Kisah ini berawal dari ibu dan segelas kopi.
Aku sudah mengenal kopi sejak anak lain belum mulai bisa membedakan aroma makanan. Ibuku penyebabnya. Beliau adalah satu di antara beribu bahkan jutaan penggemar kopi, pecandu kopi. Tidak banyak yang tahu tentang ini jika beliau tidak dengan terang-terangan menggoreng berkilo biji kopi untuk mendapatkan racikan kopi yang pas dengan lidahnya. Sewaktu gigi seriku masih belum lengkap benar, aku pernah membenci kopi. Menjadikannya sebagai semacam tersangka yang membuat kulitku tidak seputih gadis kecil berdarah Oriental atau justru Eropa. Aku selalu beranggapan bahwa gara-gara ibu sering minum segelas kopi ketika mengandungku, kulitku menjadi agak gelap. Sawo matang tepatnya.
“Kamu hitam manis sayang,” hibur ibuku tiap kali aku cemberut sembari memandangi kulitku lewat cermin.
Saat aku beranjak remaja, aku pun paham, bahwa aku dilahirkan dari keluarga berdarah Jawa dengan warna kulit sawo matang. Jadi mustahil jika aku berharap kulitku sepuith mutiara seperti yang gadis kecil berdarah oriental atau eropa yang pernah aku impikan. Sejak saat itu, aku resmi menghapus rasa benciku pada kopi. Aku justru mulai mencicipinya dari satu teguk kopi buatan ibu. Enak! Serasa mendapat pecerahan seketika.
Saat kemudian beranjak meninggalkan masa remaja, ibu mengijinkan aku membuatkan segelas kopi untuknya: pagi dan siang hari. Satu gelas berisi racikan yang pas dan nikmat: Satu setengah sendok teh kopi, dua setengah sendok teh gula pasir. Itu rumus pertama yang ku terima darinya. Ketika air panas kemudian terseduh di atasnya, aroma itu sangatlah harum, membuat tiap hidung yang menangkapnya tidak absen untuk menghirupanya dalam-dalam, merasakan tiap helai aroma yang tercipta.
Ketika kali pertama kopi buatanku tersaji, ibu tampak belum puas benar. Tapi ia tetap tersenyum. Ketika ku tanya apa yang kurang, beliau bilang, “Airnya kurang penuh sayang.” Inilah rumus kedua yang akhirnya ku dapatkan. Rumus yang ibu miliki dalam meracik kopi, bahwa gelas itu belum bisa dikatakan penuh sebelum air kopi berjarak nol koma lima sentimeter dari bibir gelas.
Pernah aku tanya mengapa kopi begitu penting bagi hidupnya. Ia hanya tersenyum menaggapinya dan menjawab bahwa kopi baginya menjadi semacam semangat hidup selain suami dan anak-anaknya. Juga semangat hidup ketika ia rindu pada kampung halaman yang berjarak tidak dekat darinya.
Hingga saat ini, kebiasaan dan kegemarannya masih sama: menciptakan segelas kopi di pagi dan siang hari dengan dua rumus yang bisa membuatnya mengerutkan kening ketika seseorang mengubahnya. Kebiasaan dan kegemarannya yang mulai aku lakukan sebagai kegemaran dan kebiasaanku di pagi dan siang hari. Dan semuanya itu berawal dari kisah ibu dan segelas kopi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar