Berawal ketika suatu pagi saya bertandang ke sebuah toko buku. Belum terlalu ramai memang, hanya beberapa remaja putri, putra, pelayan yang sibuk dengan setumpuk buku di troli, dan satpam yang tidak berhenti berkeliling di antara rak-rak yang penuh sesak dengan buku siap baca. Tujuan utama saya satu: buku garnis titipan ibu. Ketika akhirnya saya menemukannya di antara buku-buku masakan di deretak rak paling depan, saya pun berniat berburu buku. Sudah lama saya tidak melakukannya dan itu karena terlalu (sok) sibuk dengan semua target untuk tugas akhir saya: TESIS...
Satu demi satu rak buku saya susuri, melihat kanan dan kiri; berbidir dan membungkuk, memastikan ada satu judul yang menarik mata saya hingga tangan saya berkenan terjulur ke sana untuk meraihnya. Ada sekitar tiga deret rak yang sengaja saya lewati begitu saja: rak komik. Saya tidak terlalu suka komik dengan alasan terlalu pusing dengan semua ganbar di dalamnya.
Hingga akhirnya saya berhenti pada satu rak besar dan tinggi dengan tulisan berhuruf kapital di atasnya, NOVEL REMAJA. Saya pun berhenti di situ, melakukan hal yang sama pada rak buku sebelumnya. Seperti nelayan yang mencari ikan, mata saya menyisir satu demi satu buku yang terpajang. Ada satu mimpi tersirat ketika berdiri di sana, membayangkan betapa senangnya jika salah satu saja di antaranya buku-buku itu adalah buku saya, tulisan saya, novel saya, dengan terpampang nama saya.
Saat saya sudah lelah mendongak dan membungkuk, juga bergeser dari deret satu ke deret lain, saya menemukannya. Satu buku, novel, terbitan bukune dengan judul yang membuat saya tahu bagaimana perasaan penulis ketika menuangkan idenya pada buku itu: Hujan punya cerita tentang kita. Itu judulnya. Dan itu cukup merangsang otak saya untuk memikirkan satu nama di balik kata hujan. Tidak perlu disebut, hanya ingin membagikan bahwa bagi saya, hujan pun punya cerita, selalu punya, sebagaimana judul tulisan ini. Ketika kemudian saya meraihnya dari tempat ia terpajang, saya seperti bercermin. Agak berlebihan sih, tapi memang itu yang saya rasakan. Apalagi ketika membaca tulisan di bagian sinopsisi pada bagian belakang buku itu:
Jatuh cinta kepadamu begitu menyenangkan,
seperti meringkuk dalam selimut hangat pada malam yang hujan. Seperti menemukan keping terakhir puzzle yang sedang ku susun. Cinta ini sudah berada di tempat yang seharusnya, di ruang hatimu dan hatiku.
Namun, mengapa resah justru yang merajai kita? Padahal, katanya cinta sanggup menjaga. Aku ingin kau tahu, diam-diam, aku selalu menitipkan harapan yang sama ke dalam beribu-ribu rintik hujan: aku ingin hari depanku selalu bersamamu
Aku mencintaimu. Selalu.
Dan mereka tak perlu tahu...
Entah bagaimana mengungkapkannya tapi saya akui, tulisan di bagian belakang buku itu sangat 'saya'. Tidak bisa dipungkiri, bahwa ketertarikan saya kepada buku ini tidak lebihd ari sampul belakangnya. Saya tidak tahu bagian dalamnya karena memang buku itu disegel rapih dan tidak untuk dibca di tempat. Tapi, dengan ide yang saya suka, hujan, saya pun langsung menyukainya. Bukan karena terlalu buta oleh hujan, tapi memang di balik tetes-tetesnya yang menderas setelah gerimis, akan selalu ada cerita: pertemuan-perpisaha, kebahagiaan dan kesedihan.
Krena hujan, selalu punya cerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar