beberapa bulan lalu, saya ikut sayembara novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. saat tahu penyelenggaraan lomba itu, saya seakan mendapat durian runtuh, seakan mendapat satu kesempatan emas. kapan lagi? secara itu novel saya udah jadi semacam onggokan di tumpukan data dalam komputer saya. mualilah saya memperbaiki sana-sini. tembel sana-sini. semacam mau saya ikutkan perang dunia keempat. proses editing, adding, semuanya saya jalani selama satu bulan libur. dan pada akhirnya novel itu selesai, saya lega. segra saya cetak dan semua itu tidak akan lancar tanpa bantuan Allah lewat ibu saya. ibu saya yang pada saat itu sedang menjalani pengobatan lutut akibat pengapuran, rela nganter saya kesana-kemari, turut antusias anak perempuannya akhirnya berani mempublikasikan karyanya ke sebuah lombar nasional yang, yaaa, cukup bergengsi. beliau rela jalan jauh yang sebenarnya bis membuat dirinya menyesal kalau saja yang diantarkannya bukan saya, anak perempuan satu-satunya.
Hingga akhirnya semua proses itu selesai, draft novel pun sudah terkirim, kami pulang. ada satu kemauan dan harapan besar tentang calon novel saya itu. melihat betapa besar -bagi saya- perjuangan ibu dalam membantu, merelakan tenaganya hanya untuk saya. "Aku harus mendapatkannya, untuk ibu." batin saya.
Selama berbulan-bulan saya menunggu datangnya bulan desember, bulan saatnya pengumuman pemenang diluncurkan. bulan ini. sejak memasuki bulan ini, rasa penasaran itu meninggi, benar-benar tidak bisa lagi dibendung. raut muka ibu yang selalu ada di pikiran saya, membuat saya merasa, bahwa saya harus mendapatkannya kali ini. terlalu banyak berharap memang, tapi ini semata untuk ibu saya.
Sampai akhirnya, hari ini, sekitar sejam lalu, teman kos mengantarkan sebuah surat untuk saya, undangan penganugerahan pemenang sayembara novel. jantung saya berdegup kencang saya itu, berdebar apakah saya menjadi slah satu dari pemenang itu. saat kemudian saya buka web DKJ, ada satu link mengenai 20 besar pemenangnya. dengan hati2 dan penuh doa, saya buka, daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannn... novel saya tidak ada di sana. lemas, pasti, sedih, sangat. ini terasa seperti tidak lulus ujian akhir. mungkin memang harapan yang saya gantungkan terlalu besar, ntar gimana perasaan ibu saya ketika tahu ini, mungkin beliau memang tidak akan menunjukkan kesedihannya di depan saya, tapi hatinya? beliau pasti mengharapkan hal yang sama dengan saya.
tapi satu hal dari kegagalan kali ini adalah, bahwa saya yakin , suatu saat, entah kapan, mimpi satu ini bisa terwujud. mungkin bukan sekarang, mungkin nanti dan saya yakin, akan terasa jauh lebih indah.
-jogja, 12-12-12-
Sabar ya nda.. Insyaallah akan datang waktu terbaik untuk Allah mewujudkan mimpimu itu :)
BalasHapusamiiin, upiii,, makasih yaa :*
BalasHapus