Randi begitu menikmatinya. Bersepeda dengan menggunakan
kemeja berdasi. Rapi. Lalu lintas kota Yogyakarta sore hari tampak cukup padat.
Ia tetap mengayuh sepeda miliknya itu sekuat tenaga. Melewati dengan mudah
setiap barisan kendaraan. Melewati jalan yang sama setiap sorenya. Ia bukan
seorang pegawai suatu instansi apalagi seorang karyawan perusahaan swasta.
Randi hanyalah seorang mahasiswa.
Hampir setiap sore, Randi harus mondar mandir menggendong
tumpukan buku untuk dirapikan di rak perpustakaan.Jumlahnya memang tidak
banyak. Tapi, besarnya menyamai buku-buku Ensiklopedia seperti yang ia lihat di
internet. Tidak seperti orang lain, ia memerlakukan buku-buku itu dengan begitu
manja. Ia merasa dirinya sudah seperti orangtua yang memiliki tanggung jawab
besar: membawa buku-buku ini sampai dengan selamat, kemudian membiarkan mereka
beristirahat dengan rapi di setiap rak. Ketika pekerjaannya itu telah selesai,
Ia akan menyempatkan diri untuk membaca beberapa novel atau buku sekadar
kumpulan puisi di sana.
Randi memang bukan pekerja tetap di
perpustakaan itu, Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Ia sengaja menghabiskan waktu
sepulang kuliah di sana, mencoba membantu meringankan pekerjaan ayahnya yang
sudah cukup tua sebagai salah seorang petugas tetap di perpustakaan itu. Ayah
Randi pasti sudah cukup lelah di usianya yang mulai senja.
Sore itu, seperti biasa, satu persatu Randi masukkan
buku-buku tadi. Tidak sampai pada susunan buku terakhir, tempat buku yang belum
ia susun menyisakan ruang kosong, menyisakan ruang pandang. Tidak cukup besar
memang untuk membuat kedua bola matanya mampu melihat dengan jelas.Ia coba
menatap lurus menuju satu objek. Tidak. Objek itu bukanlah buku yang terlihat
berantakan dan belum sempat ia susun. Objek itu juga bukan buku-buku menarik
yang belum sempat dibacanya.Objek itu bukan benda mati.Objek itu hidup.Objek
itu seorang wanita.
“Duug!” Sesuatu tiba-tiba mengacaukan lamunan Randi,
menghentikan pandangannya: susunan buku yang belum selesai ia rapikan terjatuh,
tepat di sisi kaki kanannya.
“Sial!” umpatnya pelan sembari merunduk, mengambil satu
persatu buku-buku tadi.Ia hanya perlu berharap agar apa yang dibayangkannya
tidak terjadi saat itu juga: wanita tadi menyadari keberadaannya, menyadari
bahwa dirinya sempat memperhatikan wanita tadi dengan seksama, menyadari
bahwa....
“Ada yang bisa dibantu?” pertanyaan itu terdengar sebelum
Randi sempat menyelesaikan doa dan harapannya. Ia hanya tersenyum ketika
kemudian buku tadi terpungut seluruhnya dan menemukan wajah yang sempat
‘terselip’ di antara bebukuan tadi benar-benar ada di hadapannya, utuh, tidak
terhalang apapun.
“Ada yang bisa dibantu?” ulangnya, menyadari bahwa Randi
hanya diam, terpaku dengan kedua tangan memegangi setumpuk buku.
“Emm, ini..tidak... tidak ada. Saya baik-baik saja.”Jawabnya
terbata yang justru membuatnya semakin tidak bisa benar-benar berhenti
menyalahkan dirinya dalam hati. Jawaban macam apa itu?
Wanita tadi justru tersenyum, “Kalau begitu, permisi,”
ujarnya kemudian sembari berlalu. Randi sempat membalas senyuman itu sebelum
akhirnya wanita tadi kembali duduk di kursinya, menghadap satu buku tebal
berjudul Neurosurgery Board Review: Questions and Answers for
Self-Assesment. Ia mahasiswa fakultas kedokteran.
***
Ini tidak biasa, Randi bisa bangun lebih pagi dari biasanya,
lebih rajin dari biasanya. Bahkan, ketika kemudian ibunya belum selesai
menyiapkan sarapan, ia sudah siap di meja makan, tepat di kursi yang biasanya
masih kosong sebelum sang ibu memanggil beberapa kali karena Randi tidak
kunjung keluar. Beberapa menit kemudian, sarapan berupa telur setengah matang
dan segelas susu itu habis dilahapnya. Sang ibu sempat mengerutkan keningnya
saat menyadari wajah anak lelakinya lebih bersinar dibanding hari-hari sebelumnya.Ia
sempat berharap bahwa itu akan terjadi seterusnya.
Setengah jam yang lalu sudah lewat dan Randi tengah mengayuh
sepedanya dari kampus, sepulang kuliah.Tidak lagi perlu ditanya kemana, kalau
memang pada akhirnya tempat di tepi jalan Tentara Mataram itu yang menjadi
tujuannya. Sejenak setelah memarkir sepedanya dan segera masuk ke dalam, ia
melakukan kegiatan seperti biasa: merapikan buku-buku kembali ke raknya, juga
sesekali mengontrol letak penomoran yang mungkin tertukar dengan buku di
sebelahnya. Di antara kebiasaan itu, ada satu hal yang berbeda dari biasanya:
matanya tidak lagi terfokus pada buku-buku dan rak berdebu di hadapannya, juga
nomor-nomor yang sanggup membuatnya begitu jeli menemukan kesalahan pengaturan
di sana. Satu kursi di sebelah barat rak bertuliskan ‘Kedokteran’ sudah menjadi
fokus lain yang dimilikinya. Kursi yang kemarin membuatnya menjatuhkan buku
yang seharusnya rapi di atas raknya, serta kursi yang hari ini membuat dirinya
bangun lebih pagi, sarapan lebih awal, dan berwajah lebih cerah dari biasanya.
“Kamu menyukainya?” tanya Mbak Ike di dekat kursinya. Randi
menoleh, menyadari bahwa sedari tadi beliau tengah memperhatikannya. Randi
berusaha menyembunyikan semu yang ia rasakan, tidak sempat menjawab karena Mbak
Ike sudah kembali menimpalinya.
“Namanya Rani, mahasiswa kedokteran, satu angakatan dengan
kamu. Dia sering kemari, duduk di kursi yang sama.” paparnya.Randi masih diam,
menyimak tiap penjelasan tadi dengan seksama.Rani, ia mengeja nama itu
dalam hatinya.
Tiba-tiba terdengar sapaan di antara deretan rak di sisi
kirinya.“Mas, boleh minta tolong?”Suara itu asing.Suara yang belum pernah
didengar oleh Randi.Suara milik Rani.
“I... Iya. Bo..boleh.” Lidah Randi seketika kaku.Tidak mampu
berucap banyak.
“Tahu di mana letak buku Surgical Pathology of the Head
and Neck Volume 3 tulisan Leon Barnes?Kemarin, saya sempat
membacanya.Sebelumnya, ada di ujung sana, tapi sekarang sudah tidak di
tempatnya.” paparnya sembari menunjuk arah yang dimaksud.
“Ee.. Oh, buku itu. Tunggu di sini sebentar ya, Mbak.”Pergi
Randi segera, mencari buku itu.Letaknya bukan di rak seperti layaknya buku
lainnya.Buku itu ada di dalam tasnya.Ia tidak sengaja membawa buku itu pulang
untuk dibaca. Padahal ia sama sekali tidak tertarik akan ilmu kedokteran. Ia hanya
mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya Rani sukai hingga ia sering datang ke
sana.
“Sudah ketemu bukunya, Mas?”
“I... Iya.Ini bukunya, Mbak.”Tangan Randi bergetar ketika
memberikan buku itu kepada Rani.
“Tertarik dengan ilmu kedokteran juga, Mas?”Randi menggeleng
perlahan.
“Tidak juga.Mbak sendiri?Sepertinya saya lihat, Mbak sering
sekali datang kemari.”
“Iya, benar.Saya sering datang kemari untuk mencari bahan
tugas kuliah atau sekadar membaca.Saya rasa, tempat ini menyimpan banyak hal,
menyimpan apa yang orang butuhkan ketika mereka tidak tahu harus kemana.”
Dan sejak perbincangan itu, Randi mencoba memberanikan diri
untuk mencari tahu banyak hal mengenai Rani, lebih dari sekadar namanya dari
Mbak Ike.Sejak perbincangan itu pula, mereka jadi lebih sering bertatap muka,
lebih sering menghabiskan waktu bersama. Randi pun jadi tahu kegemaran Rani
memasak, jadi tahu bahwa Rani menyukai warna merah dan pandai membuat puisi,
jadi tahu bahwa ketika kecil dulu, dagu Rani pernah membentuk trotoar. Lukanya
pun masih ada, membekas, membentuk satu garis pendek tanpa sedikitpun
mengurangi kecantikannya. Panggilan yang semula berupa ‘saya’ berubah menjadi
‘aku’, Mas dan Mbak berubah menjadi kamu: mereka semakin dekat.
***
Hari itu hari Selasa, tepat ketika angka 17 Juli tertera di
layar arloji Randi sebagai tanggal hari itu.Ia tahu, hari ini berbeda. Bukan
karena hari itu adalah tiga bulan perkenalannya dengan Rani, tapi juga karena
Randi bermaksud memberikan kejutan kepada Rani.
To: Raniku
Pukul 8 malam, 0 KM Malioboro
Tulis Randi dalam pesan singkatnya.Ia terlalu bahagia akan
rencana itu. Sampai Ia lupa kalau Rani sama sekali tidak membalas pesan
singkatnya, tidak pernah.
***
Rasanya sudah dua jam lamanya Randi duduk menunggu kedatangan
Rani.Hampir pukul 10 malam dan jalan yang sebelumnya tampak ramai kini mulai
sepi dari padatnya pengendara ataupun pejalan kaki. Es teh yang Randi beli dari
pejaja makanan tepat di depan gerbang Benteng Vredeburg juga sudah tidak
tersisa. Bahkan sesuatu yang ia tempatkan di dalam kotak berwarna merah, warna
favorit Rani, sudah tampak sedikit kusut. Ia tahu, ia kecewa. Hingga pada akhirnya
gerimis yang kemudian datang itu menderas, kecewa itu semakin kuat. Rani tidak
pernah datang dan ia memutuskan untuk pulang. Ia tidak lagi peduli dengan basah
yang memeluknya saat itu. Bahkan dingin yang dirasakan tubuhnya tidak
menandingi dingin yang ia rasakan di dalam hatinya.
Mungkin, ia terlalu banyak berharap. Randi menganggap dirinya
sebagai detik yang Rani lewatkan, yang Rani abaikan. Ia tersandung di tengah
waktu. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa pada Rani di pikirannya. Ia tidak
tahu harus memindahkan ke rak mana di otaknya. Baginya, Rani adalah seorang
wanita yang membawa secercah harapan untuk kemudian meninggalkan tumpukan
kenangan.
“Triingg!”Masuk sebuah pesan singkat yang mengganggu lamunan
Randi.
From:
Raniku
Maafkan aku, Randi. Aku tidak bisa
menjelaskan banyak karena memang tidak banyak yangg bisa aku rasakan ketika aku
ada di samping kamu
Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Randi.Ia mencoba membuang pandangan ke
setiap objek yang bisa ia lihat. Ia ingin lupa. Ia butuh lupa. Bibirnya mulai
memucat, berbanding terbalik dengan matanya yang mulai tampak kemerahan.Ia
makin kedinginan: hujan yang mengguyur membuat sekujur tubuhnya menjadi kaku.
Meski ia tahu itu sungguh menyiksanya, ia tidak peduli lagi. Paling tidak ia bisa
melakukan sesuatu yang mungkin bisa menutupi apa yang lebih menyiksanya di
dalam hati.
***
Hari itu tanggal 17 Agustus. Tepat sebulan dan Randi belum
benar-benar lupa: senyum pertama Rani, suara Rani, sampai akhirnya pesan
terakhir dari Rani. Ia masih ingat semuanya.
“Apa yang pernah terjadi akan menjadi pelajaran untuk nanti,
Randi.”Begitu ujar Mbak Ike beberapa minggu lalu padanya. Beliau tahu apa yang
terjadi. Rani memilih orang lain ketika ia menemukan yang menurutnya lebih baik
dari Randi, ketika ia tahu bahwa yang Randi rasakan lebih dari yang ia punya.
Kini, Randi memang masih sendiri, tapi Randi sudah tahu tentang apa yang harus
ia lakukan pada Rani di pikirannya. Ia sudah tahu harus memindahkan ke rak mana
di otaknya. Randi sudah bisa tersenyum lagi.
Selesai
(Ditulis
bersama Oky Janwardana dalam #ProyekMenulis: Kejutan Sebelum Ramadhan oleh
@nulisbuku )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar