Bu, selamat hari ibu ya. Terimakasih untuk semua kasih sayang yang tak terkira harganya dan maaf untuk semua salah dan luka yang tak jarang membuatmu menangis.
Kira-kira demikianlah isi pesan yang ku kirim pagi ini untunya, wanita terindah yang ku punya, Ibu ku tersayang. Ada rasa haru ketika mengirimkannya, ketika rangkulan ini tak bisa sampai padanya. Juga rasa haru ketika menuliskan larik demi larik tulisan ini. Namun, haru ini jauh lebih dalam ketika mengingat pesan yang ku terima darimu. Dia bilang tak pernah sekalipun mengingat bahwa anak gadis satu-satunya pernah menanam duri di hatinya. Yang ia ingat hanyalah anak gadis satu-satunya yang manis yang tak berhenti membuatmu bangga. Aku menangis membacanya. Tak kuasa membiarkan hati ini sesak oleh rasa bersalah.
Ibu, hari ini adalah harimu, hari ketika semua orang merayakannya untukmu, hari di mana Ayah sekalipun tak memilikinya. Hari ini, semua anak beramai-ramai mengucapkan kalimat yang sama pada ibunya. “Selamat Hari Ibu.” Pun diriku yang tak jarang lupa mengutarakannya meski untuk sekali dalam setahun. Mungkin karena sering ku lupa bahwa kasih sayangmu terlalu besar jika harus dihitung.
Ibu,
Maaf jika dulu sering ku buat kau marah karena aku tak menjaga nasehatmu untuk tidak bermain lumpur.
Maaf jika dulu sering tak ku perhatikan jariku hingga ia teriris pisau ketika aku berlagak memasak bak koki profesional.
Maaf jika dulu sering ku langgar nasehatmu untuk tidak bermain air hujan hingga akhirnya flu menyerangku.
Maaf jika dulu sering kau berkeliling desa mengikuti langkah kakiku demi menghabiskan suap demi suap nasi di atas piring yang terlanjur kering.
Maaf jika dulu ku bantah nasehatmu untuk selalu minum obat ketika resep dokter dan jadwal rontgen tak bisa absen.
Maaf jika sekarang sering ku lupa takaran kopi dan gulamu jika kau memintaku membuatnya, padahal kau selalu ingat berapa takaran susu bubuk yang ku suka.
Maaf jika sekarang jarang ku tanyakan menu makanmu, padahal seringkali kau tak bisa menelan sesuap nasi berlauk daging jika kau tahu aku hanya makan berlauk mie instan.
Maaf jika sekarang sering ku buat malammu gelisah untuk menungguku menelponmu dan mengatakan aku telah kembali ke rumah.
Maaf jika sekarang sering ku repotkan sibukmu dengan keluh kesah yang kutumpahkan padamu tentantangnya.
Maaf jika sekarang sering ku buat kau berulang menasehaiku untuk tidak lupa memakai jaket saat mengendara karena takut sakitku kembali.
Maaf untuk semua salah yang tak bisa ku sebut lagi. Terlalu banyak, Bu, hingga aku tak bisa menyebutnya satu-satu.
Yang jelas, terimakasih untuk semuanya, Bu. Untuk dongeng dan senandung indah menjelang tidur yang dulu selalu kau berikan, untuk pelukan dan belaian tiap aku memintanya darimu, untuk tiap kecup sayang di pipi ketika aku merindukannya, juga untuk masakan kesukaanku dan senyum hangat tiap kali aku pulang ke rumah.
Selamat Hari Ibu , Mimih*ku.... LOVE YOU SO...MUCH J.
*)panggilan Ibu dalam bahasa Sunda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar