia lain di antara hiruk pikuk jalanan lewat kaca bening di sisi kanan atau kiri tempat aku menunggu untuk diantarkan pergi dan pulang. Itu mengapa aku selalu memilih posisi tepat di tepi jendela: entah duduk, entah berdiri dalam desakan penumpang lain. Dari sana, aku bisa melihat segala hal, bermacam hal. Asap yang mengepul, debu yang sanggup menimbulkan berpuluh jerawat dan masalah kulit lainnya, pincingan orang-orang berseragam dan bersepatu yang tidak tahan dengan deru motor para ABG labil yang sengaja dikeraskan, derap kaki kecil dari anak-anak penjaja koran harian, usapan peluh pada leher dan dahi para tukang parkir, semuanya. Potret tak berbingkai, begitu ayahku menyebutnya. Kegemaran itu aku peroleh dari ayah. Ayah yang mengajarkannya hingga menjadi satu warisan tak terlihat yang beliau tinggalkan sejak 2 tahun beliau pergi ke haribaan Tuhan.
Dari pemandangan itu, aku bisa melihat betapa hidup yang lama dari tiap orang bisa dirangkum sejenak dalam satu bingkai besar kaca kendaraan: entah kaca mobil travel dalam perjalanan jauh dari ibu kota ke kampung halaman, atau sekadar perjalanan dari rumah ke kantor yang dilalui dengan taksi, busway, atau angkutan kota. Betapa tiap kerutan pada kening kakek penjual kerak telur yang aku lihat bisa menceritakan hal yang berbeda jika dilihat pada bingkai yang berbeda: pagi, siang, sore, malam. Betapa asap dan debu jalanan bisa menjadi satu harmoni yang menunjukkan bahwa kota Jakarta ini masih bernafas seperti biasa dan menawarkan banyak pilihan warna yang bisa saja lebih indah dari permuakaannya.
Dan sore itu, saat aku menemukannya di sana, di satu bangku angkutan kota: duduk di tepi jendela, tengah tertidur dengan memegangi tas hitamnya. Sejauh mata memandang, ada kamera DLSR menggantung di leher yang tampak berkeringat. Rambut cepaknya yang agak berantakan dan kausnya yang sudah agak kusut memunculkan dugaan bahwa ia sudah berada di luar seharian. Deru mesin mobil sama sekali tidak mengusiknya. Aku mengitarkan pendangan ke kursi lain, tapi hanya ada satu kursi itu yang tersisa dan bagian tepi jendela sudah didudukinya. Tanpa lagi banyak berfikir, aku putuskan untuk duduk di kursi seadanya. Toh aku masih bisa tetap melihat keluar.
Sore yang mulai berubah menjadi malam ini menyajikan banyaknya wajah-wajah lelah sepulang kerja, lampu-lampu toko yang mulai berpendar dinyalakan, juga sebagian badan jalanan yang mulai ramai oleh pasangan muda berkendaraa berdua. Ah, malam minggu dan aku masih saja sibuk dengan segala macam tetek bengek pernaskahan yang belum juga berkurang jumlahnya sejak pertama kali aku bekerja. Dan sekarang, di saat pasangan-pasangan tadi sibuk berkencan, aku masih sibuk berkendara di angkutan umum yang masih berjalan malas menuju tujuan rumah masing-masing penumpang. Yang menjadikannya agak berbeda adalah bahwa sekarang di sampingku tengah duduk laki-laki yang, jika diperhatikan, tidak kalah tampan dengan vokalis band asal Inggris, Lawson. Mukanya lonjong, tulang dagunya tegas, hidung kecilnya yang mancung, dan tampak bekas-bekas jambang yang rapih tercukur.
Jadi, daritadi ngadep jendela cuma biar bisa punya alasan untuk bisa sekalian ngadep ke cowok di samping, Ra??
Begitu suara kurang aja di dalam otakku bicara, membuatku terkesiap. Kadang-kadang, suara-suara ini minta di-mute supaya hidupku sedikit lebih tenang. Gak bisa banget liat orang senang.
Udah, biasa aja kali ngeliatinnya. Suara lain nimbrung ketika aku mulai menyadari bahwa alisnya yang tipis tampak menonjol pada tulang matanya dan, hey, rambutnya ternyata agak ikal jika dilihat dari dekat seperti ini.
Sialan. Aku merutuk atas kekonyolan yang aku lakukan. Bagaimana kalau dia ternyata menyadari aku sedang melihat, atau lebih tepatnya, menelanjangi wajanhya sedari tadi? Bagaimana kalau kemudian dia membuka matanya dan bilang Betah banget ya ngeliatinnya, Mbak? Dan bagaimana kalau tiba-tiba dia ....
Astaga!
Sentakku dalam hati tiba-tiba ketika wajah yang semula --sempat-- aku pandangi itu sebelah pipinya kini sudah menempel di pundakku. Pundak kurus yang sering kali menimbulkan ejeken "Pundak kok tulang doang" dari adik laki-lakiku. Laki-laki Lawson ini bahkan sama sekali tidak merasa terganggu dengan benjolan tulang yang bisa saja membuat tulang pipinya nyeri berlama-lama menempel di sana.
Ya Tuhan, aku harus gimana??
Ciiiiit! Rem mendadak itu yang kemudian mendecit dan....
Duk!
"Aduh!" serunya, seruku. Kamu berseru bersama. Dahi kami berbenturan gara-gara rem mendadak tadi.
"Motor gak tau diri. Udah bosan idup kali ye." Si supir merutuk.
"Eh maaf, ya." Ujarnya, membuatku berpaling dari supir ke arahnya. Aku tersenyum, mengangguk. Dia pun ikut tersenyum.
"Maaf juga, tadi..." lanjutnya tak selesai sambil mengelus perlahan kepala sebelah kanannya. Aku tertawa kecil dan langsung paham maksudnya.
"Iya, gakpapa kok." Kalau bisa sih lebih lama, Mas. Batinku sesaat yang buru-buru aku lempar jauh-jauh.
"Pulang kerja?" tanyanya.
Aku mengangguk lagi. "Lembur sih, tepatnya."
"Oh, dimana?"
"Jalan Palmerah Selatan."
Dia spontan melihat nametag yang menggantung di saku kiri atas kemeja putihku. "Penerbit ya?"
"Yup!"
Aku melirik kamera DLSR yang sejak pertama kali tadi tampak menarik bagi mataku.
"Fotografer?" tanyaku balik.
"Yup!" jawabnya menyamai jawabanku. Aku tersenyum lagi. "Ini bukan sekedang pekerjaan buatku, tapi juga hobi." Jawabnya sembari menimang kemerannya. Ada beberapa jeda waktu yang membuat kami berdua terdiam. Andai saja ini adalah sebuah video yang tengah diputar, aku akan menggerakkan kursor untuk kemudian meng-klik beberapa detik ke depan agar kesenyapan ini tidak pernah terasa.
"Emm, Mas, boleh tukeran duduk ga? Jadi Masnya ke sini, biar saya yang duduk di dekat jendela." kataku memecah kesenyapan. Dengan wajahnya yang masih setengah mengantuk, dia tampak bingung mendengar permintaan --yang menurutku-- konyol. Tapi dengan sigap, dia pun segera berdiri, keluar dari deretan dua kursi, dan membiarkan aku duduk di tempatnya semula, di sebelah kirinya.
"Makasih, Mas," ujarku setelah kami berdua duduk kembali.
"Fajri." Aku menoleh, mendapati tangannya mengulur ke arahku. Aku menyambutnya.
"Oh, Aira." Dia mangangguk sekali.
"Mabuk?" ujaran itu membuatku menoleh padanya yang tengah memandang ke arah ku. Ya Tuhan, boleh kan bagian ini di-skip saja? Aku tidak sanggup merasakan sensasi geli di perutku saat menyadari matanya yang bulat tengah menatapku dengan teduh.
"Ya?" Aduh, kenapa 'ya' sih??! Aku merutuki diri. Memalukan. Saat-saat seperti ini yang tidak pernah bisa aku kendalikan, bahwa otakku dan telingaku seakan putus hubungan.
"Kamu mabuk sampai minta pindah duduk?" Ulangnya. Aku menggeleng cepat.
"Nggak. Cuma lebih suka aja duduk di sebelah sini." Jawabku singkat.
Keningnya berkerut, "Kenapa?"
"Suka aja. Aku bisa lihat berbagai gambar, potret kehidupan yang berganti seiring dengan berputarnya roda kendaraan. Semua orang punya cerita, tapi sejenak cerita itu bisa terpatri di satu bingkai tidak terlihat pada kaca jendela ini." Dia terdiam sejenak.
"Tapi menurutku, potret tadi harus diabadaikan, biar gak hilang. Kalau pelukis, dengan lukisannya, kalau fotografer, dengan kameranya. Seperti ini." Katanya sembari sedikit mengangkat kamera.
"Tapi menurut aku, kita tidak akan kehilangan itu semua kok, Jri." Fajri melebarkan matanya, menunggu aku menjelaskan lebih panjang.
"Ya maksud aku, setiap hari kita bisa lihat lagi potret yang serupa, bahkan mungkin lebih berwarna, dari yang kemarin, atau hari-hari sebelumnya. Potret itu lebih hidup dibandingkan foto-foto hasil jepretan kamera yang kemudian terbingkai kaku di atas meja atau dinding." Fajri justru tersenyum (lagi) mendengarnya.
"Kamu tahu, aku tidak pernah pasang bingkai di setiap foto yang aku punya?"
Gantian keningku yang berkerut dan bertanya, "Kenapa? Bukannya lebih rapih?"
Ia agak memiringkan tubuhnya ke kiri, membuat jarak di antara kami semakin dekat. Tuhan!
"Untuk berada pada satu foto saja, gambar itu sudah terbatas, Ra. Coba kalau aku lepas gitu aja, kemudianaku gantungkan, aku membiarkannya 'hidup' dengan caranya sendiri tanpa harus dibatasi lagi dengan bingkai yang keras di tepi-tepinya. Apalagi sampai dikasih kaca segala." Paparnya panjang.
"Kan bisa luntur gambarnya, Jri, kena panas?"
"Justru itu, Ra, bagusnya. Foto buatku lebih punya makna ketika ia sudah mulai menguning, menua. Itu menunjukkan bahwa foto juga seperti manusia, yang pantas lapuk karena usia. Sesuatu yang abadi cenderung membosankan bukan"
"Tapi tadi kamu bilang, foto itu untuk mengabadikan apa yang kita punya. Kalau lapuk berarti bukan abadi, kan?" Bantahku layaknya anak gadis pada ayahnya yang tengah mendongeng sebelum tidur.
"Itu yang aku bilang dengan 'hidup', Ra. Bukankah segala yang abadi, pasti ada batasnya untuk ukuran manusia? Semua masa yang kita bilang abadi tidak bisa disandingkan dengan 'abadi' yang Tuhan punya, kan?"
Aku terdiam, menikmati detik demi detik dimana aku sendiri bisa memasuki jalan pemikirannya. Luas dan dalam. Dan setengah jam sisa perjalanan sore menjelang malam itu, kemacetan yang pada awalnya hanya aku nikmati dengan pasrah, menjadi satu hal yang aku nikmati dengan warnya yang berbeda. Ini bukan lagi karena potret tak berbingkai yang biasa aku lihat melalui kaca jendela. Potret tak berbingkai di hadapanku ini lebih hidup. Lebih nyata, lebih dari sekadar harmoni di tengah kemacetan. Ini seperti udara, potret yang sanggup membuat aku lupa bahwa aku lelah dan butuh menyumpal kedua telinga dengan earphone agar terhindar dari segala macam berisik penumpang lain.
"Neng, tolong kaca jendelanya ditutup aja. Biar saya nyalakan ACnya?" Aku terkesiap, seakan terbangun dari dimensi dunia lain, lalu dengan segera mengangguk perlahan dan menuruti permintaan supir di sebelah kananku. Sebentar lagi mobil travel ini akan mengantarku pulang ke kampung halaman. Aku tersenyum sendiri ketika menyadari di samping kananku hanya ada supir dan tidak ada yang lain: seorang bapak paruh baya dengan kumis tebal yang sangat ramah.
"Sabuk pengamannya jangan lupa dipakai, ya, Neng. Polisi kalau liburan gini agak-agak senewen." Aku kembali mengangguk, kali ini sembari tersenyum, lalu menuruti lagi permintaannya dengan patuh.
Ah, Fajri, bekas-bekas keberadaan kamu masih menyisa.
"Kalau kamu mau, kapan-kapan aku ajak deh ke lokasi baisa aku hunting foto." ujarnya waktu itu. Dan aku dengan girangnya mengiyakan tanpa jeda. Pertemuan itu kemudian berakhir dengan dia yang terlebih dulu beranjak dari kursinya.
Aku tersenyum lagi saat aku pandangi satu potret yang sengaja aku bawa: setengah badannya yang aku ambil saat ia tengah memegangi kamera kecilnya, duduk di atas batu pantai, tempat yang dia sebut sebagai 'lokasi hunting foto' di angkutan umum waktu itu, satu tahun delapan bulan lalu.
"Biarkan begitu saja dan gantung di kamar kamu, ya." Dia menyarankan waktu itu.
Bersamaan dengan roda mobil yang mulai menggilas jalan tol, potret itu kemudian aku dekap dengan pandangan terus berkelana mencari potret lain yang bisa aku abadikan lewat kaca jendela mobil di sisi kiriku. Mungkin tidak dengan kamera kali ini, tapi cukup dengan mata yang aku punya. Bukan karena enggan mengeluarkan kamera kecil hadiah dari Fajri di dalam tasku. Aku hanya tidak ingin potret yang katanya 'abadi' itu pada akhirnya akan menguning, dan pudar, kemudian mati. Aku ingin potret yang aku punya itu tetap hidup dan tidak hilang di kemudian hari, seperti kamu, yang pergi dengan cara yang bahkan masih belum bisa aku terima, Fajri.
Itulah mengapa potret setengah badan Fajri tadi sengaja aku simpan dalam satu bingkai kayu berkaca. Aku tidak menuruti sarannya kali ini. Aku memang tidak membiarkan potret itu bebas seperti yang Fajri bilang, aku memang menjadikannya terkungkung pada satu batas keras yang tidak membiarkannya hidup dengan caranya sendiri. Aku hanya ingin potret itu tetap di sana, tidak pergi. Sudah cukup dia saja dan potret itu jangan: jangan menguning, memudar, dan akhirnya hilang tak berbekas. Aku ingin terus mendekapnya untuk bisa mematrinya di dalam otakku agar gambaran potret pernikahannya itu bisa pergi dari sana: dia dan perempuan pilhannya.
Sejenak kemudian saat senja sudah hilang dan digantikan malam, dekapan pada potret itu semakin erat.
Aku bersyukur lampu mobil ini padam, karena jika tidak sang supir akan bingung dengan lelehan air mata yang menderas dari mataku.
Jadi suami yang baik ya, Fajri. Semoga kalian bahagia.
I had a picture of you in my mind
never knew it could be so wrong
Why'd it take me so long just to find
the friend that was there all along
Lagu Picture of you milik Boyzone itu kembali terdengar di telingaku dari earphone yang hampir bosan menggantung di telingaku, mengantarkan aku pulang, dengan sejuta potret tak berbingkai yang akan terus aku kenang.
_end_
Langganan:
Postingan (Atom)
