Mereka berbeda,tidak hanya
karena keduanya terdiri dari laki-laki dan perempuan. mereka juga
berbeda dari segi sifat, kebiasaan, dan kesukaan. Kirana, seorang gadis
yang sangat menyukai keramaian, menyukai derasnya hujan, menyukai apa
saja yang berbau kesusastraan. Lain lagi dengan Damar. Ia adalah lelaki
yang lebih menyukai sepi, lebih menyukai panasnya matahari, lebih
menyukai segalanya yang berbasis seni.
Jika Kirana memilih keluar
rumah saat kembang api menyala memenuhi langit, maka Damar memilih
menutup telinganya dengan lagu jazz kegemarannya dan menyelesaikan
sehelai kanvas di hadapannya. Jika kemudian Damar memilih keluar rumah
saat ayam bahkan memilih mengerami telur-telurnya karena panas yang
terik, maka Kirana memilih diam di balik jendela dan menunggu rintik
deras itu tiba. Sudah ku bilang mereka berbeda. Tapi, tanpa mereka
sadari, ada satu hal yang mereka sama-sama lakukan. Hal yang sama-sama
mereka jalani setiap hari kerja yang mereka lalui, yaitu berangkat dan
pulang dengan melewati jalan yang sama, depan taman kota.
Kirana
adalah seorang editor naskah fiksi sebuah penerbit di ibu kota. Setiap
harinya, ia akan berangkat pukul delapan pagi dan pulang pukul 5 sore.
Jika memang ada naskah fiksi yang harus dikerjakannya esktra, ia akan
mengulur waktu pulangnya hingga pukul tujuh. Tidak lebih karena itu
adalah kontraknya pada dirinya sendiri.
Adapun Damar adalah
seorang pelukis bayaran sebuah galeri lukis dan seorang gitaris di
sebuah kafe. Setiap hari, ia akan bangun pukul lima pagi untuk kemudian
melukis hingga pukul 4 sore. Barulah setelah ia mandi sore, ia akan
bersiap kembali untuk melanjutkan hobi berduitnya yang lain: bermain
gitar di kafe dan berangkat pukul setengah tujuh malam. Jika memang ada
lukisannya yang selesai dan siap diantar ke galeri, ia akan berangkat
lebih awal: pukul setengah 6 menjelang magrib.
Dengan kondisi
normal, tentu keduanya memiliki dimensi waktu yang berbeda: Kirana
keluar rumah ketika Damar memilih berdiam di kamarnya dengan belepotan
cat di tangannya, sedangkan Damar keluar rumah ketika Kirana bahkan
sudah tidak lagi ingin mengingat pekerjannya. Jarak pertemuan mereka
yang berselang 90 menit tidak mengijinkan keduanya bertemu, meski jalan
yang dilewati selalu sama, selalu seirama.
***
Hari
itu, hari Kamis, tepat tanggal 1 Agustu 2012. Hampir semua orang sibuk
karena memang giat bekerja, atau paling tidak pura-pura sibuk karena
hari itu honor mereka cair tanpa lagi ditunda. Tentu saja, alasan kedua
itu dilakukan untuk mencari muka di depan bos utama. Tapi, jangan
berharap kamu akan menemukan alasan kedua tadi pada dua makhluk belum
saling kenal ini: Kirana dan Damar. Keduanya bekerja dengan
masing-masing hati dan perasaannya. Keduanya bekerja karena memang
mereka suka. Keduanya bekerja karena baginya itu pangilan jiwa. Kirana
sibuk di depan meja kantornya dengan naskah suntingan, sedangkan Damar
sibuk di depan meja kamarnya dengan kanvas dan kertas not lagunya.
Sebagai
seorang editor, waktu sibuk bagi Kirana adalah ketika ia harus pulang
di atas pukul 5 sore, melembur semua suntingan karena esok pagi mejanya
akan kembali penuh dengan tumpukan kertas naskah baru. Lain lagi dengan
Damar. Sebagai seorang seniman dan gitaris kafe ibu kota, waktu sibuknya
adalah ketika ia harus berangkat sebelum pukul 7 malam, mendatangi
galeri langganan penyuka lukisannya karena tepat pukul 7 kemudian dia
sudah harus duduk di depan para penikmat petikan jemarinya, bermain
gitar.
Tidak banyak yang tahu bagaimana Tuhan
mempertemukan siapa dengan siapa dan memisahkan siapa dari siapa. Yang
pasti hari itu, hari Kamis, tanggal 1 Agustus 2012, tepat pukul enam
sore, dua makhluk yang sama-sama benar-benar sibuk itu bertemu. Dua
makhluk yang memiliki sifat, kebiasaan, dan kesukaan juga memiliki
dimensi waktu yang berbeda. Mereka bertemu, tanpa disengaja dengan cara
yang tidak diduga. Jalan di depan taman kota itulah yang mempertemukan
mereka, mempertemukan keduanya. Sepele memang karena bukan hal besar
yang membuat mata mereka saling melihat ke masing-masing arah: Kirana
melihat Damar, Damar melihat Kirana. Tidak di mata, tapi di kaki, untuk
kemudian merambat beralih ke punggung.
Pandangan pada kaki itu
terjadi ketika –entah bagaimana—keduanya berada pada garis langkah yang
sama. Sama-sama saling menghadap, sama-sama hendak melangkah pada waktu
yang tidak dapat dipastikan gerakannya. Tidak ada yang berani memandang
wajah karena justru masing-masing mata memandang lurus ke bawah, ke
sepatu berhak tinggi milik Kirana dan sepatu Capsule Wear hitam
milik Damar. Pergulatan antar mata dan sepatu yang singkat ini di
akhiri dengan langkah pelan Damar ke samping kanan, mengalah dengan
membiarkan Kirana berjalan terlebih dulu. Ada tarikan tipis di
masing-masing ujung bibir mereka ketika akhirnya garis langkah mereka
kembali berbeda, membuat cetakan suara sepatu yang lebih berirama.
Sesaat setelah saling menjauh, Damar justru berhenti, menoleh ke
belakang beberapa saat untuk melihat punggung yang semakin suram ditelan
kelokan jalan. Lalu, ketika angka 18.48 di arlojinya seakan
meneriakinya untuk segera beranjak dari sana, ia pun mulai bergerak,
membiarkan sepatunya kembali menciptakan bunyi berirama dengan bunyi tak
terdengar di balik kelokan tadi.
Tanpa Damar tahu,
sepeninggalnya dari tempat berdirinya tadi, Kirana justru kembali keluar
dari kelokan yang menelannya: melongok sebentar apa yang baru saja
ditinggalkannya. Lalu tanpa disadarinya, tarikan tipis yang semula
menghiasi ujung bibirnya kembali merekah, lebih lebar, bersamaan dengan
hilangnya punggung bersepatu Capsule Wear di pintu kafe sebelah utara taman kota.
***
Seminggu
setelahnya perbedaan yang semula memisahkan mereka lambat laun menjadi
semacam alur yang justru mempertemukan keduanya. Pulang terlambat bagi
Kirana dan berangkat terlalu awal bagi Damar menjadi hal yang
menyenangkan, mendebarkan. Meski sesekali keduanya hanya sempat saling
berkedip tanpa manja, keduanya tahu, keduanya menyukainya. Tentu kali
ini, pandangan keduanya tidak sebatas pada sepatu dan punggung, tetapi
juga wajah, muka, raut, mimik, ekspresi.
Hingga pada pertemuan
ke-8, Damar tidak lagi berhenti di kakinya saat Kirana sudah ditelan
kelokan di depannya. Kali ini, ia berhenti saat Kirana berada tepat di
belakangnya.
“Bisa duduk-duduk sebentar?” tanyanya sembari
berbalik, membuat Kirana melakukan gerakan yang sama. Tidak ada yang
Kirana lakukan selain mengangguk perlahan, entah karena malu atau
sebagai ganti ungkapannya bahwa itu sudah menunggu saat-saat demikian
cukup lama. Sore itu keduanya resmi berkenalan, mengucap masing-masing
nama lewat jabatan tangan yang mendadak saling menghangatkan. Tentu
tidak sebatas pada genggaman, tetapi juga pada masing-masing hati yang
bersangkutan.
***
Ada yang berkata bahwa
cinta timbul karena biasa, ada juga yang percaya bahwa cinta bisa
langsung datang di saat pertama muka bertemu muka. Untuk kedua makhluk
berbeda itu, dua hal tadi menjadi alasan adanya cinta di antara mereka:
cinta pada pandang pertama dan pada detik selanjutnya karena terbiasa.
Manis ya? Bahkan aku pun ikut terhanyut ketika kemudian melihat
bagaimana Damar tersenyum tiap kali Kirana dengan ceria menggambarkan
persaannya tentang hari yang baru saja ia lalui. Juga ketika melihat
bagaimana Damar mengacak rambut Kirana perlahan karena gemas dengan
tingkah kekanakan yang terkadang sulit disembunyikan dari usia yang
mulai beranjak 23 tahun pada bulan berikutnya.
“Bagaimana dengan
besok? Aku dapat ijin libur manggung satu hari.” ujar Damar pada
percakapan yang sudah berlangsung selama 15 menit itu. Sekilas informasi
saja, ini pertemuan mereka yang ke-15 pada usia perkenalan satu bulan.
Mereka bertemu setelah Kirana pulang kerja dan sebelum Damar tampil di
panggungnya di depan taman kota. Juga beberapa pertemuan yang terjadi
ketika sabtu malam tiba, saat keduanya diliburkan sebagai pegawai
negara. Dan esok, pertemuan dengan dimensi berbeda itu akan berlanjut
menjadi yang ke-16 dalam usia pertemuan yang menjadi satu bulan lebih
satu hari.
“Baiklah.” Kirana setuju. “Kita berangkat setelah aku pulang kerja ya?” Kali ini Damar mengangguk mantap.
“Aku
akan bawa bantal kecil kalo begitu.” ujar Kirana lagi pada percakapan
yang hampir berakhir. Damar tampak mengerutkan keningnya. “Kenapa?”
tanyanya.
“Aku tidak begitu suka melihat adegan horor. Jadi bantal
kecil itu akan aku gunakan untuk aku peluk ketika aku merasa takut.”
Damar justru terkikik, membuat Kirana yang gantian mengerutkan keningnya
dan bertanya, “Kenapa?”
“Kalau memang takut, kenapa kamu setujui
ajakanku menonton film yang kamu bahkan tidak suka melihatnya dengan
telanjang mata?” Kirana tanpak berfikir mendengar pertanyaan itu sembari
menahan senyum. Juga menahan agar ungkapan kan ada kamu tidak loncat begitu saja tanpa ijinnya dari kedua bibirnya.
“Dan
kalau kamu perlu untuk berlindung, kenapa tidak aku saja yang kamu
peluk jadi kamu tidak akan kerepotan menenteng bantal kecilmu itu
kemana-mana.” ujaran itu terucap sebelum Kirana sempat menyahut
pertanyaan yang memang tidak ia temukan jawaban yang benar-benar tepat.
Mulutnya resmi terkunci sekarang. Bukan hanya karena merasa terpojok,
tapi juga karena terlalu tidak bisa menahan sensasi romantis yang Damar
tunjukkan. Hanya cubitan kecil pada pundak Damar itu yang pada akhirnya
menjadi jawabannya untuk keseluruhan pertanyaan Damar.
***
Ada
yang berbeda. Ini sangat jelas karena bahkan tiap helai daun yang
terjatuh di antara rerumputan di taman itu, juga tiap embun yang pernah
meleleh di atasnya pun tahu perubahan yang tengah terjadi. Ini bukan
tentang perubahan cuaca yang belakangan semakin dingin. Ini tentang
perbuahan dimensi waktu yang entah sejak kapan menjadi sama. Kirana
mendadak menjadi rajin mengerjakan tugas lembur suntingannya hingga
pukul setengah tujuh. Demikian pula dengan Damar yang mendadak rajin
bangun pagi agar lukisannya dapat selesai di setiap harinya, agar ia
bisa berangkat lebih awal dari biasanya, agar sunggingan senyum di ujung
bibirnya semakin lebar dari seharusnya, agar ....
Tok tok tok!
Suara
ketukan itu terdengar tiba-tiba. Tepat pada pintu rumah Damar. Seperti
juga sudah diduga, Damar agak terkejut dibuatnya. Ada yang datang, entah
siapa Damar tidak bisa menebak. Jika dilihat dari dandannya, orang itu
tampak ‘penting’. Rapih sekali dan sangat tampak memiliki hasrat untuk
segera bertemu dengan tuan rumah. Dibandingkan para tetangganya, Damar
memang termasuk orang yang jarang menerima tamu. Atau memang bisa
dibilang, jarang ada yang berminat menjadi tamunya.
Tidak ingin
terganggu terlalu lama dengan ketukan berikutnya, bergegaslah ia keluar
kamar, meninggalkan calon mahakaryanya menuju pintu.
“Apa kabar?”
pertanyaan itu yang diterimanya sesaat setelah pintu terbuka dan ia
tercengang menatap pengetuk tadi yang ternyata seorang wanita, wanita
yang aku kenal, wanita yang juga Damar kenal.
“Baik, Lani.” sahutnya sedikit terbata. “Mari masuk.” Lanjutnya.
***
Jleger!
Petir yang terdengar dari kantor Kirana. Tangan Kirana yang awalnya gencar menari di atas tuts keyboard
komputer di depannya, kini perlahan berhenti dan turun bertumpu di
sisinya. Seperti yang pernah aku bilang, ia selalu suka hujan deras dan
kini ia sangat menyukai hujan itu karena ia akan pulang terlambat.
Artinya, akan ada kesempatan untuk beralasan pada rekan kerjanya bahwa
ia melakukan semua kerjaan-esok-harinya itu bukan tanpa sebab. Hujan
turun deras di luar sana. Dan juga akan ada kesempatanya untuk beralasan
pada dirinya bahwa ketika nanti ia memulangkan diri dari kantor lebih
dari pukul 5 sore dan bertemu dengan Damar di jalan yang sama, ia tidak
perlu mengakui bahwa itu disengaja.
Sunggingan yang sudah ia hafal
itu merekah, tampak oleh matanya sendiri ketika ia melirik pelan ke
arah kaca cermin kecil di sisi kiri mejanya. Di sebelah kanannya, sudah
ada satu kantong plastik berisi dua bungkus snack kentang keju dan dua
botol air mineral.
“Beli di bioskop biasanya mahal.” ujaranya pada
Damar semalam itu melintas sejenak di kepala Kirana. Dia sudah siap
menonton film horor malam nanti. Termasuk siap untuk ‘siap-siap’
meninggalkan bantal kecilnya dan menggantinya dengan ‘bantal’ yang lebih
hidup.
***
Seperti yang sudah diminta,
pukul setengah tujuh tepat. Hujan sudah berhenti dan kini Kirana sudah
rapih di depan taman kota. Tidak ada yang tahu mungkin bahwa dia baru
saja pulang dari kantor dan berkutat dengan tumpukan naskah suntingan
yang cukup bisa membuat rambut lurusnya menjadi keriting. Tadi, sebelum
beranjak melangkah keluar kantor dia sempat dandan sampai maksimal.
Pakai mandi segala tentunya. Hari itu spesial dan ia tidak ingin
terlewatkan dengan bau badannya yang tidak sedap dan pakaian kerjanya
yang sudah kusut. Dia pun sudah mengganti pakaiannya dengan kaos putih
lengan pendek bertuliskan Am I Cute? dan celana jeans panjang
berwarna hitam. Bantal kecilnya sudah pasti ia tinggalkan, tidak jadi
diajaknya serta. Ia hanya tersenyum dengan bersemu ketika mengingat
kata-kata Damar semalam sebelumnya: tentang film horor, bantal kecil,
dan dirinya.
Ehemm!
Ia berdehem, bersamaan dengan
tubuhnya yang ia dudukkan di bangku coklat depan taman yang agak basah,
tempat biasa ia duduk bersama Damar. Sejenak, ia melongok bekalnya di
tangan kiri. Masih utuh. Masih belum tersentuh meski sebenarnya Kirana
sudah tidak sabar membuka salah satu snack kentang keju kesukaannya.
Ini sudah lima menit berlalu. Bisiknya dalam hati.
Ia
menegok ke arah kanan, ke arah Damar biasanya datang. Tapi tidak ada
siapa-siapa kecuali sejumlah mobil yang kemudian lewat di depannya. Wush! Menghembuskan
angin semilir yang cukup mampu membuatnya mendekap badannya sendiri.
Agak dingin malam itu. Andai bisa aku ke sana, melangkah mendekatinya,
akan aku pinjamkan jamper abu-abuku yang tadi siang baru aku samber dari
almari, baru selesai dibinatu seminggu yang lalu. Tapi, aku terlalu
pengecut. Maka, tetaplah aku di sini, di tempatku menatapnya hingga
mungkin membusuk di sana tanpa siapapun mengetahuinya.
Sudah
sepuluh menit ku rasa dan kedatangan Damar belum juga bisa disebutkan.
Kirana masih tampak tetap ceria meski sedikit semburat kecewa itu sudah
siap merayapi raut wajahnya. Ia jadi sering menilik arloji kecil di
pergelangan kirinya. Pastinya bukan untuk memastikan jarum pada
arlojinya itu masih berputar dengan benar atau tidak. Ia memastikan
bahwa ia masih pantas di sana untuk menunggu di tempat duduknya. Masih
pantas untuk menjawab bahwa ia tetap sabar meski kemudian durasi
penantiannya semakin lama dan lama.
Hhh..
Ia
menghela nafas berat pada menit kesepuluh berikutnya. Ponsel yang
seharusnya bisa dihubungi mendadak hanya mengantarkan suara lembut
operator yang memintanya untuk mencoba lagi.
Mungkin Damar lupa. Batinnya, membuat tubuhnya sedikit lunglai.
Atau
mungkin dia sakit?? Pikiran itu melintas setelahnya, begitu saja. Ia
terkesiap. Bagaimana kalau Damar benar-benar sakit sampai tidak mampu
memberikan kabar padanya? Bagaimana kalau Damar saat ini tengah pingsan
di atas lantai kamar mandi dan basah kuyup karena ia lupa mematikan
keran?
Bayangan buruk itu terus bertambah di benaknya. Membuatnya
tidak lagi peduli dengan permintaan Damar untuk menunggunya di depan
taman kota saja sampai Damar datang. Maka, beranjaklah Kirana dari
duduknya, menyusul Damarnya. Juga untuk memastikan bahwa bayangan buruk
tadi hanya tingkah konyol otaknya yang sedang gundah.
Andai saja
bisa, ingin rasanya memintanya tetap di kursinya, tetap duduk dan
menunggu. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin ia menemukan kejadian
setelahnya yang justru bisa saja membuatnya terluka. Jadi, mungkin akan
lebih baik jika ia bertahan untuk menunggu sampai akhirnya aku berani
mendatanginya dan menyapanya, hingga pohon rindang ini tidak lagi
menjadi saksi bisu bagaimana besarnya perasaannku padanya.
***
Jarak
antara taman kota dan rumah Damar memang tidak jauh. Hanya 200 meter
dan Kirana sudah hafal jalur mana saja yang harus ia lalui. Sudah dua
kali ia berkunjung ke sana sebelumnya atas undangan dan ajakan Damar:
undangan ketika Damar mendapatkan honor tambahan dan merayakannya dengan
bakar sate bersama, ajakan ketika udara taman terlalu dingin dan
pilihan menonton DVD menjadi yang lebik menarik bagi keduanya.
Kelokan
terakhir itu mengantarkan kedua bola matanya pada pintu rumah berwarna
biru laut milik Damar, tepat ketika gerimis yang sedikit demi sedikit
turun menderas. Debar jantung Kirana semakin menjadi. Lampu ruang tamu
rumah Damar tampak terang dari luar dan ia meyakikan diri, Damar ada di
dalamnya dalam keadaan baik-baik saja.
Langkahnya sudah sampai
pada teras rumah ketika matanya justru beralih dari pintu ke sepatu
wanita di ujung keset, berjajar sepasang dengan rapih dengan sepatu
hitam yang biasa Damar gunakan: satu menghadap ke arah pintu, satu lagi
menghadap keluar. Sementara degup jantungnya mengencang, ia buang satu
persatu pikiran jahatnya tentang Damar. Pikiran yang bisa memb
Prang!
Suara itu membuatnya terpengarah.
“Damar?!”
Serunya seketika sembari menghambur begitu saja ke depan pintu dan
mendorongnya terbuka. Sepersekian detik, kakinya justru terhenti di
ambang pintu yang baru didorongnya. Sepersekian detik selanjutnya tangan
kanannya pada gagang pintu terkulai di sisi kanan tubuhnya, lemas tanpa
lagi bisa berbuat apa-apa.
“Ki, kirana?” ucapan terbata itu yang
kemudian didengarnya. Damar yang mengucapnya sembari melepaskan
rangkulan tangannya dari pinggang perempuan di depannya, perempuan
pengetuk pintu rumahnya beberapa menit lalu, perempuan pemilik sepatu di
depan pintu yang berjajar sepasang dengan rapih di sisi sepatu hitam
Damar. Nafas keduanya yang memburu tampak masih bersisa. Tidak perlu
juga aku jelaskan apa yang baru saja dilakukan keduanya di atas meja
tamu rumah itu. Tidak perlu juga aku paparkan bagaimana bisa vas bunga
berwarna merah itu jatuh dari tempatnya ke lantai jika melihat posisi
perempuan tadi yang setengah terlentang di sana. Yang jelas, keduanya
melakukan itu dengan suka sama suka.
Kirana tidak juga menyahut.
Ia hanya menelan ludah yang medadak sepahit empedu sebelum akhirnya
tersenyum getir dan segera berlalu. Tidak lagi menghiraukan apa yang
seharusnya dilakukannya: bertanya mengapa Damar tidak datang seperti
yang dijanjikan di malam sebelumnya. Bekal yang ia bawa entah ia
jatuhkan di mana, ia pun tidak peduli. Yang ada di benaknya adalah bahwa
ia harus pergi dari sana, secepatnya. Kalau bisa, sesegerap mungkin
hingga Damar seakan tidak pernah melihatnya sempat membuka pintu dan
menatapnya nanar. Meski aku bukan Kirana, aku bisa turut merasakan
betapa inginnya ia menghilangkan satu hari itu di daftar kenangannya,
meloncat langsung ke hari berikutnya tanpa tahu yang terjadi sebelumnya.
Gerimis
yang tadi sudah turun kini telah menjadi hujan, cukup deras. Dan tanpa
diminta lagi, Kirana sudah berlari, lari sekuat yang ia bisa. Tubuhnya
yang mulai basah kuyup terasa berguncang, menahan gemuruh yang ia punya
di dalam dadanya. Itu pertama kalinya ia membenci hujan. Membenci tiap
deras dan percikannya. Membeci tiap guyuran yang kemudian tanpa ampun
membuat tubuhnya menggigil. Segala macam dandannya luntur, habis, tidak
tersisa. Tergantikan dengan lelehan air matanya yang sudah bercampur
menjadi satu dengan lelehan air hujan.
Dan aku? masih saja menjadi
pengecut kacangan dengan tetap berada di bawah guyuran hujan tanpa bisa
melangkah lebih jauh mengejar Kirana. Seketika, rasa benciku pada diri
sendiri semakin menjadi. Bukan hanya karena aku tidak juga memiliki
keberanian untuk mendekati Kirana, tapi juga karena telah membuang waktu
untuk sekadar membuat rasa sakit yang Kirana punya sedikit berkurang,
paling tidak itu anggapanku.
***
Sejak
kejadian suatu sore itu, Kirana tidak lagi pulang terlambat. Ia selalu
pulang tepat waktu. Jika memang ada naskah yang harus dikerjakannya
dalam waktu ekstra ia akan membawanya pulang, sengaja ia kerjakan di
rumah agar tepat pukul 5 ia sudah keluar dari kantornya. Meski demikian,
sesekali ia akan duduk-duduk di bangku depan taman kota, tempat dimana
ia pernah duduk di sana dengan sunggingan penuh makna di bibirnya.
Setelah
kejadian itu, Damar sering kali menghubungi Kirana, mencoba memperbaiki
semua hal yang dirusaknya di antara keduanya. Tapi, Kirana sepertinya
bergeming. Ia terlanjur marah dan terluka. Andai saja Damon, salah satu
tokoh Vampir pada serial tv Vampire Diaries yang gemar ditontonnya adalah nyata, ia akan memintanya menghapuskan nama Damar dari memori otaknya. Kirana terlalu kecewa.
Kabar
terakhir yang ia dapatkan dari Damar datang ketika arlojinya
menunjukkan angka 23.00. Ketika itu ia memang belum tidur, masih
berkutat dengan setumpuk naskah yang esok harinya harus ia setorkan.
Sebuah telepon dari rumah sakit yang mengabarkannya.
“Saudara Damar mengalami kecelakaan dan nomor Anda ada pada daftar panggilan cepat.”
Ujaran
itu yang kemudian membuatnya tidak lagi di tempatnya, berlari
secepatnya keluar rumah dan mencari taksi untuk menuju rumah sakit
penelpon tadi. Rasa sesal itu yang pertama kali merayapi tubuhnya.
Menyesali bahwa ia sama sekali tidak memberikan waktu untuk Damar
menjelaskan semua yang terjadi. Mungkin itu yang membuatnya menangis
sejadinya di depan jasad Damar. Meraung dan mengucapkan kata maaf
sebanyak yang ia bisa, seakan Damar bisa mendengarnya dan kemudian
mengabulkannya.
Hari itu, tanpa Kirana tahu, Damar berniat ke
rumah Kirana, memberanikan diri karena memang ia tidak lagi ingin
menunda kata maafnya. Kejadian sore itu memang kesalahannya. Ia tidak
bisa menahan godaan Lani, mantan pacarnya semasa kuliah yang baru saja
kembali dari studi di luar kota. Hal yang tidak Kirana tahu lainnya
adalah bahwa saat ia bercinta dengan Lani, wajah Kiranalah yang ada di
benaknya. Ia benar-benar menyayang Kirana sepenuh hatinya.
Dan
siang ini, kami ada di seting yang sama. Aku tidak lagi di bawah pohon,
di tepi taman kota, bersembunyi bersama ketakutan dan kepengecutan
kelas kacangan yang aku punya. Aku di sini, di bawah pohon kamboja pada
sebuah suasana pemakanan yang baru saja usai. Dan ia baru saja datang
saat semua orang sudah mulai pergi. Kirana, dia memilih diam di sana, di
dekat sebuah nisan.
Damara Yudha. Tertulis demikian dengan jelas, berjejer secara vertikal dengan sebuah tanggal: 12-12-13.
Aku mendekatinya, perlahan untuk kemudian menyapa, “Hai, sendirian?”
Kau
tahu, raut mukanya datar ketika kemudian menoleh padaku yang berusaha
mempersembahkan senyuman termanis tanpa label berlebihan. Jika dilihat
dari raut wajahnya, dia merasa seperti berfikir, memikirkan apakah dia
pernah melihat satu raut muka di depannya ini. Raut muka berjambang
tipis dengan dagu berbelah tanpa ada lesung di pipinya. Ya itulah
gambaran ku. Gambaran yang setidaknya aku harap ada di benaknya juga.
kau ingin tau bagaimana ekspresinya? Sangat mirip dengan ekspresi model
gadis di sebuah kereta pada video klip Just a Kiss milik Lady
Antebelum yang baru saja bertemu dengan lelaki yang ditemuinya di dalam
mimpi. Masih penasaran? Mungkin bisa bukan laptop atau gatget yang
dimiliki dan buka situs youtube. Cari di situ dan saya yakin anda akan menemukan ekspresi yang saya maksud.
ang ku sebutkan tadi.
“Perkenalkan, aku Bian, Fabian.” uluran tangaku langsung disambutnya hangat. “Kirana.” jawabnya kemudian.
“Ada yang meninggal?” Aku mengangguk.
“Ya,
adik perempuanku.” Sahutku, sembari melihat nisan di depanku: LANISA,
12-12-13. Nisan yang bersanding dengan nisan yang ia datangi.
Keningnya
sempat mengernyit, sesaat. Senyuman tipis tapi manis itu yang kemudian
menyusul. Mungkin di benaknya ada ujaran yang ingin diungkapkannya.
Mungkin juga kemudian, ia memilih diam saja dan tidak mengomentari
perihal Lani yang ternyata adik perempuanku. Perihal bahwa Lani adalah
perempuan yang membuatya berlari di tengah gerimis yang menderas. Ia
tidak ingin merusak khikmat yang ada menjadi ternoda.
Ketika
kemudian kami mulai sama-sama diam memanjat doa dengan masing-masing
bibir dan hati kami, hingga kami mulai melangkahkan kaki masing-masing
meninggalkan pekuburan ini, aku tidak banyak berharap. Aku tidak peduli
apakah perkenalan ini akan berlajut. Aku juga tidak peduli jika kemudian
itu benar berlanjut dan kalian akan mengutukku karena perkenalan ini
terjadi di tengah orang mati. Yang jelas sekarang adalah bahwa
kepengecutan kelas kacangan yang pernah aku maki-maki sendiri sudah
luntur. Aku sudah bisa menyebutkan namaku. Persoalan bisa atau tidaknya
aku menyebutkan bagaimana besarnya perasaannku, itu lain lagi. Bukankah
yang beginilah yang menarik, sehingga kalian bisa menebaknya sesuka
hati?