karena hidup itu indah, maka keindahan itu akan lebih indah jika dirangkaikan dengan keindahan lain dari dunia lain: dunia di atas kertas. selamat membaca :)
Senin, 12 Agustus 2013
Kotak Surat
Ini tulisan saya yang ketujuh untuk hari ke dua belas #CeritaDalamKamar. mudik ke rumah saudara di Cirebon membuat saya nyaris tidak sempat untuk nulis. bukan hanya karena jalanan macet yang kadang bikin kreativitas agak tersendat, tapi jadwal berkujung yang sungguh di luar jadwal membuat saya memilih 'leyeh-leyeh' di atas kasur daripada di depan laptop *fiuh!
tema kali ini tentang kotak surat. ini bukan tentang kotak surat pada umumnya yang biasanya digantung di depan rumah. bukan pak pos juga yang memasukkan surat-surat itu ke dalamnya, melainkan saya. kotak surat ini milik saya. saya simpen sejak masuk kuliah. tapi, isinya memang sudah saya kumpulin sejak ponsel masih jadi benda tersier dalam pelajaran ekomomi, hehehe :p
awal pengumpulannya sih ketika saya duduk di bangku SMA. karena saya memang tinggal di asrama dan tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi bernama ponsel, media surat ini sangat membantu. paling banyak memang surat-surat curhatan antar teman dan sahabat yang berbeda asrama. curhatan tadi paling banyak tentang masalah pertemanan. maklum lah, tinggal di asrama gak sama dengan tinggal di kos jaman kuliah. di kos saya punya kamar sendiri, tempat tidur sendiri, kamar mandi sendiri. sedangkan di asrama, semuanya bersama-sama. berkumpul dalam satu kamar dengan minimal 7 orang berikut sifat dan karakter serta suku yang berbeda, tidak bisa menghindari terjadinya masalah di antara kami semua.entah itu masalah pelajaran, hati, perasaan, rebutan lauk makan, sampai masalah peminjaman buku catatan yang kadang bikin gedeg orang.
nah, kegiatan belajar kami yang sangat padat, membuat kami tidak sempat sering bertatap muka. jadi, surat itulah yang jadi jembatan komunikasi. kalsik banget ya? tapi, itu asik loh. itung-itung mengenang jaman surat masih jadi alat komunikasi utama, terutama yang pada LDRan *tsaah.
selain surat-surat curhatan yang sering ditulis dengan nangis bombay tadi, ada juga beberapa surat atau sebut saja kartu ucapan ulang tahun. saya selalu simpan surat-surat itu baik-baik. lucu juga lho kalo dibaca lagi entah beberapa tahun berikutnya. mengingat lagi bahwa ada banyak orang yang masih peduli dan rela meluangkan waktunya untuk sekadar menulis larik demi larik ucapan tadi, baik yang diselipkan di antara kado atau hanya terselip di bawah bantal tempat aku biasa meletakkan kepala setiap tidur.
yang saya inget dari semua surat yang ada itu adalah satu surat perdamamain yang dikirim olehs alahs atu sahabat baik saya. kenapa perdamaian? ya, kami bertengkar. jujur, hari-hari ptertengkaran kami itu hari terburuk semasa saya SMA dulu. bisa diabyangkan kan, teman yang biasa barengan kemana-mana, tiba-tiba marahan sama kita? itu juga salah saya sih awalnya: salah paham.dia marah besar, gak perlu juga saya ceritin di sini ya detail masalahnya, hehehe.
surat itu dia kirim juga karena temen-temen aku yang minta. mereka tahu aku nangis tiap hari gara-gara sahabat aku ini gak juga mau membalas sapaanku tiap kami ketemu. dia memang tersenyum, tapi saya tahu di dalam hatinya dia marah.
satu kalimat yang saya ingat dari tulisannya di surat itu adalah "Banyak kata yang tak mampu aku ungkapkan kepadamu..." *jleb!
dan surat itulah yang kemudian memaksa kami bertemu lagi dan akhirnya kami saling memeluk, menangis di pundak dengan perasaan lega *hiks!
meski sudah tergolong kuno, boleh lho dicoba untuk menuliskannya daripada dikatakan secara langsung.
kesannya kalau ingin menghayati lebih kerasa romantisnya. apalagi untuk urusan surat cinta. ini sih untuk saya ya, kalau teman-teman gimana? masih ada yang simpen surat cintanya jaman sekolah dulu?? :D
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar