JUMAT
10.23 WIB (Beranda Fresh Florist)
Dengusan
itu terdengar di telinganya sendiri. Ponsel layar sentuh di tangan
kirinya baru saja mati. Dari enggahan nafas yang menderu, tampak bahwa
ia menahan kesal. Siapa lagi kalau bukan pada kekasihnya. Sebenarnya,
bukan hal besar kalau saja kekasihnya itu mau meluangkan satu akhir
pekannya saja untuk satu tahunan mereka: firts anniversary. Pergi dengan kendaraan umum tanpa mengaktivkan ponsel dan gadget apapun
untuk kemudian naik kereta ke satu tempat di kota lain, dan
menghabiskan waktu bersama, berdua di tempat itu. Sudah, cukup dan
kemudian ia akan melepaskan lelaki tersayangnya itu kembali ‘intim’
dengan pekerjaan tercintanya.
“Aku batalkan saja semuanya kalau memang itu maumu!”
bentaknya lima belas menit lalu pada lelaki yang disebutnya ‘kekasih’.
Kekesalannya mencuat saat menyadari bahwa lelaki itu lebih memilih
pekerjaannya dibandingkan dirinya. Berlebihan mungkin, tapi ia hanya
minta satu hari, bukan satu bulan atau bahkan satu windu. Ia sudah
sering melepaskan kerinduannya begitu saja saat kemudian pekerjaan
lelakinya sebagai konsultan menjadi penghalang pertemuan mereka.
“.... Toh perayaan semacam itu kan bisa dilakukan kapan saja."
Geram sekali rasanya saat ia mendengar ucapan itu di telinganya. Tega!
Bahkan kekasihnya mengentengkan saja hal semacam itu?? Dan ketika
kekasihnya itu memohon untuk dirinya mengerti, ia sudah tidak sanggup
lagi dan memilih untuk menyudahi saja percakapan yang terjadi.
10.10 WIB (Ruang Konsultan)
“Mona,
tolong mengerti. Pekerjaanku harus selesai besok. Toh perayaan semacam
itu kan bisa dilakukan kapan saja.” Ujarnya masih dengan berdiri karena
memang belum sempat duduk dengan tenang. Tangannya tampak mengusap
kening yang tidak berkeringat saat ia menyimak kekesalan perempuang
tersayangnya dari ponsel di telinganya.
“Iyaa, aku tahu itu
penting untuk kita. Tapi, Pak Wisnu minta aku untuk bertemu dengan klien
baru besok siang. Kalau pun kita tetap pergi, kita tidak akan fokus,
Mona. Jadi tolong.....”
Telepon di tangannya membunyikan nada panjang, putus.
“Mon, Mona tunggu. Mona??!” Tuuuuuuut!
Sadar
atau tidak, seketika itu juga ia membanting ponsel di tangannya. Lalu
dengan kekesalan luar biasa, ia menghempaskan tubuh di atas kursi hitam
di belakangnya. Keningnya juga tampak berkedut beberapa kali menahan
semua beban pekerjaan yang ditanggungnya. Ia kesal, bahkan marah karena
sikap kekanakan yang dimiliki perempuannya, wanitanya, yang rencananya
akan menjadi calon istrinya kelak. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa
perempuan itu tidak mau mengerti dirinya bahkan di saat semua pihak
menuntut kualitas kerjanya saat itu. Ia tahu, ia sudah berjanji tentang
jalan-jalan di satu tahunan mereka berdua. Tapi, ia juga tidak bisa
bertanggung jawab nantinya kalau urusan pribadinya tentang cinta itu
menjadikannya kehilangan pekerjaan impiannya.
“Terus saja kamu urus bosmu. Sudahlah, aku batalkan saja semuanya kalau memang itu maumu!”
Ia
menghela nafas dalam ketika ucapan-ucapan itu terngiang lagi di
telinganya. Ada sedikit rasa sesal memang ketika kemudian ia mengatur
lagi nafasnya. Ketika kemudian hendak menghubungi lagi perempuannya, ia
baru sadar ponselnya rusak, terpental menjadi beberapa bagian karena
bantingannya tadi terlalu keras.
“Mas Reno, sudah ditunggu Pak
Wisnu di lobi.” Ujar Prapto, supir kantor, padanya di ambang pintu.
Lelaki bernama Reno itu hanya mengangguk sembari –terpaksa—tersenyum.
Setelah sebelumnya meminta Prapto membawakan ponselnya ke tukang servis,
ia pun beranjak dari ruangannya menuju lobi, mendatangi bosnya. Ia
sudah bertekad, sepulang dari kantor nanti, ia akan mengunjungi
perempuannya dan meluruskan semuanya.
11.00 WIB (Fresh Florist)
Ia merasa lebih baik setelah mencuci mukanya. Terasa lebih segar meski kekesalannya masih bersisa.
Tring!!
Suara
denting bel kecil di pintu tokonya berbunyi dan ia tersenyum saat
melihat seorang wanita paruh baya masuk. Kaca mata tebal yang
dikenakannya tidak menutup kecantikan masa mudanya. Ia pun balas
tersenyum.
“Ingin bunga apa, Tante?” Sapanya dengan lembut.
“Lily putihnya saja, Mbak. Minta dirangkaikan ya, yang cantik.” Mona mengangguk.
“Untuk siapa, Tante, bunganya?” tanyanya kemudian. Lalu dering itu menyusul, dering ponsel dari ibu paruh baya.
“Saya tinggal sebentar ya?” pintanya tanpa sempat menjawab pertanyaan Mona.
Sesaat kemudian, ibu paruh baya kembali.
“Maaf, tadi itu suami saya.”
“Tidak apa-apa, Tante. Jadi, Tante membeli bunga Lily ini untuk siapa?”
“Untuk anak saya.”
“Ulang tahun?”
“Ya, yang ke 18.”
Mona mengangguk sembari merapihkan ikatan pita pada seikat rangkaian bunga di tangannya.
“Biasanya saya pergi dengan suami. Tapi tadi dia bilang tidak bisa, ya sudah, saya saja tidak apa-apa?”
“Memangnya kemana sampai tidak bisa mengantar, Tante?”
“Biasa,
pekerjannya masih harus dilembur, jadi ia harus tetap di kantornya
tanpa bisa mengantar saya ke daerah Kalibata.” Mona tidak langsung
merespon.
“Kali...bata?”
Ibu paruh baya tersenyum. “Iyya,
Kalibata, kompleks pemakaman Kalibata. Anak saya dimakamkan di sana
sejak dua tahun lalu.” ujarnya tanpa beban. “Anak saya terkena Sirosis.
Donor hatinya terlambat datang.” Ada rasa pahit ketika Mona perlahan
menelan ludah.
“Tidak apa kok, sudah berlalu dan saya sudah bisa membiarkannya pergi.”
“Dan ibu tidak apa pergi sendiri? Apa suami ibu lalu tidak akan datang ke ulang tahun anak ibu?”
“Ooh, tentu datang dan itu pasti dengan saya, meski saya harus bolak balik dari rumah. Suami saya sibuk, Mbak.”
“Ibu... tidak pernah marah dengan itu?”
Ibu
menggeleng. “Tidak dong. Sama sekali. Dunianya ya dunianya. Dunia saya,
ya dunia saya. Kami tidak ingin saling merusak dunia masing-masing.
Meski hampir selalu terlambat, toh dia tidak pernah lupa dengan ulang
tahun anaknya, juga ulang tahun saya. Lebih baik terlambat, kan
dibandingkan tidak, bukan?”
Deg!!! Kata-kata itu menancap tepat di
dadanya. Betapa ibu paruh baya ini mengerti dengan segala tentang
suaminya, menerima apa adanya. Sedangkan ia?
“Jadi, berapa, Mbak?” Pertanyaan itu membuyarkannya.
“Ohh, 150 ribu, Tante.”
Ia terduduk di kursi dekat mejanya saat akhirnya sang ibu paruh baya itu berlalu pergi dari tokonya. Lebih baik terlambat, kan dibandingkan tidak?” Ucapan
itu terbayang lagi. Itu tamparan yang keras untuknya. Ia sadar, apa
yang baru saja didengarnya berkebalikan dengan yang dilakukannya. Ia
justru memaksa lelakinya mengikuti dunianya tanpa bisa mengerti apa yang
sebenarnya dibutuhkan dalam dunia lelakinya itu. Sebelum nantinya ia
berubah pikiran, ia bergegas beranjak dari kursinya dan meraih tas kecil
di sisi meja, berniat mendatangi kekasihnya, setelah sebelumnya membeli
sekotak nasi padang sebagai oleh-oleh makan siang.
Ketika
akhirnya bus yang ditunggunya datang dan kemudian memilih untuk duduk di
barisan terdepan, ia meraih ponsel layar sentuhnya dari dalam tas dan
mencari satu nomor, meninggalkan satu pesan suara ketika sang operator
menyatakan telpon yang dituju tidak aktif.
Sayang, maaf tadi
aku emosi. Sekarang di mana? Aku ke kantor kamu ya. Aku bawakan nasi
padang kesukaan kamu. Kalau kamu memang masih keluar, tidak perlu
terburu. Aku tunggu sampai kamu selesai. Love You.
Darrrr!!!! Brak!!!
Ledakan
dan hantaman itu tiba-tiba terdengar selepas Mona meninggalkan pesan
suara. Entah darimana sumbernya, tapi setelah itu yang Mona tahu hanya
bahwa tubuhnya terpental dari kursi satu ke kursi lainnya, bersama
penumpang yang satu dengan penumpang lainnya. Sejenak kemudian, tidak
ada yang bisa dipandangnya karena semua menjadi gelap. Yang ia tahu,
sebuah tangan meraihnya dengan paksa sebelum akhirnya suara ledakan
selanjutnya terdengar hingga telinganya berdenging.
nggggggggggggggggg.....!!!
12.00 WIB Pertemuan dengan Klien
Reno masih dalam percakapan serius dengan klien dan bosnya ketika tiba-tiba telinganya berdenging, nyeri.
“Awww!!!” Serunya, membuat Pak Wisnu dan Pak Irwan, kliennya, menoleh padanya.
“Pak Reno, ada apa?” Reno mengedipkan matanya beberapa kali sembari memegangi telinganya. Sungguh sakit dan baru kali itu.
“Pak Reno?” Pak Wisnu mengulangi pertanyaannya.
“Ya?” Sahut Reno cepat.
“Anda, baik-baik saja?” Tatapan mata Pak Wisnu sedikit khawatir. Reno menarik nafas dalam, memastikan nyeri itu sudah hilang.
“Ah, ya Pak, saya baik-baik saja.” Aneh, batinnya.
“Mari kita lanjutkan.” Ujarnya kemudian. Pak Wisnu tampak lega. “Oke,
jadi nanti konsep yang kita gunakan dalam proyek ini adalah.......” Reno
tidak lagi begitu menyimak diskusi yang terjadi. Pikirannya mendadak
tidak tenang dan tentu, itu karena pertengkarannya dengan Mona pagi
tadi. Mendadak, jarum kecil di arlojinya seakan bergerak sangat lambat
baginya: ia ingin waktu berputar lebih cepat. Ia harus segera bertemu
dengan perempuannya.
14.00 WIB Rumah Sakit-ICU
Tangannya
gemetar saat meraih pena itu dari tangan mamanya. Kepalanya terasa
sangat berat ketika kemudian larik demi larik itu tertulis dengan
singkat di atas kertas di hadapannya. Ia tahu, tidak banyak waktu yang
ia punya. Hanya perlu menyatakan maaf sebelum terlambat, meski tidak
dengan tatap muka. Larik terakhir pun sudah selesai dan diakhir titik
sebelum akhirnya kertas tadi terlipat rapih dengan nama RENO di
atasnya. Sementara menit-menit itu berlalu dengan perlahan, ia sempat
menyerahkan lipatan tadi pada mamanya tanpa bisa bersuara. Ia juga
sempat merasakan desakan keras di tenggorokannya saat mamanya tampak
panik menatapnya. Hingga akhirnya matanya terpejam dan garis lurus pada
layar itu yang tampak, Mona hanya merasakan tubuhnya dingin, kemudian
terbang, pergi sari sana untuk selamanya.
21.00 WIB Area Apartemen Reno
Reno
belum juga keluar dari mobilnya. Ia berdiam di sana sejak satu jam
lalu. Menangis sejadinya, menyesali semuanya. Pertengkaran pagi tadi
menjadi saat terakhir ia mendengar suara Mona. Ia memang sempat melihat
wajah Mona, bertatap muka dengan Mona. Tapi, muka yang ditatapnya tidak
lagi bisa tersenyum, tidak lagi bisa bersungut kesal.
“Mona mengalami kecelakaan di perjalanan ke kantor kamu, Reno.”
Ujar mama Mona padanya saat beberapa jam lalu ia tiba di rumah duka.
Reno sempat menyangka bahwa diirnya salah rumah ketika mendapati banyak
mobil dan tamu di beranda. Ia masih sempat bertanya ada apa? pada
salah seorang tamu yang datang sebelum akhirnya mama Mona menghambur
keluar dan memeluknya dengan tangis. Saat itulah ia sadar, ia tidak
salah masuk rumah. Saat itu juga ia tahu, bahwa ucapana ada apa? yang
ditanyakan tadi mendapat jawaban yang sanggup membuatnya lemas di
kakinya sendiri dan terpuruk di kaki mama Mona. Mona meninggal setelah
mengalami kecelakaan bus yang ditumpanginya. Benturan pada kepalanya
menyebabkan Mona kehilangan banyak darah dan tidak bisa lagi tertolong.
Berulang kali ia mengucapkan maaf untuk tidak segera datang, untuk tidak
segera menyadari isyarat dari suara denging yang sempat dirasakannya
ketika pertemuan dengan kliennya tadi.
Ia mendengarkan
lagi suara Mona di kotak pesan suara ponselnya. Prapto yang menyerahkan
ponsel itu padanya beberapa saat setelah ia sampai di area parkir
apartemennya. Pesan itu diterimanya bersama 5 pesan singkat dari mama
Mona. Ia berteriak. Marah pada dirinya sendiri.
Perlahan,
tangannya bergerak ke dalam saku kemejanya yang sudah tampak kusut bukan
main: menarik keluar satu lipatan kertas yang sedari tadi ditahannya
untuk tidak dibuka. Bukan karena tidak ingin membacanya, tapi ia takut
itu justru akan semakin membuatnya ingin bunuh diri.
Tulisan tidak rapih itu terlihat saat lipatan kertas di tangannya akhirnya terbuka di depan matanya.
Reno,
maaf ya untuk semua hal yang terjadi pagi tadi. Aku salah, aku tidak
bisa mengerti kondisi yang kamu hadapi. Aku terlalu kekanankan. Oya,
maaf juga karena nasi padang kesukaan kamu belum sempat aku antar ke
kantor. Pasti kamu belum makan siang kan sampai sekarang? Jangan lupa
makan, ya, Sayang.
Oya, kamu tahu, tempat yang aku ceritakan sebagai tempat perayaan first anniversary kita
besok bagus sekali, lho. Romantis. Kamu harus tetap kesana, ya, meski
tanpa aku. Aku ingin kamu bisa melihat keindahan yang pernah aku lihat.
Jangan lupa sampaikan salamku pada kicauan burung di sana ya. Happy first anniversay, Honey. Love you, always.
Mona
Isak itu terdengar semakin kencang.
“Aaaaaaaaaaa!!!!” Teriakan itu terdengar melengking selanjutnya: menyakitkan, menembus malam yang pekat dan sepi.
SABTU
10.00 WIB Suatu tempat untuk perayaan
Reno memenuhi permintaan erakhir Mona pagi itu. Dan benar saja, yang
dikatakan Mona memang persis sama dengan yang dilihatnya. Tempat itu indah, romantis. Padang ilalang
yang luas, rumah pohon yang dibangun dengan sederhana namun artistik,
kicauan burung kecil yang merdu, juga hawa sejuk pedesaan yang jarang ia
temukan selama ini.
“Ini, sungguh indah, Mona.”Ucapnya lirih.
Ada
desiran ketenangan ketika ia memejamkan matanya, membayangkan tawa
riang Mona yang mungkin bisa ia dengar jika perempuan tercintanya itu
juga di sana, bersamanya. Membayangkan raut muka dengan binar yang sudah
ia hafal sejak setahun yang lalu jika perempuan tersayangnya itu
menemaninya, di sisinya.
“Happy firts anniversary, Dear Mona.” Bisiknya
lagi. Kali ini, sesak yang sehari lalu ia rasakan perlahan hilang,
sembuh. Mungkin karena Mona sudah memaafkannya. Dan mungkin juga karena
Mona sebenarnya ingin Reno tetap bahagia, meski tanpa dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar