Sabtu, 17 Agustus 2013

Lima Menit Kemudian

bahkan satu detik ke depan pun bukan milik kita

jika bisa, akan aku minta Tuhan membuat setiap minggunya menjadi 8 hari. bukan karena aku ingin memperpanjang waktu akhir pekan. Hanya saja, waktu seminggu dengan 7 hari di dalamnya dan segala yang berulang pada tujuh hari berikutnya membuatku memerlukan satu hari yang berbeda, satu hal tanpa pengulangan, yang selalu bisa aku banggakan kekontrasakannya dengan hari lainnya. Hari ketika aku hanya bisa berada pada dunia yang aku inginkan saja. Hari ketika aku bisa hidup tanpa harus ada bayangan kepergianmu mu yang seakan selalu menggantung di pelupuk mataku di detik pertama aku terbangun dari tidurku. Hari ketika aku bisa mengukur detik tiap detik yang aku punya tanpa takut kehilangan setengah memori yang dulu pernah kamu hapus hanya dalam waktu 5 menit lamanya.

Aku memang tidak pernah membuangnya. Bahkan seringkali, berusaha melupakan justru lebih menyakitkan dibandingkan ketika tetap memutuskan untuk tetap menjaganya ada. Akan ada pelajaran di baliknya dan aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk turut meraihnya.

Bukannya kamu ingat kejadian lengkapnya? versi komplit dari putaran cerita yang terus berulang tiap kali aku melihat wajahku sendiri di depan cermin setiap harinya. itulah perulangan, salah satunya, yang ku maksud tadi.perulangan yang tiap menitnya menyisakan tanya, "Apa aku sanggup lupa?"

Jadi begini, kamu datang pertengahan bulan Juli tahun lalu. tentu saja tanganmu tidak kosong. ada seikat bunga harapan di genggamanmu lewat satu uluran tangan yang tak sengaja aku terima pada buku yang aku jatuhkan.
"Brian." begitu katamu setelah ucapan terima kasihku berikut senyum basa-basi ala sopan santun orang timur.
"Nia." sahutku tanpa mengurangi kadar sunggingan yang semakin dalam di kedua ujung bibirku.

Hari itu, kita resmi saling mengenal. Sebagai informasi tambahan, keberadaanmu bukan hal asing bagiku di kantor IT sebesar ini. Kita memang berbeda devisi, tapi kabarmu sudah meliputi seluruh ruang kerjaku, khususnya di meja-meja teman-teman wanitaku. Di ruangan ini, semua wanita adalah penggemarmu. Ah, oke aku akui, aku salah satunya dan aku menikmatinya: selalu berusaha menyertaimu dalam lift yang sama, berangkat maupun pulang kantor. Satu hal yang membuatku berbeda adalah perkenalan kita bukan perkenalan formal yang terjadi di ruang rapat pada pertemuan kerja pertama kali. Perkenalan kita terjadi sebelumnya, tepat di depan lift sebelum rapat koodinasi tadi dimulai. Dan sejak itu, aku bisa sering menyapamu di kantor bagian manapun. Bahkan kamu menjadi sering menyapaku lebih dulu, mengajakku makan siang bersama lebih dulu. Jangan ditanya bagaimana reaksi teman-teman wanita satu divisiku: meledekku setengah mati dengan rasa iri yang tidak lagi bisa tersembunyi.

Beberapa bulan kemudian aku menjadi bahan pembicaraan teman-teman satu kantor karena kedekatan kita. Kamu bahkan tidak malu memperkenalkan ku pada teman-teman nongkrongmu pada suatu malam minggu yang senggang. Asal kamu tahu, tidak ada hal lain yang membahagiakan selain ketika mengingat bagaimana kamu sangat menjagaku dengan memililih jalanan lengang karena jalan utama menuju pasar malam waktu itu terlalu padat. "Aku tidak ingin kamu berdesakan dengan laki-laki lain." hampir pingsan aku mendengarnya. kamu romantis. Termasuk juga ketika kamu sangat melindungiku di kala hujan tiba-tiba turun deras padahal kita baru saja berniat menghabiskan permainan lainnya sebelum tengah malam tiba. Dan akhirnya kita pun berteduh selama berjam-jam di sebuah kedai kopi dekat pasar malam. memesan dua gelas cappucino yang cukup bisa menghangatkan baju kita yang basah. pada akhir malam ketika kamu mengantarku pulang setelah hujan reda, kamu menyerahkan bunga harapan yang pernah aku lihat di perkenalan pertama kita. menyerahkan sepenuhnya untuk bisa aku jaga hingga ia bisa mekar dengan subur di dalam hati kita berdua.

Dua bulan sampai empat bulan selanjutnya adalah hal paling membahagiakan yang pernah aku rasakan bersamamu. Tidak mewah memang, hanya spesial: tidak harus ada nyala lilin dan main satin dengan lampu remang jika memang makan malam yang kita lakukan. Sampai akhirnya hari itu tiba, hari ulang tahunmu dan kamu baru saja pulang dari ibu kota untuk menghadiri sebuah pertemuan kerja sama antar negara sebagai perwakilan perusahaan. Kamu bilang, kamu terlalu lelah sampai akhirnya tidak masuk kerja sehari setelahnya, tepat hari itu. Mungkin karena kamu terlalu lelah pula maka kamu sampai lupa hari spesial macam apa yang seharusnya kamu sadari.

Aku sudah bersiap dengan pakaian kasual di depan cermin, berniat ke rumahmu untuk memberikan kejutan di hari spesialmu. Aku tersenyum tipis ketika membayangkan wajah kantukmu dengan lipatan di pipi dari kerut bantal dan seprai. Meski belum mandi dan gosok gigi, aku menyukainya. Kamu lucu sekali dengan ekspresi itu. Dan senyum tipis tadi pun semakin mengembang.
Tingtong! 
Suara bel itu yang kemudian membuyarkan lamunanku, membuatku menoleh ke arah ruang tamu, seseorang datang. Aku bawa serta tas di sisi kiri ranjangku supaya nanti setelah tamu pulang, aku akan bisa langsung berangkat ke rumahmu. Tapi, niat itu tidak terlaksana karena ketika satu menit kemudian aku menemukanmu di depan pintu, menunggu disambut setelah memencet bel beberapa saat lalu. Tentu aku terkejut karena ku kira kamu masih istirahat di rumahmu.
"Aku ingin bicara." ujaran itu yang kemudian aku dengar. Aku mundur selangkah ke dalam rumah, mempersilakan kamu masuk tanpa bicara. Kamu pun duduk dan diam dua menit kemudian.
"Katamu mau bicara?" aku mencoba membuatmu bicara. Ini sudah menit ketiga. Bukannya bicara yang ingin diutarakan, kamu justru mendekatiku, merangkulku, dan memeluknya erat.
"Aku tidak bermaksud apapun padamu." ujarmu empat menit kemudian. Aku mengerutkan keningku. Saat itu tepat pukul 15.55 pada arlojiku. 
"Aku akan menikah minggu depan dengan tunanganku, calon istriku." Dan itu ujaranmu lima menit kemudian yang meluncur bebas dari mulutmu, tepat pukul 16.00. tanpa tedeng aling-aling, tanpa terlebih dulu mengantarkan pendahuluan. Sementara menit itu berjalan menjadi yang keenam, aku masih terpaku pada wajamu, menatapnya lekat, mencoba mencari sisi dirimu yang aku kenal empat menit lalu. Asal kamu tahu, kamu mematahkan semuanya dalam waktu yang sesingkat-singkanya: gemarnya diriku padamu, sayangnya dirimu padamu, kenangan olokan teman pada kita yang masih berdenging di telingaku, juga rencana kejutan yang masih bisa aku ulang datu demi satu. kamu menghapus semuanya. sekejap. tanpa jeda. sementara aku tidak tahu harus melakukan apa selain berdiri dari kursi tamu dan menyertmu keluar. tidak ingin lagi mendengar segala alasan yang kamu punya. 
Satu pertanyaan yang sebenarnya ingin aku lontarkan di antara ketukanmu pada pintu dari luar ketika itu adalah: Jika memang kamu sudah pernah memberikan bunga harapan yang sama pada tunanganmu, mengapa kamu memberikannya juga padaku? 
Dan kamu akhirnya pergi dari sana setelah hari menjelang malam. 
Hari setelahnya aku tidak menemukanmu di kantor. Setelah bertanya sana sini, ternyata kamu mengudnurkan diri. Kepergianmu ke ibu kota bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban pemenuhan kerjasama antar negara, tetapi juga sebagai pengajuan pengunduran diri yang tadi. Itu juga yang menjadi alasanmu tidak masuk kantor pada hari ulang tahunmu. kamu bukan ijin karena lelah, tapi karena hari itu hari pengunduranmu sudah terhitung. Kamu bukan lagi rekan kerjaku. Kamu telah menjadi tunangan dan suami wanita lain sepertiku: yang mencintaimu setulus yang aku bisa dan sedalam yang aku mampu. Meski dalam surat terakhir yang kamu kirim bersama undagan pernikahanmu kamu bilang kamu tidak pernah bermain-main tentang hatinya untukku, kenyataan bahwa kamu memilih pergi dan datang padanya tidak bisa terganti.

"Mbak Nia?" 
Aku terperanjat, hampir saja menjatuhkan vas bunga di sisi meja kerjaku.
"Ya?" sahutku segera berusaha bersikap biasa.
"Sudah ditunggu Bos di ruang meeting." Jawabnya. Aku mengangguk, berusaha mengatur nafas dan membereskan segala macam berkas di hadapanku. Meeting ini yang kelima dan akan segera berakhir. Sudah ku bilang kan, aku butuh akhir pekan ekstra, 1 hari saja sehingga menjadi 8. Bukan sekadar agar aku isstirahat dari semuanya, tapi agar aku akan bisa kembali merasakan bahagia yang pernah ada sebelum kejadian 'lima menit kemudian' yang kamu buat. 
Hhh. Dan hembusan nafas itu yang kemudian mengantarku bangkit dari kursi. berharap meeting ini akan cepat usai dan cerpat berganti dengan senyum di pipi. 

Finara


Jumat, 16 Agustus 2013

Tombol Pengingat


Namanya Rangga, Rangga Yuda. Jika ditanya dimana aku menemukannya pertama kali adalah rumah sakit.
Selain durian, rumah sakit adalah satu hal lain yang aku benci. Bau karbol lntainya, warna-warnanya yang selalu putih, suara geladak roda ranjang berjalan, bunyi desas-desus para dokter dan perawat. semuanya. Aku tidak pernah paham, mengapa semua orang bangga menjadi pegawai rumah sakit. Bahkan tempatnya saja banyak dikatakan sebagai sumber cerita seram. Untuk berhasil membuatku beranjak dari rumah untuk kemudian mengunjunginya, perlu banyak hal yang bunda lakukan. Aku mengidap sirosis dan sejak kecil rumah sakit menjadi tempat 'bermain' ku selain Kids Fun. Dan sekarang, di usiaku yang hampir 17 tahun, penyakit itu tidak kunjung pergi, justru semakin parah. Dokter bilang, aku harus sering check up dan itu membuatku menjadi lebih sering mencium karbol lantai, melihat warna-warna putih, mendengar suara geladak roda ranjang berjalan, juga desas-desus para dokter dan perawat.

Kembali pada Rangga. Pertama kali aku melihatnya adalah ketika tanpa sengaja aku memergokinya merayu seorang perawat cantik di dekat loket pembayaran. Memalukan, itu kesan pertama. Tapi, semakin menyebalkan, pertemuan selanjutnya semakin terasa jauh dari kebetulan: Sekali, dua kali, tiga kali. Aku berlanjut melihatnya pada kunjangan kontrolku berikutnya. Dan ketika ku tanyakan pada pihak informasi, aku baru tahu bahwa ia adalah salah satu pasien rawat inap sejak 3 minggu sebelumnya. Sakit apa? Aku juga tidak ingin tahu. Melihat tampilannya saja aku sudah jengah. Bukan karena dia pucat dengan ludah terus mengalir di bibir. Tentu bukan begitu. Dia justru terlihat sehat wal afiat. Matanya bulat menyala, dagunya tegas, alisnya tebal. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia pantas dinyatakan sebagai orang yang layak disebut 'penderita penyakit'. Iri? pasti. Keadaannya yang sehat membuatku merasa tersindir: kelopak mata cekung dengan lingkar hitam di bawahnya membuatku lebih mirip pesakit yang tidak kunjung bisa tersenyum bahagia. Jujur, aku tidak menyukainya.

Namun, siapa sangka, benci itu perlahan luntur satu demi satu. Semakin sering aku melihatnya, semakin aku tahu apa saja yang dilakukannya. Dan ketika akhirnya aku mengenalnya, ternyata ia menyenangkan. AKu merasa bersalah dengan anggapanjahatku pada awal melihat tingkahnya. Dia juga ramah pada semua orang. Keramahan itu juga yang membuatku mengenalnya. Entah apa yang dimilikinya, tapi ia berhasil membuatku betah berada di antara warna putih yang mulanya sangat aku benci. Itu pertama kalinya aku menyukai keberadaanku di rumah sakit dan Ranggalah penyebabnya.

Hal lain yang paling membuatku merasa bersalah adalah bahwa anggapan jahatku tentang kondisnya yang sehat tidak benar. Dia benar-benar sakit: kangker paru-paru dan mungkin jika diukur menurut perhitungan dokter, usiaku masih jauh lebih lama dibandingkan miliknya. 3 bulan, hanya 3 bulan lagi dan ia resmi menjadi salah satu penghuni kamar mayat rumah sakit ini. Ku tahu itu darinya, langsung. Bahkan sedikitpun ia tidak menunjukkan kesedihannya. keceriaannya itu justru yang selalu menyorotku dari tatapan matanya. 
"Waktukuyang sedikit ini akan terlalu sia-sia jika aku gunakan untuk bersedih, Dela." ujarnya waktu itu. Aku hanya diam menanggapinya, sembari membenarkannya di hati.
Sejak itu, ia mengajarkanku untuk mengeja waktu yang singkat dengan segala macam hal yang membuatku lupa sejenak bahwa aku harus mengonsukmsi segepok obat dan melakukan segenap terapi yang bisa membuatku gantung diri karena bosan. bahkan ia menjadikan warna putih rumah sakit yang sungguh menjengahkan menjadi warna putih yang teduh. Aku resmi menyukainya.


***

Semuanya sudah pulang, hanya sepiyang kemudian menjadi pagar yang melingkari tempat aku berdiri. Aku sengaja datang terlambat. Aku hanya ingin privasi, bukan publikasi. Bunga yang bertaburan itu masih segar dan aku yakin, Rangga masih mampu melihatku di sini meski samar. 
Ini adalah hari pemakanan Rangga. Sesuai 'jadwal' yang dokter katakan, ia meninggal 3 bulan sejak pertama aku mengenalnya, sejak pertama aku nyatakan bahwa aku membenci tingkah polahnya. Dia telah pergi selamanya. saat kemudian aku melirik tangan kiriku, benda itu ada di sana: origami burung bangau. Rangga yang membuatkannya untukku seminggu sebelum kepergiannya.
"Menurut kepercayaan, burung bangau ini akan menjadi satu pengabul permohonan dalam hidupmu." Kata-kata itu kembali teringat di benaknya ku, membuatku tersenyum tipis antara lelehan air mata yang tanpa terasa menderas. Burung bangau ini akan selalu menjadi tombol pengingatku padanya. Tombol pengingatku untuk terus tertawa dan bahagia. Pengingatku tentang permohonan yang akan jauh lebih mudah terkabul jika aku membuatnya dalam jumlah 1000 burung banyaknya. Juga pengingatku tentang ajarannya tentang bagaimana caranya memperlakukan tiap helai waktu dalam hidupnya untuk terus bahagia. Mungkin, tidak makan waktu lama aku pun akan menyusulnya. meski Tuhan tahu permintaanku sejak dulu tentang donor hati dan kesembuhan, aku harus siap. aku sudah siap. toh aku tidak akan sendiri. akan ada Rangga di sana yang siap menyambur bahagia dan menemaniku dengan ceria. 

Finara_



Rabu, 14 Agustus 2013

Sepasang Sepatu Tua

Aku selalu hafal sepatu tua abah, sepatu berwarna coklat dengan tali yang sudah mulai berganti jenis: dari tali sepatu asli ke tali kolor yang beliau ambil begitu saja dari celananya. tali yang seharusnya sudah raib digondol tikus got. mungkin karena aroma sepatu abah terlalu mirip dengan aroma tubuh tikus itu sehingga si tikus tadi mengiranya sebagai ekor milik temannya yang mati disambar mobil ambulans pagi hari.

Setiap kali aku pulang sekolah, aku akan melihat sepatu abah di depan pintu rumah, berjejer sepasang dengan rapih. Bukan karena abah tidak berangkat bekerja seperti layaknya seorang ayah lainnya. abah bekerja, tapi jam kerjanya bersamaan dengan jam tidurku. kata abah, pada malam hari akan ada lebih banyak rejeki yang beliau dapatkan. eits, abah bukan laki-laki germo lho. abah adalah pemulung. dan setiap pukul 9 malam, abah akan keluar rumah sembari membawa keranjang di punggungnya. mendatangi rumah demi rumah untuk menemukan apa yang menurutnya masih pantas dikatakan 'barang siap pakai'. tentunya, sepatu tua berwarna coklat kesayangannya tadi beliau dapatkan dari sana. dulu, ketika aku masih belum bisa ditinggalkan sendiri di rumah, abah selalu menggendongku. emak sudah meninggal sejak aku dilahirkan. jadi, akulah yang menjadi saksi perjuangan abah di malam hari mencari nafkah demi aku bisa bersekolah sampai hari ini.

*** 

ini hari minggu dan yang aku tahu tidak ada hari libur untuk abah. seperti biasa, jika hari minggu tiba aku akan menunggu beliau pulang di depan pintu dengan wajah ceria. akan ada satu momen istimewa yang kami lewati tiap minggunya: makan pagi bersama. menunya tidak mewah. hanya nasi dan ikan asin. itu cukup karena yang lebih penting bagiku adalah makan pagi bersamanya seperti layaknya anak dan ayahnya, seperti layaknya orang-orang kaya lakukan, seperti layaknya putri dan raja di sebuah istana indah.

sudah pukul 9 dan abah belum juga muncul dai kelokan terakhir di sebelah barat rumah kami. aku masih sabar karena memang abah sering kali terlambat.
"maaf, tadi abah mampir dulu ke toko buku untuk membelikan ini untukmu, Seruni." ujarnya suatu waktu lalu sembari menyerahkan dua buah buku pelajaran bekas padaku. cemberutku pun seketika hilang dan tergantikan dengan haru.

dan karena itulah aku yakin, abah terlambat dengan alasan yang sama.

"apa ya yang kali ini abah bawa?" batinku.
tapi, ketika jam dinding peninggalan ibu sudah menunjukkan pukul setengah 10, lalu 11, lalu 12, dugaan awal tadi tidak lagi berlaku. aku pun mulai berfikir macam-macam. bagaimana kalau terjadi sesuatu pada abah? bagaimana kalau abah tidak bisa lagi pulang dan ia sambut di depan pintu seperti biasa bagaimana kalau....
"Seruni!" seruan itu membuyarkan lamunanku,
"Abah kamu..." aku tidak lagi mendengarkan alasan di belakang ujaran barusan. aku hanya berlari tanpa sempat menutup pintu, tanpa sempat memastikan rumah terhindar dari tikus got yang mungkin saja masuk.
dan di sana, di kelokan ketiga aku melihat simabahn darah. bukan darah tikus got yang biasa terciprat karena terlindas kendaraan bermotor. itu darah manusia. itu darah abah. wajahnya meamng tidak lagi tampak. saksi bilang, abah ditabrak orang tidak dikenal, semalam. dan baru saja ditemukan oleh sesama pemulung, dari desa tetangga. aku tahu itu abah dari kakinya, dari sepatunya, sepati tua berwarna coklat kesayangannya.

Senin, 12 Agustus 2013

Kotak Surat


Ini tulisan saya yang ketujuh untuk hari ke dua belas #CeritaDalamKamar. mudik ke rumah saudara di Cirebon membuat saya nyaris tidak sempat untuk nulis. bukan hanya karena jalanan macet yang kadang bikin kreativitas agak tersendat, tapi jadwal berkujung yang sungguh di luar jadwal membuat saya memilih 'leyeh-leyeh' di atas kasur daripada di depan laptop *fiuh!

tema kali ini tentang kotak surat. ini bukan tentang kotak surat pada umumnya yang biasanya digantung di depan rumah. bukan pak pos juga yang memasukkan surat-surat itu ke dalamnya, melainkan saya. kotak surat ini milik saya. saya simpen sejak masuk kuliah. tapi, isinya memang sudah saya kumpulin sejak ponsel masih jadi benda tersier dalam pelajaran ekomomi, hehehe :p

awal pengumpulannya sih ketika saya duduk di bangku SMA. karena saya memang tinggal di asrama dan tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi bernama ponsel, media surat ini sangat membantu. paling banyak memang surat-surat curhatan antar teman dan sahabat yang berbeda asrama. curhatan tadi paling banyak tentang masalah pertemanan. maklum lah, tinggal di asrama gak sama dengan tinggal di kos jaman kuliah. di kos saya punya kamar sendiri, tempat tidur sendiri, kamar mandi sendiri. sedangkan di asrama, semuanya bersama-sama. berkumpul dalam satu kamar dengan minimal 7 orang berikut sifat dan karakter serta suku yang berbeda, tidak bisa menghindari terjadinya masalah di antara kami semua.entah itu masalah pelajaran, hati, perasaan, rebutan lauk makan, sampai masalah peminjaman buku catatan yang kadang bikin gedeg orang.

nah, kegiatan belajar kami yang sangat padat, membuat kami tidak sempat sering bertatap muka. jadi, surat itulah yang jadi jembatan komunikasi. kalsik banget ya? tapi, itu asik loh. itung-itung mengenang jaman surat masih jadi alat komunikasi utama, terutama yang pada LDRan *tsaah.


selain surat-surat curhatan yang sering ditulis dengan nangis bombay tadi, ada juga beberapa surat atau sebut saja kartu ucapan ulang tahun. saya selalu simpan surat-surat itu baik-baik. lucu juga lho kalo dibaca lagi entah beberapa tahun berikutnya. mengingat lagi bahwa ada banyak orang yang masih peduli dan rela meluangkan waktunya untuk sekadar menulis larik demi larik ucapan tadi, baik yang diselipkan di antara kado atau hanya terselip di bawah bantal tempat aku biasa meletakkan kepala setiap tidur.

yang saya inget dari semua surat yang ada itu adalah satu surat perdamamain yang dikirim olehs alahs atu sahabat baik saya. kenapa perdamaian? ya, kami bertengkar. jujur, hari-hari ptertengkaran kami itu hari terburuk semasa saya SMA dulu. bisa diabyangkan kan, teman yang biasa barengan kemana-mana, tiba-tiba marahan sama kita? itu juga salah saya sih awalnya: salah paham.dia marah besar, gak perlu juga saya ceritin di sini ya detail masalahnya, hehehe.
surat itu dia kirim juga karena temen-temen aku yang minta. mereka tahu aku nangis tiap hari gara-gara sahabat aku ini gak juga mau membalas sapaanku tiap kami ketemu. dia memang tersenyum, tapi saya tahu di dalam hatinya dia marah.

satu kalimat yang saya ingat dari tulisannya di surat itu adalah "Banyak kata yang tak mampu aku ungkapkan kepadamu..." *jleb!
dan surat itulah yang kemudian memaksa kami bertemu lagi dan akhirnya kami saling memeluk, menangis di pundak dengan perasaan lega *hiks!



meski sudah tergolong kuno, boleh lho dicoba untuk menuliskannya daripada dikatakan secara langsung.
kesannya kalau ingin menghayati lebih kerasa romantisnya. apalagi untuk urusan surat cinta. ini sih untuk saya ya, kalau teman-teman gimana? masih ada yang simpen surat cintanya jaman sekolah dulu?? :D