Rabu, 21 Desember 2011

Hari Ibu

Bu, selamat hari ibu ya. Terimakasih untuk semua kasih sayang yang tak terkira harganya dan maaf untuk semua salah dan luka yang tak jarang membuatmu menangis.

Kira-kira demikianlah isi pesan yang ku kirim pagi ini untunya, wanita terindah yang ku punya, Ibu ku tersayang. Ada rasa haru ketika mengirimkannya, ketika rangkulan ini tak bisa sampai padanya. Juga rasa haru ketika menuliskan larik demi larik tulisan ini. Namun, haru ini jauh lebih dalam ketika mengingat pesan yang ku terima darimu. Dia bilang tak pernah sekalipun mengingat bahwa anak gadis satu-satunya pernah menanam duri di hatinya. Yang ia ingat hanyalah anak gadis satu-satunya yang manis yang tak berhenti membuatmu bangga. Aku menangis membacanya. Tak kuasa membiarkan hati ini sesak oleh rasa bersalah.
Ibu, hari ini adalah harimu, hari ketika semua orang merayakannya untukmu, hari di mana Ayah sekalipun tak memilikinya. Hari ini, semua anak beramai-ramai mengucapkan kalimat yang sama pada ibunya. “Selamat Hari Ibu.” Pun diriku yang tak jarang lupa mengutarakannya meski untuk sekali dalam setahun. Mungkin karena sering ku lupa bahwa kasih sayangmu terlalu besar jika harus dihitung.

Ibu,
Maaf jika dulu sering ku buat kau marah karena aku tak menjaga nasehatmu untuk tidak bermain lumpur.
Maaf jika dulu sering tak ku perhatikan jariku hingga ia teriris pisau ketika aku berlagak memasak bak koki profesional.
Maaf jika dulu sering ku langgar nasehatmu untuk tidak bermain air hujan hingga akhirnya flu menyerangku.
Maaf jika dulu sering kau berkeliling desa mengikuti langkah kakiku demi menghabiskan suap demi suap nasi di atas piring yang terlanjur kering.
Maaf jika dulu ku bantah nasehatmu untuk selalu minum obat ketika resep dokter dan jadwal rontgen tak bisa absen.
Maaf jika sekarang sering ku lupa takaran kopi dan gulamu jika kau memintaku membuatnya, padahal kau selalu ingat berapa takaran susu bubuk yang ku suka.    
Maaf jika sekarang jarang ku tanyakan menu makanmu, padahal seringkali kau tak bisa menelan sesuap nasi berlauk daging jika kau tahu aku hanya makan berlauk mie instan.
Maaf jika sekarang sering ku buat malammu gelisah untuk menungguku menelponmu dan mengatakan aku telah kembali ke rumah.
Maaf jika sekarang sering ku repotkan sibukmu dengan keluh kesah yang kutumpahkan padamu tentantangnya.
Maaf jika sekarang sering ku buat kau berulang menasehaiku untuk tidak lupa memakai jaket saat mengendara karena takut sakitku kembali.
Maaf untuk semua salah yang tak bisa ku sebut lagi. Terlalu banyak, Bu, hingga aku tak bisa menyebutnya satu-satu.

Yang jelas, terimakasih untuk semuanya, Bu. Untuk dongeng dan senandung indah menjelang tidur yang dulu selalu kau berikan, untuk pelukan dan belaian tiap aku memintanya darimu, untuk tiap kecup sayang di pipi ketika aku merindukannya, juga untuk masakan kesukaanku dan senyum hangat tiap kali aku pulang ke rumah.

Selamat Hari Ibu , Mimih*ku.... LOVE YOU SO...MUCH J.


*)panggilan Ibu dalam bahasa Sunda

Senin, 14 November 2011

Taaarrik, Mbaaak!

Udah dari kemarin-kemarin sebenarnya saya pengen banget cerita ini. Gak terlalu heboh sih sebenernya, cuma lucu aja kalo diinget-inget saya hidup di dunia dengan beribu budaya. Dunia loh, gak sekedar Indonesia. Luasss banget! Berawal waktu jumat pagi pekan kemarin saya kejatah ngajar siswa Turki pada jam kedua, sekitar pukul sepuluh karena paginya sudah jadwal Pak Akmal untuk mengajar materi percakapan. Jadilah paginya saya bersantai ria meski sudah mandi sejak jam tujuh *pamer dikit gak papa kan yak?! Eh, waktu enak-enaknya nonton, Pak Akmal telepon saya. Beliau tanya siapa yang ngajar. What?!!! bukanya Anda, Pak? tapi dibatin doang, haha, karena dengan halus saya menjawab "Lho, kan bapak yang mengajar pagi dan saya mengajar setelahnya." Kontan beliau jawab "Oya?!" dan bla bla dan kesimpulannya adalah saya berangkat saat itu juga untuk mengajar di jam awal. Fiuh!!!
Dalam waktu 35 an menit, saya pun sampai daaan, langusng mengajar. Wealdalah pancen suasana sepoi-sepoi dari AC, ni murid pada ngantuk, alhasil saya berasa setengah dicuekin. Asli, gak enak sumprit dah! Nerasa jadi burung beo kagak dibayar *emang ada gitu burung beo ngoceh dibayar --__--'. Setelah bla bla bla, saya pun mengontak teman saya untuk menggantikan saya di jam berikutnya. tapi memang nasib saya hari itu yang mengajar (baca: HANYA saya), mb ulfa yang dimaksud itu tidak bisa datang. Jadilah saya kembali merasakan sensasi sendiri lagi, huks!!
singkat cerita, ni pelajaran saya paksa selesai pukul 11.00, yang seharusnya selsai pukul 12.00. apalage kalo gak gara-gara kehabisan akal biar mereka tetep melek. Gak mungkin kan saya kasih batang korek satu-satu buat ngeganjel mata *plis deh rara. lanjuuuuut! waktu saya pamitan, salah satu murid ada yagn tanya. Begini katanya," Bu Rara, punya sepeda motor?"
Saya: ya, punya.
Murid: bisa naik?
Saya: ya, bisa. ada apa? mau ikut *kalimat terakhir sungguh bercanda, gak ada serius2nya!
Murid: ya ya ya, saya mau --> bagian ini saya syok?!
Saya: maksudnya keliling sekolah kan? *memastikan bahwa saya tidak akan membawanya pergi dari sana dan dikiran penculik bayaran *mule lebay
murid: yayayaay
Fiuh, leganyaaa. Setelah saya bilang ya dan mengangguk, mereka girang banget. Entah bahasa apa yang mereka pakai yagn pasti INTINYA mereka seneng bgt ikutan naek sepeda motor dengan saya.
itu belum seberapa. Waktu meeka bener2 saya boncengin naikmotor dan keliling sekolah, ya ampuuun, udah kayak naek banana boat, exited bgt. Dan usut punya usut, ternyata di Turki atau pun Krizikstan yang pake motor CUMA cowok. cewek JARANG BANGET yang pake motor. Forbidden kalee yaaak. Akirnya setelah semua dapet giliran, meski diliatin ama satpam, dikiranya sinting keliling2 sekolah pake motor, mission komplet!! dan seperti biasa yagn orang Indonesia lakukan di akhir. palagi kalao bukan poto potooo. sayangnya saya cuma punya satu foto :(



sampai akhirnya saya menulis ini, masih sangat saya sadari bahwa berbagai budaya terkadang mengundang tawa, tapi iutlah harmoni, dan saya menikmati itu.

Kamis, 10 November 2011

Gema, Denting, dan Denging

yang saya takutkan terjadi juga. pertanyaan itu muncul. sama dengan yang saya miliki akhir-akhir ini. di mana sebenarnya jalan yang benar? bergema seperti denting sendok yang menari di kepala saya. mencipta satu suara yang mendenging di telinga saya, seperti seseorang yang tengah berteriak tepat di sana. AAAAA, sakit sekali, sesakit yang ada dalam dada saya. hingga tuts-tuts huruf yang saya sentuh membentuk kata-kata ini pun, saya tidak menemukan jawaban yang bisa membuat kepala dan telinga saya benar-benar bebas dari gangguan. bahkan kalau saya boleh bilang, semuanya semakin menjadi, tidak terkecuali degup jantung saya.

Jumat, 28 Oktober 2011

Super Duper Payah!

ini bener-bener gak bener! tugas kuliah yang seabrek bikin pikiran kacau. bayangin aja, di pikiran ketika makan, minum, ngobrol, jalan, mandi, bahkan naik motor pun, adalah TUGAS!! *lebay. seharian kemarin dulu, kemarin, dan hari ini saya sering melamun ketika naik motor. mikirin gimana jadinya di antara jadwal kuliah, ngelesin anak sd, dan ngajar mahasiswa turki, saya bisa selesaikan semua tugas yang menumpuk gila. sampe-sampe tidak jarang, saya lupa harus ke arah mana. ujung-ujungnya nyasar dah. alhamdulillahnya masih ada di jogja dan saya masih punya kantong berisi buat beli bensin kalau-kalau saya nyasar terlalu jauh. yang lebih parah lagi, sering saya dapati saya sadar berangkat naik motor dari area parkiran kampus dan baru sadar lagi ketika saya sudah sampai di gang masuk ke kos an!! jadi apa yang saya pikirkan sebelumnya ketika melewati gerbang kampus, melewati satpam, nyebrang jalan, nyalib kendaraan lain, sampe memencet klakson jika perlu?? saya pun geleng2 sendiri, ngeri kalo inget jalanan jogja selalu rame. tapi,mau gimana lagi, itu sudah jalannya *apa hubungannya?! yang pasti semuanya harus dijalani meski sampe kebawa ngelamun segala :P. toh, kemauan menjadi mahasiswa kan saya, jadi saya juga yang harus menjalaninya dengan baik. hehehehe

Rabu, 26 Oktober 2011

my first teaching

Ini pengalaman yang menurut saya, eemmm, menarik. hahaha. Mengajar bahasa Indonesia kepada penutur asing? tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. ada sedikit rasa bangga ketika mengakui bahwa bahasa Indonesia, bahasa ibu saya, dituturkan oleh penutur dari negara lain dan sayalah pengajarnya. Sedikit membusungkan dada sebagai orang Indonesia.

hari ini, Rabu, hari pertama saya mengajar. Awalnya tidak ada yang membuat saya merasa bahwa saya harus bekerja keras. saya cukup mengajarkan beberapa patah kosakata dan menerangkan penggunaannya dalam kalimat. Selesai! Ternyata, Tuhan ingin saya lebih bekerja keras lagi. Ini saya temukan ketika dua dari murid saya (karena jumlah murid 'hanya' ada empat) BELUM tahu bahasa Indonesia sama sekali dan TIDAK bisa berbahasa Inggris. What a shock!!! terus saya harus pakai bahasa apa???! *lebay!! pun ketika saya menggunakan bahasa Inggris TER-sederhana, mereka hanya menggelengkan kepala, tanda bahwa mereka baru saja mendengar bahasa planet yang sama sekali tidak mereka pahami. tidak ada ekspresi yang saya keluarkan kecuali tersenyum. bukan karena saya kecewa, tapi karena saya sadar bahwa saya perlu bekerja lebih dari aygn saya kira.saya perlu belajar lagi, bagaiman saya bisa berbahasa Inggris dengan baik pada dua murid saya yang lain yang juga TIDAK tahu menahu tentang bahasa Indonesia. Sejauh pelajaran tadi pagi, saya menikmatinya, meski terkadang saya menggaruk kepala ketika tidak ada kata-kata dalam bahasa Inggris yang bisa mewakili dari bahasa Indonesia yang saya temukan. pun ketika saya menyadari bahwa satu dari murid saya menguap, entah karena mereka bosan atau pusing mendengar bahasa Indonesia yang tidak ia mengerti juga bahasa Inggris yang tidak terlalu bagus di telinganya.
*Fighting Rara!!! =D

Jumat, 21 Oktober 2011

saya bahagia :)

ini dua hari yang lalu, dan saya terima gaji pertama saya. senang sekali, meski tidak seberapa. bisa membuat orang tua mengucapkan selamat dengan rasa bangga, itu sudah lebih dari cukup. bisa membuat mereka merasa berhasil mendidik saya, itu sudah lebih dari kata bahagia buat saya. saya menghasilkan uang sendiri. saya punya pundi-pundi rejeki sendiri, dengan keringat saya sendiri. saya akui, itu tidak mudah, membiarkan mata saya berkantung dalam, dan membiarkan badan saya lelah karena berat badan yang menurun. tapi sekali lagi saya bilang, saya bahagia, saya menyukainya. mungkin inilah yang dirasakan oleh orang tua saya. memeras keringatnya demi saya juga dua adik laki-laki saya yang masih membutuhkan kantong yang cukup dalam. minggu depan, sumber pundi-pundi lain menunggu saya. saya bersyukur, sangat bersyukur, karena DIA telah membiarkan doa saya selalu terkabul, juga membiarkan saya memperoleh yang terbaik dari yang saya minta. saya bahagia.

Jumat, 14 Oktober 2011

tentang 'Last Faith'

ini cerita panjang pertama saya yang saya buat. Sekitar tahun 2008 saya pernah menjadikannya sebagai sebuah cerita pendek bergenre remaja berjumlah halaman 30. waktu itu, saya berencana menerbitkannya sebagai novel, tapi tanpa dinyana sebuah novel harus berjumlah minimal 100 halaman untuk bisa diterbitkan. Alhasil, mulailah saya mandek  untuk meneruskannya. membiarkannya teronggok begitu saja di antara dokumen-domumen cerpen lainnya. membiarkannya mati  tanpa akhir cerita.

baru pada awal tahun ini, tanpa senagaj saya membuka lagi 'tumpukan' cerpen di file komputer saya. dan saya temukan lagi cerpen usang yang pernah saya buat mati. Tanpa saya sadari, saya kembali tertarik. Yaaah, gak jelek-jelek amat. mualilah saya teruskan, saya ubah dari segi sudut pandang, latar cerita, sampai pada akhirnya saya tambahkan dan kurangi tokoh di dalamnya. Hingga semuanya berjalan, judul sementara yang sama ambil adalah Last Faith. saya tidak tahu mengapa judul itu tampak sangat menarik di mata saya. saya juga tidak tahu apakah secara grammar judul itu benar atau justru menimbulkan tanda tanya baru mengenai isinya. yang jelas, Last Faith terasa sudah mendarah daging dalam memori saya. Alurnya, setingnya, tokoh-tokohnya, sampai karakter yang dibangun di dalamnya, serta amanat yang saya selipkan, semuanya.

Inti dari cerita ini adalah persahabatan dan rahasia. entah nyambung atau tidak dengan judulnya tapi semuanya mengacu pada kepercayaan. kepercayaan sahabat dengan sahabat yang lainnya. juga kepercayaan untuk tetap menyimpan rahasia yang tidak bisa dibagi ke banyak orang. di dalamnya juga saya selipkan sejumalh komedi meski tidak lucu, namun setidaknya membuat pembaca tersenyum, saya sudah senang. saya selipkan juga sedikit adegan aksi yang merupakan genre favorit saya, meski tidak seperti aksi Bruce Willis atau yang lainnya. satu hal yang saya tekan kan di dalamnya adalah 'ketidakketerdugaan' *opoooo meneh kuwi, alias unpredictable. saya ingin cerita saya bukan cerita biasa, saya ingin ceirta saya dibaca karena memang pembaca ingin tahu isi yang dia baca. saya ingin pembaca memang menyelesaikan bacaannya bukan karena terburu agar selesai dan pergi dari rasa muak atas cerita yang saya buat, tetapi karena memang cerita itu membuatnya kecanduan *lagu kaleee. ini memang seperti obsesi ketinggian, tetapi saya hanya berusaha bahwa Last Faith bisa membuat saya dapat mulai berpijak di batu yang lebih tinggi untuk meraih buah yang lebih manis *beraaat. 
Doakan cepat selesai yaaa. ini tuntutan tugas kuliah benar-benar membuat waktu saya terkuras, heheheh. Keep fight!!!

Jumat, 07 Oktober 2011

pilihan saya

ketika saya bilang berkatalah jujur pada diri sendiri dan juga orang lain, itu mudah. tidak pernah membayangkan bahwa saya akan mengalami kesulitan untuk benar-benar melakukannya. pun membayangkan saya akan serba berdosa untuk benar-benar mengatakan kebenarannya. ketika saya ingat bahwa saya harus memilih salah satu di antara dua jalan yang saya hadapi,  saya tahu saya akan merusak satu yang lainnya. meski berusaha saya hindari, saya tetap merusaknya. maafkan saya, hanya itu yang selalu terucap ketika langkah demi langkah saya jalankan menapaki pilihan saya saat ini. saya tahu, saya lebih menyukai jalan yang lainnya, tapi saya tahu bahwa saya akan mendapatkan hal yang lebih indah di jalan ini. ini pilihan saya, ini tanggung jawab saya. bagaimana pun nantinya, hanya saya yang tahu cara menghadapinya, pun saya juga yang tahu bagaimana agar bisa tetap bertahan di atasnya.

Rabu, 28 September 2011

HAKIKAT KULIAAAAH!

fiuh, baru kali ini saya merasakan benar-benar kuliah! benar-benar pascasarjana yang menunutut tenaga dan pikiran tercurah dengan sepenuh hati. sumpe dah, capek abis. diskusi aja nyampe malam. bahkah inbox sms pun isinya DISKUSI. maaaak! apa apa an ini. sampe-sampe ada satu temen bilang, "Kapan punya cowoknya, Ra kalo belajar terus???" fiuh! tapi emang beneran lohhh. *pake banget! gak baca, gak gaol pokoknya! entah masuk atau gak itu buku kudu dibaca. satu hal lagi yang baru ku sadari, bku sangat penting, sampe-sampe gak kerasa duit di kantong udah tipis. sampe nulis ini pun saya masih dalam kondisi DISKUSI. tapi ya mau bagaimana lagi, semuanya tetaplah harus dijalani. semangat saja lah. bismillah. ingat orang tua berusaha banyak dapetin duit. saya juga harus berusaha keras dapetin ilmu buat dapet duit dan ngebales orang tua tercinta (cieeeeh, sok bijak).

Rabu, 14 September 2011

Berusaha Seperti Orang Gila

saya pernah membaca satu kalimat dari Boy Band favorit saya, Tohoshinki. kalimat yang benar-benar membuat saya sadar bahwa untuk memperoleh hal terbaik yang kita inginkan maka tidak ada hal ringan di dalamnya. kalimat itu muncul ketika leader dari boy band itu ditanya, mengapa mereka selalu bisa mempersembahkan performance yang terbaik tiap kali tampil. ia menjawab bahwa mereka lakukan semuanya seperti orang gila. makan seperti orang. latihan seperti orang gila. maka kalian akan mendapatkan yang terbaik dari semua yang kalian inginkan. begitulah kurang lebih yang ia katakan.

saya mulai menyadari perkataan itu begitu berarti ketika saya juga pernah ditanya, bagaimana saya bisa memperoleh apa yang saya inginkan? mengapa saya bisa mencapai nilai yang tidak pernah saya kira sebelumnya? jawabannya sama. saya belajar seperti orang gila. saya makan seperti orang gila. saya bekerja seperti orang gila. saya rela tidur 4 jam sehari. saya rela kantung mata saya semakin hitam.
satu alasan yang tersu ada dalam otak saya adalah bahwa kedua orang tua saya melakkan hal yang sama. mereka makan seperti orang gila, mereka berkerja seperti orang gila. mereka melakukan apapun asal bisa menghasilkan setumpuk uang sebagai biaya saya sekolah sampai perguruan tinggi. bahkan tidak cukup tingkat sarjana, tetapi sampai magister. mereka ingin anaknya kelak menjadi orang berhasil, jauh lebih berhasil dibandingkan mereka, meskipun anaknya adalah perempuan.

saya melakukan semuanya dengan gila karena orang tua saya telah melakukan hal yang jauh lebih gila. saya hanya ingin kelakuan gila mereka bernilai karena saya pun melakukan hal yang sama. kami sama-sama berjuang. mereka berjuang mendapatkan uang sebanyak mungin untuk sekolah saya, sedangkan saya berjuang agar uang yang banyak itu tidak sia-sia begitu saja melewati tiap mesin atm untuk tetap membiarkan saya tetap berstatus mahasiswa di salah satu universitas ternama di Indonesia. untuk tetap membairkan saya bisa memiliki unag saku yang sama, komputer yang sama, juga pakaian yang sama. mereka hanya ingin saya bahagia. saya pun  ingin mereka bahagia meski hanya sekadar deretan nilai yang  baru bisa saya persembahkan. mereka berhak, sangat berhak mendapatkan timbal balik dari apa yang mereka lakukan.

satu kalimat yang sering membuat saya menangis adalah bahwa ibu pernah bilang, keringat yang ia keluarkan tidak berarti jika tidak bisa membuat anak-anaknya tersenyum.

bagaimana dengan Anda, apa Anda juga melakukan hal yang sama? merasakan hal yang sama?

Selasa, 06 September 2011

Karena bulan tak bisa ngomong

Malam 1: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Malam itu, tepat hari ke-15 pada penanggalan Jawa, bulan tampak bulat sempurna dari sebuah balkon rumah bernomor tujuh belas. Di sana, tampak seorang wanita tengah melonggarkan dasi seorang lelaki di hadapannya. Pada jari manis di tangan kirinya tampak sebuah cincin melingkar. Cincin yang serupa dengan yang dikenakan sang lelaki sejak setahun yang lalu. Wanita itu tersenyum, tersipu saat kemudian sang lelaki mencium pipinya dengan lembut.
“Aku akan merindukanmu, Mas,” bisik sang wanita. Ia bersandar manja di dada sang lelaki. Merasakan tiap degup jantung yang berdenyut di sana. Degup jantung yang akan ia rindukan sejak esok hari. Sang lelaki hanya tersenyum dan membelai lembut kepala sang wanita, istri tercintanya. Ia sempat melirik ke dalam kamar di belakangnya. Sebuah passport dan tiket pesawat serta koper besar siap mengantarnya ke Negeri Sakura untuk tinggal di sana selama hampir 2 bulan.
Ini memang terlalu cepat untuk kembali pergi. Baru sekitar 3 hari yang lalu ia pulang. Tapi, sang istri seakan paham itu. Sebagai istri seorang diplomat, ia sudah siap menerima konsekuensinya. Ditinggalkan kapan saja dalam waktu yang lama dan didatangi untuk siap ditinggalkan kembali. Pernah satu waktu, sang suami mengajaknya serta. Tapi pekerjaannya sebagai editor di sebuah penerbit ternama di ibu kota tak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Apalagi, pekerjaan itu adalah impiannya sejak ia duduk di bangku SMA.
“Aku juga, Dek. Kata sang lelaki tanpa melepas pelukan sang wanita yang semakin erat. Malam itu, bulan menjadi saksi cinta keduanya. Saksi bahwa keduanya tampak saling mencintai, saling merindukan, dan membutuhkan.


Malam 2: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Malam itu, ia tampak bergelayut manja di balkon. Balkon yang sama saat suaminya berpamitan untuk pergi ke Negeri Sakura. Terkadang tersenyum, tersipu, bahkan tertawa di sana. Menikmati tiap suara dan gambar dari layar handphone 3G di tangan kirinya. Sudah pasti, lelaki di seberang sana adalah suaminya. Kadang-kadang, ia melirik ke arah kamarnya. Entah untuk sekedar melihat jam dinding di sana, atau pun untuk yang lainnya, hanya ia yang tahu. Malam itu, bulan kembali bersaksi, tidak hanya untuk yang tampak di balkon sana, tetapi juga yang tak tampak oleh tiap pasang mata yang lewat di bawahnya.


Malam 3: Balkon apartemen nomor sembilan, Negeri Sakura

Dari luar, lelaki itu tampak membereskan sejumlah map dan memasukkannya ke dalam sebuah tas berwarna hitam. Esok hari ia akan bertemu dengan segenap staf keduataan untuk mempererat hubungan internasional. Selain itu, ia juga harus menyerahkan sejumlah laporan yang diminta berkenaan dengan perkembangan terakhir teknologi yang telah dicapai di Ibu Kota untuk kemudian mengetahui langkah berikutnya yang perlu dilakukan.
 Jika diperhartikan, dalam jangka waktu satu minggu ia telah menyelesaikan sejumlah laporan yang menjadi tanggung jawabnya. Bukan karena terburu-buru. Hanya saja kerinduannya pada sang istri di belahan bumi yang lain tidak mengijinkannya berlama-lama di negeri orang bermata sipit itu. Percakapan yang dilakukannya hampir tiap malam tidak mengurangi rasa rindu yang ada. Ia akan tersenyum jika mengingat percakapannya dengan sang istri semalam sebelum ia berangkat.
‘Mas, apa pendapatmu jika aku mengenakan kimono? Apa aku akan secantik gadis oriental di sana?’ tanya sang istri sembari membereskan baju ke dalam koper. Mendengar itu, ia pun tersenyum dan berbisik, “Kamu akan selalu cantik di hadapanku, mengenakan kimono atau tidak mengenakan baju sekalipun.” Sang istri pun tersipu dan mencubit pinggang sang suami. Dan mereka berpelukan erat, seakan enggan dipisahkan.

Malam 4: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Seperti biasa, sang istri di sana, di balkon yang sama. Bulan juga menemaninya, meski tak bulat sempurna. Kali ini ia tak ber-3G ria. Hanya sapaan antar telinga yang tak mengijinkan muka bertemu muka. Tak masalah karena memang tak ada yang beda, masih ia dan suaminya.
“Hei, apa yang kau lakukan seharian ini?” Tanya sang suami.
“Tak banyak, hanya melayani segelintir orang yang tak puas dengan suntinganku.” Paparnya malas, terdengar enggan berbicara.
“Apa kamu masih ingin memakai kimono? Aku ada dua pilihan.”
“Sebutkan,” jawab sang istri yang kini telah berbaring di ranjang.
Furisode1 atau Tomesode2?”
“Ah, entahlah. Bagaimana kalau Furisode saja.” Jawabnya malas.
“Baik, tapi itu berarti kau sudah lupa bahwa aku suamimu.”
“Oh, maaf, aku....
“Sepertinya kau lelah. Istirahatlah. Obrolan ini kita lanjutkan besok.”
Tuuuuuuuut. Dan telpon pun terputus.
Malam itu, bulan tahu, wanita lelah dan lelaki sedikit kecewa.


Malam 5: Balkon apartemen nomor sembilan, Negeri Sakura

Sang suami tampak berkemas dengan cepat untuk kepulangannya esok hari setelah menutup teleponnya. Tunggu aku pulang, sayang, batinnya. Diliriknya sebuah kimono di lipatan teratas sebelum ia menutup koper besarnya. Kimono yang dipesan khusus untuk istrinya. Dan yang pasti bukan kimono jenis Furisode, tapi Tomesode. Malam itu, bulan tahu sang suami menahan rindu juga menahan semua kecamuk dalam dadanya. Tampak kemudian dari luar, ia terlelap kelelahan.


Malam 5: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Ia masih tampak terjaga. Mondar-mandir di depan balkon sembari memegangi handphone warna kuningnya yang baru saja berkedip, mati. Seseorang baru selesai menelponnya, tapi bukan suaminya. Padahal saat itu jam dindingnya sudah menunjuk pada angka sebelas. Itu bukan karena tugas suntingannya yang belum usai. Bukan juga karena suara musik tetangga terlalu keras. Tapi karena esok hari sang suami pulang. Tak banyak yang tahu mengapa. Tapi bulan tahu semua.


Malam 6: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

“Aku kangen sekali, Dek.” Ucapnya di sela nafas yang memburu oleh rindu. Tubuh istrinya yang mungil dipeluknya erat, seakan enggan ia lepaskan. Dahinya sempat berkerut ketika mencium aroma asing di tubuh istrinya, parfum yang berbeda.
“Aduh, Mas, aku juga. Tapi jangan seerat ini memelukku, aku sulit bernafas.” jawab sang istri.
“Oh, maaf,” kata sang suami dan melepaskan pelukannya.
“Bagaimana kalau kau berganti pakaian dahulu dan aku siapkan makan malam?” kata sang istri sembari meraih handphonenya di atas meja.
“Oke!” sang suami setuju.
Sang istri keluar kamar, terpaku di depan pintu yang kemudian ditutupnya. Ia tak menyangka sang suami akan pulang demikian cepat. Telepon genggamnya kembali bergetar. Ini sudah yang kelima kali. Diangkatnya segera dan berkata, “Tunggu sampai ia tertidur, oke?” dan telepon kembali mati.


Malam 6: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Setelah makan malam bertema ‘selamat datang’ usai, sang suami memilih segera tidur. Ia merasa sangat lelah. Sementara sang istri, kembali ke meja kerja yang sengaja disusun mengahadap ke luar kamar, menyunting naskah novel yang harus ia serahkan esok hari.
“Sayang, aku membelikanmu kimono. Aku yakin sangat cocok denganmu.” Ucap sang suami di sela kantuknya.
“Oya? Terima kasih. Besok akan ku coba,” jawab istri dengan mata tetap tertuju pada layar laptop di hadapannya.
“Sayang, apa kau ganti parfum?” tanya sang suami tiba-tiba.
“Hmmm,” jawab istri masih tanpa menoleh.
“Tapi ini seperti parfum laki-laki, Dek? Apa kau salah membeli parfum?” tanyanya lagi. Sang istri terkesiap, terhenti menyunting. Oh, aku lupa berganti pakaian. Batinnya panik. Perlahan ia tolehkan kepalanya ke arah ranjang.
“Oh, emmm, mungkin ini parfum bos, Mas. Tadi sempat satu mobil dengannya karena harus menghadiri acara penghargaan cerpen.” Jawabnya dengan degupan kencang di dadanya.
“Oh, begitu. Lagi pula kamu tidak mungkin kan mengkhianatiku, Dek?”
“Hemm, tentu, Mas.” jawab sang istri.
Kemudian hening, tak ada suara sang suami, pun sang istri. Sang suami sudah tampak tidur, tapi tidak bagi sang istri. Ia masih membuka matanya, bahkan lebih lebar dari biasanya. Dadanya juga masih berdegup kencang. Laptop di hadapannya seperti tak lagi dianggapnya ada. Saat itu, handphone di hadapannya tiba-tiba bergetar. Tampak satu nama di sana, Adam. Sang istri berbegas meraihnya dan membawanya keluar. Tak banyak yang ia bicarakan. Hanya beberapa patah kata dan akhirnya terhenti pada kata Selamat tidur, sayang.
Ketika masuk kamar kembali dan tanpa sengaja melihat keluar jendela yang tak bertirai, tampak bulan masih di sana, bulan yang sama. Tiba-tiba, ia merasa takut, sangat takut. Bulan yang ia pandang saat itu seakan berbalik memandangnya. Bukan pandangan ramah seperti malam-malam sebelumnya. Bulan itu menatapnya sinis, seperti ingin melumatnya, seperti ingin menggigitnya. Bulan itu seakan mengancam membeberkan semuanya yang ia tahu.
Di kamar yang telah gelap dan hanya dihiasi suara jangkrik, ternyata mata sang suami terbuka. Bukan baru saja, tapi sejak tadi, sejak sang istri menyunting novel, terhenyak oleh pertanyaannya, dan keluar menerima telepon untuknya. Ia hanya menghela nafas dalam, lalu kemudian kembali terpejam.


Suatu siang: Teras rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota, 5 bulan kemudian

Ting tong. Bel itu kembali berbunyi, sudah ketiga kalinya dan masih belum ada yang datang membukakan pintu. Lelaki pemencet bel itu pun sudah sempat mengetuk pintu. Tok tok tok. Tapi tetap sama, tak ada jawaban.
“Rita...” panggilnya.
Ting tong. Bel itu kembali berbunyi.
Pintu pun terbuka, tapi dari rumah di sebelahnya, rumah nomor delapan belas. Lelaki pemencet bel itu menengok. Ia melihat seorang wanita paruh baya keluar dari sana, tersenyum, dan bertanya, “Cari siapa ya?”
Lelaki pemencet bel itu mengahmpirinya. ”Saya Adam, teman Rita. Rita... kemana ya?” tanyanya kemudia.
“Oh, bu Rita, istrinya Pak Bian maksudnya?”
Lelaki itu tersenyum, kecut. “Ya,” jawabnya singkat.
“Sejak bercerai dengan Pak Bian, Bu Rita pindah rumah, Mas. Tapi saya juga tidak tahu pindah ke mana.”
Ia hanya ber “O” mendengar penjelasan wanita itu dan bergegas pergi setelah mengucapkan terima kasih. Sudah pasti ia bersedih. Sudah pasti juga ia berasa ingin mati. Rita, mantan pacarnya yang menikah dengan lelaki lain tidak mengijinkannya jatuh cinta untuk yang kedua kali. Cinta setengah mati, katanya.
Kabar terakhir yang ia dengar, Bian menceraikan Rita sehari setelah kepulangannya dari Negeri Sakura. Di luar sepengetahuan Rita, ternyata Bian tahu istrinya berselingkuh. Ternyata Bian tahu bahwa selalu ada laki-laki lain di ranjang dan kamarnya ketika ia tak di sana. Bian juga tahu bahwa parfum yang menempel di tubuh istrinya bukanlah parfum bos yang diceritakannya, tetapi parfum mantan pacar istrinya semasa SMA, Adam. Kabar itu ia peroleh dari seseorang yang sengaja ia sewa untuk mengamati Rita, istrinya. Orang itu menelponnya dan melaporkan semuanya semalam sebelum kepulangannya ke Ibu Kota.
Ketika Rita meminta Adam untuk berpisah saja dan mengakhiri semuanya, Adam tak bisa berbuat apa-apa. Ketika itu, Adam masih bisa memaklumi dan memahaminya. Melepaskan Rita perlahan dan memalingkan semua patah hatinya pada pekerjaannya. Namun, itu tak bisa ditolelir lagi ketika selama hampir lima bulan tak satupun telepon dan pesan yang terjawab. Rita seakan sengaja mengabaikannya.


Malam 7: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Bulan tampak terang, seterang tujuh bulan yang lalu, saat di balkon yang kini tampak gelap berdiri dua sejoli, Rita dan Bian. Malam itu bulan tampak sumringah. Bulan lega bahwa rahasia yang sempat ia simpan akhirnya terungkap. Namun, memang akan lebih baik jika bulan bisa ngomong. Karena jika bisa, sang suami tidak akan pernah ke Negeri Sakura, sang istri akan tetap setiap pada satu pria, dan balkon yang kini tampak gelap akan tetap terang seperti biasa. Juga karena jika bisa, Adam tak akan kebingungan mencari Rita ke mana-mana. Rita ada di sana, di rumahnya, rumah nomor tujuh belas; tergantung, mati. Setelah memutuskan untuk pindah, ternyata dua malam kemudian Rita kembali ke rumahnya, memasang seutas tali pada lehernya dan membiarkan racun tikus menggerogoti nyawanya. Handphone warna kuning di sebelahnya sudah tak lagi berdering. Ikut mati bersama pemiliknya.
Sayang, hanya bulan yang tahu itu. Hanya bulan yang punya rahasia itu. Andai saja bulan bisa ngomong.


Catatan:
1Furisode: kimono formal untuk wanita yang belum menikah.
2Tomesode: kimono formal yang digunakan untuk wanita yang sudah menikah.

Senin, 05 September 2011

Ibu dan Secangkir kopi


Kisah ini berawal dari ibu dan segelas kopi.
Aku sudah mengenal kopi sejak anak lain belum mulai bisa membedakan aroma makanan. Ibuku penyebabnya. Beliau adalah satu di antara beribu bahkan jutaan penggemar kopi, pecandu kopi. Tidak banyak yang tahu tentang ini jika beliau tidak dengan terang-terangan menggoreng berkilo biji kopi untuk mendapatkan racikan kopi yang pas dengan lidahnya. Sewaktu gigi seriku masih belum lengkap benar, aku pernah membenci kopi. Menjadikannya sebagai semacam tersangka yang membuat kulitku tidak seputih gadis kecil berdarah Oriental atau justru Eropa. Aku selalu beranggapan bahwa gara-gara ibu sering minum segelas kopi ketika mengandungku, kulitku menjadi agak gelap. Sawo matang tepatnya.
“Kamu hitam manis sayang,” hibur ibuku tiap kali aku cemberut sembari memandangi kulitku lewat cermin.

Saat aku beranjak remaja, aku pun paham, bahwa aku dilahirkan dari keluarga berdarah Jawa dengan warna kulit sawo matang. Jadi mustahil jika aku berharap kulitku sepuith mutiara seperti yang gadis kecil berdarah oriental atau eropa yang pernah aku impikan. Sejak saat itu, aku resmi menghapus rasa benciku pada kopi. Aku justru mulai mencicipinya dari satu teguk kopi buatan ibu. Enak! Serasa mendapat pecerahan seketika.

Saat kemudian beranjak meninggalkan masa remaja, ibu mengijinkan aku membuatkan segelas kopi untuknya: pagi dan siang hari. Satu gelas berisi racikan yang pas dan nikmat: Satu setengah sendok teh kopi, dua setengah sendok teh gula pasir. Itu rumus pertama yang ku terima darinya. Ketika air panas kemudian terseduh di atasnya, aroma itu sangatlah harum, membuat tiap hidung yang menangkapnya tidak absen untuk menghirupanya dalam-dalam, merasakan tiap helai aroma yang tercipta.

Ketika kali pertama kopi buatanku tersaji, ibu tampak belum puas benar. Tapi ia tetap tersenyum. Ketika ku tanya apa yang kurang, beliau bilang, “Airnya kurang penuh sayang.” Inilah rumus kedua yang akhirnya ku dapatkan. Rumus yang ibu miliki dalam meracik kopi, bahwa gelas itu belum bisa dikatakan penuh sebelum air kopi berjarak nol koma lima sentimeter dari bibir gelas.

Pernah aku tanya mengapa kopi begitu penting bagi hidupnya. Ia hanya tersenyum menaggapinya dan menjawab bahwa kopi baginya menjadi semacam semangat hidup selain suami dan anak-anaknya. Juga semangat hidup ketika ia rindu pada kampung halaman yang berjarak tidak dekat darinya.

Hingga saat ini, kebiasaan dan kegemarannya masih sama: menciptakan segelas kopi di pagi dan siang hari dengan dua rumus yang bisa membuatnya mengerutkan kening ketika seseorang mengubahnya. Kebiasaan dan kegemarannya yang mulai aku lakukan sebagai kegemaran dan kebiasaanku di pagi dan siang hari. Dan semuanya itu berawal dari kisah ibu dan segelas kopi.

Awal Coretan Saya

Selasa, 06 September 2011
inspirasi memang muncul begitu saja. seperti saya. blog ini saya buat berdasarkan inspirasi yang tidak sengaja saya dapatkan dari salah satu teman sayadi akun twitter, Kak Zufikar Naghi, Presenter Brita favorit saya. jadilah saya menirunya menceritakan tiap hal menarik yang saya alami. sebelumnya memang saya punya blog lain. tapi tidak saya urus dengan baik. jadilah ia kering baik dari tulisan apalagi dari tanggapan teman. berharap punya hal baru, saya buatlah blog ini. semoga nantinya blog yang saya namai Coretan Rara ini bisa menciptakan coretan yang mampu menghibur, bahkan bermanfaat untuk pembacanya ^^