Berbagi Senja
Kamu menyebutnya "Berbagi Senja". Bukan
seseorang, tapi sesuatu: senja yang sesungguhnya dengan matahari
terbenam dan mega merah menjadi selendang indah di baliknya. Aku hanya
mengangguk dan tersenyum ketika kamu menyebutnya sembari memberikan
bungkusan nasi terakhir pada seorang anak lelaki di depanku, setahun
yang lalu. Ya, kamu menghabiskan soremu dalam 30 hari bulan suci di
setiap tahun dengan para jalanan itu, anak manusia yang bahkan kamu
tidak mengenalnya. Tentu tidak salah, bahkan itu yang membuatku
menyukaimu, saat setahun lalu hujan deras itu yang membuatku mengenalmu.
Kamu, mempersilahkan aku bergabung . Duduk beralaskan koran di tepi
pertokoan jalanan. Itu pertama kalinya aku mendengar kalimat doa dari
kedua bibirmu, persis setelah adzan berkumandang. Satu nasi bungkus di
tanganmu, kamu bagi separuhnya untukku yang basah kuyup dan kedinginan,
lapar. Hari itu, kamu tidak hanya membagikan senja, tapi juga membagikan
hatimu untuk mereka, juga untukku. dan kini, di tahun ini, aku ada di
sini bersama mu, menemanimu kembali membagikan senja yang Tuhan punya:
dengan tawa, dengan bahagia, dan dengan tentu, dengan cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar