karena hidup itu indah, maka keindahan itu akan lebih indah jika dirangkaikan dengan keindahan lain dari dunia lain: dunia di atas kertas. selamat membaca :)
Selasa, 15 Oktober 2013
My A Very Yuppy Wedding #MyAVYW
Novel A Very Yuppy Wedding ini saya kenal dari salah satu teman satu kos ketika masih jaman kuliah 1 tahun lalu. Dia bilang, gaya penulisannya beda dengan novel-novel lain yang terkesan klasik dan 'gitu-gitu aja'. Intinya, novel AVYW ini membuat saya mengenal sisi lain dari penulisan sebuah cerita. Bahkan saya sempat meniru gaya penulisannya loh, meski akhirnya tetap tidak bisa menandingi ciri khas kak ika sebagai penulis aslinya. Yang pasti, cara dia bercerita menjadi satu inspirasi baru dalam menulis (yang notabene saya suka nulis sejak SD) yang belum pernah saya temukan sebelumnya di novel-novel yang pernah saya baca.
Kalau mau dijabarkan, kayaknya gak bisa singkat sih menjelaskannya mengapa saya suka sekali novel ini. novel yang membuat saya sempat berfikir 'ternyata ada juga cara penceritaan novel semacam ini dan bagus!' :))
Penilaian ini keluar dari penggambaran cerita dengan menggunakan sudut pandang aku-an yang merupakan ciri khas kak ika. Melalui sudut pandang aku-an ini saya menemukan satu rasa pembacaan yang asik dan lebih terasa seperti sedang membaca buku harian orang. Melalui sudut pandang aku-an ini juga cerita di dalamnya menjadi lebih terasa manusiawi, natural, dan tidak dibuat-buat. Semua hal yang terjadi terasa sebagai 'memang seharusnya begitu' dan bukan 'kebetulan terjadi' yang terasa janggal bila benar-benar ada di kehidupan nyata. saya sebagai pembaca, merasa seperti menjadi patner cerita dari penulis dalam memaparkan semua alurnya sampai akhir. Saya bisa ikut galau, ikut nangis, ikut jengkel, dan ikut bersemu seiring dengan suasana hati tokoh yang diceritakan.
Ciri khas lain yang aku temukan dalam novel ini adalah kuatnya penggambaran tokoh di dalamnya. betapa saya terbayang-bayang tokoh Andrea dan Adjie selama bahkan berhari-hari setelah selesai membaca novel ini. ada satu formula yang belum pernah saya rasakan setelah membaca suatu novel. Novel ini, entah dengan 'resep' apa, membuat tokoh-tokohnya terasa hidup, terasa nyata hingga pernah membuat saya berfikir ini adalah salah satu karya berdasarkan kisah nyata. Novel ini juga mengajarkan secara tidak langsung pada saya untuk tidak melulu menggambarkan sifat tokoh dengan kata-kata secara langsung, tapi melalui kata-kata yang digunakan tokohnya, perilaku yang dilakukan tokohnya. Intinya, semua penggambaran tokoh dalam novel ini sangat membekas di benak saya saya. Apalagi, penggambaran tokoh laki-laki yang tidak jarang membuat delusional tak kunjung henti. Ini juga yang kemudian saya temukan pada novel-novel lain kak ika seperti antlogi rasa, divortiare dan twitvortiare, ditambah lagi cerpen Critical Eleven dalam kumcer Autumn One More. Bagaimana lekatnya penggambaran Harris, Ruly, Denny, apalagi Beno yang sampai sempat terbawa mimpi. Ah, sungguh >.<
Hal tambahan yang saya suka dari novel ini adalah yang saya lihat dari sisi penulisnya. Betapa kak ika sebagai seorang banker yang notabene sangat sibuk dengan segala macam laporan dan tetek bengek OTS tapi masih menyempatkan diri untuk membuat novel sekeren ini. Pengetahuan umum yang kak ika selipkan yang tidak tampak berlebih membuat pembaca seperti saya tidak hanya mendapatkan 'cerita fiksi' belaka tetapi juga hal lain yang belum pernah saya tahu, tentang perbankan terutama.
Satu hal lagi, cover novel ini itu bikin bangga buat dibawa kemana-mana. Serius. Simple and cool! Ini bagian dari pamernya sih sebenarnya bahwa saya bisa dengan bangga membaca novel ini di depan orang banyak, heheheh
Kalau memang nanti novel ini akan dijadikan film, yang pantas memerankan Andrea Siregar --menurut saya-- adalah Yasmine Wildblood dan Adji adalah Reza Rahadian. Untuk pemeran Ajeng, menurut saya cocok dimainkan oleh Ririn Dwi Aryati :))
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar