karena hidup itu indah, maka keindahan itu akan lebih indah jika dirangkaikan dengan keindahan lain dari dunia lain: dunia di atas kertas. selamat membaca :)
Sabtu, 03 Agustus 2013
Quran: Mushaf dan Saksi Bisu
saya masih inget banget kapan saya beli quran ini: 11 Agustus 2006. hampir tujuh tahun kalau dihitung sampai bulan ini. quran ini saya beli dengan uang saku yang sengaja saya sisihkan. gak tau kenapa waktu itu saya pengen banget beli quran terjemahan. awalnya memang karena pengen ngeliatin temen pada praktis banget bawanya dibandingkan quran super gedhe yang bapak kasih ke saya waktu masuk asrama. sebelum-sebelumnya, quran yang saya punya ya karena memang dibelikan orang lain, entah dari orang tua atau dari guru sebagai jatah dari asrama yang bentuknya dan warnanya seragam dengan teman-teman.
sejak saya beli quran ini, alhamdulillah saya jadi lebih rajin ngajinya. mungkin memang efek 'quran baru' menjadi motivasi tersendiri waktu itu, hehehe. tapi memang lama-kelamaan, keinginan untuk ngaji itu makin dipengaruhi sama yang namanya 'kebutuhan'. saya ngerasa banyak banget dosa dan pahala pun udah semakin minus. dan itu saya sykuri dengan benar. bukan mau ceramah sih, hanya saja membaca tiap ayat yang ada di dalamnya membuat hati adem. gak gombal atau pamer ini sih, serius!! makin pengen deket-deket sama Allah.
ada satu hal yang terus berbekas di kepala saya tiap kali saya liat dan kemudian membaca quran ini yaitu bahwa quran ini adalah satu saksi bisu kecelakaan yang saya alami sekeluarga. sekitar 6 tahun lalu lah kejadiannya, tepat tahun 2007 pas lebaran. waktu kejadian, quran ini saya peluk, meski akhirnya ikutan ''nggelinding' sama badan saya karena emang saya juga kebalik-balik gara-gara mobilnya terjun bebas ke kebun singkong dengan roda di atas :p. dan percaya atau gak, saya tidak punya luka apapun dari kecelakaan tadi kecuali sebaret kuku luka di lutut. doang, gak ada yang lain. subhanallah!! bahkan kalo liat kondisi mobilnya, rusaknya, penyoknya, orang-orang susah percaya bahwa penumpangnya masih pada idup. lha wong loncat selokan selebar satu meter sebelum akhirnya kebalik dan kap ancur cur! :O
sampai sekarang, saya sayaaaang banget saya quran ini. bukti saksi bisu si quran ini kelihatan dari bekas-bekas debu dan tanah yang ada di tiap ujungnya, meski sekarang udah agak pudar. kotor, memang iya, sampulnya udah mulai lepas, pasti. tapi tetep cinta. saya memang punya quran baru yang saya dapet dari mantan sebagai kado (cieee).tapi, quran ini tetap number one, nomor wahid, tidak tergantikan. gak juga sih itu berarti bahwa quran pemberian mantan tadi gak saya pakai. tapi memang sebagian besar waktu ngaji saya, saya pakai quran ini, gak papa kan ya, mas mantan :p
Kamis, 01 Agustus 2013
Kantong Ajaib
tiap kali mengisi formulir--apapun--yang salah satu kolomnya mengharuskan saya menuliskan hobi, saya akan mengisinya dengan membaca, menulis, dan mendengarkan musik. sudah, tidak ada lagi hobi tambahan yang--mungkin-- bisa membuat pencitraan saya makin tajam :p
meski demikian, ada satu lagi hobi yang saya punya, hobi yang tidak mungkin saya tuliskan pada formulir-formulir tadi. hobi yang saya maksud adalah "mengisi tempat pensil sampai penuh". aneh ya? memang rada aneh dan saya pun tidak sadar kapan saya mulai memiliki satu hobi unik ini. tapi,percaya atau tidak, ketika saya bisa melihat tempat pensil saya menggembung karena kepenuhan, ada satu sensasi kebahagiaan tiada tara yang saya punya. entah bagaimana bisa, tapi memang begitu adanya.
satu hal yang menjadi pemenuh utama dari isi tempat pensil tadi adalah pulpen. ya, saya sangat suka membeli pulpen tanpa berfikir apakah pulpen-pulpen itu akan menghasilkan goresan yang bagus atau tidak. jadi, bisa saya bilang bahwa tempat favorit saya ketika mendatangi salah satu toko buku besar di Indonesia berinisial G selain rak-rak buku, adalah rak-rak pulpennya, alat-alat tulisnya. adaaa saja bentuk pulpen yang saya suka, baik pulpen yang benar-benar 'pulpen'--dalam arti yang benar bisa digunakan dengan bik untuk menulis--, atau yang sekadar pulpen yang hanya 'modal tampang' lucu dan imut yang mampu membuat saya luluh dan akhirnya menarik lembar demi lembar uang dari dompet.
tidak hanya itu sih sebenarnya. kegembungan tempat pensil tadi tidak cukup dipengaruhi oleh banyaknya pulpen yang saya punya, tetapi karena saya sangat gemar memasukkan barang-barang lain yang seharusnya punya tempat tersendiri. seperti yang bisa dilihat, tempat pensil saya ini 'gendut', gemuk, lebih mirip kantong ajaib yang bisa mengeluarkan benda apa saja. di dalamnya penuh oleh banyak benda yang terkadang saya juga bingung asbabun nuzulnya benda-benda itu ada di dalamnya. mulai dari alat tulis pada umumnya seperti pulpen, pensil, penghapus, stabilo, isi pensil, pembatas buku; hal-hal yang berbau 'komersil', seperti uag receh, tiket nonton, kartu SIM ,dan modem; benda-benda 'kecewekan', seperti lipstik, gelang, jepit rambut, kuteks, dan bros; sampai satu barang yang nyelip di permukaan paling bawah tempat pensil saya, yaitu gantungan sleretan tas yang patah (--'). sebenarnya, tujuan dari banyanknya barang yang saya masukkan ke dalam tempat pensil ini adalah keparaktisan. seringkali saya tanpa sengaja meninggalkan barang-barang kecil yang tidak mungkin saya ingat satu persatu ketika suatu ketika bepergian dan tanpa terduga membuthkannya. maka, jadilah tempat pensil tadi sebagai kantong ajaib a.k.a tempat paten untuk banyak benda. tidak cukup alat tulis, tetapi alat-alat lain yang mungkin terlalu ribet jika diletakkan di tempat yang terpisah. :)
The Notebook
Sejak SD entah mengapa saya sangat suka mencatata. Apapun yang guru tulis di papan tulis, saya tulis kembali dalam buku catatan dengan merk paing mendunia, Sinar Dunia. Bahkan, hampir semua kata-kata guru yang menurut saya 'penting' bisa saya temukan di dalam catatan ketika buku tadi kembali saya buka di rumah. Ketika kemudian saya beranjak masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kegemaran tadi ternyata terus mengikuti. Tentu saja saya sudah bisa membedakan mana yang benar-benar perlu ditulis dan tidak. Tulisan saya yang tidak jelek-jelek amat tidak jarang membuat buku-buku catatan saya dipinjam teman sekelas. Bahkan suatu kali saya kehilangan satu buku catatan yang saya punya karena saya lupa peminjamnya. Lebih parahnya lagi, si peminjam itu pun tidak menunjukkan batang hidungnya untuk mengembalikan. Alhasil, saya pun mengganti buku catatan yang sangat saya cintai dengan buku baru. Jelas, isinya sudah berubah karena semuanya saya dapatkan dari catatan teman yang -meski serapih apapun- tidak akan pernah semudah memahami catatan sendiri :'(
Nah, buku catatan satu ini adalah buku catatan terakhir saya, buku catatan kuliah terkahir sebelum akhirnya bulan April kemarin saya tunaikan dalam rangkaian acara wisuda-Alhamdulillah. Bisa dilihat kan, bagaimana runyamnya isi di dalamnya. Terkadang, saya sendiri tidak habis pikir mengapa hal-hal semacam itu bahkan bisa saya temukan dalam buku yang seharusnya berisi ilmu dari mulut para dosen. Saya tipikal orang yang mudah bosan, memang, dengan catatan yang melulu tulisan berderet tanpa selingan lain. Hal inilah yang kemudian menjadi sebab mengapa segala macam tulisan cakar ayam dan gambar 'anak TK' turut 'nongkrong' di dalamnya. Mulai dari nama diri yang -semacam- wajib saya cantumkan, kutipan favorit penyemangat hidup ala-ala orang pintar, tanda tangan yang lebih mirip rumput teki, no rekening bank, tanggal ulang tahun teman, gambar-gambar ekspresi kebosanan saat kuliah, sampai resep makanan yang kebetulan saya dapatkan dari ibu ketika saya sedang -sok- rajin baca materi kuliah di dapur (--")
Sampai sekarang, buku ini masih setia menemani saya kemanapun saya pergi: jalan-jalan, belanja, bahkan ketika saya mendapat panggilan kerja tempo hari pun buku ini saya bawa. Selain karena saya sering kali 'nemu' ide menulis ketika saya bepergian, saya merasa sejiwa dengan buku ini, entah mengapa. Mungkin, ketika nantinya saya menemukan buku lainnya yang lebih baru, buku ini akan tetap saya simpan baik-baik. Tidak harus terus membawanya, cukup tetap menggunakannya sebagai penuang ide saya yang sering kali muncul tiba-tiba sebelum akhirnya nanti tertuang dan menjadi sebuah karya.
Finara
Senin, 29 Juli 2013
lelaki yang tidak pernah tua
"Bang!"
satu tembakan untuk gadis bergigi emas
"Bang!" satu tembakan lain untuk wanita berkalung sorban
dan
"Bang!" satu tembakan terakhir untuk janda jelita kaya
Mungkin, sebelumnya nenek kisut berjubah sutra
atau
Balita lucu, anak raja minyak
Tak melawan, mereka hanya diam
Dan ketika ku tanya mengapa
"Kami mau mati olehnya." Demikian teriaknya
Ckckck!
Sudah tau siapa si penembak jitunya?
Hanya lelaki biasa, menyandang senapan cinta, berbekal peluru cumbu,
berjubah besi penuh janji.
Palsu!
Jujur saja, ia hanya seorang lelaki, bukan dewa
Hanya lelaki yg mengaku belum tua,
mengaku tak pernah tua
...
"Bang!" satu tembakan lain untuk wanita berkalung sorban
dan
"Bang!" satu tembakan terakhir untuk janda jelita kaya
Mungkin, sebelumnya nenek kisut berjubah sutra
atau
Balita lucu, anak raja minyak
Tak melawan, mereka hanya diam
Dan ketika ku tanya mengapa
"Kami mau mati olehnya." Demikian teriaknya
Ckckck!
Sudah tau siapa si penembak jitunya?
Hanya lelaki biasa, menyandang senapan cinta, berbekal peluru cumbu,
berjubah besi penuh janji.
Palsu!
Jujur saja, ia hanya seorang lelaki, bukan dewa
Hanya lelaki yg mengaku belum tua,
mengaku tak pernah tua
...
Yogyakarta, 29 September 2009
Terinspirasi dari Cerpen 'Lelaki Memang Tak Pernah Tua' karya Ibu Cahyaningrum D
Terinspirasi dari Cerpen 'Lelaki Memang Tak Pernah Tua' karya Ibu Cahyaningrum D
Minggu, 28 Juli 2013
About Your Promise
Bukan jarak yang membuat kita lemah, tapi hati yang kamu berikan hari itu yang membuat kita kuat. Kamu tahu, tidak banyak yang aku bisa berikan di ruang yang luas antara dua benua. tidak banyak yang aku bisa ceritakan di antara dimensi waktu yang berbeda. Nanti, akan ada masa yang tepat untuk melakukan semuanya: dalam satu ruang sempit berlampu cukup terang untuk kita berdua; dalam satu dimensi waktu berdurasi cukup lama untuk kita bercenkerama. Sapu tangan dengan kecupanmu di ujungnya sudah cukup menemani hari-hari ku di sini. Juga kecupanmu yang terakhir kali kamu berikan di pipi kiri dan jemari manisku.
Tetaplah menjadi yang sama ketika kembali. Bukankah kamu berjanji untuk satu jam bersama tanpa siapa-siapa di tempat pertama kita berjumpa? Segera pulang dan penuhi janji itu sepenuhnya: tidak kurang tidak lebih. Karena aku hanya ingin semua cukup untuk kembali merindukanmu, merindukan kita.
Langganan:
Postingan (Atom)


