Ah, pagi hujan. Sepagian ini
aku masih bergumul dalam dua lapis selimut berwarna biru laut. Ini
selimut... sial, mengapa aku masih memakainya. Oke, aku bilang ini
selimut couple kami, aku dan dia.
“Couple-an kok selimut.” Ingin aku lempar dengan panci ketika Rere, teman satu rumahku, berkomentar demikian.
Oke, ini hari Sabtu dan seharusnya aku lebih sibuk dengan mimpi keempat ku, terserah tentang apa. Mengapa keempat? Karena mimpi ketiga sudah aku jalani sebelum terbangun untuk shalat subuh untuk kemudian tidur lagi menyambut mimpi macam apa saja setelah mataku benar-benar telelap. Pekerjaan semacam editor memang jarang-jarang bisa menganggur seenak udelnya seperti sekarang. Tapi, itu seharusnya. Masih bisa ingat kan menagapa kata seharusnya di awal tadi aku miringkan? Itu memang karena semua yang aku ceritkan tentang mimpi keempat adalah seharusnya. Dan karena memang seharusnya, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Aku masih terjaga sejak subuh jam 4 pagi tadi. Aku tidak bisa tidur lagi.
Memilih novel karya Cristian Simamora berjudul All You Can Eat di saat genting seperti ini sungguh salahh besar.
Tema yang dibahas di dalamnya adalah mantan tak tau diri yang terang-terangan bercokol di otak para tokohnya. Mungkin, jika aku mengakui apa yang tengah bercokol juga di otakku sekarang, aku bisa menjadi salah satu tokoh tambahan di dalam novel itu. Shit. Mau sampai kapan, Em, menye-menye begitu?
Dan, here I am, mengurung diri di kamar, bergumul di dalam dua lapis selimut couple, menyumpal telinga dengan earphone yang menjuntai dari I-Pod berwarna merah muda. Lalu, memegang satu novel tebal yang aku bilang sial tadi sembari menatap hujan dari jendela yang sengaja aku buka gordennya. Sangat serasi dengan seting novel dalam naskah-naskah yang aku sunting setiap harinya. Aku sengaja melalukannya. Paling tidak aku bisa lah melupakannya, sebentar saja berada pada dimensi ruang yang berbeda, dengan menikmati me-time. Pengalihan dengan semua yang aku lakukan pagi ini sepertinya tidak cukup jika aku tidak mematikan alat komunikasi. Maka, semua akses seperti ponsel dan tablet galaxy 2 pemberian ayah pun sengaja aku nonaktifkan.
Pretending not to love you was the hardest thing I’ve ever done (Pretty Little liar, 2010 TV Series).
Ini kutipan yang baru saja aku baca pada halaman 395. Siaal! Bukannya teralihkan dari isu permantanan aku justru semakin tenggelam di dalamnya. Maka, tanpa lagi menunda, aku pun melepaskan novel tebal itu dan setengah melemparnya ke ujung tempat tidur. Helaan napas panjang itu menandakan bahwa ada sedikit lega. Aku ingin pengalihan bukan penguatan atas apa yang aku rasakan. Mimpi semalam, ah, sungguh tidak ada keingin lagi untuk mengingatnya. Tapi, entah siapa yang pertama kali menjadikan mimpi sebagai bagian dari bunga tidur jika yang dimimpikan adalah hal yang bahkan jauh dari keindahan. Bunga itu indah, dan mimpi berisi mantan kekasih yang ingin setengah mati dilupakan bukan suatu keindahan.
Kamu, ya, kamu, datang semalam tanpa permisi lebih dulu. Kamu datang dalam mimpiku dengan serta merta mengajakku berkenalan dengan orang tuamu. Sialnya lagi, aku hanya bersedia dengan segala macam tetek bengek kebahagiaan menggantung di pelupuk mata yang berbinar. Namanya juga mimpi, aku bisa melihat diriku sendiri di dalamnya sekaligus merakan apa yang dirasakan tokoh yang aku lihat. Oh, mimpi yang oh-so-absurd ini berlanjut ketika kamu kemudian menyebutkan bahwa lelaki yang duduk di kemudi mobil berwarna metalik itu adalah ayahmu. Ayah yang kamu banggakan dan selalu kamu sebut sebagai seseorang yang ingin sekali kamu tiru caranya melindungi istrinya. Lalu, ketika kemudian mataku beralih pada wanita di jok belakang, tepat di belakang ayahmu, wanita itu tersenyu, ramah sekali. Bahkan aku mampu menjadi pengagumnya di pandangan pertama. Itu ibumu, katamu. Ibu yang selama ini kamu panggil dengan ‘mama’ pada suatu ketika kita bersama dan beliau menelpon, menanyakan apakah kamu tidak lupa mengantarkan surat titipan untuk wali kelas adikmu yang tengah sakit.
Lalu, ketika aku jabat tangannya, tangan itu lembut sekali, tangan yang sering kamu bilang pandai mengolah masakan menjadi materpiecenya. Dan satu koemntar yang aku terima kemudian di sela jabat tangan singkat itu sungguh membuat hatiku bengkak.
“Ema, ya? Lebih cantik ya dari yang sering Pandu ceritakan pada mama.”
Aku hanya tersenyum. Dan seperti yang aku lihat, senyumku saat itu, semalam, sungguh senyum bahagia. Seerpti itukah raut wajahku ketika aku ada di sekitarmu, Ndu? Seperti itukah raut mukaku tiap kamu dengan sengaja datang mengetuk pintu apartemenku dan mengucap Aku kangen kamu di detik pertama aku membukakan pintu? Seperti itukah juga raut muka yang aku punya sebelum kamu bilang Kita sudahi saja ya semuanya? Lalu, seperti itukah raut muka yang rela kamu tinggalkan untuk pergi selamanya bersama gadis piliha orang tuamu. Orang tua yang baru saja kamu perkenalkan dalam mimpi semalam. Mereka memilih gadis terbaiknya untukmu, gadis yang tidak banyak mengikutseratakan orang tua dalam hubungan kalian, gadis yang tidak banyak protes ketika kamu mencetuskan sebuah isu untuk diperbincangkan dengan serius, layaknya para politikus berdebat di layar kaca televisi. Lalu, satu lagi, gadis itu adalah gadis yang usianya jauh di bawahmu, bukan gadis yang seurusia dengan mu atau lebih tua dari mu. Kamu masih ingatkan, kamu pernah bilang, ayahmu tidak setuju jika kamu menikah dengan wanita yang lebih tua dari mu, barang 3 bulan, seperti aku? Maka, selamat ya adalah kalimat terakhir yang aku ucapkan untukmu di hari pertunangan kalian hari itu.
Kamu tahu, Ndu, gambaran orang tua yang sungguh ramah, dengan suara berat ayahmu yang penuh wibawa, dan tangan halus mamamu yang kamu bilang pandai memasak itu hilang. Sama sekali. Bukan aku membenci mereka. Bahkan mereka berhak membuangku jauh di ujung kutub jika memang perlu karena mereka adalah orang tuamu yang ingin hal terbaik untuk hidup anak laki-laki satu-satunya. Tapi, Pandu, biasakah kamu pergi dengan membawa semua memori yang aku punya. Atau, paling tidak, bisakah kamu lempar aku ke masa lalu agar ketika siang gerimis itu aku mengatakan tidak saja atas ajakan kamu untuk kita berjanji menjadikan aku dan kamu menjadi kita?
Tanpa sadar, mataku terpejam. Bukan tidur. Aku menahan agar aku tidak terisak lagi. Oke, itu hanya usaha karena bagaimanapun aku berusaha, mataku tetap basah. Aku tetap terisak di tempat tidurku, berselimut couple yang entah kapan akan aku singkapkan untuk tidak lagi aku gunakan. Alih-alih membuangnya ke ujung tempat tidur, aku justru merapatkan selimut itu penuh hingga ke dahu, menyisakan kepalaku yang tampak tenggelam di antara bantal bersepreai coklat muda dengan motif batik pemberian Eyang Lebaran lalu.
Ting tong!
Aku tersentak, kaget. Bel sialan! Aku merutuk. Pukul 06.13 tertera pada jam digital di atas nakas. Siapa yang sepagi ini datang? Oh please, ini hari sabtu dan biasakan aku memperlakukannya sebagai hari sabtu dan bukan hari senin-selasa-rabu-kamis-jumat??
Mataku sembab ketika aku menghadap kaca. Sungguh pemandangan terkacau yang aku lihat. Rambutku yang masih tersanggul berantakan, piyama krem selutut yang tampak kusut, dan kerutan pada wajah bekas lipatan bantal dan seprainya sukses membuat wajahku lebih mirip zombie yang berkeliaran di serial The Walking Dead yang aku tonton setiap senin malam. Maka, aku raih kacamata nonminus dari laci nakas, sekadar menutupi lingkar hitam di bagian bawah mataku.
Ting tong!
Hhh, aku mendengus. Ingin sekali aku melempar apa saja yang ada di sekelilingku ke arah bel sialan itu. Juga ke pemencet bel yang kurang ajar pagi-pagi begini menyantroni seorang single menyedihkan seperti aku. Memangnya, tidak ada hari lain sampai sabtu-sabtu begini menggedor, oke, memencet bel berkali, di pagi buta pun?—karena menurutku pagi yang pantas diguanakan untuk bertamu adalah pukul 10.
Ting tong!
Shit!
“Iya, iya, bisa sabar nggak sih? Kelakuan banget ya.....”
Clek! Aku membuka pintu “.....pagi-pagi gini mencetin bel rum......”
“.......”
Aku terpengarah saat pintu benar-benar terbuka.
“Pagi, Mbak Ema.”
Aku menelan ludah. Menelannya besar-besar. Kalau pun bisa, menelan seluruh omelanku tadi, berharap tidak pernah ada yang mendengar dan bahkan tersakiti karenanya. Aku tersenyum getir.
“Pagi.” Aku membalas sapaannya. Klasik. “Ada apa Mas?” Tanyaku saat kesadaranku benar-benar sudah meraja, menyadari bahwa yang tengah ku hadapi adalah asisten bosku, Mas Arya, yang ketika aku sapa ia tampak menahan senyum. Mungkin ini baru pertama kalinya ia melihat diriku versi zombie begini.
“Maaf sekali mengganggu hari sabtumu. Tadi saya telpon dan sms tidak ada yang terjawab. Jadi saya ke sini.” Tanpa sengaja aku menggigit bibir bawah. Tentu saja tak terjawab karena semua sarana komunikasi aku matikan.
“Maaf, Mas, belum sempat saya hidupkan lagi sejak semalam.” Bohongku padanya.
Wajah tirusnya masih tersenyum ketika menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Kemudian, tangannya tampak terulur, menyodorkan sebuah amplop coklat.
“Bos minta saya mengantarkan naskah ini. Penulisnya minta rilis sebelum valentine dan....” Ia menyodorkan amplot coklat lainnya. “Ini titipan dari bos yang kedua. Katanya sebagai ganti hari sabtu yang seharusnya mbak nikmati sebagai hari libur.”
Aku tersenyum lagi, tapi mungkin lebih getir dari sebelumnya. Sialan banget. Model-model bos nyogok gini yang nggak bisa aku tolak. Arrgh!
“Jadi, harus kapan saya kumpulkan naskahnya, Mas?”
Dia tampak melihat buku agenda yang sengaja ia pegang, tidakia simpan di dalam tas. “Kira-kira, dua minggu lagi, bisa?” Aku menganga tanpa sadar mendengar tenggat waktu yang diberikan. Mataku beralih seketika ke amplop coklat nan tebal luar biasa di tangaku.
“Ini penting dan ketika nanti rencana pembuatan film dari naskah itu diterima, kemungkinan Mbak dipromosikan sebagai kandidat ketua editor, kata bos, lebih besar.
Bagus! Terus saja menjual janji manis.
“Oke, aku usahakan ya. Dan sampaikan pada bos, saya memilih mengerjakan ini di rumah.” Kataku, pasrah.
“Baik, Mbak.” Sahutnya, sembari membereskan buku agenda di tangannya, memasukukkannya ke dalam tas yang ia bawa di tangan kiri.
“Kalau begitu, saya mohon pamit. Semoga lancar ya, Mbak.”
“Iya, Mas, terima kasih.”
Setelah Mas Arya pulang dan pintu tertutup, aku mencelos, melorot di sofa sembari menatap nanar amplop coklat di pangkuanku berisi naskah novel kejar tayang. Lalu beralih ke amplop satunya, yang ternyata setelah ku buka, berisi tiket liburan ke bali bulan Februari nanti lengkap dengan voucher gratis belanja gila di Joger. Saya harap bonus ini bisa menjadi ganti lemburmu selama dua minggu ke depan, Ema. Tulisan itu terselip di tumpukan paling atas dari tiket dan sejumlah voucher yang kusebutkan tadi. Aku menghela napas, pasrah.
Sabtu? Me-time? Good Bye! Melow drama ala telenovela, good bye juga. Aku harus berubah sedemikian rupa menjadi wonder woman yang bisa dengan sigap mengganti suasana hati seketika dari menyedihkan-penuh-luka dengan penuh-bahagia-ceria-sepanjang-masa. Sulit? Pasti. Dan aku harus berjuang dengan segala macam tenaga yang aku bisa. Kecuali, aku akan menjadi satu-satunya manusia berdosa di kantor karena sudah mengabaikan tugas gara-gara mimpi dan mantan sialan, lalu menyebabkan tiket liburan yang menggiurkan itu dibatalkan secara tidak hormat.
Pagi masih hujan ketika aku kembali dari kamar mandi, mencuci muka. Aku memlih duduk di sofa ruang tengah, di depan televisi yang aku biarkan mati. I-Pod warna merah jambu tadi, kembali aku sumpalkan earphone nya ke telinga. Cukup itu saja dan aku tidak butuh selimut couple dua lapis itu. Aku butuh pengalihan dan mungkin rasa dingin beserta setumpuk naskah tebal ini adalah pengalihan terbaik yang aku dapatkan.
Mery, nama itu sungguh mencekam jika dikaitakan dengan tokoh hantu Amerika yang gemar muncul di depan cermin kamar mandi setelah dipanggil namanya sebanyak tiga kali.
Kalimat awalan itu yang kemudian menyapa lensa mataku, menenggelamkan otakku, menjadi pengalihan dari elegi pagi yang belum sepenuhnya pergi.
-end-
“Couple-an kok selimut.” Ingin aku lempar dengan panci ketika Rere, teman satu rumahku, berkomentar demikian.
Oke, ini hari Sabtu dan seharusnya aku lebih sibuk dengan mimpi keempat ku, terserah tentang apa. Mengapa keempat? Karena mimpi ketiga sudah aku jalani sebelum terbangun untuk shalat subuh untuk kemudian tidur lagi menyambut mimpi macam apa saja setelah mataku benar-benar telelap. Pekerjaan semacam editor memang jarang-jarang bisa menganggur seenak udelnya seperti sekarang. Tapi, itu seharusnya. Masih bisa ingat kan menagapa kata seharusnya di awal tadi aku miringkan? Itu memang karena semua yang aku ceritkan tentang mimpi keempat adalah seharusnya. Dan karena memang seharusnya, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Aku masih terjaga sejak subuh jam 4 pagi tadi. Aku tidak bisa tidur lagi.
Memilih novel karya Cristian Simamora berjudul All You Can Eat di saat genting seperti ini sungguh salahh besar.
Tema yang dibahas di dalamnya adalah mantan tak tau diri yang terang-terangan bercokol di otak para tokohnya. Mungkin, jika aku mengakui apa yang tengah bercokol juga di otakku sekarang, aku bisa menjadi salah satu tokoh tambahan di dalam novel itu. Shit. Mau sampai kapan, Em, menye-menye begitu?
Dan, here I am, mengurung diri di kamar, bergumul di dalam dua lapis selimut couple, menyumpal telinga dengan earphone yang menjuntai dari I-Pod berwarna merah muda. Lalu, memegang satu novel tebal yang aku bilang sial tadi sembari menatap hujan dari jendela yang sengaja aku buka gordennya. Sangat serasi dengan seting novel dalam naskah-naskah yang aku sunting setiap harinya. Aku sengaja melalukannya. Paling tidak aku bisa lah melupakannya, sebentar saja berada pada dimensi ruang yang berbeda, dengan menikmati me-time. Pengalihan dengan semua yang aku lakukan pagi ini sepertinya tidak cukup jika aku tidak mematikan alat komunikasi. Maka, semua akses seperti ponsel dan tablet galaxy 2 pemberian ayah pun sengaja aku nonaktifkan.
Pretending not to love you was the hardest thing I’ve ever done (Pretty Little liar, 2010 TV Series).
Ini kutipan yang baru saja aku baca pada halaman 395. Siaal! Bukannya teralihkan dari isu permantanan aku justru semakin tenggelam di dalamnya. Maka, tanpa lagi menunda, aku pun melepaskan novel tebal itu dan setengah melemparnya ke ujung tempat tidur. Helaan napas panjang itu menandakan bahwa ada sedikit lega. Aku ingin pengalihan bukan penguatan atas apa yang aku rasakan. Mimpi semalam, ah, sungguh tidak ada keingin lagi untuk mengingatnya. Tapi, entah siapa yang pertama kali menjadikan mimpi sebagai bagian dari bunga tidur jika yang dimimpikan adalah hal yang bahkan jauh dari keindahan. Bunga itu indah, dan mimpi berisi mantan kekasih yang ingin setengah mati dilupakan bukan suatu keindahan.
Kamu, ya, kamu, datang semalam tanpa permisi lebih dulu. Kamu datang dalam mimpiku dengan serta merta mengajakku berkenalan dengan orang tuamu. Sialnya lagi, aku hanya bersedia dengan segala macam tetek bengek kebahagiaan menggantung di pelupuk mata yang berbinar. Namanya juga mimpi, aku bisa melihat diriku sendiri di dalamnya sekaligus merakan apa yang dirasakan tokoh yang aku lihat. Oh, mimpi yang oh-so-absurd ini berlanjut ketika kamu kemudian menyebutkan bahwa lelaki yang duduk di kemudi mobil berwarna metalik itu adalah ayahmu. Ayah yang kamu banggakan dan selalu kamu sebut sebagai seseorang yang ingin sekali kamu tiru caranya melindungi istrinya. Lalu, ketika kemudian mataku beralih pada wanita di jok belakang, tepat di belakang ayahmu, wanita itu tersenyu, ramah sekali. Bahkan aku mampu menjadi pengagumnya di pandangan pertama. Itu ibumu, katamu. Ibu yang selama ini kamu panggil dengan ‘mama’ pada suatu ketika kita bersama dan beliau menelpon, menanyakan apakah kamu tidak lupa mengantarkan surat titipan untuk wali kelas adikmu yang tengah sakit.
Lalu, ketika aku jabat tangannya, tangan itu lembut sekali, tangan yang sering kamu bilang pandai mengolah masakan menjadi materpiecenya. Dan satu koemntar yang aku terima kemudian di sela jabat tangan singkat itu sungguh membuat hatiku bengkak.
“Ema, ya? Lebih cantik ya dari yang sering Pandu ceritakan pada mama.”
Aku hanya tersenyum. Dan seperti yang aku lihat, senyumku saat itu, semalam, sungguh senyum bahagia. Seerpti itukah raut wajahku ketika aku ada di sekitarmu, Ndu? Seperti itukah raut mukaku tiap kamu dengan sengaja datang mengetuk pintu apartemenku dan mengucap Aku kangen kamu di detik pertama aku membukakan pintu? Seperti itukah juga raut muka yang aku punya sebelum kamu bilang Kita sudahi saja ya semuanya? Lalu, seperti itukah raut muka yang rela kamu tinggalkan untuk pergi selamanya bersama gadis piliha orang tuamu. Orang tua yang baru saja kamu perkenalkan dalam mimpi semalam. Mereka memilih gadis terbaiknya untukmu, gadis yang tidak banyak mengikutseratakan orang tua dalam hubungan kalian, gadis yang tidak banyak protes ketika kamu mencetuskan sebuah isu untuk diperbincangkan dengan serius, layaknya para politikus berdebat di layar kaca televisi. Lalu, satu lagi, gadis itu adalah gadis yang usianya jauh di bawahmu, bukan gadis yang seurusia dengan mu atau lebih tua dari mu. Kamu masih ingatkan, kamu pernah bilang, ayahmu tidak setuju jika kamu menikah dengan wanita yang lebih tua dari mu, barang 3 bulan, seperti aku? Maka, selamat ya adalah kalimat terakhir yang aku ucapkan untukmu di hari pertunangan kalian hari itu.
Kamu tahu, Ndu, gambaran orang tua yang sungguh ramah, dengan suara berat ayahmu yang penuh wibawa, dan tangan halus mamamu yang kamu bilang pandai memasak itu hilang. Sama sekali. Bukan aku membenci mereka. Bahkan mereka berhak membuangku jauh di ujung kutub jika memang perlu karena mereka adalah orang tuamu yang ingin hal terbaik untuk hidup anak laki-laki satu-satunya. Tapi, Pandu, biasakah kamu pergi dengan membawa semua memori yang aku punya. Atau, paling tidak, bisakah kamu lempar aku ke masa lalu agar ketika siang gerimis itu aku mengatakan tidak saja atas ajakan kamu untuk kita berjanji menjadikan aku dan kamu menjadi kita?
Tanpa sadar, mataku terpejam. Bukan tidur. Aku menahan agar aku tidak terisak lagi. Oke, itu hanya usaha karena bagaimanapun aku berusaha, mataku tetap basah. Aku tetap terisak di tempat tidurku, berselimut couple yang entah kapan akan aku singkapkan untuk tidak lagi aku gunakan. Alih-alih membuangnya ke ujung tempat tidur, aku justru merapatkan selimut itu penuh hingga ke dahu, menyisakan kepalaku yang tampak tenggelam di antara bantal bersepreai coklat muda dengan motif batik pemberian Eyang Lebaran lalu.
Ting tong!
Aku tersentak, kaget. Bel sialan! Aku merutuk. Pukul 06.13 tertera pada jam digital di atas nakas. Siapa yang sepagi ini datang? Oh please, ini hari sabtu dan biasakan aku memperlakukannya sebagai hari sabtu dan bukan hari senin-selasa-rabu-kamis-jumat??
Mataku sembab ketika aku menghadap kaca. Sungguh pemandangan terkacau yang aku lihat. Rambutku yang masih tersanggul berantakan, piyama krem selutut yang tampak kusut, dan kerutan pada wajah bekas lipatan bantal dan seprainya sukses membuat wajahku lebih mirip zombie yang berkeliaran di serial The Walking Dead yang aku tonton setiap senin malam. Maka, aku raih kacamata nonminus dari laci nakas, sekadar menutupi lingkar hitam di bagian bawah mataku.
Ting tong!
Hhh, aku mendengus. Ingin sekali aku melempar apa saja yang ada di sekelilingku ke arah bel sialan itu. Juga ke pemencet bel yang kurang ajar pagi-pagi begini menyantroni seorang single menyedihkan seperti aku. Memangnya, tidak ada hari lain sampai sabtu-sabtu begini menggedor, oke, memencet bel berkali, di pagi buta pun?—karena menurutku pagi yang pantas diguanakan untuk bertamu adalah pukul 10.
Ting tong!
Shit!
“Iya, iya, bisa sabar nggak sih? Kelakuan banget ya.....”
Clek! Aku membuka pintu “.....pagi-pagi gini mencetin bel rum......”
“.......”
Aku terpengarah saat pintu benar-benar terbuka.
“Pagi, Mbak Ema.”
Aku menelan ludah. Menelannya besar-besar. Kalau pun bisa, menelan seluruh omelanku tadi, berharap tidak pernah ada yang mendengar dan bahkan tersakiti karenanya. Aku tersenyum getir.
“Pagi.” Aku membalas sapaannya. Klasik. “Ada apa Mas?” Tanyaku saat kesadaranku benar-benar sudah meraja, menyadari bahwa yang tengah ku hadapi adalah asisten bosku, Mas Arya, yang ketika aku sapa ia tampak menahan senyum. Mungkin ini baru pertama kalinya ia melihat diriku versi zombie begini.
“Maaf sekali mengganggu hari sabtumu. Tadi saya telpon dan sms tidak ada yang terjawab. Jadi saya ke sini.” Tanpa sengaja aku menggigit bibir bawah. Tentu saja tak terjawab karena semua sarana komunikasi aku matikan.
“Maaf, Mas, belum sempat saya hidupkan lagi sejak semalam.” Bohongku padanya.
Wajah tirusnya masih tersenyum ketika menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Kemudian, tangannya tampak terulur, menyodorkan sebuah amplop coklat.
“Bos minta saya mengantarkan naskah ini. Penulisnya minta rilis sebelum valentine dan....” Ia menyodorkan amplot coklat lainnya. “Ini titipan dari bos yang kedua. Katanya sebagai ganti hari sabtu yang seharusnya mbak nikmati sebagai hari libur.”
Aku tersenyum lagi, tapi mungkin lebih getir dari sebelumnya. Sialan banget. Model-model bos nyogok gini yang nggak bisa aku tolak. Arrgh!
“Jadi, harus kapan saya kumpulkan naskahnya, Mas?”
Dia tampak melihat buku agenda yang sengaja ia pegang, tidakia simpan di dalam tas. “Kira-kira, dua minggu lagi, bisa?” Aku menganga tanpa sadar mendengar tenggat waktu yang diberikan. Mataku beralih seketika ke amplop coklat nan tebal luar biasa di tangaku.
“Ini penting dan ketika nanti rencana pembuatan film dari naskah itu diterima, kemungkinan Mbak dipromosikan sebagai kandidat ketua editor, kata bos, lebih besar.
Bagus! Terus saja menjual janji manis.
“Oke, aku usahakan ya. Dan sampaikan pada bos, saya memilih mengerjakan ini di rumah.” Kataku, pasrah.
“Baik, Mbak.” Sahutnya, sembari membereskan buku agenda di tangannya, memasukukkannya ke dalam tas yang ia bawa di tangan kiri.
“Kalau begitu, saya mohon pamit. Semoga lancar ya, Mbak.”
“Iya, Mas, terima kasih.”
Setelah Mas Arya pulang dan pintu tertutup, aku mencelos, melorot di sofa sembari menatap nanar amplop coklat di pangkuanku berisi naskah novel kejar tayang. Lalu beralih ke amplop satunya, yang ternyata setelah ku buka, berisi tiket liburan ke bali bulan Februari nanti lengkap dengan voucher gratis belanja gila di Joger. Saya harap bonus ini bisa menjadi ganti lemburmu selama dua minggu ke depan, Ema. Tulisan itu terselip di tumpukan paling atas dari tiket dan sejumlah voucher yang kusebutkan tadi. Aku menghela napas, pasrah.
Sabtu? Me-time? Good Bye! Melow drama ala telenovela, good bye juga. Aku harus berubah sedemikian rupa menjadi wonder woman yang bisa dengan sigap mengganti suasana hati seketika dari menyedihkan-penuh-luka dengan penuh-bahagia-ceria-sepanjang-masa. Sulit? Pasti. Dan aku harus berjuang dengan segala macam tenaga yang aku bisa. Kecuali, aku akan menjadi satu-satunya manusia berdosa di kantor karena sudah mengabaikan tugas gara-gara mimpi dan mantan sialan, lalu menyebabkan tiket liburan yang menggiurkan itu dibatalkan secara tidak hormat.
Pagi masih hujan ketika aku kembali dari kamar mandi, mencuci muka. Aku memlih duduk di sofa ruang tengah, di depan televisi yang aku biarkan mati. I-Pod warna merah jambu tadi, kembali aku sumpalkan earphone nya ke telinga. Cukup itu saja dan aku tidak butuh selimut couple dua lapis itu. Aku butuh pengalihan dan mungkin rasa dingin beserta setumpuk naskah tebal ini adalah pengalihan terbaik yang aku dapatkan.
Mery, nama itu sungguh mencekam jika dikaitakan dengan tokoh hantu Amerika yang gemar muncul di depan cermin kamar mandi setelah dipanggil namanya sebanyak tiga kali.
Kalimat awalan itu yang kemudian menyapa lensa mataku, menenggelamkan otakku, menjadi pengalihan dari elegi pagi yang belum sepenuhnya pergi.
-end-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar