Senja masih duduk di bangku yang sama, bangku merah sebuah taman yang masih kering karena hujan belum juga datang.
Ponsel
di tangannya baru saja mati, menampilkan satu nomor yang sedari tadi
dihubunginya dan hanya meninggalkan pesan suara seorang operator yang
menyarankan untuk mencoba lagi dan lagi. Ketika sempat menoleh ke sisi
kanannya, payung itu masih tergantung di sana, tergulung rapih sejak
sejam yang lalu. Setidaknya, ketika hujan tetiba datang, ia sudah siap untuk berdiam di sana tanpa harus khawatir akan basah.
"Aku merindukannya seperti bumi merindukan hujan," bisiknya suatu hari.
Sahabatnya
yang saat itu duduk di sisinya tersenyum, memegang erat jemarinya,
menguatkannya, "Suatu hari bumi akan paham mengapa terkadang hujan
memilih untuk bersembunyi saja di balik awan. Begitu juga dengan mu, kau
akan paham mengapa ia memilih untuk berdiam diri di balik mejanya dan
membiarkan ponselnya berdering tanpa terjawab." Bisiknya kemudian.
karena hidup itu indah, maka keindahan itu akan lebih indah jika dirangkaikan dengan keindahan lain dari dunia lain: dunia di atas kertas. selamat membaca :)
Kamis, 02 Agustus 2012
Tentang Hujan
Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak ’kan berubah
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak ’kan berubah
Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air
Aku bisa tersenyumTersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku Tepuk tangan itu terdengar lagi saat Pia menyudahi nyanyiannya. "Oya, saya belum bilang lagu ini untuk siapa." Dadaku berdegup kencang. Bukan karena GR atau sejenisnya. Hanya saja, aku belum siap benar menerima jika memang orang itu yang memesannya. "Mbak April." Degupan itu sempat terhenti ketika mendengar namaku disebut. "Lagu ini untuk Mbak April." Lampu itu menyorotiku seketika, menyisakan silau bukan main di mata. Aku hanya membungkuk sekadarnya ketika semua mata memandang. Sebelum akhirnya aku memutuskan pergi dari sana, ponsel dalam sakuku bergetar, satu pesan baru masuk. "Selamat ulang tahun, April." Satu kalimat itu yang muncul, menusuk mataku begitu dalam, melebihi kesialaun lampu sorot tadi, membuatnya berair: menangis. Ketika pada akhirnya sabuk pengaman itu terpasang sempurna, satu lagu yang berada pada daftar putar teratas terdengar, lagu yang sama, Hujan. Dan roda mobil pun mulai berjalan meninggalkan tempatnya semula, mengantarku pulang.
Langganan:
Postingan (Atom)
