Malam 1: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota
Malam itu, tepat hari ke-15 pada penanggalan Jawa, bulan tampak bulat sempurna dari sebuah balkon rumah bernomor tujuh belas. Di sana, tampak seorang wanita tengah melonggarkan dasi seorang lelaki di hadapannya. Pada jari manis di tangan kirinya tampak sebuah cincin melingkar. Cincin yang serupa dengan yang dikenakan sang lelaki sejak setahun yang lalu. Wanita itu tersenyum, tersipu saat kemudian sang lelaki mencium pipinya dengan lembut.
“Aku akan merindukanmu, Mas,” bisik sang wanita. Ia bersandar manja di dada sang lelaki. Merasakan tiap degup jantung yang berdenyut di sana. Degup jantung yang akan ia rindukan sejak esok hari. Sang lelaki hanya tersenyum dan membelai lembut kepala sang wanita, istri tercintanya. Ia sempat melirik ke dalam kamar di belakangnya. Sebuah passport dan tiket pesawat serta koper besar siap mengantarnya ke Negeri Sakura untuk tinggal di sana selama hampir 2 bulan.
Ini memang terlalu cepat untuk kembali pergi. Baru sekitar 3 hari yang lalu ia pulang. Tapi, sang istri seakan paham itu. Sebagai istri seorang diplomat, ia sudah siap menerima konsekuensinya. Ditinggalkan kapan saja dalam waktu yang lama dan didatangi untuk siap ditinggalkan kembali. Pernah satu waktu, sang suami mengajaknya serta. Tapi pekerjaannya sebagai editor di sebuah penerbit ternama di ibu kota tak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Apalagi, pekerjaan itu adalah impiannya sejak ia duduk di bangku SMA.
“Aku juga, Dek. Kata sang lelaki tanpa melepas pelukan sang wanita yang semakin erat. Malam itu, bulan menjadi saksi cinta keduanya. Saksi bahwa keduanya tampak saling mencintai, saling merindukan, dan membutuhkan.
Malam 2: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota
Malam itu, ia tampak bergelayut manja di balkon. Balkon yang sama saat suaminya berpamitan untuk pergi ke Negeri Sakura. Terkadang tersenyum, tersipu, bahkan tertawa di sana. Menikmati tiap suara dan gambar dari layar handphone 3G di tangan kirinya. Sudah pasti, lelaki di seberang sana adalah suaminya. Kadang-kadang, ia melirik ke arah kamarnya. Entah untuk sekedar melihat jam dinding di sana, atau pun untuk yang lainnya, hanya ia yang tahu. Malam itu, bulan kembali bersaksi, tidak hanya untuk yang tampak di balkon sana, tetapi juga yang tak tampak oleh tiap pasang mata yang lewat di bawahnya.
Malam 3: Balkon apartemen nomor sembilan, Negeri Sakura
Dari luar, lelaki itu tampak membereskan sejumlah map dan memasukkannya ke dalam sebuah tas berwarna hitam. Esok hari ia akan bertemu dengan segenap staf keduataan untuk mempererat hubungan internasional. Selain itu, ia juga harus menyerahkan sejumlah laporan yang diminta berkenaan dengan perkembangan terakhir teknologi yang telah dicapai di Ibu Kota untuk kemudian mengetahui langkah berikutnya yang perlu dilakukan.
Jika diperhartikan, dalam jangka waktu satu minggu ia telah menyelesaikan sejumlah laporan yang menjadi tanggung jawabnya. Bukan karena terburu-buru. Hanya saja kerinduannya pada sang istri di belahan bumi yang lain tidak mengijinkannya berlama-lama di negeri orang bermata sipit itu. Percakapan yang dilakukannya hampir tiap malam tidak mengurangi rasa rindu yang ada. Ia akan tersenyum jika mengingat percakapannya dengan sang istri semalam sebelum ia berangkat.
‘Mas, apa pendapatmu jika aku mengenakan kimono? Apa aku akan secantik gadis oriental di sana?’ tanya sang istri sembari membereskan baju ke dalam koper. Mendengar itu, ia pun tersenyum dan berbisik, “Kamu akan selalu cantik di hadapanku, mengenakan kimono atau tidak mengenakan baju sekalipun.” Sang istri pun tersipu dan mencubit pinggang sang suami. Dan mereka berpelukan erat, seakan enggan dipisahkan.
Malam 4: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota
Seperti biasa, sang istri di sana, di balkon yang sama. Bulan juga menemaninya, meski tak bulat sempurna. Kali ini ia tak ber-3G ria. Hanya sapaan antar telinga yang tak mengijinkan muka bertemu muka. Tak masalah karena memang tak ada yang beda, masih ia dan suaminya.
“Hei, apa yang kau lakukan seharian ini?” Tanya sang suami.
“Tak banyak, hanya melayani segelintir orang yang tak puas dengan suntinganku.” Paparnya malas, terdengar enggan berbicara.
“Apa kamu masih ingin memakai kimono? Aku ada dua pilihan.”
“Sebutkan,” jawab sang istri yang kini telah berbaring di ranjang.
“Furisode1 atau Tomesode2?”
“Ah, entahlah. Bagaimana kalau Furisode saja.” Jawabnya malas.
“Baik, tapi itu berarti kau sudah lupa bahwa aku suamimu.”
“Oh, maaf, aku....
“Sepertinya kau lelah. Istirahatlah. Obrolan ini kita lanjutkan besok.”
Tuuuuuuuut. Dan telpon pun terputus.
Malam itu, bulan tahu, wanita lelah dan lelaki sedikit kecewa.
Malam 5: Balkon apartemen nomor sembilan, Negeri Sakura
Sang suami tampak berkemas dengan cepat untuk kepulangannya esok hari setelah menutup teleponnya. Tunggu aku pulang, sayang, batinnya. Diliriknya sebuah kimono di lipatan teratas sebelum ia menutup koper besarnya. Kimono yang dipesan khusus untuk istrinya. Dan yang pasti bukan kimono jenis Furisode, tapi Tomesode. Malam itu, bulan tahu sang suami menahan rindu juga menahan semua kecamuk dalam dadanya. Tampak kemudian dari luar, ia terlelap kelelahan.
Malam 5: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota
Ia masih tampak terjaga. Mondar-mandir di depan balkon sembari memegangi handphone warna kuningnya yang baru saja berkedip, mati. Seseorang baru selesai menelponnya, tapi bukan suaminya. Padahal saat itu jam dindingnya sudah menunjuk pada angka sebelas. Itu bukan karena tugas suntingannya yang belum usai. Bukan juga karena suara musik tetangga terlalu keras. Tapi karena esok hari sang suami pulang. Tak banyak yang tahu mengapa. Tapi bulan tahu semua.
Malam 6: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota
“Aku kangen sekali, Dek.” Ucapnya di sela nafas yang memburu oleh rindu. Tubuh istrinya yang mungil dipeluknya erat, seakan enggan ia lepaskan. Dahinya sempat berkerut ketika mencium aroma asing di tubuh istrinya, parfum yang berbeda.
“Aduh, Mas, aku juga. Tapi jangan seerat ini memelukku, aku sulit bernafas.” jawab sang istri.
“Oh, maaf,” kata sang suami dan melepaskan pelukannya.
“Bagaimana kalau kau berganti pakaian dahulu dan aku siapkan makan malam?” kata sang istri sembari meraih handphonenya di atas meja.
“Oke!” sang suami setuju.
Sang istri keluar kamar, terpaku di depan pintu yang kemudian ditutupnya. Ia tak menyangka sang suami akan pulang demikian cepat. Telepon genggamnya kembali bergetar. Ini sudah yang kelima kali. Diangkatnya segera dan berkata, “Tunggu sampai ia tertidur, oke?” dan telepon kembali mati.
Malam 6: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota
Setelah makan malam bertema ‘selamat datang’ usai, sang suami memilih segera tidur. Ia merasa sangat lelah. Sementara sang istri, kembali ke meja kerja yang sengaja disusun mengahadap ke luar kamar, menyunting naskah novel yang harus ia serahkan esok hari.
“Sayang, aku membelikanmu kimono. Aku yakin sangat cocok denganmu.” Ucap sang suami di sela kantuknya.
“Oya? Terima kasih. Besok akan ku coba,” jawab istri dengan mata tetap tertuju pada layar laptop di hadapannya.
“Sayang, apa kau ganti parfum?” tanya sang suami tiba-tiba.
“Hmmm,” jawab istri masih tanpa menoleh.
“Tapi ini seperti parfum laki-laki, Dek? Apa kau salah membeli parfum?” tanyanya lagi. Sang istri terkesiap, terhenti menyunting. Oh, aku lupa berganti pakaian. Batinnya panik. Perlahan ia tolehkan kepalanya ke arah ranjang.
“Oh, emmm, mungkin ini parfum bos, Mas. Tadi sempat satu mobil dengannya karena harus menghadiri acara penghargaan cerpen.” Jawabnya dengan degupan kencang di dadanya.
“Oh, begitu. Lagi pula kamu tidak mungkin kan mengkhianatiku, Dek?”
“Hemm, tentu, Mas.” jawab sang istri.
Kemudian hening, tak ada suara sang suami, pun sang istri. Sang suami sudah tampak tidur, tapi tidak bagi sang istri. Ia masih membuka matanya, bahkan lebih lebar dari biasanya. Dadanya juga masih berdegup kencang. Laptop di hadapannya seperti tak lagi dianggapnya ada. Saat itu, handphone di hadapannya tiba-tiba bergetar. Tampak satu nama di sana, Adam. Sang istri berbegas meraihnya dan membawanya keluar. Tak banyak yang ia bicarakan. Hanya beberapa patah kata dan akhirnya terhenti pada kata Selamat tidur, sayang.
Ketika masuk kamar kembali dan tanpa sengaja melihat keluar jendela yang tak bertirai, tampak bulan masih di sana, bulan yang sama. Tiba-tiba, ia merasa takut, sangat takut. Bulan yang ia pandang saat itu seakan berbalik memandangnya. Bukan pandangan ramah seperti malam-malam sebelumnya. Bulan itu menatapnya sinis, seperti ingin melumatnya, seperti ingin menggigitnya. Bulan itu seakan mengancam membeberkan semuanya yang ia tahu.
Di kamar yang telah gelap dan hanya dihiasi suara jangkrik, ternyata mata sang suami terbuka. Bukan baru saja, tapi sejak tadi, sejak sang istri menyunting novel, terhenyak oleh pertanyaannya, dan keluar menerima telepon untuknya. Ia hanya menghela nafas dalam, lalu kemudian kembali terpejam.
Suatu siang: Teras rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota, 5 bulan kemudian
Ting tong. Bel itu kembali berbunyi, sudah ketiga kalinya dan masih belum ada yang datang membukakan pintu. Lelaki pemencet bel itu pun sudah sempat mengetuk pintu. Tok tok tok. Tapi tetap sama, tak ada jawaban.
“Rita...” panggilnya.
Ting tong. Bel itu kembali berbunyi.
Pintu pun terbuka, tapi dari rumah di sebelahnya, rumah nomor delapan belas. Lelaki pemencet bel itu menengok. Ia melihat seorang wanita paruh baya keluar dari sana, tersenyum, dan bertanya, “Cari siapa ya?”
Lelaki pemencet bel itu mengahmpirinya. ”Saya Adam, teman Rita. Rita... kemana ya?” tanyanya kemudia.
“Oh, bu Rita, istrinya Pak Bian maksudnya?”
Lelaki itu tersenyum, kecut. “Ya,” jawabnya singkat.
“Sejak bercerai dengan Pak Bian, Bu Rita pindah rumah, Mas. Tapi saya juga tidak tahu pindah ke mana.”
Ia hanya ber “O” mendengar penjelasan wanita itu dan bergegas pergi setelah mengucapkan terima kasih. Sudah pasti ia bersedih. Sudah pasti juga ia berasa ingin mati. Rita, mantan pacarnya yang menikah dengan lelaki lain tidak mengijinkannya jatuh cinta untuk yang kedua kali. Cinta setengah mati, katanya.
Kabar terakhir yang ia dengar, Bian menceraikan Rita sehari setelah kepulangannya dari Negeri Sakura. Di luar sepengetahuan Rita, ternyata Bian tahu istrinya berselingkuh. Ternyata Bian tahu bahwa selalu ada laki-laki lain di ranjang dan kamarnya ketika ia tak di sana. Bian juga tahu bahwa parfum yang menempel di tubuh istrinya bukanlah parfum bos yang diceritakannya, tetapi parfum mantan pacar istrinya semasa SMA, Adam. Kabar itu ia peroleh dari seseorang yang sengaja ia sewa untuk mengamati Rita, istrinya. Orang itu menelponnya dan melaporkan semuanya semalam sebelum kepulangannya ke Ibu Kota.
Ketika Rita meminta Adam untuk berpisah saja dan mengakhiri semuanya, Adam tak bisa berbuat apa-apa. Ketika itu, Adam masih bisa memaklumi dan memahaminya. Melepaskan Rita perlahan dan memalingkan semua patah hatinya pada pekerjaannya. Namun, itu tak bisa ditolelir lagi ketika selama hampir lima bulan tak satupun telepon dan pesan yang terjawab. Rita seakan sengaja mengabaikannya.
Malam 7: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota
Bulan tampak terang, seterang tujuh bulan yang lalu, saat di balkon yang kini tampak gelap berdiri dua sejoli, Rita dan Bian. Malam itu bulan tampak sumringah. Bulan lega bahwa rahasia yang sempat ia simpan akhirnya terungkap. Namun, memang akan lebih baik jika bulan bisa ngomong. Karena jika bisa, sang suami tidak akan pernah ke Negeri Sakura, sang istri akan tetap setiap pada satu pria, dan balkon yang kini tampak gelap akan tetap terang seperti biasa. Juga karena jika bisa, Adam tak akan kebingungan mencari Rita ke mana-mana. Rita ada di sana, di rumahnya, rumah nomor tujuh belas; tergantung, mati. Setelah memutuskan untuk pindah, ternyata dua malam kemudian Rita kembali ke rumahnya, memasang seutas tali pada lehernya dan membiarkan racun tikus menggerogoti nyawanya. Handphone warna kuning di sebelahnya sudah tak lagi berdering. Ikut mati bersama pemiliknya.
Sayang, hanya bulan yang tahu itu. Hanya bulan yang punya rahasia itu. Andai saja bulan bisa ngomong.
Catatan:
1Furisode: kimono formal untuk wanita yang belum menikah.
2Tomesode: kimono formal yang digunakan untuk wanita yang sudah menikah.
rara, i hate LDR so much..
BalasHapushaha..aku tidak akan membiarkan anak-anakku jauh dari ayah dan ibunya kelak
hehehe,, jadilah orang tua yang baik :)
BalasHapustengkyu for reading, anw :)