Senin, 05 Agustus 2013

Sebanyak Buku Kenangan


Hari ini saya boyongan dari jogja. Ada panggilan kerja di Semarang dan saya musti meninggalkan kamar tercinta saya di kos yang sudah saya tinggali selama 6 tahun. Jujur berat banget. gak cuma karena bawaan saya yang segunung, tapi juga karena bawaan kenangan yang saya tinggal di sana *eaaak! Total semua kardus untuk buku ada 7 kardus. Kalau tiap helai dalam buku tadi menyimpan satu kenangan, bisa dihitung dah tu berapa kardus yang saya butuhkan untuk mengusung semua kenangan tadi. Aduh, ngelantur --'

Kembali ke cerita, sewaktu saya beres-beres semua buku di rak untuk dimasukkan ke dalam kardus, ada satu ruang di rak buku saya yang isinya buku harian. istilah kerennya Diary. Semua diary itu saya tumpuk jadi satu ruang untuk mempermudah ketika saya butuh nulis di dalamnya atau butuh iseng-iseng baca lagi tulisan diary jaman saya SMP. kenapa bisa sampai tulisan SMP? Karena saya juga bahkan punya diary jaman SD. Yap. saya punya koleksi buku diary sejak SD sampai dengan kuliah. Kalau dihitung semuanya, total ada 14 buku (yang kehitung). Seingat saya, ada satu atau dua buku diary yang pernah saya buang gara-gara ngambek sama 'tokoh 'utama' di buku tersebut.

Dari sekian buku itu, satu di antaranya buku diary SD, 2 buku diary SMP, 3 buku diary SMA, dan 8 sisanya adalah buku diary jaman kuliah. Entah benar atau gak, dari jumlah buku yang saya punya pada tiap jenjang pendidikan tadi, saya bisa menyimpulkan bahwa masa paling galau yang saya punya adalah masa kuliah. dan ngenesnya, dari semua tokoh yang saya ceritakan dalam tiap buku tadi gak ada yang masih nyangkut sama saya sampai sekarang. entah ditinggal nikah, putus, atau malah ngilang tanpa jejak. tapi itulah hidup.

sebenarnya, ada beberapa diary yang pengen saya buang, atau lebih tepanya saya bakar. bukan karena saya melow bawang bombay kayak yang difilm-film yaa. tapi karena saya khawatir kalau saya buang begitu saja bukunya ke tong sampah, ntar kebaca pula sama abang-abang jasa bersih-bersih. tengsin juga kalau ternyata itu abang itu temennya atau tentangganya atau justru sanak familinya mas-mas mantan yang ada di dalem diary tadi. agak lebay sih. tapi kalau beneran terjadi dan kalau begitu caranya, salah satu tujuan menulis cerita dalam diary berupa 'kerahasiaan' tidak akan tercapai (buset, ini bahasa saya). 

jadi, sementara saya memilih untuk menyimpannya. paling gak selain buat penuh-penuhan rak buku, diary-diary tadi bisa buat bacaan pas lagi selo banget gitu. saya juga suka senyam senyum sendiri pas baca tulisan saya saat saya lagi alay-alaynya dulu jaman SMP sama SMA. eh, jangan dianggap alay itu aneh karena saya yakin semua pernah mengalami masa-masa itu. bahkan dari bacaan diary dari masa ke masa yang sempat alay itulah saya bisa tahu bahwa saya pernah bertumbuh sesuai dengan fasenya, bertumbuh siring bertambahnya usia meski hanya saya lihat lewat tulisan saya, dari bahasa saya. 

Dari situ juga saya belajar dari yang sempat saya alami di masa lalu dari buku diary tadi. saya belajar untuk tidak lagi mengalami hal yang sama, untuk tidak lagi mengulang kesedihan yang sama. memang tidak banyak yang berubah, tapi setidaknya pada diary selanjutnya cerita sedih yang sempat saya tuliskan, entah itu berkaitan dengan percintaan, pertemanan, atau kehidupan lainnya, tidak lagi saya temukan di buku diary selanjutnya. setidaknya, tumpukan buku diary tadi bisa jadi tolok ukur pembelajaran saya untuk membuat sejarah yang baru pada tulisan saya yang baru. bukankah hanya kedelai yang mengulangi kesalahan yang sama? :')

finara


Tidak ada komentar:

Posting Komentar