tidak pernah ada
yang melarang hujan datang kembali, menyapa pagi yang mungkin masih
enggan untuk terbangun dari mimpi. tidak ada yang berubah dengan hujan
kemarin, kemarin lusa, atau hari di belakangnya. yang membedakan, hanya
bagaimana hujan itu datang: perlahan atau deras, diiringi petir atau
tidak, diakhiri bajir bandang atau atau hanya genangan dangkal.
hujan kali ini berbeda dengan hujan kala itu. ini lebih ramah, bahkan aromanya lebih wangi dari sekuntum melati di pucuk konde pengantin baru di siang hari.
ini juga lebih indah, bahkan beriaknya lebih berwarna dari kesembilan warna pelangi di hampir senja.
aku tidak akan menyalahkannya jika pada akhirnya ia justru datang untuk orang lain. yang penting adalah bahwa aku ikut menikmati kehadirannya, menikmati betapa tiap tetesnya menciptakan harmoni bisu yang mampu mendiamkan keributan oleh panas yang menggigit. menikmati betapa perciknya mampu menghadirkan basah yang menenangkan hiruk pikuk kekhawatiran. menikmati betapa kemudian aku bisa bertahan memperhatikan caranya pergi lagi. mungkin memang sedih, tetapi toh kesedihan itu akan terobati lagi ketika hujan yang sama itu datang lagi, lagi, dan lagi.
hujan kali ini berbeda dengan hujan kala itu. ini lebih ramah, bahkan aromanya lebih wangi dari sekuntum melati di pucuk konde pengantin baru di siang hari.
ini juga lebih indah, bahkan beriaknya lebih berwarna dari kesembilan warna pelangi di hampir senja.
aku tidak akan menyalahkannya jika pada akhirnya ia justru datang untuk orang lain. yang penting adalah bahwa aku ikut menikmati kehadirannya, menikmati betapa tiap tetesnya menciptakan harmoni bisu yang mampu mendiamkan keributan oleh panas yang menggigit. menikmati betapa perciknya mampu menghadirkan basah yang menenangkan hiruk pikuk kekhawatiran. menikmati betapa kemudian aku bisa bertahan memperhatikan caranya pergi lagi. mungkin memang sedih, tetapi toh kesedihan itu akan terobati lagi ketika hujan yang sama itu datang lagi, lagi, dan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar