dari sejak awal nulis sampe hari ini belum juga nemu 'nama' yang pas buat 'anak pertama' saya. jangan salah sangka dulu, itu nama maksudnya judul dan anak pertama itu novel. semacam menghaluskan parno yang semakin menjadi aja. semakin dicari kata yang pas, semakin galau, semakin wagu. sejak awal nulis, kira-kira udah ada delapan judul yang resmi gagal dipajang di halaman paling atas calon novel saya. eneg, eneg dah tuh. udah tanya san-sin (baca: sana-sini), tetep aja gak nemu ujungnya. semacam ada di lingkaran setan (mulai ngaco >.< ).
belum lagi judul yang tak kunjung ketemu, jumlah halaman harus minimal 150. maaaak! ini dari kemarin udah banyak yang dihapus karena menusuk-nusk mata alias gak enak dibaca, kok malah perlu nambah halaman lagi. really something! belum lagi salahs atu bagian dari akhir cerita masih perlu perbaikan serius *jambak rambut
tapi, demi cita-cita, ini perlu doperjuangkan. semboyannya adalah 'Kapan lagi'. kata ibu, kalau rejeki gak akan pergi, tapi kalau memang bukan rejeki berati memang akan ada gantinya dengan jalan yang lain yang Allah kasih. so sweet dah my mami ini *kecup*
karena hidup itu indah, maka keindahan itu akan lebih indah jika dirangkaikan dengan keindahan lain dari dunia lain: dunia di atas kertas. selamat membaca :)
Kamis, 26 Juli 2012
Hujan Terakhir
Gadis itu masih terseok dengan langkahnya ketika pada akhirnya ia
menemukan tempat berteduh. Kakinya tidak lagi sanggup berlari. Badaanya
pun basah dan ia tidak perduli. Sejak sejam yang lalu, hujan dengan
bebas jatuh di atasnya. Katanya ia ingin menikmati tiap tetes hujan yang
menimpanya. Hujan terakhir. Esok hari, hujan itu tidak lagi ditemuinya.
Perlu banyak keberanian untuk menyadari bahwa musim penghujan telah
berlalu. Dan yang ia butuhkan saat ini adalah memandangnya: tetes-tetes
yang berjatuhan dan menyisakan beriak di antara kaikinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
