Rabu, 22 Januari 2014

"Maaf, Fa." (#FF2in1)

"..."
"Jadi kita sudahi saja 4 tahun kita?" Perempuan itu menggigit bibir bahwanya, tanpa sengaja. Pertanyaan yang baru saja dilontarkannya sungguh terasa sakit di telinganya sendiri. Lelaki di depannya hanya diam.
"Jawab, Bi, jawab. Jangan diam saja." Lelaki yang dimaksud, yang berdiri dengan serba salah , menelan ludahnya, bulat-bulat, besar-besar, hingga tenggorokan yang tadi tercekat dan kering, terasa perih.
"Iya, Fa. Maaf. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Dengar, Fa." Tegas lelaki itu. "Orang tuamu ingin kamu segera menikah. Rama, datang padamu dan memintamu menjadi istrinya. Orang tuamu menyukainya. Kalian bisa menikah. Apalagi?"
Fa mendengus, hatinya sakit.
"Aku ingin yang ada di tempat Rama berdiri adalah kamu, Bian, kamu." Bian menarik napasnya, berat.
"A-aku tidak bisa, Fa. Bagaimana bisa jika harus sekarang. Aku tidak bisa jika harus menikah secepat yang orang tuamu minta. Aku tidak bisa membiarkan kamu menunggu sesuatu yang bahkan aku belum tahu kepastiannya ketika bahkan Rama menawarkan kepastian itu."
"...."
"Aku tidak bisa, Fa."
"Aku lebih tidak bisa, Bi. Please, pertimbangkan lagi dan..."
"Cukup, Fa. Aku benar-benar tidak bisa. Maaf, Fa." Fa menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya menghapus semua derai yang membuat pipi tembamnya basah, membuat hidung mungilnya merah, bengkak. Ia mengangguk sekali.
"Oke, aku mengerti. Aku paham karena memang sejak awal hanya aku yang ada di medan pertempuran ini, berjuang sendiri. Kamu tidak. Kamu hanya diam di garis batas perlawanan and doing nothing. Kamu hanya takut kamu terluka. Lalu bagaimana dengan aku? Kamu akan membiarkan aku terluka sendiri?
"Justru itu bagian tersakitnya, Fa." Ia setengah membentak, sembari mengguncangkan pundak perempuan di depannnya, yang lambat laun bergetar menahan agar tidak menangis. "Itu bagian tersulit karena justru aku akan terus memandangi kamu tersakiti berada di medan itu sendiri tanpa bisa tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Aku tidak bisa barang sedikutpun menyusulmu, berjuang bersamamu. AKu juga tidak bisa mengajakmu mundur dan menungguku sampai aku benar-benar bisa berada di sisimu, membelamu, berjuang bersama kamu."
Keduanya diam. Sama-sama merasakan betapa memang keduanya tidak bisa, keduanya harus pergi, memilih jalan yang berbeda. Saat kemudian mereka berpisah, menjauh, luka pada masing-masing hati itu makin lebar, menganga. Bian, dalam katupan kedua bibirnya, mengutuk dirinya berkali. Ia tahu ini salah, membiarkan Fa, orang tercintanya pergi. Namun, ia pun tidak bisa tetap membiarkan Fa menunggu, "Perempuan butuh kepastian, Le." begitu kata ibunya suatu kali.
Saat kemudian bayangan Fa menghilang, ia tahu, bayangan itu takkan pernah dilihatnya lagi. Ia telah melepasnya pergi.
Maaf, Fa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar