Senin, 26 Maret 2012

Goresan Pensil Ollie

Ollie masih terus berlari kecil di tengah gerimis yang mulai menderas. Kakinya masih repot menapaki satu demi satu bebatuan yang licin, membuatnya agak terpontang-panting di bawah payung yang digenggamnya. Ia sedikit merutuk ketika tiba-tiba Bu Tara, wanita setengah baya yang selama satu minggu yang lalu menjadi Bos besarnya, menelpon di pagi buta, meminta semua rancangan baju yang seharusnya dijadwalkan seminggu lagi untuk dikumpulkan. Memang, semuanya sudah Ollie kerjakan, tapi yang disebut ‘semuanya’ itu masih dalam bentuk coretan kasar. Hanya dua dari lima rancangan yang sudah bisa dikatakan benar-benar siap setor.
Ketika pada akhirnya ia sampai di kantor Bu Tara, dua temannya, Vaira dan Arra sudah berjejer di sana, menghadap meja besar berwarna coklat yang sebagian besar di isi dengan pensil dan kertas gambar dengan pandangan ke bawah tampak membuat kepalanya tertunduk.
“Clekk!!” pintu itu berbunyi pelan ketika Ollie membukanya, membuat Bu Tara menoleh dengan pandangan datar, seperti biasa. Ollie mengangguk sekali sebelum akhirnya masuk perlahan dan beridiri di samping Vaira. Kelima desain yang dibuatnya dengan terburu sepagian tadi dikeluarkannya dari tas yang setengah basah, membuat ujung-ujung desain di tangannya pun lembab. Ia menelan ludah ketika tidak sengaja melihat kening Bu Tara berkerut saat melihat kelima kertas itu tertaruh di mejanya. Tidak ada komentar apa pun ketika pada akhirnya ia melirik sejenak tumpukan rancangan Ollie, juga dua tumpukan lainnya milik Vaira dan Arra di sana.
“Kalian kira, ini yang saya mau?” Tida ada yang berani menjawab.
“Kalian kira ini namanya desain bagus?” Lanjutnya, membuat ketiganya perlahan menundukkan kepala.
“Ini sampah!!” Teriaknya kemudian. Dada Ollie sesak mendengarnya. Ia hanya perlu sedikit bersabar dengan kata-kata pedas yang akan terus didengarnya jika ia ingin cita-citanya tercapai sebagai perancang busana handal.
“Kalian tau, untuk menjadi perancang busana kalian harus kerja keras. Haru berani berkorban waktu dan tenaga. Ini apa, hanya diberi tugas lima saja kalian sudah kewalahan....
“Tapi setidaknya, kami sudah membuatnya, bahkan saya sudah menyelesaikan semuanya, Bu.” Celetuk Ollie yang lebih seperti petir bagi kedua temannya. Sepanjang sejarah, belum ada yang berani memotong pembicaraan Bu Tara. Ia lah yang pertama. Alhasil, Bu Tara pun terdiam sejenak, mengedipakn matanya beberapa kali, tampak tidak percaya. Kemudian terkekeh perlahan dan semakin keras.
“Keluar kamu dari ruangan saya!!!” Bentaknya saat kekehan itu berhenti, membuat Ollie dan kedua temannya terperanjat setengah mati. “Saya mau selama seminggu ke depan kamu tidak perlu masuk kantor.” lanjutnya.
“Kalian berdua juga, keluar, semua keluar!!” bentaknya lagi. Dengan langkah berat, ketiganya meninggalkan ruangan itu dengan perasaan tak keruan. Menahan marah yang ingin terluap tapi tak kuasa meluapkannya. Ollie yang paling akhir meninggalkan ruangan itu sejenak menoleh ke arah Bu Tara yang terengah karena amarahnya. Dadanya tampak naik turun saat itu. Dan sebelum ia menutup pintu, ia sempatkan menganggukkan kepala sekali, sebagai perwakilan kata maaf atas yang dilontarkannya tadi.

Pukul 06.00 pagi seminggu setelahnya Ollie masih bergumul dengan selimut ungunya. Hari itu ia harus masuk kembali setelah mendapat skors selama seminggu tidak masuk kerja. Ada perkembangan apa di kantor? batinnya sembari mendekap boneka kesayangan dari ayahnya. Pada detik keenam posisinya tetap sama; bergumul dalam selimut ungu dan mendekap boneka kesayangannya. Bayangannya tentang kejadian seminggu lalu kembali terlintas dan lagi-lagi membuatnya menyesal. Tidak seharusnya ia melontarkan kalimat itu.
“Kring kring!!” Bunyi ponsel di sisi kirinya membuatnya terkejut dan membuyarkan lamunanya. Dengan malas ia raih ponsel itu. Satu pesan masuk, dari Vaira.

Ke kantor, sekarang juga!

Hanya itu pesan yang didapatnya. Membuat matanya berkedip beberapa kali. Apa ini? batinnya. Tanpa ragu lagi, ia pun keluar dari selimut, meraih handuk, dan masuk kamar mandi.

Tidak ada yang lebih aneh dari pagi itu. Bagaimana tidak, hampir semua mata tertuju padanya, ada juga yang sembari tersenyum, atau menepuk pundaknya sembari mengucapkan selamat.  Apa-apaan ini? batinnya lagi, membuat keningnya berkerut dalam. Belum habis rasa penasarannya karena pesan Vaira, ia sudah dihadapkan dengan situasi ini. Apa aku melakukan sesuatu?
“Selamat yaaa.” Seru Vaira dari belakang. Kerutan di dahi Ollie semakin dalam.
“Selamat apa sih sebenarnya?”
God!! Kamu belum liat?? Tanya Vaira dengan mata terbelalak.
“Liat apa?” Ollie makin bingung.
Vaira menpuk jidatnya sendiri saat mendengar itu. Tnap berkata lagi, ia membalikkan badan Ollie sebelum akhirnya berbisik, “Tadaaaa!!!”
Entah harus bagaimana bersikap tapi saat itu kaki Ollie kaku di tempat, matanya memandang ke belakang ke sebuah spanduk ukuran sedang bergantung di atas pintu masuk.
Goresan Pensil Ollie... tulisan itu tampak jelas di sana, bersanding dengan sebuah foto seorang model berpose dengan rancangannya, anggun sekali. Tema itulah yang menjadi tema majalah selanjutnya. Sepersekian detik matanya tidak berkedip, mulutnya pun tidak sengaja terbuka.
“Selamat yaaa. Itu tandanya kamu sudah diterima sama hati Bu Tara. ” Bisik Vaira lagi.
Ketika kemudian menoleh ke arah kantor, Bu Tara ternyata tenah berdiri di sana, memandanginya, tanpa senyum, dan kemudian masuk ruangannya tanpa bereaksi apapun. Wanita itu masih terlalu gengsi mengakui bahwa memang rancangan Ollie lah yang terbaik, bahwa meamng tidak ada rancangan lain yang lebih rapih dari rancangan Ollie, meski itu bisa dikatakan sebagai rancangan amburadul baginya.

***

“Ollie? Ollie? Salsabila!” panggilan itu menyadarkan Ollie dari lamunannya.
“Kamu jadi maju gak sih. Itu nama kamu udah dipanggil dari tadi.” Ujar Ririn, sepupunya. Hari itu ia dinobatkan sebagai pemenang lomba desai mewakili Indonesia di Malaysia. Rancangannya menjadi pemenang karena mengangat tema modern sebagai terobosan baru model pakaian muslim terkini. Kisahnya tiga tahun lalu sempat membuatnya tidak sadar bahkan tidak percaya akan sampai pada tahap ini.
“Udah sana buruan!” Ujar Ririn sembari mendorong perlahan badan Ollie ke arah panggung.
Sedikit canggung membuat tangannya gemetar saat menaiki panggung diringi tepukan tangan riuh dari penonton. Juga ketika pembaca acara kembali menyebut namanya dan menyerahkan ahdiah padanya.
Hari itu, Ollie tampak cantik dan anggun mengenakan gaun rancangannya sendiri, gaun yang pada akhirnya memaksa Bos Besarnya berkata, “You are talented.” Bahkan wanita setengah baya itu menghadiahkan peralatan gambar kesayangannya yang sudah sejak lama ia simpan yang terdiri atas pensil terbaik, lead pencil, yang terbuat dari graphite dengan berbagai ukuran yagn berbeda; pensil warna, penghapus, rol (penggaris), kuas, cat air, kertas gambar, juga file (amplop). Semuanya merupakan alat gambar kesayangan Bu Tara. Alat gambar pertama yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi wanita karir seperti sekarang.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar