Selasa, 25 Agustus 2015

Bahasa dan Usia

Usia menjadi faktor sosial lain yang menunjukkan perbedaan bahasa dalam masyarakat. Contoh paling mudah adalah perbedaan bahasa antara balita dan anak-anak. Balita cenderung mengucapkan kata atau bahasa yang sederhana, terdiri atas kalimat pendek dan tidak resmi bahkan tidak baku. Hal ini tentunya berbeda dengan remaja yang sudah melalui beberapa pembelajaran bahasa dan pergaulan sosial yang memungkinkan kemampuan berbahasanya lebih tinggi dibandingkan balita tadi. Kemampuan tersebut tidak hanya mengenai kosakata, tetapi juga diksi yang digunakan, termasuk juga kekompleksan kelaimat yang diujarkan.
Selain itu, jika sedikit meninjau ke usia yang lebih muda lagi, dapat diketahui bahwa balita cenderung mengucapkan bunyi-bunyi bilaial dan nasal, seperti [m], [b], [n]. Bunyi-bunyi ini tidak terjadi begitu saja atau karena si balita memilihnya. Pemroduksian bunyi tersebut disebabkan oleh alat artikulasi balita belum selengkap remaja atau bahkan dewasa, misalnya jumlah gigi yang sudah tumbuh dan panjang lidah.
Selain itu, usia pun menunjukkan pengaruhnya atau keterkaitannya dengan bahasa pada penggunaan bahasa slang. Remaja merupakan kelompok usia yang cenderung lebih sering menggunakan bahasa slang. Dalam hal ini, bahasa slang merupakan salah satu variasi bahasa yang sering kali berubah dan menjadi tanda atau identitas suatu kelompok tertentu. kebanyakan penggunaan bahasa slang ini merupakan bentuk keinginan untuk diakui dalam masyarakat yang tentunya berbeda dengan kelompok masyarakat lain. Dengan sikap semacam ini, remaja sering kali tidak hanya menggunakan, tetapi justru juga menciptakan bahasa slang tersebut sebagai penandanya yang berbeda dari remaja lain.
Selain itu, stereotip bahwa bahasa slang hanya untuk remaja menjadi satu sebab ditinggalkannya bahasa tersebut oleh para dewasa. Keinginan diakui sebagai seseorang yang lebih dewasa dapat menjadi satu faktor paling mudah yang mempengaruhi.
Lain lagi dengan perbedaan usian antara remaja dengan lansia. Tentunya kedua rentang usia ini menunjukkan bahasa yang berbeda. Faktor adanya alat artikulasi yang tidak lagi sempurna menjadi satu faktor penyebab perbedaan. Misalnya, pengucapan bunyi [s] dan [r] antara kedua rentang usia tersebut pasti akan berbeda jika dikaitkan dengan kondisi gigi seri penuturnya. Lansia yang gigi serinya telah tanggal tidak akan menghasilkan kedua bunyi tadi sejelas remaja yang gigi serinya masih dalam keadaan sempurna dan sehat.
Dari sejumlah contoh kasus tesebut, dapat diketahui bahwa antara bahasa dan usia terjalin kaitan secara sosial, bahwa pada usia yang berbeda, bahasa yang diproduksi juga berbeda. Demikian pula sebaliknya bahwa bahasa yang digunakan, secara langsung ataupun tidak, seseorang akan dapat menebak rentang usia normal yang dimiliki seseorang tersebut.

Bahasa dan Masyarakat




Sosiolinguistik adalah satu cabang ilmu bahasa yang di dalamnya tercakup ilmu bahasa dan ilmu sosial. Salah satu bahasan di dalamnya adalah bahasa dan masyarakat. Keterkaitan antara bahasa dan masyarakat ini tentunya memunculkan fenomena bahasa yang tidak dapat terlepas dari masyarakat penggunanya. Ini berkaitan dengan pendapat Wardhaugh mengenai kemungkinan keterkaitan yang mungkin terjadi antara bahasa dan masyarakat, yaitu a) bahasa dan masyarakat saling mempengaruhi, b) bahasa mempengaruhi masyarakat, c) masyarakat mempengaruhi bahasa, dan d) bahasa dan masyarakat tidak saling mempengaruhi.
Dari keempat kemungkinan kaitan bahasa dan masyarakat ini dapat dilihat bahwa fenomena bahasa dan variasi serta ragam bahasa yang ada dalam konteks sosial masyarakat sangat menarik untuk dikaji. Salah satu bentuk fenomena kaitan ini pernah disampaikan dalam sebuah pendapat. Mesthrie, dkk. (2001:6) menyatakan bahwa sebuah bahasa tidak hanya merupakan sarana penyampai ide dan maksud, tetapi juga berfungsi sebagai penanda mengenai kelas sosial, agama, atau gender tertentu yang dimiliki oleh penutur. Holmes (1992:3) pernah mempertanyakan “mengapa kita harus berbicara dengan cara yang berbeda?” Pertanyaan ini menuntut penjelasan yang sangat detail yang mengacu pada sebuah inti bahwa kondisi masyarakat yang berbeda, memunculkan berbagai jenis penggunaan bahasa yang berbeda pula.

Kondisi Bahasa Daerah



Kondisi masyarakat yang multikultural menjadikan suatu masyarakat tersebut sekaligus menjadi masyarakat multilingual. Masyarakat tersebut umumnya tidak hanya memiliki satu jenis bahasa yang dikuasai, tetapi juga sejumlah bahasa lain yang turut digunakan di lingkungannya. Indonesia merupakan satu negara multikultural dan multilingual yang tidak hanya terdiri atas bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dan bahasa resmi, tetapi juga berbagai macam bahasa daerah dan bahasa lingua franca Internasional berupa bahasa asing. Umumnya, masyarakat Indonesia memiliki tiga bahasa, yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu, bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dan resmi kenegaraan, serta bahasa asing sebagai bahasa Lingua Franca Internasional.
Jika dikaitkan dengan kelangsungan hidup ketiga bahasa tadi, bahasa daerah menjadi bahasa yang nasibnya paling mengkhawatirkan. Kondisi bahasa Indonesia yang selalu wajib dikuasai di dunia pendidikan dan bahasa asing yang semakin hari semakin banyak dipilih untuk digunakan dalam layanan publik menjadikan bahasa daerah seakan tersingkirkan. Banyak dari orang tua kemudian memilih bahasa Indonesia atau bahasa asing, seperti bahasa Inggris, sebagai bahasa ibu untuk anak-anaknya. Tentunya kondisi semacam ini memerlukan perhatian lebih agar bahasa-bahasa daerah di Indonesia tetap hidup dan lestari pada tiap generasi Indonesia. 

Rabu, 22 Januari 2014

"Maaf, Fa." (#FF2in1)

"..."
"Jadi kita sudahi saja 4 tahun kita?" Perempuan itu menggigit bibir bahwanya, tanpa sengaja. Pertanyaan yang baru saja dilontarkannya sungguh terasa sakit di telinganya sendiri. Lelaki di depannya hanya diam.
"Jawab, Bi, jawab. Jangan diam saja." Lelaki yang dimaksud, yang berdiri dengan serba salah , menelan ludahnya, bulat-bulat, besar-besar, hingga tenggorokan yang tadi tercekat dan kering, terasa perih.
"Iya, Fa. Maaf. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Dengar, Fa." Tegas lelaki itu. "Orang tuamu ingin kamu segera menikah. Rama, datang padamu dan memintamu menjadi istrinya. Orang tuamu menyukainya. Kalian bisa menikah. Apalagi?"
Fa mendengus, hatinya sakit.
"Aku ingin yang ada di tempat Rama berdiri adalah kamu, Bian, kamu." Bian menarik napasnya, berat.
"A-aku tidak bisa, Fa. Bagaimana bisa jika harus sekarang. Aku tidak bisa jika harus menikah secepat yang orang tuamu minta. Aku tidak bisa membiarkan kamu menunggu sesuatu yang bahkan aku belum tahu kepastiannya ketika bahkan Rama menawarkan kepastian itu."
"...."
"Aku tidak bisa, Fa."
"Aku lebih tidak bisa, Bi. Please, pertimbangkan lagi dan..."
"Cukup, Fa. Aku benar-benar tidak bisa. Maaf, Fa." Fa menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya menghapus semua derai yang membuat pipi tembamnya basah, membuat hidung mungilnya merah, bengkak. Ia mengangguk sekali.
"Oke, aku mengerti. Aku paham karena memang sejak awal hanya aku yang ada di medan pertempuran ini, berjuang sendiri. Kamu tidak. Kamu hanya diam di garis batas perlawanan and doing nothing. Kamu hanya takut kamu terluka. Lalu bagaimana dengan aku? Kamu akan membiarkan aku terluka sendiri?
"Justru itu bagian tersakitnya, Fa." Ia setengah membentak, sembari mengguncangkan pundak perempuan di depannnya, yang lambat laun bergetar menahan agar tidak menangis. "Itu bagian tersulit karena justru aku akan terus memandangi kamu tersakiti berada di medan itu sendiri tanpa bisa tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Aku tidak bisa barang sedikutpun menyusulmu, berjuang bersamamu. AKu juga tidak bisa mengajakmu mundur dan menungguku sampai aku benar-benar bisa berada di sisimu, membelamu, berjuang bersama kamu."
Keduanya diam. Sama-sama merasakan betapa memang keduanya tidak bisa, keduanya harus pergi, memilih jalan yang berbeda. Saat kemudian mereka berpisah, menjauh, luka pada masing-masing hati itu makin lebar, menganga. Bian, dalam katupan kedua bibirnya, mengutuk dirinya berkali. Ia tahu ini salah, membiarkan Fa, orang tercintanya pergi. Namun, ia pun tidak bisa tetap membiarkan Fa menunggu, "Perempuan butuh kepastian, Le." begitu kata ibunya suatu kali.
Saat kemudian bayangan Fa menghilang, ia tahu, bayangan itu takkan pernah dilihatnya lagi. Ia telah melepasnya pergi.
Maaf, Fa.

Jumat, 17 Januari 2014

Elegi di Pagi Hari

Ah, pagi hujan. Sepagian ini aku masih bergumul dalam dua lapis selimut berwarna biru laut. Ini selimut... sial, mengapa aku masih memakainya. Oke, aku bilang ini selimut couple kami, aku dan dia.
Couple-an kok selimut.” Ingin aku lempar dengan panci ketika Rere, teman satu rumahku, berkomentar demikian.
Oke, ini hari Sabtu dan seharusnya aku lebih sibuk dengan mimpi keempat ku, terserah tentang apa. Mengapa keempat? Karena mimpi ketiga sudah aku jalani sebelum terbangun untuk shalat subuh untuk kemudian tidur lagi menyambut mimpi macam apa saja setelah mataku benar-benar telelap. Pekerjaan semacam editor memang jarang-jarang bisa menganggur seenak udelnya seperti sekarang. Tapi, itu seharusnya. Masih bisa ingat kan menagapa kata seharusnya di awal tadi aku miringkan? Itu memang karena semua yang aku ceritkan tentang mimpi keempat adalah seharusnya. Dan karena memang seharusnya, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Aku masih terjaga sejak subuh jam 4 pagi tadi. Aku tidak bisa tidur lagi.
Memilih novel karya Cristian Simamora berjudul All You Can Eat di saat genting seperti ini sungguh salahh besar.
Tema yang dibahas di dalamnya adalah mantan tak tau diri yang terang-terangan bercokol di otak para tokohnya. Mungkin, jika aku mengakui apa yang tengah bercokol juga di otakku sekarang, aku bisa menjadi salah satu tokoh tambahan di dalam novel itu. Shit. Mau sampai kapan, Em, menye-menye begitu?

Dan, here I am, mengurung diri di kamar, bergumul di dalam dua lapis selimut couple, menyumpal telinga dengan earphone yang menjuntai dari I-Pod berwarna merah muda. Lalu, memegang satu novel tebal yang aku bilang sial tadi sembari menatap hujan dari jendela yang sengaja aku buka gordennya. Sangat serasi dengan seting novel dalam naskah-naskah yang aku sunting setiap harinya. Aku sengaja melalukannya. Paling tidak aku bisa lah melupakannya, sebentar saja berada pada dimensi ruang yang berbeda, dengan menikmati me-time. Pengalihan dengan semua yang aku lakukan pagi ini sepertinya tidak cukup jika aku tidak mematikan alat komunikasi. Maka, semua akses seperti ponsel dan tablet galaxy 2 pemberian ayah pun sengaja aku nonaktifkan.
Pretending not to love you was the hardest thing I’ve ever done (Pretty Little liar, 2010 TV Series).
Ini kutipan yang baru saja aku baca pada halaman 395. Siaal! Bukannya teralihkan dari isu permantanan aku justru semakin tenggelam di dalamnya. Maka, tanpa lagi menunda, aku pun melepaskan novel tebal itu dan setengah melemparnya ke ujung tempat tidur. Helaan napas panjang itu menandakan bahwa ada sedikit lega. Aku ingin pengalihan bukan penguatan atas apa yang aku rasakan. Mimpi semalam, ah, sungguh tidak ada keingin lagi untuk mengingatnya. Tapi, entah siapa yang pertama kali menjadikan mimpi sebagai bagian dari bunga tidur jika yang dimimpikan adalah hal yang bahkan jauh dari keindahan. Bunga itu indah, dan mimpi berisi mantan kekasih yang ingin setengah mati dilupakan bukan suatu keindahan.
Kamu, ya, kamu, datang semalam tanpa permisi lebih dulu. Kamu datang dalam mimpiku dengan serta merta mengajakku berkenalan dengan orang tuamu. Sialnya lagi, aku hanya bersedia dengan segala macam tetek bengek kebahagiaan menggantung di pelupuk mata yang berbinar. Namanya juga mimpi, aku bisa melihat diriku sendiri di dalamnya sekaligus merakan apa yang dirasakan tokoh yang aku lihat. Oh, mimpi yang oh-so-absurd ini berlanjut ketika kamu kemudian menyebutkan bahwa lelaki yang duduk di kemudi mobil berwarna metalik itu adalah ayahmu. Ayah yang kamu banggakan dan selalu kamu sebut sebagai seseorang yang ingin sekali kamu tiru caranya melindungi istrinya. Lalu, ketika kemudian mataku beralih pada wanita di jok belakang, tepat di belakang ayahmu, wanita itu tersenyu, ramah sekali. Bahkan aku mampu menjadi pengagumnya di pandangan pertama. Itu ibumu, katamu. Ibu yang selama ini kamu panggil dengan ‘mama’ pada suatu ketika kita bersama dan beliau menelpon, menanyakan apakah kamu tidak lupa mengantarkan surat titipan untuk wali kelas adikmu yang tengah sakit.
Lalu, ketika aku jabat tangannya, tangan itu lembut sekali, tangan yang sering kamu bilang pandai mengolah masakan menjadi materpiecenya. Dan satu koemntar yang aku terima kemudian di sela jabat tangan singkat itu sungguh membuat hatiku bengkak.
“Ema, ya? Lebih cantik ya dari yang sering Pandu ceritakan pada mama.”
Aku hanya tersenyum. Dan seperti yang aku lihat, senyumku saat itu, semalam, sungguh senyum bahagia. Seerpti itukah raut wajahku ketika aku ada di sekitarmu, Ndu? Seperti itukah raut mukaku tiap kamu dengan sengaja datang mengetuk pintu apartemenku dan mengucap Aku kangen kamu di detik pertama aku membukakan pintu? Seperti itukah juga raut muka yang aku punya sebelum kamu bilang Kita sudahi saja ya semuanya? Lalu, seperti itukah raut muka yang rela kamu tinggalkan untuk pergi selamanya bersama gadis piliha orang tuamu. Orang tua yang baru saja kamu perkenalkan dalam mimpi semalam. Mereka memilih gadis terbaiknya untukmu, gadis yang tidak banyak mengikutseratakan orang tua dalam hubungan kalian, gadis yang tidak banyak protes ketika kamu mencetuskan sebuah isu untuk diperbincangkan dengan serius, layaknya para politikus berdebat di layar kaca televisi. Lalu, satu lagi, gadis itu adalah gadis yang usianya jauh di bawahmu, bukan gadis yang seurusia dengan mu atau lebih tua dari mu. Kamu masih ingatkan, kamu pernah bilang, ayahmu tidak setuju jika kamu menikah dengan wanita yang lebih tua dari mu, barang 3 bulan, seperti aku? Maka, selamat ya adalah kalimat terakhir yang aku ucapkan untukmu di hari pertunangan kalian hari itu.
Kamu tahu, Ndu, gambaran orang tua yang sungguh ramah, dengan suara berat ayahmu yang penuh wibawa, dan tangan halus mamamu yang kamu bilang pandai memasak itu hilang. Sama sekali. Bukan aku membenci mereka. Bahkan mereka berhak membuangku jauh di ujung kutub jika memang perlu karena mereka adalah orang tuamu yang ingin hal terbaik untuk hidup anak laki-laki satu-satunya. Tapi, Pandu, biasakah kamu pergi dengan membawa semua memori yang aku punya. Atau, paling tidak, bisakah kamu lempar aku ke masa lalu agar ketika siang gerimis itu aku mengatakan tidak saja atas ajakan kamu untuk kita berjanji menjadikan aku dan kamu menjadi kita?
Tanpa sadar, mataku terpejam. Bukan tidur. Aku menahan agar aku tidak terisak lagi. Oke, itu hanya usaha karena bagaimanapun aku berusaha, mataku tetap basah. Aku tetap terisak di tempat tidurku, berselimut couple yang entah kapan akan aku singkapkan untuk tidak lagi aku gunakan. Alih-alih membuangnya ke ujung tempat tidur, aku justru merapatkan selimut itu penuh hingga ke dahu, menyisakan kepalaku yang tampak tenggelam di antara bantal bersepreai coklat muda dengan motif batik pemberian Eyang Lebaran lalu.
Ting tong!
Aku tersentak, kaget. Bel sialan! Aku merutuk. Pukul 06.13 tertera pada jam digital di atas nakas. Siapa yang sepagi ini datang? Oh please, ini hari sabtu dan biasakan aku memperlakukannya sebagai hari sabtu dan bukan hari senin-selasa-rabu-kamis-jumat??
Mataku sembab ketika aku menghadap kaca. Sungguh pemandangan terkacau yang aku lihat. Rambutku yang masih tersanggul berantakan, piyama krem selutut yang tampak kusut, dan kerutan pada wajah bekas lipatan bantal dan seprainya sukses membuat wajahku lebih mirip zombie yang berkeliaran di serial The Walking Dead yang aku tonton setiap senin malam. Maka, aku raih kacamata nonminus dari laci nakas, sekadar menutupi lingkar hitam di bagian bawah mataku.
Ting tong!
Hhh, aku mendengus. Ingin sekali aku melempar apa saja yang ada di sekelilingku ke arah bel sialan itu. Juga ke pemencet bel yang kurang ajar pagi-pagi begini menyantroni seorang single menyedihkan seperti aku. Memangnya, tidak ada hari lain sampai sabtu-sabtu begini menggedor, oke, memencet bel berkali, di pagi buta pun?—karena menurutku pagi yang pantas diguanakan untuk bertamu adalah pukul 10.
Ting tong!
Shit!
“Iya, iya, bisa sabar nggak sih? Kelakuan banget ya.....”
Clek! Aku membuka pintu “.....pagi-pagi gini mencetin bel rum......”
“.......”
Aku terpengarah saat pintu benar-benar terbuka.
“Pagi, Mbak Ema.”
Aku menelan ludah. Menelannya besar-besar. Kalau pun bisa, menelan seluruh omelanku tadi, berharap tidak pernah ada yang mendengar dan bahkan tersakiti karenanya. Aku tersenyum getir.
“Pagi.” Aku membalas sapaannya. Klasik. “Ada apa Mas?” Tanyaku saat kesadaranku benar-benar sudah meraja, menyadari bahwa yang tengah ku hadapi adalah asisten bosku, Mas Arya, yang ketika aku sapa ia tampak menahan senyum. Mungkin ini baru pertama kalinya ia melihat diriku versi zombie begini.
“Maaf sekali mengganggu hari sabtumu. Tadi saya telpon dan sms tidak ada yang terjawab. Jadi saya ke sini.” Tanpa sengaja aku menggigit bibir bawah. Tentu saja tak terjawab karena semua sarana komunikasi aku matikan.
“Maaf, Mas, belum sempat saya hidupkan lagi sejak semalam.” Bohongku padanya.
Wajah tirusnya masih tersenyum ketika menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Kemudian, tangannya tampak terulur, menyodorkan sebuah amplop coklat.
“Bos minta saya mengantarkan naskah ini. Penulisnya minta rilis sebelum valentine dan....” Ia menyodorkan amplot coklat lainnya. “Ini titipan dari bos yang kedua. Katanya sebagai ganti hari sabtu yang seharusnya mbak nikmati sebagai hari libur.”
Aku tersenyum lagi, tapi mungkin lebih getir dari sebelumnya. Sialan banget. Model-model bos nyogok gini yang nggak bisa aku tolak. Arrgh!
“Jadi, harus kapan saya kumpulkan naskahnya, Mas?”
Dia tampak melihat buku agenda yang sengaja ia pegang, tidakia simpan di dalam tas. “Kira-kira, dua minggu lagi, bisa?” Aku menganga tanpa sadar mendengar tenggat waktu yang diberikan. Mataku beralih seketika ke amplop coklat nan tebal luar biasa di tangaku.
“Ini penting dan ketika nanti rencana pembuatan film dari naskah itu diterima, kemungkinan Mbak dipromosikan sebagai kandidat ketua editor, kata bos, lebih besar.
Bagus! Terus saja menjual janji manis.
“Oke, aku usahakan ya. Dan sampaikan pada bos, saya memilih mengerjakan ini di rumah.” Kataku, pasrah.
“Baik, Mbak.” Sahutnya, sembari membereskan buku agenda di tangannya, memasukukkannya ke dalam tas yang ia bawa di tangan kiri.
“Kalau begitu, saya mohon pamit. Semoga lancar ya, Mbak.”
“Iya, Mas, terima kasih.”
Setelah Mas Arya pulang dan pintu tertutup, aku mencelos, melorot di sofa sembari menatap nanar amplop coklat di pangkuanku berisi naskah novel kejar tayang. Lalu beralih ke amplop satunya, yang ternyata setelah ku buka, berisi tiket liburan ke bali bulan Februari nanti lengkap dengan voucher gratis belanja gila di Joger. Saya harap bonus ini bisa menjadi ganti lemburmu selama dua minggu ke depan, Ema. Tulisan itu terselip di tumpukan paling atas dari tiket dan sejumlah voucher yang kusebutkan tadi. Aku menghela napas, pasrah.
Sabtu? Me-time? Good Bye! Melow drama ala telenovela, good bye juga. Aku harus berubah sedemikian rupa menjadi wonder woman yang bisa dengan sigap mengganti suasana hati seketika dari menyedihkan-penuh-luka dengan penuh-bahagia-ceria-sepanjang-masa. Sulit? Pasti. Dan aku harus berjuang dengan segala macam tenaga yang aku bisa. Kecuali, aku akan menjadi satu-satunya manusia berdosa di kantor karena sudah mengabaikan tugas gara-gara mimpi dan mantan sialan, lalu menyebabkan tiket liburan yang menggiurkan itu dibatalkan secara tidak hormat.
Pagi masih hujan ketika aku kembali dari kamar mandi, mencuci muka. Aku memlih duduk di sofa ruang tengah, di depan televisi yang aku biarkan mati. I-Pod warna merah jambu tadi, kembali aku sumpalkan earphone nya ke telinga. Cukup itu saja dan aku tidak butuh selimut couple dua lapis itu. Aku butuh pengalihan dan mungkin rasa dingin beserta setumpuk naskah tebal ini adalah pengalihan terbaik yang aku dapatkan.
Mery, nama itu sungguh mencekam jika dikaitakan dengan tokoh hantu Amerika yang gemar muncul di depan cermin kamar mandi setelah dipanggil namanya sebanyak tiga kali.
Kalimat awalan itu yang kemudian menyapa lensa mataku, menenggelamkan otakku, menjadi pengalihan dari elegi pagi yang belum sepenuhnya pergi.  

-end-

Sabtu, 14 Desember 2013

jangan main-main dengan cinta



"jangan main-main dengan cinta, kalau ledakannya salah arah, kamu akan terluka." katanya tanpa berpaling dari gitar di tangannya. dia Haris, sahabatku sejak kami bahkan belum bisa membedakan bunyi l dan r. kami tumbuh bersama layaknya saudara. ohya, ujaran tadi ia lontarkan saat aku dengan semangatnya menceritakan lelaki bernama Bian, lelaki yang aku kenal dari sebuah komunitas pembaca novel asing. Nama John Green, Nicholas Spark, juga Dan Brown kerap menjadi jembatan percakapan yang terjadi. dan malam itu, Bian baru saja mengajakku ke tempatnya biasa menghabiskan waktu bersama karib-karibnya.
"Ah, kau tidak tahu saja bagaimana caranya ia mempelakukanku di depan teman-temannya tadi.” seperti biasa, Haris hanya menoleh sejenak dan tidak memberikan komentar lagi, kebiasaan yang sudah aku hafal sejak dulu: tidak banyak bicara.
dan malam itu, satu minggu kemudian, Haris yang memang tidak banyak bicara, hanya diam mendapatiku menangis di ambang pintu kamarnya: Bian berbohong dan aku terluka. ledakan cintanya membuatku tersakiti. Haris yang tengah sibuk dengan gitarnya tampak terkejut melihatku. yang kemudian ia lakukan hanya melepaskan gitarnya, mendatangiku di pintu kamarnya, dan meraih tubuhku yang sudah lelah menangis ke dalam pelukannya.
“Sssh.” hanya desis itu yang aku dengar setelahnya. dan menit selanjutnya, luka terbakar karena ledakan cinta Bian berangsur sembuh.

Senin, 09 Desember 2013

Terminal

sampai kapanpun, terminal akan tetap menjadi tempat singgah, hanya tempat singgah. yang kemudian datang hanya bersedia berbagi oksigen dengan sesama di sana dalam jangka waktu yang dapat dihitung dengan jari: 1, 2, 3 jam. selebihnya, mereka akan melakukannya di tempat lain, di tujuan yang lebih pasti dari sekadar bertatap muka sejenak untuk saing menyapa 'mau pulang kemana?' mereka tidak berniat tinggal, tapi hanya berniat mengukir kenangan sepenggal.
kalau pun memang ada yang sampai tertidur di sana, lelap yang terasa akan dikibas sekuat tenaga saat kemudian terjaga, agar segera pergi. kalau pun sampai akhirnya aksi berbagi okesigen tadi menjadi lebih lama, lebih dari 3 jam, bahkan mungkin sehari semalam, gerutu itu saling bersahut karena jengah tidak betah.
'kapan kita berangkat??' dan tanya itulah yang terselip di antaranya, paling tidak.

begitulah aku bagimu: tempatmu pulang sementara untuk kembali pergi. kamu adalah pejalan dan aku adalah terminal, tempatmu melepaskan lelah, sejenak, untuk kemudian berlalu tanpa berpikir lagi untuk menyempatkan bilang 'aku akan kembali.' hitungan jari 1, 2, 3 jam pun berlaku untuk ini karena kamu akan berkali melihat arloji pemberianku itu sampai kemudian kalimat 'aku pamit pulang' terucap dengan sangat rapih dari bibirmu. kamu jengah, tidak betah berada di sekitarku.
maka, ketika kemudian pada suatu malam nanti kamu datang mengetuk pintu depan rumahku, aku harus siap melepasmu lagi, harus siap membiarkan gelas berisi minuman favoritmu itu kembali tergantung di antara perkakas becah belah yang lain. juga, sampai jika malam berikutnya aku hanya menemukan sisa wangi parfum maskulinmu di antara sofa yang cekung karena kau duduki, atau bahkan aku menemukan kesepian jemu tanpa adanya suara pencet bel dari tanganmu, aku harus sudah bisa memastikan bahwa saat itulah kamu mengucapkan selamat tinggal.

Senin, 02 Desember 2013

Renungan Hujan

Ini bukan tentang bagaimana menanggapi rintik gerimis yang menderas yang kemudian membasahi kemeja atau pun sepatumu. Ini hanya tentang bagaimana memaknai hujan sebagai awal dari langkah yang kau pilih, memaknai tiap helai kucuran yang jatuh hingga beriak itu bekeliling di antara jemari kakimu. Mungkin kau memang pernah terjatuh, hingga lututmu berdarah karenanya. Atau mungkin, kau tengah menderita karena cinta, hingga seutas tali itu menjadi semacam surga terakhir yang akan kau datangi.

Kali ini, biar saja hujan itu datang menyapamu, membasuh mukamu, membasuh hatimu; untuk kemudian menghilangkan peluh juga keluh di ujung harimu. biarkan ia mengalir semau derasnya, semau rintiknya. Kemudian kau akan paham, betapa ia hadir membawa kehidupan. Mengembalikan ranting pada batang yang ditinggalkannya. menumbuhkan rerumputan yang seakan tak ingin lagi hidup di detik selanjutnya, membangunkan lagi asa yang mungkin mati karena kering yang mendera.

Biarkan hujan yang menyapanya, biarkan hujan yang menyingkirkan air matamu dan menggantinya dengan senyum secerah mentari setelah ia reda. Pada akhirnya, setiap doa toh terkabul atau tergantikan dengan yang lebih baik. Tuhan selalu ada untukmu, bukan? Satu hal yang perlu kau tahu, kau tidak sendiri. Bahkan tiap orang di luar sana mungkin memiliki lara yang lebih mencekik dibanding yang kau punya.

Untuk kali ini, diam sajalah di balik jendela besar dengan titiktitik air itu. Nikmati sejenak aroma tanah yang kemudian kau temui. Lalu bernafaslah layaknya kau manusia satu-satunya di dunia yang diberi kebebasan menghirup udara sebanyak yang kau mau. Tersenyumlah layaknya kau manusia paling bahagia di bumi tanpa perih dan luka. 

Ketika kemudian hujan itu melambat menjadi rintik gerimis kembali untuk kemudian pergi, akan kau lihat sisa-sisa air di depan beranda rumahmu. Rasakan udara yang kau temukan: menyejukkan, menenangkan. tidak ada lagi debu, tidak ada lagi kelabu.

Rabu, 27 November 2013

KIRANA

Mereka berbeda,tidak hanya karena keduanya terdiri dari laki-laki dan perempuan. mereka juga berbeda dari segi sifat, kebiasaan, dan kesukaan. Kirana, seorang gadis yang sangat menyukai keramaian, menyukai derasnya hujan, menyukai apa saja yang berbau kesusastraan. Lain lagi dengan Damar. Ia adalah lelaki yang lebih menyukai sepi, lebih menyukai panasnya matahari, lebih menyukai segalanya yang berbasis seni.
Jika Kirana memilih keluar rumah saat kembang api menyala memenuhi langit, maka Damar memilih menutup telinganya dengan lagu jazz kegemarannya dan menyelesaikan sehelai kanvas di hadapannya. Jika kemudian Damar memilih keluar rumah saat ayam bahkan memilih mengerami telur-telurnya karena panas yang terik, maka Kirana memilih diam di balik jendela dan menunggu rintik deras itu tiba. Sudah ku bilang mereka berbeda. Tapi, tanpa mereka sadari, ada satu hal yang mereka sama-sama lakukan. Hal yang sama-sama mereka jalani setiap hari kerja yang mereka lalui, yaitu berangkat dan pulang dengan melewati jalan yang sama, depan taman kota.

Kirana adalah seorang editor naskah fiksi sebuah penerbit di ibu kota. Setiap harinya, ia akan berangkat pukul delapan pagi dan pulang pukul 5 sore. Jika memang ada naskah fiksi yang harus dikerjakannya esktra, ia akan mengulur waktu pulangnya hingga pukul tujuh. Tidak lebih karena itu adalah kontraknya pada dirinya sendiri.
Adapun Damar adalah seorang pelukis bayaran sebuah galeri lukis dan seorang gitaris di sebuah kafe. Setiap hari, ia akan bangun pukul lima pagi untuk kemudian melukis hingga pukul 4 sore. Barulah setelah ia mandi sore, ia akan bersiap kembali untuk melanjutkan hobi berduitnya yang lain: bermain gitar di kafe dan berangkat pukul setengah tujuh malam. Jika memang ada lukisannya yang selesai dan siap diantar ke galeri, ia akan berangkat lebih awal: pukul setengah 6 menjelang magrib.
Dengan kondisi normal, tentu keduanya memiliki dimensi waktu yang berbeda: Kirana keluar rumah ketika Damar memilih berdiam di kamarnya dengan belepotan cat di tangannya, sedangkan Damar keluar rumah ketika Kirana bahkan sudah tidak lagi ingin mengingat pekerjannya. Jarak pertemuan mereka yang berselang 90 menit tidak mengijinkan keduanya bertemu, meski jalan yang dilewati selalu sama, selalu seirama.

***

Hari itu, hari Kamis, tepat tanggal 1 Agustu 2012. Hampir semua orang sibuk karena memang giat bekerja, atau paling tidak pura-pura sibuk karena hari itu honor mereka cair tanpa lagi ditunda. Tentu saja, alasan kedua itu dilakukan untuk mencari muka di depan bos utama. Tapi, jangan berharap kamu akan menemukan alasan kedua tadi pada dua makhluk belum saling kenal ini: Kirana dan Damar. Keduanya bekerja dengan masing-masing hati dan perasaannya. Keduanya bekerja karena memang mereka suka. Keduanya bekerja karena baginya itu pangilan jiwa. Kirana sibuk di depan meja kantornya dengan naskah suntingan, sedangkan Damar sibuk di depan meja kamarnya dengan kanvas dan kertas not lagunya.

Sebagai seorang editor, waktu sibuk bagi Kirana adalah ketika ia harus pulang di atas pukul 5 sore, melembur semua suntingan karena esok pagi mejanya akan kembali penuh dengan tumpukan kertas naskah baru. Lain lagi dengan Damar. Sebagai seorang seniman dan gitaris kafe ibu kota, waktu sibuknya adalah ketika ia harus berangkat sebelum pukul 7 malam, mendatangi galeri langganan penyuka lukisannya karena tepat pukul 7 kemudian dia sudah harus duduk di depan para penikmat petikan jemarinya, bermain gitar.

Tidak banyak yang tahu bagaimana Tuhan mempertemukan siapa dengan siapa dan memisahkan siapa dari siapa. Yang pasti hari itu, hari Kamis, tanggal 1 Agustus 2012, tepat pukul enam sore, dua makhluk yang sama-sama benar-benar sibuk itu bertemu. Dua makhluk yang memiliki sifat, kebiasaan, dan kesukaan juga memiliki dimensi waktu yang berbeda. Mereka bertemu, tanpa disengaja dengan cara yang tidak diduga. Jalan di depan taman kota itulah yang mempertemukan mereka, mempertemukan keduanya. Sepele memang karena bukan hal besar yang membuat mata mereka saling melihat ke masing-masing arah: Kirana melihat Damar, Damar melihat Kirana. Tidak di mata, tapi di kaki, untuk kemudian merambat beralih ke punggung.
Pandangan pada kaki itu terjadi ketika –entah bagaimana—keduanya berada pada garis langkah yang sama. Sama-sama saling menghadap, sama-sama hendak melangkah pada waktu yang tidak dapat dipastikan gerakannya. Tidak ada yang berani memandang wajah karena justru masing-masing mata memandang lurus ke bawah, ke sepatu berhak tinggi milik Kirana dan sepatu Capsule Wear hitam milik Damar. Pergulatan antar mata dan sepatu yang singkat ini di akhiri dengan langkah pelan Damar ke samping kanan, mengalah dengan membiarkan Kirana berjalan terlebih dulu. Ada tarikan tipis di masing-masing ujung bibir mereka ketika akhirnya garis langkah mereka kembali berbeda, membuat cetakan suara sepatu yang lebih berirama. Sesaat setelah saling menjauh, Damar justru berhenti, menoleh ke belakang beberapa saat untuk melihat punggung yang semakin suram ditelan kelokan jalan. Lalu, ketika angka 18.48 di arlojinya seakan meneriakinya untuk segera beranjak dari sana, ia pun mulai bergerak, membiarkan sepatunya kembali menciptakan bunyi berirama dengan bunyi tak terdengar di balik kelokan tadi.

Tanpa Damar tahu, sepeninggalnya dari tempat berdirinya tadi, Kirana justru kembali keluar dari kelokan yang menelannya: melongok sebentar apa yang baru saja ditinggalkannya. Lalu tanpa disadarinya, tarikan tipis yang semula menghiasi ujung bibirnya kembali merekah, lebih lebar, bersamaan dengan hilangnya punggung bersepatu Capsule Wear di pintu kafe sebelah utara taman kota.

***

Seminggu setelahnya perbedaan yang semula memisahkan mereka lambat laun menjadi semacam alur yang justru mempertemukan keduanya. Pulang terlambat bagi Kirana dan berangkat terlalu awal bagi Damar menjadi hal yang menyenangkan, mendebarkan. Meski sesekali keduanya hanya sempat saling berkedip tanpa manja, keduanya tahu, keduanya menyukainya. Tentu kali ini, pandangan keduanya tidak sebatas pada sepatu dan punggung, tetapi juga wajah, muka, raut, mimik, ekspresi.
Hingga pada pertemuan ke-8, Damar tidak lagi berhenti di kakinya saat Kirana sudah ditelan kelokan di depannya. Kali ini, ia berhenti saat Kirana berada tepat di belakangnya.
“Bisa duduk-duduk sebentar?” tanyanya sembari berbalik, membuat Kirana melakukan gerakan yang sama. Tidak ada yang Kirana lakukan selain mengangguk perlahan, entah karena malu atau sebagai ganti ungkapannya bahwa itu sudah menunggu saat-saat demikian cukup lama. Sore itu keduanya resmi berkenalan, mengucap masing-masing nama lewat jabatan tangan yang mendadak saling menghangatkan. Tentu tidak sebatas pada genggaman, tetapi juga pada masing-masing hati yang bersangkutan.

***

Ada yang berkata bahwa cinta timbul karena biasa, ada juga yang percaya bahwa cinta bisa langsung datang di saat pertama muka bertemu muka. Untuk kedua makhluk berbeda itu, dua hal tadi menjadi alasan adanya cinta di antara mereka: cinta pada pandang pertama dan pada detik selanjutnya karena terbiasa. Manis ya? Bahkan aku pun ikut terhanyut ketika kemudian melihat bagaimana Damar tersenyum tiap kali Kirana dengan ceria menggambarkan persaannya tentang hari yang baru saja ia lalui. Juga ketika melihat bagaimana Damar mengacak rambut Kirana perlahan karena gemas dengan tingkah kekanakan yang terkadang sulit disembunyikan dari usia yang mulai beranjak 23 tahun pada bulan berikutnya.
“Bagaimana dengan besok? Aku dapat ijin libur manggung satu hari.” ujar Damar pada percakapan yang sudah berlangsung selama 15 menit itu. Sekilas informasi saja, ini pertemuan mereka yang ke-15 pada usia perkenalan satu bulan. Mereka bertemu setelah Kirana pulang kerja dan sebelum Damar tampil di panggungnya di depan taman kota. Juga beberapa pertemuan yang terjadi ketika sabtu malam tiba, saat keduanya diliburkan sebagai pegawai negara. Dan esok, pertemuan dengan dimensi berbeda itu akan berlanjut menjadi yang ke-16 dalam usia pertemuan yang menjadi satu bulan lebih satu hari.
“Baiklah.” Kirana setuju. “Kita berangkat setelah aku pulang kerja ya?” Kali ini Damar mengangguk mantap.
“Aku akan bawa bantal kecil kalo begitu.” ujar Kirana lagi pada percakapan yang hampir berakhir. Damar tampak mengerutkan keningnya. “Kenapa?” tanyanya.
“Aku tidak begitu suka melihat adegan horor. Jadi bantal kecil itu akan aku gunakan untuk aku peluk ketika aku merasa takut.” Damar justru terkikik, membuat Kirana yang gantian mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa?”
“Kalau memang takut, kenapa kamu setujui ajakanku menonton film yang kamu bahkan tidak suka melihatnya dengan telanjang mata?” Kirana tanpak berfikir mendengar pertanyaan itu sembari menahan senyum. Juga menahan agar ungkapan kan ada kamu tidak loncat begitu saja tanpa ijinnya dari kedua bibirnya.
“Dan kalau kamu perlu untuk berlindung, kenapa tidak aku saja yang kamu peluk jadi kamu tidak akan kerepotan menenteng bantal kecilmu itu kemana-mana.” ujaran itu terucap sebelum Kirana sempat menyahut pertanyaan yang memang tidak ia temukan jawaban yang benar-benar tepat. Mulutnya resmi terkunci sekarang. Bukan hanya karena merasa terpojok, tapi juga karena terlalu tidak bisa menahan sensasi romantis yang Damar tunjukkan. Hanya cubitan kecil pada pundak Damar itu yang pada akhirnya menjadi jawabannya untuk keseluruhan pertanyaan Damar.

***

Ada yang berbeda. Ini sangat jelas karena bahkan tiap helai daun yang terjatuh di antara rerumputan di taman itu, juga tiap embun yang pernah meleleh di atasnya pun tahu perubahan yang tengah terjadi. Ini bukan tentang perubahan cuaca yang belakangan semakin dingin. Ini tentang perbuahan dimensi waktu yang entah sejak kapan menjadi sama. Kirana mendadak menjadi rajin mengerjakan tugas lembur suntingannya hingga pukul setengah tujuh. Demikian pula dengan Damar yang mendadak rajin bangun pagi agar lukisannya dapat selesai di setiap harinya, agar ia bisa berangkat lebih awal dari biasanya, agar sunggingan senyum di ujung bibirnya semakin lebar dari seharusnya, agar ....
Tok tok tok!
Suara ketukan itu terdengar tiba-tiba. Tepat pada pintu rumah Damar. Seperti juga sudah diduga, Damar agak terkejut dibuatnya. Ada yang datang, entah siapa Damar tidak bisa menebak. Jika dilihat dari dandannya, orang itu tampak ‘penting’. Rapih sekali dan sangat tampak memiliki hasrat untuk segera bertemu dengan tuan rumah. Dibandingkan para tetangganya, Damar memang termasuk orang yang jarang menerima tamu. Atau memang bisa dibilang, jarang ada yang berminat menjadi tamunya.
Tidak ingin terganggu terlalu lama dengan ketukan berikutnya, bergegaslah ia keluar kamar, meninggalkan calon mahakaryanya menuju pintu.
“Apa kabar?” pertanyaan itu yang diterimanya sesaat setelah pintu terbuka dan ia tercengang menatap pengetuk tadi yang ternyata seorang wanita, wanita yang aku kenal, wanita yang juga Damar kenal.
 “Baik, Lani.” sahutnya sedikit terbata. “Mari masuk.” Lanjutnya.

***

Jleger!
Petir yang terdengar dari kantor Kirana. Tangan Kirana yang awalnya gencar menari di atas tuts keyboard komputer di depannya, kini perlahan berhenti dan turun bertumpu di sisinya. Seperti yang pernah aku bilang, ia selalu suka hujan deras dan kini ia sangat menyukai hujan itu karena ia akan pulang terlambat. Artinya, akan ada kesempatan untuk beralasan pada rekan kerjanya bahwa ia melakukan semua kerjaan-esok-harinya itu bukan tanpa sebab. Hujan turun deras di luar sana. Dan juga akan ada kesempatanya untuk beralasan pada dirinya bahwa ketika nanti ia memulangkan diri dari kantor lebih dari pukul 5 sore dan bertemu dengan Damar di jalan yang sama, ia tidak perlu mengakui bahwa itu disengaja.
Sunggingan yang sudah ia hafal itu merekah, tampak oleh matanya sendiri ketika ia melirik pelan ke arah kaca cermin kecil di sisi kiri mejanya. Di sebelah kanannya, sudah ada satu kantong plastik berisi dua bungkus snack kentang keju dan dua botol air mineral.
“Beli di bioskop biasanya mahal.” ujaranya pada Damar semalam itu melintas sejenak di kepala Kirana. Dia sudah siap menonton film horor malam nanti. Termasuk siap untuk ‘siap-siap’ meninggalkan bantal kecilnya dan menggantinya dengan ‘bantal’ yang lebih hidup.

***

Seperti yang sudah diminta, pukul setengah tujuh tepat. Hujan sudah berhenti dan kini Kirana sudah rapih di depan taman kota. Tidak ada yang tahu mungkin bahwa dia baru saja pulang dari kantor dan berkutat dengan tumpukan naskah suntingan yang cukup bisa membuat rambut lurusnya menjadi keriting. Tadi, sebelum beranjak melangkah keluar kantor dia sempat dandan sampai maksimal. Pakai mandi segala tentunya. Hari itu spesial dan ia tidak ingin terlewatkan dengan bau badannya yang tidak sedap dan pakaian kerjanya yang sudah kusut. Dia pun sudah mengganti pakaiannya dengan kaos putih lengan pendek bertuliskan Am I Cute? dan celana jeans panjang berwarna hitam. Bantal kecilnya sudah pasti ia tinggalkan, tidak jadi diajaknya serta. Ia hanya tersenyum dengan bersemu ketika mengingat kata-kata Damar semalam sebelumnya: tentang film horor, bantal kecil, dan dirinya.
Ehemm!
Ia berdehem, bersamaan dengan tubuhnya yang ia dudukkan di bangku coklat depan taman yang agak basah, tempat biasa ia duduk bersama Damar. Sejenak, ia melongok bekalnya di tangan kiri. Masih utuh. Masih belum tersentuh meski sebenarnya Kirana sudah tidak sabar membuka salah satu snack kentang keju kesukaannya.
Ini sudah lima menit berlalu. Bisiknya dalam hati.
Ia menegok ke arah kanan, ke arah Damar biasanya datang. Tapi tidak ada siapa-siapa kecuali sejumlah mobil yang kemudian lewat di depannya. Wush! Menghembuskan angin semilir yang cukup mampu membuatnya mendekap badannya sendiri. Agak dingin malam itu. Andai bisa aku ke sana, melangkah mendekatinya, akan aku pinjamkan jamper abu-abuku yang tadi siang baru aku samber dari almari, baru selesai dibinatu seminggu yang lalu. Tapi, aku terlalu pengecut. Maka, tetaplah aku di sini, di tempatku menatapnya hingga mungkin membusuk di sana tanpa siapapun mengetahuinya.

Sudah sepuluh menit ku rasa dan kedatangan Damar belum juga bisa disebutkan. Kirana masih tampak tetap ceria meski sedikit semburat kecewa itu sudah siap merayapi raut wajahnya. Ia jadi sering menilik arloji kecil di pergelangan kirinya. Pastinya bukan untuk memastikan jarum pada arlojinya itu masih berputar dengan benar atau tidak. Ia memastikan bahwa ia masih pantas di sana untuk menunggu di tempat duduknya. Masih pantas untuk menjawab bahwa ia tetap sabar meski kemudian durasi penantiannya semakin lama dan lama.
Hhh..
Ia menghela nafas berat pada menit kesepuluh berikutnya. Ponsel yang seharusnya bisa dihubungi mendadak hanya mengantarkan suara lembut operator yang memintanya untuk mencoba lagi.
Mungkin Damar lupa. Batinnya, membuat tubuhnya sedikit lunglai.
Atau mungkin dia sakit?? Pikiran itu melintas setelahnya, begitu saja. Ia terkesiap. Bagaimana kalau Damar benar-benar sakit sampai tidak mampu memberikan kabar padanya? Bagaimana kalau Damar saat ini tengah pingsan di atas lantai kamar mandi dan basah kuyup karena ia lupa mematikan keran?
Bayangan buruk itu terus bertambah di benaknya. Membuatnya tidak lagi peduli dengan permintaan Damar untuk menunggunya di depan taman kota saja sampai Damar datang. Maka, beranjaklah Kirana dari duduknya, menyusul Damarnya. Juga untuk memastikan bahwa bayangan buruk tadi hanya tingkah konyol otaknya yang sedang gundah.
Andai saja bisa, ingin rasanya memintanya tetap di kursinya, tetap duduk dan menunggu. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin ia menemukan kejadian setelahnya yang justru bisa saja membuatnya terluka. Jadi, mungkin akan lebih baik jika ia bertahan untuk menunggu sampai akhirnya aku berani mendatanginya dan menyapanya, hingga pohon rindang ini tidak lagi menjadi saksi bisu bagaimana besarnya perasaannku padanya.

***

Jarak antara taman kota dan rumah Damar memang tidak jauh. Hanya 200 meter dan Kirana sudah hafal jalur mana saja yang harus ia lalui. Sudah dua kali ia berkunjung ke sana sebelumnya atas undangan dan ajakan Damar: undangan ketika Damar mendapatkan honor tambahan dan merayakannya dengan bakar sate bersama, ajakan ketika udara taman terlalu dingin dan pilihan menonton DVD menjadi yang lebik menarik bagi keduanya.
Kelokan terakhir itu mengantarkan kedua bola matanya pada pintu rumah berwarna biru laut milik Damar, tepat ketika gerimis yang sedikit demi sedikit turun menderas. Debar jantung Kirana semakin menjadi. Lampu ruang tamu rumah Damar  tampak terang dari luar dan ia meyakikan diri, Damar ada di dalamnya dalam keadaan baik-baik saja.
Langkahnya sudah sampai pada teras rumah ketika matanya justru beralih dari pintu ke sepatu wanita di ujung keset, berjajar sepasang dengan rapih dengan sepatu hitam yang biasa Damar gunakan: satu menghadap ke arah pintu, satu lagi menghadap keluar. Sementara degup jantungnya mengencang, ia buang satu persatu pikiran jahatnya tentang Damar. Pikiran yang bisa memb
Prang!
Suara itu membuatnya terpengarah.
“Damar?!” Serunya seketika sembari menghambur begitu saja ke depan pintu dan mendorongnya terbuka. Sepersekian detik, kakinya justru terhenti di ambang pintu yang baru didorongnya. Sepersekian detik selanjutnya tangan kanannya pada gagang pintu terkulai di sisi kanan tubuhnya, lemas tanpa lagi bisa berbuat apa-apa.
“Ki, kirana?” ucapan terbata itu yang kemudian didengarnya. Damar yang mengucapnya sembari melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang perempuan di depannya, perempuan pengetuk pintu rumahnya beberapa menit lalu, perempuan pemilik sepatu di depan pintu yang berjajar sepasang dengan rapih di sisi sepatu hitam Damar. Nafas keduanya yang memburu tampak masih bersisa. Tidak perlu juga aku jelaskan apa yang baru saja dilakukan keduanya di atas meja tamu rumah itu. Tidak perlu juga aku paparkan bagaimana bisa vas bunga berwarna merah itu jatuh dari tempatnya ke lantai jika melihat posisi perempuan tadi yang setengah terlentang di sana. Yang jelas, keduanya melakukan itu dengan suka sama suka.
Kirana tidak juga menyahut. Ia hanya menelan ludah yang medadak sepahit empedu sebelum akhirnya tersenyum getir dan segera berlalu. Tidak lagi menghiraukan apa yang seharusnya dilakukannya: bertanya mengapa Damar tidak datang seperti yang dijanjikan di malam sebelumnya. Bekal yang ia bawa entah ia jatuhkan di mana, ia pun tidak peduli. Yang ada di benaknya adalah bahwa ia harus pergi dari sana, secepatnya. Kalau bisa, sesegerap mungkin hingga Damar seakan tidak pernah melihatnya sempat membuka pintu dan menatapnya nanar. Meski aku bukan Kirana, aku bisa turut merasakan betapa inginnya ia menghilangkan satu hari itu di daftar kenangannya, meloncat langsung ke hari berikutnya tanpa tahu yang terjadi sebelumnya.

Gerimis yang tadi sudah turun kini telah menjadi hujan, cukup deras. Dan tanpa diminta lagi, Kirana sudah berlari, lari sekuat yang ia bisa. Tubuhnya yang mulai basah kuyup terasa berguncang, menahan gemuruh yang ia punya di dalam dadanya. Itu pertama kalinya ia membenci hujan. Membenci tiap deras dan percikannya. Membeci tiap guyuran yang kemudian tanpa ampun membuat tubuhnya menggigil. Segala macam dandannya luntur, habis, tidak tersisa. Tergantikan dengan lelehan air matanya yang sudah bercampur menjadi satu dengan lelehan air hujan.
Dan aku? masih saja menjadi pengecut kacangan dengan tetap berada di bawah guyuran hujan tanpa bisa melangkah lebih jauh mengejar Kirana. Seketika, rasa benciku pada diri sendiri semakin menjadi. Bukan hanya karena aku tidak juga memiliki keberanian untuk mendekati Kirana, tapi juga karena telah membuang waktu untuk sekadar membuat rasa sakit yang Kirana punya sedikit berkurang, paling tidak itu anggapanku.

***

Sejak kejadian suatu sore itu, Kirana tidak lagi pulang terlambat. Ia selalu pulang tepat waktu. Jika memang ada naskah yang harus dikerjakannya dalam waktu ekstra ia akan membawanya pulang, sengaja ia kerjakan di rumah agar tepat pukul 5 ia sudah keluar dari kantornya. Meski demikian, sesekali ia akan duduk-duduk di bangku depan taman kota, tempat dimana ia pernah duduk di sana dengan sunggingan penuh makna di bibirnya.
Setelah kejadian itu, Damar sering kali menghubungi Kirana, mencoba memperbaiki semua hal yang dirusaknya di antara keduanya. Tapi, Kirana sepertinya bergeming. Ia terlanjur marah dan terluka. Andai saja Damon, salah satu tokoh Vampir pada serial tv Vampire Diaries yang gemar ditontonnya adalah nyata, ia akan memintanya menghapuskan nama Damar dari memori otaknya. Kirana terlalu kecewa.

Kabar terakhir yang ia dapatkan dari Damar datang ketika arlojinya menunjukkan angka 23.00. Ketika itu ia memang belum tidur, masih berkutat dengan setumpuk naskah yang esok harinya harus ia setorkan. Sebuah telepon dari rumah sakit yang mengabarkannya.
“Saudara Damar mengalami kecelakaan dan nomor Anda ada pada daftar panggilan cepat.”
Ujaran itu yang kemudian membuatnya tidak lagi di tempatnya, berlari secepatnya keluar rumah dan mencari taksi untuk menuju rumah sakit penelpon tadi. Rasa sesal itu yang pertama kali merayapi tubuhnya. Menyesali bahwa ia sama sekali tidak memberikan waktu untuk Damar menjelaskan semua yang terjadi. Mungkin itu yang membuatnya menangis sejadinya di depan jasad Damar. Meraung dan mengucapkan kata maaf sebanyak yang ia bisa, seakan Damar bisa mendengarnya dan kemudian mengabulkannya.
Hari itu, tanpa Kirana tahu, Damar berniat ke rumah Kirana, memberanikan diri karena memang ia tidak lagi ingin menunda kata maafnya. Kejadian sore itu memang kesalahannya. Ia tidak bisa menahan godaan Lani, mantan pacarnya semasa kuliah yang baru saja kembali dari studi di luar kota. Hal yang tidak Kirana tahu lainnya adalah bahwa saat ia bercinta dengan Lani, wajah Kiranalah yang ada di benaknya. Ia benar-benar menyayang Kirana sepenuh hatinya.  

Dan siang ini, kami ada di seting yang sama. Aku tidak lagi di bawah pohon, di tepi taman kota, bersembunyi bersama ketakutan dan kepengecutan kelas kacangan yang aku punya. Aku di sini, di bawah pohon kamboja pada sebuah suasana pemakanan yang baru saja usai. Dan ia baru saja datang saat semua orang sudah mulai pergi. Kirana, dia memilih diam di sana, di dekat sebuah nisan.
Damara Yudha. Tertulis demikian dengan jelas, berjejer secara vertikal dengan sebuah tanggal: 12-12-13.

Aku mendekatinya, perlahan untuk kemudian menyapa, “Hai, sendirian?”
Kau tahu, raut mukanya datar ketika kemudian menoleh padaku yang berusaha mempersembahkan senyuman termanis tanpa label berlebihan. Jika dilihat dari raut wajahnya, dia merasa seperti berfikir, memikirkan apakah dia pernah melihat satu raut muka di depannya ini. Raut muka berjambang tipis dengan dagu berbelah tanpa ada lesung di pipinya. Ya itulah gambaran ku. Gambaran yang setidaknya aku harap ada di benaknya juga. kau ingin tau bagaimana ekspresinya? Sangat mirip dengan ekspresi model gadis di sebuah kereta pada video klip Just a Kiss milik Lady Antebelum yang baru saja bertemu dengan lelaki yang ditemuinya di dalam mimpi. Masih penasaran? Mungkin bisa bukan laptop atau gatget yang dimiliki dan buka situs youtube. Cari di situ dan saya yakin anda akan menemukan ekspresi yang saya maksud.
ang ku sebutkan tadi.
“Perkenalkan, aku Bian, Fabian.” uluran tangaku langsung disambutnya hangat. “Kirana.” jawabnya kemudian.
“Ada yang meninggal?” Aku mengangguk.
“Ya, adik perempuanku.” Sahutku, sembari melihat nisan di depanku: LANISA, 12-12-13. Nisan yang bersanding dengan nisan yang ia datangi.
Keningnya sempat mengernyit, sesaat. Senyuman tipis tapi manis itu yang kemudian menyusul. Mungkin di benaknya ada ujaran yang ingin diungkapkannya. Mungkin juga kemudian, ia memilih diam saja dan tidak mengomentari perihal Lani yang ternyata adik perempuanku. Perihal bahwa Lani adalah perempuan yang membuatya berlari di tengah gerimis yang menderas. Ia tidak ingin merusak khikmat yang ada menjadi ternoda.
Ketika kemudian kami mulai sama-sama diam memanjat doa dengan masing-masing bibir dan hati kami, hingga kami mulai melangkahkan kaki masing-masing meninggalkan pekuburan ini, aku tidak banyak berharap. Aku tidak peduli apakah perkenalan ini akan berlajut. Aku juga tidak peduli jika kemudian itu benar berlanjut dan kalian akan mengutukku karena perkenalan ini terjadi di tengah orang mati. Yang jelas sekarang adalah bahwa kepengecutan kelas kacangan yang pernah aku maki-maki sendiri sudah luntur. Aku sudah bisa menyebutkan namaku. Persoalan bisa atau tidaknya aku menyebutkan bagaimana besarnya perasaannku, itu lain lagi. Bukankah yang beginilah yang menarik, sehingga kalian bisa menebaknya sesuka hati?