Minggu, 18 Agustus 2013

Pengantar Pesan


"Pooos!" 
Demikian teriak Pram hampir setiap hari pada pintu dari rumah ke rumah. Yap, ia seorang tukang pos, sang pengantar pesan, khusus surat karena bagian pengantar barang sudah dibebankan pada orang lain. Pekerjaan itu ia warisi dari ayahnya yang sudah pensiun sejak 6 tahun lalu. Lulusan SMA sepertinya perlu banyak hal untuk bisa merambah ke dunia perkantoran dan perusahaan dengan posisi yang lumayan bisa dipandang dengan kedua mata. Jadi, pekerjaan tukang pos itu menjadi hal yang sangat ia syukuri ketika justru orang lain memusingkan hal pekerjaan sampai gila. Ia pun menerimanya tanpa berfikir dua kali ketika ayahnya menawarkan. Menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan sebaik mungkin. Bukan untuk mencari muka di depan bosnya karena memang dia sudah puas dengan muka berjambangnya sebagai anugrah dari Tuhan. Ia tulus, sangat tulus. Terlalu banyak kesulitan hidup di negeri ini dan ia hanya ingin memudahkan satu benang kehidupan saja yang ia temui dengan mengantarkan pesan dalam surat-surat yang dibawanya tepat ke alamat yang dituju. 

Sebagai tukang pos, bukan tidak mungkin ia menemui hal menarik selama perjalanan dinasnya. Ia sering dimintai membacakan surat yang diantarkannya jika penerima surat itu adalah seorang tua renta atau buta aksara. Pram tidak pernah keberatan. Ia bacakan kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf. Sering ia turut menangis jika surat yang dibacakannya adalah surat kebanggaan atau justru perpisahan. Sering pula ia turut terbahak jika memang isi surat yang dibacakannya mengandung jenaka tak terbatas norma. Ia sangat menikmatinya, bahkan menyukai pekerjaannya. Dan di antara kegemarannya membacakan surat itu, ia menemukan cinta. Ia tidak terlalu mengharapkan balasan dari cinta yang ia punya karena memang ia tidak pernah mengirimkannya.

***

Gadis itu bernama Anggun. Sudah bisa ditebak bagaimana penampilannya, sesuai dengan namanya. Ia adalah salah satu penerima surat yang Pram antarkan. Pintu rumahnya warna biru cerah dari luar, warna kesukaan Anggun. Pram tahu itu karena sering kali Aggun menggunakan rok, kaos, sandal, atau sekadar jepit dan bandana rambutnya dengan warna senada. Anggun menyukai warna biru dan Pram sudah hafal itu. Jika ditanya apa yang disukainya dari Anggun, maka Pram akan menjawab rambutnya yang hitam. Jika kemudian ia ditanya lagi mengapa, maka ia akan menjawab karena rambutnya yang hitam itu membuat bibir kecilnya tampak merah merekah sehingga senyumnya yang manis membuat lipatan di ujung matanya yang sipit tampak cantil, dan alisnya yang kemudian sedikit terangkat membuat Pram semakin luluh lantak tak berdaya. Satu hal yang terkadang membuatnya menyayangkan semua itu adalah bahwa alasan senyuman yang Anggun ciptakan itu bukan karena dirinya, tetapi karena tunangannya. 

Anggun sering mendapatkan surat dari tunagannya. Yang Pram tahu, tunagannya itu adalah seorang militer di negera bagian timur. Setiap seminggu sekali, Pram akan mengantarkan surat sang tunangan pada Anggun. Selalu yang pertama karena Pram ingin segera melihat senyum manis Anggun dengan ujung mata yang menyipit. Meski itu bukan karenanya, paling tidak ia menjadi pengatar alasan senyuman manis yang dikagumi itu tercipta. Pengantar pesan cinta yang sang tunangan buat untuk Anggunnya tersayang.
"Pooos!" Begitu teriaknya di ambang pintu dan tidak makan waktu lama terdengar suara derap kaki berlari turun tangga untuk kemudian membuka pintu. Pram suka sekali ekspresi itu: sedikit terengah dengan kedua tangan menengadah di hadapan Pram. Ya, keduanya sudah saling kenal dan Anggun menganggap Pram adalah malaikat penolongnya, pengantar pesan dari tunangannya. Jika sudah begitu, Pram akan segera pergi dan mengantarkan surat lainnya ke alamat selanjutnya. Toh tugasnya sudah usai dan tidak lagi ada alasan untuk tetap tinggal. Namun, sebenarnya, di dalam hati kecilnya, ingin sekali ia tetap berdiam di sana. Tidak perlu harus ada perbincangan. Cukup menatap senyum manis Anggun beberapa lama. Siapa tahu, akan ada kesempaatan untuk menyampaikan perasaannya, pesan cintanya yang telah ia tulis rapih di dalam hatinya.

*** 

Mendung adalah kesan pagi itu. Pram sudah siap dengan sepeda motornya dan seragam warna oranyenya. Hari itu ada yang membuatnya turut mendung seperti langit di atas rumahnya. Tidak juga ia tunjukkan pada ayah dan ibunya. Hanya untuk ia rasakan sendiri dan orang lain tidak perlu mengetahui. Sudah hampir 4 minggu tidak ada surat untuk Anggun. Karena itulah sudah 4 minggu pula ia tidak melihat pintu berwarna biru cerah dan senyum manis di bibir gadis pujaannya. Awalnya, Pram menganggap bahwa surat tadi memang terlambat datang dari negara asal. Tapi, makin lama, makin terasa janggal. Tidak ada lagi surat yang dikirim untuk Anggun. Ia sudah mengeceknya ke kantor pusat. 

Dan pagi itu, ia sudah siap sebelum waktunya biasa ia berangkat. Apalagi kalau bukan untuk memastikan keadaan yang sesungguhnya ke rumah Anggun. Cukup 15 menit waktu yang ia butuhkan sampai akhirnya tiba tepat di depan rumah Anggun. Rumah Anggun agak ramai jika boleh membandingkannya dengan hari lainnya. Ada 3 buah mobil diparkir di halaman rumah hingga pintu warna biru cerah yang biasa ia ketuk tidak terlihat. Pram turun dari sepeda motornya tanpa melepaskan helm. Ia tidak mendekat ke rumah Anggun. Bukan karena tidak ingin, bahkan sejak  minggu lalu hasratnya untuk berlari ke rumah itu lebih besar dari keinginannya untuk hidup. Ia hanya ingin memastikan Anggun baik-baik saja tanpa harus Anggun tahu. 
"Katanya tunangannya itu meninggal di pertempuran." ujaran itu terdengar jelas di telinganya meski disampaikan dengan berbisik. Seorang ibu muda yang baru saja keluar dari rumah Anggun, yang mengatakannya. 
Meninggal?! Bisiknya dalam hati. Pantas saja surat-surat itu tidak lagi ada di kantornya untuk ia antarkan. Si pengirim, tunangan Anggun tidak lagi bisa menulis surat, tidak lagi bisa membuat Pram menjadi pengantar pesan-pesannya pada Anggun. Lalu, bagaimana dengan gadi itu? Dia tentu tidak baik-baik saja. Meski ingin sekali berlari ke dalam dan memeluk Anggun, Pram justru mundur perlahan dan kembali menunggangi sepeda motornya dengan kecamuk yang dimilikinya, cepat menuju kantor. Ia sudah terlambat.

*** 

Dua bulan setelahnya
Pram masih tetap mengantarkan surat dari rumah ke rumah. Pram juga masih sering membacakan surat-surat yang diantarkannya jika si penerima adalah tua renta atau buta aksara. Tidak ada yang berubah kecuali absennya surat untuk Anggun dan ia sudah mulai terbiasa. Tapi, khusus hari itu berbeda. Hari itu, ia kembali datang ke rumah Anggun, setelah sekian lama tidak ke sana. Rumahnya masih sama, rapih dengan pintu berwarna biru cerah siap menyambut teriakan dan ketukannya. Di tangannya sudah ada sepucuk surat berisi sebuah pesan. Satu menit, dua menit, tiga menit. Pram tidak juga kunjung meneriakkan kata pusakanya. Pun untuk mengetuk saja ia tidak lagi punya nyali. Lalu, dengan segala kegalauan yang ia punya, ia justru berbalik, pergi sari sana, meninggalkan pintu berwarna biru cerah, dan dengan cepat menaiki motornya untuk segara pergi. Takut jika Anggun kemudian memergokinya sementara iaa tidak sanggup menghadapi segala macam pertanyaan atau ekspresi yang mungkin Anggun tunjukkan.

Oh ya, sepucuk surat di tangannya tadi tertinggal di sana, di depan pintu biru cerahtadi. Bukan karena tidak terbawa. Pram sengaja menaruhnya di sana, di atas keset bertuliskan welcome. Itu memang surat untuk Anggun, surat pertama sejak terakhir kali ia kehilangan tunagannya. Tentu, itu bukan surat yang tiba-tiba datang dari surga. Itu adalah surat yang datang dari sebuah meja dan pena, yang ditulis dengan rapih dan berisi pesan tidak terlalu panjang dengan tada tangan singkat di akhirnya. Semalam, Pram yang menulisnya. Pram yang menorehkan tiap tinta di atas kertas di dalam amplop di sana. Tidak banyak yang ia sampaikan, hanya pesan singkat tentang hati dan perasaannya. Jika ditanya mengapa tidak ia ketuk saja pintu biru muda itu untuk kemudian menyampaikan langsung pada yang dituju, ia akan menggeleng. baginya, tidak penting apakah surat itu akan sampai pada penerimanya. Tidak penting juga ia akan mendapatkan balasan yang seharusnya ia inginkan. Yang perlu ia tahu adalah bahwa ia sudah menyampaikan segala macam pesan dari hatinya. Toh dari awal, dia hanya pengantar surat, seorang penagntar pesan. Selebihnya, biarkan hanya ia yang mengetahuinya karena orang lain bisa jadi salah sangka jika tahu terlalu banyak tentangnya. Ia ingin tetap menjadi Pram yang sama,Pram yang rutin menaiki sepeda motornya, Pram yang dengan setia menjadi pengantar pesan bagi siapa saja, dan Pram yang masih saja mengagumi Anggun tanpa bisa mengatakan isi hatinya.

Finara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar