Kamis, 30 Mei 2013

First Anniversary

JUMAT
10.23 WIB (Beranda Fresh Florist)
Dengusan itu terdengar di telinganya sendiri. Ponsel layar sentuh di tangan kirinya baru saja mati. Dari enggahan nafas yang menderu, tampak bahwa ia menahan kesal. Siapa lagi kalau bukan pada kekasihnya. Sebenarnya, bukan hal besar kalau saja kekasihnya itu mau meluangkan satu akhir pekannya saja untuk satu tahunan mereka: firts anniversary. Pergi dengan kendaraan umum tanpa mengaktivkan ponsel dan gadget apapun untuk kemudian naik kereta ke satu tempat di kota lain, dan menghabiskan waktu bersama, berdua di tempat itu. Sudah, cukup dan kemudian ia akan melepaskan lelaki tersayangnya itu kembali ‘intim’ dengan pekerjaan tercintanya.

“Aku batalkan saja semuanya kalau memang itu maumu!” bentaknya lima belas menit lalu pada lelaki yang disebutnya ‘kekasih’. Kekesalannya mencuat saat menyadari bahwa lelaki itu lebih memilih pekerjaannya dibandingkan dirinya. Berlebihan mungkin, tapi ia hanya minta satu hari, bukan satu bulan atau bahkan satu windu. Ia sudah sering melepaskan kerinduannya begitu saja saat kemudian pekerjaan lelakinya sebagai konsultan menjadi penghalang pertemuan mereka.
“.... Toh perayaan semacam itu kan bisa dilakukan kapan saja." Geram sekali rasanya saat ia mendengar ucapan itu di telinganya. Tega! Bahkan kekasihnya mengentengkan saja hal semacam itu?? Dan ketika kekasihnya itu memohon untuk dirinya mengerti, ia sudah tidak sanggup lagi dan memilih untuk menyudahi saja percakapan yang terjadi.

10.10 WIB (Ruang Konsultan)
“Mona, tolong mengerti. Pekerjaanku harus selesai besok. Toh perayaan semacam itu kan bisa dilakukan kapan saja.” Ujarnya masih dengan berdiri karena memang belum sempat duduk dengan tenang. Tangannya tampak mengusap kening yang tidak berkeringat saat ia menyimak kekesalan perempuang tersayangnya dari ponsel di telinganya.
“Iyaa, aku tahu itu penting untuk kita. Tapi, Pak Wisnu minta aku untuk bertemu dengan klien baru besok siang. Kalau pun kita tetap pergi, kita tidak akan fokus, Mona. Jadi tolong.....”
Telepon di tangannya membunyikan nada panjang, putus.         
“Mon, Mona tunggu. Mona??!” Tuuuuuuut!
Sadar atau tidak, seketika itu juga ia membanting ponsel di tangannya. Lalu dengan kekesalan luar biasa, ia menghempaskan tubuh di atas kursi hitam di belakangnya. Keningnya juga tampak berkedut beberapa kali menahan semua beban pekerjaan yang ditanggungnya. Ia kesal, bahkan marah karena sikap kekanakan yang dimiliki perempuannya, wanitanya, yang rencananya akan menjadi calon istrinya kelak. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa perempuan itu tidak mau mengerti dirinya bahkan di saat semua pihak menuntut kualitas kerjanya saat itu. Ia tahu, ia sudah berjanji tentang jalan-jalan di satu tahunan mereka berdua. Tapi, ia juga tidak bisa bertanggung jawab nantinya kalau urusan pribadinya tentang cinta itu menjadikannya kehilangan pekerjaan impiannya.

“Terus saja kamu urus bosmu. Sudahlah, aku batalkan saja semuanya kalau memang itu maumu!”
Ia menghela nafas dalam ketika ucapan-ucapan itu terngiang lagi di telinganya. Ada sedikit rasa sesal memang ketika kemudian ia mengatur lagi nafasnya. Ketika kemudian hendak menghubungi lagi perempuannya, ia baru sadar ponselnya rusak, terpental menjadi beberapa bagian karena bantingannya tadi terlalu keras.
“Mas Reno, sudah ditunggu Pak Wisnu di lobi.” Ujar Prapto, supir kantor, padanya di ambang pintu. Lelaki bernama Reno itu hanya mengangguk sembari –terpaksa—tersenyum. Setelah sebelumnya meminta Prapto membawakan ponselnya ke tukang servis, ia pun beranjak dari ruangannya menuju lobi, mendatangi bosnya. Ia sudah bertekad, sepulang dari kantor nanti, ia akan mengunjungi perempuannya dan meluruskan semuanya.

11.00 WIB (Fresh Florist)
Ia merasa lebih baik setelah mencuci mukanya. Terasa lebih segar meski kekesalannya masih bersisa. 
Tring!!
Suara denting bel kecil di pintu tokonya berbunyi dan ia tersenyum saat melihat seorang wanita paruh baya masuk. Kaca mata tebal yang dikenakannya tidak menutup kecantikan masa mudanya. Ia pun balas tersenyum.
“Ingin bunga apa, Tante?” Sapanya dengan lembut.
“Lily putihnya saja, Mbak. Minta dirangkaikan ya, yang cantik.” Mona mengangguk.
“Untuk siapa, Tante, bunganya?” tanyanya kemudian. Lalu dering itu menyusul, dering ponsel dari ibu paruh baya.
“Saya tinggal sebentar ya?” pintanya tanpa sempat menjawab pertanyaan Mona. Sesaat kemudian, ibu paruh baya kembali.
“Maaf, tadi itu suami saya.”
“Tidak apa-apa, Tante. Jadi, Tante membeli bunga Lily ini untuk siapa?”
“Untuk anak saya.”
“Ulang tahun?”
“Ya, yang ke 18.”
Mona mengangguk sembari merapihkan ikatan pita pada seikat rangkaian bunga di tangannya.
“Biasanya saya pergi dengan suami. Tapi tadi dia bilang tidak bisa, ya sudah, saya saja tidak apa-apa?”
“Memangnya kemana sampai tidak bisa mengantar, Tante?”
“Biasa, pekerjannya masih harus dilembur, jadi ia harus tetap di kantornya tanpa bisa mengantar saya ke daerah Kalibata.” Mona tidak langsung merespon.
“Kali...bata?”
Ibu paruh baya tersenyum. “Iyya, Kalibata, kompleks pemakaman Kalibata. Anak saya dimakamkan di sana sejak dua tahun lalu.” ujarnya tanpa beban. “Anak saya terkena Sirosis. Donor hatinya terlambat datang.” Ada rasa pahit ketika Mona perlahan menelan ludah.
“Tidak apa kok, sudah berlalu dan saya sudah bisa membiarkannya pergi.”
“Dan ibu tidak apa pergi sendiri? Apa suami ibu lalu tidak akan datang ke ulang tahun anak ibu?”
“Ooh, tentu datang dan itu pasti dengan saya, meski saya harus bolak balik dari rumah. Suami saya sibuk, Mbak.”
“Ibu... tidak pernah marah dengan itu?”
Ibu menggeleng. “Tidak dong. Sama sekali. Dunianya ya dunianya. Dunia saya, ya dunia saya. Kami tidak ingin saling merusak dunia masing-masing. Meski hampir selalu terlambat, toh dia tidak pernah lupa dengan ulang tahun anaknya, juga ulang tahun saya. Lebih baik terlambat, kan dibandingkan tidak, bukan?”
Deg!!! Kata-kata itu menancap tepat di dadanya. Betapa ibu paruh baya ini mengerti dengan segala tentang suaminya, menerima apa adanya. Sedangkan ia?
“Jadi, berapa, Mbak?” Pertanyaan itu membuyarkannya.
“Ohh, 150 ribu, Tante.”

Ia terduduk di kursi dekat mejanya saat akhirnya sang ibu paruh baya itu berlalu pergi dari tokonya. Lebih baik terlambat, kan dibandingkan tidak?” Ucapan itu terbayang lagi. Itu tamparan yang keras untuknya. Ia sadar, apa yang baru saja didengarnya berkebalikan dengan yang dilakukannya. Ia justru memaksa lelakinya mengikuti dunianya tanpa bisa mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam dunia lelakinya itu. Sebelum nantinya ia berubah pikiran, ia bergegas beranjak dari kursinya dan meraih tas kecil di sisi meja, berniat mendatangi kekasihnya, setelah sebelumnya membeli sekotak nasi padang sebagai oleh-oleh makan siang.
Ketika akhirnya bus yang ditunggunya datang dan kemudian memilih untuk duduk di barisan terdepan, ia meraih ponsel layar sentuhnya dari dalam tas dan mencari satu nomor, meninggalkan satu pesan suara ketika sang operator menyatakan telpon yang dituju tidak aktif.
Sayang, maaf tadi aku emosi. Sekarang di mana? Aku ke kantor kamu ya. Aku bawakan nasi padang kesukaan kamu. Kalau kamu memang masih keluar, tidak perlu terburu. Aku tunggu sampai kamu selesai. Love You.
Darrrr!!!! Brak!!!
Ledakan dan hantaman itu tiba-tiba terdengar selepas Mona meninggalkan pesan suara. Entah darimana sumbernya, tapi setelah itu yang Mona tahu hanya bahwa tubuhnya terpental dari kursi satu ke kursi lainnya, bersama penumpang yang satu dengan penumpang lainnya. Sejenak kemudian, tidak ada yang bisa dipandangnya karena semua menjadi gelap. Yang ia tahu, sebuah tangan meraihnya dengan paksa sebelum akhirnya suara ledakan selanjutnya terdengar hingga telinganya berdenging.
nggggggggggggggggg.....!!!

12.00 WIB Pertemuan dengan Klien
Reno masih dalam percakapan serius dengan klien dan bosnya ketika tiba-tiba telinganya berdenging, nyeri.
“Awww!!!” Serunya, membuat Pak Wisnu dan Pak Irwan, kliennya, menoleh padanya.
“Pak Reno, ada apa?” Reno mengedipkan matanya beberapa kali sembari memegangi telinganya. Sungguh sakit dan baru kali itu.
“Pak Reno?” Pak Wisnu mengulangi pertanyaannya.
“Ya?” Sahut Reno cepat.
“Anda, baik-baik saja?” Tatapan mata Pak Wisnu sedikit khawatir. Reno menarik nafas dalam, memastikan nyeri itu sudah hilang.
“Ah, ya Pak, saya baik-baik saja.” Aneh, batinnya. “Mari kita lanjutkan.” Ujarnya kemudian. Pak Wisnu tampak lega. “Oke, jadi nanti konsep yang kita gunakan dalam proyek ini adalah.......” Reno tidak lagi begitu menyimak diskusi yang terjadi. Pikirannya mendadak tidak tenang dan tentu, itu karena pertengkarannya dengan Mona pagi tadi. Mendadak, jarum kecil di arlojinya seakan bergerak sangat lambat baginya: ia ingin waktu berputar lebih cepat. Ia harus segera bertemu dengan perempuannya.

 14.00 WIB Rumah Sakit-ICU
Tangannya gemetar saat meraih pena itu dari tangan mamanya. Kepalanya terasa sangat berat ketika kemudian larik demi larik itu tertulis dengan singkat di atas kertas di hadapannya. Ia tahu, tidak banyak waktu yang ia punya. Hanya perlu menyatakan maaf sebelum terlambat, meski tidak dengan tatap muka. Larik terakhir pun sudah selesai dan diakhir titik sebelum akhirnya kertas tadi terlipat rapih dengan nama RENO di atasnya. Sementara menit-menit itu berlalu dengan perlahan, ia sempat menyerahkan lipatan tadi pada mamanya tanpa bisa bersuara. Ia juga sempat merasakan desakan keras di tenggorokannya saat mamanya tampak panik menatapnya. Hingga akhirnya matanya terpejam dan garis lurus pada layar itu yang tampak, Mona hanya merasakan tubuhnya dingin, kemudian terbang, pergi sari sana untuk selamanya.

21.00 WIB Area Apartemen Reno
Reno belum juga keluar dari mobilnya. Ia berdiam di sana sejak satu jam lalu. Menangis sejadinya, menyesali semuanya. Pertengkaran pagi tadi menjadi saat terakhir ia mendengar suara Mona. Ia memang sempat melihat wajah Mona, bertatap muka dengan Mona. Tapi, muka yang ditatapnya tidak lagi bisa tersenyum, tidak lagi bisa bersungut kesal.

“Mona mengalami kecelakaan di perjalanan ke kantor kamu, Reno.”
Ujar mama Mona padanya saat beberapa jam lalu ia tiba di rumah duka. Reno sempat menyangka bahwa diirnya salah rumah ketika mendapati banyak mobil dan tamu di beranda. Ia masih sempat bertanya ada apa? pada salah seorang tamu yang datang sebelum akhirnya mama Mona menghambur keluar dan memeluknya dengan tangis. Saat itulah ia sadar, ia tidak salah masuk rumah. Saat itu juga ia tahu, bahwa ucapana ada apa? yang ditanyakan tadi mendapat jawaban yang sanggup membuatnya lemas di kakinya sendiri dan terpuruk di kaki mama Mona. Mona meninggal setelah mengalami kecelakaan bus yang ditumpanginya. Benturan pada kepalanya menyebabkan Mona kehilangan banyak darah dan tidak bisa lagi tertolong. Berulang kali ia mengucapkan maaf untuk tidak segera datang, untuk tidak segera menyadari isyarat dari suara denging yang sempat dirasakannya ketika pertemuan dengan kliennya tadi.
Ia mendengarkan lagi suara Mona di kotak pesan suara ponselnya. Prapto yang menyerahkan ponsel itu padanya beberapa saat setelah ia sampai di area parkir apartemennya. Pesan itu diterimanya bersama 5 pesan singkat dari mama Mona. Ia berteriak. Marah pada dirinya sendiri.
Perlahan, tangannya bergerak ke dalam saku kemejanya yang sudah tampak kusut bukan main: menarik keluar satu lipatan kertas yang sedari tadi ditahannya untuk tidak dibuka. Bukan karena tidak ingin membacanya, tapi ia takut itu justru akan semakin membuatnya ingin bunuh diri.
Tulisan tidak rapih itu terlihat saat lipatan kertas di tangannya akhirnya terbuka di depan matanya.

Reno, maaf ya untuk semua hal yang terjadi pagi tadi. Aku salah, aku tidak bisa mengerti kondisi yang kamu hadapi. Aku terlalu kekanankan. Oya, maaf juga karena nasi padang kesukaan kamu belum sempat aku antar ke kantor. Pasti kamu belum makan siang kan sampai sekarang? Jangan lupa makan, ya, Sayang.
Oya, kamu tahu, tempat yang aku ceritakan sebagai tempat perayaan first anniversary kita besok bagus sekali, lho. Romantis. Kamu harus tetap kesana, ya, meski tanpa aku.  Aku ingin kamu bisa melihat keindahan yang pernah aku lihat. Jangan lupa sampaikan salamku pada kicauan burung di sana ya. Happy first anniversay, Honey. Love you, always.

Mona

Isak itu terdengar semakin kencang.
“Aaaaaaaaaaa!!!!” Teriakan itu terdengar melengking selanjutnya: menyakitkan, menembus malam yang pekat dan sepi.

SABTU
10.00 WIB Suatu tempat untuk perayaan
Yang dikatakan Mona memang benar. Tempat itu indah, romantis. Padang ilalang yang luas, rumah pohon yang dibangun dengan sederhana namun artistik, kicauan burung kecil yang merdu, juga hawa sejuk pedesaan yang jarang ia temukan selama ini.
“Ini, sungguh indah, Mona.”Ucapnya lirih.
Ada desiran ketenangan ketika ia memejamkan matanya, membayangkan tawa riang Mona yang mungkin bisa ia dengar jika perempuan tercintanya itu juga di sana, bersamanya. Membayangkan raut muka dengan binar yang sudah ia hafal sejak setahun yang lalu jika perempuan tersayangnya itu menemaninya, di sisinya.
“Happy firts anniversary, Dear Mona.” Bisiknya lagi. Kali ini, sesak yang sehari lalu ia rasakan perlahan hilang, sembuh. Mungkin karena Mona sudah memaafkannya. Dan mungkin juga karena Mona sebenarnya ingin Reno tetap bahagia, meski tanpa dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar