Kamis, 02 Agustus 2012

Menunggu Hujan

Senja masih duduk di bangku yang sama, bangku merah sebuah taman yang masih kering karena hujan belum juga datang.
Ponsel di tangannya baru saja mati, menampilkan satu nomor yang sedari tadi dihubunginya dan hanya meninggalkan pesan suara seorang operator yang menyarankan untuk mencoba lagi dan lagi. Ketika sempat menoleh ke sisi kanannya, payung itu masih tergantung di sana, tergulung rapih sejak sejam yang lalu.  Setidaknya, ketika hujan tetiba datang, ia sudah siap untuk berdiam di sana tanpa harus khawatir akan basah.

"Aku merindukannya seperti bumi merindukan hujan," bisiknya suatu hari.
Sahabatnya yang saat itu duduk di sisinya tersenyum, memegang erat jemarinya, menguatkannya, "Suatu hari bumi akan paham mengapa terkadang hujan memilih untuk bersembunyi saja di balik awan. Begitu juga dengan mu, kau akan paham mengapa ia memilih untuk berdiam diri di balik mejanya dan membiarkan ponselnya berdering tanpa terjawab." Bisiknya kemudian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar