bahkan satu detik ke depan pun bukan milik kita
jika bisa, akan aku minta Tuhan membuat setiap minggunya menjadi 8 hari. bukan karena aku ingin memperpanjang waktu akhir pekan. Hanya saja, waktu seminggu dengan 7 hari di dalamnya dan segala yang berulang pada tujuh hari berikutnya membuatku memerlukan satu hari yang berbeda, satu hal tanpa pengulangan, yang selalu bisa aku banggakan kekontrasakannya dengan hari lainnya. Hari ketika aku hanya bisa berada pada dunia yang aku inginkan saja. Hari ketika aku bisa hidup tanpa harus ada bayangan kepergianmu mu yang seakan selalu menggantung di pelupuk mataku di detik pertama aku terbangun dari tidurku. Hari ketika aku bisa mengukur detik tiap detik yang aku punya tanpa takut kehilangan setengah memori yang dulu pernah kamu hapus hanya dalam waktu 5 menit lamanya.
Aku memang tidak pernah membuangnya. Bahkan seringkali, berusaha melupakan justru lebih menyakitkan dibandingkan ketika tetap memutuskan untuk tetap menjaganya ada. Akan ada pelajaran di baliknya dan aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk turut meraihnya.
Bukannya kamu ingat kejadian lengkapnya? versi komplit dari putaran cerita yang terus berulang tiap kali aku melihat wajahku sendiri di depan cermin setiap harinya. itulah perulangan, salah satunya, yang ku maksud tadi.perulangan yang tiap menitnya menyisakan tanya, "Apa aku sanggup lupa?"
Jadi begini, kamu datang pertengahan bulan Juli tahun lalu. tentu saja tanganmu tidak kosong. ada seikat bunga harapan di genggamanmu lewat satu uluran tangan yang tak sengaja aku terima pada buku yang aku jatuhkan.
"Brian." begitu katamu setelah ucapan terima kasihku berikut senyum basa-basi ala sopan santun orang timur.
"Nia." sahutku tanpa mengurangi kadar sunggingan yang semakin dalam di kedua ujung bibirku.
Hari itu, kita resmi saling mengenal. Sebagai informasi tambahan, keberadaanmu bukan hal asing bagiku di kantor IT sebesar ini. Kita memang berbeda devisi, tapi kabarmu sudah meliputi seluruh ruang kerjaku, khususnya di meja-meja teman-teman wanitaku. Di ruangan ini, semua wanita adalah penggemarmu. Ah, oke aku akui, aku salah satunya dan aku menikmatinya: selalu berusaha menyertaimu dalam lift yang sama, berangkat maupun pulang kantor. Satu hal yang membuatku berbeda adalah perkenalan kita bukan perkenalan formal yang terjadi di ruang rapat pada pertemuan kerja pertama kali. Perkenalan kita terjadi sebelumnya, tepat di depan lift sebelum rapat koodinasi tadi dimulai. Dan sejak itu, aku bisa sering menyapamu di kantor bagian manapun. Bahkan kamu menjadi sering menyapaku lebih dulu, mengajakku makan siang bersama lebih dulu. Jangan ditanya bagaimana reaksi teman-teman wanita satu divisiku: meledekku setengah mati dengan rasa iri yang tidak lagi bisa tersembunyi.
Beberapa bulan kemudian aku menjadi bahan pembicaraan teman-teman satu kantor karena kedekatan kita. Kamu bahkan tidak malu memperkenalkan ku pada teman-teman nongkrongmu pada suatu malam minggu yang senggang. Asal kamu tahu, tidak ada hal lain yang membahagiakan selain ketika mengingat bagaimana kamu sangat menjagaku dengan memililih jalanan lengang karena jalan utama menuju pasar malam waktu itu terlalu padat. "Aku tidak ingin kamu berdesakan dengan laki-laki lain." hampir pingsan aku mendengarnya. kamu romantis. Termasuk juga ketika kamu sangat melindungiku di kala hujan tiba-tiba turun deras padahal kita baru saja berniat menghabiskan permainan lainnya sebelum tengah malam tiba. Dan akhirnya kita pun berteduh selama berjam-jam di sebuah kedai kopi dekat pasar malam. memesan dua gelas cappucino yang cukup bisa menghangatkan baju kita yang basah. pada akhir malam ketika kamu mengantarku pulang setelah hujan reda, kamu menyerahkan bunga harapan yang pernah aku lihat di perkenalan pertama kita. menyerahkan sepenuhnya untuk bisa aku jaga hingga ia bisa mekar dengan subur di dalam hati kita berdua.
Dua bulan sampai empat bulan selanjutnya adalah hal paling membahagiakan yang pernah aku rasakan bersamamu. Tidak mewah memang, hanya spesial: tidak harus ada nyala lilin dan main satin dengan lampu remang jika memang makan malam yang kita lakukan. Sampai akhirnya hari itu tiba, hari ulang tahunmu dan kamu baru saja pulang dari ibu kota untuk menghadiri sebuah pertemuan kerja sama antar negara sebagai perwakilan perusahaan. Kamu bilang, kamu terlalu lelah sampai akhirnya tidak masuk kerja sehari setelahnya, tepat hari itu. Mungkin karena kamu terlalu lelah pula maka kamu sampai lupa hari spesial macam apa yang seharusnya kamu sadari.
Aku sudah bersiap dengan pakaian kasual di depan cermin, berniat ke rumahmu untuk memberikan kejutan di hari spesialmu. Aku tersenyum tipis ketika membayangkan wajah kantukmu dengan lipatan di pipi dari kerut bantal dan seprai. Meski belum mandi dan gosok gigi, aku menyukainya. Kamu lucu sekali dengan ekspresi itu. Dan senyum tipis tadi pun semakin mengembang.
Tingtong!
Suara bel itu yang kemudian membuyarkan lamunanku, membuatku menoleh ke arah ruang tamu, seseorang datang. Aku bawa serta tas di sisi kiri ranjangku supaya nanti setelah tamu pulang, aku akan bisa langsung berangkat ke rumahmu. Tapi, niat itu tidak terlaksana karena ketika satu menit kemudian aku menemukanmu di depan pintu, menunggu disambut setelah memencet bel beberapa saat lalu. Tentu aku terkejut karena ku kira kamu masih istirahat di rumahmu.
"Aku ingin bicara." ujaran itu yang kemudian aku dengar. Aku mundur selangkah ke dalam rumah, mempersilakan kamu masuk tanpa bicara. Kamu pun duduk dan diam dua menit kemudian.
"Katamu mau bicara?" aku mencoba membuatmu bicara. Ini sudah menit ketiga. Bukannya bicara yang ingin diutarakan, kamu justru mendekatiku, merangkulku, dan memeluknya erat.
"Aku tidak bermaksud apapun padamu." ujarmu empat menit kemudian. Aku mengerutkan keningku. Saat itu tepat pukul 15.55 pada arlojiku.
"Aku akan menikah minggu depan dengan tunanganku, calon istriku." Dan itu ujaranmu lima menit kemudian yang meluncur bebas dari mulutmu, tepat pukul 16.00. tanpa tedeng aling-aling, tanpa terlebih dulu mengantarkan pendahuluan. Sementara menit itu berjalan menjadi yang keenam, aku masih terpaku pada wajamu, menatapnya lekat, mencoba mencari sisi dirimu yang aku kenal empat menit lalu. Asal kamu tahu, kamu mematahkan semuanya dalam waktu yang sesingkat-singkanya: gemarnya diriku padamu, sayangnya dirimu padamu, kenangan olokan teman pada kita yang masih berdenging di telingaku, juga rencana kejutan yang masih bisa aku ulang datu demi satu. kamu menghapus semuanya. sekejap. tanpa jeda. sementara aku tidak tahu harus melakukan apa selain berdiri dari kursi tamu dan menyertmu keluar. tidak ingin lagi mendengar segala alasan yang kamu punya.
Satu pertanyaan yang sebenarnya ingin aku lontarkan di antara ketukanmu pada pintu dari luar ketika itu adalah: Jika memang kamu sudah pernah memberikan bunga harapan yang sama pada tunanganmu, mengapa kamu memberikannya juga padaku?
Dan kamu akhirnya pergi dari sana setelah hari menjelang malam.
Hari setelahnya aku tidak menemukanmu di kantor. Setelah bertanya sana sini, ternyata kamu mengudnurkan diri. Kepergianmu ke ibu kota bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban pemenuhan kerjasama antar negara, tetapi juga sebagai pengajuan pengunduran diri yang tadi. Itu juga yang menjadi alasanmu tidak masuk kantor pada hari ulang tahunmu. kamu bukan ijin karena lelah, tapi karena hari itu hari pengunduranmu sudah terhitung. Kamu bukan lagi rekan kerjaku. Kamu telah menjadi tunangan dan suami wanita lain sepertiku: yang mencintaimu setulus yang aku bisa dan sedalam yang aku mampu. Meski dalam surat terakhir yang kamu kirim bersama undagan pernikahanmu kamu bilang kamu tidak pernah bermain-main tentang hatinya untukku, kenyataan bahwa kamu memilih pergi dan datang padanya tidak bisa terganti.
"Mbak Nia?"
Aku terperanjat, hampir saja menjatuhkan vas bunga di sisi meja kerjaku.
"Ya?" sahutku segera berusaha bersikap biasa.
"Sudah ditunggu Bos di ruang meeting." Jawabnya. Aku mengangguk, berusaha mengatur nafas dan membereskan segala macam berkas di hadapanku. Meeting ini yang kelima dan akan segera berakhir. Sudah ku bilang kan, aku butuh akhir pekan ekstra, 1 hari saja sehingga menjadi 8. Bukan sekadar agar aku isstirahat dari semuanya, tapi agar aku akan bisa kembali merasakan bahagia yang pernah ada sebelum kejadian 'lima menit kemudian' yang kamu buat.
Hhh. Dan hembusan nafas itu yang kemudian mengantarku bangkit dari kursi. berharap meeting ini akan cepat usai dan cerpat berganti dengan senyum di pipi.
Finara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar