Sabtu, 14 Desember 2013

jangan main-main dengan cinta



"jangan main-main dengan cinta, kalau ledakannya salah arah, kamu akan terluka." katanya tanpa berpaling dari gitar di tangannya. dia Haris, sahabatku sejak kami bahkan belum bisa membedakan bunyi l dan r. kami tumbuh bersama layaknya saudara. ohya, ujaran tadi ia lontarkan saat aku dengan semangatnya menceritakan lelaki bernama Bian, lelaki yang aku kenal dari sebuah komunitas pembaca novel asing. Nama John Green, Nicholas Spark, juga Dan Brown kerap menjadi jembatan percakapan yang terjadi. dan malam itu, Bian baru saja mengajakku ke tempatnya biasa menghabiskan waktu bersama karib-karibnya.
"Ah, kau tidak tahu saja bagaimana caranya ia mempelakukanku di depan teman-temannya tadi.” seperti biasa, Haris hanya menoleh sejenak dan tidak memberikan komentar lagi, kebiasaan yang sudah aku hafal sejak dulu: tidak banyak bicara.
dan malam itu, satu minggu kemudian, Haris yang memang tidak banyak bicara, hanya diam mendapatiku menangis di ambang pintu kamarnya: Bian berbohong dan aku terluka. ledakan cintanya membuatku tersakiti. Haris yang tengah sibuk dengan gitarnya tampak terkejut melihatku. yang kemudian ia lakukan hanya melepaskan gitarnya, mendatangiku di pintu kamarnya, dan meraih tubuhku yang sudah lelah menangis ke dalam pelukannya.
“Sssh.” hanya desis itu yang aku dengar setelahnya. dan menit selanjutnya, luka terbakar karena ledakan cinta Bian berangsur sembuh.

Senin, 09 Desember 2013

Terminal

sampai kapanpun, terminal akan tetap menjadi tempat singgah, hanya tempat singgah. yang kemudian datang hanya bersedia berbagi oksigen dengan sesama di sana dalam jangka waktu yang dapat dihitung dengan jari: 1, 2, 3 jam. selebihnya, mereka akan melakukannya di tempat lain, di tujuan yang lebih pasti dari sekadar bertatap muka sejenak untuk saing menyapa 'mau pulang kemana?' mereka tidak berniat tinggal, tapi hanya berniat mengukir kenangan sepenggal.
kalau pun memang ada yang sampai tertidur di sana, lelap yang terasa akan dikibas sekuat tenaga saat kemudian terjaga, agar segera pergi. kalau pun sampai akhirnya aksi berbagi okesigen tadi menjadi lebih lama, lebih dari 3 jam, bahkan mungkin sehari semalam, gerutu itu saling bersahut karena jengah tidak betah.
'kapan kita berangkat??' dan tanya itulah yang terselip di antaranya, paling tidak.

begitulah aku bagimu: tempatmu pulang sementara untuk kembali pergi. kamu adalah pejalan dan aku adalah terminal, tempatmu melepaskan lelah, sejenak, untuk kemudian berlalu tanpa berpikir lagi untuk menyempatkan bilang 'aku akan kembali.' hitungan jari 1, 2, 3 jam pun berlaku untuk ini karena kamu akan berkali melihat arloji pemberianku itu sampai kemudian kalimat 'aku pamit pulang' terucap dengan sangat rapih dari bibirmu. kamu jengah, tidak betah berada di sekitarku.
maka, ketika kemudian pada suatu malam nanti kamu datang mengetuk pintu depan rumahku, aku harus siap melepasmu lagi, harus siap membiarkan gelas berisi minuman favoritmu itu kembali tergantung di antara perkakas becah belah yang lain. juga, sampai jika malam berikutnya aku hanya menemukan sisa wangi parfum maskulinmu di antara sofa yang cekung karena kau duduki, atau bahkan aku menemukan kesepian jemu tanpa adanya suara pencet bel dari tanganmu, aku harus sudah bisa memastikan bahwa saat itulah kamu mengucapkan selamat tinggal.

Senin, 02 Desember 2013

Renungan Hujan

Ini bukan tentang bagaimana menanggapi rintik gerimis yang menderas yang kemudian membasahi kemeja atau pun sepatumu. Ini hanya tentang bagaimana memaknai hujan sebagai awal dari langkah yang kau pilih, memaknai tiap helai kucuran yang jatuh hingga beriak itu bekeliling di antara jemari kakimu. Mungkin kau memang pernah terjatuh, hingga lututmu berdarah karenanya. Atau mungkin, kau tengah menderita karena cinta, hingga seutas tali itu menjadi semacam surga terakhir yang akan kau datangi.

Kali ini, biar saja hujan itu datang menyapamu, membasuh mukamu, membasuh hatimu; untuk kemudian menghilangkan peluh juga keluh di ujung harimu. biarkan ia mengalir semau derasnya, semau rintiknya. Kemudian kau akan paham, betapa ia hadir membawa kehidupan. Mengembalikan ranting pada batang yang ditinggalkannya. menumbuhkan rerumputan yang seakan tak ingin lagi hidup di detik selanjutnya, membangunkan lagi asa yang mungkin mati karena kering yang mendera.

Biarkan hujan yang menyapanya, biarkan hujan yang menyingkirkan air matamu dan menggantinya dengan senyum secerah mentari setelah ia reda. Pada akhirnya, setiap doa toh terkabul atau tergantikan dengan yang lebih baik. Tuhan selalu ada untukmu, bukan? Satu hal yang perlu kau tahu, kau tidak sendiri. Bahkan tiap orang di luar sana mungkin memiliki lara yang lebih mencekik dibanding yang kau punya.

Untuk kali ini, diam sajalah di balik jendela besar dengan titiktitik air itu. Nikmati sejenak aroma tanah yang kemudian kau temui. Lalu bernafaslah layaknya kau manusia satu-satunya di dunia yang diberi kebebasan menghirup udara sebanyak yang kau mau. Tersenyumlah layaknya kau manusia paling bahagia di bumi tanpa perih dan luka. 

Ketika kemudian hujan itu melambat menjadi rintik gerimis kembali untuk kemudian pergi, akan kau lihat sisa-sisa air di depan beranda rumahmu. Rasakan udara yang kau temukan: menyejukkan, menenangkan. tidak ada lagi debu, tidak ada lagi kelabu.

Rabu, 27 November 2013

KIRANA

Mereka berbeda,tidak hanya karena keduanya terdiri dari laki-laki dan perempuan. mereka juga berbeda dari segi sifat, kebiasaan, dan kesukaan. Kirana, seorang gadis yang sangat menyukai keramaian, menyukai derasnya hujan, menyukai apa saja yang berbau kesusastraan. Lain lagi dengan Damar. Ia adalah lelaki yang lebih menyukai sepi, lebih menyukai panasnya matahari, lebih menyukai segalanya yang berbasis seni.
Jika Kirana memilih keluar rumah saat kembang api menyala memenuhi langit, maka Damar memilih menutup telinganya dengan lagu jazz kegemarannya dan menyelesaikan sehelai kanvas di hadapannya. Jika kemudian Damar memilih keluar rumah saat ayam bahkan memilih mengerami telur-telurnya karena panas yang terik, maka Kirana memilih diam di balik jendela dan menunggu rintik deras itu tiba. Sudah ku bilang mereka berbeda. Tapi, tanpa mereka sadari, ada satu hal yang mereka sama-sama lakukan. Hal yang sama-sama mereka jalani setiap hari kerja yang mereka lalui, yaitu berangkat dan pulang dengan melewati jalan yang sama, depan taman kota.

Kirana adalah seorang editor naskah fiksi sebuah penerbit di ibu kota. Setiap harinya, ia akan berangkat pukul delapan pagi dan pulang pukul 5 sore. Jika memang ada naskah fiksi yang harus dikerjakannya esktra, ia akan mengulur waktu pulangnya hingga pukul tujuh. Tidak lebih karena itu adalah kontraknya pada dirinya sendiri.
Adapun Damar adalah seorang pelukis bayaran sebuah galeri lukis dan seorang gitaris di sebuah kafe. Setiap hari, ia akan bangun pukul lima pagi untuk kemudian melukis hingga pukul 4 sore. Barulah setelah ia mandi sore, ia akan bersiap kembali untuk melanjutkan hobi berduitnya yang lain: bermain gitar di kafe dan berangkat pukul setengah tujuh malam. Jika memang ada lukisannya yang selesai dan siap diantar ke galeri, ia akan berangkat lebih awal: pukul setengah 6 menjelang magrib.
Dengan kondisi normal, tentu keduanya memiliki dimensi waktu yang berbeda: Kirana keluar rumah ketika Damar memilih berdiam di kamarnya dengan belepotan cat di tangannya, sedangkan Damar keluar rumah ketika Kirana bahkan sudah tidak lagi ingin mengingat pekerjannya. Jarak pertemuan mereka yang berselang 90 menit tidak mengijinkan keduanya bertemu, meski jalan yang dilewati selalu sama, selalu seirama.

***

Hari itu, hari Kamis, tepat tanggal 1 Agustu 2012. Hampir semua orang sibuk karena memang giat bekerja, atau paling tidak pura-pura sibuk karena hari itu honor mereka cair tanpa lagi ditunda. Tentu saja, alasan kedua itu dilakukan untuk mencari muka di depan bos utama. Tapi, jangan berharap kamu akan menemukan alasan kedua tadi pada dua makhluk belum saling kenal ini: Kirana dan Damar. Keduanya bekerja dengan masing-masing hati dan perasaannya. Keduanya bekerja karena memang mereka suka. Keduanya bekerja karena baginya itu pangilan jiwa. Kirana sibuk di depan meja kantornya dengan naskah suntingan, sedangkan Damar sibuk di depan meja kamarnya dengan kanvas dan kertas not lagunya.

Sebagai seorang editor, waktu sibuk bagi Kirana adalah ketika ia harus pulang di atas pukul 5 sore, melembur semua suntingan karena esok pagi mejanya akan kembali penuh dengan tumpukan kertas naskah baru. Lain lagi dengan Damar. Sebagai seorang seniman dan gitaris kafe ibu kota, waktu sibuknya adalah ketika ia harus berangkat sebelum pukul 7 malam, mendatangi galeri langganan penyuka lukisannya karena tepat pukul 7 kemudian dia sudah harus duduk di depan para penikmat petikan jemarinya, bermain gitar.

Tidak banyak yang tahu bagaimana Tuhan mempertemukan siapa dengan siapa dan memisahkan siapa dari siapa. Yang pasti hari itu, hari Kamis, tanggal 1 Agustus 2012, tepat pukul enam sore, dua makhluk yang sama-sama benar-benar sibuk itu bertemu. Dua makhluk yang memiliki sifat, kebiasaan, dan kesukaan juga memiliki dimensi waktu yang berbeda. Mereka bertemu, tanpa disengaja dengan cara yang tidak diduga. Jalan di depan taman kota itulah yang mempertemukan mereka, mempertemukan keduanya. Sepele memang karena bukan hal besar yang membuat mata mereka saling melihat ke masing-masing arah: Kirana melihat Damar, Damar melihat Kirana. Tidak di mata, tapi di kaki, untuk kemudian merambat beralih ke punggung.
Pandangan pada kaki itu terjadi ketika –entah bagaimana—keduanya berada pada garis langkah yang sama. Sama-sama saling menghadap, sama-sama hendak melangkah pada waktu yang tidak dapat dipastikan gerakannya. Tidak ada yang berani memandang wajah karena justru masing-masing mata memandang lurus ke bawah, ke sepatu berhak tinggi milik Kirana dan sepatu Capsule Wear hitam milik Damar. Pergulatan antar mata dan sepatu yang singkat ini di akhiri dengan langkah pelan Damar ke samping kanan, mengalah dengan membiarkan Kirana berjalan terlebih dulu. Ada tarikan tipis di masing-masing ujung bibir mereka ketika akhirnya garis langkah mereka kembali berbeda, membuat cetakan suara sepatu yang lebih berirama. Sesaat setelah saling menjauh, Damar justru berhenti, menoleh ke belakang beberapa saat untuk melihat punggung yang semakin suram ditelan kelokan jalan. Lalu, ketika angka 18.48 di arlojinya seakan meneriakinya untuk segera beranjak dari sana, ia pun mulai bergerak, membiarkan sepatunya kembali menciptakan bunyi berirama dengan bunyi tak terdengar di balik kelokan tadi.

Tanpa Damar tahu, sepeninggalnya dari tempat berdirinya tadi, Kirana justru kembali keluar dari kelokan yang menelannya: melongok sebentar apa yang baru saja ditinggalkannya. Lalu tanpa disadarinya, tarikan tipis yang semula menghiasi ujung bibirnya kembali merekah, lebih lebar, bersamaan dengan hilangnya punggung bersepatu Capsule Wear di pintu kafe sebelah utara taman kota.

***

Seminggu setelahnya perbedaan yang semula memisahkan mereka lambat laun menjadi semacam alur yang justru mempertemukan keduanya. Pulang terlambat bagi Kirana dan berangkat terlalu awal bagi Damar menjadi hal yang menyenangkan, mendebarkan. Meski sesekali keduanya hanya sempat saling berkedip tanpa manja, keduanya tahu, keduanya menyukainya. Tentu kali ini, pandangan keduanya tidak sebatas pada sepatu dan punggung, tetapi juga wajah, muka, raut, mimik, ekspresi.
Hingga pada pertemuan ke-8, Damar tidak lagi berhenti di kakinya saat Kirana sudah ditelan kelokan di depannya. Kali ini, ia berhenti saat Kirana berada tepat di belakangnya.
“Bisa duduk-duduk sebentar?” tanyanya sembari berbalik, membuat Kirana melakukan gerakan yang sama. Tidak ada yang Kirana lakukan selain mengangguk perlahan, entah karena malu atau sebagai ganti ungkapannya bahwa itu sudah menunggu saat-saat demikian cukup lama. Sore itu keduanya resmi berkenalan, mengucap masing-masing nama lewat jabatan tangan yang mendadak saling menghangatkan. Tentu tidak sebatas pada genggaman, tetapi juga pada masing-masing hati yang bersangkutan.

***

Ada yang berkata bahwa cinta timbul karena biasa, ada juga yang percaya bahwa cinta bisa langsung datang di saat pertama muka bertemu muka. Untuk kedua makhluk berbeda itu, dua hal tadi menjadi alasan adanya cinta di antara mereka: cinta pada pandang pertama dan pada detik selanjutnya karena terbiasa. Manis ya? Bahkan aku pun ikut terhanyut ketika kemudian melihat bagaimana Damar tersenyum tiap kali Kirana dengan ceria menggambarkan persaannya tentang hari yang baru saja ia lalui. Juga ketika melihat bagaimana Damar mengacak rambut Kirana perlahan karena gemas dengan tingkah kekanakan yang terkadang sulit disembunyikan dari usia yang mulai beranjak 23 tahun pada bulan berikutnya.
“Bagaimana dengan besok? Aku dapat ijin libur manggung satu hari.” ujar Damar pada percakapan yang sudah berlangsung selama 15 menit itu. Sekilas informasi saja, ini pertemuan mereka yang ke-15 pada usia perkenalan satu bulan. Mereka bertemu setelah Kirana pulang kerja dan sebelum Damar tampil di panggungnya di depan taman kota. Juga beberapa pertemuan yang terjadi ketika sabtu malam tiba, saat keduanya diliburkan sebagai pegawai negara. Dan esok, pertemuan dengan dimensi berbeda itu akan berlanjut menjadi yang ke-16 dalam usia pertemuan yang menjadi satu bulan lebih satu hari.
“Baiklah.” Kirana setuju. “Kita berangkat setelah aku pulang kerja ya?” Kali ini Damar mengangguk mantap.
“Aku akan bawa bantal kecil kalo begitu.” ujar Kirana lagi pada percakapan yang hampir berakhir. Damar tampak mengerutkan keningnya. “Kenapa?” tanyanya.
“Aku tidak begitu suka melihat adegan horor. Jadi bantal kecil itu akan aku gunakan untuk aku peluk ketika aku merasa takut.” Damar justru terkikik, membuat Kirana yang gantian mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa?”
“Kalau memang takut, kenapa kamu setujui ajakanku menonton film yang kamu bahkan tidak suka melihatnya dengan telanjang mata?” Kirana tanpak berfikir mendengar pertanyaan itu sembari menahan senyum. Juga menahan agar ungkapan kan ada kamu tidak loncat begitu saja tanpa ijinnya dari kedua bibirnya.
“Dan kalau kamu perlu untuk berlindung, kenapa tidak aku saja yang kamu peluk jadi kamu tidak akan kerepotan menenteng bantal kecilmu itu kemana-mana.” ujaran itu terucap sebelum Kirana sempat menyahut pertanyaan yang memang tidak ia temukan jawaban yang benar-benar tepat. Mulutnya resmi terkunci sekarang. Bukan hanya karena merasa terpojok, tapi juga karena terlalu tidak bisa menahan sensasi romantis yang Damar tunjukkan. Hanya cubitan kecil pada pundak Damar itu yang pada akhirnya menjadi jawabannya untuk keseluruhan pertanyaan Damar.

***

Ada yang berbeda. Ini sangat jelas karena bahkan tiap helai daun yang terjatuh di antara rerumputan di taman itu, juga tiap embun yang pernah meleleh di atasnya pun tahu perubahan yang tengah terjadi. Ini bukan tentang perubahan cuaca yang belakangan semakin dingin. Ini tentang perbuahan dimensi waktu yang entah sejak kapan menjadi sama. Kirana mendadak menjadi rajin mengerjakan tugas lembur suntingannya hingga pukul setengah tujuh. Demikian pula dengan Damar yang mendadak rajin bangun pagi agar lukisannya dapat selesai di setiap harinya, agar ia bisa berangkat lebih awal dari biasanya, agar sunggingan senyum di ujung bibirnya semakin lebar dari seharusnya, agar ....
Tok tok tok!
Suara ketukan itu terdengar tiba-tiba. Tepat pada pintu rumah Damar. Seperti juga sudah diduga, Damar agak terkejut dibuatnya. Ada yang datang, entah siapa Damar tidak bisa menebak. Jika dilihat dari dandannya, orang itu tampak ‘penting’. Rapih sekali dan sangat tampak memiliki hasrat untuk segera bertemu dengan tuan rumah. Dibandingkan para tetangganya, Damar memang termasuk orang yang jarang menerima tamu. Atau memang bisa dibilang, jarang ada yang berminat menjadi tamunya.
Tidak ingin terganggu terlalu lama dengan ketukan berikutnya, bergegaslah ia keluar kamar, meninggalkan calon mahakaryanya menuju pintu.
“Apa kabar?” pertanyaan itu yang diterimanya sesaat setelah pintu terbuka dan ia tercengang menatap pengetuk tadi yang ternyata seorang wanita, wanita yang aku kenal, wanita yang juga Damar kenal.
 “Baik, Lani.” sahutnya sedikit terbata. “Mari masuk.” Lanjutnya.

***

Jleger!
Petir yang terdengar dari kantor Kirana. Tangan Kirana yang awalnya gencar menari di atas tuts keyboard komputer di depannya, kini perlahan berhenti dan turun bertumpu di sisinya. Seperti yang pernah aku bilang, ia selalu suka hujan deras dan kini ia sangat menyukai hujan itu karena ia akan pulang terlambat. Artinya, akan ada kesempatan untuk beralasan pada rekan kerjanya bahwa ia melakukan semua kerjaan-esok-harinya itu bukan tanpa sebab. Hujan turun deras di luar sana. Dan juga akan ada kesempatanya untuk beralasan pada dirinya bahwa ketika nanti ia memulangkan diri dari kantor lebih dari pukul 5 sore dan bertemu dengan Damar di jalan yang sama, ia tidak perlu mengakui bahwa itu disengaja.
Sunggingan yang sudah ia hafal itu merekah, tampak oleh matanya sendiri ketika ia melirik pelan ke arah kaca cermin kecil di sisi kiri mejanya. Di sebelah kanannya, sudah ada satu kantong plastik berisi dua bungkus snack kentang keju dan dua botol air mineral.
“Beli di bioskop biasanya mahal.” ujaranya pada Damar semalam itu melintas sejenak di kepala Kirana. Dia sudah siap menonton film horor malam nanti. Termasuk siap untuk ‘siap-siap’ meninggalkan bantal kecilnya dan menggantinya dengan ‘bantal’ yang lebih hidup.

***

Seperti yang sudah diminta, pukul setengah tujuh tepat. Hujan sudah berhenti dan kini Kirana sudah rapih di depan taman kota. Tidak ada yang tahu mungkin bahwa dia baru saja pulang dari kantor dan berkutat dengan tumpukan naskah suntingan yang cukup bisa membuat rambut lurusnya menjadi keriting. Tadi, sebelum beranjak melangkah keluar kantor dia sempat dandan sampai maksimal. Pakai mandi segala tentunya. Hari itu spesial dan ia tidak ingin terlewatkan dengan bau badannya yang tidak sedap dan pakaian kerjanya yang sudah kusut. Dia pun sudah mengganti pakaiannya dengan kaos putih lengan pendek bertuliskan Am I Cute? dan celana jeans panjang berwarna hitam. Bantal kecilnya sudah pasti ia tinggalkan, tidak jadi diajaknya serta. Ia hanya tersenyum dengan bersemu ketika mengingat kata-kata Damar semalam sebelumnya: tentang film horor, bantal kecil, dan dirinya.
Ehemm!
Ia berdehem, bersamaan dengan tubuhnya yang ia dudukkan di bangku coklat depan taman yang agak basah, tempat biasa ia duduk bersama Damar. Sejenak, ia melongok bekalnya di tangan kiri. Masih utuh. Masih belum tersentuh meski sebenarnya Kirana sudah tidak sabar membuka salah satu snack kentang keju kesukaannya.
Ini sudah lima menit berlalu. Bisiknya dalam hati.
Ia menegok ke arah kanan, ke arah Damar biasanya datang. Tapi tidak ada siapa-siapa kecuali sejumlah mobil yang kemudian lewat di depannya. Wush! Menghembuskan angin semilir yang cukup mampu membuatnya mendekap badannya sendiri. Agak dingin malam itu. Andai bisa aku ke sana, melangkah mendekatinya, akan aku pinjamkan jamper abu-abuku yang tadi siang baru aku samber dari almari, baru selesai dibinatu seminggu yang lalu. Tapi, aku terlalu pengecut. Maka, tetaplah aku di sini, di tempatku menatapnya hingga mungkin membusuk di sana tanpa siapapun mengetahuinya.

Sudah sepuluh menit ku rasa dan kedatangan Damar belum juga bisa disebutkan. Kirana masih tampak tetap ceria meski sedikit semburat kecewa itu sudah siap merayapi raut wajahnya. Ia jadi sering menilik arloji kecil di pergelangan kirinya. Pastinya bukan untuk memastikan jarum pada arlojinya itu masih berputar dengan benar atau tidak. Ia memastikan bahwa ia masih pantas di sana untuk menunggu di tempat duduknya. Masih pantas untuk menjawab bahwa ia tetap sabar meski kemudian durasi penantiannya semakin lama dan lama.
Hhh..
Ia menghela nafas berat pada menit kesepuluh berikutnya. Ponsel yang seharusnya bisa dihubungi mendadak hanya mengantarkan suara lembut operator yang memintanya untuk mencoba lagi.
Mungkin Damar lupa. Batinnya, membuat tubuhnya sedikit lunglai.
Atau mungkin dia sakit?? Pikiran itu melintas setelahnya, begitu saja. Ia terkesiap. Bagaimana kalau Damar benar-benar sakit sampai tidak mampu memberikan kabar padanya? Bagaimana kalau Damar saat ini tengah pingsan di atas lantai kamar mandi dan basah kuyup karena ia lupa mematikan keran?
Bayangan buruk itu terus bertambah di benaknya. Membuatnya tidak lagi peduli dengan permintaan Damar untuk menunggunya di depan taman kota saja sampai Damar datang. Maka, beranjaklah Kirana dari duduknya, menyusul Damarnya. Juga untuk memastikan bahwa bayangan buruk tadi hanya tingkah konyol otaknya yang sedang gundah.
Andai saja bisa, ingin rasanya memintanya tetap di kursinya, tetap duduk dan menunggu. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin ia menemukan kejadian setelahnya yang justru bisa saja membuatnya terluka. Jadi, mungkin akan lebih baik jika ia bertahan untuk menunggu sampai akhirnya aku berani mendatanginya dan menyapanya, hingga pohon rindang ini tidak lagi menjadi saksi bisu bagaimana besarnya perasaannku padanya.

***

Jarak antara taman kota dan rumah Damar memang tidak jauh. Hanya 200 meter dan Kirana sudah hafal jalur mana saja yang harus ia lalui. Sudah dua kali ia berkunjung ke sana sebelumnya atas undangan dan ajakan Damar: undangan ketika Damar mendapatkan honor tambahan dan merayakannya dengan bakar sate bersama, ajakan ketika udara taman terlalu dingin dan pilihan menonton DVD menjadi yang lebik menarik bagi keduanya.
Kelokan terakhir itu mengantarkan kedua bola matanya pada pintu rumah berwarna biru laut milik Damar, tepat ketika gerimis yang sedikit demi sedikit turun menderas. Debar jantung Kirana semakin menjadi. Lampu ruang tamu rumah Damar  tampak terang dari luar dan ia meyakikan diri, Damar ada di dalamnya dalam keadaan baik-baik saja.
Langkahnya sudah sampai pada teras rumah ketika matanya justru beralih dari pintu ke sepatu wanita di ujung keset, berjajar sepasang dengan rapih dengan sepatu hitam yang biasa Damar gunakan: satu menghadap ke arah pintu, satu lagi menghadap keluar. Sementara degup jantungnya mengencang, ia buang satu persatu pikiran jahatnya tentang Damar. Pikiran yang bisa memb
Prang!
Suara itu membuatnya terpengarah.
“Damar?!” Serunya seketika sembari menghambur begitu saja ke depan pintu dan mendorongnya terbuka. Sepersekian detik, kakinya justru terhenti di ambang pintu yang baru didorongnya. Sepersekian detik selanjutnya tangan kanannya pada gagang pintu terkulai di sisi kanan tubuhnya, lemas tanpa lagi bisa berbuat apa-apa.
“Ki, kirana?” ucapan terbata itu yang kemudian didengarnya. Damar yang mengucapnya sembari melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang perempuan di depannya, perempuan pengetuk pintu rumahnya beberapa menit lalu, perempuan pemilik sepatu di depan pintu yang berjajar sepasang dengan rapih di sisi sepatu hitam Damar. Nafas keduanya yang memburu tampak masih bersisa. Tidak perlu juga aku jelaskan apa yang baru saja dilakukan keduanya di atas meja tamu rumah itu. Tidak perlu juga aku paparkan bagaimana bisa vas bunga berwarna merah itu jatuh dari tempatnya ke lantai jika melihat posisi perempuan tadi yang setengah terlentang di sana. Yang jelas, keduanya melakukan itu dengan suka sama suka.
Kirana tidak juga menyahut. Ia hanya menelan ludah yang medadak sepahit empedu sebelum akhirnya tersenyum getir dan segera berlalu. Tidak lagi menghiraukan apa yang seharusnya dilakukannya: bertanya mengapa Damar tidak datang seperti yang dijanjikan di malam sebelumnya. Bekal yang ia bawa entah ia jatuhkan di mana, ia pun tidak peduli. Yang ada di benaknya adalah bahwa ia harus pergi dari sana, secepatnya. Kalau bisa, sesegerap mungkin hingga Damar seakan tidak pernah melihatnya sempat membuka pintu dan menatapnya nanar. Meski aku bukan Kirana, aku bisa turut merasakan betapa inginnya ia menghilangkan satu hari itu di daftar kenangannya, meloncat langsung ke hari berikutnya tanpa tahu yang terjadi sebelumnya.

Gerimis yang tadi sudah turun kini telah menjadi hujan, cukup deras. Dan tanpa diminta lagi, Kirana sudah berlari, lari sekuat yang ia bisa. Tubuhnya yang mulai basah kuyup terasa berguncang, menahan gemuruh yang ia punya di dalam dadanya. Itu pertama kalinya ia membenci hujan. Membenci tiap deras dan percikannya. Membeci tiap guyuran yang kemudian tanpa ampun membuat tubuhnya menggigil. Segala macam dandannya luntur, habis, tidak tersisa. Tergantikan dengan lelehan air matanya yang sudah bercampur menjadi satu dengan lelehan air hujan.
Dan aku? masih saja menjadi pengecut kacangan dengan tetap berada di bawah guyuran hujan tanpa bisa melangkah lebih jauh mengejar Kirana. Seketika, rasa benciku pada diri sendiri semakin menjadi. Bukan hanya karena aku tidak juga memiliki keberanian untuk mendekati Kirana, tapi juga karena telah membuang waktu untuk sekadar membuat rasa sakit yang Kirana punya sedikit berkurang, paling tidak itu anggapanku.

***

Sejak kejadian suatu sore itu, Kirana tidak lagi pulang terlambat. Ia selalu pulang tepat waktu. Jika memang ada naskah yang harus dikerjakannya dalam waktu ekstra ia akan membawanya pulang, sengaja ia kerjakan di rumah agar tepat pukul 5 ia sudah keluar dari kantornya. Meski demikian, sesekali ia akan duduk-duduk di bangku depan taman kota, tempat dimana ia pernah duduk di sana dengan sunggingan penuh makna di bibirnya.
Setelah kejadian itu, Damar sering kali menghubungi Kirana, mencoba memperbaiki semua hal yang dirusaknya di antara keduanya. Tapi, Kirana sepertinya bergeming. Ia terlanjur marah dan terluka. Andai saja Damon, salah satu tokoh Vampir pada serial tv Vampire Diaries yang gemar ditontonnya adalah nyata, ia akan memintanya menghapuskan nama Damar dari memori otaknya. Kirana terlalu kecewa.

Kabar terakhir yang ia dapatkan dari Damar datang ketika arlojinya menunjukkan angka 23.00. Ketika itu ia memang belum tidur, masih berkutat dengan setumpuk naskah yang esok harinya harus ia setorkan. Sebuah telepon dari rumah sakit yang mengabarkannya.
“Saudara Damar mengalami kecelakaan dan nomor Anda ada pada daftar panggilan cepat.”
Ujaran itu yang kemudian membuatnya tidak lagi di tempatnya, berlari secepatnya keluar rumah dan mencari taksi untuk menuju rumah sakit penelpon tadi. Rasa sesal itu yang pertama kali merayapi tubuhnya. Menyesali bahwa ia sama sekali tidak memberikan waktu untuk Damar menjelaskan semua yang terjadi. Mungkin itu yang membuatnya menangis sejadinya di depan jasad Damar. Meraung dan mengucapkan kata maaf sebanyak yang ia bisa, seakan Damar bisa mendengarnya dan kemudian mengabulkannya.
Hari itu, tanpa Kirana tahu, Damar berniat ke rumah Kirana, memberanikan diri karena memang ia tidak lagi ingin menunda kata maafnya. Kejadian sore itu memang kesalahannya. Ia tidak bisa menahan godaan Lani, mantan pacarnya semasa kuliah yang baru saja kembali dari studi di luar kota. Hal yang tidak Kirana tahu lainnya adalah bahwa saat ia bercinta dengan Lani, wajah Kiranalah yang ada di benaknya. Ia benar-benar menyayang Kirana sepenuh hatinya.  

Dan siang ini, kami ada di seting yang sama. Aku tidak lagi di bawah pohon, di tepi taman kota, bersembunyi bersama ketakutan dan kepengecutan kelas kacangan yang aku punya. Aku di sini, di bawah pohon kamboja pada sebuah suasana pemakanan yang baru saja usai. Dan ia baru saja datang saat semua orang sudah mulai pergi. Kirana, dia memilih diam di sana, di dekat sebuah nisan.
Damara Yudha. Tertulis demikian dengan jelas, berjejer secara vertikal dengan sebuah tanggal: 12-12-13.

Aku mendekatinya, perlahan untuk kemudian menyapa, “Hai, sendirian?”
Kau tahu, raut mukanya datar ketika kemudian menoleh padaku yang berusaha mempersembahkan senyuman termanis tanpa label berlebihan. Jika dilihat dari raut wajahnya, dia merasa seperti berfikir, memikirkan apakah dia pernah melihat satu raut muka di depannya ini. Raut muka berjambang tipis dengan dagu berbelah tanpa ada lesung di pipinya. Ya itulah gambaran ku. Gambaran yang setidaknya aku harap ada di benaknya juga. kau ingin tau bagaimana ekspresinya? Sangat mirip dengan ekspresi model gadis di sebuah kereta pada video klip Just a Kiss milik Lady Antebelum yang baru saja bertemu dengan lelaki yang ditemuinya di dalam mimpi. Masih penasaran? Mungkin bisa bukan laptop atau gatget yang dimiliki dan buka situs youtube. Cari di situ dan saya yakin anda akan menemukan ekspresi yang saya maksud.
ang ku sebutkan tadi.
“Perkenalkan, aku Bian, Fabian.” uluran tangaku langsung disambutnya hangat. “Kirana.” jawabnya kemudian.
“Ada yang meninggal?” Aku mengangguk.
“Ya, adik perempuanku.” Sahutku, sembari melihat nisan di depanku: LANISA, 12-12-13. Nisan yang bersanding dengan nisan yang ia datangi.
Keningnya sempat mengernyit, sesaat. Senyuman tipis tapi manis itu yang kemudian menyusul. Mungkin di benaknya ada ujaran yang ingin diungkapkannya. Mungkin juga kemudian, ia memilih diam saja dan tidak mengomentari perihal Lani yang ternyata adik perempuanku. Perihal bahwa Lani adalah perempuan yang membuatya berlari di tengah gerimis yang menderas. Ia tidak ingin merusak khikmat yang ada menjadi ternoda.
Ketika kemudian kami mulai sama-sama diam memanjat doa dengan masing-masing bibir dan hati kami, hingga kami mulai melangkahkan kaki masing-masing meninggalkan pekuburan ini, aku tidak banyak berharap. Aku tidak peduli apakah perkenalan ini akan berlajut. Aku juga tidak peduli jika kemudian itu benar berlanjut dan kalian akan mengutukku karena perkenalan ini terjadi di tengah orang mati. Yang jelas sekarang adalah bahwa kepengecutan kelas kacangan yang pernah aku maki-maki sendiri sudah luntur. Aku sudah bisa menyebutkan namaku. Persoalan bisa atau tidaknya aku menyebutkan bagaimana besarnya perasaannku, itu lain lagi. Bukankah yang beginilah yang menarik, sehingga kalian bisa menebaknya sesuka hati?

Minggu, 20 Oktober 2013

potret (tak) berbingkai

Aku selalu menyukai perjalanan dengan kendaraan umum yang aku lewati. Ini bukan berarti bahwa aku adalah seorang traveler, bukan. Aku hanya sebagian dari banyak warga 'penikmat' kemacetan Jakarta.

"Ya ampun Ra, ngapain harus merutuki kemacetan jika kamu bahkan masih saja menikmati uang atas keringat yang berjuta kali mentes di tanah Jakarta?" begitu kata Dina, salah satu desainer grafis di penerbitan tempat aku bekerja sebagai editor.
Aku tertawa mendengarnya dan dengan cepat membenarkannya tanpa jeda setelah kedua bibirnya mengatup. Bahkan jika harus memutuskan untuk pergi dari Jakarta, aku tidak tahu berapa kerutan lagi yang akan bertambah pada wajahku saking lamanya keputusan itu akan muncul.

Kegemaranku pada perjalanan dengan kendaraan umum bukan dari bagaimana aku bisa bebas dari antrean panjang pembelian BBM di pom, bagaimana aku bisa bebas dari pencarian tempat parkir yang selalu padat, atau bagaimana bingungnya aku dengan jadwal servis kendaraan pribadi yang bisa saja mengulur waktu kejar deadline yang super ketat untuk pengerjaan beribu naskah di meja yang tiap harinya pasti bertambah. Kegemaranku pada perjalanan murni karena aku menikmatinya; bahwa aku bisa menikmati dunia lain di antara hiruk pikuk jalanan lewat kaca bening di sisi kanan atau kiri tempat aku menunggu untuk diantarkan pergi dan pulang. Itu mengapa aku selalu memilih posisi tepat di tepi jendela: entah duduk, entah berdiri dalam desakan penumpang lain. Dari sana, aku bisa melihat segala hal, bermacam hal. Asap yang mengepul, debu yang sanggup menimbulkan berpuluh jerawat dan masalah kulit lainnya, pincingan orang-orang berseragam dan bersepatu yang tidak tahan dengan deru motor para ABG labil yang sengaja dikeraskan, derap kaki kecil dari anak-anak penjaja koran harian, usapan peluh pada leher dan dahi para tukang parkir, semuanya. Potret tak berbingkai, begitu ayahku menyebutnya. Kegemaran itu aku peroleh dari ayah. Ayah yang mengajarkannya hingga menjadi satu warisan tak terlihat yang beliau tinggalkan sejak 2 tahun beliau pergi ke haribaan Tuhan.

Dari pemandangan itu, aku bisa melihat betapa hidup yang lama dari tiap orang bisa dirangkum sejenak dalam satu bingkai besar kaca kendaraan: entah kaca mobil travel dalam perjalanan jauh dari ibu kota ke kampung halaman, atau sekadar perjalanan dari rumah ke kantor yang dilalui dengan taksi, busway, atau angkutan kota. Betapa tiap kerutan pada kening kakek penjual kerak telur yang aku lihat bisa menceritakan hal yang berbeda jika dilihat pada bingkai yang berbeda: pagi, siang, sore, malam. Betapa asap dan debu jalanan bisa menjadi satu harmoni yang menunjukkan bahwa kota Jakarta ini masih bernafas seperti biasa dan menawarkan banyak pilihan warna yang bisa saja lebih indah dari permuakaannya.

Dan sore itu, saat aku menemukannya di sana, di satu bangku angkutan kota: duduk di tepi jendela, tengah tertidur dengan memegangi tas hitamnya. Sejauh mata memandang, ada kamera DLSR menggantung di leher yang tampak berkeringat. Rambut cepaknya yang agak berantakan dan kausnya yang sudah agak kusut memunculkan dugaan bahwa ia sudah berada di luar seharian. Deru mesin mobil sama sekali tidak mengusiknya. Aku mengitarkan pendangan ke kursi lain, tapi hanya ada satu kursi itu yang tersisa dan bagian tepi jendela sudah didudukinya. Tanpa lagi banyak berfikir, aku putuskan untuk duduk di kursi seadanya. Toh aku masih bisa tetap melihat keluar.

Sore yang mulai berubah menjadi malam ini menyajikan banyaknya wajah-wajah lelah sepulang kerja, lampu-lampu toko yang mulai berpendar dinyalakan, juga sebagian badan jalanan yang mulai ramai oleh pasangan muda berkendaraa berdua. Ah, malam minggu dan aku masih saja sibuk dengan segala macam tetek bengek pernaskahan yang belum juga berkurang jumlahnya sejak pertama kali aku bekerja. Dan sekarang, di saat pasangan-pasangan tadi sibuk berkencan, aku masih sibuk berkendara di angkutan umum yang masih berjalan malas menuju tujuan rumah masing-masing penumpang. Yang menjadikannya agak berbeda adalah bahwa sekarang di sampingku tengah duduk laki-laki yang, jika diperhatikan, tidak kalah tampan dengan vokalis band asal Inggris, Lawson. Mukanya lonjong, tulang dagunya tegas, hidung kecilnya yang mancung, dan tampak bekas-bekas jambang yang rapih tercukur.
Jadi, daritadi ngadep jendela cuma biar bisa punya alasan untuk bisa sekalian ngadep ke cowok di samping, Ra??
Begitu suara kurang aja di dalam otakku bicara, membuatku terkesiap. Kadang-kadang, suara-suara ini minta di-mute supaya hidupku sedikit lebih tenang. Gak bisa banget liat orang senang.
Udah, biasa aja kali ngeliatinnya. Suara lain nimbrung ketika aku mulai menyadari bahwa alisnya yang tipis tampak menonjol pada tulang matanya dan, hey, rambutnya ternyata agak ikal jika dilihat dari dekat seperti ini.
Sialan. Aku merutuk atas kekonyolan yang aku lakukan. Bagaimana kalau dia ternyata menyadari aku sedang melihat, atau lebih tepatnya, menelanjangi wajanhya sedari tadi? Bagaimana kalau kemudian dia membuka matanya dan bilang Betah banget ya ngeliatinnya, Mbak? Dan bagaimana kalau tiba-tiba dia ....
Astaga!
Sentakku dalam hati tiba-tiba ketika wajah yang semula --sempat-- aku pandangi itu sebelah pipinya kini sudah menempel di pundakku. Pundak kurus yang sering kali menimbulkan ejeken "Pundak kok tulang doang" dari adik laki-lakiku. Laki-laki Lawson ini bahkan sama sekali tidak merasa terganggu dengan benjolan tulang yang bisa saja membuat tulang pipinya nyeri berlama-lama menempel di sana.
Ya Tuhan, aku harus gimana??
Ciiiiit! Rem mendadak itu yang kemudian mendecit dan....
Duk! 
"Aduh!" serunya, seruku. Kamu berseru bersama. Dahi kami berbenturan gara-gara rem mendadak tadi.
"Motor gak tau diri. Udah bosan idup kali ye." Si supir merutuk.

"Eh maaf, ya." Ujarnya, membuatku berpaling dari supir ke arahnya. Aku tersenyum, mengangguk. Dia pun ikut tersenyum.
"Maaf juga, tadi..." lanjutnya tak selesai sambil mengelus perlahan kepala sebelah kanannya. Aku tertawa kecil dan langsung paham maksudnya.
"Iya, gakpapa kok." Kalau bisa sih lebih lama, Mas. Batinku sesaat yang buru-buru aku lempar jauh-jauh.
"Pulang kerja?" tanyanya.
Aku mengangguk lagi. "Lembur sih, tepatnya."
"Oh, dimana?"
"Jalan Palmerah Selatan."
Dia spontan melihat nametag yang menggantung di saku kiri atas kemeja putihku. "Penerbit ya?"
"Yup!"
Aku melirik kamera DLSR yang sejak pertama kali tadi tampak menarik bagi mataku.
"Fotografer?" tanyaku balik.
"Yup!" jawabnya menyamai jawabanku. Aku tersenyum lagi. "Ini bukan sekedang pekerjaan buatku, tapi juga hobi." Jawabnya sembari menimang kemerannya. Ada beberapa jeda waktu yang membuat kami berdua terdiam. Andai saja ini adalah sebuah video yang tengah diputar, aku akan menggerakkan kursor untuk kemudian meng-klik beberapa detik ke depan agar kesenyapan ini tidak pernah terasa.  

"Emm, Mas, boleh tukeran duduk ga? Jadi Masnya ke sini, biar saya yang duduk di dekat jendela." kataku memecah kesenyapan. Dengan wajahnya yang masih setengah mengantuk, dia tampak bingung mendengar permintaan --yang menurutku-- konyol. Tapi dengan sigap, dia pun segera berdiri, keluar dari deretan dua kursi, dan membiarkan aku duduk di tempatnya semula, di sebelah kirinya.
"Makasih, Mas," ujarku setelah kami berdua duduk kembali.
"Fajri." Aku menoleh, mendapati tangannya mengulur ke arahku. Aku menyambutnya.
"Oh, Aira." Dia mangangguk sekali.
"Mabuk?" ujaran itu membuatku menoleh padanya yang tengah memandang ke arah ku. Ya Tuhan, boleh kan bagian ini di-skip saja? Aku tidak sanggup merasakan sensasi geli di perutku saat menyadari matanya yang bulat tengah menatapku dengan teduh.
"Ya?" Aduh, kenapa 'ya' sih??! Aku merutuki diri. Memalukan. Saat-saat seperti ini yang tidak pernah bisa aku kendalikan, bahwa otakku dan telingaku seakan putus hubungan.
"Kamu mabuk sampai minta pindah duduk?" Ulangnya. Aku menggeleng cepat.
"Nggak. Cuma lebih suka aja duduk di sebelah sini." Jawabku singkat.
Keningnya berkerut, "Kenapa?"
"Suka aja. Aku bisa lihat berbagai gambar, potret kehidupan yang berganti seiring dengan berputarnya roda kendaraan. Semua orang punya cerita, tapi sejenak cerita itu bisa terpatri di satu bingkai tidak terlihat pada kaca jendela ini." Dia terdiam sejenak.
"Tapi menurutku, potret tadi harus diabadaikan, biar gak hilang. Kalau pelukis, dengan lukisannya, kalau fotografer, dengan kameranya. Seperti ini." Katanya sembari sedikit mengangkat kamera.
"Tapi menurut aku, kita tidak akan kehilangan itu semua kok, Jri." Fajri melebarkan matanya, menunggu aku menjelaskan lebih panjang.
"Ya maksud aku, setiap hari kita bisa lihat lagi potret yang serupa, bahkan mungkin lebih berwarna, dari yang kemarin, atau hari-hari sebelumnya. Potret itu lebih hidup dibandingkan foto-foto hasil jepretan kamera yang kemudian terbingkai kaku di atas meja atau dinding." Fajri justru tersenyum (lagi) mendengarnya.
"Kamu tahu, aku tidak pernah pasang bingkai di setiap foto yang aku punya?"
Gantian keningku yang berkerut dan bertanya, "Kenapa? Bukannya lebih rapih?"
Ia agak memiringkan tubuhnya ke kiri, membuat jarak di antara kami semakin dekat. Tuhan!
"Untuk berada pada satu foto saja, gambar itu sudah terbatas, Ra. Coba kalau aku lepas gitu aja, kemudianaku gantungkan, aku membiarkannya 'hidup' dengan caranya sendiri tanpa harus dibatasi lagi dengan bingkai yang keras di tepi-tepinya. Apalagi sampai dikasih kaca segala." Paparnya panjang.
"Kan bisa luntur gambarnya, Jri, kena panas?"
"Justru itu, Ra, bagusnya. Foto buatku lebih punya makna ketika ia sudah mulai menguning, menua. Itu menunjukkan bahwa foto juga seperti manusia, yang pantas lapuk karena usia. Sesuatu yang abadi  cenderung membosankan bukan"
"Tapi tadi kamu bilang, foto itu untuk mengabadikan apa yang kita punya. Kalau lapuk berarti bukan abadi, kan?" Bantahku layaknya anak gadis pada ayahnya yang tengah mendongeng sebelum tidur.
"Itu yang aku bilang dengan 'hidup', Ra. Bukankah segala yang abadi, pasti ada batasnya untuk ukuran manusia? Semua masa yang kita bilang abadi tidak bisa disandingkan dengan 'abadi' yang Tuhan punya, kan?"
Aku terdiam, menikmati detik demi detik dimana aku sendiri bisa memasuki jalan pemikirannya. Luas dan dalam. Dan setengah jam sisa perjalanan sore menjelang malam itu, kemacetan yang pada awalnya hanya aku nikmati dengan pasrah, menjadi satu hal yang aku nikmati dengan warnya yang berbeda. Ini bukan lagi karena potret tak berbingkai yang biasa aku lihat melalui kaca jendela. Potret tak berbingkai di hadapanku ini lebih hidup. Lebih nyata, lebih dari sekadar harmoni di tengah kemacetan. Ini seperti udara, potret yang sanggup membuat aku lupa bahwa aku lelah dan butuh menyumpal kedua telinga dengan earphone agar terhindar dari segala macam berisik penumpang lain.



"Neng, tolong kaca jendelanya ditutup aja. Biar saya nyalakan ACnya?" Aku terkesiap, seakan terbangun dari dimensi dunia lain, lalu dengan segera mengangguk perlahan dan menuruti permintaan supir di sebelah kananku. Sebentar lagi mobil travel ini akan mengantarku pulang ke kampung halaman. Aku tersenyum sendiri ketika menyadari di samping kananku hanya ada supir dan tidak ada yang lain: seorang bapak paruh baya dengan kumis tebal yang sangat ramah.
"Sabuk pengamannya jangan lupa dipakai, ya, Neng. Polisi kalau liburan gini agak-agak senewen." Aku kembali mengangguk, kali ini sembari tersenyum, lalu menuruti lagi permintaannya dengan patuh.
Ah, Fajri, bekas-bekas keberadaan kamu masih menyisa.
 
"Kalau kamu mau, kapan-kapan aku ajak deh ke lokasi baisa aku hunting foto." ujarnya waktu itu. Dan aku dengan girangnya mengiyakan tanpa jeda. Pertemuan itu kemudian berakhir dengan dia yang terlebih dulu beranjak dari kursinya.
Aku tersenyum lagi saat aku pandangi satu potret yang sengaja aku bawa: setengah badannya yang  aku ambil saat ia tengah memegangi kamera kecilnya, duduk di atas batu pantai, tempat yang dia sebut sebagai 'lokasi hunting foto' di angkutan umum waktu itu, satu tahun delapan bulan lalu.


"Biarkan begitu saja dan gantung di kamar kamu, ya." Dia menyarankan waktu itu.

Bersamaan dengan roda mobil yang mulai menggilas jalan tol, potret itu kemudian aku dekap dengan pandangan terus berkelana mencari potret lain yang bisa aku abadikan lewat kaca jendela mobil di sisi kiriku. Mungkin tidak dengan kamera kali ini, tapi cukup dengan mata yang aku punya. Bukan karena enggan mengeluarkan kamera kecil hadiah dari Fajri di dalam tasku. Aku hanya tidak ingin potret yang katanya 'abadi' itu pada akhirnya akan menguning, dan pudar, kemudian mati. Aku ingin potret yang aku punya itu tetap hidup dan tidak hilang di kemudian hari, seperti kamu, yang pergi dengan cara yang bahkan masih belum bisa aku terima, Fajri.

Itulah mengapa potret setengah badan Fajri tadi sengaja aku simpan dalam satu bingkai kayu berkaca. Aku tidak menuruti sarannya kali ini. Aku memang tidak membiarkan potret itu bebas seperti yang Fajri bilang, aku memang menjadikannya terkungkung pada satu batas keras yang tidak membiarkannya hidup dengan caranya sendiri. Aku hanya ingin potret itu tetap di sana, tidak pergi. Sudah cukup dia saja dan potret itu jangan: jangan menguning, memudar, dan akhirnya hilang tak berbekas. Aku ingin terus mendekapnya untuk bisa mematrinya di dalam otakku agar gambaran potret pernikahannya itu bisa pergi dari sana: dia dan perempuan pilhannya. 
Sejenak kemudian saat senja sudah hilang dan digantikan malam, dekapan pada potret itu semakin erat.
Aku bersyukur lampu mobil ini padam, karena jika tidak sang supir akan bingung dengan lelehan air mata yang menderas dari mataku.
Jadi suami yang baik ya, Fajri. Semoga kalian bahagia.

I had a picture of you in my mind
never knew it could be so wrong
Why'd it take me so long just to find
the friend that was there all along


Lagu Picture of you milik Boyzone itu kembali terdengar di telingaku dari earphone yang hampir bosan menggantung di telingaku, mengantarkan aku pulang, dengan sejuta potret tak berbingkai yang akan terus aku kenang. 

_end_




Selasa, 15 Oktober 2013

My A Very Yuppy Wedding #MyAVYW



Novel A Very Yuppy Wedding ini saya kenal dari salah satu teman satu kos ketika masih jaman kuliah 1 tahun lalu. Dia bilang, gaya penulisannya beda dengan novel-novel lain yang terkesan klasik dan 'gitu-gitu aja'. Intinya, novel AVYW ini membuat saya mengenal sisi lain dari penulisan sebuah cerita. Bahkan saya sempat meniru gaya penulisannya loh, meski akhirnya tetap tidak bisa menandingi ciri khas kak ika sebagai penulis aslinya. Yang pasti, cara dia bercerita menjadi satu inspirasi baru dalam menulis (yang notabene saya suka nulis sejak SD) yang belum pernah saya temukan sebelumnya di novel-novel yang pernah saya baca.

Kalau mau dijabarkan, kayaknya gak bisa singkat sih menjelaskannya mengapa saya suka sekali novel ini. novel yang membuat saya sempat berfikir 'ternyata ada juga cara penceritaan novel semacam ini dan bagus!' :))
Penilaian ini keluar dari penggambaran cerita dengan menggunakan sudut pandang aku-an yang merupakan ciri khas kak ika. Melalui sudut pandang aku-an ini saya menemukan satu rasa pembacaan yang asik dan lebih terasa seperti sedang membaca buku harian orang. Melalui sudut pandang aku-an ini juga cerita di dalamnya menjadi lebih terasa manusiawi, natural, dan tidak dibuat-buat. Semua hal yang terjadi terasa sebagai 'memang seharusnya begitu' dan bukan 'kebetulan terjadi' yang terasa janggal bila benar-benar ada di kehidupan nyata. saya sebagai pembaca,  merasa seperti  menjadi patner cerita dari penulis dalam memaparkan semua alurnya sampai akhir. Saya bisa ikut galau, ikut nangis, ikut jengkel, dan ikut bersemu seiring dengan suasana hati tokoh yang diceritakan.


Ciri khas lain yang aku temukan dalam novel ini adalah kuatnya penggambaran tokoh di dalamnya. betapa saya terbayang-bayang tokoh Andrea dan Adjie selama bahkan berhari-hari setelah selesai membaca novel ini. ada satu formula yang belum pernah saya rasakan setelah membaca suatu novel. Novel ini, entah dengan 'resep' apa, membuat tokoh-tokohnya terasa hidup, terasa nyata hingga pernah membuat saya berfikir ini adalah salah satu karya berdasarkan kisah nyata. Novel ini juga mengajarkan secara tidak langsung pada saya untuk tidak melulu menggambarkan sifat tokoh dengan kata-kata secara langsung, tapi melalui kata-kata yang digunakan tokohnya, perilaku yang dilakukan tokohnya. Intinya, semua penggambaran tokoh dalam novel ini sangat membekas di benak saya saya. Apalagi, penggambaran tokoh laki-laki yang tidak jarang membuat delusional tak kunjung henti. Ini juga yang kemudian saya temukan pada novel-novel lain kak ika seperti antlogi rasa, divortiare dan twitvortiare, ditambah lagi cerpen Critical Eleven dalam kumcer Autumn One More. Bagaimana lekatnya penggambaran Harris, Ruly, Denny, apalagi Beno yang sampai sempat terbawa mimpi. Ah, sungguh >.<


Hal tambahan yang saya suka dari novel ini adalah yang saya lihat dari sisi penulisnya. Betapa kak ika sebagai seorang banker yang notabene sangat sibuk dengan segala macam laporan dan tetek bengek OTS tapi masih menyempatkan diri untuk membuat novel sekeren ini. Pengetahuan umum yang kak ika selipkan yang tidak tampak berlebih membuat pembaca seperti saya tidak hanya mendapatkan 'cerita fiksi' belaka tetapi juga hal lain yang belum pernah saya tahu, tentang perbankan terutama.

Satu hal lagi, cover novel ini itu bikin bangga buat dibawa kemana-mana. Serius. Simple and cool! Ini bagian dari pamernya sih sebenarnya bahwa saya bisa dengan bangga membaca novel ini di depan orang banyak, heheheh

Kalau memang nanti novel ini akan dijadikan film, yang pantas memerankan Andrea Siregar --menurut saya-- adalah Yasmine Wildblood dan Adji adalah Reza Rahadian. Untuk pemeran Ajeng, menurut saya cocok dimainkan oleh Ririn Dwi Aryati :))

Minggu, 13 Oktober 2013

Pada Sebuah Karpet


Perempuan itu masih berdiam duduk menekuk lututnya sejak berjam-jam lalu. Mata dan wajahnya yang sudah kering kini kembali basah. Entah sudah berapa lembar tisu yang ia lorot dari kotak warna kuning di sisi kanannya. Yang jelas, tempat duduknya, karpet di bawahnya, sudah tidak lagi terlihat permukaannya. Ia sudah dikelilingi lautan kertas tipis basah yang penuh dengan air mata, ingus, bahkan keringat.
Sejak bangun pagi tadi ia belum mandi dan jam digital di sisi kanan tempat tidurnya sudah menunjukkan angka 11.25 WIB. Menghidupkan AC tidak lagi ada di otaknya karena seluruh bagian otak itu hanya terisi dengan kata tanya kenapa yang tak kunjung mendapatkan jawaban karena. Jadilah ia berlumuran keringat sebesar jagung di dalam kamar berukuran 3x4 dengan jendela tertutup di tengah kota bersuhu 43 derajat celcius.
Dan ketika ponselnya hanya menghantarkan suara operator untuk mencoba lagi penggilannya beberapa saat kemudian, buliran bening di pelupuk matanya itu kembali menggelinding bebas, melindas pipinya yang tidak lagi bersemu oleh blush on merah muda, menerabas sudut bibirnya yang pucat dan tidak lagi berlipstik menyala seperti semula. Ia patah dan itu karena satu lelaki di seberang ponsel di tangannya. Lelaki yang semula membuat perempuan ini tak pernah tersentuh oleh bau keringat tajam dan asam, apalagi air mata menyedihkan. Tidak pernah seperti siang itu.
Dalam bisu semacam itu, ia hanya peduli dengan dirinya sendiri. Ia tidak peduli lainnya, tetangganya, apalagi benda mati disekelilingnya. Karena jika bisa sedikit saja meregangkan telinganya dan hatinya, mungkin ia dapat mendengar bagaimana karpet di bawah badannya sudah berteriak ingin mandi, sudah meronta ingin pergi dan digantikan dengan yang lebih wangi. Bayangkan saja, berpuluh tetes air mata sudah berkali-kali jatuh di atas bulu-bulunya yang halus dan mulai melembek dan kasar. Tiap seratnya bisa merasakan betapa asinnya air mata dan peluh yang menempel padanya. Bahkan debu kamar yang tak kunjung pula di buka makin menebal dan meresap tanpa ampun di sela anyaman lembutnya.
Sejak pertama kali dibentangkan di atas lantai kayu kamar apartemen bernomor 23 berukuran 3x4 meter beberapa bulan lalu oleh lelaki bernama Fabian, ia belum pernah sekalipun menggantinya ataupun mencucinya. Karpet itu menjadi tempat segala hal yang perempuan tadi lakukan: tidur di atasnya, berdiri dan berjingkrak-jingkrak di atasnya, bahkan jika letihnya terlalu parah, perempuan itu akan tertidur pulas di sana tanpa sempat mandi, berganti pakaian, apalagi menyalakan pendingin ruangan. Belum lagi serbuk-sebuk bedak yang tidak pernah absen bertabur dan terjatuh lalu menempel di atasnya yang jika si karpet punya mata akan lekas mengidap katarak. Meski ia hanya bisa bisu, ia bisa merasakan bulu-bulu halus yang dulu sempet disanjung setengah mati di depan pembentangnya kini tinggal bulu kasar yang tak lagi bisa kembali pada posisi awal ketika diusap: kaku, tidak lagi indah. Kan sudah dibilang tadi, perempuan pemiliknya hanya peduli pada dirinya sendiri. Mungkin memang keberadaannya cukup disandingkan dengan benda mati lainnya. Toh, perempuan itu sudah tidak bisa lagi memandang karpet kusam tadi sebagai pemberian spesial tunangannya, lelaki yang sudah berkali disebut tadi, yang membuat buliran bening itu makin deras. Perempuan itu sudah memandangnya sebagai benda yang berhak diinjak semaunya. Ini belum lama karena baru semalam drama sedih itu dimulai. Saat tiba-tiba sang tunangan mengajaknya pergi dengan segala kebahagiaan terpancar di wajahnya sampai akhirnya mengantarkannya dalam kondisi tak terkira kacaunya: lelaki itu memutuskan pertunangannya, membatalkan pernikahan yang dirancang dan direncanakannya.
Dan karpet itu menjadi saksinya. Bukan hanya saksi kesedihannya malam itu, tapi juga malam-malam sebelumnya: sejak ia masih menjadi perempuan yang ceria dengan segala keriangan dan taburan bedaknya, hingga akhirnya menjadi perempuan yang muram durja dengan duduk menekuk lututnya berjam-jam hingga saat ini: 12.56 WIB!
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Coba beberapa saat lagi….. Suara itu yang didengarnya lagi, lagi, dan lagi.
Tangannya terkulai lemas di sisi kakinya, melemparkan perlahan ponsel yang sedari tadi ia genggam. Tisu yang ia lorot semakin lama semakin menebar, luas, menumpuk.
Aku belum siap untuk kita menikah, Eva.
Kenapa? Kenapa sekarang?
Aku....
Apa ada wanita lain?
….
Jawab, Bian!
…..
Fabian!
Ya, ada.
....
Dan kamu tidak perlu tahu siapa orangnya.

Tubuhnya bergetar hebat ketika rekaman ulang kejadian semalam itu seakan berputar lagi di otaknya. Kali ini ia tidak melorot lagi tisunya, ia bersimpuh, lututnya tidak lagi dipeluknya, ia biarkan tangannya menopang badannya, ia biarkan air matanya berjatuhan bebas tanpa jeda, tepat di atas karpet di bawahnya. Dan sekali lagi, ia tidak peduli. Termasuk ketika kemudian ia bangkit dan meraih dengan gusar dua pigura foto berukuran 10 R di atas mejanya, melemparnya hingga membentur dinding dan pecah. Ia tidak lagi peduli betapa tangannya ikut koyak dengan pecahan kaca yang berserakan di mana-mana. Senyum di tiap foto yang kemudian tergeletak di sana tidak lagi indah di matanya: senyumnya dengan lelaki bernama Fabian dan senyumnya dengan seorang perempuan yang merupakan sahabat baiknya.

Lulu...
....
Dia Lulu, Eva.

“Aaaaaaaa!” jeritan itu yang kemudian menyusul, terdengar menyayat, penuh kepedihan, dan tidak menyisakan sedikut pun ruang bagi siapapun untuk sekadar menyelipkan kalimat penyembuh Sabar, ya.

***

Ruangan yang sama masih gelap, padahal hari sudah beranjak malam. Jam digital di sisi kanan tempat tidur sudah menunjukkan angka 18.56 WIB. Perempuan tadi tidak lagi duduk menekuk lutunya, tidak lagi bersimpuh dengan tangan menyangga badannya. Ia tergeletak di sana dengan mata terbuka. Mungkin sudah letih, mungkin juga kemudian perlahan ia akan tertidur.
I just wanna die in you’re arm….. lagu No Promises milik Shayne Ward itu terdengar lagi dari ponselnya, nada dering panggilan masuk. Ini sudah yang kesekian kali dan perempuan bernama lengkap Evania Dewanti itu masih juga bergeming, diam di sana, tidak kunjung bergerak menjawabnya, seakan sengaja mengabaikannya. Ketika kemudian ponsel itu terdiam lagi, berhenti berdering, satu nama muncul di layar dengan belasan panggilan tak terjawab: my bestie Lulu.

***

Suara sirine itu terdengar terlalu nyaring di pagi buta pukul 04.32 WIB. Ada beberapa orang berseragam putih yang mondar-mandir keluar masuk sebuah kompleks rumah kos Wisma Kenanga, tepatnya dari kamar kos bernomor 23. Apalagi kalau bukan mengurus perempuan bernama Evani Dewanti yang menjadi pemilik kamar tersebut. Singkat saja, ia mati. Bunuh diri. Ini tidak lagi karena memotong pergelangan tangan, tetapi memotong  nadi lehernya sendiri.
Seorang perempuan lain tengah sesenggukan di atas tempat tidur dengan seprai tak beraturan. Dialah Lulu, sahabat baik Eva yang sehari sebelumnya membuat belasan panggilan tak terjawab, pengantar nada dering Shayne Ward pada ponsel yang kini sudah mati, mengikuti jejak pemiliknya. Ada sebuah bongkahan rasa bersalah di dalam hatinya, mengapa ia tidak menyadari situasi yang terjadi. Mengapa tiba-tiba Eva menjadi gusar padanya dan mengapa tiba-tiba belasan panggilannya tidak terjawab.
Satu jam lalu ketika kemudian ia nekat pergi menyusul ke apartemen sahabatnya itu, ia baru sadar yang terjadi telah terlampau buruk, semua sudah lewat, tidak lagi ada kesempatan untuk mengubahnya meski barang sedikit saja. Bagaimana bisa dia menghidupkan lagi sahabatnya yang sudah terlanjur pergi dengan cara yang bahkan tidak pernah dia bayangkan? Bubur sudah mencair dan ia tidak lagi bisa mengembalikannya menjadi nasi, atau bahkan padi.
Dengan menggunakan kunci duplikat yang memang dimilikinya, ia membuka apartemen dan kamar Eva yang gelap gulita. Jika saja ia tidak berpegangan pada gagang pintu, ia bisa saja terjerembab, terhuyung jatuh di atas lantai. Kamar itu tidak lagi bisa dinamakan sebuah ruangan yang utuh: tisu bertebaran di mana-mana, serpihan kaca yang pecah terpelanting ke segala arah, juga foto-foto dengan gambar dirinya di sana terkoyak kusut.
Ia sudah melakukan kesalahan. Hanya satu memang, tapi itulah yang justru membuat segala hal dalam hidup Eva juga hidupnya menjadi kelabu. Sebuah kesalahan yang bahkan ia sendiri tidak bisa memaafkannya, yang bahkan ia sendiri bisa melakukan hal yang sama jika Eva adalah dirinya. Mendadak ia membenci dirinya.
Sahabat?
Kepalanya menggeleng keras ketika kata itu meletup begitu saja di kepalanya. Ia lebih mirip parasit pembunuh jika harus menuliskan label identitas dirinya bagi Eva. Parasit yang merenggut impian Eva tentang perniakahan serba sempurna dengan gaun berwarna putih dengan ekor panjang tak terkira. Parasit yang merenggut impian Eva untuk memiliki satu keluarga utuh dengan Bian yang akan sering duduk di atas karpet berwarna hijau lumut di kamarnya, bercerngkrama sampai pagi tentang apa saja. Ia lah parasit yang dengan tega merebut hati Bian untuk kemudian meninggalkan Eva yang patah dan hancur sehancurnya. Ia lah parasit berupa perempuan lain yang sempat disebutkan Bian pada malam terakhir pertemuannya dengan Eva. Ia sudah merebut calon suami sahabatnya sendiri: merebut Bian dari Eva.
“Aaaaa..” jeritan itu yang kemudian terdengar.

***

Ruangan kamar tadi sudah kembali gelap. Karpet hijau lumut yang belum juga beranjak dari sana kini makin kusam, makin masam. Dan satu bekas baru sudah menempel lagi di atasnya: bercak darah perempuan lain, selain pemiliknya. Lulu yang putus asa, Lulu yang merasa penuh dosa memutuskan turut mengukir sejarah di karpet yang sama. Mati dengan cara yang sama.
Para medis yang kemudian datang mengangkut jenazah Lulu, hanya menggeleng-geleng tak mengerti. Baru kali itu mereka menemukan satu kasus bunuh diri beruntut yang korban keduanya adalah pihak yang menemukan korban pertama. Desas-desus yang kemudian merebak bahwa korban kedua dibunuh oleh arwah penasaran korban pertama menjadikan siapapun yang ada di sana tak berani mendekat, apalagi bicara sembarang. Para medis, para tentangga, dan juga para pemilik mata yang kebetulan lewat hanya mengelus dada dan tidak berani banyak berkomentar. Takut kualat, katanya.

***
“Evania Dewanti
Evania Dewanti
Evania Dewanti
Eva
Eva.....” Gumamnya.

“Lusiana Bramantyo
Lulu, Lusiana, Lusi
Lusiana....” Gumamnya lagi.

“Evania, Evaaaa... Lusiana, Lulu, Lulu....Luluuu..” Lagi lagi dia menggumam.
Seseorang tengah duduk bersimpuh memeluk lututnya  sendiri di dalam sebuah ruangan seba putih: bergerak maju mundur seperti ayunan yang tak kunjung berhenti bergoyang. Ia sendiri di situ, di dalam ruangan tertutup rapat tanpa jendela. Mukanya tampak pucat, kusam. Bintik-bintik kumis dan jambangnya yang mulai menebal menunjukkan bahwa ia tidak lagi setampan semula. Tulang pipinya yang mulai tampak menonjol menunjukkan betapa ia tidak pernah menyentuh makanan dan minuman yang disodorkan para suster padanya. Plang kayu bertuliskan nama Fabian Lesmana di sisi tempat tidurnya sudah bercampur dengan coretan lain tak beraturan dari tangannya yang tampak lebam di mana-mana.
Sesekali, ia melirik ke ujung ruangan, pada satu titik onggokan kain kumal, tebal, berbulu. Warnanya yang kusam menyembunyikan warna aslinya, warna hijau lumut. Ya, itu karpet dari kamar Eva, karpet yang belum sempet dicuci dari segala macam air mata, peluh, juga simbahan darah, termasuk dari ribuan titik debu dan serbuk bedak. Entah bagaimana bisa ia membawanya dari sana. Ketika kemudian ia dinyatakan mengalami gangguan jiwa, karpet itulah yang ia bawa dengan susah payah bersamanya, meski sering kali justru karpet tersebut yang menjadi pemicu kekacauan di kamarnya.
Drama yang terjadi akan dimulai dengan pandangannya yang memincing, kemudian perlahan mendekatinya, membuka dan membentangkannya, tersenyum dan berbicara sendiri dan akhirnya berteriak-teriak sekeras yang ia bisa hingga suaranya menjad parau. Lalu, tanpa lagi bisa ditahan, ia akan menangis, meraung ketakutan, seakan karpet yang baru saja didatangi dan disentuhnya adalah makhluk hidup menyeramkan yang hendak melumatnya dengan taring tajam hingga tubuhnya tercabik hancur.
“Ampuuuun, ampuni aku Evaaa, Lulu....”
Dan jika perilakunya mulai berubah menjadi garang hingga melukai dirinya hingga lebam di tangannya melebar ke tubuh dan kepalanya, pintu rapat itu akan terbuka, mengantarkan para suster ke dalamnya. Kalau sudah begitu, ia akan kembali tenang, bahkan terlelap dengan wajah damai. Mungkin tidak lama, tapi paling tidak ia bisa beristirahat sebelum kembali bergumam dengan dua nama yang sama, mendekati karpet yang sama, dan berteriak hingga mengamuk dengan cara yang sama.
_end_