Aku selalu hafal sepatu tua abah, sepatu berwarna coklat dengan tali yang sudah mulai berganti jenis: dari tali sepatu asli ke tali kolor yang beliau ambil begitu saja dari celananya. tali yang seharusnya sudah raib digondol tikus got. mungkin karena aroma sepatu abah terlalu mirip dengan aroma tubuh tikus itu sehingga si tikus tadi mengiranya sebagai ekor milik temannya yang mati disambar mobil ambulans pagi hari.
Setiap kali aku pulang sekolah, aku akan melihat sepatu abah di depan pintu rumah, berjejer sepasang dengan rapih. Bukan karena abah tidak berangkat bekerja seperti layaknya seorang ayah lainnya. abah bekerja, tapi jam kerjanya bersamaan dengan jam tidurku. kata abah, pada malam hari akan ada lebih banyak rejeki yang beliau dapatkan. eits, abah bukan laki-laki germo lho. abah adalah pemulung. dan setiap pukul 9 malam, abah akan keluar rumah sembari membawa keranjang di punggungnya. mendatangi rumah demi rumah untuk menemukan apa yang menurutnya masih pantas dikatakan 'barang siap pakai'. tentunya, sepatu tua berwarna coklat kesayangannya tadi beliau dapatkan dari sana. dulu, ketika aku masih belum bisa ditinggalkan sendiri di rumah, abah selalu menggendongku. emak sudah meninggal sejak aku dilahirkan. jadi, akulah yang menjadi saksi perjuangan abah di malam hari mencari nafkah demi aku bisa bersekolah sampai hari ini.
***
ini hari minggu dan yang aku tahu tidak ada hari libur untuk abah. seperti biasa, jika hari minggu tiba aku akan menunggu beliau pulang di depan pintu dengan wajah ceria. akan ada satu momen istimewa yang kami lewati tiap minggunya: makan pagi bersama. menunya tidak mewah. hanya nasi dan ikan asin. itu cukup karena yang lebih penting bagiku adalah makan pagi bersamanya seperti layaknya anak dan ayahnya, seperti layaknya orang-orang kaya lakukan, seperti layaknya putri dan raja di sebuah istana indah.
sudah pukul 9 dan abah belum juga muncul dai kelokan terakhir di sebelah barat rumah kami. aku masih sabar karena memang abah sering kali terlambat.
"maaf, tadi abah mampir dulu ke toko buku untuk membelikan ini untukmu, Seruni." ujarnya suatu waktu lalu sembari menyerahkan dua buah buku pelajaran bekas padaku. cemberutku pun seketika hilang dan tergantikan dengan haru.
dan karena itulah aku yakin, abah terlambat dengan alasan yang sama.
"apa ya yang kali ini abah bawa?" batinku.
tapi, ketika jam dinding peninggalan ibu sudah menunjukkan pukul setengah 10, lalu 11, lalu 12, dugaan awal tadi tidak lagi berlaku. aku pun mulai berfikir macam-macam. bagaimana kalau terjadi sesuatu pada abah? bagaimana kalau abah tidak bisa lagi pulang dan ia sambut di depan pintu seperti biasa bagaimana kalau....
"Seruni!" seruan itu membuyarkan lamunanku,
"Abah kamu..." aku tidak lagi mendengarkan alasan di belakang ujaran barusan. aku hanya berlari tanpa sempat menutup pintu, tanpa sempat memastikan rumah terhindar dari tikus got yang mungkin saja masuk.
dan di sana, di kelokan ketiga aku melihat simabahn darah. bukan darah tikus got yang biasa terciprat karena terlindas kendaraan bermotor. itu darah manusia. itu darah abah. wajahnya meamng tidak lagi tampak. saksi bilang, abah ditabrak orang tidak dikenal, semalam. dan baru saja ditemukan oleh sesama pemulung, dari desa tetangga. aku tahu itu abah dari kakinya, dari sepatunya, sepati tua berwarna coklat kesayangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar