Selasa, 25 Agustus 2015

Bahasa dan Usia

Usia menjadi faktor sosial lain yang menunjukkan perbedaan bahasa dalam masyarakat. Contoh paling mudah adalah perbedaan bahasa antara balita dan anak-anak. Balita cenderung mengucapkan kata atau bahasa yang sederhana, terdiri atas kalimat pendek dan tidak resmi bahkan tidak baku. Hal ini tentunya berbeda dengan remaja yang sudah melalui beberapa pembelajaran bahasa dan pergaulan sosial yang memungkinkan kemampuan berbahasanya lebih tinggi dibandingkan balita tadi. Kemampuan tersebut tidak hanya mengenai kosakata, tetapi juga diksi yang digunakan, termasuk juga kekompleksan kelaimat yang diujarkan.
Selain itu, jika sedikit meninjau ke usia yang lebih muda lagi, dapat diketahui bahwa balita cenderung mengucapkan bunyi-bunyi bilaial dan nasal, seperti [m], [b], [n]. Bunyi-bunyi ini tidak terjadi begitu saja atau karena si balita memilihnya. Pemroduksian bunyi tersebut disebabkan oleh alat artikulasi balita belum selengkap remaja atau bahkan dewasa, misalnya jumlah gigi yang sudah tumbuh dan panjang lidah.
Selain itu, usia pun menunjukkan pengaruhnya atau keterkaitannya dengan bahasa pada penggunaan bahasa slang. Remaja merupakan kelompok usia yang cenderung lebih sering menggunakan bahasa slang. Dalam hal ini, bahasa slang merupakan salah satu variasi bahasa yang sering kali berubah dan menjadi tanda atau identitas suatu kelompok tertentu. kebanyakan penggunaan bahasa slang ini merupakan bentuk keinginan untuk diakui dalam masyarakat yang tentunya berbeda dengan kelompok masyarakat lain. Dengan sikap semacam ini, remaja sering kali tidak hanya menggunakan, tetapi justru juga menciptakan bahasa slang tersebut sebagai penandanya yang berbeda dari remaja lain.
Selain itu, stereotip bahwa bahasa slang hanya untuk remaja menjadi satu sebab ditinggalkannya bahasa tersebut oleh para dewasa. Keinginan diakui sebagai seseorang yang lebih dewasa dapat menjadi satu faktor paling mudah yang mempengaruhi.
Lain lagi dengan perbedaan usian antara remaja dengan lansia. Tentunya kedua rentang usia ini menunjukkan bahasa yang berbeda. Faktor adanya alat artikulasi yang tidak lagi sempurna menjadi satu faktor penyebab perbedaan. Misalnya, pengucapan bunyi [s] dan [r] antara kedua rentang usia tersebut pasti akan berbeda jika dikaitkan dengan kondisi gigi seri penuturnya. Lansia yang gigi serinya telah tanggal tidak akan menghasilkan kedua bunyi tadi sejelas remaja yang gigi serinya masih dalam keadaan sempurna dan sehat.
Dari sejumlah contoh kasus tesebut, dapat diketahui bahwa antara bahasa dan usia terjalin kaitan secara sosial, bahwa pada usia yang berbeda, bahasa yang diproduksi juga berbeda. Demikian pula sebaliknya bahwa bahasa yang digunakan, secara langsung ataupun tidak, seseorang akan dapat menebak rentang usia normal yang dimiliki seseorang tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar