Jumat, 16 Agustus 2013

Tombol Pengingat


Namanya Rangga, Rangga Yuda. Jika ditanya dimana aku menemukannya pertama kali adalah rumah sakit.
Selain durian, rumah sakit adalah satu hal lain yang aku benci. Bau karbol lntainya, warna-warnanya yang selalu putih, suara geladak roda ranjang berjalan, bunyi desas-desus para dokter dan perawat. semuanya. Aku tidak pernah paham, mengapa semua orang bangga menjadi pegawai rumah sakit. Bahkan tempatnya saja banyak dikatakan sebagai sumber cerita seram. Untuk berhasil membuatku beranjak dari rumah untuk kemudian mengunjunginya, perlu banyak hal yang bunda lakukan. Aku mengidap sirosis dan sejak kecil rumah sakit menjadi tempat 'bermain' ku selain Kids Fun. Dan sekarang, di usiaku yang hampir 17 tahun, penyakit itu tidak kunjung pergi, justru semakin parah. Dokter bilang, aku harus sering check up dan itu membuatku menjadi lebih sering mencium karbol lantai, melihat warna-warna putih, mendengar suara geladak roda ranjang berjalan, juga desas-desus para dokter dan perawat.

Kembali pada Rangga. Pertama kali aku melihatnya adalah ketika tanpa sengaja aku memergokinya merayu seorang perawat cantik di dekat loket pembayaran. Memalukan, itu kesan pertama. Tapi, semakin menyebalkan, pertemuan selanjutnya semakin terasa jauh dari kebetulan: Sekali, dua kali, tiga kali. Aku berlanjut melihatnya pada kunjangan kontrolku berikutnya. Dan ketika ku tanyakan pada pihak informasi, aku baru tahu bahwa ia adalah salah satu pasien rawat inap sejak 3 minggu sebelumnya. Sakit apa? Aku juga tidak ingin tahu. Melihat tampilannya saja aku sudah jengah. Bukan karena dia pucat dengan ludah terus mengalir di bibir. Tentu bukan begitu. Dia justru terlihat sehat wal afiat. Matanya bulat menyala, dagunya tegas, alisnya tebal. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia pantas dinyatakan sebagai orang yang layak disebut 'penderita penyakit'. Iri? pasti. Keadaannya yang sehat membuatku merasa tersindir: kelopak mata cekung dengan lingkar hitam di bawahnya membuatku lebih mirip pesakit yang tidak kunjung bisa tersenyum bahagia. Jujur, aku tidak menyukainya.

Namun, siapa sangka, benci itu perlahan luntur satu demi satu. Semakin sering aku melihatnya, semakin aku tahu apa saja yang dilakukannya. Dan ketika akhirnya aku mengenalnya, ternyata ia menyenangkan. AKu merasa bersalah dengan anggapanjahatku pada awal melihat tingkahnya. Dia juga ramah pada semua orang. Keramahan itu juga yang membuatku mengenalnya. Entah apa yang dimilikinya, tapi ia berhasil membuatku betah berada di antara warna putih yang mulanya sangat aku benci. Itu pertama kalinya aku menyukai keberadaanku di rumah sakit dan Ranggalah penyebabnya.

Hal lain yang paling membuatku merasa bersalah adalah bahwa anggapan jahatku tentang kondisnya yang sehat tidak benar. Dia benar-benar sakit: kangker paru-paru dan mungkin jika diukur menurut perhitungan dokter, usiaku masih jauh lebih lama dibandingkan miliknya. 3 bulan, hanya 3 bulan lagi dan ia resmi menjadi salah satu penghuni kamar mayat rumah sakit ini. Ku tahu itu darinya, langsung. Bahkan sedikitpun ia tidak menunjukkan kesedihannya. keceriaannya itu justru yang selalu menyorotku dari tatapan matanya. 
"Waktukuyang sedikit ini akan terlalu sia-sia jika aku gunakan untuk bersedih, Dela." ujarnya waktu itu. Aku hanya diam menanggapinya, sembari membenarkannya di hati.
Sejak itu, ia mengajarkanku untuk mengeja waktu yang singkat dengan segala macam hal yang membuatku lupa sejenak bahwa aku harus mengonsukmsi segepok obat dan melakukan segenap terapi yang bisa membuatku gantung diri karena bosan. bahkan ia menjadikan warna putih rumah sakit yang sungguh menjengahkan menjadi warna putih yang teduh. Aku resmi menyukainya.


***

Semuanya sudah pulang, hanya sepiyang kemudian menjadi pagar yang melingkari tempat aku berdiri. Aku sengaja datang terlambat. Aku hanya ingin privasi, bukan publikasi. Bunga yang bertaburan itu masih segar dan aku yakin, Rangga masih mampu melihatku di sini meski samar. 
Ini adalah hari pemakanan Rangga. Sesuai 'jadwal' yang dokter katakan, ia meninggal 3 bulan sejak pertama aku mengenalnya, sejak pertama aku nyatakan bahwa aku membenci tingkah polahnya. Dia telah pergi selamanya. saat kemudian aku melirik tangan kiriku, benda itu ada di sana: origami burung bangau. Rangga yang membuatkannya untukku seminggu sebelum kepergiannya.
"Menurut kepercayaan, burung bangau ini akan menjadi satu pengabul permohonan dalam hidupmu." Kata-kata itu kembali teringat di benaknya ku, membuatku tersenyum tipis antara lelehan air mata yang tanpa terasa menderas. Burung bangau ini akan selalu menjadi tombol pengingatku padanya. Tombol pengingatku untuk terus tertawa dan bahagia. Pengingatku tentang permohonan yang akan jauh lebih mudah terkabul jika aku membuatnya dalam jumlah 1000 burung banyaknya. Juga pengingatku tentang ajarannya tentang bagaimana caranya memperlakukan tiap helai waktu dalam hidupnya untuk terus bahagia. Mungkin, tidak makan waktu lama aku pun akan menyusulnya. meski Tuhan tahu permintaanku sejak dulu tentang donor hati dan kesembuhan, aku harus siap. aku sudah siap. toh aku tidak akan sendiri. akan ada Rangga di sana yang siap menyambur bahagia dan menemaniku dengan ceria. 

Finara_



Tidak ada komentar:

Posting Komentar