Sabtu, 13 Juli 2013

Berbagi Senja

Kamu menyebutnya "Berbagi Senja". Bukan seseorang, tapi sesuatu: senja yang sesungguhnya dengan matahari terbenam dan mega merah menjadi selendang indah di baliknya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum ketika kamu menyebutnya sembari memberikan bungkusan nasi terakhir pada seorang anak lelaki di depanku, setahun yang lalu. Ya, kamu menghabiskan soremu dalam 30 hari bulan suci di setiap tahun dengan para jalanan itu, anak manusia yang bahkan kamu tidak mengenalnya. Tentu tidak salah, bahkan itu yang membuatku menyukaimu, saat setahun lalu hujan deras itu yang membuatku mengenalmu. Kamu, mempersilahkan aku bergabung . Duduk beralaskan koran di tepi pertokoan jalanan. Itu pertama kalinya aku mendengar kalimat doa dari kedua bibirmu, persis setelah adzan berkumandang. Satu nasi bungkus di tanganmu, kamu bagi separuhnya untukku yang basah kuyup dan kedinginan, lapar. Hari itu, kamu tidak hanya membagikan senja, tapi juga membagikan hatimu untuk mereka, juga untukku. dan kini, di tahun ini, aku ada di sini bersama mu, menemanimu kembali membagikan senja yang Tuhan punya: dengan tawa, dengan bahagia, dan dengan tentu, dengan cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar