Sabtu, 14 Desember 2013

jangan main-main dengan cinta



"jangan main-main dengan cinta, kalau ledakannya salah arah, kamu akan terluka." katanya tanpa berpaling dari gitar di tangannya. dia Haris, sahabatku sejak kami bahkan belum bisa membedakan bunyi l dan r. kami tumbuh bersama layaknya saudara. ohya, ujaran tadi ia lontarkan saat aku dengan semangatnya menceritakan lelaki bernama Bian, lelaki yang aku kenal dari sebuah komunitas pembaca novel asing. Nama John Green, Nicholas Spark, juga Dan Brown kerap menjadi jembatan percakapan yang terjadi. dan malam itu, Bian baru saja mengajakku ke tempatnya biasa menghabiskan waktu bersama karib-karibnya.
"Ah, kau tidak tahu saja bagaimana caranya ia mempelakukanku di depan teman-temannya tadi.” seperti biasa, Haris hanya menoleh sejenak dan tidak memberikan komentar lagi, kebiasaan yang sudah aku hafal sejak dulu: tidak banyak bicara.
dan malam itu, satu minggu kemudian, Haris yang memang tidak banyak bicara, hanya diam mendapatiku menangis di ambang pintu kamarnya: Bian berbohong dan aku terluka. ledakan cintanya membuatku tersakiti. Haris yang tengah sibuk dengan gitarnya tampak terkejut melihatku. yang kemudian ia lakukan hanya melepaskan gitarnya, mendatangiku di pintu kamarnya, dan meraih tubuhku yang sudah lelah menangis ke dalam pelukannya.
“Sssh.” hanya desis itu yang aku dengar setelahnya. dan menit selanjutnya, luka terbakar karena ledakan cinta Bian berangsur sembuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar