Rabu, 21 Desember 2011

Hari Ibu

Bu, selamat hari ibu ya. Terimakasih untuk semua kasih sayang yang tak terkira harganya dan maaf untuk semua salah dan luka yang tak jarang membuatmu menangis.

Kira-kira demikianlah isi pesan yang ku kirim pagi ini untunya, wanita terindah yang ku punya, Ibu ku tersayang. Ada rasa haru ketika mengirimkannya, ketika rangkulan ini tak bisa sampai padanya. Juga rasa haru ketika menuliskan larik demi larik tulisan ini. Namun, haru ini jauh lebih dalam ketika mengingat pesan yang ku terima darimu. Dia bilang tak pernah sekalipun mengingat bahwa anak gadis satu-satunya pernah menanam duri di hatinya. Yang ia ingat hanyalah anak gadis satu-satunya yang manis yang tak berhenti membuatmu bangga. Aku menangis membacanya. Tak kuasa membiarkan hati ini sesak oleh rasa bersalah.
Ibu, hari ini adalah harimu, hari ketika semua orang merayakannya untukmu, hari di mana Ayah sekalipun tak memilikinya. Hari ini, semua anak beramai-ramai mengucapkan kalimat yang sama pada ibunya. “Selamat Hari Ibu.” Pun diriku yang tak jarang lupa mengutarakannya meski untuk sekali dalam setahun. Mungkin karena sering ku lupa bahwa kasih sayangmu terlalu besar jika harus dihitung.

Ibu,
Maaf jika dulu sering ku buat kau marah karena aku tak menjaga nasehatmu untuk tidak bermain lumpur.
Maaf jika dulu sering tak ku perhatikan jariku hingga ia teriris pisau ketika aku berlagak memasak bak koki profesional.
Maaf jika dulu sering ku langgar nasehatmu untuk tidak bermain air hujan hingga akhirnya flu menyerangku.
Maaf jika dulu sering kau berkeliling desa mengikuti langkah kakiku demi menghabiskan suap demi suap nasi di atas piring yang terlanjur kering.
Maaf jika dulu ku bantah nasehatmu untuk selalu minum obat ketika resep dokter dan jadwal rontgen tak bisa absen.
Maaf jika sekarang sering ku lupa takaran kopi dan gulamu jika kau memintaku membuatnya, padahal kau selalu ingat berapa takaran susu bubuk yang ku suka.    
Maaf jika sekarang jarang ku tanyakan menu makanmu, padahal seringkali kau tak bisa menelan sesuap nasi berlauk daging jika kau tahu aku hanya makan berlauk mie instan.
Maaf jika sekarang sering ku buat malammu gelisah untuk menungguku menelponmu dan mengatakan aku telah kembali ke rumah.
Maaf jika sekarang sering ku repotkan sibukmu dengan keluh kesah yang kutumpahkan padamu tentantangnya.
Maaf jika sekarang sering ku buat kau berulang menasehaiku untuk tidak lupa memakai jaket saat mengendara karena takut sakitku kembali.
Maaf untuk semua salah yang tak bisa ku sebut lagi. Terlalu banyak, Bu, hingga aku tak bisa menyebutnya satu-satu.

Yang jelas, terimakasih untuk semuanya, Bu. Untuk dongeng dan senandung indah menjelang tidur yang dulu selalu kau berikan, untuk pelukan dan belaian tiap aku memintanya darimu, untuk tiap kecup sayang di pipi ketika aku merindukannya, juga untuk masakan kesukaanku dan senyum hangat tiap kali aku pulang ke rumah.

Selamat Hari Ibu , Mimih*ku.... LOVE YOU SO...MUCH J.


*)panggilan Ibu dalam bahasa Sunda

Senin, 14 November 2011

Taaarrik, Mbaaak!

Udah dari kemarin-kemarin sebenarnya saya pengen banget cerita ini. Gak terlalu heboh sih sebenernya, cuma lucu aja kalo diinget-inget saya hidup di dunia dengan beribu budaya. Dunia loh, gak sekedar Indonesia. Luasss banget! Berawal waktu jumat pagi pekan kemarin saya kejatah ngajar siswa Turki pada jam kedua, sekitar pukul sepuluh karena paginya sudah jadwal Pak Akmal untuk mengajar materi percakapan. Jadilah paginya saya bersantai ria meski sudah mandi sejak jam tujuh *pamer dikit gak papa kan yak?! Eh, waktu enak-enaknya nonton, Pak Akmal telepon saya. Beliau tanya siapa yang ngajar. What?!!! bukanya Anda, Pak? tapi dibatin doang, haha, karena dengan halus saya menjawab "Lho, kan bapak yang mengajar pagi dan saya mengajar setelahnya." Kontan beliau jawab "Oya?!" dan bla bla dan kesimpulannya adalah saya berangkat saat itu juga untuk mengajar di jam awal. Fiuh!!!
Dalam waktu 35 an menit, saya pun sampai daaan, langusng mengajar. Wealdalah pancen suasana sepoi-sepoi dari AC, ni murid pada ngantuk, alhasil saya berasa setengah dicuekin. Asli, gak enak sumprit dah! Nerasa jadi burung beo kagak dibayar *emang ada gitu burung beo ngoceh dibayar --__--'. Setelah bla bla bla, saya pun mengontak teman saya untuk menggantikan saya di jam berikutnya. tapi memang nasib saya hari itu yang mengajar (baca: HANYA saya), mb ulfa yang dimaksud itu tidak bisa datang. Jadilah saya kembali merasakan sensasi sendiri lagi, huks!!
singkat cerita, ni pelajaran saya paksa selesai pukul 11.00, yang seharusnya selsai pukul 12.00. apalage kalo gak gara-gara kehabisan akal biar mereka tetep melek. Gak mungkin kan saya kasih batang korek satu-satu buat ngeganjel mata *plis deh rara. lanjuuuuut! waktu saya pamitan, salah satu murid ada yagn tanya. Begini katanya," Bu Rara, punya sepeda motor?"
Saya: ya, punya.
Murid: bisa naik?
Saya: ya, bisa. ada apa? mau ikut *kalimat terakhir sungguh bercanda, gak ada serius2nya!
Murid: ya ya ya, saya mau --> bagian ini saya syok?!
Saya: maksudnya keliling sekolah kan? *memastikan bahwa saya tidak akan membawanya pergi dari sana dan dikiran penculik bayaran *mule lebay
murid: yayayaay
Fiuh, leganyaaa. Setelah saya bilang ya dan mengangguk, mereka girang banget. Entah bahasa apa yang mereka pakai yagn pasti INTINYA mereka seneng bgt ikutan naek sepeda motor dengan saya.
itu belum seberapa. Waktu meeka bener2 saya boncengin naikmotor dan keliling sekolah, ya ampuuun, udah kayak naek banana boat, exited bgt. Dan usut punya usut, ternyata di Turki atau pun Krizikstan yang pake motor CUMA cowok. cewek JARANG BANGET yang pake motor. Forbidden kalee yaaak. Akirnya setelah semua dapet giliran, meski diliatin ama satpam, dikiranya sinting keliling2 sekolah pake motor, mission komplet!! dan seperti biasa yagn orang Indonesia lakukan di akhir. palagi kalao bukan poto potooo. sayangnya saya cuma punya satu foto :(



sampai akhirnya saya menulis ini, masih sangat saya sadari bahwa berbagai budaya terkadang mengundang tawa, tapi iutlah harmoni, dan saya menikmati itu.

Kamis, 10 November 2011

Gema, Denting, dan Denging

yang saya takutkan terjadi juga. pertanyaan itu muncul. sama dengan yang saya miliki akhir-akhir ini. di mana sebenarnya jalan yang benar? bergema seperti denting sendok yang menari di kepala saya. mencipta satu suara yang mendenging di telinga saya, seperti seseorang yang tengah berteriak tepat di sana. AAAAA, sakit sekali, sesakit yang ada dalam dada saya. hingga tuts-tuts huruf yang saya sentuh membentuk kata-kata ini pun, saya tidak menemukan jawaban yang bisa membuat kepala dan telinga saya benar-benar bebas dari gangguan. bahkan kalau saya boleh bilang, semuanya semakin menjadi, tidak terkecuali degup jantung saya.

Jumat, 28 Oktober 2011

Super Duper Payah!

ini bener-bener gak bener! tugas kuliah yang seabrek bikin pikiran kacau. bayangin aja, di pikiran ketika makan, minum, ngobrol, jalan, mandi, bahkan naik motor pun, adalah TUGAS!! *lebay. seharian kemarin dulu, kemarin, dan hari ini saya sering melamun ketika naik motor. mikirin gimana jadinya di antara jadwal kuliah, ngelesin anak sd, dan ngajar mahasiswa turki, saya bisa selesaikan semua tugas yang menumpuk gila. sampe-sampe tidak jarang, saya lupa harus ke arah mana. ujung-ujungnya nyasar dah. alhamdulillahnya masih ada di jogja dan saya masih punya kantong berisi buat beli bensin kalau-kalau saya nyasar terlalu jauh. yang lebih parah lagi, sering saya dapati saya sadar berangkat naik motor dari area parkiran kampus dan baru sadar lagi ketika saya sudah sampai di gang masuk ke kos an!! jadi apa yang saya pikirkan sebelumnya ketika melewati gerbang kampus, melewati satpam, nyebrang jalan, nyalib kendaraan lain, sampe memencet klakson jika perlu?? saya pun geleng2 sendiri, ngeri kalo inget jalanan jogja selalu rame. tapi,mau gimana lagi, itu sudah jalannya *apa hubungannya?! yang pasti semuanya harus dijalani meski sampe kebawa ngelamun segala :P. toh, kemauan menjadi mahasiswa kan saya, jadi saya juga yang harus menjalaninya dengan baik. hehehehe

Rabu, 26 Oktober 2011

my first teaching

Ini pengalaman yang menurut saya, eemmm, menarik. hahaha. Mengajar bahasa Indonesia kepada penutur asing? tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. ada sedikit rasa bangga ketika mengakui bahwa bahasa Indonesia, bahasa ibu saya, dituturkan oleh penutur dari negara lain dan sayalah pengajarnya. Sedikit membusungkan dada sebagai orang Indonesia.

hari ini, Rabu, hari pertama saya mengajar. Awalnya tidak ada yang membuat saya merasa bahwa saya harus bekerja keras. saya cukup mengajarkan beberapa patah kosakata dan menerangkan penggunaannya dalam kalimat. Selesai! Ternyata, Tuhan ingin saya lebih bekerja keras lagi. Ini saya temukan ketika dua dari murid saya (karena jumlah murid 'hanya' ada empat) BELUM tahu bahasa Indonesia sama sekali dan TIDAK bisa berbahasa Inggris. What a shock!!! terus saya harus pakai bahasa apa???! *lebay!! pun ketika saya menggunakan bahasa Inggris TER-sederhana, mereka hanya menggelengkan kepala, tanda bahwa mereka baru saja mendengar bahasa planet yang sama sekali tidak mereka pahami. tidak ada ekspresi yang saya keluarkan kecuali tersenyum. bukan karena saya kecewa, tapi karena saya sadar bahwa saya perlu bekerja lebih dari aygn saya kira.saya perlu belajar lagi, bagaiman saya bisa berbahasa Inggris dengan baik pada dua murid saya yang lain yang juga TIDAK tahu menahu tentang bahasa Indonesia. Sejauh pelajaran tadi pagi, saya menikmatinya, meski terkadang saya menggaruk kepala ketika tidak ada kata-kata dalam bahasa Inggris yang bisa mewakili dari bahasa Indonesia yang saya temukan. pun ketika saya menyadari bahwa satu dari murid saya menguap, entah karena mereka bosan atau pusing mendengar bahasa Indonesia yang tidak ia mengerti juga bahasa Inggris yang tidak terlalu bagus di telinganya.
*Fighting Rara!!! =D

Jumat, 21 Oktober 2011

saya bahagia :)

ini dua hari yang lalu, dan saya terima gaji pertama saya. senang sekali, meski tidak seberapa. bisa membuat orang tua mengucapkan selamat dengan rasa bangga, itu sudah lebih dari cukup. bisa membuat mereka merasa berhasil mendidik saya, itu sudah lebih dari kata bahagia buat saya. saya menghasilkan uang sendiri. saya punya pundi-pundi rejeki sendiri, dengan keringat saya sendiri. saya akui, itu tidak mudah, membiarkan mata saya berkantung dalam, dan membiarkan badan saya lelah karena berat badan yang menurun. tapi sekali lagi saya bilang, saya bahagia, saya menyukainya. mungkin inilah yang dirasakan oleh orang tua saya. memeras keringatnya demi saya juga dua adik laki-laki saya yang masih membutuhkan kantong yang cukup dalam. minggu depan, sumber pundi-pundi lain menunggu saya. saya bersyukur, sangat bersyukur, karena DIA telah membiarkan doa saya selalu terkabul, juga membiarkan saya memperoleh yang terbaik dari yang saya minta. saya bahagia.

Jumat, 14 Oktober 2011

tentang 'Last Faith'

ini cerita panjang pertama saya yang saya buat. Sekitar tahun 2008 saya pernah menjadikannya sebagai sebuah cerita pendek bergenre remaja berjumlah halaman 30. waktu itu, saya berencana menerbitkannya sebagai novel, tapi tanpa dinyana sebuah novel harus berjumlah minimal 100 halaman untuk bisa diterbitkan. Alhasil, mulailah saya mandek  untuk meneruskannya. membiarkannya teronggok begitu saja di antara dokumen-domumen cerpen lainnya. membiarkannya mati  tanpa akhir cerita.

baru pada awal tahun ini, tanpa senagaj saya membuka lagi 'tumpukan' cerpen di file komputer saya. dan saya temukan lagi cerpen usang yang pernah saya buat mati. Tanpa saya sadari, saya kembali tertarik. Yaaah, gak jelek-jelek amat. mualilah saya teruskan, saya ubah dari segi sudut pandang, latar cerita, sampai pada akhirnya saya tambahkan dan kurangi tokoh di dalamnya. Hingga semuanya berjalan, judul sementara yang sama ambil adalah Last Faith. saya tidak tahu mengapa judul itu tampak sangat menarik di mata saya. saya juga tidak tahu apakah secara grammar judul itu benar atau justru menimbulkan tanda tanya baru mengenai isinya. yang jelas, Last Faith terasa sudah mendarah daging dalam memori saya. Alurnya, setingnya, tokoh-tokohnya, sampai karakter yang dibangun di dalamnya, serta amanat yang saya selipkan, semuanya.

Inti dari cerita ini adalah persahabatan dan rahasia. entah nyambung atau tidak dengan judulnya tapi semuanya mengacu pada kepercayaan. kepercayaan sahabat dengan sahabat yang lainnya. juga kepercayaan untuk tetap menyimpan rahasia yang tidak bisa dibagi ke banyak orang. di dalamnya juga saya selipkan sejumalh komedi meski tidak lucu, namun setidaknya membuat pembaca tersenyum, saya sudah senang. saya selipkan juga sedikit adegan aksi yang merupakan genre favorit saya, meski tidak seperti aksi Bruce Willis atau yang lainnya. satu hal yang saya tekan kan di dalamnya adalah 'ketidakketerdugaan' *opoooo meneh kuwi, alias unpredictable. saya ingin cerita saya bukan cerita biasa, saya ingin ceirta saya dibaca karena memang pembaca ingin tahu isi yang dia baca. saya ingin pembaca memang menyelesaikan bacaannya bukan karena terburu agar selesai dan pergi dari rasa muak atas cerita yang saya buat, tetapi karena memang cerita itu membuatnya kecanduan *lagu kaleee. ini memang seperti obsesi ketinggian, tetapi saya hanya berusaha bahwa Last Faith bisa membuat saya dapat mulai berpijak di batu yang lebih tinggi untuk meraih buah yang lebih manis *beraaat. 
Doakan cepat selesai yaaa. ini tuntutan tugas kuliah benar-benar membuat waktu saya terkuras, heheheh. Keep fight!!!