Perempuan itu masih berdiam duduk menekuk lututnya sejak berjam-jam lalu. Mata dan
wajahnya yang sudah kering kini kembali basah. Entah sudah berapa lembar tisu
yang ia lorot dari kotak warna kuning di sisi kanannya. Yang jelas, tempat
duduknya, karpet di bawahnya, sudah tidak lagi terlihat permukaannya. Ia sudah dikelilingi lautan kertas tipis basah yang penuh
dengan air mata, ingus, bahkan keringat.
Sejak bangun pagi tadi ia belum mandi dan jam digital di sisi
kanan tempat tidurnya sudah menunjukkan angka 11.25 WIB. Menghidupkan AC tidak
lagi ada di otaknya karena seluruh bagian otak itu hanya terisi dengan kata
tanya kenapa yang tak kunjung mendapatkan jawaban karena. Jadilah ia berlumuran keringat sebesar jagung di dalam
kamar berukuran 3x4 dengan jendela tertutup di tengah kota bersuhu 43
derajat celcius.
Dan ketika ponselnya hanya menghantarkan suara operator untuk
mencoba lagi penggilannya beberapa saat kemudian, buliran bening di pelupuk matanya
itu kembali menggelinding bebas, melindas pipinya yang tidak lagi bersemu oleh blush on merah muda, menerabas sudut
bibirnya yang pucat dan tidak lagi berlipstik menyala seperti semula. Ia patah
dan itu karena satu lelaki di seberang ponsel di tangannya. Lelaki yang semula
membuat perempuan ini tak pernah tersentuh oleh bau keringat tajam dan asam,
apalagi air mata menyedihkan. Tidak pernah seperti siang itu.
Dalam bisu semacam itu, ia hanya peduli dengan dirinya
sendiri. Ia tidak peduli lainnya, tetangganya, apalagi benda mati
disekelilingnya. Karena jika bisa sedikit saja meregangkan telinganya
dan hatinya, mungkin ia dapat mendengar bagaimana karpet di bawah badannya sudah berteriak ingin mandi, sudah meronta ingin pergi dan digantikan dengan yang lebih
wangi. Bayangkan saja, berpuluh tetes air mata sudah berkali-kali jatuh di atas bulu-bulunya yang halus dan mulai melembek dan kasar. Tiap seratnya bisa merasakan betapa asinnya air mata dan peluh yang
menempel padanya. Bahkan debu kamar yang tak kunjung pula di buka makin menebal
dan meresap tanpa ampun di sela anyaman lembutnya.
Sejak pertama kali dibentangkan di atas lantai kayu kamar apartemen bernomor 23 berukuran 3x4 meter beberapa
bulan lalu oleh lelaki bernama Fabian, ia belum pernah sekalipun
menggantinya ataupun mencucinya. Karpet itu menjadi tempat segala hal yang perempuan tadi lakukan: tidur
di atasnya, berdiri dan berjingkrak-jingkrak di atasnya, bahkan jika letihnya
terlalu parah, perempuan itu akan tertidur pulas di sana tanpa sempat mandi, berganti pakaian, apalagi menyalakan
pendingin ruangan. Belum lagi serbuk-sebuk bedak yang tidak pernah absen
bertabur dan terjatuh lalu menempel di atasnya yang jika si karpet punya mata
akan lekas mengidap katarak. Meski ia hanya bisa bisu, ia bisa merasakan
bulu-bulu halus yang dulu sempet disanjung setengah mati di depan pembentangnya kini tinggal bulu kasar yang tak lagi bisa kembali pada
posisi awal ketika diusap: kaku, tidak lagi indah. Kan sudah dibilang tadi,
perempuan pemiliknya hanya peduli pada dirinya sendiri. Mungkin memang
keberadaannya cukup disandingkan dengan benda mati lainnya. Toh, perempuan itu
sudah tidak bisa lagi memandang karpet kusam tadi sebagai pemberian spesial
tunangannya, lelaki yang sudah berkali disebut tadi, yang membuat buliran bening
itu makin deras. Perempuan itu sudah memandangnya sebagai benda yang berhak
diinjak semaunya. Ini belum lama karena baru semalam drama sedih itu dimulai.
Saat tiba-tiba sang tunangan mengajaknya pergi dengan segala kebahagiaan
terpancar di wajahnya sampai akhirnya mengantarkannya dalam
kondisi tak terkira kacaunya: lelaki itu memutuskan pertunangannya, membatalkan
pernikahan yang dirancang dan direncanakannya.
Dan karpet itu menjadi saksinya. Bukan hanya saksi
kesedihannya malam itu, tapi juga malam-malam sebelumnya: sejak ia masih menjadi perempuan yang ceria dengan segala keriangan dan taburan
bedaknya, hingga akhirnya menjadi perempuan yang muram durja dengan duduk
menekuk lututnya berjam-jam hingga saat ini: 12.56 WIB!
Nomor yang Anda tuju tidak dapat
dihubungi. Coba beberapa saat lagi….. Suara itu yang
didengarnya lagi, lagi, dan lagi.
Tangannya terkulai lemas di sisi kakinya, melemparkan
perlahan ponsel yang sedari tadi ia genggam. Tisu yang ia lorot semakin lama
semakin menebar, luas, menumpuk.
Aku belum siap untuk kita menikah,
Eva.
Kenapa?
Kenapa sekarang?
Aku....
Apa ada wanita lain?
….
Jawab, Bian!
…..
Fabian!
Ya, ada.
....
Dan kamu tidak perlu tahu siapa
orangnya.
Tubuhnya bergetar hebat ketika rekaman ulang kejadian semalam
itu seakan berputar lagi di otaknya. Kali ini ia tidak melorot lagi tisunya, ia
bersimpuh, lututnya tidak lagi dipeluknya, ia biarkan tangannya menopang
badannya, ia biarkan air matanya berjatuhan bebas tanpa jeda,
tepat di atas karpet di bawahnya. Dan sekali lagi, ia tidak peduli. Termasuk ketika
kemudian ia bangkit dan meraih dengan gusar dua pigura foto berukuran 10 R di
atas mejanya, melemparnya hingga membentur dinding dan pecah. Ia tidak lagi
peduli betapa tangannya ikut koyak dengan pecahan kaca yang berserakan di
mana-mana. Senyum di tiap foto yang kemudian tergeletak di sana tidak lagi
indah di matanya: senyumnya dengan lelaki bernama Fabian dan senyumnya dengan seorang
perempuan yang merupakan sahabat baiknya.
Lulu...
....
Dia
Lulu, Eva.
“Aaaaaaaa!” jeritan itu yang kemudian menyusul, terdengar menyayat, penuh kepedihan, dan tidak menyisakan sedikut pun
ruang bagi siapapun untuk sekadar menyelipkan kalimat
penyembuh Sabar, ya.
***
Ruangan yang sama masih gelap, padahal hari sudah beranjak malam. Jam digital di sisi kanan tempat tidur sudah
menunjukkan angka 18.56 WIB. Perempuan tadi tidak lagi
duduk menekuk lutunya, tidak lagi bersimpuh dengan tangan menyangga badannya.
Ia tergeletak di sana dengan mata terbuka. Mungkin sudah letih, mungkin juga kemudian perlahan ia akan tertidur.
I just wanna die in you’re arm….. lagu No Promises milik
Shayne Ward itu terdengar lagi dari ponselnya, nada dering panggilan masuk. Ini
sudah yang kesekian kali dan perempuan bernama lengkap Evania Dewanti itu masih
juga bergeming, diam di sana, tidak kunjung bergerak menjawabnya, seakan sengaja mengabaikannya. Ketika kemudian ponsel itu
terdiam lagi, berhenti berdering, satu nama muncul di layar dengan belasan panggilan tak terjawab: my bestie Lulu.
***
Suara sirine itu terdengar terlalu nyaring di pagi buta pukul
04.32 WIB. Ada beberapa orang berseragam putih yang mondar-mandir keluar masuk
sebuah kompleks rumah kos Wisma Kenanga, tepatnya dari kamar kos bernomor 23.
Apalagi kalau bukan mengurus perempuan bernama Evani Dewanti yang menjadi
pemilik kamar tersebut. Singkat saja, ia mati. Bunuh diri. Ini tidak lagi
karena memotong pergelangan tangan, tetapi memotong nadi lehernya sendiri.
Seorang perempuan lain tengah sesenggukan di atas tempat
tidur dengan seprai tak beraturan. Dialah Lulu, sahabat baik Eva yang sehari sebelumnya membuat
belasan panggilan tak terjawab, pengantar nada dering Shayne Ward pada ponsel
yang kini sudah mati, mengikuti jejak pemiliknya. Ada sebuah bongkahan rasa
bersalah di dalam hatinya, mengapa ia tidak menyadari situasi yang terjadi.
Mengapa tiba-tiba Eva menjadi gusar padanya dan mengapa tiba-tiba belasan
panggilannya tidak terjawab.
Satu jam lalu ketika kemudian ia nekat pergi menyusul ke
apartemen sahabatnya itu, ia baru sadar yang terjadi telah terlampau buruk,
semua sudah lewat, tidak lagi ada kesempatan untuk mengubahnya meski barang
sedikit saja. Bagaimana bisa dia menghidupkan lagi sahabatnya yang sudah
terlanjur pergi dengan cara yang bahkan tidak pernah dia bayangkan? Bubur sudah
mencair dan ia tidak lagi bisa mengembalikannya menjadi nasi, atau bahkan padi.
Dengan menggunakan kunci duplikat yang memang dimilikinya, ia
membuka apartemen dan kamar Eva yang gelap gulita. Jika saja ia tidak
berpegangan pada gagang pintu, ia bisa saja terjerembab, terhuyung jatuh di
atas lantai. Kamar itu tidak lagi bisa dinamakan sebuah ruangan yang utuh: tisu
bertebaran di mana-mana, serpihan kaca yang pecah terpelanting ke segala arah,
juga foto-foto dengan gambar dirinya di sana terkoyak kusut.
Ia sudah melakukan kesalahan. Hanya satu memang, tapi itulah
yang justru membuat segala hal dalam hidup Eva juga hidupnya menjadi kelabu. Sebuah
kesalahan yang bahkan ia sendiri tidak bisa memaafkannya, yang bahkan ia
sendiri bisa melakukan hal yang sama jika Eva adalah dirinya. Mendadak ia
membenci dirinya.
Sahabat?
Kepalanya menggeleng keras ketika kata itu meletup begitu
saja di kepalanya. Ia lebih mirip parasit pembunuh jika harus menuliskan label
identitas dirinya bagi Eva. Parasit yang merenggut impian Eva tentang perniakahan
serba sempurna dengan gaun berwarna putih dengan ekor panjang tak terkira.
Parasit yang merenggut impian Eva untuk memiliki satu keluarga utuh dengan Bian
yang akan sering duduk di atas karpet berwarna hijau lumut di kamarnya,
bercerngkrama sampai pagi tentang apa saja. Ia lah parasit yang dengan tega
merebut hati Bian untuk kemudian meninggalkan Eva yang patah dan hancur
sehancurnya. Ia lah parasit berupa perempuan lain yang sempat disebutkan Bian
pada malam terakhir pertemuannya dengan Eva. Ia sudah merebut calon suami
sahabatnya sendiri: merebut Bian dari Eva.
“Aaaaa..” jeritan itu yang kemudian terdengar.
***
Ruangan kamar tadi sudah kembali gelap. Karpet hijau lumut yang
belum juga beranjak dari sana kini makin kusam, makin masam. Dan satu bekas baru sudah menempel lagi di atasnya: bercak darah perempuan lain, selain
pemiliknya. Lulu yang putus asa, Lulu yang
merasa penuh dosa memutuskan turut mengukir sejarah di karpet yang sama. Mati
dengan cara yang sama.
Para medis yang kemudian datang mengangkut jenazah Lulu, hanya
menggeleng-geleng tak mengerti. Baru kali itu mereka menemukan satu kasus bunuh
diri beruntut yang korban keduanya adalah pihak yang menemukan korban pertama. Desas-desus
yang kemudian merebak bahwa korban kedua dibunuh oleh arwah penasaran korban
pertama menjadikan siapapun yang ada di sana tak berani mendekat, apalagi
bicara sembarang. Para medis, para tentangga, dan juga para pemilik mata yang
kebetulan lewat hanya mengelus dada dan tidak berani banyak berkomentar. Takut
kualat, katanya.
***
“Evania Dewanti
Evania Dewanti
Evania Dewanti
Eva
Eva.....” Gumamnya.
“Lusiana Bramantyo
Lulu, Lusiana, Lusi
Lusiana....” Gumamnya lagi.
“Evania, Evaaaa... Lusiana, Lulu, Lulu....Luluuu..” Lagi lagi
dia menggumam.
Seseorang tengah duduk bersimpuh memeluk lututnya sendiri di dalam sebuah ruangan seba putih:
bergerak maju mundur seperti ayunan yang tak kunjung berhenti bergoyang. Ia
sendiri di situ, di dalam ruangan tertutup rapat tanpa jendela. Mukanya tampak
pucat, kusam. Bintik-bintik kumis dan jambangnya yang mulai menebal menunjukkan
bahwa ia tidak lagi setampan semula. Tulang pipinya yang mulai tampak menonjol
menunjukkan betapa ia tidak pernah menyentuh makanan dan minuman yang
disodorkan para suster padanya. Plang kayu bertuliskan nama Fabian Lesmana
di sisi tempat tidurnya sudah bercampur dengan coretan lain tak beraturan dari
tangannya yang tampak lebam di mana-mana.
Sesekali, ia melirik ke ujung ruangan, pada satu titik
onggokan kain kumal, tebal, berbulu. Warnanya yang kusam menyembunyikan warna
aslinya, warna hijau lumut. Ya, itu karpet dari kamar Eva, karpet yang belum
sempet dicuci dari segala macam air mata, peluh, juga simbahan darah, termasuk
dari ribuan titik debu dan serbuk bedak. Entah bagaimana bisa ia membawanya
dari sana. Ketika kemudian ia dinyatakan mengalami gangguan jiwa, karpet itulah
yang ia bawa dengan susah payah bersamanya, meski sering kali justru karpet
tersebut yang menjadi pemicu kekacauan di kamarnya.
Drama yang terjadi akan dimulai dengan pandangannya yang
memincing, kemudian perlahan mendekatinya, membuka dan membentangkannya, tersenyum
dan berbicara sendiri dan akhirnya berteriak-teriak sekeras yang ia bisa hingga
suaranya menjad parau. Lalu, tanpa lagi bisa ditahan, ia akan menangis, meraung
ketakutan, seakan karpet yang baru saja didatangi dan disentuhnya adalah
makhluk hidup menyeramkan yang hendak melumatnya dengan taring tajam hingga tubuhnya
tercabik hancur.
“Ampuuuun, ampuni aku Evaaa, Lulu....”
Dan jika perilakunya mulai berubah menjadi garang hingga
melukai dirinya hingga lebam di tangannya melebar ke tubuh dan kepalanya, pintu
rapat itu akan terbuka, mengantarkan para suster ke dalamnya. Kalau sudah
begitu, ia akan kembali tenang, bahkan terlelap dengan wajah damai. Mungkin tidak
lama, tapi paling tidak ia bisa beristirahat sebelum kembali bergumam dengan
dua nama yang sama, mendekati karpet yang sama, dan berteriak hingga mengamuk dengan
cara yang sama.
_end_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar