Sabtu, 13 Juli 2013

Cinta dan ruang di antara bebukuan

Randi begitu menikmatinya. Bersepeda dengan menggunakan kemeja berdasi. Rapi. Lalu lintas kota Yogyakarta sore hari tampak cukup padat. Ia tetap mengayuh sepeda miliknya itu sekuat tenaga. Melewati dengan mudah setiap barisan kendaraan. Melewati jalan yang sama setiap sorenya. Ia bukan seorang pegawai suatu instansi apalagi seorang karyawan perusahaan swasta. Randi hanyalah seorang mahasiswa.
Hampir setiap sore, Randi harus mondar mandir menggendong tumpukan buku untuk dirapikan di rak perpustakaan.Jumlahnya memang tidak banyak. Tapi, besarnya menyamai buku-buku Ensiklopedia seperti yang ia lihat di internet. Tidak seperti orang lain, ia memerlakukan buku-buku itu dengan begitu manja. Ia merasa dirinya sudah seperti orangtua yang memiliki tanggung jawab besar: membawa buku-buku ini sampai dengan selamat, kemudian membiarkan mereka beristirahat dengan rapi di setiap rak. Ketika pekerjaannya itu telah selesai, Ia akan menyempatkan diri untuk membaca beberapa novel atau buku sekadar kumpulan puisi di sana.
   Randi memang bukan pekerja tetap di perpustakaan itu, Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Ia sengaja menghabiskan waktu sepulang kuliah di sana, mencoba membantu meringankan pekerjaan ayahnya yang sudah cukup tua sebagai salah seorang petugas tetap di perpustakaan itu. Ayah Randi pasti sudah cukup lelah di usianya yang mulai senja.
Sore itu, seperti biasa, satu persatu Randi masukkan buku-buku tadi. Tidak sampai pada susunan buku terakhir, tempat buku yang belum ia susun menyisakan ruang kosong, menyisakan ruang pandang. Tidak cukup besar memang untuk membuat kedua bola matanya mampu melihat dengan jelas.Ia coba menatap lurus menuju satu objek. Tidak. Objek itu bukanlah buku yang terlihat berantakan dan belum sempat ia susun. Objek itu juga bukan buku-buku menarik yang belum sempat dibacanya.Objek itu bukan benda mati.Objek itu hidup.Objek itu seorang wanita.
“Duug!” Sesuatu tiba-tiba mengacaukan lamunan Randi, menghentikan pandangannya: susunan buku yang belum selesai ia rapikan terjatuh, tepat di sisi kaki kanannya.
“Sial!” umpatnya pelan sembari merunduk, mengambil satu persatu buku-buku tadi.Ia hanya perlu berharap agar apa yang dibayangkannya tidak terjadi saat itu juga: wanita tadi menyadari keberadaannya, menyadari bahwa dirinya sempat memperhatikan wanita tadi dengan seksama, menyadari bahwa....
“Ada yang bisa dibantu?” pertanyaan itu terdengar sebelum Randi sempat menyelesaikan doa dan harapannya. Ia hanya tersenyum ketika kemudian buku tadi terpungut seluruhnya dan menemukan wajah yang sempat ‘terselip’ di antara bebukuan tadi benar-benar ada di hadapannya, utuh, tidak terhalang apapun.
“Ada yang bisa dibantu?” ulangnya, menyadari bahwa Randi hanya diam, terpaku dengan kedua tangan memegangi setumpuk buku.
“Emm, ini..tidak... tidak ada. Saya baik-baik saja.”Jawabnya terbata yang justru membuatnya semakin tidak bisa benar-benar berhenti menyalahkan dirinya dalam hati. Jawaban macam apa itu?
Wanita tadi justru tersenyum, “Kalau begitu, permisi,” ujarnya kemudian sembari berlalu. Randi sempat membalas senyuman itu sebelum akhirnya wanita tadi kembali duduk di kursinya, menghadap satu buku tebal berjudul Neurosurgery Board Review: Questions and Answers for Self-Assesment. Ia mahasiswa fakultas kedokteran.
***
Ini tidak biasa, Randi bisa bangun lebih pagi dari biasanya, lebih rajin dari biasanya. Bahkan, ketika kemudian ibunya belum selesai menyiapkan sarapan, ia sudah siap di meja makan, tepat di kursi yang biasanya masih kosong sebelum sang ibu memanggil beberapa kali karena Randi tidak kunjung keluar. Beberapa menit kemudian, sarapan berupa telur setengah matang dan segelas susu itu habis dilahapnya. Sang ibu sempat mengerutkan keningnya saat menyadari wajah anak lelakinya lebih bersinar dibanding hari-hari sebelumnya.Ia sempat berharap bahwa itu akan terjadi seterusnya.
Setengah jam yang lalu sudah lewat dan Randi tengah mengayuh sepedanya dari kampus, sepulang kuliah.Tidak lagi perlu ditanya kemana, kalau memang pada akhirnya tempat di tepi jalan Tentara Mataram itu yang menjadi tujuannya. Sejenak setelah memarkir sepedanya dan segera masuk ke dalam, ia melakukan kegiatan seperti biasa: merapikan buku-buku kembali ke raknya, juga sesekali mengontrol letak penomoran yang mungkin tertukar dengan buku di sebelahnya. Di antara kebiasaan itu, ada satu hal yang berbeda dari biasanya: matanya tidak lagi terfokus pada buku-buku dan rak berdebu di hadapannya, juga nomor-nomor yang sanggup membuatnya begitu jeli menemukan kesalahan pengaturan di sana. Satu kursi di sebelah barat rak bertuliskan ‘Kedokteran’ sudah menjadi fokus lain yang dimilikinya. Kursi yang kemarin membuatnya menjatuhkan buku yang seharusnya rapi di atas raknya, serta kursi yang hari ini membuat dirinya bangun lebih pagi, sarapan lebih awal, dan berwajah lebih cerah dari biasanya.
“Kamu menyukainya?” tanya Mbak Ike di dekat kursinya. Randi menoleh, menyadari bahwa sedari tadi beliau tengah memperhatikannya. Randi berusaha menyembunyikan semu yang ia rasakan, tidak sempat menjawab karena Mbak Ike sudah kembali menimpalinya.
“Namanya Rani, mahasiswa kedokteran, satu angakatan dengan kamu. Dia sering kemari, duduk di kursi yang sama.” paparnya.Randi masih diam, menyimak tiap penjelasan tadi dengan seksama.Rani, ia mengeja nama itu dalam hatinya.
Tiba-tiba terdengar sapaan di antara deretan rak di sisi kirinya.“Mas, boleh minta tolong?”Suara itu asing.Suara yang belum pernah didengar oleh Randi.Suara milik Rani.
“I... Iya. Bo..boleh.” Lidah Randi seketika kaku.Tidak mampu berucap banyak.
“Tahu di mana letak buku Surgical Pathology of the Head and Neck Volume 3 tulisan Leon Barnes?Kemarin, saya sempat membacanya.Sebelumnya, ada di ujung sana, tapi sekarang sudah tidak di tempatnya.” paparnya sembari menunjuk arah yang dimaksud.
“Ee.. Oh, buku itu. Tunggu di sini sebentar ya, Mbak.”Pergi Randi segera, mencari buku itu.Letaknya bukan di rak seperti layaknya buku lainnya.Buku itu ada di dalam tasnya.Ia tidak sengaja membawa buku itu pulang untuk dibaca. Padahal ia sama sekali tidak tertarik akan ilmu kedokteran. Ia hanya mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya Rani sukai hingga ia sering datang ke sana.
“Sudah ketemu bukunya, Mas?”
“I... Iya.Ini bukunya, Mbak.”Tangan Randi bergetar ketika memberikan buku itu kepada Rani.
“Tertarik dengan ilmu kedokteran juga, Mas?”Randi menggeleng perlahan.
“Tidak juga.Mbak sendiri?Sepertinya saya lihat, Mbak sering sekali datang kemari.”
“Iya, benar.Saya sering datang kemari untuk mencari bahan tugas kuliah atau sekadar membaca.Saya rasa, tempat ini menyimpan banyak hal, menyimpan apa yang orang butuhkan ketika mereka tidak tahu harus kemana.”
Dan sejak perbincangan itu, Randi mencoba memberanikan diri untuk mencari tahu banyak hal mengenai Rani, lebih dari sekadar namanya dari Mbak Ike.Sejak perbincangan itu pula, mereka jadi lebih sering bertatap muka, lebih sering menghabiskan waktu bersama. Randi pun jadi tahu kegemaran Rani memasak, jadi tahu bahwa Rani menyukai warna merah dan pandai membuat puisi, jadi tahu bahwa ketika kecil dulu, dagu Rani pernah membentuk trotoar. Lukanya pun masih ada, membekas, membentuk satu garis pendek tanpa sedikitpun mengurangi kecantikannya. Panggilan yang semula berupa ‘saya’ berubah menjadi ‘aku’, Mas dan Mbak berubah menjadi kamu: mereka semakin dekat.
                                                                        ***
Hari itu hari Selasa, tepat ketika angka 17 Juli tertera di layar arloji Randi sebagai tanggal hari itu.Ia tahu, hari ini berbeda. Bukan karena hari itu adalah tiga bulan perkenalannya dengan Rani, tapi juga karena Randi bermaksud memberikan kejutan kepada Rani.
To: Raniku
            Pukul 8 malam, 0 KM Malioboro
Tulis Randi dalam pesan singkatnya.Ia terlalu bahagia akan rencana itu. Sampai Ia lupa kalau Rani sama sekali tidak membalas pesan singkatnya, tidak pernah.
                                                          ***
Rasanya sudah dua jam lamanya Randi duduk menunggu kedatangan Rani.Hampir pukul 10 malam dan jalan yang sebelumnya tampak ramai kini mulai sepi dari padatnya pengendara ataupun pejalan kaki. Es teh yang Randi beli dari pejaja makanan tepat di depan gerbang Benteng Vredeburg juga sudah tidak tersisa. Bahkan sesuatu yang ia tempatkan di dalam kotak berwarna merah, warna favorit Rani, sudah tampak sedikit kusut. Ia tahu, ia kecewa. Hingga pada akhirnya gerimis yang kemudian datang itu menderas, kecewa itu semakin kuat. Rani tidak pernah datang dan ia memutuskan untuk pulang. Ia tidak lagi peduli dengan basah yang memeluknya saat itu. Bahkan dingin yang dirasakan tubuhnya tidak menandingi dingin yang ia rasakan di dalam hatinya.
Mungkin, ia terlalu banyak berharap. Randi menganggap dirinya sebagai detik yang Rani lewatkan, yang Rani abaikan. Ia tersandung di tengah waktu. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa pada Rani di pikirannya. Ia tidak tahu harus memindahkan ke rak mana di otaknya. Baginya, Rani adalah seorang wanita yang membawa secercah harapan untuk kemudian meninggalkan tumpukan kenangan.
“Triingg!”Masuk sebuah pesan singkat yang mengganggu lamunan Randi.
From: Raniku
Maafkan aku, Randi. Aku tidak bisa menjelaskan banyak karena memang tidak banyak yangg bisa aku rasakan ketika aku ada di samping kamu

            Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Randi.Ia mencoba membuang pandangan ke setiap objek yang bisa ia lihat. Ia ingin lupa. Ia butuh lupa. Bibirnya mulai memucat, berbanding terbalik dengan matanya yang mulai tampak kemerahan.Ia makin kedinginan: hujan yang mengguyur membuat sekujur tubuhnya menjadi kaku. Meski ia tahu itu sungguh menyiksanya, ia tidak peduli lagi. Paling tidak ia bisa melakukan sesuatu yang mungkin bisa menutupi apa yang lebih menyiksanya di dalam hati.
***
Hari itu tanggal 17 Agustus. Tepat sebulan dan Randi belum benar-benar lupa: senyum pertama Rani, suara Rani, sampai akhirnya pesan terakhir dari Rani. Ia masih ingat semuanya.
“Apa yang pernah terjadi akan menjadi pelajaran untuk nanti, Randi.”Begitu ujar Mbak Ike beberapa minggu lalu padanya. Beliau tahu apa yang terjadi. Rani memilih orang lain ketika ia menemukan yang menurutnya lebih baik dari Randi, ketika ia tahu bahwa yang Randi rasakan lebih dari yang ia punya. Kini, Randi memang masih sendiri, tapi Randi sudah tahu tentang apa yang harus ia lakukan pada Rani di pikirannya. Ia sudah tahu harus memindahkan ke rak mana di otaknya. Randi sudah bisa tersenyum lagi.

Selesai

(Ditulis bersama Oky Janwardana dalam #ProyekMenulis: Kejutan Sebelum Ramadhan oleh @nulisbuku )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar