Minggu, 20 Oktober 2013

potret (tak) berbingkai

Aku selalu menyukai perjalanan dengan kendaraan umum yang aku lewati. Ini bukan berarti bahwa aku adalah seorang traveler, bukan. Aku hanya sebagian dari banyak warga 'penikmat' kemacetan Jakarta.

"Ya ampun Ra, ngapain harus merutuki kemacetan jika kamu bahkan masih saja menikmati uang atas keringat yang berjuta kali mentes di tanah Jakarta?" begitu kata Dina, salah satu desainer grafis di penerbitan tempat aku bekerja sebagai editor.
Aku tertawa mendengarnya dan dengan cepat membenarkannya tanpa jeda setelah kedua bibirnya mengatup. Bahkan jika harus memutuskan untuk pergi dari Jakarta, aku tidak tahu berapa kerutan lagi yang akan bertambah pada wajahku saking lamanya keputusan itu akan muncul.

Kegemaranku pada perjalanan dengan kendaraan umum bukan dari bagaimana aku bisa bebas dari antrean panjang pembelian BBM di pom, bagaimana aku bisa bebas dari pencarian tempat parkir yang selalu padat, atau bagaimana bingungnya aku dengan jadwal servis kendaraan pribadi yang bisa saja mengulur waktu kejar deadline yang super ketat untuk pengerjaan beribu naskah di meja yang tiap harinya pasti bertambah. Kegemaranku pada perjalanan murni karena aku menikmatinya; bahwa aku bisa menikmati dunia lain di antara hiruk pikuk jalanan lewat kaca bening di sisi kanan atau kiri tempat aku menunggu untuk diantarkan pergi dan pulang. Itu mengapa aku selalu memilih posisi tepat di tepi jendela: entah duduk, entah berdiri dalam desakan penumpang lain. Dari sana, aku bisa melihat segala hal, bermacam hal. Asap yang mengepul, debu yang sanggup menimbulkan berpuluh jerawat dan masalah kulit lainnya, pincingan orang-orang berseragam dan bersepatu yang tidak tahan dengan deru motor para ABG labil yang sengaja dikeraskan, derap kaki kecil dari anak-anak penjaja koran harian, usapan peluh pada leher dan dahi para tukang parkir, semuanya. Potret tak berbingkai, begitu ayahku menyebutnya. Kegemaran itu aku peroleh dari ayah. Ayah yang mengajarkannya hingga menjadi satu warisan tak terlihat yang beliau tinggalkan sejak 2 tahun beliau pergi ke haribaan Tuhan.

Dari pemandangan itu, aku bisa melihat betapa hidup yang lama dari tiap orang bisa dirangkum sejenak dalam satu bingkai besar kaca kendaraan: entah kaca mobil travel dalam perjalanan jauh dari ibu kota ke kampung halaman, atau sekadar perjalanan dari rumah ke kantor yang dilalui dengan taksi, busway, atau angkutan kota. Betapa tiap kerutan pada kening kakek penjual kerak telur yang aku lihat bisa menceritakan hal yang berbeda jika dilihat pada bingkai yang berbeda: pagi, siang, sore, malam. Betapa asap dan debu jalanan bisa menjadi satu harmoni yang menunjukkan bahwa kota Jakarta ini masih bernafas seperti biasa dan menawarkan banyak pilihan warna yang bisa saja lebih indah dari permuakaannya.

Dan sore itu, saat aku menemukannya di sana, di satu bangku angkutan kota: duduk di tepi jendela, tengah tertidur dengan memegangi tas hitamnya. Sejauh mata memandang, ada kamera DLSR menggantung di leher yang tampak berkeringat. Rambut cepaknya yang agak berantakan dan kausnya yang sudah agak kusut memunculkan dugaan bahwa ia sudah berada di luar seharian. Deru mesin mobil sama sekali tidak mengusiknya. Aku mengitarkan pendangan ke kursi lain, tapi hanya ada satu kursi itu yang tersisa dan bagian tepi jendela sudah didudukinya. Tanpa lagi banyak berfikir, aku putuskan untuk duduk di kursi seadanya. Toh aku masih bisa tetap melihat keluar.

Sore yang mulai berubah menjadi malam ini menyajikan banyaknya wajah-wajah lelah sepulang kerja, lampu-lampu toko yang mulai berpendar dinyalakan, juga sebagian badan jalanan yang mulai ramai oleh pasangan muda berkendaraa berdua. Ah, malam minggu dan aku masih saja sibuk dengan segala macam tetek bengek pernaskahan yang belum juga berkurang jumlahnya sejak pertama kali aku bekerja. Dan sekarang, di saat pasangan-pasangan tadi sibuk berkencan, aku masih sibuk berkendara di angkutan umum yang masih berjalan malas menuju tujuan rumah masing-masing penumpang. Yang menjadikannya agak berbeda adalah bahwa sekarang di sampingku tengah duduk laki-laki yang, jika diperhatikan, tidak kalah tampan dengan vokalis band asal Inggris, Lawson. Mukanya lonjong, tulang dagunya tegas, hidung kecilnya yang mancung, dan tampak bekas-bekas jambang yang rapih tercukur.
Jadi, daritadi ngadep jendela cuma biar bisa punya alasan untuk bisa sekalian ngadep ke cowok di samping, Ra??
Begitu suara kurang aja di dalam otakku bicara, membuatku terkesiap. Kadang-kadang, suara-suara ini minta di-mute supaya hidupku sedikit lebih tenang. Gak bisa banget liat orang senang.
Udah, biasa aja kali ngeliatinnya. Suara lain nimbrung ketika aku mulai menyadari bahwa alisnya yang tipis tampak menonjol pada tulang matanya dan, hey, rambutnya ternyata agak ikal jika dilihat dari dekat seperti ini.
Sialan. Aku merutuk atas kekonyolan yang aku lakukan. Bagaimana kalau dia ternyata menyadari aku sedang melihat, atau lebih tepatnya, menelanjangi wajanhya sedari tadi? Bagaimana kalau kemudian dia membuka matanya dan bilang Betah banget ya ngeliatinnya, Mbak? Dan bagaimana kalau tiba-tiba dia ....
Astaga!
Sentakku dalam hati tiba-tiba ketika wajah yang semula --sempat-- aku pandangi itu sebelah pipinya kini sudah menempel di pundakku. Pundak kurus yang sering kali menimbulkan ejeken "Pundak kok tulang doang" dari adik laki-lakiku. Laki-laki Lawson ini bahkan sama sekali tidak merasa terganggu dengan benjolan tulang yang bisa saja membuat tulang pipinya nyeri berlama-lama menempel di sana.
Ya Tuhan, aku harus gimana??
Ciiiiit! Rem mendadak itu yang kemudian mendecit dan....
Duk! 
"Aduh!" serunya, seruku. Kamu berseru bersama. Dahi kami berbenturan gara-gara rem mendadak tadi.
"Motor gak tau diri. Udah bosan idup kali ye." Si supir merutuk.

"Eh maaf, ya." Ujarnya, membuatku berpaling dari supir ke arahnya. Aku tersenyum, mengangguk. Dia pun ikut tersenyum.
"Maaf juga, tadi..." lanjutnya tak selesai sambil mengelus perlahan kepala sebelah kanannya. Aku tertawa kecil dan langsung paham maksudnya.
"Iya, gakpapa kok." Kalau bisa sih lebih lama, Mas. Batinku sesaat yang buru-buru aku lempar jauh-jauh.
"Pulang kerja?" tanyanya.
Aku mengangguk lagi. "Lembur sih, tepatnya."
"Oh, dimana?"
"Jalan Palmerah Selatan."
Dia spontan melihat nametag yang menggantung di saku kiri atas kemeja putihku. "Penerbit ya?"
"Yup!"
Aku melirik kamera DLSR yang sejak pertama kali tadi tampak menarik bagi mataku.
"Fotografer?" tanyaku balik.
"Yup!" jawabnya menyamai jawabanku. Aku tersenyum lagi. "Ini bukan sekedang pekerjaan buatku, tapi juga hobi." Jawabnya sembari menimang kemerannya. Ada beberapa jeda waktu yang membuat kami berdua terdiam. Andai saja ini adalah sebuah video yang tengah diputar, aku akan menggerakkan kursor untuk kemudian meng-klik beberapa detik ke depan agar kesenyapan ini tidak pernah terasa.  

"Emm, Mas, boleh tukeran duduk ga? Jadi Masnya ke sini, biar saya yang duduk di dekat jendela." kataku memecah kesenyapan. Dengan wajahnya yang masih setengah mengantuk, dia tampak bingung mendengar permintaan --yang menurutku-- konyol. Tapi dengan sigap, dia pun segera berdiri, keluar dari deretan dua kursi, dan membiarkan aku duduk di tempatnya semula, di sebelah kirinya.
"Makasih, Mas," ujarku setelah kami berdua duduk kembali.
"Fajri." Aku menoleh, mendapati tangannya mengulur ke arahku. Aku menyambutnya.
"Oh, Aira." Dia mangangguk sekali.
"Mabuk?" ujaran itu membuatku menoleh padanya yang tengah memandang ke arah ku. Ya Tuhan, boleh kan bagian ini di-skip saja? Aku tidak sanggup merasakan sensasi geli di perutku saat menyadari matanya yang bulat tengah menatapku dengan teduh.
"Ya?" Aduh, kenapa 'ya' sih??! Aku merutuki diri. Memalukan. Saat-saat seperti ini yang tidak pernah bisa aku kendalikan, bahwa otakku dan telingaku seakan putus hubungan.
"Kamu mabuk sampai minta pindah duduk?" Ulangnya. Aku menggeleng cepat.
"Nggak. Cuma lebih suka aja duduk di sebelah sini." Jawabku singkat.
Keningnya berkerut, "Kenapa?"
"Suka aja. Aku bisa lihat berbagai gambar, potret kehidupan yang berganti seiring dengan berputarnya roda kendaraan. Semua orang punya cerita, tapi sejenak cerita itu bisa terpatri di satu bingkai tidak terlihat pada kaca jendela ini." Dia terdiam sejenak.
"Tapi menurutku, potret tadi harus diabadaikan, biar gak hilang. Kalau pelukis, dengan lukisannya, kalau fotografer, dengan kameranya. Seperti ini." Katanya sembari sedikit mengangkat kamera.
"Tapi menurut aku, kita tidak akan kehilangan itu semua kok, Jri." Fajri melebarkan matanya, menunggu aku menjelaskan lebih panjang.
"Ya maksud aku, setiap hari kita bisa lihat lagi potret yang serupa, bahkan mungkin lebih berwarna, dari yang kemarin, atau hari-hari sebelumnya. Potret itu lebih hidup dibandingkan foto-foto hasil jepretan kamera yang kemudian terbingkai kaku di atas meja atau dinding." Fajri justru tersenyum (lagi) mendengarnya.
"Kamu tahu, aku tidak pernah pasang bingkai di setiap foto yang aku punya?"
Gantian keningku yang berkerut dan bertanya, "Kenapa? Bukannya lebih rapih?"
Ia agak memiringkan tubuhnya ke kiri, membuat jarak di antara kami semakin dekat. Tuhan!
"Untuk berada pada satu foto saja, gambar itu sudah terbatas, Ra. Coba kalau aku lepas gitu aja, kemudianaku gantungkan, aku membiarkannya 'hidup' dengan caranya sendiri tanpa harus dibatasi lagi dengan bingkai yang keras di tepi-tepinya. Apalagi sampai dikasih kaca segala." Paparnya panjang.
"Kan bisa luntur gambarnya, Jri, kena panas?"
"Justru itu, Ra, bagusnya. Foto buatku lebih punya makna ketika ia sudah mulai menguning, menua. Itu menunjukkan bahwa foto juga seperti manusia, yang pantas lapuk karena usia. Sesuatu yang abadi  cenderung membosankan bukan"
"Tapi tadi kamu bilang, foto itu untuk mengabadikan apa yang kita punya. Kalau lapuk berarti bukan abadi, kan?" Bantahku layaknya anak gadis pada ayahnya yang tengah mendongeng sebelum tidur.
"Itu yang aku bilang dengan 'hidup', Ra. Bukankah segala yang abadi, pasti ada batasnya untuk ukuran manusia? Semua masa yang kita bilang abadi tidak bisa disandingkan dengan 'abadi' yang Tuhan punya, kan?"
Aku terdiam, menikmati detik demi detik dimana aku sendiri bisa memasuki jalan pemikirannya. Luas dan dalam. Dan setengah jam sisa perjalanan sore menjelang malam itu, kemacetan yang pada awalnya hanya aku nikmati dengan pasrah, menjadi satu hal yang aku nikmati dengan warnya yang berbeda. Ini bukan lagi karena potret tak berbingkai yang biasa aku lihat melalui kaca jendela. Potret tak berbingkai di hadapanku ini lebih hidup. Lebih nyata, lebih dari sekadar harmoni di tengah kemacetan. Ini seperti udara, potret yang sanggup membuat aku lupa bahwa aku lelah dan butuh menyumpal kedua telinga dengan earphone agar terhindar dari segala macam berisik penumpang lain.



"Neng, tolong kaca jendelanya ditutup aja. Biar saya nyalakan ACnya?" Aku terkesiap, seakan terbangun dari dimensi dunia lain, lalu dengan segera mengangguk perlahan dan menuruti permintaan supir di sebelah kananku. Sebentar lagi mobil travel ini akan mengantarku pulang ke kampung halaman. Aku tersenyum sendiri ketika menyadari di samping kananku hanya ada supir dan tidak ada yang lain: seorang bapak paruh baya dengan kumis tebal yang sangat ramah.
"Sabuk pengamannya jangan lupa dipakai, ya, Neng. Polisi kalau liburan gini agak-agak senewen." Aku kembali mengangguk, kali ini sembari tersenyum, lalu menuruti lagi permintaannya dengan patuh.
Ah, Fajri, bekas-bekas keberadaan kamu masih menyisa.
 
"Kalau kamu mau, kapan-kapan aku ajak deh ke lokasi baisa aku hunting foto." ujarnya waktu itu. Dan aku dengan girangnya mengiyakan tanpa jeda. Pertemuan itu kemudian berakhir dengan dia yang terlebih dulu beranjak dari kursinya.
Aku tersenyum lagi saat aku pandangi satu potret yang sengaja aku bawa: setengah badannya yang  aku ambil saat ia tengah memegangi kamera kecilnya, duduk di atas batu pantai, tempat yang dia sebut sebagai 'lokasi hunting foto' di angkutan umum waktu itu, satu tahun delapan bulan lalu.


"Biarkan begitu saja dan gantung di kamar kamu, ya." Dia menyarankan waktu itu.

Bersamaan dengan roda mobil yang mulai menggilas jalan tol, potret itu kemudian aku dekap dengan pandangan terus berkelana mencari potret lain yang bisa aku abadikan lewat kaca jendela mobil di sisi kiriku. Mungkin tidak dengan kamera kali ini, tapi cukup dengan mata yang aku punya. Bukan karena enggan mengeluarkan kamera kecil hadiah dari Fajri di dalam tasku. Aku hanya tidak ingin potret yang katanya 'abadi' itu pada akhirnya akan menguning, dan pudar, kemudian mati. Aku ingin potret yang aku punya itu tetap hidup dan tidak hilang di kemudian hari, seperti kamu, yang pergi dengan cara yang bahkan masih belum bisa aku terima, Fajri.

Itulah mengapa potret setengah badan Fajri tadi sengaja aku simpan dalam satu bingkai kayu berkaca. Aku tidak menuruti sarannya kali ini. Aku memang tidak membiarkan potret itu bebas seperti yang Fajri bilang, aku memang menjadikannya terkungkung pada satu batas keras yang tidak membiarkannya hidup dengan caranya sendiri. Aku hanya ingin potret itu tetap di sana, tidak pergi. Sudah cukup dia saja dan potret itu jangan: jangan menguning, memudar, dan akhirnya hilang tak berbekas. Aku ingin terus mendekapnya untuk bisa mematrinya di dalam otakku agar gambaran potret pernikahannya itu bisa pergi dari sana: dia dan perempuan pilhannya. 
Sejenak kemudian saat senja sudah hilang dan digantikan malam, dekapan pada potret itu semakin erat.
Aku bersyukur lampu mobil ini padam, karena jika tidak sang supir akan bingung dengan lelehan air mata yang menderas dari mataku.
Jadi suami yang baik ya, Fajri. Semoga kalian bahagia.

I had a picture of you in my mind
never knew it could be so wrong
Why'd it take me so long just to find
the friend that was there all along


Lagu Picture of you milik Boyzone itu kembali terdengar di telingaku dari earphone yang hampir bosan menggantung di telingaku, mengantarkan aku pulang, dengan sejuta potret tak berbingkai yang akan terus aku kenang. 

_end_




Tidak ada komentar:

Posting Komentar