Kamis, 01 Agustus 2013

The Notebook


Sejak SD entah mengapa saya sangat suka mencatata. Apapun yang guru tulis di papan tulis, saya tulis kembali dalam buku catatan dengan merk paing mendunia, Sinar Dunia. Bahkan, hampir semua kata-kata guru yang menurut saya 'penting' bisa saya temukan di dalam catatan ketika buku tadi kembali saya buka di rumah. Ketika kemudian saya beranjak masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kegemaran tadi ternyata terus mengikuti. Tentu saja saya sudah bisa membedakan mana yang benar-benar perlu ditulis dan tidak. Tulisan saya yang tidak jelek-jelek amat tidak jarang membuat buku-buku catatan saya dipinjam teman sekelas. Bahkan suatu kali saya kehilangan satu buku catatan yang saya punya karena saya lupa peminjamnya. Lebih parahnya lagi, si peminjam itu pun tidak menunjukkan batang hidungnya untuk mengembalikan. Alhasil, saya pun mengganti buku catatan yang sangat saya cintai dengan buku baru. Jelas, isinya sudah berubah karena semuanya saya dapatkan dari catatan teman yang -meski serapih apapun- tidak akan pernah semudah memahami catatan sendiri :'(

Nah, buku catatan satu ini adalah buku catatan terakhir saya, buku catatan kuliah terkahir sebelum akhirnya bulan April kemarin saya tunaikan dalam rangkaian acara wisuda-Alhamdulillah. Bisa dilihat kan, bagaimana runyamnya isi di dalamnya. Terkadang, saya sendiri tidak habis pikir mengapa hal-hal semacam itu bahkan bisa saya temukan dalam buku yang seharusnya berisi ilmu dari mulut para dosen. Saya tipikal orang yang mudah bosan, memang, dengan catatan yang melulu tulisan berderet tanpa selingan lain. Hal inilah yang kemudian menjadi sebab mengapa segala macam tulisan cakar ayam dan gambar 'anak  TK' turut 'nongkrong' di dalamnya. Mulai dari nama diri yang -semacam- wajib saya cantumkan, kutipan favorit penyemangat hidup ala-ala orang pintar, tanda tangan yang lebih mirip rumput teki, no rekening bank, tanggal ulang tahun teman, gambar-gambar ekspresi kebosanan saat kuliah, sampai resep makanan yang kebetulan saya dapatkan dari ibu ketika saya sedang -sok- rajin baca materi kuliah di dapur (--")

Sampai sekarang, buku ini masih setia menemani saya kemanapun saya pergi: jalan-jalan, belanja, bahkan ketika saya mendapat panggilan kerja tempo hari pun buku ini saya bawa. Selain karena saya sering kali 'nemu' ide menulis ketika saya bepergian, saya merasa sejiwa dengan buku ini, entah mengapa. Mungkin, ketika nantinya saya menemukan buku lainnya yang lebih baru, buku ini akan tetap saya simpan baik-baik. Tidak harus terus membawanya, cukup tetap menggunakannya sebagai penuang ide saya yang sering kali muncul tiba-tiba sebelum akhirnya nanti tertuang dan menjadi sebuah karya. 

Finara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar