Sabtu, 27 Oktober 2012

Pertanyaan untuk Cinta: Siluet Senja


Dua sejoli itu duduk berdampingan menatap ke arah barat, tempat matahari yang sebentar lagi tenggelam oleh malam yang menjelang. Seperti biasa setiap hari sabtu sore, mereka mengunjungi tempat yang sama: tepi danau, di bawah pohon, di tepi kota. Rasa lelah selepas pulang kerja seakan terobati ketika pada akhirnya mereka bertemu dan menghabiskan ujung hari bersama. Ketika kemudian kesenyapan itu terasa, sejumlah pertanyaan menyembul di benak sang gadis. Ia pun mengutarakannya.
“Menurutmu, lebih baik siapa yang mati terlebih dahulu: aku atau kamu?” tanyanya. Lelaki itu tidak mengalihkan pandangannya dari sepasang kupu-kupu yang terbang di hadapannya.
“Menurutmu?” Balas sang lelaki.
“Aku saja, agar kau bisa lebih lama hidup dan menikmatinya,” jawabnya dengan mantap. “Bagaimana denganmu, kau akan pilih siapa?” tanyanya lagi. Sekarang, mata lelaki itu beralih, memandang wajah sang gadis.
“Tentunya aku akan memilih dirimulah yang terlebih dahulu mati.” Mata sang gadis berkedip sekali, sedikit kecewa dengan jawaban itu, meski ia tidak menunjukkannya.
“Mengapa?” tanyanya dengan mata menyelidik.
Sang lelaki menghele nafas sebelum akhirnya berujar, “Agar kamu tidak merasakan kesedihan kehilangan diriku. Biar aku saja dan kamu jangan.” Ada rasa menggelitik di dalam perutnya ketika mendengar jawaban itu: romantis, batinnya.
Belum puas dengan pertanyaan pertama, ia mengajukan pertanyaan lain yang ia punya.
“Mengapa kamu terkadang memilih berjalan di belakangku ketika banyak orang memilih berdampingan dan bergandengan tangan,” tanyanya lagi. Sembari meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah kertas gambar serta pensil dari sana, lelaki itu dengan ringan menjawab, “Agar ketika ada bahaya di belakangmu, aku bisa lebih dulu menghalanginya. Juga agar ketika ada bahaya di depanmu, aku bisa dengan cepat meraihmu dalam dekapanku untuk kemudian melindungimu dari bahaya itu.” Kali ini, sang gadis terkesiap: ini lebih romantis, batinnya lagi. Ia mengulum senyumnya, tersipu, menahan agar rona itu tidak semakin tampak meski sebenarnya tidak lagi bisa disembunyikan.
“Emmm... satu lagi. Kalau seandainya suatu saat aku dan ibumu tenggelam ke dalam danau pada waktu yang sama, siapa yang akan kau selamatkan lebih dulu?”
Dengan sabar, lelaki itu menjawabnya, “Tentu ibuku,” jawabnya tanpa mengalihkan matanya dari kertas dengan beberapa goresan pensilnya di sana. Sang gadis kembali kecewa.
“Mengapa begitu?” tanyanya untuk kesekian kali.
“Jelas karena ia adalah ibuku dan karena tanpa ia sebagai ibuku, aku tidak akan pernah bisa ada di sampingmu untuk menjagamu dari bahaya yang kapan saja siap menyerangmu.” Seakan tidak ingin lagi merasakan sensasi bergejolak di dalam perutnya, ia menyudahinya. Sudah cukup dengan rona yang menumpuk di kedua pipinya.
“Ada lagi yang akan kau tanyakan?” tanya lelaki itu saat goresan di kertas gambarnya hampir selesai. Gadis itu menggeleng perlahan, “Tidak ada,” jawabnya.
“Kalau begitu, diam sejenak agar aku bisa menyelesaikannya.” ujar sang lelaki. Gadis itu mengerutkan kening ketika melirik gambar dan goresan di sampingnya: sebuah siluet seorang lelaki dari samping tengah menengadah pada satu lambang atas nama Tuhan dengan gambar seorang ibu dan gadis berdiri berdampingan di atas tangan sang lelaki di sana.
“Apa maksudnya?” tanyanya untuk kesekian kali.
“Apa?”
“Gambarmu, apa maksudnya. Tidak biasanya kau menggambar selain aku.” Ujarnya, tepat ketika gambar itu selesai. Setelah mengibaskannya hingga sisa goresan dan hapusan pensil itu hilang, sang lelaki menyodorkannya pada sang gadis. Lalu dengan tatapan mata yang tergas, ia menjawab, “Jika nanti aku yang mati terlebih dahulu, jika nanti aku tidak bisa lagi berada di belakangmu, atau jika nanti aku tidak sempat menyelamatkanmu dari danau itu, kamu akan selalu ingat satu hal, bahwa Tuhan telah menciptakan dua wanita terpenting dalam hidupku: ibuku dan kamu.” Sang gadis menelan ludah, terpengarah.
“Berikan gambar itu pada ibumu dan katakan bahwa aku berterima kasih padanya telah melahirkan mu ke bumi untukku.”
Gadis itu hanya diam usai mendengarnya, entah kemana kosakata yang ia kuasai sebagai ahli bahasa. Hal yang terjadi pada detik selanjutnya adalah ia menangis di antara lengkungan bibirnya yang tersenyum. Thank you, gumamnya tanpa bersuara. Tanpa mengucap apapun, sang lelaki meraih pundak sang gadis perlahan: meraihnya ke dalam pelukannya. I love you, bisiknya kemudian. Matahari pun perlahan turun, menutup ujung hari, menjadi saksi bahwa keduanya saling menjaga, melindungi, dan tentu saja, saling mencintai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar