Senja masih duduk di bangku yang sama, bangku merah sebuah taman yang masih kering karena hujan belum juga datang.
Ponsel
di tangannya baru saja mati, menampilkan satu nomor yang sedari tadi
dihubunginya dan hanya meninggalkan pesan suara seorang operator yang
menyarankan untuk mencoba lagi dan lagi. Ketika sempat menoleh ke sisi
kanannya, payung itu masih tergantung di sana, tergulung rapih sejak
sejam yang lalu. Setidaknya, ketika hujan tetiba datang, ia sudah siap untuk berdiam di sana tanpa harus khawatir akan basah.
"Aku merindukannya seperti bumi merindukan hujan," bisiknya suatu hari.
Sahabatnya
yang saat itu duduk di sisinya tersenyum, memegang erat jemarinya,
menguatkannya, "Suatu hari bumi akan paham mengapa terkadang hujan
memilih untuk bersembunyi saja di balik awan. Begitu juga dengan mu, kau
akan paham mengapa ia memilih untuk berdiam diri di balik mejanya dan
membiarkan ponselnya berdering tanpa terjawab." Bisiknya kemudian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar