Rabu, 21 Agustus 2013

Potret Ibunda


Sudah hampir seharian April tidak keluar kamar. Tangannya yang memegang pensil sudah mulai basah lagi karena keringat. Juga keningnya yang sedari tadi tidak berhenti berkedut karena berpikir keras. Di antara kedua kakinya, berserakan beberapa gulungan kertas yang ia buang. Sudah berkali-kali ia mencoba menulis, tetapi kemudian ia mengulangnya lagi dan lagi. Ada tugas mengarang dari guru bahasa Indonesianya sejak 3 hari lalu dan besok ia harus mengumpulkannya. Hari ini adalah hari terakhir. 

Sebenarnya, mengarang bukan hal yang sulit bagi April. Ia sudah sering mendapatkan nilai 90 pada tiap tugas serupa. Tema yang diberikan Bu Gadis, guru bahasa Indonesianya selalu bisa ia selesaikan dengan baik. Ia bisa mencari isnpirasi di rumah, sekolah, tanah lapang tempat ia dan teman-temannya bermain, bahkan di terminal yang ia lewati tiap kali pulang sekolah. Namun, untuk kali ini, April butuh tenaga ekstra, terutama tenaga batinnya. Tema yang Bu Gadis berikan kali ini membuatnya berpikir keras, membuatnya berpikir dua kali untuk mengerjakannya dengan mudah. Ia tidak dapat menemukan insiprasinya di mana-mana. 'Potret Ibunda' itulah tema yang diberikan dan ia tidak tahu seperti apa ibundanya. Ibunda April telah tiada.

***

Aprilia Dewantara atau April adalah siswa kelas 4 SD. Ia adalah gadis kecil yang periang dan disukai banyak teman. Ayahnya, Abimanyu Dewantara, adalah seorang dokter ahli bedah ibu kota. Keduanya hidup bersama dan selalu bahagia. Setiap akhir pekan akan selalu ada kegiatan yang mereka lakukan bersama: memancing, ke museum, kolam renang, dan kebun binatang. Ya, hanya mereka berdua, tidak ada ibu di antaranya. Ibu April meninggal tepat setelah April dilahirkan. April, tidak lagi punya ibu. Ia hanya punya ayah. Dan itulah sebabnya, ia tidak bisa menggambarkan bagaimana potret ibu yang sebenarnya yang bisa memberikannya inspirasi untuk bagaimana menuliskannya. Potret ibu yang persis sama seperti yang teman-temannya gambarkan.
"Ibuku selalu membacakan dongeng sebelum aku tidur," kata Santi, teman sebangkunya, suatu waktu. 
"Ibuku membuatkan ini untukku." Ujar Hani, tetangga dan teman bermainnya sembari menunjukkan topi rajut berwarna merah, dua hari lalu. Jika sudah begini, April hanya tersenyum, mengulum getir yang ia punya dan menelannya pelan-pelan agar redam. 

Dan sekarang, ketika siang semakin beranjak sore, ia belum juga bisa membuat tumpukan gulungan kertas di antara kedua kakinya agar berhenti bertambah. 
"Aku harus bagaimana?", bisiknya lirih. Ia bingung. Perlahan, pipi tembamnya itu basah, ia menangis meski tanpa suara. Ia tidak ingin ayahnya mendengar sehingga turut merasakan apa yang tengah ia pendam dalam-dalam di hatinya.

*** 

Makan malam tiba dan April belum juga bisa membuat kertas tugasnya terisi. Masih kosong melompong ketika ia memutuskan untuk beranjak dari meja belajarnya. Ayahnya pasti akan bertanya-tanya, tugas macam apa yang membuatnya bahkan lupa makan siang. Sekarang, ia sudah bersiap di meja makan dan sejenak melupakan tema mengarang itu. Hal yang perlu dilakukannya saat ini adalah menghabiskan makan malamnya bersama ayah dengan berusaha seceria biasanya. Tidak ada yang perlu ia tunjukkan karena ia berjanji akan menyimpannya sendiri. Kalau memang ia akhirnya tidak juga bisa menulis sampai waktu sekolah tiba, ia akan siap menerima hukuman apapun yang Bu Gadis berikan padanya.

"April tidak lelah seharian lembur?" tanya Ayahnya sembari menunmpuk piringnya dengan piring di hadapan
April menggeleng dengan ringan. "Gak Ayah." jawabnya. 
"Kalau memang April ada kesulitan, bilang Ayah. Ayah tidak ingin kamu sendirian menyelesaikannya. Tentang apapun." Papar ayahnya. "Ayah kan juga bisa menjadi ibu kamu." lanjutnya.
April tidak menjawabnya. Ia justru berlari ke pelukan ayahnya. Mencium kedua pipi ayahnya berulang kali.
"Tenang Ayah, April akan bilang semua masalah April ke ayah. April akan.....
Ayah kan juga bisa menjadi ibu kamu
April terdiam ketika kalimat terakhir Ayahnya yang baru ia dengar melintas kembali di benaknya. Bukannya melanjutkan perkataannya, April justru beranjak dari pelukan ayahnya berlari menuju pintu kamar. Ia jelas menemukan sesuatu, sesuatu tentang tulisannya. Kabut yang sedari tadi bergelayut di otaknya, tersibak sudah. Ada matahari yang baru saja terbit di sana dan ia siap membuatnya lebih cerah. 
"April? Ada apa?" Kaki April terhenti mendengar pertanyaan ayahnya yang tampak bingung.
"Ada sesuatu yang perlu April kerjakan." ujarnya dan menghambur masuk ke kamar untuk segera membuat tulisan baru di kertas yang baru. Tulisan yang tidak lagi akan menambah tumpukan kertas di antara kakinya bertambah. Tulisan yang temanya baru saja ia jadikan sebagai satu tema terfavorit di antara tema lain. Ia mulai menulis.

***

Esok harinya....
April sudah tertidur pulas sepulang sekolah. Ada kegiatan esktrakulikuler drumband yang rutin ia ikuti setiap Hari Senin. Kamarnya memang tidak berantakan, hanya saja beberapa buku dan lembar tugas tampak tegeletak di lantai dan meja belajar. Ayahnya tersenyum ketika masuk dan melihat posisi tidur April dengan mulut sedikit terbuka, tampak lelah. Kemudian sejenak kemudian, satu per satu ia punguti buku dan kertas tugas di sana. Mengumpukannya menjadi satu di atas meja. Dan ketika hendak berbalik menuju pintu untuk keluar, ia justru terpaku di tempatnya berdiri. Ada satu benda yang menarik matanya untuk urung keluar dari kamar April. Satu benda berupa kertas tugas dengan angkat 90 sebagai nilainya, bertuliskan nama lengkap April di ujung kanan atas, dan satu judul karangan yang membuat ia menelan ludah, terhenyak. Dan ketika membaca isinya betapa ia tidak bisa menahan air matanya mengalir, satu lalu satu lalu satu. Pipinya basah. Dan sebelum isaknya terdengar oleh April, ia hapus air matanya dan keluar sesegera mungkin setelah sebelumnya mencium pipi tembam April yang masih pulas. 

Kertas tugas tadi, ia kembali letakkan di tempatnya, seperti semula. Kertas dengan tulisan tangan April yang rapih dan penuh makna. Kertas tugas bergaris dengan berjudul Potret Ibunda. 
 
Potret Ibunda
Aku terlahir piatu. Ibu sudah meninggal sejak aku dilahirkan. Ya, aku tidak punya ibu. Tapi, aku yakin, ibu selalu ada untukku meski aku tidak bisa melihatnya. Kata ayah, ibu selalu di dalam hati kita semua, termasuk hati kami berdua. Aku juga tidak pernah sendiri meski ibu tidak ada di antara kami. Ayahku selalu ada di sampingku. Ayah sering menemaniku membuat tugas dan bermain boneka. Ayah juga menjariku bermain sepeda, juga menguncir rambutku setiap kali aku minta. Meski semua anak punya ibu dan aku tidak, aku tidak pernah menyesal. Aku tetap bahagia. Ayahku adalah orang terpenting untukku di dalam hidupku. Ayahku adalah ayahku. Ayahku juga ibuku. I love you, Ayah :')

Finara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar