Kamis, 26 Juli 2012

sekilas cerita

dari sejak awal nulis sampe hari ini belum juga nemu 'nama' yang pas buat 'anak pertama' saya. jangan salah sangka dulu, itu nama maksudnya judul dan anak pertama itu novel. semacam menghaluskan parno yang semakin menjadi aja. semakin dicari kata yang pas, semakin galau, semakin wagu. sejak awal nulis, kira-kira udah ada delapan judul yang resmi gagal dipajang di halaman paling atas calon novel saya. eneg, eneg dah tuh. udah tanya san-sin (baca: sana-sini), tetep aja gak nemu ujungnya. semacam ada di lingkaran setan (mulai ngaco >.< ).

belum lagi judul yang tak kunjung ketemu, jumlah halaman harus minimal 150. maaaak! ini dari kemarin udah banyak yang dihapus karena menusuk-nusk mata alias gak enak dibaca, kok malah perlu nambah halaman lagi. really something! belum lagi salahs atu bagian dari akhir cerita masih perlu perbaikan serius *jambak rambut

tapi, demi cita-cita, ini perlu doperjuangkan. semboyannya adalah 'Kapan lagi'. kata ibu, kalau rejeki gak akan pergi, tapi kalau memang bukan rejeki berati memang akan ada gantinya dengan jalan yang lain yang Allah kasih. so sweet dah my mami ini *kecup*

Hujan Terakhir

Gadis itu masih terseok dengan langkahnya ketika pada akhirnya ia menemukan tempat berteduh. Kakinya tidak lagi sanggup berlari. Badaanya pun basah dan ia tidak perduli. Sejak sejam yang lalu, hujan dengan bebas jatuh di atasnya. Katanya ia ingin menikmati tiap tetes hujan yang menimpanya. Hujan terakhir. Esok hari, hujan itu tidak lagi ditemuinya. Perlu banyak keberanian untuk menyadari bahwa musim penghujan telah berlalu. Dan yang ia butuhkan saat ini adalah memandangnya: tetes-tetes yang berjatuhan dan menyisakan beriak di antara kaikinya.

Senin, 26 Maret 2012

Goresan Pensil Ollie

Ollie masih terus berlari kecil di tengah gerimis yang mulai menderas. Kakinya masih repot menapaki satu demi satu bebatuan yang licin, membuatnya agak terpontang-panting di bawah payung yang digenggamnya. Ia sedikit merutuk ketika tiba-tiba Bu Tara, wanita setengah baya yang selama satu minggu yang lalu menjadi Bos besarnya, menelpon di pagi buta, meminta semua rancangan baju yang seharusnya dijadwalkan seminggu lagi untuk dikumpulkan. Memang, semuanya sudah Ollie kerjakan, tapi yang disebut ‘semuanya’ itu masih dalam bentuk coretan kasar. Hanya dua dari lima rancangan yang sudah bisa dikatakan benar-benar siap setor.
Ketika pada akhirnya ia sampai di kantor Bu Tara, dua temannya, Vaira dan Arra sudah berjejer di sana, menghadap meja besar berwarna coklat yang sebagian besar di isi dengan pensil dan kertas gambar dengan pandangan ke bawah tampak membuat kepalanya tertunduk.
“Clekk!!” pintu itu berbunyi pelan ketika Ollie membukanya, membuat Bu Tara menoleh dengan pandangan datar, seperti biasa. Ollie mengangguk sekali sebelum akhirnya masuk perlahan dan beridiri di samping Vaira. Kelima desain yang dibuatnya dengan terburu sepagian tadi dikeluarkannya dari tas yang setengah basah, membuat ujung-ujung desain di tangannya pun lembab. Ia menelan ludah ketika tidak sengaja melihat kening Bu Tara berkerut saat melihat kelima kertas itu tertaruh di mejanya. Tidak ada komentar apa pun ketika pada akhirnya ia melirik sejenak tumpukan rancangan Ollie, juga dua tumpukan lainnya milik Vaira dan Arra di sana.
“Kalian kira, ini yang saya mau?” Tida ada yang berani menjawab.
“Kalian kira ini namanya desain bagus?” Lanjutnya, membuat ketiganya perlahan menundukkan kepala.
“Ini sampah!!” Teriaknya kemudian. Dada Ollie sesak mendengarnya. Ia hanya perlu sedikit bersabar dengan kata-kata pedas yang akan terus didengarnya jika ia ingin cita-citanya tercapai sebagai perancang busana handal.
“Kalian tau, untuk menjadi perancang busana kalian harus kerja keras. Haru berani berkorban waktu dan tenaga. Ini apa, hanya diberi tugas lima saja kalian sudah kewalahan....
“Tapi setidaknya, kami sudah membuatnya, bahkan saya sudah menyelesaikan semuanya, Bu.” Celetuk Ollie yang lebih seperti petir bagi kedua temannya. Sepanjang sejarah, belum ada yang berani memotong pembicaraan Bu Tara. Ia lah yang pertama. Alhasil, Bu Tara pun terdiam sejenak, mengedipakn matanya beberapa kali, tampak tidak percaya. Kemudian terkekeh perlahan dan semakin keras.
“Keluar kamu dari ruangan saya!!!” Bentaknya saat kekehan itu berhenti, membuat Ollie dan kedua temannya terperanjat setengah mati. “Saya mau selama seminggu ke depan kamu tidak perlu masuk kantor.” lanjutnya.
“Kalian berdua juga, keluar, semua keluar!!” bentaknya lagi. Dengan langkah berat, ketiganya meninggalkan ruangan itu dengan perasaan tak keruan. Menahan marah yang ingin terluap tapi tak kuasa meluapkannya. Ollie yang paling akhir meninggalkan ruangan itu sejenak menoleh ke arah Bu Tara yang terengah karena amarahnya. Dadanya tampak naik turun saat itu. Dan sebelum ia menutup pintu, ia sempatkan menganggukkan kepala sekali, sebagai perwakilan kata maaf atas yang dilontarkannya tadi.

Pukul 06.00 pagi seminggu setelahnya Ollie masih bergumul dengan selimut ungunya. Hari itu ia harus masuk kembali setelah mendapat skors selama seminggu tidak masuk kerja. Ada perkembangan apa di kantor? batinnya sembari mendekap boneka kesayangan dari ayahnya. Pada detik keenam posisinya tetap sama; bergumul dalam selimut ungu dan mendekap boneka kesayangannya. Bayangannya tentang kejadian seminggu lalu kembali terlintas dan lagi-lagi membuatnya menyesal. Tidak seharusnya ia melontarkan kalimat itu.
“Kring kring!!” Bunyi ponsel di sisi kirinya membuatnya terkejut dan membuyarkan lamunanya. Dengan malas ia raih ponsel itu. Satu pesan masuk, dari Vaira.

Ke kantor, sekarang juga!

Hanya itu pesan yang didapatnya. Membuat matanya berkedip beberapa kali. Apa ini? batinnya. Tanpa ragu lagi, ia pun keluar dari selimut, meraih handuk, dan masuk kamar mandi.

Tidak ada yang lebih aneh dari pagi itu. Bagaimana tidak, hampir semua mata tertuju padanya, ada juga yang sembari tersenyum, atau menepuk pundaknya sembari mengucapkan selamat.  Apa-apaan ini? batinnya lagi, membuat keningnya berkerut dalam. Belum habis rasa penasarannya karena pesan Vaira, ia sudah dihadapkan dengan situasi ini. Apa aku melakukan sesuatu?
“Selamat yaaa.” Seru Vaira dari belakang. Kerutan di dahi Ollie semakin dalam.
“Selamat apa sih sebenarnya?”
“God!! Kamu belum liat?? Tanya Vaira dengan mata terbelalak.
“Liat apa?” Ollie makin bingung.
Vaira menpuk jidatnya sendiri saat mendengar itu. Tnap berkata lagi, ia membalikkan badan Ollie sebelum akhirnya berbisik, “Tadaaaa!!!”
Entah harus bagaimana bersikap tapi saat itu kaki Ollie kaku di tempat, matanya memandang ke belakang ke sebuah spanduk ukuran sedang bergantung di atas pintu masuk.
Goresan Pensil Ollie... tulisan itu tampak jelas di sana, bersanding dengan sebuah foto seorang model berpose dengan rancangannya, anggun sekali. Tema itulah yang menjadi tema majalah selanjutnya. Sepersekian detik matanya tidak berkedip, mulutnya pun tidak sengaja terbuka.
“Selamat yaaa. Itu tandanya kamu sudah diterima sama hati Bu Tara. ” Bisik Vaira lagi.
Ketika kemudian menoleh ke arah kantor, Bu Tara ternyata tenah berdiri di sana, memandanginya, tanpa senyum, dan kemudian masuk ruangannya tanpa bereaksi apapun. Wanita itu masih terlalu gengsi mengakui bahwa memang rancangan Ollie lah yang terbaik, bahwa meamng tidak ada rancangan lain yang lebih rapih dari rancangan Ollie, meski itu bisa dikatakan sebagai rancangan amburadul baginya.

***

“Ollie? Ollie? Salsabila!” panggilan itu menyadarkan Ollie dari lamunannya.
“Kamu jadi maju gak sih. Itu nama kamu udah dipanggil dari tadi.” Ujar Ririn, sepupunya. Hari itu ia dinobatkan sebagai pemenang lomba desai mewakili Indonesia di Malaysia. Rancangannya menjadi pemenang karena mengangat tema modern sebagai terobosan baru model pakaian muslim terkini. Kisahnya tiga tahun lalu sempat membuatnya tidak sadar bahkan tidak percaya akan sampai pada tahap ini.
“Udah sana buruan!” Ujar Ririn sembari mendorong perlahan badan Ollie ke arah panggung.
Sedikit canggung membuat tangannya gemetar saat menaiki panggung diringi tepukan tangan riuh dari penonton. Juga ketika pembaca acara kembali menyebut namanya dan menyerahkan ahdiah padanya.
Hari itu, Ollie tampak cantik dan anggun mengenakan gaun rancangannya sendiri, gaun yang pada akhirnya memaksa Bos Besarnya berkata, “You are talented.” Bahkan wanita setengah baya itu menghadiahkan peralatan gambar kesayangannya yang sudah sejak lama ia simpan yang terdiri atas pensil terbaik, lead pencil, yang terbuat dari graphite dengan berbagai ukuran yagn berbeda; pensil warna, penghapus, rol (penggaris), kuas, cat air, kertas gambar, juga file (amplop). Semuanya merupakan alat gambar kesayangan Bu Tara. Alat gambar pertama yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi wanita karir seperti sekarang.






Rabu, 21 Desember 2011

Hari Ibu

Bu, selamat hari ibu ya. Terimakasih untuk semua kasih sayang yang tak terkira harganya dan maaf untuk semua salah dan luka yang tak jarang membuatmu menangis.

Kira-kira demikianlah isi pesan yang ku kirim pagi ini untunya, wanita terindah yang ku punya, Ibu ku tersayang. Ada rasa haru ketika mengirimkannya, ketika rangkulan ini tak bisa sampai padanya. Juga rasa haru ketika menuliskan larik demi larik tulisan ini. Namun, haru ini jauh lebih dalam ketika mengingat pesan yang ku terima darimu. Dia bilang tak pernah sekalipun mengingat bahwa anak gadis satu-satunya pernah menanam duri di hatinya. Yang ia ingat hanyalah anak gadis satu-satunya yang manis yang tak berhenti membuatmu bangga. Aku menangis membacanya. Tak kuasa membiarkan hati ini sesak oleh rasa bersalah.
Ibu, hari ini adalah harimu, hari ketika semua orang merayakannya untukmu, hari di mana Ayah sekalipun tak memilikinya. Hari ini, semua anak beramai-ramai mengucapkan kalimat yang sama pada ibunya. “Selamat Hari Ibu.” Pun diriku yang tak jarang lupa mengutarakannya meski untuk sekali dalam setahun. Mungkin karena sering ku lupa bahwa kasih sayangmu terlalu besar jika harus dihitung.

Ibu,
Maaf jika dulu sering ku buat kau marah karena aku tak menjaga nasehatmu untuk tidak bermain lumpur.
Maaf jika dulu sering tak ku perhatikan jariku hingga ia teriris pisau ketika aku berlagak memasak bak koki profesional.
Maaf jika dulu sering ku langgar nasehatmu untuk tidak bermain air hujan hingga akhirnya flu menyerangku.
Maaf jika dulu sering kau berkeliling desa mengikuti langkah kakiku demi menghabiskan suap demi suap nasi di atas piring yang terlanjur kering.
Maaf jika dulu ku bantah nasehatmu untuk selalu minum obat ketika resep dokter dan jadwal rontgen tak bisa absen.
Maaf jika sekarang sering ku lupa takaran kopi dan gulamu jika kau memintaku membuatnya, padahal kau selalu ingat berapa takaran susu bubuk yang ku suka.    
Maaf jika sekarang jarang ku tanyakan menu makanmu, padahal seringkali kau tak bisa menelan sesuap nasi berlauk daging jika kau tahu aku hanya makan berlauk mie instan.
Maaf jika sekarang sering ku buat malammu gelisah untuk menungguku menelponmu dan mengatakan aku telah kembali ke rumah.
Maaf jika sekarang sering ku repotkan sibukmu dengan keluh kesah yang kutumpahkan padamu tentantangnya.
Maaf jika sekarang sering ku buat kau berulang menasehaiku untuk tidak lupa memakai jaket saat mengendara karena takut sakitku kembali.
Maaf untuk semua salah yang tak bisa ku sebut lagi. Terlalu banyak, Bu, hingga aku tak bisa menyebutnya satu-satu.

Yang jelas, terimakasih untuk semuanya, Bu. Untuk dongeng dan senandung indah menjelang tidur yang dulu selalu kau berikan, untuk pelukan dan belaian tiap aku memintanya darimu, untuk tiap kecup sayang di pipi ketika aku merindukannya, juga untuk masakan kesukaanku dan senyum hangat tiap kali aku pulang ke rumah.

Selamat Hari Ibu , Mimih*ku.... LOVE YOU SO...MUCH J.


*)panggilan Ibu dalam bahasa Sunda

Senin, 14 November 2011

Taaarrik, Mbaaak!

Udah dari kemarin-kemarin sebenarnya saya pengen banget cerita ini. Gak terlalu heboh sih sebenernya, cuma lucu aja kalo diinget-inget saya hidup di dunia dengan beribu budaya. Dunia loh, gak sekedar Indonesia. Luasss banget! Berawal waktu jumat pagi pekan kemarin saya kejatah ngajar siswa Turki pada jam kedua, sekitar pukul sepuluh karena paginya sudah jadwal Pak Akmal untuk mengajar materi percakapan. Jadilah paginya saya bersantai ria meski sudah mandi sejak jam tujuh *pamer dikit gak papa kan yak?! Eh, waktu enak-enaknya nonton, Pak Akmal telepon saya. Beliau tanya siapa yang ngajar. What?!!! bukanya Anda, Pak? tapi dibatin doang, haha, karena dengan halus saya menjawab "Lho, kan bapak yang mengajar pagi dan saya mengajar setelahnya." Kontan beliau jawab "Oya?!" dan bla bla dan kesimpulannya adalah saya berangkat saat itu juga untuk mengajar di jam awal. Fiuh!!!
Dalam waktu 35 an menit, saya pun sampai daaan, langusng mengajar. Wealdalah pancen suasana sepoi-sepoi dari AC, ni murid pada ngantuk, alhasil saya berasa setengah dicuekin. Asli, gak enak sumprit dah! Nerasa jadi burung beo kagak dibayar *emang ada gitu burung beo ngoceh dibayar --__--'. Setelah bla bla bla, saya pun mengontak teman saya untuk menggantikan saya di jam berikutnya. tapi memang nasib saya hari itu yang mengajar (baca: HANYA saya), mb ulfa yang dimaksud itu tidak bisa datang. Jadilah saya kembali merasakan sensasi sendiri lagi, huks!!
singkat cerita, ni pelajaran saya paksa selesai pukul 11.00, yang seharusnya selsai pukul 12.00. apalage kalo gak gara-gara kehabisan akal biar mereka tetep melek. Gak mungkin kan saya kasih batang korek satu-satu buat ngeganjel mata *plis deh rara. lanjuuuuut! waktu saya pamitan, salah satu murid ada yagn tanya. Begini katanya," Bu Rara, punya sepeda motor?"
Saya: ya, punya.
Murid: bisa naik?
Saya: ya, bisa. ada apa? mau ikut *kalimat terakhir sungguh bercanda, gak ada serius2nya!
Murid: ya ya ya, saya mau --> bagian ini saya syok?!
Saya: maksudnya keliling sekolah kan? *memastikan bahwa saya tidak akan membawanya pergi dari sana dan dikiran penculik bayaran *mule lebay
murid: yayayaay
Fiuh, leganyaaa. Setelah saya bilang ya dan mengangguk, mereka girang banget. Entah bahasa apa yang mereka pakai yagn pasti INTINYA mereka seneng bgt ikutan naek sepeda motor dengan saya.
itu belum seberapa. Waktu meeka bener2 saya boncengin naikmotor dan keliling sekolah, ya ampuuun, udah kayak naek banana boat, exited bgt. Dan usut punya usut, ternyata di Turki atau pun Krizikstan yang pake motor CUMA cowok. cewek JARANG BANGET yang pake motor. Forbidden kalee yaaak. Akirnya setelah semua dapet giliran, meski diliatin ama satpam, dikiranya sinting keliling2 sekolah pake motor, mission komplet!! dan seperti biasa yagn orang Indonesia lakukan di akhir. palagi kalao bukan poto potooo. sayangnya saya cuma punya satu foto :(



sampai akhirnya saya menulis ini, masih sangat saya sadari bahwa berbagai budaya terkadang mengundang tawa, tapi iutlah harmoni, dan saya menikmati itu.

Kamis, 10 November 2011

Gema, Denting, dan Denging

yang saya takutkan terjadi juga. pertanyaan itu muncul. sama dengan yang saya miliki akhir-akhir ini. di mana sebenarnya jalan yang benar? bergema seperti denting sendok yang menari di kepala saya. mencipta satu suara yang mendenging di telinga saya, seperti seseorang yang tengah berteriak tepat di sana. AAAAA, sakit sekali, sesakit yang ada dalam dada saya. hingga tuts-tuts huruf yang saya sentuh membentuk kata-kata ini pun, saya tidak menemukan jawaban yang bisa membuat kepala dan telinga saya benar-benar bebas dari gangguan. bahkan kalau saya boleh bilang, semuanya semakin menjadi, tidak terkecuali degup jantung saya.

Jumat, 28 Oktober 2011

Super Duper Payah!

ini bener-bener gak bener! tugas kuliah yang seabrek bikin pikiran kacau. bayangin aja, di pikiran ketika makan, minum, ngobrol, jalan, mandi, bahkan naik motor pun, adalah TUGAS!! *lebay. seharian kemarin dulu, kemarin, dan hari ini saya sering melamun ketika naik motor. mikirin gimana jadinya di antara jadwal kuliah, ngelesin anak sd, dan ngajar mahasiswa turki, saya bisa selesaikan semua tugas yang menumpuk gila. sampe-sampe tidak jarang, saya lupa harus ke arah mana. ujung-ujungnya nyasar dah. alhamdulillahnya masih ada di jogja dan saya masih punya kantong berisi buat beli bensin kalau-kalau saya nyasar terlalu jauh. yang lebih parah lagi, sering saya dapati saya sadar berangkat naik motor dari area parkiran kampus dan baru sadar lagi ketika saya sudah sampai di gang masuk ke kos an!! jadi apa yang saya pikirkan sebelumnya ketika melewati gerbang kampus, melewati satpam, nyebrang jalan, nyalib kendaraan lain, sampe memencet klakson jika perlu?? saya pun geleng2 sendiri, ngeri kalo inget jalanan jogja selalu rame. tapi,mau gimana lagi, itu sudah jalannya *apa hubungannya?! yang pasti semuanya harus dijalani meski sampe kebawa ngelamun segala :P. toh, kemauan menjadi mahasiswa kan saya, jadi saya juga yang harus menjalaninya dengan baik. hehehehe