Kamis, 02 Agustus 2012

Tentang Hujan


Kliing!
Suara itu terdengar ketika pintu kafe itu terbuka dan akhirnya tertutup. Seperti biasa, aku memilih duduk di tepat yang sama, memesan minuman yang sama. Setelah memesan dan menunggu, secangkir cappuccino itu pun tersaji di hadapanku, mengepulkan aroma wangi yang khas. Brian, sang barista hanya tersenyum ketika aku memuji minuman itu entah sudah yang ke berapa kali.
"Itu karena Mbak April yang minum, jadi enak," tukasnya saat itu. Aku pun balas tersenyum, mewakili rasa tersanjung yang terasa.
"Selamat malam semua." Sapa seseorang dari arah panggung.Ketika akhirnya ku tolehkan ke sana, penyanyi wanita itu sudah duduk di sana, Pia namanya, salah satu penyanyi favorit ku. 
"Masih bisa menikmati minuman Anda dengan baik?" tanyanya kemudian. Sebagian pengunjung menjawab ya dengan suara yang hampir bersamaan, tak terkecuali aku meski dengan suara di bawah normal. Pia pun tersenyum ketika mendengarnya. Perlahan ia menurunkan tangannya, meraih gitar berwarna coklat mengkilat di sisi kanannya.
"Malam ini, ada seorang pengunjung yang memaksa saya menyanyikan satu lagu, khusus untuk seorang yang dicintainya." Sorak sorai terdengar kemudian. Ku edarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan tanpa tahu jelas siapa yang ku cari.
"Lagu ini sengaja dipesan untuk mantan kekasihnya. Mungkin hampir semua yang hadir di sini tau lagu ini, salah satu lagu andalan saya di musim ini, musim penghujan." Hatiku berdesir mendengarnya. Tepuk tangan riuh terdengar ketika Pia mulai menyanyi.
Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak ’kan berubah
Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air
Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku 
Tepuk tangan itu terdengar lagi saat Pia menyudahi nyanyiannya. "Oya, saya belum bilang lagu ini untuk siapa." Dadaku berdegup kencang. Bukan karena GR atau sejenisnya. Hanya saja, aku belum siap benar menerima jika memang orang itu yang memesannya. "Mbak April." Degupan itu sempat terhenti ketika mendengar namaku disebut. "Lagu ini untuk Mbak April." Lampu itu menyorotiku seketika, menyisakan silau bukan main di mata.  Aku hanya membungkuk sekadarnya ketika semua mata memandang. Sebelum akhirnya aku memutuskan pergi dari sana, ponsel dalam sakuku bergetar, satu pesan baru masuk. "Selamat ulang tahun, April." Satu kalimat itu yang muncul, menusuk mataku begitu dalam, melebihi kesialaun lampu sorot tadi, membuatnya berair: menangis.  Ketika pada akhirnya sabuk pengaman itu terpasang sempurna, satu lagu yang berada pada daftar putar teratas terdengar, lagu yang sama, Hujan. Dan roda mobil pun mulai berjalan meninggalkan tempatnya semula, mengantarku pulang.  

2 komentar: