Ini bukan tentang bagaimana menanggapi rintik gerimis yang menderas
yang kemudian membasahi kemeja atau pun sepatumu. Ini hanya tentang
bagaimana memaknai hujan sebagai awal dari langkah yang kau pilih,
memaknai tiap helai kucuran yang jatuh hingga beriak itu bekeliling di
antara jemari kakimu. Mungkin kau memang pernah terjatuh, hingga lututmu
berdarah karenanya. Atau mungkin, kau tengah menderita karena cinta,
hingga seutas tali itu menjadi semacam surga terakhir yang akan kau
datangi.
Kali ini, biar saja hujan itu datang menyapamu, membasuh mukamu,
membasuh hatimu; untuk kemudian menghilangkan peluh juga keluh di ujung
harimu. biarkan ia mengalir semau derasnya, semau rintiknya. Kemudian
kau akan paham, betapa ia hadir membawa kehidupan. Mengembalikan ranting
pada batang yang ditinggalkannya. menumbuhkan rerumputan yang seakan
tak ingin lagi hidup di detik selanjutnya, membangunkan lagi asa yang
mungkin mati karena kering yang mendera.
Biarkan hujan yang menyapanya, biarkan hujan yang menyingkirkan air
matamu dan menggantinya dengan senyum secerah mentari setelah ia reda. Pada akhirnya, setiap doa toh terkabul atau tergantikan dengan yang
lebih baik. Tuhan selalu ada untukmu, bukan? Satu hal yang perlu kau
tahu, kau tidak sendiri. Bahkan tiap orang di luar sana mungkin memiliki
lara yang lebih mencekik dibanding yang kau punya.
Untuk kali ini, diam sajalah di balik jendela besar dengan titiktitik
air itu. Nikmati sejenak aroma tanah yang kemudian kau temui. Lalu
bernafaslah layaknya kau manusia satu-satunya di dunia yang diberi
kebebasan menghirup udara sebanyak yang kau mau. Tersenyumlah layaknya
kau manusia paling bahagia di bumi tanpa perih dan luka.
Ketika kemudian
hujan itu melambat menjadi rintik gerimis kembali untuk kemudian pergi,
akan kau lihat sisa-sisa air di depan beranda rumahmu. Rasakan udara
yang kau temukan: menyejukkan, menenangkan. tidak ada lagi debu, tidak
ada lagi kelabu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar