Minggu, 13 Oktober 2013

Pada Sebuah Karpet


Perempuan itu masih berdiam duduk menekuk lututnya sejak berjam-jam lalu. Mata dan wajahnya yang sudah kering kini kembali basah. Entah sudah berapa lembar tisu yang ia lorot dari kotak warna kuning di sisi kanannya. Yang jelas, tempat duduknya, karpet di bawahnya, sudah tidak lagi terlihat permukaannya. Ia sudah dikelilingi lautan kertas tipis basah yang penuh dengan air mata, ingus, bahkan keringat.
Sejak bangun pagi tadi ia belum mandi dan jam digital di sisi kanan tempat tidurnya sudah menunjukkan angka 11.25 WIB. Menghidupkan AC tidak lagi ada di otaknya karena seluruh bagian otak itu hanya terisi dengan kata tanya kenapa yang tak kunjung mendapatkan jawaban karena. Jadilah ia berlumuran keringat sebesar jagung di dalam kamar berukuran 3x4 dengan jendela tertutup di tengah kota bersuhu 43 derajat celcius.
Dan ketika ponselnya hanya menghantarkan suara operator untuk mencoba lagi penggilannya beberapa saat kemudian, buliran bening di pelupuk matanya itu kembali menggelinding bebas, melindas pipinya yang tidak lagi bersemu oleh blush on merah muda, menerabas sudut bibirnya yang pucat dan tidak lagi berlipstik menyala seperti semula. Ia patah dan itu karena satu lelaki di seberang ponsel di tangannya. Lelaki yang semula membuat perempuan ini tak pernah tersentuh oleh bau keringat tajam dan asam, apalagi air mata menyedihkan. Tidak pernah seperti siang itu.
Dalam bisu semacam itu, ia hanya peduli dengan dirinya sendiri. Ia tidak peduli lainnya, tetangganya, apalagi benda mati disekelilingnya. Karena jika bisa sedikit saja meregangkan telinganya dan hatinya, mungkin ia dapat mendengar bagaimana karpet di bawah badannya sudah berteriak ingin mandi, sudah meronta ingin pergi dan digantikan dengan yang lebih wangi. Bayangkan saja, berpuluh tetes air mata sudah berkali-kali jatuh di atas bulu-bulunya yang halus dan mulai melembek dan kasar. Tiap seratnya bisa merasakan betapa asinnya air mata dan peluh yang menempel padanya. Bahkan debu kamar yang tak kunjung pula di buka makin menebal dan meresap tanpa ampun di sela anyaman lembutnya.
Sejak pertama kali dibentangkan di atas lantai kayu kamar apartemen bernomor 23 berukuran 3x4 meter beberapa bulan lalu oleh lelaki bernama Fabian, ia belum pernah sekalipun menggantinya ataupun mencucinya. Karpet itu menjadi tempat segala hal yang perempuan tadi lakukan: tidur di atasnya, berdiri dan berjingkrak-jingkrak di atasnya, bahkan jika letihnya terlalu parah, perempuan itu akan tertidur pulas di sana tanpa sempat mandi, berganti pakaian, apalagi menyalakan pendingin ruangan. Belum lagi serbuk-sebuk bedak yang tidak pernah absen bertabur dan terjatuh lalu menempel di atasnya yang jika si karpet punya mata akan lekas mengidap katarak. Meski ia hanya bisa bisu, ia bisa merasakan bulu-bulu halus yang dulu sempet disanjung setengah mati di depan pembentangnya kini tinggal bulu kasar yang tak lagi bisa kembali pada posisi awal ketika diusap: kaku, tidak lagi indah. Kan sudah dibilang tadi, perempuan pemiliknya hanya peduli pada dirinya sendiri. Mungkin memang keberadaannya cukup disandingkan dengan benda mati lainnya. Toh, perempuan itu sudah tidak bisa lagi memandang karpet kusam tadi sebagai pemberian spesial tunangannya, lelaki yang sudah berkali disebut tadi, yang membuat buliran bening itu makin deras. Perempuan itu sudah memandangnya sebagai benda yang berhak diinjak semaunya. Ini belum lama karena baru semalam drama sedih itu dimulai. Saat tiba-tiba sang tunangan mengajaknya pergi dengan segala kebahagiaan terpancar di wajahnya sampai akhirnya mengantarkannya dalam kondisi tak terkira kacaunya: lelaki itu memutuskan pertunangannya, membatalkan pernikahan yang dirancang dan direncanakannya.
Dan karpet itu menjadi saksinya. Bukan hanya saksi kesedihannya malam itu, tapi juga malam-malam sebelumnya: sejak ia masih menjadi perempuan yang ceria dengan segala keriangan dan taburan bedaknya, hingga akhirnya menjadi perempuan yang muram durja dengan duduk menekuk lututnya berjam-jam hingga saat ini: 12.56 WIB!
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Coba beberapa saat lagi….. Suara itu yang didengarnya lagi, lagi, dan lagi.
Tangannya terkulai lemas di sisi kakinya, melemparkan perlahan ponsel yang sedari tadi ia genggam. Tisu yang ia lorot semakin lama semakin menebar, luas, menumpuk.
Aku belum siap untuk kita menikah, Eva.
Kenapa? Kenapa sekarang?
Aku....
Apa ada wanita lain?
….
Jawab, Bian!
…..
Fabian!
Ya, ada.
....
Dan kamu tidak perlu tahu siapa orangnya.

Tubuhnya bergetar hebat ketika rekaman ulang kejadian semalam itu seakan berputar lagi di otaknya. Kali ini ia tidak melorot lagi tisunya, ia bersimpuh, lututnya tidak lagi dipeluknya, ia biarkan tangannya menopang badannya, ia biarkan air matanya berjatuhan bebas tanpa jeda, tepat di atas karpet di bawahnya. Dan sekali lagi, ia tidak peduli. Termasuk ketika kemudian ia bangkit dan meraih dengan gusar dua pigura foto berukuran 10 R di atas mejanya, melemparnya hingga membentur dinding dan pecah. Ia tidak lagi peduli betapa tangannya ikut koyak dengan pecahan kaca yang berserakan di mana-mana. Senyum di tiap foto yang kemudian tergeletak di sana tidak lagi indah di matanya: senyumnya dengan lelaki bernama Fabian dan senyumnya dengan seorang perempuan yang merupakan sahabat baiknya.

Lulu...
....
Dia Lulu, Eva.

“Aaaaaaaa!” jeritan itu yang kemudian menyusul, terdengar menyayat, penuh kepedihan, dan tidak menyisakan sedikut pun ruang bagi siapapun untuk sekadar menyelipkan kalimat penyembuh Sabar, ya.

***

Ruangan yang sama masih gelap, padahal hari sudah beranjak malam. Jam digital di sisi kanan tempat tidur sudah menunjukkan angka 18.56 WIB. Perempuan tadi tidak lagi duduk menekuk lutunya, tidak lagi bersimpuh dengan tangan menyangga badannya. Ia tergeletak di sana dengan mata terbuka. Mungkin sudah letih, mungkin juga kemudian perlahan ia akan tertidur.
I just wanna die in you’re arm….. lagu No Promises milik Shayne Ward itu terdengar lagi dari ponselnya, nada dering panggilan masuk. Ini sudah yang kesekian kali dan perempuan bernama lengkap Evania Dewanti itu masih juga bergeming, diam di sana, tidak kunjung bergerak menjawabnya, seakan sengaja mengabaikannya. Ketika kemudian ponsel itu terdiam lagi, berhenti berdering, satu nama muncul di layar dengan belasan panggilan tak terjawab: my bestie Lulu.

***

Suara sirine itu terdengar terlalu nyaring di pagi buta pukul 04.32 WIB. Ada beberapa orang berseragam putih yang mondar-mandir keluar masuk sebuah kompleks rumah kos Wisma Kenanga, tepatnya dari kamar kos bernomor 23. Apalagi kalau bukan mengurus perempuan bernama Evani Dewanti yang menjadi pemilik kamar tersebut. Singkat saja, ia mati. Bunuh diri. Ini tidak lagi karena memotong pergelangan tangan, tetapi memotong  nadi lehernya sendiri.
Seorang perempuan lain tengah sesenggukan di atas tempat tidur dengan seprai tak beraturan. Dialah Lulu, sahabat baik Eva yang sehari sebelumnya membuat belasan panggilan tak terjawab, pengantar nada dering Shayne Ward pada ponsel yang kini sudah mati, mengikuti jejak pemiliknya. Ada sebuah bongkahan rasa bersalah di dalam hatinya, mengapa ia tidak menyadari situasi yang terjadi. Mengapa tiba-tiba Eva menjadi gusar padanya dan mengapa tiba-tiba belasan panggilannya tidak terjawab.
Satu jam lalu ketika kemudian ia nekat pergi menyusul ke apartemen sahabatnya itu, ia baru sadar yang terjadi telah terlampau buruk, semua sudah lewat, tidak lagi ada kesempatan untuk mengubahnya meski barang sedikit saja. Bagaimana bisa dia menghidupkan lagi sahabatnya yang sudah terlanjur pergi dengan cara yang bahkan tidak pernah dia bayangkan? Bubur sudah mencair dan ia tidak lagi bisa mengembalikannya menjadi nasi, atau bahkan padi.
Dengan menggunakan kunci duplikat yang memang dimilikinya, ia membuka apartemen dan kamar Eva yang gelap gulita. Jika saja ia tidak berpegangan pada gagang pintu, ia bisa saja terjerembab, terhuyung jatuh di atas lantai. Kamar itu tidak lagi bisa dinamakan sebuah ruangan yang utuh: tisu bertebaran di mana-mana, serpihan kaca yang pecah terpelanting ke segala arah, juga foto-foto dengan gambar dirinya di sana terkoyak kusut.
Ia sudah melakukan kesalahan. Hanya satu memang, tapi itulah yang justru membuat segala hal dalam hidup Eva juga hidupnya menjadi kelabu. Sebuah kesalahan yang bahkan ia sendiri tidak bisa memaafkannya, yang bahkan ia sendiri bisa melakukan hal yang sama jika Eva adalah dirinya. Mendadak ia membenci dirinya.
Sahabat?
Kepalanya menggeleng keras ketika kata itu meletup begitu saja di kepalanya. Ia lebih mirip parasit pembunuh jika harus menuliskan label identitas dirinya bagi Eva. Parasit yang merenggut impian Eva tentang perniakahan serba sempurna dengan gaun berwarna putih dengan ekor panjang tak terkira. Parasit yang merenggut impian Eva untuk memiliki satu keluarga utuh dengan Bian yang akan sering duduk di atas karpet berwarna hijau lumut di kamarnya, bercerngkrama sampai pagi tentang apa saja. Ia lah parasit yang dengan tega merebut hati Bian untuk kemudian meninggalkan Eva yang patah dan hancur sehancurnya. Ia lah parasit berupa perempuan lain yang sempat disebutkan Bian pada malam terakhir pertemuannya dengan Eva. Ia sudah merebut calon suami sahabatnya sendiri: merebut Bian dari Eva.
“Aaaaa..” jeritan itu yang kemudian terdengar.

***

Ruangan kamar tadi sudah kembali gelap. Karpet hijau lumut yang belum juga beranjak dari sana kini makin kusam, makin masam. Dan satu bekas baru sudah menempel lagi di atasnya: bercak darah perempuan lain, selain pemiliknya. Lulu yang putus asa, Lulu yang merasa penuh dosa memutuskan turut mengukir sejarah di karpet yang sama. Mati dengan cara yang sama.
Para medis yang kemudian datang mengangkut jenazah Lulu, hanya menggeleng-geleng tak mengerti. Baru kali itu mereka menemukan satu kasus bunuh diri beruntut yang korban keduanya adalah pihak yang menemukan korban pertama. Desas-desus yang kemudian merebak bahwa korban kedua dibunuh oleh arwah penasaran korban pertama menjadikan siapapun yang ada di sana tak berani mendekat, apalagi bicara sembarang. Para medis, para tentangga, dan juga para pemilik mata yang kebetulan lewat hanya mengelus dada dan tidak berani banyak berkomentar. Takut kualat, katanya.

***
“Evania Dewanti
Evania Dewanti
Evania Dewanti
Eva
Eva.....” Gumamnya.

“Lusiana Bramantyo
Lulu, Lusiana, Lusi
Lusiana....” Gumamnya lagi.

“Evania, Evaaaa... Lusiana, Lulu, Lulu....Luluuu..” Lagi lagi dia menggumam.
Seseorang tengah duduk bersimpuh memeluk lututnya  sendiri di dalam sebuah ruangan seba putih: bergerak maju mundur seperti ayunan yang tak kunjung berhenti bergoyang. Ia sendiri di situ, di dalam ruangan tertutup rapat tanpa jendela. Mukanya tampak pucat, kusam. Bintik-bintik kumis dan jambangnya yang mulai menebal menunjukkan bahwa ia tidak lagi setampan semula. Tulang pipinya yang mulai tampak menonjol menunjukkan betapa ia tidak pernah menyentuh makanan dan minuman yang disodorkan para suster padanya. Plang kayu bertuliskan nama Fabian Lesmana di sisi tempat tidurnya sudah bercampur dengan coretan lain tak beraturan dari tangannya yang tampak lebam di mana-mana.
Sesekali, ia melirik ke ujung ruangan, pada satu titik onggokan kain kumal, tebal, berbulu. Warnanya yang kusam menyembunyikan warna aslinya, warna hijau lumut. Ya, itu karpet dari kamar Eva, karpet yang belum sempet dicuci dari segala macam air mata, peluh, juga simbahan darah, termasuk dari ribuan titik debu dan serbuk bedak. Entah bagaimana bisa ia membawanya dari sana. Ketika kemudian ia dinyatakan mengalami gangguan jiwa, karpet itulah yang ia bawa dengan susah payah bersamanya, meski sering kali justru karpet tersebut yang menjadi pemicu kekacauan di kamarnya.
Drama yang terjadi akan dimulai dengan pandangannya yang memincing, kemudian perlahan mendekatinya, membuka dan membentangkannya, tersenyum dan berbicara sendiri dan akhirnya berteriak-teriak sekeras yang ia bisa hingga suaranya menjad parau. Lalu, tanpa lagi bisa ditahan, ia akan menangis, meraung ketakutan, seakan karpet yang baru saja didatangi dan disentuhnya adalah makhluk hidup menyeramkan yang hendak melumatnya dengan taring tajam hingga tubuhnya tercabik hancur.
“Ampuuuun, ampuni aku Evaaa, Lulu....”
Dan jika perilakunya mulai berubah menjadi garang hingga melukai dirinya hingga lebam di tangannya melebar ke tubuh dan kepalanya, pintu rapat itu akan terbuka, mengantarkan para suster ke dalamnya. Kalau sudah begitu, ia akan kembali tenang, bahkan terlelap dengan wajah damai. Mungkin tidak lama, tapi paling tidak ia bisa beristirahat sebelum kembali bergumam dengan dua nama yang sama, mendekati karpet yang sama, dan berteriak hingga mengamuk dengan cara yang sama.
_end_

Sabtu, 07 September 2013

Tentang Masa

Ada masa ketika aku belajar untuk memperjuangkan sesuatu. Ya, aku akan terus mengejarnya meski akhirnya hanya kosong yang aku peroleh. Sesuatu berbisik begini ketika kekosongan itu tiba, "Kamu tidak merugi, bahkan jika mau kekosongan di hadapanmu itu marah karena kamu pernah membangunnya dengan peluh deras tanpa satu pun keluh." Meski aku menangis, tapi tetap ada senyum yang rela aku sunggingkan di antaranya. Aku tetap menang.

Lalu, ada juga masa ketika aku belajar untuk merelakan sesuatu yang bahkan aku rela mati untuk meraihnya. Ya, aku akan berupaya meletakkan rasa benciku pada sesuatu itu agar aku bisa cepat lupa, agar aku bisa cepat bilang bahwa sesuatu itu benar bukan untukku dan benar bukan dalam 10 daftar ingin dalam hidupku. Sampai akhirnya, aku bisa membiarkannya mengalir begitu saja di hadapanku, pergi, tanpa repot mengulurkan tangan untuk mencegahnya menjauh.

Dan, masa yang tengah ada sekarang adalah masa ketika akupun tidak tahu harus memberi label dengan macam masa yang mana. Kamu, ya kamu, tahu pasti bahwa aku tidak pandai memberikan sebutan pada sesuatu. Masa ini adalah masa ketika aku bahkan tidak memiliki kuasa untuk memintamu tetap tinggal. Aku ingin kamu di sini, tepat di dekatku berdiri tiap kali menanti dan menikmati senja; tepat di hadapanku ketika angin itu terlalu dingin untuk aku hadapi, dan tepat di belakangku ketika memang aku butuh tumpuan dalam jalanan yang terlalu terjal untuk aku daki sendiri. Aku ingin kamu punya tempat tersendiri yang tidak terusik oleh pertanyaan, "Apakah kamu pantas?"

Tapi, aku tidak bisa, aku tidak sanggup, bahkan kuasa atas dirimu saja aku tidak punya. Kamu bukan milik siapa-siapa. Jelas. Tapi, karena itulah aku tidak berani mengatakan bahwa kamu bisa saja menjadi milikku: dirimu, jiwamu, waktumu, nyawamu, semuanya. Aku tidak berhak. Ini masa sulit dan aku pun tidak bisa mendefinisikannya seperti para ahli bahasa memberikan makna tiap kata dalam kamus yang aku punya. Seperti yang aku bilang tadi, aku tidak pandai memberikan nama.

Jadi, mau kan kamu yang menentukan masa ini ke dalam macam yang mana? Bukan aku ingin melepas tanggung jawabku sebagai pencerita. Tapi, setidaknya, ketika kamu bisa menentukan macamnya, kamu pun akan tahu apa yang seharusnya aku perbuat padamu. Apa yang seharusnya aku lakukan atas kamu. Apakah aku akan memintamu tetap tinggal untuk ada tepat di dekatku, di depanku, dan di belakangku? Atau, apakah lebih baik jika aku membiarkanmu pergi saja, begitu saja, tanpa satu pun uluran tangan tegas untuk mencegah langkahmu yang kian menjauh? Ini masa sulit, sudah ku bilang kan. Cepat jawab ya, aku sudah lelah terdera. Angin ini cukup keras menampar tubuhku sendiri dan aku sudah tidak bisa lagi bertahan lebih lama untuk tidak berbisik, "aku rindu".

Jumat, 23 Agustus 2013

Menulis Takdir

Baju atasan seragamku sudah aku lepas sejam yang lalu, menyisakan kaos bergambar tokoh Superman yang aku suka. Lalu, tanpa takut kusut, aku jadikan atasan ku tadi sebagai bantal untuk berbaring di sebuah padang rumput yang ujungnya disambut oleh bibir danau. Kamu ada tepat di sampingku, terlentang dengan berbantal tas warna hijaumu.

"Aku ingin menjadi pelukis," kataku kala itu. Mataku agak memincing ketika ranting pohon di atas tempat kita berdua berbaring, bergerak oleh angin dan sinar matahari itu menyelip di antara celahnya.
"Kalau aku ingin menjadi artis." aku  menoleh  mendengar ucapanmu. "Aku ingin menjadi gadis yang dikenal banyak orang." lanjutnya tanpa sempat mengizinkan aku untuk bertanya mengapa.
"Kalau sudah jadi artis, lalu apa kamu akan lupa padaku?" ujaran itu membuatmu yang menoleh padaku, membuat mata kita bertemu, dua pasang mata anak usia 11 tahun saling menyorotkan sinar tanda tanyanya. Lalu kamu tersenyum sembari menyubit pipiku perlahan.
"Tentu tidak, Daru. Kamu mengada-ada. Bagaimana bisa aku padamu sedangkan sejak lahir pun kita sudah tertakdir bersama. Kau ingatkan kita dilahirkan pada hari dan jam yang sama meski dari rahim yang berbeda." paparanmu itu membuat tersenyum lega. Mengangguk adalah hal yang berikutnya aku lakukan.
"Lalu, kalau kamu sudah jadi pelukis seperti kakekmu, apa kamu juga akan lupa padaku?" kamu bertanya sembari cemberut, aku masih ingat.
Gantian aku yang tersenyum dan mencubit pipimu. "Tentu tidak, Mona, aku tidak akan lupa dengan gadis yang bahkan namanya sama dengan lukisan favoritku, Monalisa." Dan kemudian kita sama-sama menatap, berjanji dalam hati untuk tetap menjadi orang yang sama. Orang yang sesuai dengan kata-kata yang dituliskan dalam secarik kertas di masing-masing tangan kita. Kamu menyebutnya dengan menulis masa, menulis takdir kita.

***

Aku masih ingat bagaimana raut mukamu hari itu. Aku juga masih ingat bagaimana kamu enggan pulang dari rumahku setelah ayahmu meminta untuk segra beranjak dari kursi tamu. Kamu dan keluargamu akan pindah ke kota dan aku harus tetap tinggal di desa. Ayahmu mendapatkan tempat kerja baru dan kamu harus ikut bersamanya. Aku memang tidak menangis waktu itu karena kamu juga tidak. Hanya saja kita berdua sama-sama tahu, kita tidak ingin saling melepaskan. Hal yang kemudian menjadikan air mataku jatuh adalah dirimu yang menghambur padaku, memelukku erat sekali, seakan mengatakan bahwa hatinya yang rapuh butuh untuk dikuatkan. Aku balik memelukmu, lebih erat, berusaha sebisa mungkin menguras tenagaku untuk membiarkan air matamu tidak tumpah semua di pundakku. Dan tanpa diminta, kedua orang tua kita turut hanyut di dalamnya.

***

Setahun bertahun berlalu dan tumpukan kertas surat itu semakin menggunung. Kamu mengirimkannya seminggu sekali dan kini aku butuh kotak surat tambahan untuk memuat semuanya agar tetap tersimpan rapih. Dalam tiap suratmu, kamu sering bercerita bagaimana sekolah barumu begitu menyenangkan, Bagaimana kamu bisa mengenal banyak orang terkenal yang dulunya hanya kamu raba lewat layar televisi. Kamu juga bilang, bahwa impianmu menjadi artis akan lebih mudah di sana. Aku turut bahagia jika kamu bahagia, tapi tidakkah kamu ingin pulang ke desa kita lagi? Aku rindu dan aku tidak lagi bisa menahannya.Apa kamu tidak ingin melihat lukisan-lukisan ku yang mulai digemari banyak pengamat seni?

Tunggu, hari itu sudah 3 minggu kamu belum mengirimkan balasan dari surat yang terakhir aku kirimkan. Pantas saja rasa rinduku semakin menggunung. Apa kamu baik-baik saja di sana? Atau kamu sangat sibuk sehingga tidak sempat mengirimkan surat balasan yang sudah kamu tulis? Atau malah, kamu justru belum menulisnya sama sekali? Atau kamu belum membaca surat dari aku? Ah tidak-tidak, aku terlalu ngelantur. Sehari setelahnya, aku menuliskan surat yang kurang lebih sama, aku kirimkan lagi ke alamat yang sama. Ah, andai saja ketika itu sudah ada ponsel genggam, aku akan terus menghubungi nomormu dan memastikan suratku sampai, terbaca, terbalas, dan kamudalam keadaan baik-baik saja.

***

Ada yang hilang ketika kemudian aku menyadari sudah hampir 6 bulan surat balasan darimu tidak satupun datang. Aku tahu, saat itu karier keartisanmu sudah mulai meroket. Kamu menjadi idola masyarakat negri. Kamu yang ramah, sopan, cantik, dan pintar bisa meraih simpati dengan mudah dari banyak orang. Termasuk aku. Dan tekadku untuk menyusulmu ke kota, menjadi bulat. Aku pun menyusulmu, berbekal sejumlah tabungan dari hasil penjualan lukisan, aku berangkat dengan bus. Harapan untuk bertemu denganmu sangat besar. Sudah terbayang apa-apa saja yang akan aku lakukan ketika kita bertemu lagi: meneriakkan namamu, berhambur ke pelukanmu, dan bilang bahwa aku merindukanmu, merindukan sahabat kecilku. Sahabat? Entahlah, aku juga tidak begitu paham dengan statusmu bagiku. Yang pasti, kamu menjadi alasan utama kepergianku ke kota. Kamu, dan bukan lainnya.

Sektar 6 jam kemudian sampai. Tapak pertama di kota itu aku rasakan sebagai satu lembar baru dalam cerita dalam hidupku. Aku akan segera bertemu dengan mu. Dua hari lalu, ada tayangan iklan yang menyebutkan bahwa kamu akan hadir dalam sebuah acara talk show untuk menjadi bintang tamu. Asal kamu tahu, aku sudah beli tiketnya jauh-jauh hari. Bima, tetangga kita, yang pulang dari kota yang membawakannya.

Setelah selesai makan siang dan istirahat sejenak, aku pun bergegas menuju tempat dimana kita akan bertemu, dimana aku akan kembali melihat wajah polos yang dulu pernah bilang aku ingin menjadi gadis yang dikenal banyak orang. Ah, betapa bahagianya kamu ketika menyadari bahwa kamu berdiri dengan anggun ketika semua orang menyanjung namamu, menyanjung perilakumu. Seperti yang tengah ku lihat saat itu. Sudah ku bilang kan tadi, kamu ramah, sopan, cantik, dan pintar. Itu mengapa ketika kemudian kamu masuk ke panggung dengan setelan dress selutut berwarna pastel, semua orang tepuk tangan, bersorak meneriakkan namamu. Ya, ini persis seperti yang kamu inginkan. Ini persis seperti takdir yang pernah kamu tulis bersama ku di bawah pohon di tepi danau. Kau tahu, takdir yang aku tulis juga terwujud.
"Dan selamat datang Monalisa." sambut pembawa acara.
Aku tersenyum ketika kamu kemudian tersenyum pada kami semua, penonton di hadapanmu. Banyak yang ditanyakan padamu, tentang hidup, tentang cinta, tentang persahabatan. Tema terkahir itulah yang paling aku suka. Terutama ketika pertanyaan Apa Anda memiliki sahabat?
Dan kemudian kamu dengan tegas menjawa, "Ya, dan saya sangat menyayanginya juga merindukannya."
Aku di sini, Mona. Aku menontonmu. Ingin sekali kala itu aku berteriak demikian.


***

Aku masih belum percaya yang aku lihat. Mona, kamu, sangat luwes di atas panggung tadi. Tidak ada sedikitpun kecanggungan yang dulu selalu kamu keluhkan tiap kali kepala sekolah memintamu menjadi pembaca UUD 45 ketika upacara bendera. Kamu sudah pantas menyandang predikat itu: artis ibu kota.
Duggh!! 
Seseorang menyikut kepalaku membuatku meringis, sakit sekali. 
"Permisi, permisi." Teriakan itu terdengar kemudian diiringi kerumunan wartawan dan banyak orang lainnya yang sebagian besar adalah penonton yang duduk di sisi kiri, kanan, belakang, dan depan ku tadi.
"Monaaa."
"Aaaaak!"
"Love you, Monaaa." teriakan itu membuatku tersadar, kamu ada di kerumunan itu.
"Monalisaa." aku ikut berteriak. "Ini aku, Daru Sanjaya. Daru sahabat kamu." Ucapku. Mona tetap berjalan, aku tahu kamu pasti tidak dengar. Maka aku mengulanginya. "Mona. Monalisa!!!" teriakku dan yak, kamu menoleh. Kamu menoleh. DIA MENOLEH, TUHAN!!!
Aku tidak bergeming, berhenti dan tersenyum dengan penuh peluh dan haru. Kamu berhenti, diam beberapa detik sampai akhirnya berjalan lagi tanpa menoleh. Aku terkesiap. Apa dia lupa wajahku? batinku.
"Ini aku, Mona. Daru!! Daru Sanjaya." Teriakku lagi. "Monaaa!"
"Eh, sini kamu. Pengganggu saja." Dua orang berbadan besar itu justru menyeretku, menjauh dari kerumunan, menjauh dari mu, dari Monaku.
"Aku sahabat Monalisa, Pak. Aku tidak berbohong!!" Aku memohon. Tapi, nihil. Aku tetap diseret, semakin jauh dan jauh. Hingga akhirnya kamu masuk mobil dan berlalu, aku tidak juga bisa menyapamu dengan benar: menyapa dan kamu membalas sapaku.

***

Ibu kota terlalu besar, kata ibu. Benar saja. Aku sudah mulai gerah dengan cuacanya. Gerah sekali. Apalagi kejadian sehari sebelumnya membuatku bertanya-tanya. Mengapa kamu tidak mengenaliku? Mengapa kamu tidak membalas sapaanku? Ketika itu, aku baru saja sampai di pusat perbelanjaan. Berniat membeli beberapa bekal untuk pulang saja ke desa esok harinya. Tidak ada gunanya juga kalau kamu tidak lagi mengenaliku. Mungkin kamu terlalu sibuk. Mungkin juga aku justru menjadi pengganggu karier bagusmu.
"Bruk!!" Aku menabrak seseorang di pintu masuk. Sejumlah makanan dari tas belanjaan berserakan di depan kakiku. Reflek, aku pun membungkuk, berusaha memungutinya satu per satu.
"Maaf, ya, saya tidak sengaja." ujarku berusaha meminta maaf atas keteledoranku tadi. Memalukan. Aku pun mendongak, berusaha tersenyum pada seseorang yang justru sedari tadi diam di tempatnya dan tidak menjawab ucapan maafku. Satu detik, dua detik, dan tiga detik, aku melakukan hal yang sama, diam. Bukannya memunguti satu persatu barang belanjaan tadi, aku justru berdiri dan menatap dengan terkejut seseorang yang ternyata wanita di hadapanku. Sudah bisa ditebak, oran gitu kamu, Mona. Mona, sahabat kecilku.
"Mona...." ucapku lirik hampir tidak terdengar. Kamu tampak terpengarah, leher panjangmu tampak bergerak naik turun karena menelan ludah.
"Mona, apa kabar?" tanyaku dengan suara bergetar, berusaha mengontrol perasaannku yang entah bagaimana bentuknya. Ini terlalu kejutan untuk bertemu dan bertatap muka tanpa siapapun yang mengeruminimu seperti sebelumnya.
"Permisi." Aku terkesiap saat kamu bahkan tidak membalas panggilan nama dan menajwab pertanyaan tentang kabar dari ku. Sebelum kamu kembali menjauh dan aku tidak sempat meraih tanganmu untuk bertanya banyak hal, aku mengejarmu.
"Tunggu, Mona. Ini aku, Daru. Mona..." teriakku.
"Kamu lagi, pergi sana." Seseorang menghadangku sebelum sempat aku bisa mengejarnya. Orang yang sama dengan yang meraikku menjauhi kamu tempo hari.
"Pak sudah saya bilang, saya ini....'
"Alah, kalau begitu saya bisa juga bilang bahwa saya Oomnya Mbak Mona. Begitu.' ia membentak. "Sudah lah, berhenti bermimpi bisa menjadi sahabat beliau. Beliau saja tidak pernah bertemu apalagi mengenal kamu." Nafasku tertahan mendengarnya. Kamu bilang tidak mengenalku? Tidak pernah bertemu denganku? Ah, Mona.
"Mon, Mona yang bilang be, begitu, Pak?"
"Iyalah. Sudah-sudah, pergi sana." Dan ia berlalu setelah masuk ke mobil yang sama dengan mu.

***

Aku masih termangu dalam perjalanan, menatap keluar jendela. Bus ini akan segera membawaku pulang dan aku tidak perlu lagi mengingat apa-apa yang terjadi pada 'pertemuanku' denganmu, Mona. Kenangan itu akan lebur bersama angin yang terlewati. Dan ketika sampai rumah nanti, kenangan pertemuan itu sudah habis. Kemudian, aku akan menggantinya dengan kenangan lainnya yang lebih manis. Mungkin tentang yang lainnya, atau mungkin masih tentang kamu, Mona. Tentang kamu yang aku kenal sebagai sahabat sejati, yang pernah enggan terpisah denganku, yang ingin selalu bersamaku. Tentang kamu yang ramah, cantik, dan pintar. Tentang kamu yang tidak akan pernah membiarkan takdir lain masuk ke dalam takdir yang kamu mau.

Bagaimana bisa aku padamu sedangkan sejak lahir pun kita sudah tertakdir bersama. Kau ingatkan kita dilahirkan pada hari dan jam yang sama meski dari rahim yang berbeda...
Kamu masih ingat kata-kata itu, Mona? AKu masih dan kalimat itu masih tertanam di dalam buku catatanku semasa SMP. Bukan untuk mengingatnya untukku, tapi agar ucapan itu tidak hanya menguap begitu saja di udara, tetapi juga tersimpan dengan baik seperti prasasti. Mungkin tidak sekadar di buku catatan itu, tetapi juga di dalam otakku, di dalam hatiku. Bahwa kamu akan kembali padaku suatu hari, bahwa kamu akan selalu ingat dengan namaku, wajahku, dan surat-surat balasan yagn belum sempat kamu tulis dan kirimkan padaku.

Ini risikonya, Daru. begitu katamu di malam ketika akhirnya aku bisa menemuinya. Tentu tanpa sengaja. Aku harus pergi dan kamu jangan lagi datang untuk aku. Aku bukan lagi yang dulu. Aku suka dunia ini. Ini takdirku, takdir yang aku tulis. Aku menulis 'artis' dan aku tidak menuliskan kamu di dalam takdir 'artis' itu. Maaf, namun aku tidak ingin kehilangan takdirku karena takdir yang kamu tulis. 

Marah? Pasti, aku marah, Mona. Kamu pergi begitu saja tanpa tahu betapa aku sangat terluka. Apalagi ketika aku menyadari bahwa kamu tidak sekadar sahabatku. Perasaan yang pernah tidak bisa aku definisikan tenang statusmu di hatiku sudah bisa aku definisikan. Aku jatuh cinta. Bukan sejak aku melihatmu di panggung malam itu. Tapi sejak aku mulai menulis surat pertamaku padamu ketika kamu tidak lagi ada di sisiku, di desa yang sama. Ini takdirku, Mona. Takdir yang tidak aku sebutkan di hadapanmu siang itu di tepi danau dan di bawah pohon. Aku menuliskan namamu di dalamnya. Takdir untuk suatu hari bisa membuatmu lebih tinggi dari sekadar teman dan sahabat. Yang bisa aku kagumi dan kemudian aku sayangi. Entah berapa kali aku menyesalinya, tapi itu sudah terlewat. Menyesali mengapa aku tidak menulis pula bahwa kamu juga menuliskan namaku pada takdirmu.


Hal yang aku tahu sekarang adalah bahwa di luar segala takdir yang kita tulis sendiri, seperti yang aku dan kamu buat siang itu di tepi danau dan bawah pohon siang itu, ada tangan lain yang justru lebih berkuasa menuliskannya. Tuhan, tentunya, siapa lagi. Dan Tuhan sudah menunjukkan itu. Meski aku bersikeras menuliskan keinginanku agar ia menuliskan namaku pada takdir yang ia mau, Tuhan sudah terlebih dulu menuliskannya untuk kita berdua. Termasuk ketika akhirnya, tadkir yang kamu tulis itu justru membuatmu kehilangan semuanya. Ya, kamu kehilangan semuanya. Malam itu, terakhir kali kita bertemu, kamu tidak sadar seseorang tengah membututimu, tengah mengincarmu. Aku pun tidak sadar sebelum akhirnya aku melihat sebuah mobil berwarna merah itu menabrakmu dengan sengaja di area parkir. Kamu sengaja dibunuh. Kabar kemudian yang aku terima adalah bahwa pembunuh itu adalah suruhan seorang wanita kaya. Wanita yang mengaku cemburu karena suaminya berpaling darinya, untukmu. Kamu berpacaran dengan seorang yang bersuami, Mona? Dan itu yang kamu bilang risikonya? Bahkan terbayangpun tidak pernah. Kamu meninggal di tempat. Seperti yang sudah ku bilang tadi, kamu kehilangan semuanya: tidak hanya nyawa, tapi juga kariermu, keluargamu, dan tentu aku, sahabatmu.

Di akhir cerita yang aku paparkan ini, aku hanya ingin bilang, ini bukan sekadar tentang menuliskan takdir yang kita mau, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menempatkan diri dengan takdir yang telah lebih dulu digariskan Tuhan, yang telah Tuhan tuliskan.Tidak ada yang melarang tentang rencana tentang takdir. Toh Tuhan juga meminta kita berusaha. Hanya saja, akan ada hal lain yang mencampuri rencana tadi yang tidak pernah kita tahu akhir macam apa yang akan ada: baik atau buruk, senang atau susah, sedih atau bahagia.

Langit mulai gelap ketika bus kembali berjalan melewati perbatasan kota. Dan ketika langit mulai tidak tampak kecuali seperti kubah hitam yang menelungkup di atasku, aku muali terlelap. Kali ini, aku tidak ingin bermimpi. Kali ini, aku ingin tidur seperti orang mati.

Finara

Surat untuk Kepulangan

Yogyakarta, 13 Juli 2013
Yang Tercinta, Aldri Harris
di Kepulauan Seribu

Hai, Al, maaf kalau kamu mulai bosan dengan tulisan tulisanku yang entah keberapa kali aku kirimkan sehingga memaksamu mengatur sejenak waktunya untuk membacanya. Atau mungkin membuang waktumu untuk sekedar berbasa-basi pada pak pos yang mengantarkannya. Ini aku lakukan karena memang kamu tidak pernah datang. Membalas surat-suratku saja tidak. Kamu tahu, orang tuamu sangat merindukanmu. Bahkan, tiap pak pos yang lewat sering kali beliau tanyai macam-macam mengapa kamu tidak kunjung mengirimkan balasan. Aku tidak ingin basa-basi di sini. Sudah terlalu banyak aku urai sedemikian rupa dalam suratku terdahulu. Aku takut kamu justru membuang surat yang kamu terima itu tanpa sudi melihatnya lagi karena semuanya telah basi, bau. 

Hal yang akan aku ulangi adalah kalimat permohonan yang sama, pulanglah. Aku tahu kamu merasa tidak pantas lagi menunjukkan batang hidungmu karena kejadian beberapa tahun itu. Aku sudah memaafkannya dan kamu tahu itu kan? Keluargamu pun demikian. Semua yang salah akan mendapat hukumannya dan kamu sudah. Apalagi yang kamu takutkan? Bahkan jika memang kamu ingin melihat ke dalam hatiku untuk memastikan apakah aku berbohong atau jujur, kamu bisa melakukannya. Membukanya lebar-lebar dan kemudian kamu akan melihat ada ruang maaf yang amat luas di sana. Juga di masing-masing hati keluarga mu dan keluargaku. Bukankan ruang sesal di hatimu pun sudah cukup untuk kembali diisi dengan hal lain selain dendam?

Kamu bilang mereka membuangmu? membencimu? itu dulu dan mereka sudah menariknya jauh-jauh hari sebelum ini. Mereka, kami semua, telah memperbaiki semuanya. Hanya tersisa satu ruang dan kamu yang patut mengisinya. Kalau memang kamu enggan mengucapkan kata maaf di pembuka kepulanganmu nanti, itu tidak masalah. Tuhan kan Maha Baik dan kamu tahu itu. Yang lebih perlu kamu lakukan kemudian hanyalah berjanji dan bertanggung jawab bahwa kamu tidak akan pernah mengulangi luput yang sama. Bahwa kamu tidak akan menapaki jalanan terjal itu hingga kamu terjerembab di lubang yang sama. Sampai akhirnya, apa yang tidak seharusnya, menjadi benar setelahnya. Apa yang semula membuat ku dan keluarga kita memalingkan muka ketika kamu menyapa, akan berubah menjadi satu sambutan hangat ketika akhirnya kamu kembali seperti sedia kala. Jadi, pulang ya? Seperti yang aku bilang di surat sebelumnya, aku masih menunggumu. Bagaimana, setuju?

With Love, 

Palupi Harris  

 *** 


Sudah tiga kali ia membacanya surat terakhir dari mantan tunangannya itu. Sekitar seminggu lalu ia menerimanya dan ia sudah hampir depresi ketika membuka amplop dengan pengirim yang sama. Meski demikian, ia tetap membacanya, satu kata, satu kalimat, satu paragraf, satu surat. Ia tahu, Upi tidak main-main. Ia depresi bukan karena bosan dengan surat Upi. Bahkan jika boleh, ia ingin menerima surat yang sama setiap hari. Ia merasa depresi karena memang ia takut. Ia takut Upi tidak sungguh-sungguh memaafkannya. Ia takut Upi akan kembali membencinya, keluarganya akan kembali membuangnya.

"Kamu kira menghamili anak orang sebelum kalian menikah itu wajar??? Memalukan!" Bentakan itu masih tertanam di benaknya, membuatnya menggigit bibir bawahnya. Bentakan  yang diucapkan oleh ibunya sendiri 4 tahun lalu. Bentaka yang kemudian mengusirnya dari rumah, dari desa, dari tanah kelahirannya, dari keluarganya. Upi mungkin diam ketika ia pamit dengan satu tas baju yang ibunya lemparkan ke halaman rumah dengan isak tangis penuh kemarahan. Tapi, ia tahu, Upi marah, sangat marah. Bahkan mungkin Upi tidak hanya mengusirnya dari rumah, desa, tanha kelahirannya, dan keluarga, tapi juga dari hatinya.

Jadi, pulang ya? Seperti yang aku bilang di surat sebelumnya, aku masih menunggumu. Bagaimana, setuju?
Itu kalimat terakhir pada surat dari Upi yang sudah berkali ia baca. Kalimat yang kemudian kemudian membuatnya yakin untuk mengemasi barang-barangnya, melupakan egonya, dan segera memencet tombol telpon rumah untuk memesan tiket kereta esok harinya. Tidak banyak yang ia bawa karena memang bukan itu yang terpenting. Hal yang lebih penting adalah bahwa ia perlu membawa lebih banyak keberanian. Tidak hanya keberanian untuk melawan egonya, tetapi juga keberanian untuk menampakkan wajah penuh dosanya di hadapan mereka semua: keluarganya dan juga Upi. Cincin perak di jari manisnya masih di sana sejak 4 tahun lalu, sejak Upi menyematkannya di sana pada malam pertunangan mereka. Ia melepasnya perlahan, kemudian menilik ke bagian lingkar dalamnya. Upi--Aldri. Kedua nama itu terukir di sana.
Cantik, ya? Aldri tersenyum ketika ingat semu di kedua pipi Upi usai pesta pertunangannya selesai. Aldri hanya mengangguk malam itu, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Upi yang kemudian mencium pipinya.
Terima kasih. Ucap Upi kemudian.
Sama-sama. Ucap Aldri, seakan ia kembali ke malam yang sama. Ia sematkan lagi cincin tadi ke jari manisnya kemudian menciumnya. Aku pulang, Pi. bisiknya.

Permisi, Mas. Kursinya kosong?
Suara itu membuatnya berpaling. Seorang pria paruh baya tengah berdiri di sisi kursinya sembari menunjuk bangku kosong di sebelah kanannya. Ia kemudian mengangguk, mempersilahkan pria tadi untuk menempatkan diri.
Hh.. 
Ia menghela nafas panjang. Sebentar lagi bus yang ditumpanginya berangkat, mengatarnya pulang. Ia berharap perjalanannya nanti bisa membuat sisa ego yang sempat membujuknya untuk menunda kepulangannya, pergi, hilang termakan jarak yang tertempuh oleh roda bus. Tidak lagi tersisa.
Aku pulang, Pi, aku pulang. Bisiknya lagi sebelum akhirnya ia terlelap dengan dengkuran halus, mendekap surat dari Upi.

***

 "Clear!" Tubuh itu tersentak lagi
"Clear!" lagi
"Clear!" dan lagi. Ini sudah berlangsung beberapa menit setelah tubuh bersimbah darahnya dibawa masuk ke ruang UGD.
"Bagaimana kondisinya?" Pertanyaan itu menyusul terucap oleh seorang dokter muda yang baru datang. I memeriksa keadaan pasien di depannya dengan seksama.
"Kritis, Dok." jawab suster di sebelahnya. "Bus yang ditumpanginya rusak berat dan sebagian korban meninggal." lanjutnya.
"Coba lagi."
Clear! Tubuh yang sama kembali tersentak. Kemudian lagi, lagi, lagi, dan
Tuuuuuut! Garis panjang yang kemudian tampak pada layar itu pun membuat tangan dokter dan susternya lemas. Pasien itu adalah korban meninggal yang ke 20.
"Dok, ini ada barang pasein yang tertinggal." Ujar seorang supir ambulans sembari menyerahkan selembar suraty ang hampir robek. Surat dengan nama Aldri Harris sebagai penerima dan Palupi Harris sebagai pengirim. Korban yang baru meninggal itu adalah Aldri. Aldri yang berniat pulang ke pelukan tunangan dan keluarganya. Aldri yang sempat tersenyum mengenang semu pipi Upi dan sepasang nama pada cincin di jarinya.

Bus yang semula ditungganginya untuk mengantarkannya kembali ke desa, ke kampung halaman, dan ke hati keluarga serta tunangannya itu tergelincir masuk jurang. Seperti yang suster rumah sakit sampaikan, hampir semua penumpang tidak tertolong dan Aldri salah satunya. Mungkin ketika nanti keluarganya tahu bahwa ia tidak kunjung datang dan memenuhi janji kepulangannya, mereka akan kembali membencinya, kembali membuangnya karena keingkarannya. Tapi, Tuhan tahu. Aldri tetap lah pulang: tidak pada keluarganya, tapi pada haribaanNya. Juga mungkin, ketika kemudian Aldri mengingat bagian PS dari surat yang diterimanya seminggu lalu, kepulangannya itulah yang lebih dipilihnya.

PS: ini surat yang Upi tulis sekitar 3 hari lalu sebelum tiba-tiba sakit dan meninggalkan kita semua. Ibu sengajaj kirim agar kamu tahu, dia tidak pernah lupa padamu dan selalu mennatimu. 
Begitu bunyinya.
Dan sekarang, di entah bagian dunia yang mana, Aldri benar-benar pulang, benar-benar kembali. Upi, tunangannya, sudah menantinya.

Finara

Kamis, 22 Agustus 2013

First Anniversary: Permintaan Terakhir

JUMAT
10.23 WIB (Beranda Fresh Florist)
Dengusan itu terdengar di telinganya sendiri. Ponsel layar sentuh di tangan kirinya baru saja mati. Dari enggahan nafas yang menderu, tampak bahwa ia menahan kesal. Siapa lagi kalau bukan pada kekasihnya. Sebenarnya, bukan hal besar kalau saja kekasihnya itu mau meluangkan satu akhir pekannya saja untuk satu tahunan mereka: firts anniversary. Pergi dengan kendaraan umum tanpa mengaktivkan ponsel dan gadget apapun untuk kemudian naik kereta ke satu tempat di kota lain, dan menghabiskan waktu bersama, berdua di tempat itu. Sudah, cukup dan kemudian ia akan melepaskan lelaki tersayangnya itu kembali ‘intim’ dengan pekerjaan tercintanya.

“Aku batalkan saja semuanya kalau memang itu maumu!” bentaknya lima belas menit lalu pada lelaki yang disebutnya ‘kekasih’. Kekesalannya mencuat saat menyadari bahwa lelaki itu lebih memilih pekerjaannya dibandingkan dirinya. Berlebihan mungkin, tapi ia hanya minta satu hari, bukan satu bulan atau bahkan satu windu. Ia sudah sering melepaskan kerinduannya begitu saja saat kemudian pekerjaan lelakinya sebagai konsultan menjadi penghalang pertemuan mereka.

“.... Toh perayaan semacam itu kan bisa dilakukan kapan saja." Geram sekali rasanya saat ia mendengar ucapan itu di telinganya. Tega! Bahkan kekasihnya mengentengkan saja hal semacam itu?? Dan ketika kekasihnya itu memohon untuk dirinya mengerti, ia sudah tidak sanggup lagi dan memilih untuk menyudahi saja percakapan yang terjadi.

10.10 WIB (Ruang Konsultan)
“Mona, tolong mengerti. Pekerjaanku harus selesai besok. Toh perayaan semacam itu kan bisa dilakukan kapan saja.” Ujarnya masih dengan berdiri karena memang belum sempat duduk dengan tenang. Tangannya tampak mengusap kening yang tidak berkeringat saat ia menyimak kekesalan perempuang tersayangnya dari ponsel di telinganya.
“Iyaa, aku tahu itu penting untuk kita. Tapi, Pak Wisnu minta aku untuk bertemu dengan klien baru besok siang. Kalau pun kita tetap pergi, kita tidak akan fokus, Mona. Jadi tolong.....”
Telepon di tangannya membunyikan nada panjang, putus.
“Mon, Mona tunggu. Mona??!” Tuuuuuuut!
Sadar atau tidak, seketika itu juga ia membanting ponsel di tangannya. Lalu dengan kekesalan luar biasa, ia menghempaskan tubuh di atas kursi hitam di belakangnya. Keningnya juga tampak berkedut beberapa kali menahan semua beban pekerjaan yang ditanggungnya. Ia kesal, bahkan marah karena sikap kekanakan yang dimiliki perempuannya, wanitanya, yang rencananya akan menjadi calon istrinya kelak. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa perempuan itu tidak mau mengerti dirinya bahkan di saat semua pihak menuntut kualitas kerjanya saat itu. Ia tahu, ia sudah berjanji tentang jalan-jalan di satu tahunan mereka berdua. Tapi, ia juga tidak bisa bertanggung jawab nantinya kalau urusan pribadinya tentang cinta itu menjadikannya kehilangan pekerjaan impiannya.

“Terus saja kamu urus bosmu. Sudahlah, aku batalkan saja semuanya kalau memang itu maumu!”
Ia menghela nafas dalam ketika ucapan-ucapan itu terngiang lagi di telinganya. Ada sedikit rasa sesal memang ketika kemudian ia mengatur lagi nafasnya. Ketika kemudian hendak menghubungi lagi perempuannya, ia baru sadar ponselnya rusak, terpental menjadi beberapa bagian karena bantingannya tadi terlalu keras.
“Mas Reno, sudah ditunggu Pak Wisnu di lobi.” Ujar Prapto, supir kantor, padanya di ambang pintu. Lelaki bernama Reno itu hanya mengangguk sembari –terpaksa—tersenyum. Setelah sebelumnya meminta Prapto membawakan ponselnya ke tukang servis, ia pun beranjak dari ruangannya menuju lobi, mendatangi bosnya. Ia sudah bertekad, sepulang dari kantor nanti, ia akan mengunjungi perempuannya dan meluruskan semuanya.

11.00 WIB (Fresh Florist)
Ia merasa lebih baik setelah mencuci mukanya. Terasa lebih segar meski kekesalannya masih bersisa. 
Tring!!
Suara denting bel kecil di pintu tokonya berbunyi dan ia tersenyum saat melihat seorang wanita paruh baya masuk. Kaca mata tebal yang dikenakannya tidak menutup kecantikan masa mudanya. Ia pun balas tersenyum.
“Ingin bunga apa, Tante?” Sapanya dengan lembut.
“Lily putihnya saja, Mbak. Minta dirangkaikan ya, yang cantik.” Mona mengangguk.
“Untuk siapa, Tante, bunganya?” tanyanya kemudian. Lalu dering itu menyusul, dering ponsel dari ibu paruh baya.
“Saya tinggal sebentar ya?” pintanya tanpa sempat menjawab pertanyaan Mona.
Sesaat kemudian, ibu paruh baya kembali.
“Maaf, tadi itu suami saya.”
“Tidak apa-apa, Tante. Jadi, Tante membeli bunga Lily ini untuk siapa?”
“Untuk anak saya.”
“Ulang tahun?”
“Ya, yang ke 18.”
Mona mengangguk sembari merapihkan ikatan pita pada seikat rangkaian bunga di tangannya.
“Biasanya saya pergi dengan suami. Tapi tadi dia bilang tidak bisa, ya sudah, saya saja tidak apa-apa?”
“Memangnya kemana sampai tidak bisa mengantar, Tante?”
“Biasa, pekerjannya masih harus dilembur, jadi ia harus tetap di kantornya tanpa bisa mengantar saya ke daerah Kalibata.” Mona tidak langsung merespon.
“Kali...bata?”
Ibu paruh baya tersenyum. “Iyya, Kalibata, kompleks pemakaman Kalibata. Anak saya dimakamkan di sana sejak dua tahun lalu.” ujarnya tanpa beban. “Anak saya terkena Sirosis. Donor hatinya terlambat datang.” Ada rasa pahit ketika Mona perlahan menelan ludah.
“Tidak apa kok, sudah berlalu dan saya sudah bisa membiarkannya pergi.”
“Dan ibu tidak apa pergi sendiri? Apa suami ibu lalu tidak akan datang ke ulang tahun anak ibu?”
“Ooh, tentu datang dan itu pasti dengan saya, meski saya harus bolak balik dari rumah. Suami saya sibuk, Mbak.”
“Ibu... tidak pernah marah dengan itu?”
Ibu menggeleng. “Tidak dong. Sama sekali. Dunianya ya dunianya. Dunia saya, ya dunia saya. Kami tidak ingin saling merusak dunia masing-masing. Meski hampir selalu terlambat, toh dia tidak pernah lupa dengan ulang tahun anaknya, juga ulang tahun saya. Lebih baik terlambat, kan dibandingkan tidak, bukan?”
Deg!!! Kata-kata itu menancap tepat di dadanya. Betapa ibu paruh baya ini mengerti dengan segala tentang suaminya, menerima apa adanya. Sedangkan ia?
“Jadi, berapa, Mbak?” Pertanyaan itu membuyarkannya.
“Ohh, 150 ribu, Tante.”

Ia terduduk di kursi dekat mejanya saat akhirnya sang ibu paruh baya itu berlalu pergi dari tokonya. Lebih baik terlambat, kan dibandingkan tidak?” Ucapan itu terbayang lagi. Itu tamparan yang keras untuknya. Ia sadar, apa yang baru saja didengarnya berkebalikan dengan yang dilakukannya. Ia justru memaksa lelakinya mengikuti dunianya tanpa bisa mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam dunia lelakinya itu. Sebelum nantinya ia berubah pikiran, ia bergegas beranjak dari kursinya dan meraih tas kecil di sisi meja, berniat mendatangi kekasihnya, setelah sebelumnya membeli sekotak nasi padang sebagai oleh-oleh makan siang.
Ketika akhirnya bus yang ditunggunya datang dan kemudian memilih untuk duduk di barisan terdepan, ia meraih ponsel layar sentuhnya dari dalam tas dan mencari satu nomor, meninggalkan satu pesan suara ketika sang operator menyatakan telpon yang dituju tidak aktif.
 Sayang, maaf tadi aku emosi. Sekarang di mana? Aku ke kantor kamu ya. Aku bawakan nasi padang kesukaan kamu. Kalau kamu memang masih keluar, tidak perlu terburu. Aku tunggu sampai kamu selesai. Love You.
Darrrr!!!! Brak!!!
Ledakan dan hantaman itu tiba-tiba terdengar selepas Mona meninggalkan pesan suara. Entah darimana sumbernya, tapi setelah itu yang Mona tahu hanya bahwa tubuhnya terpental dari kursi satu ke kursi lainnya, bersama penumpang yang satu dengan penumpang lainnya. Sejenak kemudian, tidak ada yang bisa dipandangnya karena semua menjadi gelap. Yang ia tahu, sebuah tangan meraihnya dengan paksa sebelum akhirnya suara ledakan selanjutnya terdengar hingga telinganya berdenging.
nggggggggggggggggg.....!!!

12.00 WIB Pertemuan dengan Klien
Reno masih dalam percakapan serius dengan klien dan bosnya ketika tiba-tiba telinganya berdenging, nyeri.
“Awww!!!” Serunya, membuat Pak Wisnu dan Pak Irwan, kliennya, menoleh padanya.
“Pak Reno, ada apa?” Reno mengedipkan matanya beberapa kali sembari memegangi telinganya. Sungguh sakit dan baru kali itu.
“Pak Reno?” Pak Wisnu mengulangi pertanyaannya.
“Ya?” Sahut Reno cepat.
“Anda, baik-baik saja?” Tatapan mata Pak Wisnu sedikit khawatir. Reno menarik nafas dalam, memastikan nyeri itu sudah hilang.
“Ah, ya Pak, saya baik-baik saja.” Aneh, batinnya. “Mari kita lanjutkan.” Ujarnya kemudian. Pak Wisnu tampak lega. “Oke, jadi nanti konsep yang kita gunakan dalam proyek ini adalah.......” Reno tidak lagi begitu menyimak diskusi yang terjadi. Pikirannya mendadak tidak tenang dan tentu, itu karena pertengkarannya dengan Mona pagi tadi. Mendadak, jarum kecil di arlojinya seakan bergerak sangat lambat baginya: ia ingin waktu berputar lebih cepat. Ia harus segera bertemu dengan perempuannya.


14.00 WIB Rumah Sakit-ICU
Tangannya gemetar saat meraih pena itu dari tangan mamanya. Kepalanya terasa sangat berat ketika kemudian larik demi larik itu tertulis dengan singkat di atas kertas di hadapannya. Ia tahu, tidak banyak waktu yang ia punya. Hanya perlu menyatakan maaf sebelum terlambat, meski tidak dengan tatap muka. Larik terakhir pun sudah selesai dan diakhir titik sebelum akhirnya kertas tadi terlipat rapih dengan nama RENO di atasnya. Sementara menit-menit itu berlalu dengan perlahan, ia sempat menyerahkan lipatan tadi pada mamanya tanpa bisa bersuara. Ia juga sempat merasakan desakan keras di tenggorokannya saat mamanya tampak panik menatapnya. Hingga akhirnya matanya terpejam dan garis lurus pada layar itu yang tampak, Mona hanya merasakan tubuhnya dingin, kemudian terbang, pergi sari sana untuk selamanya.

21.00 WIB Area Apartemen Reno
Reno belum juga keluar dari mobilnya. Ia berdiam di sana sejak satu jam lalu. Menangis sejadinya, menyesali semuanya. Pertengkaran pagi tadi menjadi saat terakhir ia mendengar suara Mona. Ia memang sempat melihat wajah Mona, bertatap muka dengan Mona. Tapi, muka yang ditatapnya tidak lagi bisa tersenyum, tidak lagi bisa bersungut kesal.

“Mona mengalami kecelakaan di perjalanan ke kantor kamu, Reno.” Ujar mama Mona padanya saat beberapa jam lalu ia tiba di rumah duka. Reno sempat menyangka bahwa diirnya salah rumah ketika mendapati banyak mobil dan tamu di beranda. Ia masih sempat bertanya ada apa? pada salah seorang tamu yang datang sebelum akhirnya mama Mona menghambur keluar dan memeluknya dengan tangis. Saat itulah ia sadar, ia tidak salah masuk rumah. Saat itu juga ia tahu, bahwa ucapana ada apa? yang ditanyakan tadi mendapat jawaban yang sanggup membuatnya lemas di kakinya sendiri dan terpuruk di kaki mama Mona. Mona meninggal setelah mengalami kecelakaan bus yang ditumpanginya. Benturan pada kepalanya menyebabkan Mona kehilangan banyak darah dan tidak bisa lagi tertolong. Berulang kali ia mengucapkan maaf untuk tidak segera datang, untuk tidak segera menyadari isyarat dari suara denging yang sempat dirasakannya ketika pertemuan dengan kliennya tadi.

Ia mendengarkan lagi suara Mona di kotak pesan suara ponselnya. Prapto yang menyerahkan ponsel itu padanya beberapa saat setelah ia sampai di area parkir apartemennya. Pesan itu diterimanya bersama 5 pesan singkat dari mama Mona. Ia berteriak. Marah pada dirinya sendiri.
Perlahan, tangannya bergerak ke dalam saku kemejanya yang sudah tampak kusut bukan main: menarik keluar satu lipatan kertas yang sedari tadi ditahannya untuk tidak dibuka. Bukan karena tidak ingin membacanya, tapi ia takut itu justru akan semakin membuatnya ingin bunuh diri.
Tulisan tidak rapih itu terlihat saat lipatan kertas di tangannya akhirnya terbuka di depan matanya.
Reno, maaf ya untuk semua hal yang terjadi pagi tadi. Aku salah, aku tidak bisa mengerti kondisi yang kamu hadapi. Aku terlalu kekanankan. Oya, maaf juga karena nasi padang kesukaan kamu belum sempat aku antar ke kantor. Pasti kamu belum makan siang kan sampai sekarang? Jangan lupa makan, ya, Sayang.
Oya, kamu tahu, tempat yang aku ceritakan sebagai tempat perayaan first anniversary kita besok bagus sekali, lho. Romantis. Kamu harus tetap kesana, ya, meski tanpa aku.  Aku ingin kamu bisa melihat keindahan yang pernah aku lihat. Jangan lupa sampaikan salamku pada kicauan burung di sana ya. Happy first anniversay, Honey. Love you, always.

Mona

Isak itu terdengar semakin kencang.
“Aaaaaaaaaaa!!!!” Teriakan itu terdengar melengking selanjutnya: menyakitkan, menembus malam yang pekat dan sepi.

SABTU
10.00 WIB Suatu tempat untuk perayaan
Reno memenuhi permintaan erakhir Mona pagi itu. Dan benar saja, yang dikatakan Mona memang persis sama dengan yang dilihatnya. Tempat itu indah, romantis. Padang ilalang yang luas, rumah pohon yang dibangun dengan sederhana namun artistik, kicauan burung kecil yang merdu, juga hawa sejuk pedesaan yang jarang ia temukan selama ini.
“Ini, sungguh indah, Mona.”Ucapnya lirih.
Ada desiran ketenangan ketika ia memejamkan matanya, membayangkan tawa riang Mona yang mungkin bisa ia dengar jika perempuan tercintanya itu juga di sana, bersamanya. Membayangkan raut muka dengan binar yang sudah ia hafal sejak setahun yang lalu jika perempuan tersayangnya itu menemaninya, di sisinya.
“Happy firts anniversary, Dear Mona.” Bisiknya lagi. Kali ini, sesak yang sehari lalu ia rasakan perlahan hilang, sembuh. Mungkin karena Mona sudah memaafkannya. Dan mungkin juga karena Mona sebenarnya ingin Reno tetap bahagia, meski tanpa dirinya.

Rabu, 21 Agustus 2013

Potret Ibunda


Sudah hampir seharian April tidak keluar kamar. Tangannya yang memegang pensil sudah mulai basah lagi karena keringat. Juga keningnya yang sedari tadi tidak berhenti berkedut karena berpikir keras. Di antara kedua kakinya, berserakan beberapa gulungan kertas yang ia buang. Sudah berkali-kali ia mencoba menulis, tetapi kemudian ia mengulangnya lagi dan lagi. Ada tugas mengarang dari guru bahasa Indonesianya sejak 3 hari lalu dan besok ia harus mengumpulkannya. Hari ini adalah hari terakhir. 

Sebenarnya, mengarang bukan hal yang sulit bagi April. Ia sudah sering mendapatkan nilai 90 pada tiap tugas serupa. Tema yang diberikan Bu Gadis, guru bahasa Indonesianya selalu bisa ia selesaikan dengan baik. Ia bisa mencari isnpirasi di rumah, sekolah, tanah lapang tempat ia dan teman-temannya bermain, bahkan di terminal yang ia lewati tiap kali pulang sekolah. Namun, untuk kali ini, April butuh tenaga ekstra, terutama tenaga batinnya. Tema yang Bu Gadis berikan kali ini membuatnya berpikir keras, membuatnya berpikir dua kali untuk mengerjakannya dengan mudah. Ia tidak dapat menemukan insiprasinya di mana-mana. 'Potret Ibunda' itulah tema yang diberikan dan ia tidak tahu seperti apa ibundanya. Ibunda April telah tiada.

***

Aprilia Dewantara atau April adalah siswa kelas 4 SD. Ia adalah gadis kecil yang periang dan disukai banyak teman. Ayahnya, Abimanyu Dewantara, adalah seorang dokter ahli bedah ibu kota. Keduanya hidup bersama dan selalu bahagia. Setiap akhir pekan akan selalu ada kegiatan yang mereka lakukan bersama: memancing, ke museum, kolam renang, dan kebun binatang. Ya, hanya mereka berdua, tidak ada ibu di antaranya. Ibu April meninggal tepat setelah April dilahirkan. April, tidak lagi punya ibu. Ia hanya punya ayah. Dan itulah sebabnya, ia tidak bisa menggambarkan bagaimana potret ibu yang sebenarnya yang bisa memberikannya inspirasi untuk bagaimana menuliskannya. Potret ibu yang persis sama seperti yang teman-temannya gambarkan.
"Ibuku selalu membacakan dongeng sebelum aku tidur," kata Santi, teman sebangkunya, suatu waktu. 
"Ibuku membuatkan ini untukku." Ujar Hani, tetangga dan teman bermainnya sembari menunjukkan topi rajut berwarna merah, dua hari lalu. Jika sudah begini, April hanya tersenyum, mengulum getir yang ia punya dan menelannya pelan-pelan agar redam. 

Dan sekarang, ketika siang semakin beranjak sore, ia belum juga bisa membuat tumpukan gulungan kertas di antara kedua kakinya agar berhenti bertambah. 
"Aku harus bagaimana?", bisiknya lirih. Ia bingung. Perlahan, pipi tembamnya itu basah, ia menangis meski tanpa suara. Ia tidak ingin ayahnya mendengar sehingga turut merasakan apa yang tengah ia pendam dalam-dalam di hatinya.

*** 

Makan malam tiba dan April belum juga bisa membuat kertas tugasnya terisi. Masih kosong melompong ketika ia memutuskan untuk beranjak dari meja belajarnya. Ayahnya pasti akan bertanya-tanya, tugas macam apa yang membuatnya bahkan lupa makan siang. Sekarang, ia sudah bersiap di meja makan dan sejenak melupakan tema mengarang itu. Hal yang perlu dilakukannya saat ini adalah menghabiskan makan malamnya bersama ayah dengan berusaha seceria biasanya. Tidak ada yang perlu ia tunjukkan karena ia berjanji akan menyimpannya sendiri. Kalau memang ia akhirnya tidak juga bisa menulis sampai waktu sekolah tiba, ia akan siap menerima hukuman apapun yang Bu Gadis berikan padanya.

"April tidak lelah seharian lembur?" tanya Ayahnya sembari menunmpuk piringnya dengan piring di hadapan
April menggeleng dengan ringan. "Gak Ayah." jawabnya. 
"Kalau memang April ada kesulitan, bilang Ayah. Ayah tidak ingin kamu sendirian menyelesaikannya. Tentang apapun." Papar ayahnya. "Ayah kan juga bisa menjadi ibu kamu." lanjutnya.
April tidak menjawabnya. Ia justru berlari ke pelukan ayahnya. Mencium kedua pipi ayahnya berulang kali.
"Tenang Ayah, April akan bilang semua masalah April ke ayah. April akan.....
Ayah kan juga bisa menjadi ibu kamu
April terdiam ketika kalimat terakhir Ayahnya yang baru ia dengar melintas kembali di benaknya. Bukannya melanjutkan perkataannya, April justru beranjak dari pelukan ayahnya berlari menuju pintu kamar. Ia jelas menemukan sesuatu, sesuatu tentang tulisannya. Kabut yang sedari tadi bergelayut di otaknya, tersibak sudah. Ada matahari yang baru saja terbit di sana dan ia siap membuatnya lebih cerah. 
"April? Ada apa?" Kaki April terhenti mendengar pertanyaan ayahnya yang tampak bingung.
"Ada sesuatu yang perlu April kerjakan." ujarnya dan menghambur masuk ke kamar untuk segera membuat tulisan baru di kertas yang baru. Tulisan yang tidak lagi akan menambah tumpukan kertas di antara kakinya bertambah. Tulisan yang temanya baru saja ia jadikan sebagai satu tema terfavorit di antara tema lain. Ia mulai menulis.

***

Esok harinya....
April sudah tertidur pulas sepulang sekolah. Ada kegiatan esktrakulikuler drumband yang rutin ia ikuti setiap Hari Senin. Kamarnya memang tidak berantakan, hanya saja beberapa buku dan lembar tugas tampak tegeletak di lantai dan meja belajar. Ayahnya tersenyum ketika masuk dan melihat posisi tidur April dengan mulut sedikit terbuka, tampak lelah. Kemudian sejenak kemudian, satu per satu ia punguti buku dan kertas tugas di sana. Mengumpukannya menjadi satu di atas meja. Dan ketika hendak berbalik menuju pintu untuk keluar, ia justru terpaku di tempatnya berdiri. Ada satu benda yang menarik matanya untuk urung keluar dari kamar April. Satu benda berupa kertas tugas dengan angkat 90 sebagai nilainya, bertuliskan nama lengkap April di ujung kanan atas, dan satu judul karangan yang membuat ia menelan ludah, terhenyak. Dan ketika membaca isinya betapa ia tidak bisa menahan air matanya mengalir, satu lalu satu lalu satu. Pipinya basah. Dan sebelum isaknya terdengar oleh April, ia hapus air matanya dan keluar sesegera mungkin setelah sebelumnya mencium pipi tembam April yang masih pulas. 

Kertas tugas tadi, ia kembali letakkan di tempatnya, seperti semula. Kertas dengan tulisan tangan April yang rapih dan penuh makna. Kertas tugas bergaris dengan berjudul Potret Ibunda. 
 
Potret Ibunda
Aku terlahir piatu. Ibu sudah meninggal sejak aku dilahirkan. Ya, aku tidak punya ibu. Tapi, aku yakin, ibu selalu ada untukku meski aku tidak bisa melihatnya. Kata ayah, ibu selalu di dalam hati kita semua, termasuk hati kami berdua. Aku juga tidak pernah sendiri meski ibu tidak ada di antara kami. Ayahku selalu ada di sampingku. Ayah sering menemaniku membuat tugas dan bermain boneka. Ayah juga menjariku bermain sepeda, juga menguncir rambutku setiap kali aku minta. Meski semua anak punya ibu dan aku tidak, aku tidak pernah menyesal. Aku tetap bahagia. Ayahku adalah orang terpenting untukku di dalam hidupku. Ayahku adalah ayahku. Ayahku juga ibuku. I love you, Ayah :')

Finara

Minggu, 18 Agustus 2013

Pengantar Pesan


"Pooos!" 
Demikian teriak Pram hampir setiap hari pada pintu dari rumah ke rumah. Yap, ia seorang tukang pos, sang pengantar pesan, khusus surat karena bagian pengantar barang sudah dibebankan pada orang lain. Pekerjaan itu ia warisi dari ayahnya yang sudah pensiun sejak 6 tahun lalu. Lulusan SMA sepertinya perlu banyak hal untuk bisa merambah ke dunia perkantoran dan perusahaan dengan posisi yang lumayan bisa dipandang dengan kedua mata. Jadi, pekerjaan tukang pos itu menjadi hal yang sangat ia syukuri ketika justru orang lain memusingkan hal pekerjaan sampai gila. Ia pun menerimanya tanpa berfikir dua kali ketika ayahnya menawarkan. Menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan sebaik mungkin. Bukan untuk mencari muka di depan bosnya karena memang dia sudah puas dengan muka berjambangnya sebagai anugrah dari Tuhan. Ia tulus, sangat tulus. Terlalu banyak kesulitan hidup di negeri ini dan ia hanya ingin memudahkan satu benang kehidupan saja yang ia temui dengan mengantarkan pesan dalam surat-surat yang dibawanya tepat ke alamat yang dituju. 

Sebagai tukang pos, bukan tidak mungkin ia menemui hal menarik selama perjalanan dinasnya. Ia sering dimintai membacakan surat yang diantarkannya jika penerima surat itu adalah seorang tua renta atau buta aksara. Pram tidak pernah keberatan. Ia bacakan kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf. Sering ia turut menangis jika surat yang dibacakannya adalah surat kebanggaan atau justru perpisahan. Sering pula ia turut terbahak jika memang isi surat yang dibacakannya mengandung jenaka tak terbatas norma. Ia sangat menikmatinya, bahkan menyukai pekerjaannya. Dan di antara kegemarannya membacakan surat itu, ia menemukan cinta. Ia tidak terlalu mengharapkan balasan dari cinta yang ia punya karena memang ia tidak pernah mengirimkannya.

***

Gadis itu bernama Anggun. Sudah bisa ditebak bagaimana penampilannya, sesuai dengan namanya. Ia adalah salah satu penerima surat yang Pram antarkan. Pintu rumahnya warna biru cerah dari luar, warna kesukaan Anggun. Pram tahu itu karena sering kali Aggun menggunakan rok, kaos, sandal, atau sekadar jepit dan bandana rambutnya dengan warna senada. Anggun menyukai warna biru dan Pram sudah hafal itu. Jika ditanya apa yang disukainya dari Anggun, maka Pram akan menjawab rambutnya yang hitam. Jika kemudian ia ditanya lagi mengapa, maka ia akan menjawab karena rambutnya yang hitam itu membuat bibir kecilnya tampak merah merekah sehingga senyumnya yang manis membuat lipatan di ujung matanya yang sipit tampak cantil, dan alisnya yang kemudian sedikit terangkat membuat Pram semakin luluh lantak tak berdaya. Satu hal yang terkadang membuatnya menyayangkan semua itu adalah bahwa alasan senyuman yang Anggun ciptakan itu bukan karena dirinya, tetapi karena tunangannya. 

Anggun sering mendapatkan surat dari tunagannya. Yang Pram tahu, tunagannya itu adalah seorang militer di negera bagian timur. Setiap seminggu sekali, Pram akan mengantarkan surat sang tunangan pada Anggun. Selalu yang pertama karena Pram ingin segera melihat senyum manis Anggun dengan ujung mata yang menyipit. Meski itu bukan karenanya, paling tidak ia menjadi pengatar alasan senyuman manis yang dikagumi itu tercipta. Pengantar pesan cinta yang sang tunangan buat untuk Anggunnya tersayang.
"Pooos!" Begitu teriaknya di ambang pintu dan tidak makan waktu lama terdengar suara derap kaki berlari turun tangga untuk kemudian membuka pintu. Pram suka sekali ekspresi itu: sedikit terengah dengan kedua tangan menengadah di hadapan Pram. Ya, keduanya sudah saling kenal dan Anggun menganggap Pram adalah malaikat penolongnya, pengantar pesan dari tunangannya. Jika sudah begitu, Pram akan segera pergi dan mengantarkan surat lainnya ke alamat selanjutnya. Toh tugasnya sudah usai dan tidak lagi ada alasan untuk tetap tinggal. Namun, sebenarnya, di dalam hati kecilnya, ingin sekali ia tetap berdiam di sana. Tidak perlu harus ada perbincangan. Cukup menatap senyum manis Anggun beberapa lama. Siapa tahu, akan ada kesempaatan untuk menyampaikan perasaannya, pesan cintanya yang telah ia tulis rapih di dalam hatinya.

*** 

Mendung adalah kesan pagi itu. Pram sudah siap dengan sepeda motornya dan seragam warna oranyenya. Hari itu ada yang membuatnya turut mendung seperti langit di atas rumahnya. Tidak juga ia tunjukkan pada ayah dan ibunya. Hanya untuk ia rasakan sendiri dan orang lain tidak perlu mengetahui. Sudah hampir 4 minggu tidak ada surat untuk Anggun. Karena itulah sudah 4 minggu pula ia tidak melihat pintu berwarna biru cerah dan senyum manis di bibir gadis pujaannya. Awalnya, Pram menganggap bahwa surat tadi memang terlambat datang dari negara asal. Tapi, makin lama, makin terasa janggal. Tidak ada lagi surat yang dikirim untuk Anggun. Ia sudah mengeceknya ke kantor pusat. 

Dan pagi itu, ia sudah siap sebelum waktunya biasa ia berangkat. Apalagi kalau bukan untuk memastikan keadaan yang sesungguhnya ke rumah Anggun. Cukup 15 menit waktu yang ia butuhkan sampai akhirnya tiba tepat di depan rumah Anggun. Rumah Anggun agak ramai jika boleh membandingkannya dengan hari lainnya. Ada 3 buah mobil diparkir di halaman rumah hingga pintu warna biru cerah yang biasa ia ketuk tidak terlihat. Pram turun dari sepeda motornya tanpa melepaskan helm. Ia tidak mendekat ke rumah Anggun. Bukan karena tidak ingin, bahkan sejak  minggu lalu hasratnya untuk berlari ke rumah itu lebih besar dari keinginannya untuk hidup. Ia hanya ingin memastikan Anggun baik-baik saja tanpa harus Anggun tahu. 
"Katanya tunangannya itu meninggal di pertempuran." ujaran itu terdengar jelas di telinganya meski disampaikan dengan berbisik. Seorang ibu muda yang baru saja keluar dari rumah Anggun, yang mengatakannya. 
Meninggal?! Bisiknya dalam hati. Pantas saja surat-surat itu tidak lagi ada di kantornya untuk ia antarkan. Si pengirim, tunangan Anggun tidak lagi bisa menulis surat, tidak lagi bisa membuat Pram menjadi pengantar pesan-pesannya pada Anggun. Lalu, bagaimana dengan gadi itu? Dia tentu tidak baik-baik saja. Meski ingin sekali berlari ke dalam dan memeluk Anggun, Pram justru mundur perlahan dan kembali menunggangi sepeda motornya dengan kecamuk yang dimilikinya, cepat menuju kantor. Ia sudah terlambat.

*** 

Dua bulan setelahnya
Pram masih tetap mengantarkan surat dari rumah ke rumah. Pram juga masih sering membacakan surat-surat yang diantarkannya jika si penerima adalah tua renta atau buta aksara. Tidak ada yang berubah kecuali absennya surat untuk Anggun dan ia sudah mulai terbiasa. Tapi, khusus hari itu berbeda. Hari itu, ia kembali datang ke rumah Anggun, setelah sekian lama tidak ke sana. Rumahnya masih sama, rapih dengan pintu berwarna biru cerah siap menyambut teriakan dan ketukannya. Di tangannya sudah ada sepucuk surat berisi sebuah pesan. Satu menit, dua menit, tiga menit. Pram tidak juga kunjung meneriakkan kata pusakanya. Pun untuk mengetuk saja ia tidak lagi punya nyali. Lalu, dengan segala kegalauan yang ia punya, ia justru berbalik, pergi sari sana, meninggalkan pintu berwarna biru cerah, dan dengan cepat menaiki motornya untuk segara pergi. Takut jika Anggun kemudian memergokinya sementara iaa tidak sanggup menghadapi segala macam pertanyaan atau ekspresi yang mungkin Anggun tunjukkan.

Oh ya, sepucuk surat di tangannya tadi tertinggal di sana, di depan pintu biru cerahtadi. Bukan karena tidak terbawa. Pram sengaja menaruhnya di sana, di atas keset bertuliskan welcome. Itu memang surat untuk Anggun, surat pertama sejak terakhir kali ia kehilangan tunagannya. Tentu, itu bukan surat yang tiba-tiba datang dari surga. Itu adalah surat yang datang dari sebuah meja dan pena, yang ditulis dengan rapih dan berisi pesan tidak terlalu panjang dengan tada tangan singkat di akhirnya. Semalam, Pram yang menulisnya. Pram yang menorehkan tiap tinta di atas kertas di dalam amplop di sana. Tidak banyak yang ia sampaikan, hanya pesan singkat tentang hati dan perasaannya. Jika ditanya mengapa tidak ia ketuk saja pintu biru muda itu untuk kemudian menyampaikan langsung pada yang dituju, ia akan menggeleng. baginya, tidak penting apakah surat itu akan sampai pada penerimanya. Tidak penting juga ia akan mendapatkan balasan yang seharusnya ia inginkan. Yang perlu ia tahu adalah bahwa ia sudah menyampaikan segala macam pesan dari hatinya. Toh dari awal, dia hanya pengantar surat, seorang penagntar pesan. Selebihnya, biarkan hanya ia yang mengetahuinya karena orang lain bisa jadi salah sangka jika tahu terlalu banyak tentangnya. Ia ingin tetap menjadi Pram yang sama,Pram yang rutin menaiki sepeda motornya, Pram yang dengan setia menjadi pengantar pesan bagi siapa saja, dan Pram yang masih saja mengagumi Anggun tanpa bisa mengatakan isi hatinya.

Finara