"jangan main-main dengan cinta, kalau ledakannya salah
arah, kamu akan terluka." katanya tanpa berpaling dari gitar di tangannya.
dia Haris, sahabatku sejak kami bahkan belum bisa membedakan bunyi l dan r.
kami tumbuh bersama layaknya saudara. ohya, ujaran tadi ia lontarkan saat aku
dengan semangatnya menceritakan lelaki bernama Bian, lelaki yang aku kenal dari
sebuah komunitas pembaca novel asing. Nama John Green, Nicholas Spark, juga Dan
Brown kerap menjadi jembatan percakapan yang terjadi. dan malam itu, Bian baru saja
mengajakku ke tempatnya biasa menghabiskan waktu bersama karib-karibnya.
"Ah, kau tidak tahu saja bagaimana caranya ia
mempelakukanku di depan teman-temannya tadi.” seperti biasa, Haris hanya
menoleh sejenak dan tidak memberikan komentar lagi, kebiasaan yang sudah aku
hafal sejak dulu: tidak banyak bicara.
dan malam itu, satu minggu kemudian, Haris yang memang tidak
banyak bicara, hanya diam mendapatiku menangis di ambang pintu kamarnya: Bian
berbohong dan aku terluka. ledakan cintanya membuatku tersakiti. Haris yang
tengah sibuk dengan gitarnya tampak terkejut melihatku. yang kemudian ia
lakukan hanya melepaskan gitarnya, mendatangiku di pintu kamarnya, dan meraih
tubuhku yang sudah lelah menangis ke dalam pelukannya.
“Sssh.” hanya desis itu yang aku dengar setelahnya. dan menit
selanjutnya, luka terbakar karena ledakan cinta Bian berangsur sembuh.