Baju atasan seragamku sudah aku lepas sejam yang lalu, menyisakan kaos bergambar tokoh Superman yang aku suka. Lalu, tanpa takut kusut, aku jadikan atasan ku tadi sebagai bantal untuk berbaring di sebuah padang rumput yang ujungnya disambut oleh bibir danau. Kamu ada tepat di sampingku, terlentang dengan berbantal tas warna hijaumu.
"Aku ingin menjadi pelukis," kataku kala itu. Mataku agak memincing ketika ranting pohon di atas tempat kita berdua berbaring, bergerak oleh angin dan sinar matahari itu menyelip di antara celahnya.
"Kalau aku ingin menjadi artis." aku menoleh mendengar ucapanmu. "Aku ingin menjadi gadis yang dikenal banyak orang." lanjutnya tanpa sempat mengizinkan aku untuk bertanya mengapa.
"Kalau sudah jadi artis, lalu apa kamu akan lupa padaku?" ujaran itu membuatmu yang menoleh padaku, membuat mata kita bertemu, dua pasang mata anak usia 11 tahun saling menyorotkan sinar tanda tanyanya. Lalu kamu tersenyum sembari menyubit pipiku perlahan.
"Tentu tidak, Daru. Kamu mengada-ada. Bagaimana bisa aku padamu sedangkan sejak lahir pun kita sudah tertakdir bersama. Kau ingatkan kita dilahirkan pada hari dan jam yang sama meski dari rahim yang berbeda." paparanmu itu membuat tersenyum lega. Mengangguk adalah hal yang berikutnya aku lakukan.
"Lalu, kalau kamu sudah jadi pelukis seperti kakekmu, apa kamu juga akan lupa padaku?" kamu bertanya sembari cemberut, aku masih ingat.
Gantian aku yang tersenyum dan mencubit pipimu. "Tentu tidak, Mona, aku tidak akan lupa dengan gadis yang bahkan namanya sama dengan lukisan favoritku, Monalisa." Dan kemudian kita sama-sama menatap, berjanji dalam hati untuk tetap menjadi orang yang sama. Orang yang sesuai dengan kata-kata yang dituliskan dalam secarik kertas di masing-masing tangan kita. Kamu menyebutnya dengan menulis masa, menulis takdir kita.
***
Aku masih ingat bagaimana raut mukamu hari itu. Aku juga masih ingat bagaimana kamu enggan pulang dari rumahku setelah ayahmu meminta untuk segra beranjak dari kursi tamu. Kamu dan keluargamu akan pindah ke kota dan aku harus tetap tinggal di desa. Ayahmu mendapatkan tempat kerja baru dan kamu harus ikut bersamanya. Aku memang tidak menangis waktu itu karena kamu juga tidak. Hanya saja kita berdua sama-sama tahu, kita tidak ingin saling melepaskan. Hal yang kemudian menjadikan air mataku jatuh adalah dirimu yang menghambur padaku, memelukku erat sekali, seakan mengatakan bahwa hatinya yang rapuh butuh untuk dikuatkan. Aku balik memelukmu, lebih erat, berusaha sebisa mungkin menguras tenagaku untuk membiarkan air matamu tidak tumpah semua di pundakku. Dan tanpa diminta, kedua orang tua kita turut hanyut di dalamnya.
***
Setahun bertahun berlalu dan tumpukan kertas surat itu semakin menggunung. Kamu mengirimkannya seminggu sekali dan kini aku butuh kotak surat tambahan untuk memuat semuanya agar tetap tersimpan rapih. Dalam tiap suratmu, kamu sering bercerita bagaimana sekolah barumu begitu menyenangkan, Bagaimana kamu bisa mengenal banyak orang terkenal yang dulunya hanya kamu raba lewat layar televisi. Kamu juga bilang, bahwa impianmu menjadi artis akan lebih mudah di sana. Aku turut bahagia jika kamu bahagia, tapi tidakkah kamu ingin pulang ke desa kita lagi? Aku rindu dan aku tidak lagi bisa menahannya.Apa kamu tidak ingin melihat lukisan-lukisan ku yang mulai digemari banyak pengamat seni?
Tunggu, hari itu sudah 3 minggu kamu belum mengirimkan balasan dari surat yang terakhir aku kirimkan. Pantas saja rasa rinduku semakin menggunung. Apa kamu baik-baik saja di sana? Atau kamu sangat sibuk sehingga tidak sempat mengirimkan surat balasan yang sudah kamu tulis? Atau malah, kamu justru belum menulisnya sama sekali? Atau kamu belum membaca surat dari aku? Ah tidak-tidak, aku terlalu ngelantur. Sehari setelahnya, aku menuliskan surat yang kurang lebih sama, aku kirimkan lagi ke alamat yang sama. Ah, andai saja ketika itu sudah ada ponsel genggam, aku akan terus menghubungi nomormu dan memastikan suratku sampai, terbaca, terbalas, dan kamudalam keadaan baik-baik saja.
***
Ada yang hilang ketika kemudian aku menyadari sudah hampir 6 bulan surat balasan darimu tidak satupun datang. Aku tahu, saat itu karier keartisanmu sudah mulai meroket. Kamu menjadi idola masyarakat negri. Kamu yang ramah, sopan, cantik, dan pintar bisa meraih simpati dengan mudah dari banyak orang. Termasuk aku. Dan tekadku untuk menyusulmu ke kota, menjadi bulat. Aku pun menyusulmu, berbekal sejumlah tabungan dari hasil penjualan lukisan, aku berangkat dengan bus. Harapan untuk bertemu denganmu sangat besar. Sudah terbayang apa-apa saja yang akan aku lakukan ketika kita bertemu lagi: meneriakkan namamu, berhambur ke pelukanmu, dan bilang bahwa aku merindukanmu, merindukan sahabat kecilku. Sahabat? Entahlah, aku juga tidak begitu paham dengan statusmu bagiku. Yang pasti, kamu menjadi alasan utama kepergianku ke kota. Kamu, dan bukan lainnya.
Sektar 6 jam kemudian sampai. Tapak pertama di kota itu aku rasakan sebagai satu lembar baru dalam cerita dalam hidupku. Aku akan segera bertemu dengan mu. Dua hari lalu, ada tayangan iklan yang menyebutkan bahwa kamu akan hadir dalam sebuah acara talk show untuk menjadi bintang tamu. Asal kamu tahu, aku sudah beli tiketnya jauh-jauh hari. Bima, tetangga kita, yang pulang dari kota yang membawakannya.
Setelah selesai makan siang dan istirahat sejenak, aku pun bergegas menuju tempat dimana kita akan bertemu, dimana aku akan kembali melihat wajah polos yang dulu pernah bilang aku ingin menjadi gadis yang dikenal banyak orang. Ah, betapa bahagianya kamu ketika menyadari bahwa kamu berdiri dengan anggun ketika semua orang menyanjung namamu, menyanjung perilakumu. Seperti yang tengah ku lihat saat itu. Sudah ku bilang kan tadi, kamu ramah, sopan, cantik, dan pintar. Itu mengapa ketika kemudian kamu masuk ke panggung dengan setelan dress selutut berwarna pastel, semua orang tepuk tangan, bersorak meneriakkan namamu. Ya, ini persis seperti yang kamu inginkan. Ini persis seperti takdir yang pernah kamu tulis bersama ku di bawah pohon di tepi danau. Kau tahu, takdir yang aku tulis juga terwujud.
"Dan selamat datang Monalisa." sambut pembawa acara.
Aku tersenyum ketika kamu kemudian tersenyum pada kami semua, penonton di hadapanmu. Banyak yang ditanyakan padamu, tentang hidup, tentang cinta, tentang persahabatan. Tema terkahir itulah yang paling aku suka. Terutama ketika pertanyaan Apa Anda memiliki sahabat?
Dan kemudian kamu dengan tegas menjawa, "Ya, dan saya sangat menyayanginya juga merindukannya."
Aku di sini, Mona. Aku menontonmu. Ingin sekali kala itu aku berteriak demikian.
***
Aku masih belum percaya yang aku lihat. Mona, kamu, sangat luwes di atas panggung tadi. Tidak ada sedikitpun kecanggungan yang dulu selalu kamu keluhkan tiap kali kepala sekolah memintamu menjadi pembaca UUD 45 ketika upacara bendera. Kamu sudah pantas menyandang predikat itu: artis ibu kota.
Duggh!!
Seseorang menyikut kepalaku membuatku meringis, sakit sekali.
"Permisi, permisi." Teriakan itu terdengar kemudian diiringi kerumunan wartawan dan banyak orang lainnya yang sebagian besar adalah penonton yang duduk di sisi kiri, kanan, belakang, dan depan ku tadi.
"Monaaa."
"Aaaaak!"
"Love you, Monaaa." teriakan itu membuatku tersadar, kamu ada di kerumunan itu.
"Monalisaa." aku ikut berteriak. "Ini aku, Daru Sanjaya. Daru sahabat kamu." Ucapku. Mona tetap berjalan, aku tahu kamu pasti tidak dengar. Maka aku mengulanginya. "Mona. Monalisa!!!" teriakku dan yak, kamu menoleh. Kamu menoleh. DIA MENOLEH, TUHAN!!!
Aku tidak bergeming, berhenti dan tersenyum dengan penuh peluh dan haru. Kamu berhenti, diam beberapa detik sampai akhirnya berjalan lagi tanpa menoleh. Aku terkesiap. Apa dia lupa wajahku? batinku.
"Ini aku, Mona. Daru!! Daru Sanjaya." Teriakku lagi. "Monaaa!"
"Eh, sini kamu. Pengganggu saja." Dua orang berbadan besar itu justru menyeretku, menjauh dari kerumunan, menjauh dari mu, dari Monaku.
"Aku sahabat Monalisa, Pak. Aku tidak berbohong!!" Aku memohon. Tapi, nihil. Aku tetap diseret, semakin jauh dan jauh. Hingga akhirnya kamu masuk mobil dan berlalu, aku tidak juga bisa menyapamu dengan benar: menyapa dan kamu membalas sapaku.
***
Ibu kota terlalu besar, kata ibu. Benar saja. Aku sudah mulai gerah dengan cuacanya. Gerah sekali. Apalagi kejadian sehari sebelumnya membuatku bertanya-tanya. Mengapa kamu tidak mengenaliku? Mengapa kamu tidak membalas sapaanku? Ketika itu, aku baru saja sampai di pusat perbelanjaan. Berniat membeli beberapa bekal untuk pulang saja ke desa esok harinya. Tidak ada gunanya juga kalau kamu tidak lagi mengenaliku. Mungkin kamu terlalu sibuk. Mungkin juga aku justru menjadi pengganggu karier bagusmu.
"Bruk!!" Aku menabrak seseorang di pintu masuk. Sejumlah makanan dari tas belanjaan berserakan di depan kakiku. Reflek, aku pun membungkuk, berusaha memungutinya satu per satu.
"Maaf, ya, saya tidak sengaja." ujarku berusaha meminta maaf atas keteledoranku tadi. Memalukan. Aku pun mendongak, berusaha tersenyum pada seseorang yang justru sedari tadi diam di tempatnya dan tidak menjawab ucapan maafku. Satu detik, dua detik, dan tiga detik, aku melakukan hal yang sama, diam. Bukannya memunguti satu persatu barang belanjaan tadi, aku justru berdiri dan menatap dengan terkejut seseorang yang ternyata wanita di hadapanku. Sudah bisa ditebak, oran gitu kamu, Mona. Mona, sahabat kecilku.
"Mona...." ucapku lirik hampir tidak terdengar. Kamu tampak terpengarah, leher panjangmu tampak bergerak naik turun karena menelan ludah.
"Mona, apa kabar?" tanyaku dengan suara bergetar, berusaha mengontrol perasaannku yang entah bagaimana bentuknya. Ini terlalu kejutan untuk bertemu dan bertatap muka tanpa siapapun yang mengeruminimu seperti sebelumnya.
"Permisi." Aku terkesiap saat kamu bahkan tidak membalas panggilan nama dan menajwab pertanyaan tentang kabar dari ku. Sebelum kamu kembali menjauh dan aku tidak sempat meraih tanganmu untuk bertanya banyak hal, aku mengejarmu.
"Tunggu, Mona. Ini aku, Daru. Mona..." teriakku.
"Kamu lagi, pergi sana." Seseorang menghadangku sebelum sempat aku bisa mengejarnya. Orang yang sama dengan yang meraikku menjauhi kamu tempo hari.
"Pak sudah saya bilang, saya ini....'
"Alah, kalau begitu saya bisa juga bilang bahwa saya Oomnya Mbak Mona. Begitu.' ia membentak. "Sudah lah, berhenti bermimpi bisa menjadi sahabat beliau. Beliau saja tidak pernah bertemu apalagi mengenal kamu." Nafasku tertahan mendengarnya. Kamu bilang tidak mengenalku? Tidak pernah bertemu denganku? Ah, Mona.
"Mon, Mona yang bilang be, begitu, Pak?"
"Iyalah. Sudah-sudah, pergi sana." Dan ia berlalu setelah masuk ke mobil yang sama dengan mu.
***
Aku masih termangu dalam perjalanan, menatap keluar jendela. Bus ini akan segera membawaku pulang dan aku tidak perlu lagi mengingat apa-apa yang terjadi pada 'pertemuanku' denganmu, Mona. Kenangan itu akan lebur bersama angin yang terlewati. Dan ketika sampai rumah nanti, kenangan pertemuan itu sudah habis. Kemudian, aku akan menggantinya dengan kenangan lainnya yang lebih manis. Mungkin tentang yang lainnya, atau mungkin masih tentang kamu, Mona. Tentang kamu yang aku kenal sebagai sahabat sejati, yang pernah enggan terpisah denganku, yang ingin selalu bersamaku. Tentang kamu yang ramah, cantik, dan pintar. Tentang kamu yang tidak akan pernah membiarkan takdir lain masuk ke dalam takdir yang kamu mau.
Bagaimana bisa aku padamu sedangkan sejak lahir pun kita sudah tertakdir
bersama. Kau ingatkan kita dilahirkan pada hari dan jam yang sama meski
dari rahim yang berbeda...
Kamu masih ingat kata-kata itu, Mona? AKu masih dan kalimat itu masih tertanam di dalam buku catatanku semasa SMP. Bukan untuk mengingatnya untukku, tapi agar ucapan itu tidak hanya menguap begitu saja di udara, tetapi juga tersimpan dengan baik seperti prasasti. Mungkin tidak sekadar di buku catatan itu, tetapi juga di dalam otakku, di dalam hatiku. Bahwa kamu akan kembali padaku suatu hari, bahwa kamu akan selalu ingat dengan namaku, wajahku, dan surat-surat balasan yagn belum sempat kamu tulis dan kirimkan padaku.
Ini risikonya, Daru. begitu katamu di malam ketika akhirnya aku bisa menemuinya. Tentu tanpa sengaja. Aku harus pergi dan kamu jangan lagi datang untuk aku. Aku bukan lagi yang dulu. Aku suka dunia ini. Ini takdirku, takdir yang aku tulis. Aku menulis 'artis' dan aku tidak menuliskan kamu di dalam takdir 'artis' itu. Maaf, namun aku tidak ingin kehilangan takdirku karena takdir yang kamu tulis.
Marah? Pasti, aku marah, Mona. Kamu pergi begitu saja tanpa tahu betapa aku sangat terluka. Apalagi ketika aku menyadari bahwa kamu tidak sekadar sahabatku. Perasaan yang pernah tidak bisa aku definisikan tenang statusmu di hatiku sudah bisa aku definisikan. Aku jatuh cinta. Bukan sejak aku melihatmu di panggung malam itu. Tapi sejak aku mulai menulis surat pertamaku padamu ketika kamu tidak lagi ada di sisiku, di desa yang sama. Ini takdirku, Mona. Takdir yang tidak aku sebutkan di hadapanmu siang itu di tepi danau dan di bawah pohon. Aku menuliskan namamu di dalamnya. Takdir untuk suatu hari bisa membuatmu lebih tinggi dari sekadar teman dan sahabat. Yang bisa aku kagumi dan kemudian aku sayangi. Entah berapa kali aku menyesalinya, tapi itu sudah terlewat. Menyesali mengapa aku tidak menulis pula bahwa kamu juga menuliskan namaku pada takdirmu.
Hal yang aku tahu sekarang adalah bahwa di luar segala takdir yang kita tulis sendiri, seperti yang aku dan kamu buat siang itu di tepi danau dan bawah pohon siang itu, ada tangan lain yang justru lebih berkuasa menuliskannya. Tuhan, tentunya, siapa lagi. Dan Tuhan sudah menunjukkan itu. Meski aku bersikeras menuliskan keinginanku agar ia menuliskan namaku pada takdir yang ia mau, Tuhan sudah terlebih dulu menuliskannya untuk kita berdua. Termasuk ketika akhirnya, tadkir yang kamu tulis itu justru membuatmu kehilangan semuanya. Ya, kamu kehilangan semuanya. Malam itu, terakhir kali kita bertemu, kamu tidak sadar seseorang tengah membututimu, tengah mengincarmu. Aku pun tidak sadar sebelum akhirnya aku melihat sebuah mobil berwarna merah itu menabrakmu dengan sengaja di area parkir. Kamu sengaja dibunuh. Kabar kemudian yang aku terima adalah bahwa pembunuh itu adalah suruhan seorang wanita kaya. Wanita yang mengaku cemburu karena suaminya berpaling darinya, untukmu. Kamu berpacaran dengan seorang yang bersuami, Mona? Dan itu yang kamu bilang risikonya? Bahkan terbayangpun tidak pernah. Kamu meninggal di tempat. Seperti yang sudah ku bilang tadi, kamu kehilangan semuanya: tidak hanya nyawa, tapi juga kariermu, keluargamu, dan tentu aku, sahabatmu.
Di akhir cerita yang aku paparkan ini, aku hanya ingin bilang, ini bukan sekadar tentang menuliskan takdir yang kita mau, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menempatkan diri dengan takdir yang telah lebih dulu digariskan Tuhan, yang telah Tuhan tuliskan.Tidak ada yang melarang tentang rencana tentang takdir. Toh Tuhan juga meminta kita berusaha. Hanya saja, akan ada hal lain yang mencampuri rencana tadi yang tidak pernah kita tahu akhir macam apa yang akan ada: baik atau buruk, senang atau susah, sedih atau bahagia.
Langit mulai gelap ketika bus kembali berjalan melewati perbatasan kota. Dan ketika langit mulai tidak tampak kecuali seperti kubah hitam yang menelungkup di atasku, aku muali terlelap. Kali ini, aku tidak ingin bermimpi. Kali ini, aku ingin tidur seperti orang mati.
Finara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar