Rabu, 19 Juni 2013

A Little Truth About Love

Terdakang menjadi single adalah hal yang menyenangkan ketika aku benar-benar ingin sendiri dan menikmati waktu luang yang aku punya dengan caraku sendiri. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan perihal perizinan yang mungkin –oleh kebanyakan pasangan—menjadi hal yang harus, tidak ada yang dicemaskan dengan perihal kecemburuan yang mungkin muncul jika tanpa sengaja bertemu dengan teman laki-laki dan mendadak berjalan berduaan, atau bahkan sekadar perihal oleh-oleh yang mungkin saja perlu dibeli sebagai bukti sebuah perhatian. Untuk ukuran yang belum berpekerjaan tetap seperti aku, keegoisan mengenai uang saku dan uang gaji masih aku pertahankan, atau mungkin lebih tepatnya memang aku yang pelit. Terserahlah. Intinya, menjadi salah satu warga negara Indonesia dengan keterangan ‘belum kawin’ di KTP bukan menjadi alasan untuk berhenti bahagia, khususnya untuk hari ini. Aku cukup bahagia menjadi seorang single women.

Namun, tidak dapat dipungkiri memang, bahwa menjadi seorang wanita Jawa yang single di usia yang hampir 24 tahun seperti ini terkadang membuatku memilih menarik diri sejenak dari banyak orang. Bukan mau menjadi seorang yang antisosial. Hanya ingin mengistirahatkan telinga dari segala macam pertanyaan yang terkadang membuatku ingin membekap si penanyanya. Apalagi kalau mereka sudah mengaitkan pertanyaan itu dengan membawa-bawa predikat Master yang melekat di belakang namaku. Jadi, keputusanku untuk tidak mengajak siapapun ke toko buku siang ini ku kira adalah pilihan yang tepat. Memutuskan untuk berkutat di antara deretan buku menjadi hal yang sangat  menarik ketika mengingat aku tidak perlu meminta ijin siapapun, tidak perlu cemas dengan kecemburuan siapapun, dan tidak perlu mencarikan oleh-oleh untuk siapapun.

Tuhan memang menciptakan manusia dengan beragam, lebih dari sembilan warna pelangi yang singkatannya sampai sekarang masih melekat sejak pelajaran IPA belasan tahun lalu. Gigih, salah satu sahabat sejak SMP, menjadi satu warna yang berbeda dengan warnaku. Ia punya pemikiran yang berbeda bahwa perempuan layaknya segera menikah si usia muda. Bahkan akan semakin sulit mendapatkan jodohnya ketika perempuan lebih memilih berpendidikan tinggi terlebih dahulu daripada memilih menikah. Kuno sih menurutku. Ini juga yang menjadi alasanku tidak terlalu menanggapi serius usahanya untuk memperkenalkan salah satu temannya padaku.

“Kamu ini ya, mikirin sekolah mulu, gak pernah mikir kawin,” Ujarnya beberapa hari lalu. Aku hanya menanggapinya dengan ringan ketika kemudian pepatah klasik “Jodoh ada di tangan Tuhan, gak perlu dikejar” aku lontarkan dan membuatku mendapatkan jitakan cukup keras di jidat. Agak-agak kurang ajar memang si Gigih ini.

“Bukunya mau disampulin sekalian, Mbak?” Seorang pelayan toko buku bertanya setelah aku membayar sebuah novel petuangalan favoritku. Aku mengangguk dan tersenyum sebelum akhirnya duduk di bangku panjang dekat kasir, menunggu buku tadi selesai disampuli. Sembari menunggu, aku merogoh celana jeansku, menarik keluar ponsel layar sentuhku dari sana, berniat melongok sejenak akun twitter.
Drrrttt! Ponsel itu bergetar sejenak setelah layarnya menyala, sebelum sempat aku apa-apakan. Satu pesan masuk dari Gigih.
gimana, kriteria yang aku tawarin kemarin? tertarik gak?
Hhhh!!
Aku langsung mendengus kesal saat selesai membacanya. Mungkin saking kerasnya, dengusan itu terdengar sampai pelayan kasir yang kemudian tampak menoleh padaku, membuatku tersenyum getir.
belum tau. lagi banyak tugas
Ketikku cepat dan segera mengirimnya, sudah enggan memikirkan jawaban lainnya yang mungkin justru akan menyinggungnya.
“Ah orang Jawa mah kebanyakan kagak enaknya. Kalo lu emang gak mau bilang aja gak  mau. Rempong banget.” Mika, teman satu kosku, mengomel saat semalam aku mengeluhkan hal ini padanya.
Ponselku kembali bergetar beberapa saat kemudian, mengantarkan pesan Gigih berikutnya.
gaya mu, ndul. udah nurut aja. ntar aku yg atur pertmuanny.titik!

Aku kembali mendengus. Andai saja si Gigih sekarang juga ada di hadapanku, mungkin mulutnya sudah bisu seribu bahasa gara-gara aku sumpal pakai tumpukan plastik sampul buku di sisi pelayan kasir. Maksa kok gak kira-kira. Tanpa pikir panjang lagi, aku matikan ponsel tadi tanpa membalas pesannya dan kumasukkan ke kembali ke dalam saku. Niat semula untuk melongok akun twitter resmi gagal sudah, kandas dengan kegalauan yang sukses Gigih bangun setinggi gunung Himalaya.
“Sudah selesai, Mbak, bukunya.” Ujar pelayan kasir tadi mengagetkanku. Aku pun bangkit dan meraih buku itu dari tangannya.
“Terimakasih.” Ujarku dengan tersenyum.
“Sama-sama.” Dan aku pun berlalu dengan motor matic biruku: pulang.

***

@rain_A
Tulisku singkat pada halaman terdepan novel baruku sebagai pengganti nama panjangku yang terlalu kaku jika dituliskan sebagai nama pada sebuah buku. Tidak ada yang salah dengan nama panjang, tapi setidaknya nama tadi bisa membedakan antara buku dan formulir pembuatan KTP di kantor kecamatan.
“Paling gak kalo buku lo ilang dan ditemuin sama cowok jomblo ganteng, tu buku bisa balik bersama ‘bonus’ nya.” Celetuk Mika suatu ketika sebelum akhirnya bantal gulingku melayang ke mukanya.

Setengah jam berlalu sejak aku sampai di kamar kos, ponsel tadi belum juga aku nyalakan. Masih malas jika harus berhadapan lagi dengan seribu pesan dari Gigih dengan topik yang sama: jodoh dan menikah. Sebenarnya bukan karena aku tidak mau segera menikah. Bahkan aku sering dibuat resah, gelisah, dan susah ketika harus menemukan undangan perkawinan teman terselip di bawah pintu kamar sepulang kerja. Bingung, harus perasaan mana yang terlebih dulu harus aku rasakan: bahagia karena akhirnya salah satu dari temanku mengakhiri masa lajangnya atau sedih karena kemudian aku justru menjadi golongan minoritas yang belum juga beranjak dari kelajangan yang aku punya. Bukankah meyakinkan diri untuk benar-benar memutuskan bahwa seseorang itu adalah yang kita cari, tidak mudah?
Alhasil, daripada terus terpaku dengan perasaan galau maksimal luar biasa tentang jodoh dan menikah, aku memilih menarik diri sejenak dari sifat kesosialan manusia dengan tidak mengaktifkan ponsel. Cukup untuk hari ini karena setidaknya ketika besok Gigih belum juga jera memaksaku menerima tawarannya, aku sudah cukup bisa kembali –sedikit—tegar. Untuk kali ini, aku membiarkan novel tadi menjadi tempat pelarian yang paling tidak bisa menjadi pengalihan isu yang merebak di ruang otakku saat ini.

***

Sejak aku mematikan ponselku tempo hari, Gigih tidak lagi sering bertanya soal topik menyebalkan itu. Mungkin sikap dan jawaban yang aku kirimkan sebagai balasan sedikit membuatnya sadar bahwa memang pertanyaan Kapan mau menikah? tidak sama dengan Kapan mau makan?. Setidaknya, aku bisa sedikit lebih tenang dan menghabiskan waktu tanpa semakin terbebani dengan perihal usia dan kelajangan. Mengisinya dengan hal lain yang lebih menyenangkan, seperti yang kami—aku dan Mika— lakukan siang ini: menonton satu film sekuel favorit kami, Fast Furious 6.
Aku sudah duduk di seat F-10 Studio 21 sejak 5 menit lalu dengan novel yang ku beli tempo hari di tangan. Beberapa saat lagi film Fast Furious 6 yang sudah sejak lama kami tunggu, dimulai.
“Nih.” Ujar Mika sembari menyodorkan sekotak besar Popcorn ke hadapan mukaku sebelum akhirnya duduk di sebelah kananku. Ia sengaja membelinya untukku sebagai rasa terimakasih karena aku rela menemaninya mengantri tiket selama hampir satu jam.
Thank youu,” Sahutku.
Lampu baru saja mulai meredup ketika tanpa sengaja pembatas bukuku terjatuh. Aku sempat mencium aroma parfumnya ketika lelaki bersepatu Nike di hadapanku kakiku membungkuk dan mengambil pembatas itu. Aku sempat tersenyum saat kemudian mendongak dan mengulurkan tangan untuk meraih pembatas itu dari tangannya tanpa sempat melihat wajahnya karena lampu sudah benar-benar padam.
“Permisi,” ujarnya lirih ketika kemudian dia melewatiku dan duduk di sisi kiriku. Mika sempat menyikutku ketika serangkaian adegan tadi justru membuatku melongo dan mengabaikan film yang sudah dimulai. Sementara itu, pembatas buku tadi aku selipkan begitu saja tanpa memikirkan letak yang seharusnya dan segera menyimak layar super besar di hadapanku. Meski aku sempat menyesali lampu yang terlalu cepat padam sebelum sempat melihat wajahnya, tapi itu lebih baik karena jika tidak, Mika juga lelaki—pengambil—pembatas—buku tadi bisa melihat bahwa mukaku yang panas tampak merah, tersipu.

***
 “Lo perhatiin gak sih, film tadi cuma bagus di action nya aja. Ceritanya masih bagusan yang ke-5. Tapi gue sukaaa banget waktu adegan Dom dengan percaya dirinya lompat dari mobil cuma buat nangkep si Lety tanpa tahu akan selamat atau gak. Romantiiiss!” Oceh Mika sesaat setelah keluar dari studio.
Aku pun mengiyakannya sembari mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya untuk apa juga membicarakan film yang baru ditonton kepada orang yang sama-sama nonton dan tau jalan ceritanya? Mau seromantis apapun juga kalau hanya di dalam dunia film si cuma berasa di mata tanpa bisa sampai hati. Lagi pula, asal dia tahu saja, bahwa sepanjang menonton tadi, aku tidak benar-benar fokus pada film. Lelaki di samping kiriku resmi menyita setengah dari konsentrasiku. Entah bagaimana caranya aku bisa mendengar alunan nafasnya dan ketika mendengar suara tawaya, oooh, Tuhan, renyahnya. Bahkan kremesnya ayam goreng Bu Nanik pun kalah renyah.

“.... menurut lo, gimana, Na?” Aku menoleh pada Mika ketika namaku disebut. Baru tersadar bahwa sedari tadi Mika masih menceritakan ulang film yang baru dintonton tadi.
“Ha? Apanya?” jawabku gelagapan.
Mika menghela nafas panjang melihat eksrepsiku yang datar seperti baru saja masuk kembali ke dalam dunia nyata.
“Buset, gue dicuekin.”
“Eh maaf, tadi lagi gak konsen. Apaan emang?”
“Aaah, kagak jadi ah. Yuk pulang aja, laper.” Ujarnya kemudian sembari menarik lenganku setengah berlari.

***

Aku sudah membongkar tasku, tapi aku tidak juga kunjung menemukannya: novel baruku. Mustahil jika jatuh di jalan karena aku selalu membacanya saat ada waktu dan kembali memasukkannya ke dalam tas jika memang ada hal lain yang aku kerjakan. Sebelum film dimulai siang tadi adalah waktu terakhir kali aku membacanya dan berakhir ketika film dimulai setelah insiden pembatas—buku—jatuh itu sempat terjadi sebelumnya. Tapi, tunggu, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku memasukkannya kembali ke dalam tas. Aku langsung lemas ketika kemudian dugaan kuat itu muncul di otakku: novel tadi tertinggal di kursi tempat aku duduk di dalam studio bioskop. Spontan aku menepuk jidatku sendiri, kemudian meraih ponsel di atas meja, membuka akun twitter, berharap ada seseorang yang menemukannya dan mengirimnya pesan lewat nama akun yang tertulis di novel tadi.
“Paling gak kalo buku lo ilang dan ditemuin sama cowok jomblo ganteng, tu buku bisa balik bersama ‘bonus’ nya.” Ucapan Mika tempo hari kembali terngiang di kepalaku.
@rain-A
novel baru, hilang!! :’(
Tulisku dengan penuh harap pada kolom 142 karakter.

***

Sore hari pukul 15:57 ini, langsung dari kantor, aku sudah di tempat yang dijanjikan sejak lima menit yang lalu. Tidak banyak berharap dengan yang akan datang karena memang pada awalnya aku hanya mengharapkan novelku yang kembali. Baju yang aku kenakan sejak berangkat dari kos pagi tadi pun aku pilih sesimple mungkin karena memang hari ini tidak ada kelas yang harus aku ajar: blus satin oranye dan celana hitam panjang dengan sepatu flat krem.
Oke, ini adalah pertemuanku dengan seseorang yang mengirimkan mention ke akun twitterku sehari yang lalu. Butuh waktu satu harian penuh untuk terus memantaunya hingga satu pesan mention itu masuk:
@DewAbi
@rain_A ketemu!!! :D RT @rain-A novel baru, hilang!!! :’(
Dan setelah kami berbalasan mention, aku akhirnya tahu bahwa ia menemukan novel itu di seat F-10 Studioo 21 tempat aku duduk.

“Doa aja, semoga tu cowok beneran ganteng kayak punggungnya.” Ujar Mika sebelum terbahak dengan omongannya sendiri saat melihat foto profil pengirim mention tadi yang hanya tampak belakang, menghadap sebuah panorama kota senja.

Aku melongok arlojiku pada menit kesepuluh. Saat-saat semacam inilah yang aku tidak pernah bisa melewatinya dengan baik. Aku selalu merasakan sensai melilit di perut saat rasa canggung harus menyertai degupan jantung tak keruan. Untuk apa sebenarnya? Toh yang aku harapkan hanya novel yang kembali dan bukan lainnya. Aku mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa aku hanya bereaksi berlebihan tentang ini dan aku harus menyudahinya. Meyakinkan diri juga bahwa foto punggung tegap nan gagah di akunnya itu hanya olahan photoshop yang biasa dilakukan kebanyakan orang untuk meraih jumlah folowers tinggi. Sementara itu, Mika yang sedari tadi memantai pertemuan ini dari rumah kos tidak henti-hentinya bertanya lewat pesan singkat di ponsel setiap 5 menit sekali.

Ini menit ke lima belas dan aku semakin tidak bisa menghentikan gerakan kakiku yang sedari tadi bergerak tidak tenang di atas sepatu flat warna krem baruku. Bukan sengaja aku beli untuk ini, hanya saja Mika memaksaku memakai sepatu yang baru saja ku beli kemarin sore sebagai pengganti lara hati kehilangan novel favorit yang harganya hampir sama dengan sepatu baru ini. Mungkin sang penulis, J.K. Rowling, sudah mematok harganya sejak mulai menulis baris pertama novel terbarunya itu.
“Raina, ya?” Sepatu bermerk Nike itu tampak menjejeri sepatu flat kremku saat suara itu terdengar. Sepatu Nike yang aku kenali, juga parfumnya. Oh, tidak, jangan-jangan....
“Maaf, dengan Raina?” tanyanya lagi ketika si penanya tadi melihatku yang tidak kunjung mengalihkan pandangan dari sepatu di bawah meja.
“Ya?” Sahutku kemudian ketika akhirnya aku mendongak dan menemukan wajahnya di sana, tersenyum simpul dengan lesung pipit yang tidak begitu dalam. Kemeja kotak-kotak dengan kaos putih di dalamnya, dipadu dengan celana jeans hitam yang tidak skinny. Andai saja Mika ada di sana, ia pasti akan setuju denganku: He is gorgeous.
“Raina Renata?” Dia memastikan dengan menyebutkan nama lengkapku sembari mengulurkan tangannya. Aku tersenyum sembari mengangguk pelan beberapa kali, menyambut uluran tangannya yang hangat.
“Ya, saya Raina. Abimanyu Dewantara?” Aku balik bertanya. Ada gemelitik geli saat menyebut nama lengkapnya yang menurutku, seksi. Ia tersenyum lagi sembari mengangguk.
“Yap!” sahutnya mantap saat jabatan kami terlepas.
“Emm, boleh.... duduk??” tanyanya. Astaga, spontan aku menarik kursi di sebelahku, baru ingat bahwa sedari tadi ia aku biarkan berdiri.
“Oh, ya. Maaf, sampai lupa. Silahkan.” Aku menjawab dengan sedikit gugup.
“Suka novel petualangan ya, Na?” tanya sembari menyerahkan novel bersampul warna merah milikku. Aku hanya mengangguk ketika menerimanya dengan lega, sembari membuka beberapa lembar di dalamnya.
“Tenang, jumlah halamannya masih sama kok.” Aku terkekeh. Ingin rasanya aku nyatakan bahwa aku melakukannya untuk menutupi sikap canggung yang mungkin tidak bisa lagi disembunyikan.
“Bukan gitu, kemarin setelah jatuh, pembatasnya aku taruh sembarangan.” sahutku kemudian, berusaha senormal mungkin. Bersyukur seorang pelayan akhirnya datang dan menyodorkan daftar menu ke hadapan kami. Setidaknya ada jeda waktu untukku mengatur nafas dan sikap guna menghindari kekakuan yang bisa saja membuatku mati gaya. Kami pun sepakat memesan dua porsi spageti, lemon squash untuk dirinya, dan lemon tea untukku. Sang pelayan pun berlalu dengan sopan dan kembali beberapa saat kemudian sembari membawakan pesanan minum kami, mempersilahkan menikmatinya dengan nyaman.

“Kenapa dokter, Bi?” tanyaku setelah ia bilang singkat bahwa dirinya merupakan calon dokter bedah yang setahun lagi akan menyelesaikan program S2nya, siap menyandingi Dokter Tompi di kancah dunia perdokterbedahan Indonesia.
 Ia tampak berfikir sebelum akhirnya menjawab, “Suka aja.”
Aku justru mengerutkan keningku. Menjadi dokter hanya atas dasar ‘suka’?? Segampang mengatakan dasar pilihannya pada lemon squash sebagai minumannya saat ini. Ketika kemudian ia tersenyum lagi melihat ekspresiku, aku justru mengalihkan pandangan. Please, dandan dulu sana jadi bencong, Bi, sebelum aku benar-benar kaku di kursiku karena grogi melihat lesung pipimu berkali-kali.
“Cita-cita dari kecil, Na.” Jawabnya sebelum akhirnya mulai menyendok spageti yang baru saja datang.
“Memang kenapa dengan dokter?” dia balik bertanya.
Aku menelan spagetiku sebelum akhirnya menjawab, “Ah, gak kok. Cuma traumatik masa kecil,” jawabku, takut ia salah paham. “Dan hanya pada dokter gigi.” Lanjutku menjelaskan, membuatnya terkikik geli.

Ini percakapan terpanjang yang aku jalani dengan orang yang baru aku kenal. Setelah tadi menghabiskan makanan di kafe tempat kami bertemu, ia justru mengajakku berkeliling mall untuk menghabiskan sore yang tidak mendung. Banyak yang kami bicarakan, mulai dari target yang belum tercapai, film-film serial favorit, rasa makanan favorit, tanggapan pada permasalahan koruptor Indonesia, sampai hal konyol seperti kapan terakhir kali mengikuti upacara bendera.
Saat kemudian tanpa sengaja ia menghalangi ku dan berdiri di depanku untuk berjalan di antara himpitan beberapa orang, aku pun menyadari bahwa foto tampak belakang yang aku lihat bersama Mika tempo hari lewat akun twitternya bukan hasil rekayasa photoshop, tapi A.S.L.I! Hingga akhirnya pertemuan itu berakhir, aku hanya berharap bahwa serangkaian kejadian sejak di bioskop, pembatas buku yang jatuh, pesan mention di akun twitter, sampai percakapan sepanjang sore ini, bukanlah kebetulan. Aku berharap ini takdir.

***

Salah satu kutipan Einstein yang berbunyi imagination is more important than knowledge tiba-tiba terlintas di otakku. Entah aku yang terlalu memaksakan kondisi dengan kutipan tadi atau memang sebetulkan demikian, tapi semua kejadian sore hari itu adalah apa yang aku khayalkan, yang aku imanjinasikan akan terjadi. Toh itu juga yang dibilang sama Tuhan dalam firmanNya, Aku bersama prasangka hambaKu. See? Ketika aku berharap itu terjadi, maka terjadilah. Kun fa ya kun! Juga ketika kemudian ia mulai sering mengirim sms layaknya orang PDKT, aku masih percaya bahwa apa yang terjadi ini sesuai dengan yang aku harapkan sejak pertemuan sore itu. 
Drrrtt!!!
Aku masih membereskan meja kerjaku, berniat segera pulang ketika akhirnya aku membuka pesan yang masuk. Seperti kehilangan semangat tiba-tiba, aku langsung kembali terduduk di atas kursiku usai membacanya.
sore ini kalian ketemu. kafe plasa lantai 1, jam 5. gak pke kata gak. harus dtg!

Aku menelungkupkan mukaku ke meja. Tas yang tadi sudah siap aku bawa, tergeletak begitu saja di lantai. Gigih, please!!! Bagaimana mungkin aku bisa menemui dua orang yang berbeda di waktu yang sama. Sore nanti, di tempat dan waktu yang sama, Abi mengajakku bertemu dan makan di tempat favoritnya: kafe plasa lantai 1.
Ponselku bergetar lagi.
orangnya pakai kemeja biru. awas jgn telat!

Tundukku semakin dalam ketika pesan gigih yang kedua tersebut masuk.
Dan ponselku bergetar lagi. Hampir saja aku membantingnya jika nama DewaAbi tidak muncul di layar sebagai pengirim pesannya. Tapi, ketika kemudian aku membaca pesannya, itu justru membuatku semakin ingin membenturkan kepalaku berkali-kali ke atas meja.
kalo udah bergkat, blg y, biar aku pesankan makananny. smpai sini tinggl makan :9
see you ;)

Aku tidak tahu harus berbuat apa selain bergegas beranjak dari kursi, meraih tas di lantai, sebelum akhir berlari ke area parkir dan masuk mobil, mengendarainya perlahan menuju plasa.

***

Aku sudah ada di area parkir plasa, berjalan menuju lantai 1 dengan gontai dengan rencana bulat yang sudah aku susun dengan sempurna: diawali dengan menghampiri teman Gigih yang entah bagaimana nanti menghadapinya, berbasa-basi sedikit untuk kemudian pamit segera, dan meluncur menemui lelaki dengan punggung tegap nan gagah, Abimanyu Dewantara. Kemungkinan terburuknya adalah aku akan mengajaknya makan bertiga bersama Abi. Oh, Tuhaaan, renacana ‘sempurna’ macam apa itu?! Dalam hal ini, semboyan ‘terlambat lebih baik daripada tidak’, menjadi alasan yang mendasariku meminta ijin untuk datang terlambat pada basalan pesanku ke Abi. Tidak lagi aku pikirkan reaksi seperti apa yang Abi tunjukkan ketika tahu teman yang aku maksud berada di tempat yang sama dengannya.
Beberapa langkah lagi aku akan masuk kafe plasa yang diminta Gigih. Hh! Aku menghela nafas ketika kemudian mataku berkeliling ke dalam plasa tanpa benar-benar masuk ke dalam, mencari lelaki berkemeja biru. Sekitar lima sampai enam detik kemudian, aku memang melihatnya, tengah duduk santai berdua dengan lelaki lainnya. Aku pun bergegas beranjak dari tempatku di ambang pintu untuk masuk ke sana, menyiapkan mental yang memang sudah ciut sejak keluar dari pintu kantor 20 menit lalu. Tapi, tunggu, aku menghentikan langkahku. Aku mengedipkan mataku untuk memperjelas pandangannya ke arah kursi di ujung sebelah kanan, dekat dengan jendela besar plasa lantai 1 ini.
Gigih???
Ya, itu Gigih, tidak salah lagi. Dia tampak duduk, tertawa lebar bersama seseorang berkemeja biru di hadapannya. Asal tahu saja, yang membuatku ternganga di tempatku jelas bukan karena Gigih yang aku temukan duduk di sana. Tapi, karena lelaki di hadapannya adalah Abi, dan dia satu-satunya lelaki di sana, di kafe plasa lantai 1, yang berkemeja biru.
“Na!!” panggilan itu membuatku mengedipkan mata beberapa kali, menyadarkan diri bahwa aku masih belum beranjak dari tempatku berdiri.
“Sini, Na!” Teriakan kedua terdengar lebih merdu. Jelas karena Abi yang menyuarakannya. Belum juga mengerti dengan semuanya, aku langkahkan kakiku ke sana, agak terburu karena memang ingin segera mendapatkan penjelasan.
“Kalian? Kok....”
Keduanya justru terkekeh ringan melihat reaksiku.
“Sini, duduk dulu. Tegang banget sih kayak lagi ketemu vokalis The Script kebanggaanmu itu.” Ujar Gigih sembari menarikkan kursi untukku, di tengah antara dia dan Abi. Aku menelan ludahku sembari menatap keduanya secara bergantian.
“Nih, lemon tea nya diminum dulu.” Ujar Gigih sembari dengan pelan menyodorkan segelas minuman itu padaku. Aku meneguknya sekali dan meletakkannya dengan sedikit penekanan.
Baru saja aku ingin membuka mulutku untuk bertanya.
“Eits, jangan marah. Ini semua rencana Gigih, Na. Aku tinggal ngejalanin.” Ujar Abi. Aku justru tidak menjawabnya dan malah menatapnya dengan kerutan di dahi semakin dalam.
“Duuh, masih bingung dia, Bro.” ujar Gigih.
“Jadi, Na. Orang yang aku tawarin kemarin, yang aku bilang keren, yang udah kamu tolak mentah-mentah, yang udah ngambilin pembatas buku kamu, yang mention kamu di twitter, adalah orang yang sama: Abimanyu Dewantara alias Abi.” Papar Gigih dengan bangga, persis sama sales yang berhasil membuat konsemennya jatuh hati pada produk yang ditawarkannya.
Aku lemas di tempat dudukku. Antara perasaan marah, kesal, lega, malu, semuanya campur aduk jadi satu dalam satu waktu. Marah dan kesal karena kedua laki-laki di hadapanku ini sudah sukses mengerjaiku habis-habisan. Lega karena kekhawatiran mati gaya dengan pertemuan ganda tadi nyatanya tidak terjadi. Malu karena harus menyadari bahwa aku pernah menolak Abi tanpa melihat wujud bulatnya yang ternyata lebih dari ‘sekadar’ vokalis The Script.
“Aku sengaja atur pertemuan kalian dengan cara seperti ini. Kamu susah banget sih dibujuknya.” Aku pun melotot padanya sebelum akhirnya melayangkan jitakan ke jidatnya berkali-kali.
“Bisa ya bikin orang gak konsen nyetir. Syukur aku gak kenapa-napa tadi di perjalanan. Asal kalian tahu aja seberapa besar keinginanku untuk kabur dari pertemuan ini satu jam yang lalu.” Keduanya terbahak, membuatku melempari keduanya dengan sobekan tisu dari gulungannya di atas meja.
“Ampun, Ibu Suri.” Celetuk Abi.
“Aaaak, kalian nyebelin, tau gak?!”
“Asal kamu tau aja, Na. Abi girang banget waktu kamu akhirnya nanggepin dia lewat twitter.” Ujar Gigih.
Aku melotot sembari melepaskan sedotan pada gelas lemon tes dari bibirku.
“Jadi, kamu sebenarnya nonton film kemarin juga gara-gara tau aku nonton juga? Sengaja, gitu?” Aku masih ingat beberapa twit tentang rencana menonton Fast Furious 6 yang aku posting semalam sebelumnya. Abi mengangguk mantap.
“Termasuk duduk di sampingku?” Aku menebak.
Abi buru-buru menggeleng. “Oh, gak. Itu gak sengaja dan aku juga kaget waktu liat kamu ada di seat sampingku, tepat saat kamu menjatuhkan pembatas buku kamu.”
 “Termasuk waktu akhirnya kamu nemuin novel aku?” Tebakku lagi.
“Ahahaha, iya. Takdir kali.” Ujar Abi, membuatku tersipu dan kembali teringat pada anggapan semual yang aku punya, bahwa semua ini adalah takdir: aku dan Abi adalah takdir.
“Cieee, takdir sih takdir. Cuma ente-ente jangan ngacangin ane dong. Berasa mendadak pake jubah abahnya Harry Potter nih, invisible.” Kami terkekeh mendengarnya.
“Nah, ente ngapain ikut duduk sini, ganggu aja.” Sahutku jahil, membuat Gigih semakin manyun.
“Ah kamu, beraninya kalau ada temen.”

***

Hujan sore ini baru saja berhenti ketika aku masih berada di dalam mobil, menyetir sendiri dengan kecepatan sedang. Beberapa tetes airnya masih bersisa di jendela sisi kananku, menyisakan embun tebal yang sanggup memuat namanya yang bisa aku tulis berkali-kali: Abimanyu Dewantara.
Saat lampu merah mengharuskan aku menginjak pedal rem, aku sempat merasakan bagaimana satu per satu kejadian tiga minggu terakhir kemarin sanggup membuatku tidak berhenti percaya bahwa Tuhan ada di balik ini semua. Bahwa segala awal yang dimulai dengan keyakinan, akan diakhiri dengan kadar yang sama dengan keyakinan tadi: bahagia untuk bahagia.
Jika memang menjadi golongan minoritas dengan kelajangan yang tidak kunjung berhenti sanggup membuat perasaan resah, gelisah, dan susah, maka aku tidak lagi perlu merasakannya. Ketika kemudian perihal perizinan, kecemburuan, dan oleh-oleh buah perhatian menjadi bagian darinya, perlu dicatat bahwa ketiganya menjadikan yang ada lebih berharmoni, lebih bersimfoni. Tentu, itu semua tidak terjadi begitu saja bahwa ketika aku menginginkannya kemudian berubah sesuai dengan yang aku mau tanpa apapun yang mengawalinya. Ada hal lain yang perlu terjadi, entah sesuai dengan dugaan atau justru jauh dari yang pernah terbayangkan. Asal pada akhirnya menjadi akhir yang bahagia, segala hal yang tidak terduga dan mengesalkan di awalnya itu menjadi hal berharga yang tidak ingin dilupakan kejadiannya. Seperti juga aku yang masih sempat tersenyum dengan tertegun menatap layar dengan sebaris kalimat majemuk bertingkat yang baru saja aku baca pada timeline di ponselku:
@DewAbi
RT @damnistrue maybe I’m too late to be your first. but rigth now, I’m preparing myself to be your last

Masih tetap tersenyum, aku pun melakukan hal yang sama. Tidak perlu dikatakan langsung, ungkapan selanjutnya yang aku lakukan ini tentu aku tujukan untukknya:
@rain_A
RT @damnistrue You are one of those beautiful things that happened to my life and made my life worthwhile :*

Gerimis turun lagi bersamaam dengan padamnya lampu merah dan menyalanya lampu hijau, membiarkan kakiku kembali menginjak pedal gas, berlalu dari jalanan becek di perempatan padat itu. Seseorang sudah menunggu dengan sabar di tempat makan favoritnya: kafe plasa lantai 1.
“Tidak perlu terburu-buru, aku tunggu kamu sampai selesai,” Ujarnya sekitar 30 menit lalu lewat panggilan singkat. Abi ingin bertemu lagi. Kali ini bukan sebagai pemungut pembatas buku dan sahabat dari teman baikku. Ia menunggu sebagai orang lain: lebih dari teman, lebih dari sahabat dari teman.

-Kota ASRI, 13 Juni 2013-

Kamis, 30 Mei 2013

First Anniversary

JUMAT
10.23 WIB (Beranda Fresh Florist)
Dengusan itu terdengar di telinganya sendiri. Ponsel layar sentuh di tangan kirinya baru saja mati. Dari enggahan nafas yang menderu, tampak bahwa ia menahan kesal. Siapa lagi kalau bukan pada kekasihnya. Sebenarnya, bukan hal besar kalau saja kekasihnya itu mau meluangkan satu akhir pekannya saja untuk satu tahunan mereka: firts anniversary. Pergi dengan kendaraan umum tanpa mengaktivkan ponsel dan gadget apapun untuk kemudian naik kereta ke satu tempat di kota lain, dan menghabiskan waktu bersama, berdua di tempat itu. Sudah, cukup dan kemudian ia akan melepaskan lelaki tersayangnya itu kembali ‘intim’ dengan pekerjaan tercintanya.

“Aku batalkan saja semuanya kalau memang itu maumu!” bentaknya lima belas menit lalu pada lelaki yang disebutnya ‘kekasih’. Kekesalannya mencuat saat menyadari bahwa lelaki itu lebih memilih pekerjaannya dibandingkan dirinya. Berlebihan mungkin, tapi ia hanya minta satu hari, bukan satu bulan atau bahkan satu windu. Ia sudah sering melepaskan kerinduannya begitu saja saat kemudian pekerjaan lelakinya sebagai konsultan menjadi penghalang pertemuan mereka.
“.... Toh perayaan semacam itu kan bisa dilakukan kapan saja." Geram sekali rasanya saat ia mendengar ucapan itu di telinganya. Tega! Bahkan kekasihnya mengentengkan saja hal semacam itu?? Dan ketika kekasihnya itu memohon untuk dirinya mengerti, ia sudah tidak sanggup lagi dan memilih untuk menyudahi saja percakapan yang terjadi.

10.10 WIB (Ruang Konsultan)
“Mona, tolong mengerti. Pekerjaanku harus selesai besok. Toh perayaan semacam itu kan bisa dilakukan kapan saja.” Ujarnya masih dengan berdiri karena memang belum sempat duduk dengan tenang. Tangannya tampak mengusap kening yang tidak berkeringat saat ia menyimak kekesalan perempuang tersayangnya dari ponsel di telinganya.
“Iyaa, aku tahu itu penting untuk kita. Tapi, Pak Wisnu minta aku untuk bertemu dengan klien baru besok siang. Kalau pun kita tetap pergi, kita tidak akan fokus, Mona. Jadi tolong.....”
Telepon di tangannya membunyikan nada panjang, putus.         
“Mon, Mona tunggu. Mona??!” Tuuuuuuut!
Sadar atau tidak, seketika itu juga ia membanting ponsel di tangannya. Lalu dengan kekesalan luar biasa, ia menghempaskan tubuh di atas kursi hitam di belakangnya. Keningnya juga tampak berkedut beberapa kali menahan semua beban pekerjaan yang ditanggungnya. Ia kesal, bahkan marah karena sikap kekanakan yang dimiliki perempuannya, wanitanya, yang rencananya akan menjadi calon istrinya kelak. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa perempuan itu tidak mau mengerti dirinya bahkan di saat semua pihak menuntut kualitas kerjanya saat itu. Ia tahu, ia sudah berjanji tentang jalan-jalan di satu tahunan mereka berdua. Tapi, ia juga tidak bisa bertanggung jawab nantinya kalau urusan pribadinya tentang cinta itu menjadikannya kehilangan pekerjaan impiannya.

“Terus saja kamu urus bosmu. Sudahlah, aku batalkan saja semuanya kalau memang itu maumu!”
Ia menghela nafas dalam ketika ucapan-ucapan itu terngiang lagi di telinganya. Ada sedikit rasa sesal memang ketika kemudian ia mengatur lagi nafasnya. Ketika kemudian hendak menghubungi lagi perempuannya, ia baru sadar ponselnya rusak, terpental menjadi beberapa bagian karena bantingannya tadi terlalu keras.
“Mas Reno, sudah ditunggu Pak Wisnu di lobi.” Ujar Prapto, supir kantor, padanya di ambang pintu. Lelaki bernama Reno itu hanya mengangguk sembari –terpaksa—tersenyum. Setelah sebelumnya meminta Prapto membawakan ponselnya ke tukang servis, ia pun beranjak dari ruangannya menuju lobi, mendatangi bosnya. Ia sudah bertekad, sepulang dari kantor nanti, ia akan mengunjungi perempuannya dan meluruskan semuanya.

11.00 WIB (Fresh Florist)
Ia merasa lebih baik setelah mencuci mukanya. Terasa lebih segar meski kekesalannya masih bersisa. 
Tring!!
Suara denting bel kecil di pintu tokonya berbunyi dan ia tersenyum saat melihat seorang wanita paruh baya masuk. Kaca mata tebal yang dikenakannya tidak menutup kecantikan masa mudanya. Ia pun balas tersenyum.
“Ingin bunga apa, Tante?” Sapanya dengan lembut.
“Lily putihnya saja, Mbak. Minta dirangkaikan ya, yang cantik.” Mona mengangguk.
“Untuk siapa, Tante, bunganya?” tanyanya kemudian. Lalu dering itu menyusul, dering ponsel dari ibu paruh baya.
“Saya tinggal sebentar ya?” pintanya tanpa sempat menjawab pertanyaan Mona. Sesaat kemudian, ibu paruh baya kembali.
“Maaf, tadi itu suami saya.”
“Tidak apa-apa, Tante. Jadi, Tante membeli bunga Lily ini untuk siapa?”
“Untuk anak saya.”
“Ulang tahun?”
“Ya, yang ke 18.”
Mona mengangguk sembari merapihkan ikatan pita pada seikat rangkaian bunga di tangannya.
“Biasanya saya pergi dengan suami. Tapi tadi dia bilang tidak bisa, ya sudah, saya saja tidak apa-apa?”
“Memangnya kemana sampai tidak bisa mengantar, Tante?”
“Biasa, pekerjannya masih harus dilembur, jadi ia harus tetap di kantornya tanpa bisa mengantar saya ke daerah Kalibata.” Mona tidak langsung merespon.
“Kali...bata?”
Ibu paruh baya tersenyum. “Iyya, Kalibata, kompleks pemakaman Kalibata. Anak saya dimakamkan di sana sejak dua tahun lalu.” ujarnya tanpa beban. “Anak saya terkena Sirosis. Donor hatinya terlambat datang.” Ada rasa pahit ketika Mona perlahan menelan ludah.
“Tidak apa kok, sudah berlalu dan saya sudah bisa membiarkannya pergi.”
“Dan ibu tidak apa pergi sendiri? Apa suami ibu lalu tidak akan datang ke ulang tahun anak ibu?”
“Ooh, tentu datang dan itu pasti dengan saya, meski saya harus bolak balik dari rumah. Suami saya sibuk, Mbak.”
“Ibu... tidak pernah marah dengan itu?”
Ibu menggeleng. “Tidak dong. Sama sekali. Dunianya ya dunianya. Dunia saya, ya dunia saya. Kami tidak ingin saling merusak dunia masing-masing. Meski hampir selalu terlambat, toh dia tidak pernah lupa dengan ulang tahun anaknya, juga ulang tahun saya. Lebih baik terlambat, kan dibandingkan tidak, bukan?”
Deg!!! Kata-kata itu menancap tepat di dadanya. Betapa ibu paruh baya ini mengerti dengan segala tentang suaminya, menerima apa adanya. Sedangkan ia?
“Jadi, berapa, Mbak?” Pertanyaan itu membuyarkannya.
“Ohh, 150 ribu, Tante.”

Ia terduduk di kursi dekat mejanya saat akhirnya sang ibu paruh baya itu berlalu pergi dari tokonya. Lebih baik terlambat, kan dibandingkan tidak?” Ucapan itu terbayang lagi. Itu tamparan yang keras untuknya. Ia sadar, apa yang baru saja didengarnya berkebalikan dengan yang dilakukannya. Ia justru memaksa lelakinya mengikuti dunianya tanpa bisa mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam dunia lelakinya itu. Sebelum nantinya ia berubah pikiran, ia bergegas beranjak dari kursinya dan meraih tas kecil di sisi meja, berniat mendatangi kekasihnya, setelah sebelumnya membeli sekotak nasi padang sebagai oleh-oleh makan siang.
Ketika akhirnya bus yang ditunggunya datang dan kemudian memilih untuk duduk di barisan terdepan, ia meraih ponsel layar sentuhnya dari dalam tas dan mencari satu nomor, meninggalkan satu pesan suara ketika sang operator menyatakan telpon yang dituju tidak aktif.
Sayang, maaf tadi aku emosi. Sekarang di mana? Aku ke kantor kamu ya. Aku bawakan nasi padang kesukaan kamu. Kalau kamu memang masih keluar, tidak perlu terburu. Aku tunggu sampai kamu selesai. Love You.
Darrrr!!!! Brak!!!
Ledakan dan hantaman itu tiba-tiba terdengar selepas Mona meninggalkan pesan suara. Entah darimana sumbernya, tapi setelah itu yang Mona tahu hanya bahwa tubuhnya terpental dari kursi satu ke kursi lainnya, bersama penumpang yang satu dengan penumpang lainnya. Sejenak kemudian, tidak ada yang bisa dipandangnya karena semua menjadi gelap. Yang ia tahu, sebuah tangan meraihnya dengan paksa sebelum akhirnya suara ledakan selanjutnya terdengar hingga telinganya berdenging.
nggggggggggggggggg.....!!!

12.00 WIB Pertemuan dengan Klien
Reno masih dalam percakapan serius dengan klien dan bosnya ketika tiba-tiba telinganya berdenging, nyeri.
“Awww!!!” Serunya, membuat Pak Wisnu dan Pak Irwan, kliennya, menoleh padanya.
“Pak Reno, ada apa?” Reno mengedipkan matanya beberapa kali sembari memegangi telinganya. Sungguh sakit dan baru kali itu.
“Pak Reno?” Pak Wisnu mengulangi pertanyaannya.
“Ya?” Sahut Reno cepat.
“Anda, baik-baik saja?” Tatapan mata Pak Wisnu sedikit khawatir. Reno menarik nafas dalam, memastikan nyeri itu sudah hilang.
“Ah, ya Pak, saya baik-baik saja.” Aneh, batinnya. “Mari kita lanjutkan.” Ujarnya kemudian. Pak Wisnu tampak lega. “Oke, jadi nanti konsep yang kita gunakan dalam proyek ini adalah.......” Reno tidak lagi begitu menyimak diskusi yang terjadi. Pikirannya mendadak tidak tenang dan tentu, itu karena pertengkarannya dengan Mona pagi tadi. Mendadak, jarum kecil di arlojinya seakan bergerak sangat lambat baginya: ia ingin waktu berputar lebih cepat. Ia harus segera bertemu dengan perempuannya.

 14.00 WIB Rumah Sakit-ICU
Tangannya gemetar saat meraih pena itu dari tangan mamanya. Kepalanya terasa sangat berat ketika kemudian larik demi larik itu tertulis dengan singkat di atas kertas di hadapannya. Ia tahu, tidak banyak waktu yang ia punya. Hanya perlu menyatakan maaf sebelum terlambat, meski tidak dengan tatap muka. Larik terakhir pun sudah selesai dan diakhir titik sebelum akhirnya kertas tadi terlipat rapih dengan nama RENO di atasnya. Sementara menit-menit itu berlalu dengan perlahan, ia sempat menyerahkan lipatan tadi pada mamanya tanpa bisa bersuara. Ia juga sempat merasakan desakan keras di tenggorokannya saat mamanya tampak panik menatapnya. Hingga akhirnya matanya terpejam dan garis lurus pada layar itu yang tampak, Mona hanya merasakan tubuhnya dingin, kemudian terbang, pergi sari sana untuk selamanya.

21.00 WIB Area Apartemen Reno
Reno belum juga keluar dari mobilnya. Ia berdiam di sana sejak satu jam lalu. Menangis sejadinya, menyesali semuanya. Pertengkaran pagi tadi menjadi saat terakhir ia mendengar suara Mona. Ia memang sempat melihat wajah Mona, bertatap muka dengan Mona. Tapi, muka yang ditatapnya tidak lagi bisa tersenyum, tidak lagi bisa bersungut kesal.

“Mona mengalami kecelakaan di perjalanan ke kantor kamu, Reno.”
Ujar mama Mona padanya saat beberapa jam lalu ia tiba di rumah duka. Reno sempat menyangka bahwa diirnya salah rumah ketika mendapati banyak mobil dan tamu di beranda. Ia masih sempat bertanya ada apa? pada salah seorang tamu yang datang sebelum akhirnya mama Mona menghambur keluar dan memeluknya dengan tangis. Saat itulah ia sadar, ia tidak salah masuk rumah. Saat itu juga ia tahu, bahwa ucapana ada apa? yang ditanyakan tadi mendapat jawaban yang sanggup membuatnya lemas di kakinya sendiri dan terpuruk di kaki mama Mona. Mona meninggal setelah mengalami kecelakaan bus yang ditumpanginya. Benturan pada kepalanya menyebabkan Mona kehilangan banyak darah dan tidak bisa lagi tertolong. Berulang kali ia mengucapkan maaf untuk tidak segera datang, untuk tidak segera menyadari isyarat dari suara denging yang sempat dirasakannya ketika pertemuan dengan kliennya tadi.
Ia mendengarkan lagi suara Mona di kotak pesan suara ponselnya. Prapto yang menyerahkan ponsel itu padanya beberapa saat setelah ia sampai di area parkir apartemennya. Pesan itu diterimanya bersama 5 pesan singkat dari mama Mona. Ia berteriak. Marah pada dirinya sendiri.
Perlahan, tangannya bergerak ke dalam saku kemejanya yang sudah tampak kusut bukan main: menarik keluar satu lipatan kertas yang sedari tadi ditahannya untuk tidak dibuka. Bukan karena tidak ingin membacanya, tapi ia takut itu justru akan semakin membuatnya ingin bunuh diri.
Tulisan tidak rapih itu terlihat saat lipatan kertas di tangannya akhirnya terbuka di depan matanya.

Reno, maaf ya untuk semua hal yang terjadi pagi tadi. Aku salah, aku tidak bisa mengerti kondisi yang kamu hadapi. Aku terlalu kekanankan. Oya, maaf juga karena nasi padang kesukaan kamu belum sempat aku antar ke kantor. Pasti kamu belum makan siang kan sampai sekarang? Jangan lupa makan, ya, Sayang.
Oya, kamu tahu, tempat yang aku ceritakan sebagai tempat perayaan first anniversary kita besok bagus sekali, lho. Romantis. Kamu harus tetap kesana, ya, meski tanpa aku.  Aku ingin kamu bisa melihat keindahan yang pernah aku lihat. Jangan lupa sampaikan salamku pada kicauan burung di sana ya. Happy first anniversay, Honey. Love you, always.

Mona

Isak itu terdengar semakin kencang.
“Aaaaaaaaaaa!!!!” Teriakan itu terdengar melengking selanjutnya: menyakitkan, menembus malam yang pekat dan sepi.

SABTU
10.00 WIB Suatu tempat untuk perayaan
Yang dikatakan Mona memang benar. Tempat itu indah, romantis. Padang ilalang yang luas, rumah pohon yang dibangun dengan sederhana namun artistik, kicauan burung kecil yang merdu, juga hawa sejuk pedesaan yang jarang ia temukan selama ini.
“Ini, sungguh indah, Mona.”Ucapnya lirih.
Ada desiran ketenangan ketika ia memejamkan matanya, membayangkan tawa riang Mona yang mungkin bisa ia dengar jika perempuan tercintanya itu juga di sana, bersamanya. Membayangkan raut muka dengan binar yang sudah ia hafal sejak setahun yang lalu jika perempuan tersayangnya itu menemaninya, di sisinya.
“Happy firts anniversary, Dear Mona.” Bisiknya lagi. Kali ini, sesak yang sehari lalu ia rasakan perlahan hilang, sembuh. Mungkin karena Mona sudah memaafkannya. Dan mungkin juga karena Mona sebenarnya ingin Reno tetap bahagia, meski tanpa dirinya.

Selasa, 11 Desember 2012

BUKAN SEKARANG, MUNGKIN NANTI

beberapa bulan lalu, saya ikut sayembara novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. saat tahu penyelenggaraan lomba itu, saya seakan mendapat durian runtuh, seakan mendapat satu kesempatan emas. kapan lagi? secara itu novel saya udah jadi semacam onggokan di tumpukan data dalam komputer saya. mualilah saya memperbaiki sana-sini. tembel sana-sini. semacam mau saya ikutkan perang dunia keempat. proses editing, adding, semuanya saya jalani selama satu bulan libur. dan pada akhirnya novel itu selesai, saya lega. segra saya cetak dan semua itu tidak akan lancar tanpa bantuan Allah lewat ibu saya. ibu saya yang pada saat itu sedang menjalani pengobatan lutut akibat pengapuran, rela nganter saya kesana-kemari, turut antusias anak perempuannya akhirnya berani mempublikasikan karyanya ke sebuah lombar nasional yang, yaaa, cukup bergengsi. beliau rela jalan jauh yang sebenarnya bis membuat dirinya menyesal kalau saja yang diantarkannya bukan saya, anak perempuan satu-satunya.

Hingga akhirnya semua proses itu selesai, draft novel pun sudah terkirim, kami pulang. ada satu kemauan dan harapan besar tentang calon novel saya itu. melihat betapa besar -bagi saya- perjuangan ibu dalam membantu, merelakan tenaganya hanya untuk saya. "Aku harus mendapatkannya, untuk ibu." batin saya.
Selama berbulan-bulan saya menunggu datangnya bulan desember, bulan saatnya pengumuman pemenang diluncurkan. bulan ini. sejak memasuki bulan ini, rasa penasaran itu meninggi, benar-benar tidak bisa lagi dibendung. raut muka ibu yang selalu ada di pikiran saya, membuat saya merasa, bahwa saya harus mendapatkannya kali ini. terlalu banyak berharap memang, tapi ini semata untuk ibu saya.

Sampai akhirnya, hari ini, sekitar sejam lalu, teman kos mengantarkan sebuah surat untuk saya, undangan penganugerahan pemenang sayembara novel. jantung saya berdegup kencang saya itu, berdebar apakah saya menjadi slah satu dari pemenang itu. saat kemudian saya buka web DKJ, ada satu link mengenai 20 besar pemenangnya. dengan hati2 dan penuh doa, saya buka, daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannn... novel saya tidak ada di sana. lemas, pasti, sedih, sangat. ini terasa seperti tidak lulus ujian akhir. mungkin memang harapan yang saya gantungkan terlalu besar, ntar gimana perasaan ibu saya ketika tahu ini, mungkin beliau memang tidak akan menunjukkan kesedihannya di depan saya, tapi hatinya? beliau pasti mengharapkan hal yang sama dengan saya.

tapi satu hal dari kegagalan kali ini adalah, bahwa saya yakin , suatu saat, entah kapan, mimpi satu ini bisa terwujud. mungkin bukan sekarang, mungkin nanti dan saya yakin, akan terasa jauh lebih indah.

-jogja, 12-12-12-

Jumat, 30 November 2012

Lebih dari Sekadar Kedutan Mata

Bermula dari kedutan mata.. Sekitar seminggu yang lalu. Sebenernya gak baik juga sih dihubung-hubungin kalo ujung-ujungnya ntar malah syirik. cuma emang, kata simbah saya semasa kecil dulu, kalo kedutan mata mau dapet rejeki, hihihi... Jadi, saat mata saya berasa kedutan, itu beneran gak enak. gak niat ngedip, eh si mata ngedip sendiri. berasa bahaya sih kalo ntar tanpa sengaja lagi liat ke mas-mas trus ni mata tiba-tiba ngedut, bisa-bisa saya dikira cewek genit :O

Berlangsung paling gak sekitar 2 sampe 3 hari, akhirnya sembuh juga. Hingga saat itu, ramalan simbah tentang kedutan mata gak kebukti dan itu resmi saya lupakan. Mungkin kalau saya anak biologi, bakalan tahu benar penyebab sebenarnya yang sama sekali gak ada hubungannya sama rejeki. Jadi, karena saya anak bahasa dan sosial, jadi ya yang saya bisa terangkan yang ada hubungannya dengan sosial termasuk di dalamnya adat tentang kedutan mata :P

Sampai akhirnya sehari setelah kedutan mata sembuh, ada satu tanggal istimewa untuk umat Islam, 10 Muharam dan itu disunnahkan untuk berpuasa. Daaan, saya pun ikut menjalankannya, kalau gak salah ingat itu hari sabtu. Bertepatan dengan hari itu, teman kos saya yang udah dapet kerja di Kalimantan dateng, transit istilahnya sekalian temu kangen sebelum besok minggunya dia balik ke Penambangan tempat ia kerja. Waktu dateng sih, gak ada tuh nyium-nyium bau rejeki, bukan tipe orang GR juga soalnya *narsis*.
Sampai akhirnya sore dateng, waktu berbuka udah dekat, tiba-toba dia nyeletuk, "Rara, makan yuk, aku traktir. Puasa kaan? Ntar sekalian nemenin buka." Sebagai anak kos yang hidup di tanggal yang mulai menua, saya pun bahagia. Tak lupa saya ucapkan terimakasih sebesarnya *mendadak artis*.

Oke, langsung saja pada bagian saya selesai makan malam dengan menu steak ayam yang super lezat. Bukan cuma karena emang rasanya enak, tapi lebih karena makan bersama teman yang saya rindukan dan dengan penuh keikhlasan dia membelikan makan untuk orang berpuasa seperti saya. peluk jauh buat Novaaa... semoga Allah kasih gantinya yang lebih buanyaaak! amin* Makan malam pun usai dan kami pulang, meski dengan hujan lebat yang bikin kami basah.

Singkat cerita, pagi pun datang, membangunkan kami dari mimpi setelah semalaman curhat macem-macem, mulai dari masalah cinta, mantan, teman, kerjaan, sampe masalah gak penting kayak persoalan perhantuan yang akhir-akhir ini sering kami temukan di kosan. Waktu sarapan pun tiba dan kami pergi ke satu tempat jualan soto yang super enak kalo dimakan pagi-pagi dengan suhu agak dingin seperti pagi itu.
Setelah memesan dan akhirnya pesanan dateng, kami pun menikmatinya.
"Rara makan aja sekenyangnya, ntar aku yang bayar." Nova berujar tanpa tedeng aling-aling, alias serta merta. saya berkedip sekali. rejeki lagi nih, Ya Allah??? Alhamdulillah. batin saya. Rasa terimakasih tak terhingga terujar lagi. Ini kedua kalinya saya dapet rejeki. Saya pikir kebetulan aja karena emang sudah tradisi sejak dulu, bahwa temen yang udah dapet kerja secara kasarnya kena jatah traktir temen sekosan. Dan setelah itu berlangsung, saya gak mikir macem-macem.

Hari pun berganti dan nova akhirnya balik ke Kalimantan, saya pun kembali ke aktivitas yang selama akhir pekan kemarin saya tinggalkan, Tesis!
Di tengah mengerjakan tesis, saya sembari mendengarkan radio swaragama. Radio favorit yang selalu nemenin saya ngapa-ngapain selain sholat. Waktu itu kalo gak salah, mas Akbar Hakim yang siaran, memperdengarkan banyak lagu easy listening. Lamaaa saya ngerjain sampe siang. Pas lagi asyik-asyiknya cerita di atas dokumen tesis, si mas penyiar bilang ngadain kuis dalam rangka premier film Indonesia terbaru berjudul Hello Goodbye. Pertanyaan yang diajukan adalah tempat atau lokasi syuting yang dipake di film tadi. Hadiahnya nonton bareng filmnya bersama crew swaragama. Asalnya iseng sih, saya ikutan tu kuis. menjawabnya dan menunggu hasil pemenang. Gak ada sih harapan banyak, toh saya juga bukan maniak pelem Indo. Bukan gak cinta tanah air sih, cuma kalo filmnya barat macem Breaking Down gitu lebih keren, hahaha.
Sambil ngantuk, saya rebahin badan di kasur. Tesis saya tinggalin karena emang udah jenuh berjam-jam di depan laptop sejak pagi.

mungkin memang ALLAH lagi buka pintu rejeki buat saya lebar-lebar, di tengah kantuk saya, saya denger nama saya disebut sebagai salah satu pemenang kuis. Asli kaget, orang saya aja sampe kabangun, rasa kantuk pun hilang. Ya, saya dapet rejeki lagi dan satu kata yang saya ucap Alhamdulillah. Ini kali pertama saya dapet rejeki berturut-turut dalam seminggu.

Hari berganti lagi dan nonton bareng pun berlalu. Filmnya lumayan laah, berlatar negara Korea Selatan meski ada beberapa yang menurut saya perlu ditinjua ulang sebagai satu film bergenre cinta dan berlatar negara luar.

Dua hari setelah nonton bareng itu, yaitu hari sabtu, hari ini, saya niat ninggalin lagi Tesis saya yang udah lima hari sebelumnya saya utek-utek, sampe utek (baca: otak) saya hampir jebol. Iseng saya baca buku sumber berbahasa Inggris yang bahasanya agak mudah. Sengaja sih biar bacanya juga agak santai. Seperti biasa, radio saya setel dan waktu itu acaranya adalah wawancara penulis favorit saya, Dewi 'Dee' Lestari. Kebetulan banget, di tengah wawancara, sang penyiar, mbak Fania bilang kalau mengadakan kuis. Karena hari itu tema wawancara adalah buku baru mb Dee yang berjudul Madre, maka kuis yang diaadakan pun berkenaan dengan si buku tadi. Bagi penanya yang paling bagus pertanyaannya lewat sms atau pun twitter, dapet buku Madre dengan tanda tangan asli Mbak Dee. Saya pun ikutan sms. Kali ini beneran buat tanya, secara saya pengen juga jadi penulis. Gak ada tendensi buat dapetin bukunya juga karena saya udah sejak lama punya bukunya.

Sampe akhirnya sms saya dibacakan dan mendapat tips yang berarti dari Mbak Dee buat proses penulisan karya-karya amatiran saya, saya pun meneruskan membaca buku. Bahkan sempet berharap, semoga bukan saya yang dapet buku, lah udah punya trus buat apa gitu dapet lagi, mending dikasih ke orang lain yang belum punya, pikir saya.
ternyata emang beneran kata ustazah dan guru ngaji saya, rejeki gak akan kemana, rejeki jangan ditolak, nama saya disebut lagi sebagai salah satu pemenang hari itu, medapat buku Madre yang jelas-jelas udah saya punya. Satu hal yang langsung melesat di pikiran saya, Ini rejeki dari Allah. Hal lain yang kemudian menyusul saya sadari adalah bahwa rejeki itu gak kebetulan dateng, pasti ada asalnya dan itu besar kemungkinan dari puasa 10 Muharam saya. Bukan mau menisbahkan bahwa puasa 10 Muharam itu keramat karena orang-orang yang berpuasa menjadi satu kategori yang dimudahkan rejekinya. Yang pengin saya bilang di sini adalah bahwa rejeki itu sudah diatur sedemikian rupa. Mau diarepin gimana pun kalo bukan jatahnya gak bakalan dapet. Begitu juga ketika kita menolaknya, seperti yang awalnya saya lakukan, mau gimana pun nolaknya, tuh rejeki bakalan tetap ngejar. Satu hal lain adalah bahwa jika kita melakukan ibadah dengan ikhlas hanya untuk-Nya dan selalu berbaik sangka bahwa Allah gak pernah tidur dan semua rejeki ada pada keputusan-Nya, pintu rejeki dan terkabulnya doa gak akan pernah lari dari kita.

Sebagai tambahan, bahwa cerita ini sih gak berarti saya percaya dengan ramalan simbah. Cuma kebetulan, dan Allah ngasih yang lebih nyata dari sekedar kedutan mata. 


-Djogdja, 1 Desember 2012-

Senin, 05 November 2012

hujan selalu punya cerita

Berawal ketika suatu pagi saya bertandang ke sebuah toko buku. Belum terlalu ramai memang, hanya beberapa remaja putri, putra, pelayan yang sibuk dengan setumpuk buku di troli, dan satpam yang tidak berhenti berkeliling di antara rak-rak yang penuh sesak dengan buku siap baca. Tujuan utama saya satu: buku garnis titipan ibu. Ketika akhirnya saya menemukannya di antara buku-buku masakan di deretak rak paling depan, saya pun berniat berburu buku. Sudah lama saya tidak melakukannya dan itu karena terlalu (sok) sibuk dengan semua target untuk tugas akhir saya: TESIS...

Satu demi satu rak buku saya susuri, melihat kanan dan kiri; berbidir dan membungkuk, memastikan ada satu judul yang menarik mata saya hingga tangan saya berkenan terjulur ke sana untuk meraihnya. Ada sekitar  tiga deret rak yang sengaja saya lewati begitu saja: rak komik. Saya tidak terlalu suka komik dengan alasan terlalu pusing dengan semua ganbar di dalamnya.

Hingga akhirnya saya berhenti pada satu rak besar dan tinggi dengan tulisan berhuruf kapital di atasnya, NOVEL REMAJA. Saya pun berhenti di situ, melakukan hal yang sama pada rak buku sebelumnya. Seperti nelayan yang mencari ikan, mata saya menyisir satu demi satu buku yang terpajang. Ada satu mimpi tersirat ketika berdiri di sana, membayangkan betapa senangnya jika salah satu saja di antaranya buku-buku itu adalah buku saya, tulisan saya, novel saya, dengan terpampang nama saya.

Saat saya sudah lelah mendongak dan membungkuk, juga bergeser dari deret satu ke deret lain, saya menemukannya. Satu buku, novel, terbitan bukune dengan judul yang membuat saya tahu bagaimana perasaan penulis ketika menuangkan idenya pada buku itu: Hujan punya cerita tentang kita. Itu judulnya. Dan itu cukup merangsang otak saya untuk memikirkan satu nama di balik kata hujan. Tidak perlu disebut, hanya ingin membagikan bahwa bagi saya, hujan pun punya cerita, selalu punya, sebagaimana judul tulisan ini. Ketika kemudian saya meraihnya dari tempat ia terpajang, saya seperti bercermin. Agak berlebihan sih, tapi memang itu yang saya rasakan. Apalagi ketika membaca tulisan di bagian sinopsisi pada bagian belakang buku itu:

Jatuh cinta kepadamu begitu menyenangkan,
seperti meringkuk dalam selimut hangat pada malam yang hujan. Seperti menemukan keping terakhir puzzle yang sedang ku susun. Cinta ini sudah berada di tempat yang seharusnya, di ruang hatimu dan hatiku.

Namun, mengapa resah justru yang merajai kita? Padahal, katanya cinta sanggup menjaga. Aku ingin kau tahu, diam-diam, aku selalu menitipkan harapan yang sama ke dalam beribu-ribu rintik hujan: aku ingin hari depanku selalu bersamamu

Aku mencintaimu. Selalu.
Dan mereka tak perlu tahu...


Entah bagaimana mengungkapkannya tapi saya akui, tulisan di bagian belakang buku itu sangat 'saya'. Tidak bisa dipungkiri, bahwa ketertarikan saya kepada buku ini tidak lebihd ari sampul belakangnya. Saya tidak tahu bagian dalamnya karena memang buku itu disegel rapih dan tidak untuk dibca di tempat. Tapi, dengan ide yang saya suka, hujan, saya pun langsung menyukainya. Bukan karena terlalu buta oleh hujan, tapi memang di balik tetes-tetesnya yang menderas setelah gerimis, akan selalu ada cerita: pertemuan-perpisaha, kebahagiaan dan kesedihan.

Krena hujan, selalu punya cerita.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Pertanyaan untuk Cinta: Siluet Senja


Dua sejoli itu duduk berdampingan menatap ke arah barat, tempat matahari yang sebentar lagi tenggelam oleh malam yang menjelang. Seperti biasa setiap hari sabtu sore, mereka mengunjungi tempat yang sama: tepi danau, di bawah pohon, di tepi kota. Rasa lelah selepas pulang kerja seakan terobati ketika pada akhirnya mereka bertemu dan menghabiskan ujung hari bersama. Ketika kemudian kesenyapan itu terasa, sejumlah pertanyaan menyembul di benak sang gadis. Ia pun mengutarakannya.
“Menurutmu, lebih baik siapa yang mati terlebih dahulu: aku atau kamu?” tanyanya. Lelaki itu tidak mengalihkan pandangannya dari sepasang kupu-kupu yang terbang di hadapannya.
“Menurutmu?” Balas sang lelaki.
“Aku saja, agar kau bisa lebih lama hidup dan menikmatinya,” jawabnya dengan mantap. “Bagaimana denganmu, kau akan pilih siapa?” tanyanya lagi. Sekarang, mata lelaki itu beralih, memandang wajah sang gadis.
“Tentunya aku akan memilih dirimulah yang terlebih dahulu mati.” Mata sang gadis berkedip sekali, sedikit kecewa dengan jawaban itu, meski ia tidak menunjukkannya.
“Mengapa?” tanyanya dengan mata menyelidik.
Sang lelaki menghele nafas sebelum akhirnya berujar, “Agar kamu tidak merasakan kesedihan kehilangan diriku. Biar aku saja dan kamu jangan.” Ada rasa menggelitik di dalam perutnya ketika mendengar jawaban itu: romantis, batinnya.
Belum puas dengan pertanyaan pertama, ia mengajukan pertanyaan lain yang ia punya.
“Mengapa kamu terkadang memilih berjalan di belakangku ketika banyak orang memilih berdampingan dan bergandengan tangan,” tanyanya lagi. Sembari meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah kertas gambar serta pensil dari sana, lelaki itu dengan ringan menjawab, “Agar ketika ada bahaya di belakangmu, aku bisa lebih dulu menghalanginya. Juga agar ketika ada bahaya di depanmu, aku bisa dengan cepat meraihmu dalam dekapanku untuk kemudian melindungimu dari bahaya itu.” Kali ini, sang gadis terkesiap: ini lebih romantis, batinnya lagi. Ia mengulum senyumnya, tersipu, menahan agar rona itu tidak semakin tampak meski sebenarnya tidak lagi bisa disembunyikan.
“Emmm... satu lagi. Kalau seandainya suatu saat aku dan ibumu tenggelam ke dalam danau pada waktu yang sama, siapa yang akan kau selamatkan lebih dulu?”
Dengan sabar, lelaki itu menjawabnya, “Tentu ibuku,” jawabnya tanpa mengalihkan matanya dari kertas dengan beberapa goresan pensilnya di sana. Sang gadis kembali kecewa.
“Mengapa begitu?” tanyanya untuk kesekian kali.
“Jelas karena ia adalah ibuku dan karena tanpa ia sebagai ibuku, aku tidak akan pernah bisa ada di sampingmu untuk menjagamu dari bahaya yang kapan saja siap menyerangmu.” Seakan tidak ingin lagi merasakan sensasi bergejolak di dalam perutnya, ia menyudahinya. Sudah cukup dengan rona yang menumpuk di kedua pipinya.
“Ada lagi yang akan kau tanyakan?” tanya lelaki itu saat goresan di kertas gambarnya hampir selesai. Gadis itu menggeleng perlahan, “Tidak ada,” jawabnya.
“Kalau begitu, diam sejenak agar aku bisa menyelesaikannya.” ujar sang lelaki. Gadis itu mengerutkan kening ketika melirik gambar dan goresan di sampingnya: sebuah siluet seorang lelaki dari samping tengah menengadah pada satu lambang atas nama Tuhan dengan gambar seorang ibu dan gadis berdiri berdampingan di atas tangan sang lelaki di sana.
“Apa maksudnya?” tanyanya untuk kesekian kali.
“Apa?”
“Gambarmu, apa maksudnya. Tidak biasanya kau menggambar selain aku.” Ujarnya, tepat ketika gambar itu selesai. Setelah mengibaskannya hingga sisa goresan dan hapusan pensil itu hilang, sang lelaki menyodorkannya pada sang gadis. Lalu dengan tatapan mata yang tergas, ia menjawab, “Jika nanti aku yang mati terlebih dahulu, jika nanti aku tidak bisa lagi berada di belakangmu, atau jika nanti aku tidak sempat menyelamatkanmu dari danau itu, kamu akan selalu ingat satu hal, bahwa Tuhan telah menciptakan dua wanita terpenting dalam hidupku: ibuku dan kamu.” Sang gadis menelan ludah, terpengarah.
“Berikan gambar itu pada ibumu dan katakan bahwa aku berterima kasih padanya telah melahirkan mu ke bumi untukku.”
Gadis itu hanya diam usai mendengarnya, entah kemana kosakata yang ia kuasai sebagai ahli bahasa. Hal yang terjadi pada detik selanjutnya adalah ia menangis di antara lengkungan bibirnya yang tersenyum. Thank you, gumamnya tanpa bersuara. Tanpa mengucap apapun, sang lelaki meraih pundak sang gadis perlahan: meraihnya ke dalam pelukannya. I love you, bisiknya kemudian. Matahari pun perlahan turun, menutup ujung hari, menjadi saksi bahwa keduanya saling menjaga, melindungi, dan tentu saja, saling mencintai.