Minggu, 13 Oktober 2013

Pada Sebuah Karpet


Perempuan itu masih berdiam duduk menekuk lututnya sejak berjam-jam lalu. Mata dan wajahnya yang sudah kering kini kembali basah. Entah sudah berapa lembar tisu yang ia lorot dari kotak warna kuning di sisi kanannya. Yang jelas, tempat duduknya, karpet di bawahnya, sudah tidak lagi terlihat permukaannya. Ia sudah dikelilingi lautan kertas tipis basah yang penuh dengan air mata, ingus, bahkan keringat.
Sejak bangun pagi tadi ia belum mandi dan jam digital di sisi kanan tempat tidurnya sudah menunjukkan angka 11.25 WIB. Menghidupkan AC tidak lagi ada di otaknya karena seluruh bagian otak itu hanya terisi dengan kata tanya kenapa yang tak kunjung mendapatkan jawaban karena. Jadilah ia berlumuran keringat sebesar jagung di dalam kamar berukuran 3x4 dengan jendela tertutup di tengah kota bersuhu 43 derajat celcius.
Dan ketika ponselnya hanya menghantarkan suara operator untuk mencoba lagi penggilannya beberapa saat kemudian, buliran bening di pelupuk matanya itu kembali menggelinding bebas, melindas pipinya yang tidak lagi bersemu oleh blush on merah muda, menerabas sudut bibirnya yang pucat dan tidak lagi berlipstik menyala seperti semula. Ia patah dan itu karena satu lelaki di seberang ponsel di tangannya. Lelaki yang semula membuat perempuan ini tak pernah tersentuh oleh bau keringat tajam dan asam, apalagi air mata menyedihkan. Tidak pernah seperti siang itu.
Dalam bisu semacam itu, ia hanya peduli dengan dirinya sendiri. Ia tidak peduli lainnya, tetangganya, apalagi benda mati disekelilingnya. Karena jika bisa sedikit saja meregangkan telinganya dan hatinya, mungkin ia dapat mendengar bagaimana karpet di bawah badannya sudah berteriak ingin mandi, sudah meronta ingin pergi dan digantikan dengan yang lebih wangi. Bayangkan saja, berpuluh tetes air mata sudah berkali-kali jatuh di atas bulu-bulunya yang halus dan mulai melembek dan kasar. Tiap seratnya bisa merasakan betapa asinnya air mata dan peluh yang menempel padanya. Bahkan debu kamar yang tak kunjung pula di buka makin menebal dan meresap tanpa ampun di sela anyaman lembutnya.
Sejak pertama kali dibentangkan di atas lantai kayu kamar apartemen bernomor 23 berukuran 3x4 meter beberapa bulan lalu oleh lelaki bernama Fabian, ia belum pernah sekalipun menggantinya ataupun mencucinya. Karpet itu menjadi tempat segala hal yang perempuan tadi lakukan: tidur di atasnya, berdiri dan berjingkrak-jingkrak di atasnya, bahkan jika letihnya terlalu parah, perempuan itu akan tertidur pulas di sana tanpa sempat mandi, berganti pakaian, apalagi menyalakan pendingin ruangan. Belum lagi serbuk-sebuk bedak yang tidak pernah absen bertabur dan terjatuh lalu menempel di atasnya yang jika si karpet punya mata akan lekas mengidap katarak. Meski ia hanya bisa bisu, ia bisa merasakan bulu-bulu halus yang dulu sempet disanjung setengah mati di depan pembentangnya kini tinggal bulu kasar yang tak lagi bisa kembali pada posisi awal ketika diusap: kaku, tidak lagi indah. Kan sudah dibilang tadi, perempuan pemiliknya hanya peduli pada dirinya sendiri. Mungkin memang keberadaannya cukup disandingkan dengan benda mati lainnya. Toh, perempuan itu sudah tidak bisa lagi memandang karpet kusam tadi sebagai pemberian spesial tunangannya, lelaki yang sudah berkali disebut tadi, yang membuat buliran bening itu makin deras. Perempuan itu sudah memandangnya sebagai benda yang berhak diinjak semaunya. Ini belum lama karena baru semalam drama sedih itu dimulai. Saat tiba-tiba sang tunangan mengajaknya pergi dengan segala kebahagiaan terpancar di wajahnya sampai akhirnya mengantarkannya dalam kondisi tak terkira kacaunya: lelaki itu memutuskan pertunangannya, membatalkan pernikahan yang dirancang dan direncanakannya.
Dan karpet itu menjadi saksinya. Bukan hanya saksi kesedihannya malam itu, tapi juga malam-malam sebelumnya: sejak ia masih menjadi perempuan yang ceria dengan segala keriangan dan taburan bedaknya, hingga akhirnya menjadi perempuan yang muram durja dengan duduk menekuk lututnya berjam-jam hingga saat ini: 12.56 WIB!
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Coba beberapa saat lagi….. Suara itu yang didengarnya lagi, lagi, dan lagi.
Tangannya terkulai lemas di sisi kakinya, melemparkan perlahan ponsel yang sedari tadi ia genggam. Tisu yang ia lorot semakin lama semakin menebar, luas, menumpuk.
Aku belum siap untuk kita menikah, Eva.
Kenapa? Kenapa sekarang?
Aku....
Apa ada wanita lain?
….
Jawab, Bian!
…..
Fabian!
Ya, ada.
....
Dan kamu tidak perlu tahu siapa orangnya.

Tubuhnya bergetar hebat ketika rekaman ulang kejadian semalam itu seakan berputar lagi di otaknya. Kali ini ia tidak melorot lagi tisunya, ia bersimpuh, lututnya tidak lagi dipeluknya, ia biarkan tangannya menopang badannya, ia biarkan air matanya berjatuhan bebas tanpa jeda, tepat di atas karpet di bawahnya. Dan sekali lagi, ia tidak peduli. Termasuk ketika kemudian ia bangkit dan meraih dengan gusar dua pigura foto berukuran 10 R di atas mejanya, melemparnya hingga membentur dinding dan pecah. Ia tidak lagi peduli betapa tangannya ikut koyak dengan pecahan kaca yang berserakan di mana-mana. Senyum di tiap foto yang kemudian tergeletak di sana tidak lagi indah di matanya: senyumnya dengan lelaki bernama Fabian dan senyumnya dengan seorang perempuan yang merupakan sahabat baiknya.

Lulu...
....
Dia Lulu, Eva.

“Aaaaaaaa!” jeritan itu yang kemudian menyusul, terdengar menyayat, penuh kepedihan, dan tidak menyisakan sedikut pun ruang bagi siapapun untuk sekadar menyelipkan kalimat penyembuh Sabar, ya.

***

Ruangan yang sama masih gelap, padahal hari sudah beranjak malam. Jam digital di sisi kanan tempat tidur sudah menunjukkan angka 18.56 WIB. Perempuan tadi tidak lagi duduk menekuk lutunya, tidak lagi bersimpuh dengan tangan menyangga badannya. Ia tergeletak di sana dengan mata terbuka. Mungkin sudah letih, mungkin juga kemudian perlahan ia akan tertidur.
I just wanna die in you’re arm….. lagu No Promises milik Shayne Ward itu terdengar lagi dari ponselnya, nada dering panggilan masuk. Ini sudah yang kesekian kali dan perempuan bernama lengkap Evania Dewanti itu masih juga bergeming, diam di sana, tidak kunjung bergerak menjawabnya, seakan sengaja mengabaikannya. Ketika kemudian ponsel itu terdiam lagi, berhenti berdering, satu nama muncul di layar dengan belasan panggilan tak terjawab: my bestie Lulu.

***

Suara sirine itu terdengar terlalu nyaring di pagi buta pukul 04.32 WIB. Ada beberapa orang berseragam putih yang mondar-mandir keluar masuk sebuah kompleks rumah kos Wisma Kenanga, tepatnya dari kamar kos bernomor 23. Apalagi kalau bukan mengurus perempuan bernama Evani Dewanti yang menjadi pemilik kamar tersebut. Singkat saja, ia mati. Bunuh diri. Ini tidak lagi karena memotong pergelangan tangan, tetapi memotong  nadi lehernya sendiri.
Seorang perempuan lain tengah sesenggukan di atas tempat tidur dengan seprai tak beraturan. Dialah Lulu, sahabat baik Eva yang sehari sebelumnya membuat belasan panggilan tak terjawab, pengantar nada dering Shayne Ward pada ponsel yang kini sudah mati, mengikuti jejak pemiliknya. Ada sebuah bongkahan rasa bersalah di dalam hatinya, mengapa ia tidak menyadari situasi yang terjadi. Mengapa tiba-tiba Eva menjadi gusar padanya dan mengapa tiba-tiba belasan panggilannya tidak terjawab.
Satu jam lalu ketika kemudian ia nekat pergi menyusul ke apartemen sahabatnya itu, ia baru sadar yang terjadi telah terlampau buruk, semua sudah lewat, tidak lagi ada kesempatan untuk mengubahnya meski barang sedikit saja. Bagaimana bisa dia menghidupkan lagi sahabatnya yang sudah terlanjur pergi dengan cara yang bahkan tidak pernah dia bayangkan? Bubur sudah mencair dan ia tidak lagi bisa mengembalikannya menjadi nasi, atau bahkan padi.
Dengan menggunakan kunci duplikat yang memang dimilikinya, ia membuka apartemen dan kamar Eva yang gelap gulita. Jika saja ia tidak berpegangan pada gagang pintu, ia bisa saja terjerembab, terhuyung jatuh di atas lantai. Kamar itu tidak lagi bisa dinamakan sebuah ruangan yang utuh: tisu bertebaran di mana-mana, serpihan kaca yang pecah terpelanting ke segala arah, juga foto-foto dengan gambar dirinya di sana terkoyak kusut.
Ia sudah melakukan kesalahan. Hanya satu memang, tapi itulah yang justru membuat segala hal dalam hidup Eva juga hidupnya menjadi kelabu. Sebuah kesalahan yang bahkan ia sendiri tidak bisa memaafkannya, yang bahkan ia sendiri bisa melakukan hal yang sama jika Eva adalah dirinya. Mendadak ia membenci dirinya.
Sahabat?
Kepalanya menggeleng keras ketika kata itu meletup begitu saja di kepalanya. Ia lebih mirip parasit pembunuh jika harus menuliskan label identitas dirinya bagi Eva. Parasit yang merenggut impian Eva tentang perniakahan serba sempurna dengan gaun berwarna putih dengan ekor panjang tak terkira. Parasit yang merenggut impian Eva untuk memiliki satu keluarga utuh dengan Bian yang akan sering duduk di atas karpet berwarna hijau lumut di kamarnya, bercerngkrama sampai pagi tentang apa saja. Ia lah parasit yang dengan tega merebut hati Bian untuk kemudian meninggalkan Eva yang patah dan hancur sehancurnya. Ia lah parasit berupa perempuan lain yang sempat disebutkan Bian pada malam terakhir pertemuannya dengan Eva. Ia sudah merebut calon suami sahabatnya sendiri: merebut Bian dari Eva.
“Aaaaa..” jeritan itu yang kemudian terdengar.

***

Ruangan kamar tadi sudah kembali gelap. Karpet hijau lumut yang belum juga beranjak dari sana kini makin kusam, makin masam. Dan satu bekas baru sudah menempel lagi di atasnya: bercak darah perempuan lain, selain pemiliknya. Lulu yang putus asa, Lulu yang merasa penuh dosa memutuskan turut mengukir sejarah di karpet yang sama. Mati dengan cara yang sama.
Para medis yang kemudian datang mengangkut jenazah Lulu, hanya menggeleng-geleng tak mengerti. Baru kali itu mereka menemukan satu kasus bunuh diri beruntut yang korban keduanya adalah pihak yang menemukan korban pertama. Desas-desus yang kemudian merebak bahwa korban kedua dibunuh oleh arwah penasaran korban pertama menjadikan siapapun yang ada di sana tak berani mendekat, apalagi bicara sembarang. Para medis, para tentangga, dan juga para pemilik mata yang kebetulan lewat hanya mengelus dada dan tidak berani banyak berkomentar. Takut kualat, katanya.

***
“Evania Dewanti
Evania Dewanti
Evania Dewanti
Eva
Eva.....” Gumamnya.

“Lusiana Bramantyo
Lulu, Lusiana, Lusi
Lusiana....” Gumamnya lagi.

“Evania, Evaaaa... Lusiana, Lulu, Lulu....Luluuu..” Lagi lagi dia menggumam.
Seseorang tengah duduk bersimpuh memeluk lututnya  sendiri di dalam sebuah ruangan seba putih: bergerak maju mundur seperti ayunan yang tak kunjung berhenti bergoyang. Ia sendiri di situ, di dalam ruangan tertutup rapat tanpa jendela. Mukanya tampak pucat, kusam. Bintik-bintik kumis dan jambangnya yang mulai menebal menunjukkan bahwa ia tidak lagi setampan semula. Tulang pipinya yang mulai tampak menonjol menunjukkan betapa ia tidak pernah menyentuh makanan dan minuman yang disodorkan para suster padanya. Plang kayu bertuliskan nama Fabian Lesmana di sisi tempat tidurnya sudah bercampur dengan coretan lain tak beraturan dari tangannya yang tampak lebam di mana-mana.
Sesekali, ia melirik ke ujung ruangan, pada satu titik onggokan kain kumal, tebal, berbulu. Warnanya yang kusam menyembunyikan warna aslinya, warna hijau lumut. Ya, itu karpet dari kamar Eva, karpet yang belum sempet dicuci dari segala macam air mata, peluh, juga simbahan darah, termasuk dari ribuan titik debu dan serbuk bedak. Entah bagaimana bisa ia membawanya dari sana. Ketika kemudian ia dinyatakan mengalami gangguan jiwa, karpet itulah yang ia bawa dengan susah payah bersamanya, meski sering kali justru karpet tersebut yang menjadi pemicu kekacauan di kamarnya.
Drama yang terjadi akan dimulai dengan pandangannya yang memincing, kemudian perlahan mendekatinya, membuka dan membentangkannya, tersenyum dan berbicara sendiri dan akhirnya berteriak-teriak sekeras yang ia bisa hingga suaranya menjad parau. Lalu, tanpa lagi bisa ditahan, ia akan menangis, meraung ketakutan, seakan karpet yang baru saja didatangi dan disentuhnya adalah makhluk hidup menyeramkan yang hendak melumatnya dengan taring tajam hingga tubuhnya tercabik hancur.
“Ampuuuun, ampuni aku Evaaa, Lulu....”
Dan jika perilakunya mulai berubah menjadi garang hingga melukai dirinya hingga lebam di tangannya melebar ke tubuh dan kepalanya, pintu rapat itu akan terbuka, mengantarkan para suster ke dalamnya. Kalau sudah begitu, ia akan kembali tenang, bahkan terlelap dengan wajah damai. Mungkin tidak lama, tapi paling tidak ia bisa beristirahat sebelum kembali bergumam dengan dua nama yang sama, mendekati karpet yang sama, dan berteriak hingga mengamuk dengan cara yang sama.
_end_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar