Rabu, 19 Juni 2013

A Little Truth About Love

Terdakang menjadi single adalah hal yang menyenangkan ketika aku benar-benar ingin sendiri dan menikmati waktu luang yang aku punya dengan caraku sendiri. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan perihal perizinan yang mungkin –oleh kebanyakan pasangan—menjadi hal yang harus, tidak ada yang dicemaskan dengan perihal kecemburuan yang mungkin muncul jika tanpa sengaja bertemu dengan teman laki-laki dan mendadak berjalan berduaan, atau bahkan sekadar perihal oleh-oleh yang mungkin saja perlu dibeli sebagai bukti sebuah perhatian. Untuk ukuran yang belum berpekerjaan tetap seperti aku, keegoisan mengenai uang saku dan uang gaji masih aku pertahankan, atau mungkin lebih tepatnya memang aku yang pelit. Terserahlah. Intinya, menjadi salah satu warga negara Indonesia dengan keterangan ‘belum kawin’ di KTP bukan menjadi alasan untuk berhenti bahagia, khususnya untuk hari ini. Aku cukup bahagia menjadi seorang single women.

Namun, tidak dapat dipungkiri memang, bahwa menjadi seorang wanita Jawa yang single di usia yang hampir 24 tahun seperti ini terkadang membuatku memilih menarik diri sejenak dari banyak orang. Bukan mau menjadi seorang yang antisosial. Hanya ingin mengistirahatkan telinga dari segala macam pertanyaan yang terkadang membuatku ingin membekap si penanyanya. Apalagi kalau mereka sudah mengaitkan pertanyaan itu dengan membawa-bawa predikat Master yang melekat di belakang namaku. Jadi, keputusanku untuk tidak mengajak siapapun ke toko buku siang ini ku kira adalah pilihan yang tepat. Memutuskan untuk berkutat di antara deretan buku menjadi hal yang sangat  menarik ketika mengingat aku tidak perlu meminta ijin siapapun, tidak perlu cemas dengan kecemburuan siapapun, dan tidak perlu mencarikan oleh-oleh untuk siapapun.

Tuhan memang menciptakan manusia dengan beragam, lebih dari sembilan warna pelangi yang singkatannya sampai sekarang masih melekat sejak pelajaran IPA belasan tahun lalu. Gigih, salah satu sahabat sejak SMP, menjadi satu warna yang berbeda dengan warnaku. Ia punya pemikiran yang berbeda bahwa perempuan layaknya segera menikah si usia muda. Bahkan akan semakin sulit mendapatkan jodohnya ketika perempuan lebih memilih berpendidikan tinggi terlebih dahulu daripada memilih menikah. Kuno sih menurutku. Ini juga yang menjadi alasanku tidak terlalu menanggapi serius usahanya untuk memperkenalkan salah satu temannya padaku.

“Kamu ini ya, mikirin sekolah mulu, gak pernah mikir kawin,” Ujarnya beberapa hari lalu. Aku hanya menanggapinya dengan ringan ketika kemudian pepatah klasik “Jodoh ada di tangan Tuhan, gak perlu dikejar” aku lontarkan dan membuatku mendapatkan jitakan cukup keras di jidat. Agak-agak kurang ajar memang si Gigih ini.

“Bukunya mau disampulin sekalian, Mbak?” Seorang pelayan toko buku bertanya setelah aku membayar sebuah novel petuangalan favoritku. Aku mengangguk dan tersenyum sebelum akhirnya duduk di bangku panjang dekat kasir, menunggu buku tadi selesai disampuli. Sembari menunggu, aku merogoh celana jeansku, menarik keluar ponsel layar sentuhku dari sana, berniat melongok sejenak akun twitter.
Drrrttt! Ponsel itu bergetar sejenak setelah layarnya menyala, sebelum sempat aku apa-apakan. Satu pesan masuk dari Gigih.
gimana, kriteria yang aku tawarin kemarin? tertarik gak?
Hhhh!!
Aku langsung mendengus kesal saat selesai membacanya. Mungkin saking kerasnya, dengusan itu terdengar sampai pelayan kasir yang kemudian tampak menoleh padaku, membuatku tersenyum getir.
belum tau. lagi banyak tugas
Ketikku cepat dan segera mengirimnya, sudah enggan memikirkan jawaban lainnya yang mungkin justru akan menyinggungnya.
“Ah orang Jawa mah kebanyakan kagak enaknya. Kalo lu emang gak mau bilang aja gak  mau. Rempong banget.” Mika, teman satu kosku, mengomel saat semalam aku mengeluhkan hal ini padanya.
Ponselku kembali bergetar beberapa saat kemudian, mengantarkan pesan Gigih berikutnya.
gaya mu, ndul. udah nurut aja. ntar aku yg atur pertmuanny.titik!

Aku kembali mendengus. Andai saja si Gigih sekarang juga ada di hadapanku, mungkin mulutnya sudah bisu seribu bahasa gara-gara aku sumpal pakai tumpukan plastik sampul buku di sisi pelayan kasir. Maksa kok gak kira-kira. Tanpa pikir panjang lagi, aku matikan ponsel tadi tanpa membalas pesannya dan kumasukkan ke kembali ke dalam saku. Niat semula untuk melongok akun twitter resmi gagal sudah, kandas dengan kegalauan yang sukses Gigih bangun setinggi gunung Himalaya.
“Sudah selesai, Mbak, bukunya.” Ujar pelayan kasir tadi mengagetkanku. Aku pun bangkit dan meraih buku itu dari tangannya.
“Terimakasih.” Ujarku dengan tersenyum.
“Sama-sama.” Dan aku pun berlalu dengan motor matic biruku: pulang.

***

@rain_A
Tulisku singkat pada halaman terdepan novel baruku sebagai pengganti nama panjangku yang terlalu kaku jika dituliskan sebagai nama pada sebuah buku. Tidak ada yang salah dengan nama panjang, tapi setidaknya nama tadi bisa membedakan antara buku dan formulir pembuatan KTP di kantor kecamatan.
“Paling gak kalo buku lo ilang dan ditemuin sama cowok jomblo ganteng, tu buku bisa balik bersama ‘bonus’ nya.” Celetuk Mika suatu ketika sebelum akhirnya bantal gulingku melayang ke mukanya.

Setengah jam berlalu sejak aku sampai di kamar kos, ponsel tadi belum juga aku nyalakan. Masih malas jika harus berhadapan lagi dengan seribu pesan dari Gigih dengan topik yang sama: jodoh dan menikah. Sebenarnya bukan karena aku tidak mau segera menikah. Bahkan aku sering dibuat resah, gelisah, dan susah ketika harus menemukan undangan perkawinan teman terselip di bawah pintu kamar sepulang kerja. Bingung, harus perasaan mana yang terlebih dulu harus aku rasakan: bahagia karena akhirnya salah satu dari temanku mengakhiri masa lajangnya atau sedih karena kemudian aku justru menjadi golongan minoritas yang belum juga beranjak dari kelajangan yang aku punya. Bukankah meyakinkan diri untuk benar-benar memutuskan bahwa seseorang itu adalah yang kita cari, tidak mudah?
Alhasil, daripada terus terpaku dengan perasaan galau maksimal luar biasa tentang jodoh dan menikah, aku memilih menarik diri sejenak dari sifat kesosialan manusia dengan tidak mengaktifkan ponsel. Cukup untuk hari ini karena setidaknya ketika besok Gigih belum juga jera memaksaku menerima tawarannya, aku sudah cukup bisa kembali –sedikit—tegar. Untuk kali ini, aku membiarkan novel tadi menjadi tempat pelarian yang paling tidak bisa menjadi pengalihan isu yang merebak di ruang otakku saat ini.

***

Sejak aku mematikan ponselku tempo hari, Gigih tidak lagi sering bertanya soal topik menyebalkan itu. Mungkin sikap dan jawaban yang aku kirimkan sebagai balasan sedikit membuatnya sadar bahwa memang pertanyaan Kapan mau menikah? tidak sama dengan Kapan mau makan?. Setidaknya, aku bisa sedikit lebih tenang dan menghabiskan waktu tanpa semakin terbebani dengan perihal usia dan kelajangan. Mengisinya dengan hal lain yang lebih menyenangkan, seperti yang kami—aku dan Mika— lakukan siang ini: menonton satu film sekuel favorit kami, Fast Furious 6.
Aku sudah duduk di seat F-10 Studio 21 sejak 5 menit lalu dengan novel yang ku beli tempo hari di tangan. Beberapa saat lagi film Fast Furious 6 yang sudah sejak lama kami tunggu, dimulai.
“Nih.” Ujar Mika sembari menyodorkan sekotak besar Popcorn ke hadapan mukaku sebelum akhirnya duduk di sebelah kananku. Ia sengaja membelinya untukku sebagai rasa terimakasih karena aku rela menemaninya mengantri tiket selama hampir satu jam.
Thank youu,” Sahutku.
Lampu baru saja mulai meredup ketika tanpa sengaja pembatas bukuku terjatuh. Aku sempat mencium aroma parfumnya ketika lelaki bersepatu Nike di hadapanku kakiku membungkuk dan mengambil pembatas itu. Aku sempat tersenyum saat kemudian mendongak dan mengulurkan tangan untuk meraih pembatas itu dari tangannya tanpa sempat melihat wajahnya karena lampu sudah benar-benar padam.
“Permisi,” ujarnya lirih ketika kemudian dia melewatiku dan duduk di sisi kiriku. Mika sempat menyikutku ketika serangkaian adegan tadi justru membuatku melongo dan mengabaikan film yang sudah dimulai. Sementara itu, pembatas buku tadi aku selipkan begitu saja tanpa memikirkan letak yang seharusnya dan segera menyimak layar super besar di hadapanku. Meski aku sempat menyesali lampu yang terlalu cepat padam sebelum sempat melihat wajahnya, tapi itu lebih baik karena jika tidak, Mika juga lelaki—pengambil—pembatas—buku tadi bisa melihat bahwa mukaku yang panas tampak merah, tersipu.

***
 “Lo perhatiin gak sih, film tadi cuma bagus di action nya aja. Ceritanya masih bagusan yang ke-5. Tapi gue sukaaa banget waktu adegan Dom dengan percaya dirinya lompat dari mobil cuma buat nangkep si Lety tanpa tahu akan selamat atau gak. Romantiiiss!” Oceh Mika sesaat setelah keluar dari studio.
Aku pun mengiyakannya sembari mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya untuk apa juga membicarakan film yang baru ditonton kepada orang yang sama-sama nonton dan tau jalan ceritanya? Mau seromantis apapun juga kalau hanya di dalam dunia film si cuma berasa di mata tanpa bisa sampai hati. Lagi pula, asal dia tahu saja, bahwa sepanjang menonton tadi, aku tidak benar-benar fokus pada film. Lelaki di samping kiriku resmi menyita setengah dari konsentrasiku. Entah bagaimana caranya aku bisa mendengar alunan nafasnya dan ketika mendengar suara tawaya, oooh, Tuhan, renyahnya. Bahkan kremesnya ayam goreng Bu Nanik pun kalah renyah.

“.... menurut lo, gimana, Na?” Aku menoleh pada Mika ketika namaku disebut. Baru tersadar bahwa sedari tadi Mika masih menceritakan ulang film yang baru dintonton tadi.
“Ha? Apanya?” jawabku gelagapan.
Mika menghela nafas panjang melihat eksrepsiku yang datar seperti baru saja masuk kembali ke dalam dunia nyata.
“Buset, gue dicuekin.”
“Eh maaf, tadi lagi gak konsen. Apaan emang?”
“Aaah, kagak jadi ah. Yuk pulang aja, laper.” Ujarnya kemudian sembari menarik lenganku setengah berlari.

***

Aku sudah membongkar tasku, tapi aku tidak juga kunjung menemukannya: novel baruku. Mustahil jika jatuh di jalan karena aku selalu membacanya saat ada waktu dan kembali memasukkannya ke dalam tas jika memang ada hal lain yang aku kerjakan. Sebelum film dimulai siang tadi adalah waktu terakhir kali aku membacanya dan berakhir ketika film dimulai setelah insiden pembatas—buku—jatuh itu sempat terjadi sebelumnya. Tapi, tunggu, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku memasukkannya kembali ke dalam tas. Aku langsung lemas ketika kemudian dugaan kuat itu muncul di otakku: novel tadi tertinggal di kursi tempat aku duduk di dalam studio bioskop. Spontan aku menepuk jidatku sendiri, kemudian meraih ponsel di atas meja, membuka akun twitter, berharap ada seseorang yang menemukannya dan mengirimnya pesan lewat nama akun yang tertulis di novel tadi.
“Paling gak kalo buku lo ilang dan ditemuin sama cowok jomblo ganteng, tu buku bisa balik bersama ‘bonus’ nya.” Ucapan Mika tempo hari kembali terngiang di kepalaku.
@rain-A
novel baru, hilang!! :’(
Tulisku dengan penuh harap pada kolom 142 karakter.

***

Sore hari pukul 15:57 ini, langsung dari kantor, aku sudah di tempat yang dijanjikan sejak lima menit yang lalu. Tidak banyak berharap dengan yang akan datang karena memang pada awalnya aku hanya mengharapkan novelku yang kembali. Baju yang aku kenakan sejak berangkat dari kos pagi tadi pun aku pilih sesimple mungkin karena memang hari ini tidak ada kelas yang harus aku ajar: blus satin oranye dan celana hitam panjang dengan sepatu flat krem.
Oke, ini adalah pertemuanku dengan seseorang yang mengirimkan mention ke akun twitterku sehari yang lalu. Butuh waktu satu harian penuh untuk terus memantaunya hingga satu pesan mention itu masuk:
@DewAbi
@rain_A ketemu!!! :D RT @rain-A novel baru, hilang!!! :’(
Dan setelah kami berbalasan mention, aku akhirnya tahu bahwa ia menemukan novel itu di seat F-10 Studioo 21 tempat aku duduk.

“Doa aja, semoga tu cowok beneran ganteng kayak punggungnya.” Ujar Mika sebelum terbahak dengan omongannya sendiri saat melihat foto profil pengirim mention tadi yang hanya tampak belakang, menghadap sebuah panorama kota senja.

Aku melongok arlojiku pada menit kesepuluh. Saat-saat semacam inilah yang aku tidak pernah bisa melewatinya dengan baik. Aku selalu merasakan sensai melilit di perut saat rasa canggung harus menyertai degupan jantung tak keruan. Untuk apa sebenarnya? Toh yang aku harapkan hanya novel yang kembali dan bukan lainnya. Aku mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa aku hanya bereaksi berlebihan tentang ini dan aku harus menyudahinya. Meyakinkan diri juga bahwa foto punggung tegap nan gagah di akunnya itu hanya olahan photoshop yang biasa dilakukan kebanyakan orang untuk meraih jumlah folowers tinggi. Sementara itu, Mika yang sedari tadi memantai pertemuan ini dari rumah kos tidak henti-hentinya bertanya lewat pesan singkat di ponsel setiap 5 menit sekali.

Ini menit ke lima belas dan aku semakin tidak bisa menghentikan gerakan kakiku yang sedari tadi bergerak tidak tenang di atas sepatu flat warna krem baruku. Bukan sengaja aku beli untuk ini, hanya saja Mika memaksaku memakai sepatu yang baru saja ku beli kemarin sore sebagai pengganti lara hati kehilangan novel favorit yang harganya hampir sama dengan sepatu baru ini. Mungkin sang penulis, J.K. Rowling, sudah mematok harganya sejak mulai menulis baris pertama novel terbarunya itu.
“Raina, ya?” Sepatu bermerk Nike itu tampak menjejeri sepatu flat kremku saat suara itu terdengar. Sepatu Nike yang aku kenali, juga parfumnya. Oh, tidak, jangan-jangan....
“Maaf, dengan Raina?” tanyanya lagi ketika si penanya tadi melihatku yang tidak kunjung mengalihkan pandangan dari sepatu di bawah meja.
“Ya?” Sahutku kemudian ketika akhirnya aku mendongak dan menemukan wajahnya di sana, tersenyum simpul dengan lesung pipit yang tidak begitu dalam. Kemeja kotak-kotak dengan kaos putih di dalamnya, dipadu dengan celana jeans hitam yang tidak skinny. Andai saja Mika ada di sana, ia pasti akan setuju denganku: He is gorgeous.
“Raina Renata?” Dia memastikan dengan menyebutkan nama lengkapku sembari mengulurkan tangannya. Aku tersenyum sembari mengangguk pelan beberapa kali, menyambut uluran tangannya yang hangat.
“Ya, saya Raina. Abimanyu Dewantara?” Aku balik bertanya. Ada gemelitik geli saat menyebut nama lengkapnya yang menurutku, seksi. Ia tersenyum lagi sembari mengangguk.
“Yap!” sahutnya mantap saat jabatan kami terlepas.
“Emm, boleh.... duduk??” tanyanya. Astaga, spontan aku menarik kursi di sebelahku, baru ingat bahwa sedari tadi ia aku biarkan berdiri.
“Oh, ya. Maaf, sampai lupa. Silahkan.” Aku menjawab dengan sedikit gugup.
“Suka novel petualangan ya, Na?” tanya sembari menyerahkan novel bersampul warna merah milikku. Aku hanya mengangguk ketika menerimanya dengan lega, sembari membuka beberapa lembar di dalamnya.
“Tenang, jumlah halamannya masih sama kok.” Aku terkekeh. Ingin rasanya aku nyatakan bahwa aku melakukannya untuk menutupi sikap canggung yang mungkin tidak bisa lagi disembunyikan.
“Bukan gitu, kemarin setelah jatuh, pembatasnya aku taruh sembarangan.” sahutku kemudian, berusaha senormal mungkin. Bersyukur seorang pelayan akhirnya datang dan menyodorkan daftar menu ke hadapan kami. Setidaknya ada jeda waktu untukku mengatur nafas dan sikap guna menghindari kekakuan yang bisa saja membuatku mati gaya. Kami pun sepakat memesan dua porsi spageti, lemon squash untuk dirinya, dan lemon tea untukku. Sang pelayan pun berlalu dengan sopan dan kembali beberapa saat kemudian sembari membawakan pesanan minum kami, mempersilahkan menikmatinya dengan nyaman.

“Kenapa dokter, Bi?” tanyaku setelah ia bilang singkat bahwa dirinya merupakan calon dokter bedah yang setahun lagi akan menyelesaikan program S2nya, siap menyandingi Dokter Tompi di kancah dunia perdokterbedahan Indonesia.
 Ia tampak berfikir sebelum akhirnya menjawab, “Suka aja.”
Aku justru mengerutkan keningku. Menjadi dokter hanya atas dasar ‘suka’?? Segampang mengatakan dasar pilihannya pada lemon squash sebagai minumannya saat ini. Ketika kemudian ia tersenyum lagi melihat ekspresiku, aku justru mengalihkan pandangan. Please, dandan dulu sana jadi bencong, Bi, sebelum aku benar-benar kaku di kursiku karena grogi melihat lesung pipimu berkali-kali.
“Cita-cita dari kecil, Na.” Jawabnya sebelum akhirnya mulai menyendok spageti yang baru saja datang.
“Memang kenapa dengan dokter?” dia balik bertanya.
Aku menelan spagetiku sebelum akhirnya menjawab, “Ah, gak kok. Cuma traumatik masa kecil,” jawabku, takut ia salah paham. “Dan hanya pada dokter gigi.” Lanjutku menjelaskan, membuatnya terkikik geli.

Ini percakapan terpanjang yang aku jalani dengan orang yang baru aku kenal. Setelah tadi menghabiskan makanan di kafe tempat kami bertemu, ia justru mengajakku berkeliling mall untuk menghabiskan sore yang tidak mendung. Banyak yang kami bicarakan, mulai dari target yang belum tercapai, film-film serial favorit, rasa makanan favorit, tanggapan pada permasalahan koruptor Indonesia, sampai hal konyol seperti kapan terakhir kali mengikuti upacara bendera.
Saat kemudian tanpa sengaja ia menghalangi ku dan berdiri di depanku untuk berjalan di antara himpitan beberapa orang, aku pun menyadari bahwa foto tampak belakang yang aku lihat bersama Mika tempo hari lewat akun twitternya bukan hasil rekayasa photoshop, tapi A.S.L.I! Hingga akhirnya pertemuan itu berakhir, aku hanya berharap bahwa serangkaian kejadian sejak di bioskop, pembatas buku yang jatuh, pesan mention di akun twitter, sampai percakapan sepanjang sore ini, bukanlah kebetulan. Aku berharap ini takdir.

***

Salah satu kutipan Einstein yang berbunyi imagination is more important than knowledge tiba-tiba terlintas di otakku. Entah aku yang terlalu memaksakan kondisi dengan kutipan tadi atau memang sebetulkan demikian, tapi semua kejadian sore hari itu adalah apa yang aku khayalkan, yang aku imanjinasikan akan terjadi. Toh itu juga yang dibilang sama Tuhan dalam firmanNya, Aku bersama prasangka hambaKu. See? Ketika aku berharap itu terjadi, maka terjadilah. Kun fa ya kun! Juga ketika kemudian ia mulai sering mengirim sms layaknya orang PDKT, aku masih percaya bahwa apa yang terjadi ini sesuai dengan yang aku harapkan sejak pertemuan sore itu. 
Drrrtt!!!
Aku masih membereskan meja kerjaku, berniat segera pulang ketika akhirnya aku membuka pesan yang masuk. Seperti kehilangan semangat tiba-tiba, aku langsung kembali terduduk di atas kursiku usai membacanya.
sore ini kalian ketemu. kafe plasa lantai 1, jam 5. gak pke kata gak. harus dtg!

Aku menelungkupkan mukaku ke meja. Tas yang tadi sudah siap aku bawa, tergeletak begitu saja di lantai. Gigih, please!!! Bagaimana mungkin aku bisa menemui dua orang yang berbeda di waktu yang sama. Sore nanti, di tempat dan waktu yang sama, Abi mengajakku bertemu dan makan di tempat favoritnya: kafe plasa lantai 1.
Ponselku bergetar lagi.
orangnya pakai kemeja biru. awas jgn telat!

Tundukku semakin dalam ketika pesan gigih yang kedua tersebut masuk.
Dan ponselku bergetar lagi. Hampir saja aku membantingnya jika nama DewaAbi tidak muncul di layar sebagai pengirim pesannya. Tapi, ketika kemudian aku membaca pesannya, itu justru membuatku semakin ingin membenturkan kepalaku berkali-kali ke atas meja.
kalo udah bergkat, blg y, biar aku pesankan makananny. smpai sini tinggl makan :9
see you ;)

Aku tidak tahu harus berbuat apa selain bergegas beranjak dari kursi, meraih tas di lantai, sebelum akhir berlari ke area parkir dan masuk mobil, mengendarainya perlahan menuju plasa.

***

Aku sudah ada di area parkir plasa, berjalan menuju lantai 1 dengan gontai dengan rencana bulat yang sudah aku susun dengan sempurna: diawali dengan menghampiri teman Gigih yang entah bagaimana nanti menghadapinya, berbasa-basi sedikit untuk kemudian pamit segera, dan meluncur menemui lelaki dengan punggung tegap nan gagah, Abimanyu Dewantara. Kemungkinan terburuknya adalah aku akan mengajaknya makan bertiga bersama Abi. Oh, Tuhaaan, renacana ‘sempurna’ macam apa itu?! Dalam hal ini, semboyan ‘terlambat lebih baik daripada tidak’, menjadi alasan yang mendasariku meminta ijin untuk datang terlambat pada basalan pesanku ke Abi. Tidak lagi aku pikirkan reaksi seperti apa yang Abi tunjukkan ketika tahu teman yang aku maksud berada di tempat yang sama dengannya.
Beberapa langkah lagi aku akan masuk kafe plasa yang diminta Gigih. Hh! Aku menghela nafas ketika kemudian mataku berkeliling ke dalam plasa tanpa benar-benar masuk ke dalam, mencari lelaki berkemeja biru. Sekitar lima sampai enam detik kemudian, aku memang melihatnya, tengah duduk santai berdua dengan lelaki lainnya. Aku pun bergegas beranjak dari tempatku di ambang pintu untuk masuk ke sana, menyiapkan mental yang memang sudah ciut sejak keluar dari pintu kantor 20 menit lalu. Tapi, tunggu, aku menghentikan langkahku. Aku mengedipkan mataku untuk memperjelas pandangannya ke arah kursi di ujung sebelah kanan, dekat dengan jendela besar plasa lantai 1 ini.
Gigih???
Ya, itu Gigih, tidak salah lagi. Dia tampak duduk, tertawa lebar bersama seseorang berkemeja biru di hadapannya. Asal tahu saja, yang membuatku ternganga di tempatku jelas bukan karena Gigih yang aku temukan duduk di sana. Tapi, karena lelaki di hadapannya adalah Abi, dan dia satu-satunya lelaki di sana, di kafe plasa lantai 1, yang berkemeja biru.
“Na!!” panggilan itu membuatku mengedipkan mata beberapa kali, menyadarkan diri bahwa aku masih belum beranjak dari tempatku berdiri.
“Sini, Na!” Teriakan kedua terdengar lebih merdu. Jelas karena Abi yang menyuarakannya. Belum juga mengerti dengan semuanya, aku langkahkan kakiku ke sana, agak terburu karena memang ingin segera mendapatkan penjelasan.
“Kalian? Kok....”
Keduanya justru terkekeh ringan melihat reaksiku.
“Sini, duduk dulu. Tegang banget sih kayak lagi ketemu vokalis The Script kebanggaanmu itu.” Ujar Gigih sembari menarikkan kursi untukku, di tengah antara dia dan Abi. Aku menelan ludahku sembari menatap keduanya secara bergantian.
“Nih, lemon tea nya diminum dulu.” Ujar Gigih sembari dengan pelan menyodorkan segelas minuman itu padaku. Aku meneguknya sekali dan meletakkannya dengan sedikit penekanan.
Baru saja aku ingin membuka mulutku untuk bertanya.
“Eits, jangan marah. Ini semua rencana Gigih, Na. Aku tinggal ngejalanin.” Ujar Abi. Aku justru tidak menjawabnya dan malah menatapnya dengan kerutan di dahi semakin dalam.
“Duuh, masih bingung dia, Bro.” ujar Gigih.
“Jadi, Na. Orang yang aku tawarin kemarin, yang aku bilang keren, yang udah kamu tolak mentah-mentah, yang udah ngambilin pembatas buku kamu, yang mention kamu di twitter, adalah orang yang sama: Abimanyu Dewantara alias Abi.” Papar Gigih dengan bangga, persis sama sales yang berhasil membuat konsemennya jatuh hati pada produk yang ditawarkannya.
Aku lemas di tempat dudukku. Antara perasaan marah, kesal, lega, malu, semuanya campur aduk jadi satu dalam satu waktu. Marah dan kesal karena kedua laki-laki di hadapanku ini sudah sukses mengerjaiku habis-habisan. Lega karena kekhawatiran mati gaya dengan pertemuan ganda tadi nyatanya tidak terjadi. Malu karena harus menyadari bahwa aku pernah menolak Abi tanpa melihat wujud bulatnya yang ternyata lebih dari ‘sekadar’ vokalis The Script.
“Aku sengaja atur pertemuan kalian dengan cara seperti ini. Kamu susah banget sih dibujuknya.” Aku pun melotot padanya sebelum akhirnya melayangkan jitakan ke jidatnya berkali-kali.
“Bisa ya bikin orang gak konsen nyetir. Syukur aku gak kenapa-napa tadi di perjalanan. Asal kalian tahu aja seberapa besar keinginanku untuk kabur dari pertemuan ini satu jam yang lalu.” Keduanya terbahak, membuatku melempari keduanya dengan sobekan tisu dari gulungannya di atas meja.
“Ampun, Ibu Suri.” Celetuk Abi.
“Aaaak, kalian nyebelin, tau gak?!”
“Asal kamu tau aja, Na. Abi girang banget waktu kamu akhirnya nanggepin dia lewat twitter.” Ujar Gigih.
Aku melotot sembari melepaskan sedotan pada gelas lemon tes dari bibirku.
“Jadi, kamu sebenarnya nonton film kemarin juga gara-gara tau aku nonton juga? Sengaja, gitu?” Aku masih ingat beberapa twit tentang rencana menonton Fast Furious 6 yang aku posting semalam sebelumnya. Abi mengangguk mantap.
“Termasuk duduk di sampingku?” Aku menebak.
Abi buru-buru menggeleng. “Oh, gak. Itu gak sengaja dan aku juga kaget waktu liat kamu ada di seat sampingku, tepat saat kamu menjatuhkan pembatas buku kamu.”
 “Termasuk waktu akhirnya kamu nemuin novel aku?” Tebakku lagi.
“Ahahaha, iya. Takdir kali.” Ujar Abi, membuatku tersipu dan kembali teringat pada anggapan semual yang aku punya, bahwa semua ini adalah takdir: aku dan Abi adalah takdir.
“Cieee, takdir sih takdir. Cuma ente-ente jangan ngacangin ane dong. Berasa mendadak pake jubah abahnya Harry Potter nih, invisible.” Kami terkekeh mendengarnya.
“Nah, ente ngapain ikut duduk sini, ganggu aja.” Sahutku jahil, membuat Gigih semakin manyun.
“Ah kamu, beraninya kalau ada temen.”

***

Hujan sore ini baru saja berhenti ketika aku masih berada di dalam mobil, menyetir sendiri dengan kecepatan sedang. Beberapa tetes airnya masih bersisa di jendela sisi kananku, menyisakan embun tebal yang sanggup memuat namanya yang bisa aku tulis berkali-kali: Abimanyu Dewantara.
Saat lampu merah mengharuskan aku menginjak pedal rem, aku sempat merasakan bagaimana satu per satu kejadian tiga minggu terakhir kemarin sanggup membuatku tidak berhenti percaya bahwa Tuhan ada di balik ini semua. Bahwa segala awal yang dimulai dengan keyakinan, akan diakhiri dengan kadar yang sama dengan keyakinan tadi: bahagia untuk bahagia.
Jika memang menjadi golongan minoritas dengan kelajangan yang tidak kunjung berhenti sanggup membuat perasaan resah, gelisah, dan susah, maka aku tidak lagi perlu merasakannya. Ketika kemudian perihal perizinan, kecemburuan, dan oleh-oleh buah perhatian menjadi bagian darinya, perlu dicatat bahwa ketiganya menjadikan yang ada lebih berharmoni, lebih bersimfoni. Tentu, itu semua tidak terjadi begitu saja bahwa ketika aku menginginkannya kemudian berubah sesuai dengan yang aku mau tanpa apapun yang mengawalinya. Ada hal lain yang perlu terjadi, entah sesuai dengan dugaan atau justru jauh dari yang pernah terbayangkan. Asal pada akhirnya menjadi akhir yang bahagia, segala hal yang tidak terduga dan mengesalkan di awalnya itu menjadi hal berharga yang tidak ingin dilupakan kejadiannya. Seperti juga aku yang masih sempat tersenyum dengan tertegun menatap layar dengan sebaris kalimat majemuk bertingkat yang baru saja aku baca pada timeline di ponselku:
@DewAbi
RT @damnistrue maybe I’m too late to be your first. but rigth now, I’m preparing myself to be your last

Masih tetap tersenyum, aku pun melakukan hal yang sama. Tidak perlu dikatakan langsung, ungkapan selanjutnya yang aku lakukan ini tentu aku tujukan untukknya:
@rain_A
RT @damnistrue You are one of those beautiful things that happened to my life and made my life worthwhile :*

Gerimis turun lagi bersamaam dengan padamnya lampu merah dan menyalanya lampu hijau, membiarkan kakiku kembali menginjak pedal gas, berlalu dari jalanan becek di perempatan padat itu. Seseorang sudah menunggu dengan sabar di tempat makan favoritnya: kafe plasa lantai 1.
“Tidak perlu terburu-buru, aku tunggu kamu sampai selesai,” Ujarnya sekitar 30 menit lalu lewat panggilan singkat. Abi ingin bertemu lagi. Kali ini bukan sebagai pemungut pembatas buku dan sahabat dari teman baikku. Ia menunggu sebagai orang lain: lebih dari teman, lebih dari sahabat dari teman.

-Kota ASRI, 13 Juni 2013-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar