Senin, 05 November 2012

hujan selalu punya cerita

Berawal ketika suatu pagi saya bertandang ke sebuah toko buku. Belum terlalu ramai memang, hanya beberapa remaja putri, putra, pelayan yang sibuk dengan setumpuk buku di troli, dan satpam yang tidak berhenti berkeliling di antara rak-rak yang penuh sesak dengan buku siap baca. Tujuan utama saya satu: buku garnis titipan ibu. Ketika akhirnya saya menemukannya di antara buku-buku masakan di deretak rak paling depan, saya pun berniat berburu buku. Sudah lama saya tidak melakukannya dan itu karena terlalu (sok) sibuk dengan semua target untuk tugas akhir saya: TESIS...

Satu demi satu rak buku saya susuri, melihat kanan dan kiri; berbidir dan membungkuk, memastikan ada satu judul yang menarik mata saya hingga tangan saya berkenan terjulur ke sana untuk meraihnya. Ada sekitar  tiga deret rak yang sengaja saya lewati begitu saja: rak komik. Saya tidak terlalu suka komik dengan alasan terlalu pusing dengan semua ganbar di dalamnya.

Hingga akhirnya saya berhenti pada satu rak besar dan tinggi dengan tulisan berhuruf kapital di atasnya, NOVEL REMAJA. Saya pun berhenti di situ, melakukan hal yang sama pada rak buku sebelumnya. Seperti nelayan yang mencari ikan, mata saya menyisir satu demi satu buku yang terpajang. Ada satu mimpi tersirat ketika berdiri di sana, membayangkan betapa senangnya jika salah satu saja di antaranya buku-buku itu adalah buku saya, tulisan saya, novel saya, dengan terpampang nama saya.

Saat saya sudah lelah mendongak dan membungkuk, juga bergeser dari deret satu ke deret lain, saya menemukannya. Satu buku, novel, terbitan bukune dengan judul yang membuat saya tahu bagaimana perasaan penulis ketika menuangkan idenya pada buku itu: Hujan punya cerita tentang kita. Itu judulnya. Dan itu cukup merangsang otak saya untuk memikirkan satu nama di balik kata hujan. Tidak perlu disebut, hanya ingin membagikan bahwa bagi saya, hujan pun punya cerita, selalu punya, sebagaimana judul tulisan ini. Ketika kemudian saya meraihnya dari tempat ia terpajang, saya seperti bercermin. Agak berlebihan sih, tapi memang itu yang saya rasakan. Apalagi ketika membaca tulisan di bagian sinopsisi pada bagian belakang buku itu:

Jatuh cinta kepadamu begitu menyenangkan,
seperti meringkuk dalam selimut hangat pada malam yang hujan. Seperti menemukan keping terakhir puzzle yang sedang ku susun. Cinta ini sudah berada di tempat yang seharusnya, di ruang hatimu dan hatiku.

Namun, mengapa resah justru yang merajai kita? Padahal, katanya cinta sanggup menjaga. Aku ingin kau tahu, diam-diam, aku selalu menitipkan harapan yang sama ke dalam beribu-ribu rintik hujan: aku ingin hari depanku selalu bersamamu

Aku mencintaimu. Selalu.
Dan mereka tak perlu tahu...


Entah bagaimana mengungkapkannya tapi saya akui, tulisan di bagian belakang buku itu sangat 'saya'. Tidak bisa dipungkiri, bahwa ketertarikan saya kepada buku ini tidak lebihd ari sampul belakangnya. Saya tidak tahu bagian dalamnya karena memang buku itu disegel rapih dan tidak untuk dibca di tempat. Tapi, dengan ide yang saya suka, hujan, saya pun langsung menyukainya. Bukan karena terlalu buta oleh hujan, tapi memang di balik tetes-tetesnya yang menderas setelah gerimis, akan selalu ada cerita: pertemuan-perpisaha, kebahagiaan dan kesedihan.

Krena hujan, selalu punya cerita.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Pertanyaan untuk Cinta: Siluet Senja


Dua sejoli itu duduk berdampingan menatap ke arah barat, tempat matahari yang sebentar lagi tenggelam oleh malam yang menjelang. Seperti biasa setiap hari sabtu sore, mereka mengunjungi tempat yang sama: tepi danau, di bawah pohon, di tepi kota. Rasa lelah selepas pulang kerja seakan terobati ketika pada akhirnya mereka bertemu dan menghabiskan ujung hari bersama. Ketika kemudian kesenyapan itu terasa, sejumlah pertanyaan menyembul di benak sang gadis. Ia pun mengutarakannya.
“Menurutmu, lebih baik siapa yang mati terlebih dahulu: aku atau kamu?” tanyanya. Lelaki itu tidak mengalihkan pandangannya dari sepasang kupu-kupu yang terbang di hadapannya.
“Menurutmu?” Balas sang lelaki.
“Aku saja, agar kau bisa lebih lama hidup dan menikmatinya,” jawabnya dengan mantap. “Bagaimana denganmu, kau akan pilih siapa?” tanyanya lagi. Sekarang, mata lelaki itu beralih, memandang wajah sang gadis.
“Tentunya aku akan memilih dirimulah yang terlebih dahulu mati.” Mata sang gadis berkedip sekali, sedikit kecewa dengan jawaban itu, meski ia tidak menunjukkannya.
“Mengapa?” tanyanya dengan mata menyelidik.
Sang lelaki menghele nafas sebelum akhirnya berujar, “Agar kamu tidak merasakan kesedihan kehilangan diriku. Biar aku saja dan kamu jangan.” Ada rasa menggelitik di dalam perutnya ketika mendengar jawaban itu: romantis, batinnya.
Belum puas dengan pertanyaan pertama, ia mengajukan pertanyaan lain yang ia punya.
“Mengapa kamu terkadang memilih berjalan di belakangku ketika banyak orang memilih berdampingan dan bergandengan tangan,” tanyanya lagi. Sembari meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah kertas gambar serta pensil dari sana, lelaki itu dengan ringan menjawab, “Agar ketika ada bahaya di belakangmu, aku bisa lebih dulu menghalanginya. Juga agar ketika ada bahaya di depanmu, aku bisa dengan cepat meraihmu dalam dekapanku untuk kemudian melindungimu dari bahaya itu.” Kali ini, sang gadis terkesiap: ini lebih romantis, batinnya lagi. Ia mengulum senyumnya, tersipu, menahan agar rona itu tidak semakin tampak meski sebenarnya tidak lagi bisa disembunyikan.
“Emmm... satu lagi. Kalau seandainya suatu saat aku dan ibumu tenggelam ke dalam danau pada waktu yang sama, siapa yang akan kau selamatkan lebih dulu?”
Dengan sabar, lelaki itu menjawabnya, “Tentu ibuku,” jawabnya tanpa mengalihkan matanya dari kertas dengan beberapa goresan pensilnya di sana. Sang gadis kembali kecewa.
“Mengapa begitu?” tanyanya untuk kesekian kali.
“Jelas karena ia adalah ibuku dan karena tanpa ia sebagai ibuku, aku tidak akan pernah bisa ada di sampingmu untuk menjagamu dari bahaya yang kapan saja siap menyerangmu.” Seakan tidak ingin lagi merasakan sensasi bergejolak di dalam perutnya, ia menyudahinya. Sudah cukup dengan rona yang menumpuk di kedua pipinya.
“Ada lagi yang akan kau tanyakan?” tanya lelaki itu saat goresan di kertas gambarnya hampir selesai. Gadis itu menggeleng perlahan, “Tidak ada,” jawabnya.
“Kalau begitu, diam sejenak agar aku bisa menyelesaikannya.” ujar sang lelaki. Gadis itu mengerutkan kening ketika melirik gambar dan goresan di sampingnya: sebuah siluet seorang lelaki dari samping tengah menengadah pada satu lambang atas nama Tuhan dengan gambar seorang ibu dan gadis berdiri berdampingan di atas tangan sang lelaki di sana.
“Apa maksudnya?” tanyanya untuk kesekian kali.
“Apa?”
“Gambarmu, apa maksudnya. Tidak biasanya kau menggambar selain aku.” Ujarnya, tepat ketika gambar itu selesai. Setelah mengibaskannya hingga sisa goresan dan hapusan pensil itu hilang, sang lelaki menyodorkannya pada sang gadis. Lalu dengan tatapan mata yang tergas, ia menjawab, “Jika nanti aku yang mati terlebih dahulu, jika nanti aku tidak bisa lagi berada di belakangmu, atau jika nanti aku tidak sempat menyelamatkanmu dari danau itu, kamu akan selalu ingat satu hal, bahwa Tuhan telah menciptakan dua wanita terpenting dalam hidupku: ibuku dan kamu.” Sang gadis menelan ludah, terpengarah.
“Berikan gambar itu pada ibumu dan katakan bahwa aku berterima kasih padanya telah melahirkan mu ke bumi untukku.”
Gadis itu hanya diam usai mendengarnya, entah kemana kosakata yang ia kuasai sebagai ahli bahasa. Hal yang terjadi pada detik selanjutnya adalah ia menangis di antara lengkungan bibirnya yang tersenyum. Thank you, gumamnya tanpa bersuara. Tanpa mengucap apapun, sang lelaki meraih pundak sang gadis perlahan: meraihnya ke dalam pelukannya. I love you, bisiknya kemudian. Matahari pun perlahan turun, menutup ujung hari, menjadi saksi bahwa keduanya saling menjaga, melindungi, dan tentu saja, saling mencintai.


Jumat, 26 Oktober 2012

Renungan Hujan


ini bukan tentang bagaimana menanggapi rintik gerimis yang mendeeras yang kemudian membasahi kemeja atau pun sepatumu. ini hanya tentang bagaimana memaknai hujan sebagai awal dari langkah yang kau pilih, memaknai tiap helai kucuran yang jatuh hingga beriak itu bekeliling di antara jemari kakimu. mungkin kau memang pernah terjatuh, hingga lututmu berdarah karenanya. atau mungkin kau tengah menderita karena cinta hingga seutas tali itu menjadi semacam surga terakhir yang akan kau datangi.
kali ini, biar saja hujan itu datang menyapamu, membasuh mukamu, membasuh hatimu; untuk kemudian menghilangkan peluh juga keluh di ujung harimu. biarkan ia mengalir semau derasnya, semau rintiknya. kemudian kau akan paham, betapa ia hadir membawa kehidupan. mengembalikan ranting pada batang yang ditinggalkannya. menumbuhkan rerumputan yang seakan tak ingin lagi hidup di detik selanjutnya. membangunkan lagi asa yang mungkin mati karena kering yang mendera.
biarkan hujan yang menyapanya, biarkan hujan yang menyingkirkan air matamu dan menggantinya dengan senyum secerah mentari setelah ia reda. pada akhirnya, setiap doa toh terkabul atau tergantikan dengan yang lebih baik. Tuhan selalu ada untukmu, bukan? satu hal yang perlu kau tahu, kau tidak sendiri. bahkan tiap orang di luar sana mungkin memiliki lara yang lebih mencekik dibanding yang kau punya.
untuk kali ini, diam sajalah di balik jendela besar dengan titiktitik air itu. nikmati sejenak aroma tanah yang kemudian kau temui. lalu bernafaslah layaknya kau manusia satu-satunya di dunia yang diberi kebebasan menghirup udara sebanyak yang kau mau. tersenyumlah layaknya kau manusia paling bahagia di bumi tanpa perih dan luka. ketika kemudian hujan itu melambat menjadi rintik gerimis kembali untuk kemudian pergi, akan kau lihat sisa-sisa air di depan beranda rumahmu. rasakan udara yang kau temukan: menyejukkan, menenangkan. tidak ada lagi debu, tidak ada lagi kelabu.



Selasa, 25 September 2012

God Knows the Best


kau boleh tanya pada siapa yang kau tahu. ibu? ayah? kakek? atau sekadar pengemis jalanan? tanya mereka tentang asa dan cerita, tentang mimpi dan cita, tentang sedih juga marah. mereka semua pernah jatuh, tak terkecuali dirimu. mungkin kartu tarot terkadang menjawab pa yang ingin kau tahu tentang masa depanmu, apa yang ingin kau tahu tentang siapa yang akan menyuntingmu. tidak perlu ragu melangkah lagi setelah jatuh, toh, Nabi pun pernah salah langkah. Jika pada akhirnya ramalan Mama Lorent tidak mempan lagi bagi takdirmu, kembalilah padaNya, pada Tuhan, karena ia tahu segala, karena Ia akan memperbaiki semua; yang salah, yang tidak pada tempatnya hingga seperti semula, mungkin memang tidak sempurna, tapi paling tidak kau bahagia karenanya.  

Kamis, 02 Agustus 2012

Menunggu Hujan

Senja masih duduk di bangku yang sama, bangku merah sebuah taman yang masih kering karena hujan belum juga datang.
Ponsel di tangannya baru saja mati, menampilkan satu nomor yang sedari tadi dihubunginya dan hanya meninggalkan pesan suara seorang operator yang menyarankan untuk mencoba lagi dan lagi. Ketika sempat menoleh ke sisi kanannya, payung itu masih tergantung di sana, tergulung rapih sejak sejam yang lalu.  Setidaknya, ketika hujan tetiba datang, ia sudah siap untuk berdiam di sana tanpa harus khawatir akan basah.

"Aku merindukannya seperti bumi merindukan hujan," bisiknya suatu hari.
Sahabatnya yang saat itu duduk di sisinya tersenyum, memegang erat jemarinya, menguatkannya, "Suatu hari bumi akan paham mengapa terkadang hujan memilih untuk bersembunyi saja di balik awan. Begitu juga dengan mu, kau akan paham mengapa ia memilih untuk berdiam diri di balik mejanya dan membiarkan ponselnya berdering tanpa terjawab." Bisiknya kemudian.

Tentang Hujan


Kliing!
Suara itu terdengar ketika pintu kafe itu terbuka dan akhirnya tertutup. Seperti biasa, aku memilih duduk di tepat yang sama, memesan minuman yang sama. Setelah memesan dan menunggu, secangkir cappuccino itu pun tersaji di hadapanku, mengepulkan aroma wangi yang khas. Brian, sang barista hanya tersenyum ketika aku memuji minuman itu entah sudah yang ke berapa kali.
"Itu karena Mbak April yang minum, jadi enak," tukasnya saat itu. Aku pun balas tersenyum, mewakili rasa tersanjung yang terasa.
"Selamat malam semua." Sapa seseorang dari arah panggung.Ketika akhirnya ku tolehkan ke sana, penyanyi wanita itu sudah duduk di sana, Pia namanya, salah satu penyanyi favorit ku. 
"Masih bisa menikmati minuman Anda dengan baik?" tanyanya kemudian. Sebagian pengunjung menjawab ya dengan suara yang hampir bersamaan, tak terkecuali aku meski dengan suara di bawah normal. Pia pun tersenyum ketika mendengarnya. Perlahan ia menurunkan tangannya, meraih gitar berwarna coklat mengkilat di sisi kanannya.
"Malam ini, ada seorang pengunjung yang memaksa saya menyanyikan satu lagu, khusus untuk seorang yang dicintainya." Sorak sorai terdengar kemudian. Ku edarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan tanpa tahu jelas siapa yang ku cari.
"Lagu ini sengaja dipesan untuk mantan kekasihnya. Mungkin hampir semua yang hadir di sini tau lagu ini, salah satu lagu andalan saya di musim ini, musim penghujan." Hatiku berdesir mendengarnya. Tepuk tangan riuh terdengar ketika Pia mulai menyanyi.
Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak ’kan berubah
Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air
Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku 
Tepuk tangan itu terdengar lagi saat Pia menyudahi nyanyiannya. "Oya, saya belum bilang lagu ini untuk siapa." Dadaku berdegup kencang. Bukan karena GR atau sejenisnya. Hanya saja, aku belum siap benar menerima jika memang orang itu yang memesannya. "Mbak April." Degupan itu sempat terhenti ketika mendengar namaku disebut. "Lagu ini untuk Mbak April." Lampu itu menyorotiku seketika, menyisakan silau bukan main di mata.  Aku hanya membungkuk sekadarnya ketika semua mata memandang. Sebelum akhirnya aku memutuskan pergi dari sana, ponsel dalam sakuku bergetar, satu pesan baru masuk. "Selamat ulang tahun, April." Satu kalimat itu yang muncul, menusuk mataku begitu dalam, melebihi kesialaun lampu sorot tadi, membuatnya berair: menangis.  Ketika pada akhirnya sabuk pengaman itu terpasang sempurna, satu lagu yang berada pada daftar putar teratas terdengar, lagu yang sama, Hujan. Dan roda mobil pun mulai berjalan meninggalkan tempatnya semula, mengantarku pulang.  

Kamis, 26 Juli 2012

sekilas cerita

dari sejak awal nulis sampe hari ini belum juga nemu 'nama' yang pas buat 'anak pertama' saya. jangan salah sangka dulu, itu nama maksudnya judul dan anak pertama itu novel. semacam menghaluskan parno yang semakin menjadi aja. semakin dicari kata yang pas, semakin galau, semakin wagu. sejak awal nulis, kira-kira udah ada delapan judul yang resmi gagal dipajang di halaman paling atas calon novel saya. eneg, eneg dah tuh. udah tanya san-sin (baca: sana-sini), tetep aja gak nemu ujungnya. semacam ada di lingkaran setan (mulai ngaco >.< ).

belum lagi judul yang tak kunjung ketemu, jumlah halaman harus minimal 150. maaaak! ini dari kemarin udah banyak yang dihapus karena menusuk-nusk mata alias gak enak dibaca, kok malah perlu nambah halaman lagi. really something! belum lagi salahs atu bagian dari akhir cerita masih perlu perbaikan serius *jambak rambut

tapi, demi cita-cita, ini perlu doperjuangkan. semboyannya adalah 'Kapan lagi'. kata ibu, kalau rejeki gak akan pergi, tapi kalau memang bukan rejeki berati memang akan ada gantinya dengan jalan yang lain yang Allah kasih. so sweet dah my mami ini *kecup*